Anda di halaman 1dari 258

Aplikasi

Aplikasi dan dengan

dan

Aplikasi dan dengan

dengan

Aplikasi dan dengan
Aplikasi dan dengan

Kutipan Pasal 44 Ayat 1 dan 2, Undang-Undang Republik Indonesia tentang HAK CIPTA:

Tentang Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang HAK CIPTA, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 jo. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, bahwa:

1.

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

2

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Aplikasi

Aplikasi dan dengan Agus Darmadji

dan

Aplikasi dan dengan Agus Darmadji

dengan

Aplikasi dan dengan Agus Darmadji
Aplikasi dan dengan Agus Darmadji

Agus Darmadji

Desain Sampul : Agus Darmadji

Lay Out : Agus Darmadji Dicetak : Agus Darmadji

© HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

Dilarang keras menerjemahkan, memfotocopy, memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, merekam atau dengan sistem penyimpanan lainnya, serta memperjual-belikannya tanpa izin tertulis dari Penulis.

Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

AutoCAD Land Development adalah software yang berbasis di AutoCAD 2000i, merupakan salah satu software pengolah pemetaan yang kegunaannya dapat diklasifikasikan dalam proses pemetaan terestris (langsung di lapangan) untuk keperluan pekerjaan rekayasa teknik sipil.

AutoCAD Land Development mempunyai fasilitas operasional untuk pemetaan yang meliputi input data ukur lapangan, pengolahan data-data ukur, deteksi kesalahan besar ukuran (blunder) dan penyajian hasil ukuran yang berupa peta topografi dengan tampilan dua dimensi maupun tiga dimensi. Sedangkan untuk pekerjaan rekayasa teknik sipil, AutoCAD Land Development dapat digunakan untuk pengolahan data-data yang berkaitan dengan pekerjaan tanah (earthwork), disain alinyemen horisontal dan vertikal, penggambaran

propil memanjang (long section) dan propil melintang (cross sction),

serta menghitung volume tanah baik untuk galian (cu ) maupun

timbunan (fill) dari penampang tersebut.

t

Buku ini membahas tentang langkah-langkah operasional dari fasilitas-fasilitas yang telah disebutkan diatas, dilengkapi dengan data-data ukuran lapangan dan data-data disain, sehingga anda dapat mempraktekan langsung langkah-langkah operasionalnya.

Penulis menyadari, bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Sebagai akhir kata penulis ucapkan selamat mencoba, semoga buku ini bermanfaat untuk anda. Selamat berkarya untuk bangsa dan negara.

Bandung, Juli 2005. Agus Darmadji

Daftar Isi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI . . . . . . . . . .
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR
ISI .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ii
BAB 1
1
1.1. Memasang Program ALD pada
2
1.2. Memulai Menjalankan Program
2
1.3. Membuat File Gambar dan Direktori Proyek Baru
3
1.4. Pengaturan Simbol dan Ukuran Huruf Titik
12
BAB 2
PEMETAAN TOPOGRAFI
13
2.1. Kerangka Dasar Pemetaan Topografi
14
2.2. Menjalankan Modul Program Survey
15
2.3. Pengaturan Format Titik
16
2.4. Memasukan
Data Ukur Traverse
18
2.5. Memasukan
Nilai Tinggi Alat Ukur
26
2.6. Hitungan Kerangka Dasar Pemetaan
31
2.6.1. Hitungan Kerangka Dasar dengan Cara
Perataan Pendekatan
31
2.6.2. Hitungan Kerangka Dasar dengan Cara
Perataan Kwadrat Terkecil
39
2.6.3. Menggambar Ellips Kesalahan
56
2.7. Memasukan Data Ukur Detail Situasi
60
2.8. Pembuatan Garis Kontur
67
2.8.1. Pembuatan Surface Baru
67
2.8.2. Membangun Data Kontur
71
2.8.3. Penggambaran Garis Kontur
76
2.8.4. Membuat Label Garis Kontur
79
2.9. Membuat Tampilan Permukaan Tiga Dimensi
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
80

Daftar Isi

2.10. Membuat

Gambar Propil Lintasan

 

85

2.11. Membuat Grid, Arah Utara dan Skala Grafik Gambar Peta

 

89

2.12. Mencetak Gambar

 

94

BAB 3 HITUNGAN VOLUME

 

97

3.1. Metode Hitungan

 

97

3.2. Membuat Gambar Garis Kontur Permukaan Tanah Asli

 

(Original Ground)

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

98

3.2.1. Membuat File Gambar dan Direktori Proyek

 

101

3.2.2. Pengaturan Simbol dan Ukuran Huruf Titik

 

103

3.2.3. Import Koordinat Titik-Titik

 

110

3.2.4. Pembuatan Surface Baru Original

 

113

3.2.5. Membangun Data Kontur Original Ground

 

117

3.2.6. Penggambaran Garis Kontur Original

 

122

3.2.7. Membuat Label Garis Kontur Original

125

3.3. Membuat Tampilan Permukaan Tiga Dimensi

 

Original

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

127

3.4. Membuat Gambar Garis Kontur Permukaan Tanah Yang

 

Direncanakan (Design Ground)

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

132

3.4.1. Import Koordinat Titik Ukur Design Ground

 

133

3.4.2. Pembuatan Surface Baru Design

 

136

3.4.3. Membangun Data Kontur Design

139

3.4.4. Penggambaran Garis Kontur Design

 

144

3.5. Membuat Tampilan Permukaan Tiga Dimensi

 

Design

Ground

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

147

3.6. Hitungan Volume Tanah antara Original Ground dengan Design Ground

 

152

3.6.1. Pengaturan Dua Permukaan Tanah untuk Persiapan Hitungan

 

152

3.6.2. Pengaturan Ukuran Grid dan Batas Lokasi

 
 

Area Hitungan Volume

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

154

3.6.3. Hitungan Volume dengan Metode

 

154

3.6.4. Hitungan Volume dengan Metode Composite

 

156

3.6.5. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara Average End Area

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

158

3.6.6. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara

Prismoidal

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

160

3.6.7. Menampilkan Seluruh Hasil Hitungan

 

162

Daftar Isi

3.7. Membuat Gambar Garis Kontur Permukaan Tanah Yang Seadanya (Actual

 

163

3.7.1. Membuat File Gambar Baru pada

 
 

Direktori Proyek Yang Sama

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

164

3.7.2. Pengaturan Simbol dan Ukuran Huruf Titik

 

171

3.7.3. Import Koordinat Titik-Titik

 

172

3.7.4. Pembuatan Surface Baru Actual Ground

 

174

3.7.5. Membangun Data Kontur Actual Ground

178

3.7.6. Penggambaran Garis Kontur Actual Ground

 

