Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

PEWARISAN SIFAT YANG DIKENDALIKAN ALEL MAJEMUK


Ahmad Rizal 1, Apriani Wiweka2, Ai Yulianti 3, Ayu Zulfah4, Fatihatunnisa5
Ismail Fadlurrohman6

Jl.A.H Nasution No.105, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat.


Jurusan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung 40614
e-mail: 1Ahmadrizal755877@gmail.com; 2Aiyulianti@gmail.com; 3Ayuzulfah@gmail.com;
4
Aprianiwiweka@gmail.com; 5Elfatihrahman23@gmail.com;
6
ismailfadlurrohman665@gmail.com;

ABSTRAK
Hukum Mendel adalah salah satu hukum terpenting dalam perkembangan ilmu genetika di dunia.
Namun, tidak banyak orang yang menyadari bahwa penelitian Mendel didasari pada ilmu Matematika
Diskrit. Sebuah gen dapat memiliki lebih dari satu alel. Alel yang dimiliki oleh gen tersebut berjumlah
dua bahkan bisa mencapai lebih dari 20 alel. Pada penelitian kali ini dilakukan pengamatan rambut
digitalis tengah jari untuk membuktikan pewarisan sifat yang dikendalikan alel majemuk. Contoh
pewarisan sifat pada manusia yang ditentukan oleh alel ganda adalah rambut pada digitalis tengah jari
tangan serta golongan darah. Rambut pada digitalis tengah merupakan salah satu fenotip yang
dikendalikan oleh alel majemuk. Sebuah gen dapat memiliki lebih dari satu alel. Pewarisan sifat pada
manusia yang ditentukan oleh alel ganda adalah rambut pada digitalis tengah jari tangan serta golongan
darah. Urutan dominansi alel pada rambut pada digitalis tengah jari adalah H 1 > H2 > H3 > H4 > H5.
Dalam sistem ABO, gen IA dominan terhadap IO, gen IB dominan terhadap IO, gen IO bersifat resesif.
Kata Kunci : Alel, Dominant, Resesif, Fenotif, Rambut, Digitalis tengah.
PENDAHULUAN
Ilmu genetika adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat keturunan (hereditas) serta segala
seluk beluknya secara ilmiah. Orang yang dianggap sebagai Bapak genetika adalah Gregor
Mendel. Berdasarkan Hukum Mendel, tiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang
faktor keturunan. Tiap pasangan faktor keturunan menunjukkan bentuk alternatif sesamanya,
kedua bentuk alternatif disebut pasangan alel.
Sebuah gen dapat memiliki lebih dari satu alel. Alel yang dimiliki oleh gen tersebut
berjumlah dua bahkan bisa mencapai lebih dari 20 alel. Contoh pewarisan sifat pada manusia
yang ditentukan oleh alel ganda adalah rambut pada digitalis tengah jari tangan serta golongan
darah. (Suryo,2008)
Penyebaran gen dapat terjadi jika ada persilangan atau perkawinan antar individu dalam
suatu populasi. Berdasarkan jumlah sifat yang disilangkan, terdapat dua macam persilangan yaitu
persilangan monohibrid dan persilangan dihibrid. Persilangan monohibrid merupakan
persilangan dengan satu sifat beda sedangkan persilangan dihibrid merupakan persilangan
dengan dua sifat beda. Persilangan dihibrid ini lebih rumit dibandingkan dengan persilangan
monohibrid karena pada persilangan dihibrid melibatkan dua lokus (Dwi agus. 2013: 79).
Adanya rambut pada digitalis tengah merupakan salah satu contoh fenotip yang
dikendalikan oleh gen yang memiliki alel majemuk. H 1 adalah alel untuk menentukan adanya
rambut pada semua jari, kecuali pada ibu jari. Adanya rambut pada jari tengah, ditentukan oleh
alel H2. Alel H3 mengendalikan sifat rambut pada jari manis dan jari tengah, sedangkan H 4 untuk
rambut pada jari manis saja. Ketiadaan rambut pada semua jari dikendalikan oleh alel H5. Urutan
dominasi dari alel-alel itu adalah H1>H2>H3>H4>H5 (Tim Pengajar. 2017: 27).
Alel dapat menunjukkan derajat dominasi dan keresesifan yang berbeda-beda satu sama
lainnya. Dalam persilangan ercis mendel, keturunan F1 selalu terlihat seperri salah satu dari
kedua varietas induk sebab salah satu alel dalam pasangan tersebut menunjukan dominansi
sempurna (Complete dominance) terhadap lel yang satu lagi. Dalam situasi semacam itu,
fenotipe heterozigot dan homozigot dominan tidak dapat dibedakan (Campbell. 2008: 292).
Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa)
dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi
menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1)
menghasilkan gamet-gamet, setengahnya mempunyai alel dominan A dan setengahnya
mempunyai alel resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2
menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif
yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2
hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33)
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini bersifat eksplorasi karena mengobservasi rambut pada digitalis tengah
kelompok dan kelas dengan menggunakan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kaca
pembesar dan alat tulis yang digunakan. Penelitian dilakukan dengan cara mengamati segmen
digitalis tengah jari pada diri sendiri, kelompok dan kelas. Percobaan pertama adalah
Menentukan sifat rambut pada digitalis tengah jari tangan kelompok dan kelas. Dan pada
percobaan kedua mengukur/menentukan fenotip golongan darah mahasiswa tiap kelompok dan
kelas. Karena penelitian ini membahas peluang dimana peluang merupakan prinsip yang
mendasari hukum mendel dalam persilangan (Hereditas) dimana digunakan untuk menentukan
dan memeberikan contoh penerapan teori peluang beberapa peristiwa yang terjadi secara bebas,
penggunaan rumus binomium dan beberapa peristiwa yang saling mempengatuhi. Dan
meramalkan resiko anak cacat dari suatu perkawinan.

