Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang mana atas karunia-Nya
makalah ini dapat terselesaikan. Makalah yang berjuduFAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI ARSITEKTUR TRADISIONAL BUGIS, dibuat sebagai salah
satu syarat untuk kelulusan pada mata kuliah Arsitektur Indonesia.

Diharapkan dari penulisan ini semoga apaa yang ditulis pada makalah ini bisa
bermanfaat, baik untuk pembaca maupun orang-orang yang mengambil sebagai
tambahan referensi yang telah ada.

Tidak lupa, ucapan terima kasih diberikan pada pihak yang telah membantu
dalam proses penyusunan makalah ini, khususnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir Putu
Rumawan Salain, MSi., selakku dosen pengampu mata kuliah arsitektur Indonesia
yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini.

Selain itu, diharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
agar penulisan makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Kemudian, mohon maaf atas
segala kekurangan baik isi maupun penulisan maupun kelengkapan informasi dalam
makalah ini.

Denpasar, 3 Maret 2017

Gusti Ngurah Putra Pinatih S.

1404205001

1 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
DAFTAR

ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ 1
DAFTAR ISI.......................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang................................................................................................ 3
1.2. Rumusan Masalah.......................................................................................... 4
1.3. Tujuan Penulisan............................................................................................ 4
BAB II TINAJUAN PUSTAKA........................................................................... 5
2.1. Dasar-Dasar Bentuk dalam Arsitektur............................................................ 5
2.2. Unsur-Unsur Arsitektur Tradisional............................................................... 10
BAB III PEMBAHASAN..................................................................................... 13
3.1. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Arsitektur Tradisional Bugis................ 13
3.2. Bentuk-Bentuk yang Terdapat dalam Arsitektur Tradisional Bugis............... 13
3.2.1. Wujud ......................................................................................................... 13
3.2.2. Struktur........................................................................................................ 15
3.3.3. Ornamen atau Ragam Hias.......................................................................... 17
3.3.4. Bahan Bangunan.......................................................................................... 19
3.3.5. Warna........................................................................................................... 20
BAB IV PENUTUP............................................................................................... 22
4.1. Kesimpulan..................................................................................................... 22
4.2. Saran............................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di
dunia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari timor ke Talaud.
Oleh Wikipedia (diunduh 04/03/17 pukul 03.46) jumlah pulau di Indonesia

2 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
sekitar 17.504 pulau dengan luas wilayah daratan sekitar 1.919.440 km2 dan
dan lautan sekitar 3.257.483 km. Dengan jumlah pulau yang banyak dan
perairan yang luas, menjadikan Indonesia negara yang memiliki kebudayaan
yang beragam.
Salah satu produk dari kebudayaan yaitu berupa arstektur
rumah tradisional. Bentuk rumah-rumah tradisional di Indonesia sangat
berbeda-beda pada setiap daerah. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai
factor seperti agama, kepercayaan, adat-istiadat, kondisi social, kondisi
geografis, ketersediaan material bangunan.
Pada mata kuliah Arsitektur Indonesia, mahasiswa diharapkan
mampu mengetahui bentuk-bentuk yang ada pada arsitektur tradisional
Indonesia. Factor-faktor yang mendasari terciptanya bentuk pada arsitektur
tradisional, serta aspek apa saja yang mempengaruhi bentuk arsitektur
tersebut. Pada makalah ini, akan dijelaskan mengenai bentuk-bentuk yang
terdapat dalam arsitektur tradisional Indonesia yang menggunakan objek
berupa arsitektur rumah tradisional Bugis.
Adapun alasan penulis memilih objek tersebut adalah karena
penukis ingin meninjau keunikan dan filosofi pada elemen-elemen arsitektur
tradisional Bugis dan membagi hasil tinjauan tersebut pada pembaca.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah nilai-nilai yang terkandung arsitektur tradisional Bugis?
2. Hal-hal apa sajakah yang mempengaruhi bentuk-bentuk tersebut?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung arsitektur tradisional
Bugis.
2. Untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang mempengaruhi bentuk-bentuk
tersebut.

3 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar-Dasar Bentuk dalam Arsitektur
Bentuk adalah sebuah istilah insklusif yang memiliki beberapa makna. Ia bisa
merujuk pada sebuah penampilan eksernal yang dapat dikenali seperti kursi atau
tubuh manusia yang mendudukinya. Ia bisa juga secara tidak langsung merujuk pada
sebuah kondisi khusus dimana dimana sesuatu bertindak atau memanifestasikan
dirinya sendiri, seperti misanya kita membicarakan tentang air di dalam bentuk es
atau uap. Dalam seni dan desain, kita acap kali menggunakan istilah untuk
melambangkan struktur teratur suatu karyacara penataan danpengkoordinasian
elemen serta bagian-bagian di dalam sebuah komposisi untuk menghasilkan sebuah
citra yang logis dan konsisiten Ching 2007 : 34).
Dalam lingkup ruang studi ini, bentuk menawarkan rujukan baik pada struktur
internal maupun eksternal serta prinsip yang memeberikan kesatuan pada
keseluruhan. Jika bentuk seringkali menyertakan sebuah indera massa atau volume
yang tiga dimensional, maka bentuk-bentuk dasar lebih tertunjuk secara khusus pada
aspek bentuk yang sangat penting yang mengendalikan penampilannyakonfigurasi
atau disposisi relative garis atau kontur yang mementukan batas sebuah figure atau
bentuk. (Ching 2007 : 34).
Bentuk Dasar
Pengertian bentuk menurut (Ching 2007 : 34) dinyatakan bahwa garis luar
atau konfigurasi sebuah permukaan bentuk yang khusus. Bentuk dasar merupakan
aspek prinsip yang membantu kita mengidentifikasi serta mengkategorikan bentuk.
Sebagai tambahan bentuk dasar memiliki sifat visual sebagai berikut :
- Ukuran yaitu dimensi fisik panjang, lebar dan kedalaman suatu bentuk. Jika
dimensi-deimensi tersebut menentukan proporsi suatu bentuk, maka skalanya
akan ditentukan melalui ukuran secara relatif terhadap bentuk-bentuk lain
yang ada di lingkungannya.
- Warna yaitu suatu fenomena persepsi cahaya dan visual yang bisa
digambarkan dalam hal presepsi individu terhadap nilai rona, saturasi dan

