Anda di halaman 1dari 17

HELMINTHES

Helminthes dibagi menjadi 3 filum yaitu:

FILUM PLATHYHELMINTHES

Filum plathyherminthes adalah merupakan cacing yang struktur tubuhnya paling


sederhana. Kata plathyhermintes berasal dari bahasa latin, platy (pipih) dan helminthes
(cacing atau vermes). Sehingga cacing ini disebut cacing pipih, dibandingkan dengan filum
porifera dan cnidaria, organisasi tubuh cacing pipih ini sudah sedikit lebih maju.
Plathyhelminthes memiliki tubuh pipih, lunak, simetri bilateral dan bersifat hermaprodit.
Tubuhnya dapat dibedakan dengan tegas antara posterior dan anterior, dorsal, dan ventral.
Bersifat tripoblastik, dinding tubuhnya terdiri atas 3 lapisan yaitu ektoderm, mesoderm, dan
endoderm.

Sistem pencernaan makanan gastrovaskuler dan tidak memiliki rongga tubuh. Alat
ekskresi berupa sel-sel api dan belum punya alat peredaran darah maupun alat respirasi.
Sistem syarafnya disebut sistem syaraf tangga tali, terdiri atas sepasang ganglion (simpul
syaraf) anterior yang dihubungkan oleh satu sampai tiga pasang tali saraf memanjang.

Plathyhelminthes atau cacing pipih tidak bersegmen dan merupakan cacing yang
berbentuk simetris bilateral dan tidak memiliki coelom (acoelomate) tetapi memiliki tiga
lapisan germinal. Beberapa jenis plathyhelminthes hidup secara bebas dan banyak yang
bersifat parasit. Cacing pipih memiliki sistem saraf cephalized yang terdiri dari ganglion
kepala, biasanya menempel pada saraf longitudinal yang saling berhubungan di seluruh
tubuhnyadengan cabang yang melintang.

Ekskresi dan osmoregulasi pada cacing pipih dikendalikan oleh ‘’sel api’’ (flame calls) yang
terletak di protoneprhrihidia (beberapa jenis cacing pipih yang tidak memiliki
protoneprihidia). Cacing pipih tidak memiliki sistem pernapasan atau peredaran darah,
fungsi-fungsi resebut diganti dengan penyerapan melalui permukaan tubuhnya.

Jenis cacing pipih non-parasit memiliki tubuh yang sangat sederhana (tidak memiliki usus
yang lengkap), bahkan pada spesies parasit, jaringan usus tersebut sangat tidak lengkap.
1. Karakteristik Umum dari Plathyminthes
Kurangnya organ peredaran darah dan membuat plathyhelminthes membatasi ukuran
dan pernapasan membuat plathyhelminthes membatasi ukuran dan bentuknya, sehingga
memungkinkan mereka untuk melakukan pemasukan dan pengeluaran oksigen.
Karbondioksida pada semua bagian tubuhnya dengan proses difusi sederhana. Oleh karena
itu cacing ini banyak yang mikroskopsi dan spesies yang berukuran besar memiliki bentuk
pita atau daun yang datar. Ususnya memiliki banyak cabang, sehingga nutrisi dapat
menyebar ke seluruh bagian tubuh.
Respirasi dilakukan melalui seluruh permukaan tubuh sehingga permukaan tubuh
sehingga membuat mereka rentan terhadap kehilangan cairan dan akibatnya habitat
mereka menjadi terbatas. Cacing ini lebih sering hidup pada lingkungan yang lembab,
seperti pada sampah daun atau tanah, dan sebagai parasit pada hewan lain.

Ruang diantara kulit dan usus berupa mesenkim, yaitu jaringan ikat yang terbuat dari sel
yang diperkuat oleh serat kolagen yang berfungsi seperti kerangka. Mesenkim menyediakan
tempat penempelan untuk otot. Mesenkim berisi semua organ internal dan juga menjadi
tempat terjadinya sirkulasi oksigen, nutrisi dan produk-produk limbah. Mesenkim terdiri dari
2 jenis sel utama yaitu sel tetap, beberapa diantaranya memikili vakuola, memiliki cairan,
dan sel-sel punca (sistem cells), yang dapat berubah menjadi jenis sel lain dan digunakan
untuk regenerasi.
Kebanyakan plathyhelminthes tidak memiliki anus sehingga material yang tercerna
dikeluarkan mulut. Namun, beberapa spesies yang berukuran panjang memiliki anus dan
beberapa spesies lainnya memiliki usus bercabang yang memiliki usus bercabang yang
kompleks dengan lebih dari satu anus, karena akan menyulitkan bagi beberapa spesies ini
jika ekskresi juga harus dilakukan melalui mulut.
Usus dilapisi dengan satu lapisan sel endodermal yang berfungsi menmyerap dan
mencerna makanan. Beberapa spesies memecahkan dan melembutkan makanan dengan
mensekresikan enzim didalam usus atau faring (tenggorokan).
Parasit internal dan hewan laut hidup di lingkungan dengan konsentrasi bahan terlarut
yang tinggi dan pada umumnya parasit membiarkan jaringan mereka memiliki tingkat
konsentrasi yang sama dengan lingkungannya, sedangkan hewan air tawar perlu mencegah
cairan tubuh mereka menjadi terlalu encer. Walau ada perbedaan pada lingkungan,
sebagain dari plathyhelminthes menggunakan sistem yang sama untuk mengontrol
konsentrasi cairan tubuh mereka. Karena pergerakan flagela mereka tampak seperti nyala
lilin yang berkedip-kedip sehingga mereka disebut “sel api”. Sel api mengekstrak air dari
mesenkim yang mengandung limbah dan beberapa bahan yang dapat digunakan kembali.
Kemudian di dorong menuju ke jaringan sel-sel tabung yang dilapisi dengan flagela dan
mikrovil. Flagela sel yang mendorong air menuju keluar disebut nefridiopora dan mikrovili
menyerap kembali bahan yang dapat digunakan kembali dan air sebanyak yang dibutuhkan
untuk menjaga cairan tubuh pada konsentrasi yang tepat. Kombinasi dari sel api dan sel
tabung disebut protonefredia.
Pada semua plathyhelminthes sistem saraf terkonsentrasi di ujung kepala, mirip yang ada
pada filum acoel, yang memiliki jaring saraf lebih mirip dengan cndaria dan ctenophores,
tetapi terkosentrasi di sekitar kepala. Plathyhelminthes lain memiliki cincin ganglia di kepala
dan batang saraf utama yang ada di sepanjang tubuh mereka.
2. Sistem Pencernaan

