Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dalam kesempatan yang
berbahagia ini penyusun masih diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas
makalah mata kuliah Entomologi.
Dalam menyelesaikan tugas makalah ini, penyusun menggunakan buku
panduan, jurnal, dan internet, di mana makalah ini berisi materi tentang
Pengawetan Serangga.
Penyusun makalah bermaksud untuk memperdalam pemahaman sebagai
seorang mahasiswa dan melatih kemandirian agar tidak hanya menerima materi
dari dosen, tetapi harus mengembangkan sendiri dengan cara mencari informasi
yang bersangkutan.
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata
kuliah Entomologi, Ibu Sri Purwati, S.Pd, M. Si, yang telah memberi arahan
dalam menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya,
khususnya dalam ilmu Entomologi.

Samarinda, April 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................2
C. Tujuan Penulisan................................................................................2
D. Manfaat Penulisan..............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Cara Mengumpulkan Serangga......................................3
B. Cara Mematikan Serangga.................................................3
C. Metode Mematikan Serangga dengan Killing Bottle.5
D. Cara Mengawetkan Serangga.6
E. Penataan Serangga......8
F. Pemeliharaan dan Etika......11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.....................................................................................13
B. Saran...............................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengoleksian serangga atau insektarium adalah pengambilan sampel jenis
serangga yang diambil dari alam yang kemudian dilakukan pengawetan.
Mempelajari serangga dengan menggunakan koleksi serangga atau
insektarium akan lebih menarik dibandingkan hanya mempelajari serangga
dari gambar pada buku. Pengawetan serangga bertujuan untuk mempermudah
pemahaman morfologi, anatomi, dan sistematikanya. Selain itu, beberapa
tujuan lain dari pengawetan serangga ialah untuk mempelajari taksonomi yaitu
identifikasi dan deskripsi spesies serta klasifikasi, mempelajari
keanekaragaman serangga, sejarah hidup, perilaku ekologi, habitat dan
distribusinya, serta untuk membantu program pengelolaan hama berdasarkan
keterangan-keterangan atau data-data tersebut di atas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa hal
sebagai berikut.
1. Bagaimana cara mengumpulkan serangga?
2. Bagaimana cara mematikan serangga?
3. Bagaimana metode mematikan serangga dengan kiling bottle?
4. Bagaimana cara mengawetkan serangga?
5. Bagaimana penataan serangga dalam membuat insektarium?
6. Bagaimana pemeliharaan insektarium dan etika dalam mengoleksi serangga?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini antara lain sebagi berikut.
1. Untuk mengetahui cara mengumpulkan serangga.
2. Untuk mengetahui cara mematikan serangga.
3. Untuk memahami metode mematikan serangga dengan kiling bottle.
4. Untuk memahami cara mengawetkan serangga.

1
5. Untuk memahami penataan serangga dalam membuat insektarium.
6. Untuk memahami pemeliharaan insektarium dan etika dalam mengoleksi
serangga.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari makalah ini antara lain sebagi berikut.
1. Agar mengetahui cara mengumpulkan serangga.
2. Agar mengetahui cara mematikan serangga.
3. Agar memahami metode mematikan serangga dengan kiling bottle
4. Agar memahami cara mengawetkan serangga.
5. Agar memahami penataan serangga dalam membuat insektarium.
6. Agar memahami pemeliharaan insektarium dan etika dalam mengoleksi
serangga.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Cara Mengumpulkan Serangga