HASIL
Tabel 1. Sifat rambut pada digitalis tengah jari tangan kelompok praktikum genetika.
Data Kelompok 3.
Nama Fenotip Rambut Jari Jumlah
1 2
Kelompok 3 H H H3 H4
H 5

Ismail - - - - 1
Apri - - - - 1
Ahmad R - - - - 1
Fatih - - - - 1
Ayu Z - - - - 1
Ai - - - - 1
Jumlah 0 1 0 1 4 6
1 4
0 1 0 X X
X 100 X 100 X 100 = 6 6
Presentase 6 6 6 100%
100 = 100 =
= 0% = 16,66% 0%
16,66% 66,66%

Data Kelas P.BIO VI/A.


Nama Fenotip Rambut Jari Jumlah
1 2
Kelompok H H H3 4
H H5

Kelompok 1 - - 4 - 2 6
Kelompok 2 - - 4 - 1 5
Kelompok 3 - 1 - 1 4 6
Kelompok 4 - 4 - 1 1 6
Kelompok 5 - - - - 6 6
Kelompok 6 1 - 1 - 4 6
Kelompok 7 - 1 2 - 2 5
Kelompok 8 - 1 - - 4 5
Jumlah 1 7 11 2 24 45
7 11 2 24
1 X X X X
X 100 45 45 45 45
Presentase 45 100%
100 = 100 = 100 = 100 =
= 2,22%
15,55% 24,44% 4,44% 53,33%

Tabel 2. Fenotip golongan darah mahasiswa tiap kelompok praktikum satu kelas.
Data Kelompok 3.
Nomor Fenotip Jumla
kelompok A B AB O h
Ismail - - - 1
Apri - - - 1
Ahmad R - - - 1
Fatih - - - 1
Ayu Z - - - 1
Ai - - - 1
Jumlah 2 2 0 2 6
2 2 2
X X 0 X
6 6 X 6
Presentase 6 100%
100 = 100 = 100 =
100 = 0%
33,33% 33,33% 33,33%

Data Kelas P.BIO VI/A.


Nomor Fenotip Jumlah
Kelompok A B AB O
Kelompok 1 1 3 - 2 6
Kelompok 2 2 2 - 1 5
Kelompok 3 2 2 - 2 6
Kelompok 4 2 2 1 1 6
Kelompok 5 1 2 - 3 6
Kelompok 6 2 2 - 1 6
Kelompok 7 2 3 1 1 5
Kelompok 8 2 1 - 2 5
Jumlah 14 16 2 13 45
14 16 2 13
X X X X
45 45 45 45
Presentase 100%
100 = 100 = 100 = 100 =
31,11% 35,55% 4,44% 28,88%

Diskusi :
1. Apabila saudara mengetahui golongan darah kakek, nenek, ayah, ibu serta saudara-
saudara, buatlah diagram silsilahnya sehingga saudara dapat memperkirakan genotip
saudara sendiri.
Jawab :
ayah : golongan darah O (IOIO) Ibu : golongan darah A (IAIA)
Kakak : golongan darah A (IAIA) saya : golongan darah A (IAIA)
Adik : golongan darah A (IAIA)
Diagram silsilah :

IOIO IAIA

IAIO
IAIO

IAIO

2. Separuh dari sejumlah anak dalam suatu keluarga besar, ternyata mempunyai golongan
darah B, seperempat AB dan seperempat A. bagaimana kemungkinan fenotip dan genotip
orang tua anak-anak tersebut?
1 1 1
Diketahui: AB. A. B
4 4 2
Ditanyakan : fenotif dan genotif orangtua?
Jawab:
P B X AB
IB IO X IAIB