Rongga pencernaan hanya memiliki satu lubang untuk kedua ingesti (asupan nutrisi) dan
egesti (pengeluaran) sehingga makanan tidak dapat diperoses secara terus menerus.

3. Alat Pencernaan

Pergerakan pada beberapa cacing pipih dikendalikan oleh lapisan otot longitudina,
melingkar, dan miring. Sedangkan jenis lainnya bergerak sepanjang jalur lendir dengan
gerakan silia epidermal. Pada beberapa cacing pipih proses cephalization sudah mencakup
perkembangan di wilayah kepala berupa organ peka cahaya yang disebut ocelli. Beberapa
organ pengindraan yang ada pada beberapa anggota cacing pipih meliputi kemoreseptor,
reseptor keseimbangan (statocysts) dan reseptor yang merasa pergerakan air
(rheoreceptors).

4. Reproduksi

Kebanyakan cacing pipih dapat bereproduksi secara seksual atau aseksual.


Perkembangan plathyhelminthes dapat secara langsung (telur menetas menjadi cacing kecil
yang menyerupai cacing dewasa) atau tidak langsung (dengan bentuk larva bersilia).

5. Interaksi dengan Manusia

Sebagian besar cacing pipih adalah parasit dan ada beberapa di antaranya memberikan
efek yang sangat burukbagi populasi manusia. Lebih dari setengah spesies cacing pipih yang
dikenal merupakan parasit dan beberapa spesies cacing pipih lainnya sangat berbahaya
bagi manusia dan hewan ternak. Penyakit Schistosomiasis disebabkan oleh satu genus dari
trematoda, penyakit ini merupakan penyakit yang dahsyat nomor 2 dari beberapa penyakit
yang disebabkan oleh parasit. Neurocysticercosis terjadi ketika larva cacing pita pada babi
Taenia solim menembus sistem saraf pusat, hal ini yang menjadi penyebab utama terjadinya
epilepsi pada seluruh dunia. Ancaman parasit plathyhelminthes pada manusia di negara
maju meningkat karena pemakaian pupuk organik pada bidang pertanian. Hal ini disebabkan
karena popularitas makanan mentah atau makanan yang dimasak sebentar sangan berisiko
tinggi terjangkit plathyhelmenthes.

Dua spesis planaria telah di gunakan dengan sukses di Filipina, Indonesia, Hawai, Papua
Nugini dan guam untuk mengendalikan populasi dari bekicot Afrika Achatina fulica yang
mengusurpopulasi siput asli.
6. Kelas dari filum plathyhelminthes
Berdasarkan bentuk tubuh dan sifat hidupnya, plathyhelminthes dibagi menjadi tiga
yaitu: kelas Turbellaria, kelas Trematoda dan kelas Cestoda.
A. Kelas Turbellaria
1. Karakter umum
Sebagian besar anggota Turbellaria hidup bebas, hanya beberapa yang parasit. Bisa
ditemui di ekosistem air tawar dan air laut. Tubuhnya berbentuk seperti daun, tidak
bersegmen. Pada epidermis terdapat bulu-bulu getar dan intestinumnya bercabang. Panjang
tubuhnya berkisar 6-15 mm dan tidak memiliki darah,tubuh berwarna gelap, coklat, dan
abu-abu, bernafas secara difusi pada permukaan seluruh tubuh. Contoh anggota kelas ini
adalah Dugesia trigina yang lebih dikenal dengan nama Planaria. Cacing planaria hidup
bebas di air tawar yang jernih dan mengalir sepanjang tahun dan menempel pada batu atau
dedaunan yang jatuh. Turbellaria terdiri dari sekitar 4.500 spesies sebagian besar hidup
bebas dengan ukuran panjang antara 1 mm (0,039 inci) sampai 600 (24 inci). Sebagian besar
adalah predator atau pemakan bangkai. Spesies yang ada di darat sebagian besar aktif
dimalam hari dan tinggal di lingkungan yang lembab seperti pada sampah daun atau kayu
yang membusuk. Beberapa ada yang bersimbiosis dengan hewan lain seperti krustasea dan
beberapa lainnya bersifat parasit. Turbellaria yang hidup bebas biasanya berwarna hitam,
coklat, atau abu-abu tetapi beberapa jenis ada yang lebih besar berwarna cerah.