1. Serangga Bersayap atau Terbang
Penangkapan serangga-serangga bersayap dan terbang seperti kupu-
kupu dapat menggunakan jaring serangga. Kupu-kupu kemudian disimpan
di dalam papilot atau amplop serangga agar sayapnya tidak cepat rusak.
Papilot dapat dibuat dengan kertas sampul plastik yang dapat ditembus
cahaya.
2. Serangga yang Relatif Besar dan Pergerakannya Lambat
Penangkapan serangga-serangga yang ukuran tubuhnya relatif besar
dan pergerakannya tidak begitu cepat seperti belalang sembah dapat
menggunakan tangan dengan bantuan pinset.
3. Serangga yang Relatif Kecil dan Pergerakannya Cepat
Aspirator digunakan untuk menangkap serangga yang kecil dan
pergerakannya sangat cepat seperti lalat. Bagian-bagian dari aspirator ini
adalah pipa besi penghisap, gabus penutup botol, dan pipa plastik pada
sebuah botol yang diarahkan pada serangga yang akan ditangkap.
4. Serangga yang aktif hidup di Tanah
Pitfall trap digunakan untuk menangkap serangga yang aktif berjalan di
atas tanah, seperti semut. Pitfall trap dibuat dengan cara membenamkan
kaleng kecil ke dalam tanah. Di dalam kaleng tersebut diberi larutan
pengawet yaitu formalin. Untuk menarik kedatangan serangga, tempatkan
umpan dalam kaleng.

B. Macam-Macam Cara Mematikan Serangga


Sebelum melakukan pengawetan serangga, maka langkah yang harus
dilakukan terlebih dahulu adalah membunuh serangga tersebut. Namun cara
mematikannya tidak boleh sembarangan untuk menghindari kerusakan yang
bisa saja terjadi, jadi bisa menggunakan alat bantu sebuah botol baik itu botol

3
kaca maupun botol dengan ukuran yang lebih besar dengan penutup yang
rapat (Dekisugi, 2016).
Menurut Jumar (2000: 226-227), serangga yang diperoleh dalam keadaan
hidup, harus segera dibunuh dengan beberapa cara, antara lain:
1. Dibius
Serangga-serangga yang bertubuh besar, seperti kumbang, harus dibius
dengan eter atau kloroform. Caranya adalah dengan memasukkan serangga
tersebut ke dalam botol dimana di dalamnya telah diisi dengan kapas yang
telah dibasahi dengan eter atau kloroform, kemudian tutup rapat. Dalam
waktu beberapa menit serangga tersebut akan mati.
2. Dimatikan
Cara ini dilakukan untuk jenis kupu-kupu. Pelaksanaannya dilakukan satu
per satu, sebab sayap kupu-kupu mudah rusak oleh gerakan mereka sendiri.
Caranya adalah dengan memasukkan serangga tersebut ke dalam botol
yang berisi serbuk KCN yang dicampur dengan serbuk gergaji. Dalam
beberapa saat serangga tersebut akan mati.
3. Ditekan
Caranya adalah dengan menekan bagian toraks dekat jantung serangga,
sehingga serangga tersebut mati. Misalnya untuk membunuh capung atau
kupu-kupu.
4. Direndam
Cara ini dilakukan dengan memasukkan serangga ke dalam botol yang
berisi alkohol 95% atau formalin 75%. Setelah serangga tersebut mati,
segera diangkat dengan tujuan agar warnamya tidak banyak berubah. Kita
harus berhati-hati demgan cara ini, sebab uap cairan ini berbahaya bagi
manusia.
Menurut Dekisugi (2016), Beberapa senyawa racun yang dapat
digunakan untuk membunuh serangga adalah:
1. CaSO4
2. Sianida
3. Kloroform

4
4. Karbon Tetroklorida
5. Etil Asetat
Cara membunuh atau mematikan serangga sebaiknya harus dilakukan
dengan hati-hati untuk menghindari adanya sayap ataupun bagian tubuh
yang hilang. Adapun kita bisa mematikannya dengan memilih salah satu
senyawa seperti yang telah dijelakan di atas, misalnya saja kita memilih
senyawa etil asetat (Dekisugi, 2016).
Jadi kita bubuhkan senyawa tersebut pada sebuah kapas, kemudian kita
masukkan kapas tersebut ke dalam botol atau stoples yang telah kita
sediakan dan menutupnya rapat-rapat. Biarkan dan diamkan beberapa agar
senyawa tersebut bekerja dan memenuhi udara di dalamnya, barulah kita
masukkan serangga tersebut ke dalam wadah stoples dan pastikan sudah
tertutup rapat (Dekisugi, 2016).