F1 IAIB , golongan darah AB


IBIB , golongan darah B
IAIO , golongan darah A
IBIO , golongan darah B
Maka fenotip orang tua : AB dan B, sedangkan genotifnya IBIO dan IAIB

3. Seorang ibu bergolongan darah Rh- mempunyai anak Rh+, berapakah kemungkinan anak
kedua :
a. Akan bersifat Rh- ?
b. Akan bersifat Rh+ lagi ?
c. Akan menderita penyakit eritroblastosis fetalis ?
Diketahui:
Karena ibu memiliki Rh- anaknya Rh+ maka ayahnya memiliki Rh+. Maka
Genotif ibu: Rh- : rr
Genotif ayah : Rh+ : RR atau Rr
Genotif anak : Rh+ : RR atau Rr
Ditanyakan :
a. Peluang anak kedua Rh-
b. Peluang anak kedua Rh+ lagi?
c. Peluang anak kedua menderita eritroblastosis fetalis?
Jawab:
Jika ayah Rh+ (RR) dengan ibu Rh- (rr), maka :
P RR >< rr
F Rr (Rh ) = 100% Rh+
+

Jika ayah Rh+ (Rr) dengan ibu Rh- (rr), maka:


P Rr >< rr
F Rr (Rh+) = 50 % Rh+
rr (Rh-) = 50% Rh-
a. Akan 0% jika genotif ayahnya homozigot (RR), dan 50% jika genotif ayahnya
heterozigot (Rr)
b. Akan 100% jika genotif ayahnya homozigot (RR), dan 50% jika genotif
ayahnya heterozigot (Rr)
c. Akan 100% jika genotif ayahnya homozigot (RR), dan 50% jika genotif
ayahnya heterozigot (Rr)

4. Mengingat adanya kemungkinan inkompatibilitas dalam golongan darah ABO manakah


yang dianggap lebih menguntungkan apakah laki-laki bergolongan darah A menikah
dengan perempuan bergolongan darah O atau sebaliknya ?
Jawab :
Agar tidak terjadi Inkompatibilitas dalam golongan darah ABO, kemungkinan yang lebih
menguntungkan adalah perempuan yang bergolongan darah A dengan laki-laki yang
bergolongan darah O karena zat anti dari serum darah ibu tidak bertemu dengan antigen
dari eritrosit bayi dalam kandungan.

PEMBAHASAN

Sebuah gen dapat memiliki lebih dari satu alel. Alel yang dimiliki oleh gen tersebut
berjumlah dua bahkan bisa mencapai lebih dari 20 alel. Sesuai dengan (Mila. 2017: 27)
menyatakan pada kenyataannya ada sejumlah gen yang terdiri dari sepasang (dua) alel, ada yang
tiga alel, empat alel sampai lebih dari 20 anggota alel. Contoh pewarisan sifat pada manusia yang
ditentukan oleh alel ganda adalah rambut pada digitalis tengah jari tangan serta golongan darah.

Berdasarkan hasil pengamatan baik dari data kelompok 3 maupun kelas. Dari data
kelompok untuk rambut pada digitalis tengah jari didapat 16,66% H 2 dan H3 (Rambut pada
digitalis jari, pada jari manis dan jari tengah) dan 66,66% H 5 (Ketiadaan rambut pada semua
jari), sedangkan untuk data kelas P.BIO VI/A didapat 2,22% H1; 15,55% H2; 24,44% H3; 3,33%
H4; dan 53.33 % H5.

Alel dapat menunjukkan derajat dominasi dan keresesifan yang berbeda-beda satu sama
lainnya. Dalam persilangan ercis mendel, keturunan F1 selalu terlihat seperri salah satu dari
kedua varietas induk sebab salah satu alel dalam pasangan tersebut menunjukan dominansi
sempurna (Complete dominance) terhadap lel yang satu lagi. Dalam situasi semacam itu,
fenotipe heterozigot dan homozigot dominan tidak dapat dibedakan (Campbell. 2008: 292).

Jika dilihat dari hasil pengamatan dari 45 orang yang diamati didapatkan H 1 sebanyak 2
orang dengan persentasi 2,22% yaitu alel yang menentukan adanya rambut pada semua jari, H 2
sebanyak 7 orang dengan persentasi 15,55% yaitu adanya rambut pada jari manis dan jari
tengah, H3 sebanyak 11 orang dengan persentasi 24,44% yaitu yaitu terdapat rambut pada jari
manis dan jari tengah, H4 sebanyak 2 orang dengan persentasi 4,44% yaitu untuk rambut pada
jari manis saja, dan yang terakhir H5 sebanyak 24 orang dengan persentasi 53,33% yaitu
ketiadaan rambut pada semua jari.