183

3.7.7. Membuat Label Garis Kontur Actual Ground

 

186

3.8. Membuat Tampilan Permukaan Tiga Dimensi

 

Actual

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

187

3.9. Hitungan Volume Tanah antara Original Ground dengan Actual

 

193

3.9.1. Pengaturan Dua Permukaan Tanah untuk Persiapan Hitungan

 

193

3.9.2. Pengaturan Ukuran Grid dan Batas Lokasi

 
 

Area Hitungan Volume

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

195

3.9.3. Hitungan Volume dengan Metode

 

195

3.9.4. Hitungan Volume dengan Metode Composite

 

197

3.9.5. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara Average End Area

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

199

3.9.6. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara

Prismoidal

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

201

3.8.7. Menampilkan Seluruh Hasil Metode Hitungan

 

203

3.10. Membuat Gambar Propil Lintasan dengan 3 (tiga)

 

Permukaan Tanah

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

204

3.11. Hitungan Volume Tanah antara Actual Ground dengan Design Ground

 

209

3.11.1. Pengaturan Dua Permukaan Tanah untuk Persiapan Hitungan

 

209

3.11.2. Pengaturan Ukuran Grid dan Batas Lokasi

 
 

Area Hitungan Volume

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

211

3.11.3. Hitungan Volume dengan Metode

 

212

3.11.4. Hitungan Volume dengan Metode Composite

 

213

3.11.5. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara Average End Area

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

215

3.11.6. Hitungan Volume dengan Metode Section

 
 

Cara

Prismoidal

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

217

3.11.7. Menampilkan Seluruh Hasil Hitungan

 

219

Daftar Isi

Lampiran 1

Data Ukur Kerangka 221 Lampiran 2 Data Ukur Detail 225 Lampiran 3 Data Koordinat Original
Data Ukur Kerangka
221
Lampiran 2
Data Ukur Detail
225
Lampiran 3
Data Koordinat Original
233
Lampiran 4
Data Koordinat Design
243
Lampiran 5
Data Koordinat Actual Ground .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
245

Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN

Pemetaan dijital adalah suatu proses menyajikan informasi muka bumi yang berupa fakta (dunia nyata), baik bentuk permukaan bumi maupun sumber daya alamnya, berdasarkan skala peta, sistem proyeksi peta, serta simbol-simbol dari unsur muka bumi yang disajikan, dengan berbasis komputer.

Informasi permukaan bumi telah berabad-abad disajikan dalam bentuk peta. Mulai peta yang dibuat dari kulit hewan, sampai peta yang dibuat dari kertas, semuanya menyajikan data geografis dalam bentuk gambar-gambar atau coretan-coretan. Peta-peta umum (general purpose) menggambarkan topografi suatu daerah ataupun batas-batas (administratif) suatu wilayah atau negara. Sedangkan peta-peta tematik (thematic) secara khusus menampilkan distribusi keruangan (spatial distribution) kenampakan seperti geologi, geomorfologi, tanah, vegetasi, atau sumber daya alam.

Sejalan dengan kemajuan teknologi komputer beserta perangkat lunaknya, maka informasi pada peta telah diubah menjadi suatu bentuk data dijital yang siap dikelola. Oleh karena itu pekerjaan pemetaan saat ini tidak hanya membuat peta saja, tetapi mengelolanya menjadi informasi spasial melalui pengembangan basis data. Basis data tersebut dapat diolah lebih lanjut sehingga dapat menghasilkan berbagai informasi kebumian (geoinformasi) yang dibutuhkan oleh para perencana atau pengambil keputusan.

AutoCAD Land Development (ALD) adalah paket program yang berbasis di AutoCAD 2000i, yang kegunaannya dapat diaflikasikan dalam proses pemetaan terestris (langsung di lapangan) dengan pengolahan secara dijital untuk keperluan perencanaan pekerjaan rekayasa teknik sipil.

Pendahuluan

AutoCAD Land Development (ALD) mempunyai beberapa modul program didalamnya. Modul-modul tersebut merupakan subprogram dari program ALD itu sendiri, yang terdiri dari modul- modul AutoCAD Map 2000i, Land Desktop 2i, Land Desktop 2i Complete, Civil Design 2i dan Survey 2i. Modul-modul tersebut juga dapat di pilih dan dijalankan sesuai dengan pekerjaan yang akan atau sedang kita kerjakan.

1.1.Memasang Program ALD pada Komputer

Untuk memasang (install) program ALD pada komputer sehingga dapat di pakai dengan kemampuan operasional yang maksimal, maka harus sudah tersedia program-program sebagai berikut:

1. Autodesk AutoCAD 2000i

2. Autodesk Land Development Realese 2i

3. Autodesk Survey Realese 2i

4. Autodesk Civil Design Realese 2i dan

5. Autodesk Cad Overlay 2000i

Program-program tersebut bila telah di pasang pada komputer, menjadi satu kesatuan program operasional ALD. Pada proses pemasangan program pun harus diperhatikan urutan program yang akan di pasang, dalam hal ini urutan pemasangan program sama seperti diatas.

Paket program ALD adalah program yang dijalankan pada sistem Microsoft WINDOWS, dapat di pasang (install) pada sistem Windows 98 Second Edition, Windows 2000, Windows Millenium Edition dan Windows XP Profesional.

1.2.Memulai Menjalankan Program ALD

Dengan menggunakan mouse klik dua kali pada icon ALD, maka program sudah dapat dijalankan, selanjutnya keluar tampilan pada monitor jendela AutoCAD seperti Gambar 1.1 dibawah ini. Pada jendela tersebut telah bergabung menu bar AutoCAD dengan menu bar ALD. Jendela tersebut dibagi menjadi dua jendela. Jendela

Pendahuluan

disebelah kiri dinamakan layar direktori proyek, yang berpungsi sebagai petunjuk nama gambar (drawing name) yang sedang diaktifkan pada file proyek dan file khusus lainnya seperti drawings, query library, data sources, topologis dan link templates. Sedangkan jendela sebelah kanan berfungsi sebagai layar kerja gambar yang sedang dikerjakan. Disekitar kedua jendela tersebut terdapat beberapa menu dalam bentuk tulisan maupun icon untuk mengoperasikan ALD, seperti Baris Menu, Toolbar Standar, Toolbar Layer,Toolbar Drawing dan Toolbar Map.

Standar, Toolbar Layer,Toolbar Drawing dan Toolbar Map. Gambar 1.1 Tampilan Awal Jendela Layar ALD 1.3. Membuat

Gambar 1.1

Tampilan Awal Jendela Layar ALD

1.3. Membuat File Gambar dan Direktori Proyek Baru

Dengan mengaktifkan kotak dialog pembuka AutoCAD Land Development Today seperti pada Gambar 1.2, pilihNew pada menu pilihan untuk membuat file gambar kerja baru.