C. Metode Mematikan Serangga Dengan Kiling Bottle


Bahan kimia untuk membunuh serangga yang baik ialah alkohol. Bahan ini
dibubuhkan pada kapas atau bahan-bahan yang memiliki daya serap lainnya
(absorbent materials) di dalam sebuah killing bottle. Apabila alkohol terbakar,
bahan ini tidaklah sebahaya menggunakan sianida (syanide). Serangga akan
menjadi lebih lunak dan relax di dalamn killing bottle. Contoh serangga yang
dimatikan dengan menggunakan alcohol misalnya capung (Pantala flavescens),
belalang (Melanoplus femurrubrum) dan jangkrik (Gryllus assimilis).
Serangga dimasukkan ke dalam toples atau killing bottle yang telah diisi
dengan kapas dan sudah terlebih dahulu dibasahi menggunakan alkohol.
Kemudian tutup rapat-rapat toples atau killing bottle tersebut agar udara tidak
masuk.Menurut Suhara (2009), Strategi dalam mematikan serangga
menggunakan kiling bottle ada beberapa tahap sebagai berikut:
1. Sebuah killing bottle terdiri dari kapas dan karton yang harus dipadatkan
rapat kebawah, dan karton harus memiliki beberapa lubang jarum
didalamnya kemudian ditutup dengan gabus yang kompatibel dengan
mulut botol.

5
2. Alkohol dituangkan ke dalam botol dan dibiarkan tidak bersumbat dan
sebaiknya diletakkan diluar ruangan, sampai seluruh zat mengendap dan
mengering.
3. Botol disumbat dengan gabus, dasarnya di tape, diberi label dan
botol siap dipakai.
4. Untuk agen pembunuh yang lain, botol-botol yang memakai material-
material ini terbuat dengan cara meletakkan beberapa macam material
yang menyerap di dalam botol dan memasukkannya dengan agen tersebut.
5. Kapas adalah suatu material penyerap yang bagus tetapi harus
ditutupi dengan selembar karton atau penyaring, kalau tidak serangga-
serangga dapat terjebak dalam kapas dan sulit mengeluarkannya tanpa
kerusakan.
6. Efisiensi sebuah botol pembunuh tergantung dari seberapa jauh dan
bagaimana dipakainya.
7. Botol sebaiknya tidak dibiarkan tanpa sumbat lebih lama dari waktu yang
diperlukan untuk meletakkan serangga-serangga atau mengeluarkannya.

D. Cara Pengawetan Serangga


Setelah serangga dikumpulkan dan dimatikan, harus segera dilakukan
proses pengawetan. Hal ini bertujuan agar serangga tidak menjadi keriting
atau bengkok, kaku, dan patah secara morfologi, serta agar tidak mengalami
kebusukan. Proses pengawetan serangga ini disebut juga dengan proses fiksasi.
Serangga yang bertubuh besar dapat difiksasi dengan menggunakan staging
atau karding, yaitu serangga dilem atau ditusuk jarum dengan beralaskan
styrofoam atau kertas kaku yang berfungsi sebagai papan perentang.
Menurut Jumar, 2002: 227-228), metode perentangan serangga pada papan
perentang adalah sebagai berikut:

6
Diagram 1. Perentangan serangga
(Sumber: Hamidah, 2015: 50)

Gambar 1. Serangga dikeluarkan dari amplop Gambar 2. Serangga diolesi formalin


(Sumber: Hamidah, 2015: 50) (Sumber: Hamidah, 2015: 50)

