Anda di halaman 1dari 22

PERAN PEMERINTAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN

INDEKS PEMBANGUAN MANUSIA DI PROVINSI PAPUA

Muhammad Luthfan Andrian

165120601111007

26

ABSTRAK

Rendahnya Indeks Pembangung Manusia (IPM) di Pronvinsi Papua pada tahun


2015, sedikitnya mengambarkan tiga unsur penting didalamnya, yaitu: kesehatan,
pendidikan dan standar kehidupan. Provinsi Papua mempunyai catatan kurang baik
dalam pembangunan manusianya, terlihat pada Indeks Pembangunan Manusia di
provinsi Papua yang meningkat dengan lambat tiap tahunnya. Dari 34 provinsi di
Indoneisa, Papua merukapan provinsi satu-satunya dengan capaian IPM berstatus
rendah (IPM <60). Sebagaimana kita tahu, bahwa Sumber Daya Alam (SDA) yang
dimiliki oleh Papua sangatlah besar. Akan tetapi, hal itu tidak seimbang dengan kualitas
Sumber Daya Manusianya (SDM). Hal itu di karenakan pembangunan manusia di
provinsi Papua masih tergolong rendah. Perlunya penangangan dan perhatian lebih dari
pemerintah dalam melihat permasalahan yang terjadi di provinsi Papua. Oleh karena itu,
peran pemerintah sangat dibutuhkan seperti: kebijakan, peraturan dan program yang
tepat guna meningkatkan IPM yang ada di Pronvinsi Papua.

Kata Kunci : Pembangunan Manusia, Sumber Daya Manusia Rendah

1
1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan Manusia merukapan suatu proses untuk perluasan pilihan


yang lebih banyak kepada penduduk melalui upaya-upaya pemberdayaan yang
mengutamakan peningkatan kemampuan dasar manusia agar masyarakat dapat
sepenuhnya berpartisipasi dan berkontribusi di segala bidang pembangunan.
Pentingnya peran pemerintah dalam pembangunan manusia guna tercapainya
kesejahteraan masyarakat yang di inginkan dan di harapkan oleh setiap negara
tentunya. Maka dari itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan tugas
penting bagi pemerintah guna terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan
makmur.

Alasan mengapa pembangunan manusia perlu mendapat perhatian


adalah: pertama, banyak negara berkembang termasuk Indonesia yang berhasil
mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi gagal mengurangi
kesenjangan sosial ekonomi dan kemiskinan. Kedua, banyak negara maju yang
mempunyai tingkat pendapatan tinggi ternyata tidak berhasil mengurangi
masalah-masalah sosial, seperti: penyalahgunaan obat, AIDS, alkohol,
gelandangan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Ketiga, beberapa negara
berpendapatan rendah mampu mencapai tingkat pembangunan manusia yang
tinggi karena mampu menggunakan secara bijaksana semua sumber daya untuk
mengembangkan kemampuan dasar manusia.

Elemen-elemen pembangunan manusia secara tegas menggaris bawahi


sasaran yang ingin dicapai, yaitu hidup sehat dan panjang umur, berpendidikan
dan dapat menikmati hidup secara layak. Ini berarti pembangunan manusia
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkaitan dengan
kualitas manusia dan masyarakat. Karena itu, manusia merupakan sentral dari
proses pembangunan tersebut

Untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan dan


kesejahteraan manusia, UNDP telah menerbitkan suatu indikator yaitu Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) untuk mengukur kesuksesan pembangunan dan
kesejahteraan suatu negara. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah suatu
tolak ukur angka kesejahteraan suatu daerah atau negara yang dilihat

2
berdasarkan tiga dimensi yaitu: angka harapan hidup pada waktu lahir, angka
melek huruf dan rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli. Indikator
angka harapan hidup mengukur kesehatan, indikator angka melek huruf
penduduk dewasa dan rata-rata lama sekolah mengukur pendidikan dan terakhir
indikator daya beli mengukur standar hidup.

Dalam hal ini pembangunan manusia tidak lah lepas dari pertumbuhan
ekonomi, sebagian pendapat berkeyakinan akan pemikiran yang berkesimpulan
bahwa hampir semua menganggap pembangunan identik dengan pertumbuhan
ekonomi, seperti tercermin dalam tujuan pembangunan. Sedangkan
pertumbuhan ekonomi merupakan fungsi dari investasi yang berarti tergantung
dari jumlah modal dan teknologi yang ditanam dan dikembangkan dalam
masyarakat. Investasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan
tingkat pendapatan nasional. Kegiatan investasi memungkinkan suatu
masyarakat terus menerus meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesempatan
kerja, meningkatkan pendapatan nasional dan taraf kemakmuran.