Pendahuluan

Pendahuluan Gambar 1.2 Tampilan Kotak Dialog Pembuka ALD Selanjutnya keluar tampilan kotak dialog New Drawing Project

Gambar 1.2

Tampilan Kotak Dialog Pembuka ALD

Selanjutnya keluar tampilan kotak dialog New Drawing Project Base, seperti terlihat pada Gambar 1.3. Isi kotak dialog tersebut dengan mengetik nama file gambar, nama direktori dan nama proyek yang akan dibuat.

gambar, nama direktori dan nama proyek yang akan dibuat. Gambar 1.3 Kotak Dialog Nama Gambar dan

Gambar 1.3

Kotak Dialog Nama Gambar dan Proyek

Pendahuluan

Pada penulisan nama file gambar diusahakan sama dengan nama proyek, hal ini untuk memudahkan kontrol manajemen file bila kita bekerja dengan banyak nama proyek. Pilih dan klikCreate Project untuk membuat direktori proyek, selanjutnya keluar kotak dialog Project Details seperti pada Gambar 1.4 berikut ini.

Project Details seperti pada Gambar 1.4 berikut ini. Gambar 1.4 Kotak Dialog Project Details Lakukan pengisian

Gambar 1.4

Kotak Dialog Project Details

Lakukan pengisian kotak dialog Project Details, dengan memilih Defaul (Meters) pada kotak Prototype dan mengetik informasi pada kotak Name dan Description yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Setelah semua kotak dialog terisi semua, klikOK.

Pendahuluan

Selanjutnya

keluar

kotak

dialog

Create

Point

Database

seperti pada Gambar 1.5, lanjutkan dengan klikOK.

seperti pada Gambar 1.5, lanjutkan dengan klik → OK . Gambar 1.5 Kotak Dialog Pembuatan Database

Gambar 1.5

Kotak Dialog Pembuatan Database Titik

Komputer akan merekam format penyimpanan data sebagai database dengan membaca hasil pilihan pada kota dialog Create Point Database. Selanjutnya muncul kotak dialog Load Settings seperti pada Gambar 1.6, kotak dialog ini adalah untuk menentukan unsur dan nilai parameter dari rencana gambar yang akan dibuat yang meliputi skala gambar,unit satuan, sistem koordinat, orientasi dan border peta. Yang selanjutnya unsur dan nilai parameter ini disimpan dalam Profile Name, sehingga apabila kita akan membuat gambar baru lagi dengan parameter yang sama, maka kita tinggal memanggil nama parameter tersebut pada Profile Name.

Pendahuluan

Pendahuluan Gambar 1.6 Perekaman Parameter Gambar Pada kotak dialog Load Settings pilih parameter untuk skala 1:500,

Gambar 1.6

Perekaman Parameter Gambar

Pada kotak dialog Load Settings pilih parameter untuk skala 1:500, selanjutnya klikNext, maka tampil kotak dialog Units seperti pada Gambar 1.7, pilih unsur-unsur yang akan dipakai dalam pembuatan gambar pada jendela layar ALD, selanjutnya klikNext.

gambar pada jendela layar ALD, selanjutnya klik → Next. Gambar 1.7 Pemilihan Sistem Satuan dan Unit

Gambar 1.7

Pemilihan Sistem Satuan dan Unit

Pendahuluan

Selanjutnya keluar kotak dialog Scale seperti pada Gambar 1.8, yang memuat informasi skala peta dan ukuran kertas gambar yang akan dipakai. Pada kotak dialog ini juga dapat dilakukan perubahan skala dan ukuran kertas bila ada perubahan, lanjutkan dengan klikNext, sehingga muncur kotak dialog Zone seperti pada Gambar 1.9.

muncur kotak dialog Zone seperti pada Gambar 1.9. Gambar 1.8 Pemilihan Skala Ga mbar dan Ukuran

Gambar 1.8

Pemilihan Skala Gambar dan Ukuran Kertas

Pada kotak dialog Zone dibawah ini dapat dipilih sistem koordinat lokal atau sistem koordinat proyeksi pada jendela layar ALD nanti. Bila yang dipilih sistem koordinat lokal, maka bisa langsung klikNext, tetapi bila yang dipilih adalah sistem koordinat proyeksi, maka harus dipilih sistem koordinat proyeksi yang sesuai dengan lokasi pemetaan dengan memilih Jenis Proyeksi, Zone, Elipsoid Referensi.

Selanjutnya Klik kotak Catagories, dan pilih parameter proyeksi UTM WGS84 Datum dan Zone pada kotak CS Code:

UTM84-48S. Setelah selesai memilih langsung klikNext.

Pendahuluan

Pendahuluan Gambar 1.9 Kotak Dialog Sistem Koordinat Gambar 1.10 Sistem Orientasi Jendela Layar ALD Aplikasi Pemetaan

Gambar 1.9

Kotak Dialog Sistem Koordinat

Pendahuluan Gambar 1.9 Kotak Dialog Sistem Koordinat Gambar 1.10 Sistem Orientasi Jendela Layar ALD Aplikasi Pemetaan

Gambar 1.10 Sistem Orientasi Jendela Layar ALD

Pendahuluan

Pada kotak dialog Text Style seperti pada Gambar 1.11, dilakukan pemilihan jenis dan ukuran huruf untuk nama titik ukur yang akan di gambar dan di plot kan pada jendela layar ALD dan gambar peta nanti. Setelah selesai memilih jenis dan ukuran huruf selanjutnya klikNext.

memilih jenis dan ukuran huruf selanjutnya klik → Next . Gambar 1.11 Pemilihan Jenis dan Ukuran

Gambar 1.11 Pemilihan Jenis dan Ukuran Huruf

→ Next . Gambar 1.11 Pemilihan Jenis dan Ukuran Huruf Gambar 1.12 Pemilihan Border Gambar dan

Gambar 1.12 Pemilihan Border Gambar dan Ukurannya

Pendahuluan

Setelah selesai memilih dan menentukan parameter untuk format gambar, maka muncul kotak dialog Save Settings seperti pada Gambar 1.13, klikSave untuk menyimpan hasil format gambar pada kotak Profile Name. Silahkan buat nama baru atau klik pada nama telah ada yang sesuai dengan format gambar yang akan dibuat. Selanjutnya klikFinish.

gambar yang akan dibuat. Selanjutnya klik → Finish . Gambar 1.13 Perekaman Format Gambar Gambar 1.14

Gambar 1.13 Perekaman Format Gambar

klik → Finish . Gambar 1.13 Perekaman Format Gambar Gambar 1.14 Hasil Format Gambar Aplikasi Pemetaan

Gambar 1.14

Hasil Format Gambar

Pendahuluan

1.4. Pengaturan Simbol dan Ukuran Huruf Titik Ukur

Titik ukur yang akan didudukan pada jendela layar ALD, dibuat dengan simbol yang informatif dan ukuran yang proposional. PilihPointsPoint Settings dilanjutkan dengan KlikMarker

→ Point Settings dilanjutkan dengan Klik → Marker Setelah selesai dengan pengaturan bentuk simbol titik ukur,

Setelah selesai dengan pengaturan bentuk simbol titik ukur, selanjutnya klikTeks, untuk mengatur ukuran text titik ukur. KlikOK.