Turbellaria tidak memiliki kutikula (lapisan luar berupa bahan organik yang bersifat non-
seluler). Pada beberapa spesies kulitnya berupa syncitium (kumpulan sel-sel dengan
beberapa inti dan membran eksternal tunggal bersama). Namun, kulit pada sebagian besar
spesies ini terdiri dari satu lapisan sel, yang masing-masing pada umumnya memiliki
beberapa silia (“rambut” kecil yang bergerak). Pada beberapa spesies berukuran besar
permukaan atas tubuhnya tidak memiliki silia. Kulit juga ditutupi dengan mikrovili yang ada
di antara silia. Turbellaria memiliki banyak kelenjar biasanya berada didalam lapisan berada
di dalam lapisan otot bawah kulit dan terhubung ke permukaan melalui pori-pori yang
merupakan tempat untuk mengeluarkan lendir, perekat, dan zat lainya. Beberapa turbellaria
memiliki kerangka spikular, sehingga memberikan bentuk annular ( seperti cincin).

2. Pola makan dan pencernaan

Convoluta dapat menelan sel dari tetraselmi (alga hijau) dan pada saat dewasa spesies
inin menggunakan alga tersebut sebagai endosymbiot untuk menyediakan makanan. Pada
filum Acoel lainnya usus mereka dilapisi silia dan menggunakan silia untuk menyapu partikel
makanan dan mangsa kecil ke dalam mulutnya. Mulut ini biasanya berada di bagian tengah
bawah dari tubuhnya. Kebanyakan Turbellaria merupakan karnivora dan mereka memangsa
invertebrata kecil,protozoa atau memakan bangkai hewan yang mati. Beberapa spesies
memakan hewan yang lebih besar, termaksuk tiram dan teritip. Turbellaria jenis ini biasanya
memiliki faring eversible.

3. Sistem saraf

Tubellaria memiliki otak yang berbeda, meskipun relatif sederhana dalam strukturnya.
Didalam tubellaria terdapat 1 sampai 4 pasang tali saraf dari otak hingga sepanjang tubuh
dengan banyaknya percabangan syaraf yang lebih kecil. Tidak seperti hewan yang lebih
kompleks seperti Annelida tidak ada ganglia pada pita saraf selain yang membentuk otak.
Kebanyakan Turbellaria memiliki oceli (mata kecil) satu pasang disebagian besar spesies.
Beberapa spesies dengan ukuran besar memiliki banyak mata dibagian atas otak. Oceli
hanya bisa membedakan arah datangnya cahaya, sehingga memungkinkan hewan ini untuk
menghindar. Statocysts pada tubellaria tidak memiliki silia sensorik dan tidak mengetahui
bagaimana mereka merasakan gerakan dan posisi dari partikel padat. Sebagian besar
spesies memiliki sel sensor sentuhan bersilia yang tersebar diseluruh tubuh merekan
terutama pada tentakel dan disekitar tepi tubuh. Sel-sel khusus didalam lubang atau lekukan
pada kepala ini memungkinan merupakan sensor penciuman.

4. Reproduksi

Kebanyakan Turbellaria berkembang biak dengan mengkloning dirinya. Semua Turbellaria


merupakan organisme hermafrodit memiliki sel-sel reproduksi jantan dan betina, dan
membuahi telurnya secara internal melalui kopulasi. Pada kebanyakan Plathyhelminthes
ovarium dibagi menjadi dua salah satunya menghasilkan ovum dan salah satunya lagi
memproduksi sel kuning telur khusus yang digunakan untuk memelihara perkembangan
embrio. Banyak spesies Turbellaria memiliki sistem reproduksi seperti ini.

a. Kelas trematoda

Trematoda merupakan cacing parasit pada vertebrata. Tubuhnya tertutup lapisan-lapisan


kutikula kelompok ini disebut juga sebagai cacing penghisap, karena mempunyai alat
penghisap atau sucker. Trematoda merupakan kelas plathyhelminthes yang terdiri dari tiga
kelompok cacing pipih parasit, sering disebut juga sebagai “flukes”.

1. Taksonomi dan biodiversitas

Trematoda atau “flukes” diperkirakan mencapai 18.000 (10,11) hingga 24.000 (10,12)
spesies, dan dibagi menjadi dua subkelas. Hampir semua trematoda adalah parasit pada
moluska dan vertebrata. Monogenea termaksuk di dalam Trematoda, dengan dasar ini
bahwa cacing ini bahwa cacing ini juga merupakan parasit berbentuk ulat (vermiform).
Trematoda bertbentuk oval dan memiliki bentuk seperti cacing, biasanya panjangnya tidak
lebih dari beberapa sentimeter. Fitur eksternal yang paling khas pada Trematoda adalah
adanya dua pengisap, satu dekat dengan mulut dan lainnya berada di bagian bawah.
Permukaan tubuh trematoda terdiri dari syncitial tegument kuat membantu melindungi
terhadap enzim pencernaan usus hewan. Permukaan syncitial tegument ini berfungsi untuk
pertukaran gas (tidak ada organ pernapasan pada Trematoda). Mulutnya terletak di ujung
depan , berupa otot yang di sokong oleh faring. Faring terhubung melalui esofagus pendek
yang disebut caeca. Caeca bercabang pada beberapa spesies, sperti cacing pipih lainnya,
Trematoda tidak memiliki anus, sehingga sisa limbah pencernaan dikeluarkan melalui mulut.
Meskipun ekskresi limbah nitrogen sebagian besar terjadi Tegument. Trematoda memilki
sistem ekskretoris terutama yang berkaitan dengan osmoregulasi. Sistem ekskretoris ini
terdiri dari dua atau lebih protonephridia yang terletak pada setiap lubang di sisi bagian
tubuh dan menjadi duktus pengumpul (collecting duct). Keduan saluran pengumpal
biasanya bertemu di kandungan kemih tunggal, membuka keluar melalui satu atau dua pori-
pori di dekat ujung posterior hewan. Otak dari Trematoda terdiri dari sepasang ganglia yang
berada di wilayah kepala. Dari masing-masing ganglia tersebut terdapat dua atau tiga
pasangan tali saraf yang menjalar ke seluruh bagian tubuh. Tali saraf yang menjalar di
sepanjang permukaan ventral adalah selalu yang terbesar, sedangkan tali saraf
punggung/dorsal hanya pada Aspidogastrea. Trematoda pada umunya kekurangan organ
penginderaan khusus meskipun ada beberapa spesies ektoparasit yang memilki satu atau
dua pasangan ocelli sederhana.