Dari hasil penelitian Ramirez dkk (1998) dengan data cross-country


(1970-1992), menemukan adanya hubungan positif yang kuat antara
pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pengeluaran
pemerintah untuk sektor sosial dan pendidikan terbukti pula mempunyai peran
penting sebagai penghubung yang menentukan kekuatan hubungan antara
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia, sedangkan tingkat investasi
dan distribusi pendapatan adalah penguat hubungan antara pembangunan
manusia dan pertumbuhan ekonomi. Studi ini yang menjelaskan bahwa
pengeluaran pemerintah dan investasi turut memberi andil dalam memperkuat
pembangunan manusia dan pembangunan ekonomi. Berdasarkan uraian di atas,
menarik diteliti mengenai pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap indeks
pembangunan manusia melalui pertumbuhan ekonomi.

3
2 Pembahasan
2.1 Gambaran Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia

Pembangunan ekonomi dalam suatu wilayah sebagian besar dipengaruhi


oleh proses pembangunan manusia di wiliayah tersebut. Pencapaian
pembangunan tidak terlepas dari seberapa besar kualitas manusia di suatu
wilayah. Maka dari itu, indikator yang bisa mengukur kualitas manusia disuatu
daerah yaitu dengan cara Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan
indikator yang di gunakan dalam mengukur aspek penting yang berkaitan dengan
kualitas dari hasil pembangunan ekonomi, yaitu derajat perkembangan manusia.

Dalam menentukan Indeks Pembangunan Manusia mempunyai tiga unsur


didalamnya, yaitu kesehatan, pendidikan dan standar kehidupan. Jadi ketiga
unsur ini sangat penting dalam menentukan tingkat kemampuan suatu provinsi
untuk meningkatkan IPM di pronvisinya tersebut. Ketiga unsur itu saling berkaitan
satu sama lain dan tak bisa berdiri sendiri, maka dari itu ketiga unsur tersebut
saling memengaruhi satu sama yang lainnya. Selain itu juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain, seperti ketersediaan kesempatan kerja, yang pada gilirannya
ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, infrastruktur dan kebijakan pemerintah.
IPM di suatu daerah akan meningkat apabila ketiga unsur tersebut dapat
ditingkatkan, nilai IPM yang tinggi menandakan keberhasilan pembangunan
ekonomi di daerah tersebut.

Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia setiap tahunnya mengalami


kenaikan, kenaikan itu ditandai dengan meningkatnnya IPM Indonesia sebesar
69,55 yang naik 0,65 pada tahun 2015 di bandingkan dengan IPM Indonesia pada
tahun 2014 yang hanya 68,90. Ini merupakan mencapaian baik yang di lakukan
pemerintah dalam menginkatkan IPM di Indonesia. Akan tetapi, masih banyak
Pronvisi di Indonesia yang masih tertinggal dengan Pronvinsi-pronvisi besar pada
umumnya. Pada tahun 2015, dari 34 Provinsi di Indoensia hanya Pronvisi Papua
yang masih berkategori rendah dan DKI Jakarta sebagi pusat pemerintahan dan
ekonomi menempati kategori tinggi. Hal tersebut bisa dilihat pada Provinsi DKI
Jakarta yang memiliki IPM tertinggi pada tahun 2015 yaitu sebesar 78,99.
Sedangkan IPM Provinsi Papua hanya sebesar 57,25 pada tahun 2015, angka

4
tersebut sangatlah jauh bila dibandingan dengan DKI Jakarta. Diantara provinsi-
provinsi di Indonesia, Pronvinsi Papualah yang paling kecil Indeks Pembangunan
Manusianya.