Teks, untuk mengatur ukuran text titik ukur. Klik → OK. Gambar 1.15 Pengaturan Simbol dan Ukuran

Gambar 1.15

Pengaturan Simbol dan Ukuran Huruf Titik Ukur

Pemetaan Topografi

BAB 2 PEMETAAN TOPOGRAFI

Seperti telah dijelaskan di muka bahwa pemetaan adalah suatu proses menyajikan informasi muka bumi yang berupa fakta (dunia nyata), baik bentuk permukaan bumi maupun sumber daya alamnya, berdasarkan skala peta, sistem proyeksi peta, serta simbol- simbol dari unsur muka bumi yang disajikan. Keadaan permukaan bumi yang digambarkan meliputi unsur-unsur alam (misalnya: sungai, gunung, lembah), dan unsur-unsur buatan manusia (misalnya:

bangunan, jalan, saluran irigasi, batas kepemilikan). Untuk dapat menggambarkan keadaan permukaan bumi tersebut, diperlukan pengukuran-pengukuran geodesi (surveying) pada dan diantara titik- titik di muka bumi. Besaran-besaran yang diukur meliputi: arah, sudut, jarak dan ketinggian.

Secara garis besar pemetaan dibagi dalam dua cara, yang pertama adalah pemetaan secara terestris, dimana seluruh data yang digunakan diperoleh dari hasil pengukuran-pengukuran langsung di lapangan. Dan yang kedua adalah pemetaan dengan pemotretan secara fotogrametris, dimana sebagian datanya diperoleh dari foto hasil pemotretan udara. Cara fotogrametris tidak dijelaskan di dalam buku ini

Di dalam pemetaan topografi cara terestris, titik-titik di muka bumi dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok titik-titik Kerangka Dasar dan kelompok titik-titik Detail. Titik-titik Kerangka Dasar adalah sejumlah titik yang di buat dan di pasang di lapangan (dengan tanda pengenal patok kayu dan pilar beton) yang merupakan Kerangka Dasar pemetaan dengan fungsi sebagai titik pengikat pengukuran titik-titik Detail, serta pengontrol pengukuran titik-titik lainnya. Titik-titik detail adalah titik-titik yang ada di lapangan yang merupakan antara lain titik-titik pojok bangunan, titik-titik batas tanah, titik-titik sepanjang pinggiran jalan serta titik-titik lain yang letak

Pemetaan Topografi

dan kerapatannya ditentukan untuk menggambarkan bentuk dari permukaan tanah.

2.1. Kerangka Dasar Pemetaan Topografi

Di dalam geodesi di kenal juga dua macam titik Kerangka Dasar yaitu: titik-titik Kerangka Dasar Horisontal (KDH) yang mempunyai koordinat bidang datar (X,Y) dan titik-titik Kerangka Dasar Vertikal (KDV) yang mempunyai harga ketinggian (Z). Dalam prakteknya, titik-titik KDH dan KDV tidak dibuat sendiri-sendiri akan tetapi menjadi satu titik. Jadi titik kerangka Dasar mempunyai koordinat dan ketinggian (X,Y,Z).

Untuk titik-titik Kerangka Dasar Horisontal (KDH) dapat diukur dengan cara-cara antara lain: triangulasi, trilaterasi, triangulaterasi dan polygon. Sedangkan untuk titik-titik Kerangka Dasar Vertikal (KDV) umumnya di ukur dengan cara sipat datar memanjang.

Dengan perkembangan teknologi alat ukur beserta perangkat lunaknya saat ini, maka pengukuran Kerangka Dasar pemetaan dan pengukuran titik-titik Detail dapat dilakukan sekaligus dengan satu alat ukur Total Station untuk menentukan posisi titik-titik Kerangka Dasar dan titik-titik Detail dalam sistem koordinat tiga dimensi (X,Y,Z).

Program AutoCAD Land Development (ALD) yang merupakan bagian dari perkembangan teknologi perangkat lunak (software), juga telah menyediakan fasilitas untuk pengolahan (processing) data-data ukur dari hasil pengukuran lapangan dengan menggunkan alat ukur Total Station tersebut.

Untuk memperjelas aplikasi program ALD dalam menghitung posisi titik-titik ukur dilapangan dan proses pembuatan peta topografi, maka diberikan contoh data-data ukur lapangan sebagai ilustrasi dalam tahapan-tahapan perintah operasional menu program dari program ALD (lihat Lampiran).

Pemetaan Topografi

2.2. Menjalankan Modul Program Survey

Dengan telah selesainya pengaturan parameter-parameter untuk format gambar kerja, maka jendela layar ALD yang tampak terlihat pada Gambar 2.1, telah mempunyai sistem koordinat proyeksi UTM (Universal Tranverse Mercator) dengan Ellipsoid Referensi (Spheroid) WGS-84 dan Zone 48 South.

Selanjutnya pilih modul Survey 2i dengan melakukan langkah: PilihProjectMenu Palletes. Maka selanjutnya keluar kotak dialog Menu Palette Manager seperti terlihat pada Gambar 2.2, pilih modul program Survey 2i pada kotak dan lanjutkan dengan klikLoad, maka menu-menu yang ada berubah menjadi menu- menu dengan kontrol perintah Modul Survey 2i.

menjadi menu- menu dengan kontrol perintah Modul Survey 2i. Gambar 2.1 Jendela Layar ALD dengan Sistem

Gambar 2.1 Jendela Layar ALD dengan Sistem Koordinat Proyeksi

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.2 Kotak Dialog Menu Pilihan Modul Program ALD 2.3. Pengaturan Format Titik Ukur