2. Sistem Reproduksi

Kebanyakan trematoda merupakan hermafrodit merupakan hermafrodit (memiliki organ


reproduksi jantan dan betina di dalam satu tubuh). Biasanya memilki dua testis dengan
saluran sperma yang bergabung bersama di bawah tubuh bagian tengah depan. Biasanya
Trematoda hanya memilki ovarium tunggal yang terhubung melalui sepasang saluran
menuju ke sejumlah kelenjar vitelline di kedua sisi tubuh yang menghasilkan sel kuning telur
(yolk cell). Telur lepas dari ovarium menuju kedalam wadah yang disebut ootype atau
kelenjar Mehlis (kelenjar dimana pembuahan terjadi). Kelenjar membuka menjadi uterus
memanjang yang membuka keluar berdekatan dengan organ jantan. Ovarium sering juga
dikaitkan dengan kantung penyimpanan sperma dan saluran kopulasi yang disebut kanal
Laurer.

3. Siklus Hidup

Hampir semua trematoda menginfeksi moluska sebagai inang pertama pada siklus hidup
kompleks yang melibatkan jenis inang lainnya. Kebanyakan trematoda merupakan
monoeciuos dan bergantian bereproduksi secara seksual dan aseksual, kecuali pada
Aspidogastrea yang tidak memiliki reproduksi aseksual dan Schistosomatidae yang bersifat
diocious (organ reproduksi jantan dan betina terpisah).

4. Infeksi

Infeksi pada manusia kerap terjadi di Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Timur Tengah.
Trematoda dapat ditemukan pada semua tempat dimana limbah/ kotoran manusia
digunakan sebagai pupuk. Schistosomasis di kenal juga dengan bilharzia, bilharziosis atau
demam siput, penyakit ini merupakan salah satu contoh penyakit parasitik yang disebabkan
oleh salah satu spesies Trematoda sebuah spesies cacing parasit dari genus Schistosoma.

5. Subkelas dari Kelas Trematoda


a. Digenea

Digenea memiliki sekitar 11.000 spesies lebih banyak dari semua gabungan spesies
plathyhelminthes lainnya. Digenea dewasa biasanya memiliki dua holdfasts, sebuah cincin
disekitar mulut dan penghisap dibagian tengah bawah yang berukuran lebih besar.
Meskipun nama “Digeneans” berarti “dua generasi”sebagian besar memiliki siklus hidup
yang sangat kompleks hingga mencapai tujuh tahap. Tahap peralihan mentranfer parasit
dari satu inang ke inang yang lain. Definitive host yang merupakan tempat perkembangan
menuju organisme dewasa berupa vertebrata darat.inang pertama pada tahap remaja
biasanya siput yang dapat hidup di darat atau di air dan pada banyak kasus ikan atau
arthropoda adalah inang kedua. Cacing dewasa memiliki panjang antara 0,2 mm dan 6 mm.
Satu individu Digenea dewasa individu hanay memiliki satu alat reproduksi (jantan/betina).
Organisme dewasa menggunakan faring berotot berukuran relatif besar untuk menelan
sel,fragmen sel, lendir, cairan tubuh atau darah.

b. Aspidogastrea

Anggota dari kelompok ini memiliki sebuah penghisap tunggal atau deretan pengisap
yang berada bagian bawah tubuh. Mereka menginfeksi usus ikan bertulang belakang, ikan
bertulang rawan, kura-kura dan rongga tubuh bivalvia dan gasrtropoda (baik air laut
maupun air tawar). Telur mereka menghasilkan larva bersilia yang mampu berenang dan
pada siklus hidupnya memiliki satu atau dua inang.

6. Contoh Spesies Kelas Trematedo

Contoh anggota kelas ini adalah cacing hati (fasciola hepatica) dan Clonorchis sinersis.
Untuk memahami kedua spesies tersebut.

 Fasciola hepatica

Cacing ini hidup sebagai parasit di dalam hati manusia dan hewan ternak seperti sapi,
babi, dan kerbau. Tubuhnya mencapai panjang 2 sampai 5 cm dilengkapi alat penghisap
yang letaknya mengelilingi mulut dan di dekat perut. Cacing hati berkembanag biak secara
seksual dengan pembuahan silang atau pembuahan sendiri (hermaprodit). Fasciola hepatica
memiliki siklus hidup mulai dari dalam tubuh inangnya, ketika keluar dari tubuh inang
samapi kemudian masuk kembali sebagai parasit di tubuh inang yang baru.

 Clonorchis sinensis
Cacing ini hidup di dalam hati dan saluran empedu manusia, anjing, atau kucing. Siklus
hidupnya mirip dengan cacing hati. Inang perantaranya adalah siput, ikan atau udang.