Gambar 1. IPM Indonesia Menurut Provinsi dan Status Pembangunan


Manusia tahun 2015

Tabel diatas menunjukkan bahwa, rata-rata Indeks Pembangunan


Manusia tahun pada tahun 2015 di tiap pronvinsi Indonesia berkategori sedang.
Hanya sedikit dari provinsi-pronvisi di Indonesia yang menempati kategori Tinggi,
itupun Pronvisi-pronvisi besar yang ada di Indonesia. Sedangkan pronvinsi papua
menempati kategori rendah, dimana hanya provinsi papualah yang mendapat
kategori rendah dari pronvinsi-pronvisi yang ada di Indonesia. Padahal
sebagaimana kita tahu, bahwa pronvinsi papua mempunyai kekayaan Alam yang
sangat berlimpah, Maka dari itu, Provinsi Papua seharusnya mampu bersaing
dalam meningkatkan IPM dengan provinsi-provinsi yang lainnya. Akan tetapi,
mengapa Pronvisi papua masih berada dikategori rendah dalam Indeks
Pembangunan Manusia. Apa yang menjadi permasalah di pronvisi papua
sehingga membuat Indeks Pembangunan Manusia di Pronvisi Papua berada di
kategori rendah. Hal ini bisa diakibatkan karena kurangnya peranan pemerintah
dalam upaya meningkatkan pembangunan masyarakat dalam tiga bidang yang
berpengaruh pada Indeks Pembangunan Manusia di Pronvinsi papua. Ketiga
bidang tersebut, yaitu: pendidikan, ekonomi, dan kesehatan di Provinsi Papua.
pemerintah harus memperhatikan sarana dan prasarana pada bidang pendidikan
dan kesehatan seperti: meningkatkan jumlah tenaga pengajar, mendirikan

5
puskesmas, meningkatkan tenaga medis seperti dokter, bidan dan perawat di
setiap kecamatan di Provinsi Papua.
2.2 Perkembangan IPM Papua Tahun 2010 2015 (Papua, 2016)
Pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi
penduduk (enlarging peoples choice). IPM menjelaskan bagaimana penduduk
dapat mengakses hasil pembangunan antara lain dalam memperoleh
pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, IPM merupakan
indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun
kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM diperkenalkan oleh UNDP
pada tahun 1990 dan metode penghitungan IPM direvisi pada tahun 2010. BPS
mengadopsi perubahan metodologi penghitungan IPM yang baru pada tahun
2014 dan melakukan backcasting sejak tahun 2010.

IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a
long and healthy life); pengetahuan (knowledge); dan standar hidup layak
(decent standard of living). Umur panjang dan hidup sehat digambarkan dengan
Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH), yaitu jumlah tahun yang diharapkan
dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup, dengan asumsi bahwa pola
angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.
Dimensi pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah dan
Harapan Lama Sekolah. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) adalah rata-rata lamanya
(tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal.
Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya (tahun) sekolah
formal yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa
mendatang. Sementara itu, standar hidup layak digambarkan oleh pengeluaran
per kapita disesuaikan, yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan
paritas daya beli.

IPM dihitung berdasarkan rata-rata geometrik indeks kesehatan, indeks


pengetahuan, dan indeks pengeluaran. Penghitungan ketiga indeks ini dilakukan
dengan melakukan standardisasi dengan nilai minimum dan maksimum masing-
masing komponen indeks.

IPM merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan


pembangunan dalam jangka panjang. Untuk melihat kemajuan pembangunan
manusia, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan dan status

6
pencapaian. Secara umum, pembangunan manusia Papua terus mengalami
kemajuan selama periode 2010 hingga 2015. IPM Papua meningkat dari 54,45
pada tahun 2010 menjadi sebesar 57,25 di tahun 2015. Selama periode tersebut,
IPM di provinsi paling timur Indonesia ini rata-rata tumbuh sebesar 1,01 persen
tiap tahunnya. Meskipun nominal IPM Papua terus meningkat setiap tahunnya,
namun pertumbuhannya selama periode 2010-2015 terus melambat. Pada
periode 2010-2011, IPM Papua tumbuh 1,04 persen dan sempat mengalami
pertumbuhan 1,25 persen pada periode 2013-2012. Namun kemudian
pertumbuhannya terus melambat hingga pada periode 2014-2015, IPM Papua
hanya tumbuh 0,88 persen. Dengan nilai IPM yang masih berada di bawah 60,
pembangunan manusia Papua masih berstatus rendah.

Gambar 2. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Papua Tahun 2010 2015

57.25
56.75
56.25
55.55
55.01
54.45

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pada tahun 2015, dari 34 provinsi di Indonesia, Papua merupakan satu-satunya


provinsi dengan capaian IPM yang masih berstatus rendah (IPM kurang dari
60). Sementara itu, pembangunan manusia di 25 provinsi memiliki status
sedang (IPM berkisar antara 60-70) dan delapan provinsi menyandang status
tinggi (IPM berkisar antara 70-80). DKI Jakarta sebagai pusat ekonomi dan
pusat pemerintahan Indonesia memiliki IPM tertinggi yang mencapai 78,99. Dua
provinsi mengalami kenaikan status pembangunan manusia dari klasifikasi
sedang ke klasifikasi tinggi, yaitu Provinsi Banten dan Sulawesi Utara.