Gambar 2.2

Kotak Dialog Menu Pilihan Modul Program ALD

2.3. Pengaturan Format Titik Ukur

Sebelum memasukan data-data ukuran, terlebih dahulu dilakukan pengaturan format dari rencana penempatan titik-titik ukur pada jendela layar ALD, antara lain pembuatan nama layer baru dan jenisnya, model titik ukur dan lain sebagainya yang tentunya sesuai dengan kebutuhan format gambar. Selanjutnya klikLayers maka tampil kotak dialog Layers Properties Manager seperti pada Gambar 2.3 dan klikNew, tulis Points sebagai layer baru dan klik rubah warnanya bila diperlukan perubahan. Selanjutnya klikOK. Pilih layer Points pada posisi aktif.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.3 Kotak Dialog Pembuatan Layer Baru Selanjutnya Pilih → Labels → Settings, dan

Gambar 2.3

Kotak Dialog Pembuatan Layer Baru

Selanjutnya PilihLabelsSettings, dan tampil kotak dialog Labels Settings seperti pada Gambar 2.4 dan klikPoint Labels , klik kotak Current Label Style dan pilih softdesk point block only. Selanjutnya KlikOK. Dengan memilih tipe label softdesk point block only untuk titik-titik ukur (points), maka layer pnts, elev dan desc yang merupakan label titik ukur tersebut dibuat secara terpisah, sehingga apabila kita ingin mematikan layer pnts dan desc, maka layer elev masih aktif dan nilai elevasi pada jendela layar ALD juga masih muncul dengan lambang posisi titik ukur di sampingnya.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.4 Kotak Dialog Pengaturan Label Titik Ukur 2.4. Memasukan Da ta Ukur Traverse.

Gambar 2.4

Kotak Dialog Pengaturan Label Titik Ukur

2.4. Memasukan Data Ukur Traverse.

selanjutnya

memasukan (input) data ukur kerangka peta dengan fasilitas editor.

PilihAnalysis/FiguresTraverse Editor, ketik 1 pada kotak Traverse Loop Number. Selanjutnya klikOK.

Setelah

pengaturan

format

titik

ukur

selesai

klik → OK. Setelah pengaturan format titik ukur selesai Gambar 2.5 Kotak Dialog Membuat Nomer Kerangka

Gambar 2.5

Kotak Dialog Membuat Nomer Kerangka Baru

Pemetaan Topografi

Masih pada fasilitas editor, selanjutnya keluar pertanyaan apakah akan membuat loop baru? klikYes.

pertanyaan apakah akan membuat loop baru? klik → Yes. Gambar 2.6 Kotak Dialog Membuat Kerangka Baru

Gambar 2.6

Kotak Dialog Membuat Kerangka Baru

Maka keluar kotak dialog yang menanyakan titik awal berdirinya alat ukur yang akan dijadikan stasion awal pada hitungan kerangka dasar. Dalam hal ini titik BM.0 adalah station (tempat awal berdiri alat) dan BM.1 adalah backsight (target awal). KlikOK. Lihat Lampiran 1 (DATA UKUR KERANGKA).

. Klik → OK. Lihat Lampiran 1 (DATA UKUR KERANGKA) . Gambar 2.7 Kotak Dialog Menentukan

Gambar 2.7

Kotak Dialog Menentukan Titik Awal

Pemetaan Topografi

Selanjutnya keluar kotak dialog Define Station Point, yaitu kotak dialog untuk memasukan koordinat titik awal sebagai titik ikat (referensi). Ketik koordinat titik BM.0. Selanjutnya KlikOK.

. Ketik koordinat titik BM.0. Selanjutnya Klik → OK. Gambar 2.8 Kotak Dialog Input Koordinat Titik

Gambar 2.8

Kotak Dialog Input Koordinat Titik Stasion Awal

Gambar 2.8 Kotak Dialog Input Koordinat Titik Stasion Awal Gambar 2.9 Kotak Dialog Input Koordinat Titik

Gambar 2.9

Kotak Dialog Input Koordinat Titik Target Awal

Pemetaan Topografi

Setelah memasukan data koordinat titik BM.1 (backsight), maka nilai sudut jurusan akan muncul pada kotak Azimuth, yang merupakan hasil dari kalkulasi program ALD. KlikOK.

Selanjutnya keluar kotak input data Traverse Editor seperti pada Gambar 2.10, masukan data ukur kerangka yang ada pada Lampiran 1.

masukan data ukur kerangka yang ada pada Lampiran 1 . Gambar 2.10 Kotak Dialog Traverse Awal

Gambar 2.10

Kotak Dialog Traverse Awal Editor

Sebelum input data ukur dimulai, anda harus mengatur format data ukur dengan metode pengukuran yang telah anda lakukan, dengan memilih menu pilihan Settings yang ada pada Traverse Editor, dan klikSettings. Maka tampil kotak dialog Editor Settings seperti pada Gambar 2.11.

Pemetaan Topografi

Selanjutnya pilih pengaturan pada kotak dialog Editor Settings dengan metode pengukuran yang telah anda lakukan. Setelah selesai menentukan pengaturan metode pengukuran, klikOK.

menentukan pengaturan metode pengukuran, klik → OK. Gambar 2.11 Kotak Dialog Pengaturan Format Data Ukuran

Gambar 2.11

Kotak Dialog Pengaturan Format Data Ukuran

Setelah pengaturan format data ukur selesai, maka selanjutnya proses pekerjaan input data ukur dapat dimulai, seperti terlihat pada Gambar 2.12 berikut ini.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.12 Kotak Dialog Proses Awal Input Data Ukur Kerangka Pada saat input data

Gambar 2.12

Kotak Dialog Proses Awal Input Data Ukur Kerangka

Pada saat input data ukur untuk titik BM.1 sebagai (Pt 1) dan BM.0 sebagai (Pt 2), muncul peringatan dan konfirmasi bahwa anda memasukan nomer titik yang sama dua kali. Karena bentuk geometrik dari KERANGKA DASAR tertutup (loop), maka peringatan tersebut dibenarkan dan klikOK. Lanjutkan proses input data ukur sampai selesai.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.13 Kotak Dialog Peringatan Ad anya Duplikat Titik Ukur Pekerjaan input data dilanjutkan:
Pemetaan Topografi Gambar 2.13 Kotak Dialog Peringatan Ad anya Duplikat Titik Ukur Pekerjaan input data dilanjutkan:

Gambar 2.13

Kotak Dialog Peringatan Adanya Duplikat Titik Ukur

Pekerjaan input data dilanjutkan:

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.14 Kotak Dialog Proses Akhir I nput Data Ukur Kerangka selesai, pekerjaan input

Gambar 2.14

Kotak Dialog Proses Akhir Input Data Ukur Kerangka

selesai,

pekerjaan input data ukur untuk KERANGKA DASAR telah selesai.

Setelah

input

data

selanjutnya

klikOK.