B. Kelasa Cestoda

Cacing ini mempunyai bentuk tubuh pipih panjang menyerupai pita sehingga disebut juga
sebagai cacing pita. Tubuhnya dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu skoleks (kepala)
dan strobilus. Setiap strobilus terdiri atas rangkaian segmen-segmen yang disebut proglotid.
Proglotid di bentuk melalui pembelahan tranversal di daerah leher dan masing-masing berisi
kelengkapan kelamin jantan dan betina sehingga setiap proglotid dapat di pandang sebagai
suatu individu. Cacing ini hidup sebagai parasit pada babi atau sapi.

Cestoda (Cestoidea) adalah nama yang diberikan untuk kelas cacing pipih parasit dari
filum plathyhelminthes dan biasa disebut cacing pita. Anggota dari cestoda dewasa hidup
didalam saluran pencernaan vertebrata dan pada saat juveni sering berada didalam tubuh
berbagai hewan. Lebih dari seribu spesies Cestoda telah di deskripsikan dan semua spesies
vertebrata dapat dijadikan inang oleh setidaknya satu spesies parasit manusia karena
mengkonsumsi daging yang tidak dimasak dengan baik seperti daging babi (Taena solium),
daging sapi(T. Saginata), dan ikan (Diphyllobothrium spp) atau bisa juga mengkonsumsi
makanan yang disiapkan dalam kondisi kebersihan yang buruk.

T. saginata cacing pita yang terdapat di sapi yang tumbuh sampai 20 m (65 kaki). Cacing
pita parasit pada vertebrata memiliki sejarah panjang, fosil dari telur Cestoda salah satu
telurnya memiliki larva yang berkembang. Telah ditemukan dalam fosil kotoran (coprolita)
dari hiu pada periode pertengahan samapi akhir Permian sekitar 270 juta tahun.

Kingdom : Animalia

Filum : Plathyhelminthes

Kelas : Cestoda

Subkelas : Cestodaria dan Eucestoda

Ordo dari Cestodaria : Aprodiea, Caryophyllidea,

Ordo dari Eubacestoda : Aporidea, caryophyllidea, diphyllidea, spathebothriidea, dan


lain-lain.

 Anatomi
a. Scolex

Pada beberapa spesies scolex ini didomunasikan oleh bothria (tentakel) yang berfungsi
sebagai penghisap spesies lain memiliki kait dan penghisap yang membantu untuk
menempel. Cestoda cyclophylid dapat di identifikasi oleh adanya empat penghisap pada
scolex ini berasal dari sel-sel yang berasal dari bagian posteror. Scolex merupakan bagian
yang paling khas dari cacing pita dewasa, sering kali hal ini tidak disadari pada pemeriksaan
klinik karena bagian ini berada dalam tubuh pasien. Dengan demikian, mengidentifikasi telur
dan proglotid dalam kotoran pasien merupakan hal yang penting untuk mengetahui infeksi
cacing ini.

b. Sistem saraf dan tubuh

Pada saraf utama cestoda adalah sebuah ganglion otak didalam scolex saraf motorik dan
sensorik tergantung pada jumlah dan kompleksitas dari scolex tersebut. Saraf yang lebih
kecil berasal dari commissures (istilah) yang berfungsi memasok otot tubuh dan merupakan
ujung sensorik disekitar pori genital yang lebih banyak dibandingkan dareah lain. Fungsi
sensorik meliputi tactoreception dan chemoreception beberapa saraf hanya bersifat
sementara.

c. Proglitid

Tubuh cestoda terdiri dari segmen yang berurutan (proglottids) jumlah dari proglottids
disebut strobila ( tipis dan menyerupai sepotong pita) seperti menggunakan sel api yang
terletak di proglottid untuk ekskresi. Proglottid matang di lepaskan dari ujung posterior
cacing pita dan keluar bersamaan dengan feses inangnya. Oleh karena setiap proglottid
berisi organ reproduksi jantan dan betina, mereka bisa bereproduksi secara mandiri.
Beberapa ahli biologi telah menyatakan bahwa tiap-tiap proglottod tidak harus di anggap
sebagai organisme cacing pita sebenarnya merupakan kolohidasi proglottoids.

Tata letak proglottid terdiri dari dua bentuk, craspedota (proglottid) yang tumpah tindih
oleh proglittid sebelumnya, dan acraspedate (proglittid yang tidak tumpah tindih). Setelah
menempel pada dinding cacing pita menyerap nutrisi makanan yang dicerna oleh inangnya
dan memulai menumbuhkan ekor panjang dimana setiap segmen mengandung sistem
pencernaan independen dan saluran reproduksi. Segmen yang berusia tua di dorong kearah
ujung ekor dimana segmen baru direproduksi oleh segmen tersebut. Pada saat segmen
telah mencapai ujung ekor hanya saluran reproduksi yang tersisa. Kemudian keluar bersama
feses dengan membawa telur cacing pita ke inang berikutnya, karen pada saat itu proglottid
pada dasarnya adalah sebuah kantung telur.

d. Reproduksi

Cacing pita sejati merupakan organisme hermafrodit, mereka memiliki sistem reproduksi
jantan dan betina di dalam tubuh mereka. Sistem reproduksi mencangkup satu atau banyak
testis, cirrus, vas deferens, dan uestikula seminalis sebagai organ jantan, sedangkan ovarium
memiliki saluran telur dari rahim yang saling berhubungan berfungsi sebagi organ jantan.