7
Pada periode 2014 hingga 2015, tercatat tiga provinsi dengan kemajuan
pembangunan manusia paling cepat (top movers), yaitu Provinsi Nusa Tenggara
Barat (1,36 persen), Jawa Timur (1,19 persen), dan Sulawesi Barat (1,17 persen).
Kemajuan pembangunan manusia di NTB dan Sulawesi Barat utamanya
didorong oleh peningkatan dimensi pendidikan, sementara di Jawa Timur lebih
dikarenakan perbaikan standar hidup layak. Sementara itu, kemajuan
pembangunan manusia di Maluku (0,48 persen), Kepulauan Riau (0,47 persen),
dan Kalimantan Utara (0,18 persen) tercatat paling lambat di Indonesia selama
tahun 2014-2015. Untuk Papua, meskipun menjadi satu-satunya provinsi dengan
klasifikasi IPM rendah, namun pertumbuhannya sebesar 0,88 persen menempati
peringkat ke-21 dari 34 provinsi.

Gambar 3.Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Provinsi


Tahun 2015

2.3 Upaya Pemerintahan dalam Pencapaian Kapabilitas Dasar Manusia


Pencapaian pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga
aspek esensial, yaitu umur panjang dan hidup sehat; pengetahuan; dan standar
hidup layak. Oleh karena itu, peningkatan capaian IPM tidak terlepas dari
peningkatan setiap komponennya. Seiring dengan meningkatnya angka IPM,
indeks masing-masing komponen IPM juga menunjukan kenaikan dari tahun ke
tahun.

Tabel 1.Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Komponen


Provinsi Papua Tahun 2010-2015
Komponen Satua 201 2011 201 2013 201 2015
n 0 2 4

8
(1)
(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

A.Dimensi Umur Panjang dan Hidup Sehat

Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun


2009 Tentang Kesehatan, kesehatan adalah hak asasi manusia dan
salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan
cita-cita bangsa Indonesia, dan pada Pasal 1 (1) yang menyatakan
bahwa kesehatan merupakan faktor penting bagi manusia untuk dapat
hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Begitupula dalam Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi
Papua, Pasal 59 (3), dinyatakan pula bahwa setiap penduduk Papua
memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kondisi geografis di Pronvisi Papua, mengakibatkan kualitas


pelayanan kesehatan untuk masyarakat di daerah terpencil Papua
sangat tidak menjamin dan memadai. Hal ini akan berdampak langsung
kepada masyarakat di Papua yang tinggal disekitar lingkungan tersebut,
dimana masyarakat yang tinggal didaerah terpencil sering terjangkit
beberapa penyakit. Pemerintah dituntun untuk membuat dan
melaksanakan program-program yang mampu meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan
Nila Moeloek mengatakan, ada lima perhatian khusus dalam agenda
pembangunan kesehatan yang rancang pemerintah untuk mewujudkan
akses dan mutu pelayanan kesehatan hingga ke daerah terpencil.

9
Pertama, pembangunan kesehatan merupakan investasi negara
khususnya dalam menopang peningkatan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM), bersama dengan pendidikan dan pendapatan perkapita.
Untuk itu, sebagai investasi, orientasi pembangunan kesehatan harus
lebih didorong pada aspek-aspek promotif dan preventif tanpa
melupakan aspek kuratif rehabilitatif.

Kedua, pendekatan sasaran pokok pembangunan kesehatan


adalah ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah dan remaja,
pasangan usia subur, serta usia lanjut, khususnya di daerah populasi
tinggi, terpencil, perbatasan, kepulauan, dan rawan bencana. Sosialisasi
sangat diperlukan tertutama kepada ibu hamil dan balita di Papua agar
tidak terjadi kematian ibu dan kematian bayi yang dimana selama ini
menjadi masalah yang sering terjadi di daerah terpencil. Dalam kasus ini,
di Pronvinsi papua memerlukan pembangunan kesehatan yang merata
pada tiap-tiap daerah agar pelayanan kesehatan di daerah terpencil tidak
jauh berbeda dengan yang ada pada kota-kota besar, seperti jumlah
dokter dan alat-alat yang memadai.