Maka

Untuk

melihat

hasil

input

data

pada

jendela

layar

ALD,

klikZoom Realtime dilanjutkan klik mouse kanan pilih Zoom Extents. Maka akan tampil gambar posisi dari titik-titik ukur KERANGKA DASAR seperti terlihat pada Gambar 2.15 berikut ini.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.15 Sebaran Posisi Titik Ukur Kerangka Dasar 2.5. Memasukan Nilai Tinggi Alat Ukur

Gambar 2.15

Sebaran Posisi Titik Ukur Kerangka Dasar

2.5. Memasukan Nilai Tinggi Alat Ukur

Untuk memasukan nilai tinggi alat dari posisi kerja seperti pada Gambar 2.15, pilihAnalysis/FiguresTraverse Editor. Selanjutnya keluar tampilan kotak dialog seperti pada gambar 2.16, yang menerangkan telah ada kerangka traverse loop dengan nomer 1 dan nama traverse loop dengan nama KERANGKA-1. Selanjutnya klikOK.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.16 Kotak Dialog Memanggil Nomer Kerangka Gambar 2.17 Kotak Dialog Traverse Editor Aplikasi

Gambar 2.16

Kotak Dialog Memanggil Nomer Kerangka

Topografi Gambar 2.16 Kotak Dialog Memanggil Nomer Kerangka Gambar 2.17 Kotak Dialog Traverse Editor Aplikasi Pemetaan

Gambar 2.17

Kotak Dialog Traverse Editor

Pemetaan Topografi

Sebelum memasukan nilai tinggi alat, klikkotak Angle pada kotak dialog Traverse Editor, hal ini dilakukan agar nilai tinggi alat yang dimasukan sesuai dengan nomer titik tempat alat berdiri.

Misalkan untuk memasukan tinggi alat di titik BM.0, klikkotak Angle dan blok pada posisi titik STN Pt 2 (lihat Gambar 2.17). Selanjutnya pilih menu Chg Theo Ht untuk memasukan tinggi alat ukur atau Ht (Hight Theodolite) di setiap titik ukur pada jalur Kerangka Dasar tersebut. KlikChg Theo Ht.

Masukan nilai tinggi alat di titik BM.0 sebagai titik awal berdirinya alat pada jalur Kerangka Dasar. Selanjutnya klikkotak Instrument Elevation, maka tinggi (elevasi) garis bidik alat ukur (instrument) dapat diketahui ketinggiannya terhadap sistem tinggi MSL (Mean Sea Level) seperti terlihat pada Gambar 2.16. KlikOK

Sea Level) seperti terlihat pada Gambar 2.16. Klik → OK Gambar 2.16 Input Tinggi Alat di

Gambar 2.16

Input Tinggi Alat di Titik BM.0

Untuk memasukan tinggi alat di titik P.1, klikkotak Angle dan blok untuk posisi titik STN Pt 3, dan KlikChg Theo Ht.

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Masukan Gambar 2.17 nilai tinggi Input Tinggi Alat di Titik P.1 alat di titik

Masukan

Gambar 2.17

nilai

tinggi

Input Tinggi Alat di Titik P.1

alat

di

titik

P.1,

dan

klikkotak

Instrument Elevation, Selanjutnya klikOK.

Untuk memasukan tinggi alat di titik P.2, klikkotak Angle dan blok untuk posisi titik STN Pt 4, dan KlikChg Theo Ht.

untuk posisi titik STN Pt 4, dan Klik → Chg Theo Ht. Masukan Gambar 2.18 nilai

Masukan

Gambar 2.18

nilai

tinggi

Input Tinggi Alat di Titik P.2

alat

di

titik

P.2,

dan

klikkotak

Instrument Elevation, Selanjutnya klikOK.

Pemetaan Topografi

Untuk memasukan tinggi alat di titik P.3, klikkotak Angle dan blok untuk posisi titik STN Pt 5, dan KlikChg Theo Ht.

untuk posisi titik STN Pt 5, dan Klik → Chg Theo Ht. Masukan Gambar 2.19 nilai

Masukan

Gambar 2.19

nilai

tinggi

Input Tinggi Alat di Titik P.3

alat

di

titik

P.3,

dan

klikkotak

Instrument Elevation, Selanjutnya klikOK.

Untuk memasukan tinggi alat di titik P.4, klikkotak Angle dan blok untuk posisi titik STN Pt 6, dan KlikChg Theo Ht.

untuk posisi titik STN Pt 6, dan Klik → Chg Theo Ht. Gambar 2.20 Input Tinggi

Gambar 2.20

Input Tinggi Alat di Titik P.4

Pemetaan Topografi

Masukan nilai tinggi alat di titik P.4, dan klikkotak Instrument Elevation, Selanjutnya klikOK. Untuk memasukan tinggi alat di titik BM.1, klikkotak Angle dan blok untuk posisi titik STN Pt 1, dan KlikChg Theo Ht.

untuk posisi titik STN Pt 1, dan Klik → Chg Theo Ht. Gambar 2.21 Input Tinggi

Gambar 2.21

Input Tinggi Alat di Titik BM.1

Masukan nilai tinggi alat di titik BM.1, dan klikkotak Instrument Elevation, Selanjutnya klikOK. Input tinggi alat telah selesai.

2.6. Hitungan Kerangka Dasar Pemetaan

Pada proses pengolahan data ukur (processing) Kerangka Dasar pemetaan (Traverse), ALD telah menyediakan fasilitas hitungan dengan menggunakan dua cara hitungan. Cara hitungan pertama adalah Conventional Adjusment (perataan sederhana) terdiri dari beberapa metode yaitu: Compass Rule, Transit Rule dan Crandall Rule. Cara hitungan kedua adalah Least Squares Adjusment (perataan kwadrat terkecil) dengan metode Parameter.