Urutan domain dari hasil pengamatan didapatkan: H1>H4>H2>H3>H5

Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang mana seharusnya urutan domain yang diharapkan
adalah : H1>H2>H3>H4>H5. Dengan begitu data tersebut berarti menunjukan bahwa seri alel
ganda pada H5 bersifat dominan dibandingkan dengan seri alel ganda pada tipe lainnya. Jadi
dapat dilihat urutan dominasiya adalah H5>H3>H2>H4>H1. Berdasarkan data yang telah
dilakukan perhitungannya, didapatkan bahwa pada percobaan kali ini mengenai rambut yang
berada pada ruas tengah jari tangan tidak dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan atau dari
luar.

Hasil pengamatan penentuan golongan darah untuk data kelompok 3 didapat 33,33%
bergolongan darah A, 33,33% bergolongan darah B dan 33,33% bergolongan darah O.
Sedangkan untuk data kelas P.BIO VI/A didapat: Golongan darah A : 31,11%; Golongan darah
B : 35,55%; Golongan darah AB : 4.44%; Golongan darah O : 28,88%;.

Dikarenakan Golongan darah manusia ABO ditentukan oleh alel-alel I,IA dan IB. Alel I
resesif terhadap IA dan IB. Alel IA dan IB bersifat kodomain, sehingga IB tidak dominan
terhadap IA dan sebaliknya IA tidak dominan terhadap IB. Interaksi antara alel I, IA dan IB
menghasilkan 4 fenotip golongan darah, yaitu O, A, B dan AB. Gen I menghasilkan suatu
molekul protein yang disebut Isoaglutinin yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang
dengan alel IA dapat membentuk aglutinogen atau antigen yang disebut antigen-A dalam eritrosit
yang kemudian dapat bereaksi dengan antibodi atau aglutinin atau anti-B yang terdapat di dalam
serum atau plasma darah. Orang dengan alel IB dapat membentuk antigen-B dalam eritrosit, dan
zat anti-A dalam serum darah.

Lokus ABO mengatur tipe glikolipid pada permukaan eritrosit dengan cara memberikan
spesifikasi jenis enzim yang mengatalisis pembentukan polisakarida di dalam eritrosit tersebut.
Glikolipid yang dihasilkan akan menjadi penentu karakteristik reaksi antigenik tehadap antibodi
yang terdapat di dalam serum darah. Antibodi adalah zat penangkal terhadap berbagai zat asing
(antigen) dan zat-zat yang tidak diinginkan lainnya yang masukkedalam tubuh
Pada pengamatan penentuan golongan darah tidak dilakukan pengamatan tentang rhesus
karena hampir semua mahasiswa pendidikan biologi VI/A tidak mengetahui rhesus masing-
masing dan harus menggunakan perhitungan dan alat untuk menghitung rhesus baik
rhesus+/rhesus-. Sehingga untuk pengamatan tentang rhesus tidak dilakukan.

Penentuan golongan darah berdasarkan rhesus sangat penting. Seperti pada soal masalah
diskusi no 3 tentang penyakit eritroblastosis fetalis yang disebabkan karena rhesus ibu berbeda
dengan rhesus bayi. Dimana rhesus ibu Rh- sedangkan bayi Rh+ yang menyebabkan anti-Rh dari
serum darah ibu merusak eritrosit bayi yang mengandung antigen-Rh.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen dan Asisten dosen praktikum Genetika di
Fakultas MIPA Jurusan Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Juga ucapan
terima kasih kepada seluruh mahasiswa pendidikan biologi VI/A dan khususnya Kelompok 3
yang telah membantu dalam penulisan jurnal penelitian ini. Sehingga penelitian tentang
Pewarisan Sifat Yang Dikendalikan Alel Majemuk dapat dilakukan dengan lancar.

KESIMPULAN

Sebuah gen dapat memiliki lebih dari satu alel.


pewarisan sifat pada manusia yang ditentukan oleh alel ganda adalah rambut pada
digitalis tengah jari tangan serta golongan darah
Urutan dominansi alel pada rambut pada digitalis tengah jari adalah H 1 > H2 > H3 > H4 >
H5.
Dalam sistem ABO, gen IA dominan terhadap IO, gen IB dominan terhadap IO, gen IO
bersifat resesif.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2008. Biologi Edisi ke lima. Jilid ke III. Jakarta : Erlangga.
Yatim, Wildan. 2003. Genetika. Bandung: Tarsito.
Suryo. 2008. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Mila. 2017. Pedoman Praktikum Genetika. Bandung: Tim Pengajar.
Crowder, L.V. 1990. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dwi agus wijayanto. 2013. Penerapan Model Persamaan Diferensi dalam Penentuan Probabilitas
Genotip Keturunan dengan Dua Sifat Beda. Jurnal ILMU DASAR, Vol. 14 No. 2, Juli
2013:79-84: Jurusan Matematika FMIPA Universitas Jember.