Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

PENGENALAN MUTAN DROSOPHILA


Ismail Fadlurrohman1
Jl.A.H Nasution No.105, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat.
Jurusan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung 40614
e-mail: 1ismailfadlurrohman665@gmail.com;

ABSTRAK
Penggunaan Drosophila dalam mempelajari pewarisan sifat memiliki sejumlah keuntungan.
Pertama siklus hidupnya pendek, kedua mudah dipelihara dan ketiga terdapat sejumlah mutan yang
mudah diamati fenotipnya secara morfologis. Peneitian kali ini bertujuan untuk mengamati tipe-tipe
mutan Drosophila yang ada di dunia terutama di indonesia. Berdasarkan hasil secara umum Drosophila
sp. Memiliki berbagai macam tipe. Dimana pada penelitian kali ini terdapat dua jenis tipe mutan yang
diadapatkan yakni Dumpy dan Vestigial. Pengenalan mutan Drosophila sangat perlu dilakukan
dalam mata kuliah genetika karena dapat digunakan sebagai kajian genetik dan berguna untuk
memperkaya sumber belajar pada materi kuliah Genetika dan ilmu Genetika itu sendiri.
Kata Kunci : Alel, Dominant, Resesif, Fenotif, Rambut, Digitalis tengah.
PENDAHULUAN
Penggunaan Drosophila dalam mempelajari pewarisan sifat memiliki sejumlah
keuntungan. Pertama siklus hidupnya pendek, kedua mudah dipelihara dan ketiga terdapat
sejumlah mutan yang mudah diamati fenotipnya secara morfologis. Penampakan morfologis dari
mutan tersebut antara lain dalam hal mata, sayap, warna tubuh dan rambut-rambut pada tubuh.
Fenotip mutan yang mudah diamati melalui mata Drosophila adalah dalam hal warna dan
bentuk/ukuran dibandingkan dengan tipe liar. Fenotip mutan yang dapat diamati melalui sayap
adalah dalam hal ukuran, posisi waktu istirahat, pola venasi dan warnanya (Milla. 2017: 25).
Drosophila merupakan salah satu marga dari Drosophilidae. Drosophila merupakan marga
yang memiliki jumlah paling besar bila dibandingkan dengan marga yang lainnya. Berikut
merupakan klasifikasi dari Drosophila Sp.
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Drosophilidae
Genus : Drosophila
Spesies : Drosophila Sp.
(Boror.1992).
Drosophila ini memiliki siklus hidup yang sangat singkat, yaitu kurang lebih 14 hari. Serangga
ini akan kawin setelah berumur 8 jam. Dengan demikian lalat betina dapat bertelur pada hari
berikutnya. Seekor lalat betina menghasilkan telur berkisar antara 50 57 telur dalam 10 hari
telurnya berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 0,5 mm.Telur telur tersebut baru mengalami
perkembangan setelah kurang lebih 2 jam dan menetas menjadi larva (Wildan, Yatim. 1994).
Drosophila yang terdapat di Kota Bandung ada sekitar 30 jenis, namun yang umum
tertangkap sekitar 10 jenis dan salah satu diantaranya Drosophila annanase, yang hampir selalu
tertangkap apabila menangkap Drosophila disekitar rumah (Iskandar, 1987: 17). Disamping itu
Drosophila sangat peka terhadap lingkungan (Gill and Ellar, 2002).
Mutasi adalah perubahan materi genetik (ADN dan ARN) dan proses yang menyebabkan
terjadinya perubahan tersebut. Sedangkan mutan adalah organisme yang menunjukkan fenotip
baru sebagai hasil terjadinya mutasi. Mutasi dapat disebut sebagai mutasi terinduksi jika
terjadinya disebabkan perlakuan organisme dengan agen mutagenik seperti irradiasi pengionan,
sinar ultraviolet (sinar UV) atau berbagai bahan kimia yang bereaksi dengan ADN atau ARN
(Garder, Simmons and Snustad, 1991: 292-297).