2.6.1. Hitungan Kerangka Dasar dengan Cara Perataan Pendekatan

Hitungan perataan Kerangka Dasar pemetaan (Traverse) dengan menggunakan cara Conventional Adjusment (perataan pendekatan), mempunyai sifat tidak terikat pada satu aturan, jadi

Pemetaan Topografi

untuk satu permasalahan terdapat lebih dari metode hitungan, misalnya antara lain metode Bowditch, Transit. Misalkan rumus- rumus yang digunakan oleh metode Bowditch adalah sebagai berikut:

1. Hitungan Salah Penutup Sudut

Hitungan salah penutup sudut dilakukan pada jalur Kerangka Dasar Horisontal (KDH) dengan cara polygon menggunakan rumus :

Untuk Poligon Terbuka Terikat Sempurna:

fβ = {( ∑β - (n-1).180° ) - ( α akhir - α awal )}

Untuk Poligon Tertutup (Loop) dan Sudut Dalam:

fβ = {( ∑β - (n-2).180° )}

Dimana

:

fβ

: Salah penutup sudut

∑β

:

Jumlah sudut ukuran

n : Jumlah titik sudut

α akhir

α awal

: Azimuth akhir : Azimuth awal

2. Hitungan Salah Penutup Linier Jarak

Untuk Poligon Terbuka Terikat Sempurna:

f d x = ( d. sin α ) - (X akhir – X awal )

f dy = ( d. cos α ) - (Y akhir – Y awal )

Untuk Poligon Tertutup (Loop):

f d x = d. sin α

f dy = d. cos α

Pemetaan Topografi

Ketelitian Linier Jarak

=

( f dx 2 + f dy 2 ) ½ / d

Dimana :

:

:

f dy

f dx

Salah penutup absis Salah penutup ordinat Jumlah jarak sisi poligon

d :

3. Hitungan Koordinat

Hitungan koordinat titik-titik poligon dilakukan setelah diketahui salah penutup hasil ukuran memenuhi batas toleransi yang telah ditetapkan (disyaratkan). Koordinat titik-titik ukur poligon dihitung secara berantai dengan menggunakan rumus :

 

_

_

_

X j =

X i

+

d ij sin α ij

_

_

_

Y j = dimana :

Y i

+

d ij cos α ij

ij

:

nomor urut titik polligon dari 1 ke n.

n = 1, 2, 3, 4, 5, .

.

.

.

.

.

4. Hitungan Tinggi

Hitungan Salah Penutup Beda Tinggi pada jalur Kerangka Dasar Vertikal (KDV), metode dan proses hitungan pada dasarnya sama dengan metode hitungan poligon. Pada hitungan perataan tinggi, pemberian koreksi diberikan pada hasil ukuran, berdasarkan perbandingan jarak ukuran dengan jumlah jarak jalur ukuran (seksi).

Hitungan Salah Penutup Beda Tinggi.

Untuk Jalur Terbuka Terikat Sempurna:

f h = Σ ∆h

-

( T akhir

-

T awal )

Untuk Jalur Tertutup (Loop):

f h = Σ ∆h

Pemetaan Topografi

Dimana :

=

=

h =

=

f h

Σd = Jumlah jarak ukuran

T awal

T akhir

Tinggi titik ikat awal Tinggi titik ikat akhir Beda tinggi ukuran

Salah penutup beda tinggi

Ketelitian Linier Jarak:

T = ± K (Σd Km ) mm

Dimana :

T

= Toleransi dalam satuan mm

K

= Konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter (mm).

d

= Jumlah jarak yang diukur dalam satuan Kilometer (Km).

Buat definisi geometrik loop, untuk rencana hitungan dengan memilih pilihAnalysis/FiguresTraverse LoopsDefine Loop

→ Analysis/Figures → Traverse Loops → Define Loop Gambar 2.22 Definisi Jalur Hitungan Aplikasi Pemetaan

Gambar 2.22

Definisi Jalur Hitungan

Pemetaan Topografi

PilihAnalysis/FiguresAdjusment Settings Pilih metode hitungan metode Compass Rule, yang akan dilakukan pada jalur Kerangka Dasar pemetaan. KlikOK

dilakukan pada jalur Kerangka Dasar pemetaan. Klik → OK Gambar 2.23 Pengaturan Metode Hitungan Aplikasi Pemetaan

Gambar 2.23

Pengaturan Metode Hitungan

Pemetaan Topografi

PilihAnalysis/FiguresCheck Adjus Loop

Topografi Pilih → Analysis/Figures → Check Adjus Loop Klik → OK. Klik → Gambar 2.24 Analisis

KlikOK.

Pilih → Analysis/Figures → Check Adjus Loop Klik → OK. Klik → Gambar 2.24 Analisis Ketelitian

Klik

Gambar 2.24

Analisis Ketelitian Metode Compass Rule #1

→ Gambar 2.24 Analisis Ketelitian Metode Compass Rule #1 Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya Aplikasi

Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya

Pemetaan Topografi

Pemetaan Topografi Gambar 2.25 Hasil Hitungan K oordinat Pendekatan Compass Rule #2 Klik → Notepad, untuk

Gambar 2.25

Hasil Hitungan Koordinat Pendekatan Compass Rule #2

Klik

Hitungan K oordinat Pendekatan Compass Rule #2 Klik → Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya Gambar

Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya

Klik → Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya Gambar 2.26 Hasil Hitungan Koordinat Definitif Compass Rule

Gambar 2.26

Hasil Hitungan Koordinat Definitif Compass Rule #3

Pemetaan Topografi

Klik

Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya untuk melihat hasil hitungan berikutnya

Klik → Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya Gambar 2.27 Hasil Hitungan Elevasi Defini tif Metode

Gambar 2.27

Hasil Hitungan Elevasi Definitif Metode Compass Rule #4

Klik

Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya untuk melihat hasil hitungan berikutnya

Klik → Notepad, untuk melihat hasil hitungan berikutnya Klik → OK. Close editor to continue Adjust

KlikOK.

Close editor to continue Adjust sideshots [Yes/No]? <Yes>: <ENTER> Adjust figures [Yes/No]? <Yes>: <ENTER>

Hasil hitungan menggunakan hitungan perataan cara sederhana dengan metode Compass Rule telah selesai.

Pemetaan Topografi

2.6.2. Hitungan Kerangka Dasar dengan Cara Perataan Kwadrat Terkecil

Hitungan perataan Kerangka Dasar pemetaan (Traverse) dengan menggunakan metode Least Squares Adjusment (perataan kwadrat terkecil), mempunyai sifat terikat pada satu aturan yaitu jumlah kwadrat koreksi adalah minimum (vv = 0). Prinsip ini dinamakan prinsip kwadrat terkecil.

Hitungan perataan yang digunakan pada program ALD adalah perataan metode Least Squares Adjusment of Indirect Observations (perataan kwadrat terkecil cara tidak langsung), dan lebih dikenal dengan perataan kwadrat terkecil cara Parameter. Rumus-rumus yang digunakan pada hitungan Kerangka Dasar Pemetaan (KDH) dan (KDV) dengan perataan kwadrat terkecil cara Parameter.adalah sebagai berikut:

1. Perataan Kwadrat Terkecil cara Parameter

Model fungsi :

L

= f (X)

Model matematik : A X = L

Bila :

Dimana :

=

L =

X

X

o

+

X

L + V

A

adalah matriks disain

L

adalah matriks pengamatan “yang benar”

L

adalah matriks pengamatan

V

adalah matriks koreksi pengamatan

X

adalah matriks parameter “yang benar”

X o

adalah matriks pendekatan parameter

X

adalah matriks koreksi pendekatan parameter

Pemetaan Topografi

Persamaan Normal :

X

= (

T

A PA

)

1

T

A PL

Dimana :

X adalah matriks koreksi pendekatan parameter

A adalah

persamaan

pengamatan

adalah matriks hasil perhitungan selisih nilai pengamatan

matriks

disain,

hasil

linierisasi

dari

L

P

dengan nilai pendekatan pengamatan ( ) .

adalah matriks diagonal “berat pengamatan” 1/( )

L = O

u

O

o

P = σ

L

2

Pada tahap awal hitungan dilakukan hitungan koordinat pendekatan untuk seluruh titik ukur kerangka dasar horisontal dengan matriks C.