e. Siklus hidup
Siklus hidup cacing pita sangat sederhana dalam artianya bahwa tidak aseksual seperti
pada cacing pipih lainnya. Akan tetapi memiliki kerumitan tersendiri dimana setidaknya
diperlukan satu inang perantara dan satu inang tetap. Pola siklus ini telah menjadi kriteria
penting untuk mengetahui evolusi pada plathyhelminthes. Banyak cacing pita memiliki dua
tahap siklus hidup dengan dua jenis inang. Cacing Taenia saginata dewasa hidup dalam usus
primata seperti manusia tetapi yang lebih mengkhwatirkan dalah Taenia sollum, karena
dapat menimbulkan kista dalam otak manusia. Proglottid meninggalkan tubuh melalui anus
dan jatuh ke tanah, dimana mereka dapat masuk bersamaan tumput yang dimakan
olehbnhewan seperti sapi. Sapi dan hewan laian yang memakai proglottid ini dikenal
sebagia inang perantara juvenil berimigrasi dan menetapkan sebagi otot mereka
menyebabkan kerusakan lebih parah pda inang perantara di bandingkan inang tetap. Parasit
melengkapi siklus hidupnya ke inang tetap. Hal ini biasanya terjadi karena inang tetap
memakai inang perantara yang terinfeksi, misalnya seperti manusia yang lebih cenderung
menyukai makan daging setangah mentah.

f. Contoh spesies kelas cestoda

Contoh anggota kelas ini adalah Taenia sollum dan Taenia saginata. Berikut ini uraian
keduan jenis cacing tersebut.

1. Cacing pita babi (Taenia sollum)

Cacing pita ini hidup pada saluran pencernaan babi bisa menular kemanusia. Panjang
tubuhnya mencapai 3 m. Pada bagian kepala atau skoleks terdapat empat buah sucker dan
kumpulan alat kait atau rostelum. Di sebelah belakang skoleks terdapat leher atau daerah
perpanjang (strobillus). Dari daerah inilah proglittid terbentuk melalui pembelahan
transversal.

2. Cacing pita sapi (Taenia saginata)

Taenia saginata tidak mempunyai rostelum (kait) pada skoleknya dan secara umum
tubuhnya mirip dengan T. sollum. Cacing dewasa hidup dalam usus manusia masuk kedalam
tubuh manusia melalui sapi sebagai hospesintermediet. Cacing ini merugikan karena
menghambat penyerapan makanan dalam tubuh manusia.

C. Kelas Monogenea
1. Ciri-ciri kelas Monogenea

Monogenea merupakan cacing yang berukuran sangat kecil. Cacing ini di temukan pada
kulit atau insan ikan. Beberapa spesies yang menginfeksi ikan laut tertentu brykuran lebih
besar dari pada yang ditemukan pada inang air tawar. Monogenea kurang dalam sitem
pernapasan dan peredaran darah dan tidak memiliki penghisap oral (tidak berkembang).
Monogenea menempel pada inang menggunakan kait, penjepit dan berbagai struktur
khusus lainnya. Seperti semua ektoparasit monogenea memiliki struktur untuk menempel
yang berkembang dengan baik. Struktur anterior secara kolektif disebut opisnaptor.

Seperti cacing pipih lainya monogenea tidak memiliki rongga tubuh sejati (ceolom).
Monogenea memiliki sistem pencernaan sederhana yang terdiri dari mulut dengan faring
berotot dan usus tanpa bukaan akhir (anus). Umumnya monogenea juga bersifat
hermafrodit dengan organ reproduksi fungsional dari kedua jenis kelamin yang ada pada
satu individu. Monogenea merupakn plathyhelminthes, oleh karena itu monogenea dalah
salah satu invertebrata terendah yang memiliki tiga lapisan kulit embrionik yaitu endoderm,
mesoderm, dan ektoderm. Selain itu, mereka memiliki kepala yang berisi organ-organ
pengindraan dan jaringan saraf (otak).

2. Sitematika evolusi Monogenea

Nenek monogenea kemungkinan adalah cacing pipih yang bebas, yang mirip dengan
Tubellaria modern. Monogenea memiliki sekitar 50 famili dan ribuan nspesies yang telah di
deskripsikan.

Bebrapa ahli parasit (parasitologi) membagi monogenea menjadi dua subkelas


berdasarkan complesitas haptor mereka. Subkelas monogenea yaitu: Monoprsthocotylea
memiliki satu bagian utama pada haptor. Sering berupa kait atau cakram yang besar.
Sedangkan polypisthocotylea memiliki bebrapa bagian pada haptor bisanya berupa penjepit.
Kelompok ini dikenal sebagai polynchoinea dan heteroncholnea. Polyopisthocotyleans
hampir secara ekslusif merupakan panghisap darah yang tunggal di insang sedangkan
monopisthocotyleans dapat hidup di insang, kulit dan sirip.

3. Ekologi dan siklus hidup

Monogenea memiliki siklus hidup yang paling sederhana di antara plathyhelminthes yang
bersifat parasit. Mereka tidak memiliki inang perantara dan bersifat ektoparasit pada ikan
(kadang-kadang terdapat di kandung kemih dan rektum vertebrata berdarah dingin).
Meskipun mereka hermafrodit sistem reproduksi jantan berfungsi terlebih dahulu sebelum
bagian reproduksi betina. Tidak ada monogenea yang diketahui menginfeksi burung tapi ada
satu spesies (oculotrema hippopotami) yang menginfeksi mamlia yaitu menjadi parasit pada
mata kuda nil.
FILUM NEMATHELMINTHES

Nemathelminthes berasal dari bahasa latin nema (benang) dan helminthes (cacing).
Cacing ini sering disebut sebagai cacing benang. Hidup sebagai endoparasit pada hewan,
tumbuh-tumbuhan atau hidup bebas didalam air dan tanah. Tubuhnya bilatel simentris dan
mempunyai tiga lapisan sel. Tubuh tertutup lapisan kutikula sehingga tahan terhadap
pengaruh lingkungan luar. Organ pencernaan makanan lengkap, memanjang dari mulut di
ujung anterior hingga anus di ujung posterior. Sistem sarafnya berupa cincin saraf yang
mengililingi esofagus yang di hubungkan 6 serabut ke bagian anterior dan posterior.