Ketiga, diperlukan keterlibatan aktif dari akademisi, komunitas,


pelaku usaha dan pemerintah sebagai satu kesatuan team work sebagai
bentuk tanggung jawab bersama akan masa depan bangsa, khususnya
kualitas sumber daya manusia yang harus mampu bersaing dengan
bangsa atau negara lain. Jika masyarakat sehat, maka dapat
meningkatkan produktivitas dari manusia itu sendiri. Jika masyarakat
produktif, maka dapat berkontribusi dan berpartisipasi didalam
lingkungannya yang dimana seorang individu bisa menghasilkan suatu
barang atau jasa yang ditawarkan oleh individu tersebut sehingga
manusia tersebut mampu bersaing dengan bangsa atau negara lain.
Khususnya untuk masyarakat yang ada di Pronvinsi Papua

Keempat, pola kepemimpinan perlu berubah dari pasif menjadi


aktif untuk merespons serta mengantisipasi persoalan yang ada; dari
yang sifatnya individualism menjadi kerja sama, tidak peduli menjadi

10
peduli. Hal ini dilakukan agar setiap masyarakat, khususnya masyarakat
Papua mempunyai sifat gotong royong atau kerja sama dan mempunyai
rasa kemanusiaan dalam bentuk kepedulian terhadap sesama.

Kelima, tata kelola program dan administrasi terus menerus


ditingkatkan ke arah yang lebih baik, melalui sinergitas pusat dan daerah.
Satu kesatuan siklus manajemen, mulai dari perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, sampai kepada
pertanggungjawaban serta pengadministrasiannya. Hal ini bertujuan
untuk mencegah adannya ketimpangan yang sering terjadi antara pusat
dan daerah baik dalam penggunaan dana yang maksimal dalam
meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Provinsi Papua
(Indonesia, 2014)1

Lima rancangan agenda ini, perlahan mulai berjalan pada daerah-


daerah di Indonesia. Khususnya daerah terpencil, seperti di Pronvinsi
Papua. Meskipun belum berjalan dengan maksimal, akan tetapi
rancangan ini mulai berjalan sesuai yang diinginkan.

Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH) yang merepresentasikan


dimensi umur panjang dan hidup sehat terus meningkat setiap tahunnya.
AHH di Provinsi Papua pada tahun 2010 hanya sebesar 64,31 tahun,
dan pada tahun 2015 AHH Papua naik menjadi 65,09 tahun. Dengan
demikian, selama periode lima tahun terakhir, Papua telah berhasil
meningkatkan AHH sebesar 0,78 tahun, dimana pertumbuhan rata-rata
AHH per tahunnya sebesar 0,24 persen.

B.Dimensi Pengetahuan

Pendidikan adalah salah satu kunci keberhasilan dalam


membangun sektor kehidupan, karena pembangunan pendidikan
memiliki hubungan yang erat dengan kesiapan Sumber Daya Manusia

1 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,


http://www.depkes.go.id/article/print/14112700004/menkes-sampaikan-agenda-pembangunan-
kesehatan-2015-2019.html di akses pada tanggal 11 april pukul 15.00

11
(SDM) yang profesional, handal dan berkompeten. Maka dari itu, perlu
ditingkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri. Seperti fasilitas modern
dan memadai, akses yang mudah dan tenaga pendidik yang memenuhi
standar. Sehingga dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia yang
profesional, handal dan memenuhi standar.

Pendidikan juga merupakan salah satu tolok ukur kemajuan


peradaban suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Bagaimana
Pemerintah merencanakan, menjalankan dan mengevaluasi program-
program pendidikannya guna menghasilkan Sumber Daya Manusia yang
harapkan dan menjadikannya unggul dalam jangka waktu yang panjang.
Tidak terkecuali dengan Papua, pendidikan menjadi salah satu kunci
untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat Papua.

Pada Pemerintahan Jokowi-JK, sejak awal menaruh perhatian


besar terhadap pembangunan di Papua. Visi-Misi Nawacita dengan jelas
menyebutkan tentang komitmen untuk membangun dari pinggiran serta
meningkatkan pembangunan berbagai fasilitas produksi, pendidikan,
kesehatan, pasar tradisional dan lain-lain di pedesaan, daerah terpencil
dan tertinggal.

Pada dasarnya, banyak persoalan yang terjadi dalam bidang


pendidikan, dan tiap-tiap bidang memiliki banyak dimensi yang terkait
satu dengan yang lainnya. Persoalan-persoalan tersebut seperti
persoalan kurikulum, sarana dan prasarana, kapabilitas guru dan
sebagainya. Akan tetapi, di Papua, semua persoalan menjadi lebih rumit
karena adanya faktor-faktor yang menghambat, seperti infrastruktur yang
masih terbatas dengan jumlah kampung diperdalaman yang begitu
tersebar dan kurangnya tenaga pendidik di setiap daerah. Semua ini
mengakibatkan terbatasnya akses pendidikan bagi anak-anak di
Pronvinsi Papua.