C =

m

x

x

x

.

.

.

x

1

2

3

m

y

y

y

.

.

.

y

1

2

3

m

1

Selanjutnya menyusun matriks L, adalah selisih antara pengamatan yang diukur dengan pengamatan hasil hitungan pendekatan. Persaman berikut digunakan untuk menentukan masing-masing nilai pengamatan Li

(

L

i

= O

u

O

o

)

Dimana :

O

O

u

o

= pengamatan hasil ukuran

= pengamatan pendekatan hitungan

Pemetaan Topografi

Matriks L dinyatakan dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

L =

m

L

L

L

.

.

.

L

1

2

3

m

1

Selanjutnya menyusun matriks P, yang dihitung berdasarkan nilai variansi pengamatan jarak dan sudut dengan rumus sebagai berikut:

Berat Pengamatan Jarak:

P

L ij

=

dimana:

1

(

s

L ij

)

2

S

L ij

= standar deviasi jarak ij.

Berat Pengamatan Sudut:

P

θ

jik

=

dimana:

1

( s θ

jik

)

2

S θ

jik

= standar deviasi sudut jik.

Pemetaan Topografi

Matriks P dinyatakan dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

P =

m

p

1

0

0

p

0

2

p

3

.

.

0

.

0

0

p

m

1

Yang terakhir adalah menyusun matriks disain A dengan menyusun masing-masing persamaan pengamatan jarak dan sudut/azimuth. Bentuk persamaan pengamatan ini tidak linier, sehingga harus dilakukan linierisasi dengan menggunakan deret Taylor untuk mendapatkan persamaan pengamatan yang linier.

Persamaan Pengamatan Jarak

Geometrik dari persamaan pengamatan jarak digambarkan pada gambar berikut ini.

pengamatan jarak digambarkan pada gambar berikut ini. Geometrik Persamaan Pengamatan Jarak Aplikasi Pemetaan

Geometrik Persamaan Pengamatan Jarak

Pemetaan Topografi

Hasil linierisasi dengan menggunakan deret Taylor untuk masing- masing pengamatan jarak adalah sebagai berikut:

 

dx

dan

 

dx

dimana:

=

X

i

X

j

=

Y

i

Y

j

i dy

L

ij

, i

=

X

j

X

i

=

Y

j

L

ij

Y

i

j dy

L

ij

, i

 

L

ij

L ij

= jarak ukuran IJ

X

i

,Y

i

=

koordinat titik I

X

j

,Y

j

=

koordinat titik J

Persamaan Pengamatan Sudut

Geometrik dari persamaan pengamatan sudut digambarkan pada gambar berikut ini.

pengamatan sudut digambarkan pada gambar berikut ini. Geometrik Persamaan Pengamatan Sudut Aplikasi Pemetaan

Geometrik Persamaan Pengamatan Sudut

Pemetaan Topografi

Hasil linierisasi dengan menggunakan deret Taylor untuk masing- masing pengamatan sudut adalah sebagai berikut:

dx

dx

i

j

dan

dx

k

= −dx dx

j

k

,

dy = −dy

i

j

dy

=

=

Y

i

Y

j

 

=

X

i

X

j

(

L

ij

)

2

Y

i

Y

k

, dy

j (

L

=

X

i

ij

)

2

X

k

(

L ik

)

2

,

dy

k (

L ik

)

2

dimana:

L ij

L ik

= jarak ukuran IJ

= jarak ukuran IK

X

i

,Y

i

=

koordinat titik I

X

j

dan

X

k

,Y

j

,Y

k

=

=

koordinat titik J

koordinat titik K

k

Pemetaan Topografi

Persamaan Pengamatan Azimuth/Bearing

Geometrik

dari

persamaan

pengamatan

digambarkan pada gambar berikut ini.

azimuth/bearing

digambarkan pada gambar berikut ini. azimuth/bearing Geometrik Persamaan Pengamatan Azimuth/Bearing Hasil

Geometrik Persamaan Pengamatan Azimuth/Bearing

Hasil linierisasi dengan menggunakan deret Taylor untuk masing- masing pengamatan azimuth/bearing adalah sebagai berikut:

 

dx

 

=

X

i

X

j

=

Y

i

Y

j

 

i

,

dy

j

 

(

L

ij

)

2

(

L

ij

)

2

dan

 

dx

=

X

j

X

i

 

=

Y

j

Y

i

 
 

j

(

L

ij

)

2

,

dy

k

(

L

ij

)

2

dimana:

 

L ij

= jarak ukuran IJ

 

X

i ,Y

i

= koordinat titik I

 

X

j ,Y

j

= koordinat titik J

 

Pemetaan Topografi

Selanjutnya adalah menyusun matriks disain A dimana unsur- unsur matriksnya adalah persamaan pengamatan jarak dan sudut yang setelah dilinierisasi. Matriks disain A dinyatakan dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

A =

m

dx

1

dx

1

dx

2

dx

2

dy

1

dy

.

.

.

1

dy

dy

2

2

2n

Setelah matriks L, P dan A telah disusun, selanjutnya adalah hitungan perataan dengan menggunakan persamaan normal untuk menghitung koreksi pendekatan koordinat masing-masing titik dalam bentuk matriks X.

X

=

(

T

A PA

)

1

T

A PL

Hasil matriks X dinyatakan dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

X =

2n

.

.

.

x

x

y

y

x

y

1

2

1

2

n

n

1

Nilai matriks X ini digunakan untuk menghitung matriks C, yang selanjutnya dilakukan penyusunan matrik A, P dan L yang baru dan dilakukan hitungan perataan kembali (iterasi), sampai nilai matriks X konstan.

Pemetaan Topografi

Setelah didapat nilai matriks X (koreksi pendekatan koordinat) konstan, selanjutnya menghitung nilai koreksi pengamatan dengan menggunakan persamaan koreksi berikut ini.

V = AX L

Hasil matriks V dinyatakan dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut:

V =

m

v

v

v

.

.

.