7
E. Penataan Serangga (Mounting)
Setelah serangga diawetkan dengan menggunakan cairan formalin dan
alkohol selanjutnya dilakukan proses mounting atau penataan. Perlakuan
penataan antara serangga bertubuh besar dan serangga bertubuh kecil terdapat
beberapa perbedaan, yaitu sebagai berikut:
1. Penataan Serangga Bertubuh Besar
Penjaruman adalah suatu cara pengawetan yang terbaik untuk
serangga dewasa berbadan keras. Jarum yang digunakan untuk
pengawetan tersebut dapat menggunakan jarum khusus serangga. Jarum
yang baik adalah yang stainless steel atau anti karat. Serangga seperti
kupu-kupu, lalat dan lebah ditusuk melalui toraks antara dasar sayap depan.
Hemiptera ditusuk melalui skutellum. Belalang ditusuk melewati bagian
posterior pronotum, tepat di sebelah kanan garis tengah tubuh. Serangga
peloncat dan kumbang ditusuk dengan jarum melalui bagian kanan sayap
depan kira-kira separuh jaraknya antara dua ujung-ujung tubuh. Capung
ditusuk dengan jarum secara horizontal melewati toraks dengan sisi tubuh
sebelah kiri mengarah ke atas. Jarum yang sudah ada serangganya
ditusukkan ke gabus, untuk mengatur posisi tubuh, kaki dan antena dengan
pinset dan jarum untuk menjepit. Untuk menjepit serangga selama
pengeringan dapat digunakan jarum pentul biasa.

Gambar 3. Penataan serangga bertubuh besar Gambar 4. Cara penataan dengan jarum
(Sumber: www.ipb.ac.id) (Sumber: Hamidah, 2015: 50)

8
2. Penataan Serangga Bertubuh Kecil
Serangga yang kecil dapat ditata dengan menggunakan kertas yang
berujung, biasanya menggunakan kertas yang agak keras, berukuran
segitiga, agak memanjang kira-kira panjang 2-3 cm dan lebar 1 cm. Cara
penataan serangga kecil yaitu ujung kertas tersebut diberi lem. Kemudian
kertas tersebut ditusuk dengan jarum yang ukurannya disesuaikan
dengan besar kecilnya serangga. Serangga berada diujung kertas dengan
posisi tengkurap, terlentang, miring kekanan dan miring kekiri.

Gambar 5. Penataan serangga bertubuh kecil Gambar 5. Penataan serangga bertubuh kecil
(Sumber: www.uky.edu) (Sumber: Hamidah, 2015: 50)

3. Pengeringan Spesimen
Spesimen-spesimen yang kecil akan sangat cepat kering di udara
terbuka. Spesimen yang besar akan mengering di udara terbuka, tetapi
tidak dianjurkan untuk meninggalkan terlalu lama karena kemungkinan
kerusakan oleh dermestid, semut, atau hama-hama lain. Sebuah ruangan
dengan satu atau lebih bola-lampu dapat digunakan untuk pengeringan
yang cepat (Borror, 1992: 943).
4. Pemberian Label
Label dibuat dari kertas manila putih dengan tulisan diketik warna
hitam. Kertas label ada 2 buah. Label sebelah atas berisi informasi dasar
mengenai tempat serangga ditemukan, tanggal serangga ditemukan, dan
nama kolektornya, sedangkan label bagian bawah bertuliskan spesies.
Label ditusuk dengan jarum dan posisinya sejajar dengan posisi serangga
agar mudah dibaca.

9
Diagram 2. Pemberian Label
(Sumber : Nur Hamidah, Dewi. 2015 : 55)

Gambar 7. Label bagian atas Gambar 8. Label bagian bawah


(Sumber: Hamidah, 2015: 55) (Sumber: Hamidah, 2015: 55)

5. Kotak Tempat Penyimpan


Kotak penyimpanan serangga biasanya dibuat dari kayu dan tutup atas
dapat dibuat dari kaca. Disini peneliti membuat penyimpanan serangga
dari besi/kabinet metal berkualitas bagus supaya lebih kedap udara dan
rapat. Dengan demikian diharapkan serangga hama tidak dapat masuk ke
dalamnya. Bagian dasar dari kotak diberi bahan yang lunak misalnya
gabus untuk menusukkan jarum koleksi serangga.