Berkembang biak secara famili dan berkelamin terpisah (dioceous). Cacing jantan
berukuran lebih kecil dari pada cacing betina dan ujung ekor cacing jantan bengkok.
Fertilisasi berlangsung secara internal. Tubuh cacing ini tidak mempunyai sistem peredaran
darah tetapi mempunyai cairan tubuh.

Filum Nemathelminthes dibagi menjadi 2 kelas yaitu kelas nematoda dan kelas
nemathomarha. Berikut ini urain tentang kedua kelas trsebut.

a. Kelas Nematoda

Nematoda merupakan cacing benang berwarna putih atau putih pucat. Ukuran tubuhnya
kecil dan ada yang hanya beberapa milimeter. Tubuhnya di lindungi kutikula, licin atau
bergaris-garis sirkuler dengan 4 garis memanjang. Contoh cacing anggota kelas ini adalah
Ascaris Lombriocoides dan Wuchereria Brancofti.

1. Ascaris Lumbriocoides

Cacing ini sering disebut sebagai cacing perut atau cacing gelang. Panjang tubuhnya bisa
mencapai 49 cm. Hidup prasit di usus halus manusia menyebabkan penyakit cacingan. Di
dalam usus cacing ini membentuk enzim yang menghambat produksi enzim
pencernaan.untuk melindungi dirinyadari getah pencernaan manusia permukaan tubuh
cacing tersebut licin dan tertutup lapisan kutikula. Secara morfologi caing jantan lebih dari
pada cacing betina.

2. Wuchereria Brancofti

Cacing ini merupakan penyebab penyakit filariasis atau elephantiasis (kaki gajah). Di
dalam tubuh manusia cacing tersebut menyumbat pemuluh limfa (getah bening). Sehingga
mengakibatkan pembekakkan tubuh terutama pada kaki sehingga membesar, oleh karena
itu disebut kaki gajah. W. Broncofti merupakan caing berukuran kecil dan keras. Hidup
didalam pembuluh getah bening (limfa) manusia ketika dewasa. Larva cacing ini bisa masuk
ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk colex sp yang membawa larva mikrofilaria.
Di dalam tubuh manusia larva tersebut tumbuh pada jaringan tubuh terutama di bagian kaki
dan skotum.

b. Kelas Nematophora

Tubuh nematophora di lapisi kutikula yang polos dan tidak bercincin. Larvanya hidup
parasit pada tubuh manusia atau arthropoda dan setelah dewasa. Cacing tersebut hidup
bebas di air tawar dan laut. Contoh cacing yang termaksuk anggota kelas ini adalah Gordius
sp dan Mectonema sp.