Pada pemerintahaan saat ini, telah dibentuk pembanguan dalam


sektor pendidikan, yaitu Program Guru Garis Depan (GGD) merupakan
salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan pendidikan
yang terjadi di Pronvinsi Papua. Program ini dijalankan oleh Kementerian

12
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(KemenPANRB) serta pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah
melakukan pemerataan pelayanan pendidikan di seluruh wilayah
Indonesia, khususnya di Papua, melalui pendistribusian tenaga pendidik
atau guru.

Program GGD merupakan salah satu terobosan baru dari program


yang dibuat pemerintah dalam rangka meningkatkan dan menciptakan
pemerataan kualitas tenaga pendidik. Melalui program ini pemerintah
mengalokasikan 3.500 guru yang ditempatkan di Papua dan Papua
Barat, serta Aceh dan Maluku. Mereka nantinya akan menggantikan
guru-guru lulusan SMP dan SMA yang masih tersebar di berbagai
wilayah pedalaman. Status mereka pun adalah Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) pemerintah daerah setempat, bukan terdaftar di
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga, komitmen mereka
diharapkan lebih kuat untuk bisa membangun daerahnya sendiri.

Khusus untuk Pronvinsi Papua, selain program GGD, pemerintah


juga melanjutkan program Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem). yang
merupakan program afirmatif bagi pemuda-pemudi Papua dan Papua
Barat untuk melanjutkan pendidikan di sejumlah daerah seperti Jawa dan
Bali. (RI, 2015)2

Pada umumnya, Dimensi Pengetahuan pada IPM dibentuk oleh


dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama
Sekolah (RLS). Kedua indikator ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selama periode 2010 hingga 2015, HLS di Papua telah meningkat 1,38
tahun, sementara RLS meningkat 0,4 tahun.

Selama periode 2010 hingga 2015, HLS secara rata-rata tumbuh


3,04 persen per tahun. Meningkatnya HLS dapat dijadikan sinyal positif
semakin banyaknya penduduk yang bersekolah. Di tahun 2015, HLS di

2 Sekretaria Negara RI,


http://www.presidenri.go.id/pendidikan/membangun-papua-melalui-
pendidikan.html di akses pada tanggal 11 april pukul 18.00

13
Papua adalah sebesar 9,95 tahun. Ini berarti anak-anak usia 7 tahun
memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus
SMP.Sementara itu, hingga tahun 2015, secara rata-rata penduduk
Papua usia 25 tahun ke atas telah mengenyam pendidikan hingga kelas
5 SD. Meskipun RLS Papua masih rendah, namun angkanya terus
meningkat dimana secara rata-rata tumbuh 1,39 persen setiap tahunnya
selama periode 2010 hingga 2015. Pertumbuhan positif ini merupakan
modal penting dalam membangun kualitas masyarakat Papua yang lebih
baik.

C Dimensi Standar Hidup Layak

Standar hidup layak diartikan sebagai jumlah pengeluaran (uang)


yang dipakai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya per kapita per tahun.
Oleh karena itu, indeks ini diwakili oleh konsumsi riil per kapita, yaitu
jumlah pengeluaran per kapita (rupiah) yang benar-benar dipakai untuk
mengkonsumsi satu paket komoditi

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan Standar Hidup


Layak adalah menetapkan Upah Minimum Provinsi. UMP Papua tahun
2015 sebesar Rp 2.193.000 atau naik 7,5% dari UMP 2014 sebesar Rp
2.040.000 per bulan. Pemprov setempat menaikkan UMP tersebut guna
penyesuaian kondisi ekonomi Papua yang semakin membaik.
Penetapan ini juga telah disesuaikan melalui kajian dan kesepakatan
lembaga pengupahan daerah.

Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang terdiri dari birokrat,


akademisi, buruh dan pengusaha mengadakan rapat, membentuk tim
survei dan turun ke lapangan mencari tahu harga sejumlah kebutuhan
yang dibutuhkan oleh pegawai, karyawan dan buruh. Setelah survei
diperoleh angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL)

Dimensi terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah


standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita
disesuaikan (harga konstan 2012). Pada tahun 2015, pengeluaran per

14
kapita penduduk Papua senilai Rp6,47 juta per tahun. Selama lima tahun
terakhir, pengeluaran per kapita disesuaikan masyarakat ratarata
meningkat sebesar Rp43,60 ribu setiap tahunnya.