10
Gambar 9. Kotak Penyimpanan (Insektarium)
(Sumber: Hamidah, 2015: 31)

F. Pemeliharaan dan Etika


1. Pemeliharaan Insektarium
Koleksi harus disimpan dengan aman dan mudah diperiksa untuk
tujuan penelitian. Aman yang dimaksud adalah terhindar dari gangguan
hama perusak koleksi dan jamur. Mudah diperiksa artinya spesimen dapat
digunakan untuk penelitian dengan mudah. Untuk daerah tropis seperti
Indonesia, penyimpanan koleksi lebih sulit dibandingkan negara nontropis,
karena fluktuasi kelembaban udara antara malam dan siang sangat tinggi.
Serangga hama yang umum ditemukan menyerang koleksi adalah semut
dan kecoak. Untuk mencegah hama-hama tersebut semua koleksi harus
diperiksa secara teratur dan masing-masing kotak penyimpanan harus
diberi naphthalene (kamper) atau kapur barus dan paradicloro-bensin yang
dibungkus kain kasa dan ditusukkan disudut kotak penyimpanan. Di dalam
ruang koleksi serangga dapat digunakan AC untuk mengatur suhu udara
agar berkisar 18-200 C dan kelembaban 45-50 %. Pintu ruang koleksi
dijaga agar selalu tertutup. Kebersihan harus dijaga ketat. Lampu atau
cahaya dinyalakan jika perlu saja.
2. Etika Pengoleksian Serangga
Pengawetan hewan sangat diperlukan terutama untuk memenuhi
kebutuhan pada masa yang akan datang dalam membantu perkembangan

11
ilmu. Tanpa adanya pengawetan yang baik, serangga yang ditemukan dan
dikoleksikan maka akan mengalami kerusakan, misalnya pengerutan atau
pembusukan. Metode penangkapan setiap jenis serangga memiliki
perlakuan yang berbeda, seperti serangga bersayap/terbang, serangga
yang relatif besar dan pergerakannya pelan, serangga yang relatif kecil
pergerakannya cepat dan serangga yang aktif hidup di tanah. Metode
penangkapan didasarkan pada perilaku dan habitat serangga-serangga
tersebut. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam penangkapannya.
Metode pengawetan serangga membutuhkan pengetahuan yang benar.
Penjaruman harus menggunakan jarum khusus serangga anti karat sebab
jarum non stainless steel akan cepat berkarat jika terkena cairan tubuh
serangga. Cairan formalin yang digunakan berkadar rendah 5% karena
jika terlalu tinggi akan merusak warna tubuh.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut.
1. Cara menangkap serangga dibagi berdasarkan kemampuan motilitas
dari serangga-serangga tersebut.
2. Mematikan serangga terdiri atas beberapa cara, yakni dibius, ditekan,
dimatikan, dan direndam.
3. Efektivitas mematikan serangga ialah dengan killing bottle yang terdiri
atas beberapa tahapan.
4. Pengawetan serangga bertujuan agar serangga tidak menjadi keriting
bengkok, kaku, dan patah secara morfologi, serta agar tidak mengalami
kebusukan, disebut juga proses fiksasi dengan menggunakan formalin
dan alkohol.
5. Pembuatan onsektarium dilanjutkan dengan penataan serangga di
mana perlakuan penataan antara serangga bertubuh besar dan serangga
bertubuh kecil terdapat beberapa perbedaan.
6. Dalam pembuatan koleksi serangga atau insektarium, perlu
diperhatikan cara pemeliharaan dan etika-etika dalam mengoleksi
serangga.

B. Saran
Materi tentang ini masih perlu dilengkapi, di dalamnya masih banyak
terdapat kekurangan disebabkan keterbatasan yang dimiliki oleh penyusun.
Penyusun berharap agar semua pihak yang membaca makalah ini dapat
memberi masukan sehingga makalah ini dapat lebih bermanfaat, terutama
dalam mata kuliah Entomologi.

13
DAFTAR PUSTAKA

Borror, D. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Yogyakarata: UGM

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta

Hamidah, Dewi Nur. 2015. Pengembangan Insektarium disertai Buku Pedoman


Pembuatan Koleksi Serangga sebagai Media Praktikum untuk Siswa
Kelas X SMA/MA. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta: Fakultas Sains dan Teknologi.

Suhara. 2009. Famili Meloidae. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Dekisugi. 2016. Cara Mengawetkan Serangga dan Kupu-Kupu.


http://bagiinfo.com/metode-cara-mengawetkan-serangga-dan-kupu
kupu/. Diakses pada 11 april 2017, pukul 17.05 PM

14