BAHAN DAN METODE


Penelitian ini bersifat eksperimen karena dilakukan diruangan tertutup atau di beri
perlakuan, dan kondisi yang dimanipulasi oleh peneliti sesuai dengan kebutuhan peneliti.
Penelitian dilakukan dengan cara mengamati tipe-tipe mutan Drosophila sp. yang telah
dipelihara dan ditangkap sebelumnya. Percobaan pertama adalah Menentukan tipe-tipe mutan
Drosophila sp. Alat yang digunakan adalah mikroskop dan kaca objek dan bahan yang
digunakan ini adalah lalat Drosophila sp. yang ditangkap dengan mengguna buah pepaya busuk
yang disimpan di botol aqua yang ditutupi kain kasa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi
tipe-tipe mutan Drosophila berdasarkan pengamatan fenotip morfologinya. Diharapkan dapat
mengenal berbagai tipe mutan lalat Drosophila sp. lainnya yang ada di dunia terutama di
indonesia.

HASIL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Mutan Drosophila.
SEX WARNA WARNA KONDISI TIPE MUTAN
TUBUH MATA SAYAP
Betina, terlihat Coklat muda Merah terang Tereduksi, lebih Vg: Vestigial
bagian anal kecil dari (2-67,0), sayap
menonjol tubuhnya, sangat
berwarna gelap tereduksi.

Pembesaran : 6x4 Pembesaran : 6x4 Pembesaran : diujung


6x4 Pembesaran : 6x4
Jantan Coklat Merah Transparan, Dp: Dumpy (2-
mereduksi seperti 13,0), ukuran
terpotong, ukuran sayap
normal mereduksi
menjadi 2/3
Pembesaran : dari ukuran
15x4 sayap normal,
seperti tampak
terpotong,
bristle pada
toraks dan
rambut-rambut
Pembesaran : Pembesaran : tubuh
Pembesaran : 15x4 15x4 susunannya
15x4 tidak sama rata.

Diskusi :
1. Apakah setiap tipe mutan dapat diamati fenotipnya secara morfologis ?
Jawab : Setiap tipe mutan dapat diamati secara morfologis, karena Drosophila dapat
dikatakan berjenis mutan apabila memiliki warna tubuh, warna mata, dan kondisi sayap
yang berbeda dengan tipe liar.
2. Mutan manakah menurut saudara yang fenotipnya sangat mudah dibedakan dengan
fenotip tipe liar ?
Jawab : Mutan yang fenotipnya sangat mudah dibedakan dengan tipe liar adalah mutan
tipe white (w) karena memiliki mata berwarna putih yang jauh berbeda dengan tipe liar
yaitu merah cerah. Dan dari sayap nya yang biasanya lebih kecil, berbagai macam bentuk
dan gelap.

PEMBAHASAN

Praktikum genetika ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis- jenis mutan Drosophila
sp. Yang digunakan dalam praktikum, kemudian mengidentifikasinya berdasarkan pengamatan
morfologis.

Dari hasil pengamatan terdapat dua tipe Drosophila mutan. yakni tipe Vg: Vestigial (2-67,0),
sayap sangat tereduksi. Dan Dp: Dumpy (2-13,0), ukuran sayap mereduksi menjadi 2/3 dari
ukuran sayap normal, seperti tampak terpotong, bristle pada toraks dan rambut-rambut tubuh
susunannya tidak sama rata. Hal ini dapat disebabkan karena faktor lingkungan dan gen.

Pada Drosophila melanogaster (D. melanogaster) selain dari keadaan normal (N)
ditemukan ada beberapa strain yang merupakan hasil mutasi dan menghasilkan mutan-mutan
yang berbeda dari keadaan normalnya. Perbedaan tersebut terutama terkait dengan warna mata,
bentuk mata, dan bentuk sayap. Beberapa jenis mutasi pada Drosophila melanogaster yang dapat
terlihat dari fenotipenya adalah mutasi warna mata, bentuk mata, bentuk sayap dan warna tubuh.
Berdasarkan hal tersebut, maka dikenal berbagai strain (mutan) dari Drosophila melanogaster
antara lain: w (white), cl(clot), ca (claret), se (sepia), eym (eyemissing), cu (curled), tx (taxi), m
(miniature, dp (dumpy), dan Vg (vestigial) (I wayan. 2010: 1-6).