2.4 Pencapaian Pembangunan Manusia di Tingkat Kabupaten/Kota


Pencapaian pembangunan manusia di tingkat kabupaten/kota di Papua pada
tahun 2015 cukup bervariasi. Mayoritas kabupaten di Papua masih berstatus IPM
rendah. Pembangunan manusia di Kabupaten Jayapura yang pada tahun 2014
masih berstatus sedang, kini mengalami peningkatan. Terbukti pada tahun 2015
berubah menjadi berstatus tinggi. Kenaikan status pembangunan manusia juga
terjadi di Kabupaten Supiori, yang di tahun 2014 masih berstatus rendah, pada
tahun 2015 menjadi berstatus sedang. Secara keseluruhan, kabupaten dengan
IPM berstatus sedang adalah Merauke, Nabire, Kepulauan Yapen, Sarmi,
Keerom, Waropen, dan Supiori. Adapun kabupaten/kota dengan status IPM
tinggi adalah Jayapura, Biak Numfor, Mimika, dan Kota Jayapura.

15
Gambar 4.IPM Menurut Kabupaten/Kota dan Status Pembangunan
Manusia Provinsi Papua Tahun 2015

: Rendah
(< 60)

: Sedang
(60 70)

: Tinggi
(70 80)

Nduga dengan IPM hanya sebesar 25,47 menjadi kabupaten dengan IPM
terendah di Papua. Dilihat menurut komponen pembentuk IPM, nilai setiap
komponen tersebut di Kabupaten Nduga juga menjadi yang paling rendah
dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Papua. Nilai tiap komponen IPM tahun
2015 di Nduga yaitu: AHH saat lahir sebesar 53,60 tahun yang berarti tiap bayi
yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga usia 53,60 tahun; HLS

16
sebesar 2,17 tahun yang berarti anak-anak usia 7 tahun di Ndua memiliki
peluang untuk bersekolah hanya selama 2,17 tahun atau hanya sampai kelas 2
SD; angka RLS sebesar 0,64 tahun yang berarti penduduk Nduga usia 25 tahun
ke atas secara rata-rata hanya menempuh pendidikan 0,64 tahun atau tidak
tamat kelas 1 SD; dan angka pengeluaran per kapita disesuaikan (harga konstan
2012) hanya Rp3,63 juta per tahun.

Sebaliknya, Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua tercatat


memiliki pembangunan manusia tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya di
Papua. Pada tahun 2015, IPM Kota Jayapura mencapai 78,05. Untuk dimensi
pengetahuan dan dimensi standar hidup layak, Kota Jayapura juga menempati
posisi pertama dimana nilai untuk masing-masing indikatornya adalah HLS
sebesar 14,16 tahun, RLS sebesar 11,11 tahun, dan pengeluaran per kapita
disesuaikan (harga konstan 2012) mencapai Rp14,25 juta per tahun. Kecuali
untuk dimensi umur panjang dan hidup sehat, posisi pertama ditempati oleh
Kabupaten Mimika dengan nilai AHH saat lahir mencapai 71,89 tahun.

Gambar 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut


Kabupaten/Kota Tahun 2015

Peningkatan IPM di tingkat provinsi juga tercermin pada level kabupaten/kota.


Pada periode 2014 hingga 2015, seluruh kabupaten/kota di Papua mengalami
kenaikan IPM. Top movers IPM di Papua(kabupaten/kota dengan kemajuan
pembangunan manusia paling cepat), yaitu Kabupaten Puncak (3,59 persen),

17
Pegunungan Bintang (3,12 persen), dan Lanny Jaya (2,08 persen)3. Kemajuan
pembangunan manusia di ketiga kabupaten tersebut didorong oleh peningkatan
dimensi pendidikan. Program-program pendidikan yang dilakukan pemerintah
dalam meningkatkan pendidikan di Papua antara lain, program GGD dimana
pemerintah mengalokasikan setidaknya 3500 guru untuk mengajar di provinsi
Papua, program Afirmasi pendidikan menengah (Adem) yaitu adalah program
afirmatif bagi pemuda Papua untuk bisa melanjutkan pendidikan di Jawa atau
Bali dan program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal). Program-program tersebut cukup bermanfaat bagi masyarakat
karena dampat meningkatkan kualitas dari manusia itu sendiri, dimana program-
program tersebut dapat meningkatkan pembangunan manusia dalam bidang
pendidikan.