FILUM ANNELIDA

Annelida(dalam bahasa latin,annulus=cincin)atau cacing gelang adalah kelompok


cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan platyhelminthes dan
nemathelminthes,annelida merupakan hewan tripoblatik yang sudah memiliki rongga tubuh
sejati(hewan selumata). Namun annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling
sederhana.
A. Filim Annelida
Terdiri dari cacing berbuku-buku seperti cacing tanah. Perkembangan buku-buku
badan ini memungkian adanya pembentukan fungsi yang berbeda dalam ruas
badan(segmentasi)yang berbeda. Annelida memiliki coelum yang besar untuk
mengakomodasi organ dalam yang lebih kompleks. Terdapat sekitar 12.000jenis dilaut,air
tawar dan daratan terbagi menjadi tiga kelas.
Ciri-ciri:
1. Habitat
Hidup didarat ditempat lembab,di air tawar dan di lautan.
2. Struktur dan Fungsi Tubuh
Annelida adalah hewan triploblastik yang sudah mempunyai rongga sejati sehingga
disebut triploblastik aselomata. Memiliki segmen dibagian luar dan dalam tubuhnya. Antara
satu segmen dengan segmen lainnya terdapat sekta yang disebut septa. Pembuluh
darah,sistem ekskresi,dan sistem saraf diantara satu segmen dengan segmen lainnya saling
berhubungan menembus septa. Rongga tubuh annelida berisi cairan yang berperan dalam
pergerakan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot
melingkar(sirkuler)dan otot memanjang(longitudinal). Sistem pencernaan annelida susdah
lengkap,terdiri dari mulut,faring,esofagus(kerongkongan),usus,dan anus.
Cacing ini memiliki sistem peredaran darah tertutup,dengan pembuluh darah
memanjang sepanjang tubuhnya serta bercabang-cabang disetiap segmen. Darahnya
mengandung hemoglobin,sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkar
esofagus berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Annelida mempunyai bentuk tubuh
simetri bilateral,dengan tubuh beruas-ruas dilapisi lapisan kutikula. Cacing ini terbagi sesuai
dengan ruas-ruas tubuhnya dan satu sama lain dibatasi dengan sekat(septerm). Meskipun
demikian,antara ruas satu dengan yang lainnya tetao berhubungan sehingga terlihat bentuk
seperti cincin yang terkoordinasi.
Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali. Ganglia otak terletak didepan
faring pada anterior. Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari
nefridia,nefrostom,dan nefrotor. Nefridia merupakan organ ekskresi yang terdiri dari
saluran dan terdapat disetiap segmen,berfungsi memgumpulkan zat sampah dari coelum
dan mengeksresikannya keluar tubuh. Nefrostom merupakan corong berdilia dalam tubuh.
Nefrotor merupakan pori permukaan tubuh tempat kotoran keluar. Terdapat sepasang
organ ekskresi tiap segmen tubuhnya.
3. Cara Hidup
Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit
menempel pada vertebrata,termasuk manusia. Habitat annelida umumnya berada didasar
laut dan perairan tawar,dan juga ada yang sebagian hidup ditanah atau tempat-tempat
lembab. Annelida hidup diberbagai tempat dan membuat ling sendiri.
4. Reproduksi
Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembentukan gamet. Namun
ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi,yang kemudian beregenerasi. Organ seksual
annelida ada yang menjadi satu dengan individu(hermafrodit) dan ada yang terpisah dengan
individu lain(gonokoris).
5. Klasifikasi
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu polychaeta(cacing berambut
banyak),Oligochaeta(cacing berambut sedikit),dan Hirudinea.
Berikit pembagian kelas Annelida:
a. Polychaeta
Polychaeta(dalam bahasa yunani,poly=banyak,chaeta=rambut kaku)merupakan
annelida berambut banyak. Tubuh polychaeta dibedakan menjadi daerah
kepala(prostomium)dengan mata,antena,dan sensor palpus.polychaeta memiliki sepasang
struktur seperti dayung yang disebut parapodia(tunggal=parapodium)pada setiap segmen
tubuhnya. Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah
halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernafas. Setiap para podium
memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin.
Kebanyakan polychaeta hidup dilaut serta memiliki parapodia dan setae. Parapodia
adalah kaki seperti dayung(sirip)digunakan untuk berenang sekaligus bertindak sebagai alat
pernafasan. Setae adalah bulu-bulu yang melekat pada parapudia,yang membantu
Polychaetae melekat pada substrat dan juga membantu mereka untuk bergerak.contoh
polychaetae yaitu cacing kipas(Sabellastarte Indica)yang berwarna merah cerah. Sedangkan
yang bergerak bebas adalah Nereis Virens,Marphysa Sanguinea,Eunice Viridis(cacing
palulo),dan Lysidice Oele(cacing wawo).
b. Olygochaeta
Olygochaeta (dalam bahasa yunani,oligo=sedikit,chaetae=rambut kaku)merupakan
Annelida berambut sedikit. Olygochaeta tidak memiliki parapudia,namun memilikimseta
pada tubuhnya yang bersegmen. Sistem pembuangan(ekskresi)berupa tabung nephridia
bergelung disetiap segmen dengan dua lubang;satu corong bersilia yang mengumpulkan
cairan coelom,dan satu lainnya adalah lubang keluar tubuh. Antar dua lubang itu,tabung
nephridia membuang zat sampah dari saluran peredaran darah.
Darah merah bergerak kearah dengan sebuah pembuluh darah dorsal dan dipompa
oleh lima pasang jantung(lengkung aorta)menuju pembuluh ventral. Cacing tanah bersifat
hermaphrodit, memiliki testis dengan saluran segmen, dan ovarium dengan penerima
segmen. Perkawinan dilakukan dengan melibatkan dua cacing yang saling parallel dalam
posisi berlawanan dan saling bertukar sperma. Setiap cacing memiliki klitelum yang
mengeluarkan lendir, untunk melindungi sperma dan telur dari kekeringan.
Contoh Oligochaeta yang paling terkenal adalah cacing paling terkenal adalah cacing
tanah. Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah amerika (lumbricus terrestris),
cacing tanah asia (pheretima), cacing merah (tubifex), dan cacing tanah raksasa
australia(oigaster longmani). Cacing ini memakan organisme hidup yang ada di dalam tanah
dengan cara menggali tanah. Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam
menggemburkan tanah. Manfaat lain dari cacing ini adalah untuk bahan kosmetik, obat, dan
campuran makanan berprotein tinggi bagi hewan ternak.
c. Hirudinia
Hirudinia merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Hewan ini tidak memiliki
arapodium maupun seta pada segmen tubuhnya. Panjang hirudinea bervariasi dari 1-30cm.
Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing. Pada anterior dan
posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian
besar hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya
adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup dengan mengisap darah
inangnya, sedangkan hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti
siput.
Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa(pacet) dan hirodu(lintah). Kebanyakan
tinggal di air tawar, tetapi ada yg di laut atau daratan. setiap gelang tubuh memiliki
beberapa alur mendatar. Lintah memunculkan pengisap anterior kecil sekitar mulutnya
dan pengisap posterior yg besar. Meskipun beberapa diantaranya adalah predator
yang hidup bebas, kebanyakan adalah pemakan cairan. Pengisap darah dapat mencegah
pengumpalan darah dengan zat hirudin ygt di keluarakan dari ludah.
d. Peranan dan manfaat:
Annelida mempunyai peranan dan manfaat dalam kehidupan yaitu:
- Cacing tanah dapat mnyuburkan tanah, karenan membantu menghancurkan tanah
dan membantu aerasi tanah.
- Berperan sebagai detrivor di ekositem.
- Bernilai ekonomis karena dapat digunakan bahan pakan ternak(tubifex dan
pheretima).
- Bahan kosmetik dan obat(ada yang memanfaatkan cacing tanah untuk mengobati
penyakit thypus).
- Lintah dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif.
- Zat hirudin yang di hasilkan lintah dapat dimanfaatkan sebagai zat antikoagulan.
- Dapat di makan(cacing palolo dan wawo di konsumsi oleh sebagian masyarakat
maluku).