Pada Drosophila sp ciri-ciri suatu mutan dinyatakan oleh gabungan dari satu atau beberapa
huruf dan angka, sesuai dengan nama dan symbol yang pertama kali ditemukan oleh penemunya
kepada mutan tersebut. Lalat Drosophila sp berfenotip normal diberi tanda +. Cara ini sudah
dianut sejak Morgan mulai penelitian dengan hewan ini. Untuk sifat yang bersifat dominan ciri
tersebut ditulis dengan huruf besar sebaliknya jika resesif akan ditulis dengan huruf kecil
( Suryo. 1984) dan menurut (Campbel.2008: 311) untuk suatu karakter tertentu pada lalat, gen
disimbolkan dengan mutan pertama (non-wild type) yang ditemukan. Dengan demikian, alel
untuk mata putih pada Drosophila disimbolkan sebagai w. Tanda + cetak atas mengidentifikasi
alel untuk sifat wild typew+ untuk alel mata merah.

Perbedaan-perbedaan fenotif yang nampak tersebut tentunya disebabkan karena telah


terjadi perubahan pada genotif (terjadi variasi genotif) dengan keadaan normalnya, disebut
sebagai perbedaan ciri instrasepesifik yang selanjutnya dikenal dengan sebutan strain. Secara
rasional perbedaanperbedaan pada genotif paling tidak selain memberikan dampak perbedaan
pada fenotif akan dapat juga menyebabkan beberapa perbedaan dalam hal fisiologik. Seperti
dikatakan oleh Peterson (dalam Fowler, 1973) bahwa mekanisme penggunaan sperma untuk
pembuahan sel telur (fertilisasi) tidak selalu sama pada semua jenis atau strain Drosophila
melanogaster. Demikian juga Fowler (1973) melaporkan bahwa jumlah sperma yang ditrasfer
Drosophila jantan berkaitan dengan perbedaan strain. Dengan demikian macam strain akan
terkait dengan jumlah keturunan. Hal ini diperkuat juga dengan hasil temuan penelitian Muliati
(2000) yang meyimpulkan pada persilangan antar strain (white, ebony, dan normal) terdapat
perbedaan jumlah turunan. Apakah demikian adanya pada strain-strain yang lain, maka tentunya
ini perlu dilakukan penelitian lanjutan karena dinyatakan juga oleh Muliati (2000) bahwa dari
berbagai pustaka belum terungkap semua informasi mengenai pengaruh strain terhadap jumlah
turunan.
D.melanogaster merupakan organisme model Genetika yang sangat besar potensinya untuk
mengkaji konsep-konsep genetika. D. melanogaster telah banyak diteliti sehingga informasi
mengenai keadaan genetik, perkembangan, perilaku, fisiologi, maupun ekologinya sangat mudah
didapatkan. D. melanogaster memiliki bermacam-macam strain mutan selain wild type, misalnya
mutan white (warna mata putih) dan ebony (warna tubuh hitam) yang mudah diidentifikasi. D.
melanogaster juga cepat berkembang biak, mudah dipelihara dalam media kultur yang
sederhana, dan menghasilkan banyak keturunan dalam sekali bereproduksi sehingga sangat
cocok dijadikan organisme untuk kajian genetik. Hasil atau temuan penelitian eksperimental
yang memanfaatkan D. melanogaster oleh sebab itu sangat berguna untuk memperkaya suatu
sumber belajar pada teori-teori yang berkaitan (Ika Sukmawati. 2016: 814-821).