3 Badan Pusat statistik, papua.bps.go.id/website/brs_ind/brsInd-20160615101238.pdf di akses


tanggal 11 april pukul 20:30

18
3 Penutup
3.1 Kesimpulan
1. Di tingkat nasional, IPM Indonesia tahun 2015 adalah 69,55 atau masih
berada dalam status sedang seperti tahun sebelumnya. Menurut
komponennya, Angka Harapan Hidup saat lahir adalah 70,78 tahun;
Harapan Lama Sekolah adalah 12,55 tahun; Rata-rata Lama Sekolah
adalah 7,84 tahun; dan Pengeluaran per Kapita Disesuaikan sebesar
Rp10,15 juta per tahun.
2. Hingga saat ini, pembangunan manusia di Provinsi Papua masih
berstatus rendah yang ditunjukkan dengan angka Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang masih di bawah 60. Meskipun demikian,
pembangunan manusia di Papua terus mengalami kemajuan yang
tercermin dari terus meningkatnya IPM Papua.
3. Selama periode 2014 hingga 2015, komponen pembentuk IPM Papua
juga mengalami kenaikan. Bayi yang baru lahir memiliki peluang hidup
hingga 65,09 tahun, meningkat 0,25 tahun dibandingkan tahun
sebelumnya. Anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah
selama 9,95 tahun, naik 0,01 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah
menempuh pendidikan selama 5,99 tahun, meningkat 0,23 tahun
dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran per kapita disesuaikan
(harga konstan 2012) masyarakat sebesar Rp6,47 juta per tahun, naik
Rp52,44 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
4. Dalam bidang kesehatan, pemerintah melalui kementrian kesehatan telah
merancang agenda dalam upaya meningkatkan kesehatan bagi seluruh
masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Papua yang berada di
daerah-daerah terpencil. Sehingga dapat mendapatkan pelayanan
kesehatan yang layak.
5. Dalam bidang Pendidikan, pemerintahan Jokowi-JK telah membuat
program-program guna meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)
sehingga dapat menghasilkan SDM yang diharapkan. Program-program
tersebut yaitu, GDD, Adem dan SM3T
6. Dalam bidang Standar Hidup Layak (Ekonomi), pemerintah telah
berupaya menginkatkan standar hidup yang layak untuk masyarakat
Papua dengan cara meningkatkan 7,5% UMP Papua pada tahun 2015

19
3.2 Saran
1. Pemerintah, masyarakat dan swasta harus berkerja sama dalam
meningkatkan IPM di Indonesia
2. Masyarakat harus berpartisipasi dan berkontribusi dalam meningkatkan
IPM baik di daerah maupuan secara nasional
3. Pemerintah harus lebih memperhatikan daerah yang pencapaian Indeks
Pembangunan Manusianya rendah, seperti yang terjadi di Provinsi
Papua
4. Pemerataan pelayanan kesehatan, seperti dokter-dokter dan alat-alat
kesehatan di daerah-daerah terpencil yang ada di provinsi Papua
5. Meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil di Papua
agar tidak kalah dengan pelayanan kesehatan di kota-kota besar
6. Pemertaan pendidikan di daerah-daerah terpencil di Papua guna
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
7. Meningkatkan standar guru, infrastruktur, fasilitas di setiap sekolah,
terkhusus di daerah terpencil Papua
8. Memberikan reward atau penghargaan untuk pelajar yang berprestasi di
provinsi Papua
9. Membuat program jangka panjangan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di pronvisi Papua
10. Meningkatkan standar hidup layak bagi masyarakat papua, terutama
yang berada di desa dan perdalaman.
11. Meningkatkah Upah Minimum Pronvisi (UMP) guna terpenuhinya
kebutuhan hidup layak terhadap setiap masyarakat di Papua

References
Indonesia, K. K. (2014, November 12). MENKES SAMPAIKAN AGENDA PEMBANGUNAN
KESEHATAN 2015-2019. Retrieved from depkes:
http://www.depkes.go.id/article/print/14112700004/menkes-sampaikan-agenda-
pembangunan-kesehatan-2015-2019.html

Papua, B. (2016, Juni 15). Berita Resmi Statistik. Retrieved from BPS Provinsi Papua:
papua.bps.go.id/website/brs_ind/brsInd-20160615101238.pdf

20
RI, S. N. (2015, Desember 30). Membangun Papua Melalui Pendidikan. Retrieved from presidenri:
http://www.presidenri.go.id/pendidikan/membangun-papua-melalui-pendidikan.html

21
22