Maka dari itu pengenalan mutan Drosophila sangat perlu dilakukan dalam mata kuliah
genetika karena dapat digunakan sebagai kajian genetik dan berguna untuk memperkaya sumber
belajar pada materi kuliah Genetika.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen dan Asisten dosen praktikum Genetika di
Fakultas MIPA Jurusan Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Juga ucapan
terima kasih kepada seluruh mahasiswa pendidikan biologi VI/A dan khususnya Kelompok 3
yang telah membantu dalam penulisan jurnal penelitian ini. Sehingga penelitian tentang
PENGENALAN MUTAN DROSOPHILA dapat dilakukan dengan lancar.

KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum pengenalan mutan Drosophila dapat disimpulkan bahwa


pengamatan terhadap Drosophila yang diisolasi terdapat 2 tipe Drosophila mutan, yakni tipe Vg:
Vestigial (2-67,0), sayap sangat tereduksi. Dan Dp: Dumpy (2-13,0), ukuran sayap mereduksi
menjadi 2/3 dari ukuran sayap normal, seperti tampak terpotong, bristle pada toraks dan rambut-
rambut tubuh susunannya tidak sama rata. Hal ini dapat disebab kan karena faktor lingkungan dan
gen. Dan pengenalan mutan Drosophila sangat perlu dilakukan dalam mata kuliah genetika
karena dapat digunakan sebagai kajian genetik dan berguna untuk memperkaya sumber belajar
pada materi kuliah Genetika. Dengan adanya sumber-sumber belajar berbasis hasil penelitian,
perguruan tinggi yang masih membutuhkan bahan ajar Genetika yang dilengkapi dengan
panduan aktivitas praktikum juga akan semakin terbantu.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2008. Biologi Edisi ke lima. Jilid ke III. Jakarta : Erlangga.
Yatim, Wildan. 2003. Genetika. Bandung: Tarsito.
Suryo. 1998. Genetika Strata I. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Mila. 2017. Pedoman Praktikum Genetika. Bandung: Tim Pengajar.
Borror, D. J., Charles, A. T., & Norman, F, J. 1982. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Terjemahan oleh Soetiyono Partosoejono. Yogyakarta: UGM-Press.
Iskandar, D. T. 1987. Penuntun Praktikum Genetika. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
I WAYAN KARMANA. 2010. PENGARUH MACAM STRAIN DAN UMUR BETINA
TERHADAP JUMLAH TURUNAN LALAT BUAH (Drosophila melanogaster). Gane
Swara. Vol. 4 No.2. FPMIPA IKIP Mataram.
Muliati, L. 2000. Pengaruh Strain dan Umur Jantan Terhadap Jumlah Turunan Jantan dan
Betina Drosophila melanogaster. Malang: Fakultas MIPA-Universitas Negeri Malang.
Fowler, G.L. 1973. Some Aspect of Reproductive Bioloy of Drosophila: Sperma Transfer, Sperma
Storage, and Sperma Utilization. Genetics.
Gardner, EJ. And Snustad, DP., 1984. Principles of Genetics, 7th edition, John Wiley and Sons
Inc. USA, hal. 292-297.
Gill, M. and Ellar, D. 2002. Transgenic Drosophila reveals a functional in vivo receptor for the
Bacillus thuringiensis toxin Cry1Ac1. Insect Molecular Biology. Vol 11 (6), 619625.
Ika Sukmawati, et.all. 2016. FEKUNDITAS DAN WAKTU PERKEMBANGAN D.
MELANOGASTER STRAIN WILDTYPE, WHITE, DAN EBONY PADA
LINGKUNGAN BERSUHU TINGGI DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER
BELAJAR PERKULIAHAN GENETIKA. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan
Pengembangan. Volume: 1 Nomor: 5 Bulan Mei Tahun 2016. Halaman: 814821.
Tersedia secara online. EISSN: 2502-471X. Pendidikan Biologi Pascasarjana-Universitas
Negeri Malang.