4 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
nuansa. Warna merupakan atribut terjelas dalam membedakan betuk dengan
lingkungannya . ia juga mempengaruhi visual suatu bentuk.
- Tekstur kualiatas visual dan terutama indera sentuhan yang diberikan suatu
permukaan melalui ukuran, bentuk, dasar, tatanan, dan proprsi bagian
bagiannya. Terkstur juga menetukan tingkat di mana permukaan sebuah
bentuk merefleksikan atau menyerap cahaya langsung.

(a)

(b)

5 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
(c)

(d)

Gambar 2.1. Ilutrasi aspek-aspek pada bentuk oleh D.K. ching. (a) bentuk
dasar, (b) ukuran (c) warna, (d) tekstur. Sumber : Sumber : Ching (2007 :
35) disketsa ulang oleh Gusti Ngurah Putra Pinatih S.

Bentuk juga memiliki sifat-sifat yang saling terkait yang menentukan pola dan
komposisi elemen-elemen :
- Posisi yaitu lokasi relative terhadap lingkungannya atau atau area visual di
dalamnya tempat di mana ia dilihat.
- Orientasi yaitu arah relative suatu bentuk terhadap bidang dasar, titik batas
area, bentuk-bentuk lain atau terhadap orang yang dapat melihat bentuk
tersebut.

6 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
- Inersia visual adalah derajat konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia
visual suatu bentuk tergantung pada geometrinya juga orientasi relatifnya
terhadap bidang dasar, daya Tarik gravitasi, dan daya tarik gravitasi kita.

Di dalam
arsitektur,
kita

memperhatikan bentuk-bentuk dasar yang berupa :


- Bidang lantai, dinding, dan langit-langit yang menutup ruang.

Gambar 2.2. Posisi, Orientasi, dan Inersia Visual Bentuk.


Sumber : Ching (2007 : 35)

- Bukaan-bukaan pintu dan jendela di dalam suatu kedekatan sppesial.


- Siluet dan kontur suatu bangunan (Ching 2007 : 37)

Bentuk-Bentuk Dasar Utama

7 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
Psikologi Gasalt menyatakan bahwa bahwa pikiran kita akakn
menyerdehanakan lingkungan visual agar kita lebih mudah memahaminya. Ketika
menghadapi berbagai komposisi bentuk, kita cenderung mengurangkkan hal-hal
tersebut dalam area visual kita sehingga menjadi bentuk yang paling sederhana dan
biasa. Semakin sederhana dan teratur suatu bentuk dasar, maka semakin mudah
dikenali dan dipahami.
Dari geometri, kita dapat mengenal bentuk-bentuk teratur yaitu lingkaran, dan
rangkaian tak terhingga hingga polygon teratur yang dapat dinasukan didalamnya.
Dari sekian banyak bentuk-bentuk ini yang paling utama yaitu tiga yaitu lingkaran,
segitiga dan bujur sangkar. (Ching 2007 : 38)
Lingkaaran yaitu sebush bidang yang melengkung di setuap titik yang
memiliki jarak yang sama dari sebuah titik pusat di dalam kurva tersebut (Ching 2007
: 38). Lingkarn merupakakn sebuah figur yang memusat, introvert, yang normalnya
adalah stabil yang memiliki titik tengah sendiri di dalam lingkunganyya. Lingkaran
yang diletakkan ditengh-tengh sebuah bidang akan menguatkan sifat ke pusatnya.
Namun bila diasosiasikan dengan bentuk-bentuk lurus maupun bersudut, atau
ketempatan sebuah elemen disepanjang kelilingnya, maka hal ini dapat gerakan
berputar yang sangat terasa dalam lingkungan terasa. (Ching 2007 : 39)
Sebuah figur bidang yang ditutup oleh tiga sisi dan memiliki tiga buah sudut
(Ching 2007 : 39). Segitiga menekankan staibilitas . Jika dilelakkan pada salah satu
sisinya, segitiga merupakan sebuah figur yanq luar biasa stabil. Namun, jika dijungkit
dan berdiri di salah satu titik sudutnya, entah ia akan seimbanq dalam kondisi
kelabilan maksimum atau cenderunq jatuh ke arlah satu sisinya. (Ching 2007 : 40).
Bujur sangkar merupakan sebuah figure bidang yang memiliki ke empat sisi
yang sama panjangnya dan empat buah sudut tegak lurus. (Ching 2007 : 39). Bujur
sangkar merupakan si murni dan si rasional. Secara bilateral, ia merupakan figure
yang simetris dan memiliki dua sumbu yang tegak lurus sama panjangnya. Seluruh
persegi panjang lainnya bisa dianggap sebagai vaariasi bujur sangkar
penyimpangan dari kondisi normalnya dengan cara menambahkan ketinggian atau
lebar. Seperti halnya halnya segitiga, bujursangkar stabil jika diletakkan pada salah
satu sisinya dan menjadi dinamis ketika bendiri di atas salah satu sudutnya. Namun,

8 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
ketika garis diagonalnya menjadi vertical dan horsontal, bujursangkar berada di
dalam kondisi puncak keseimbangannya.

Gambar 2.3. Bentuk-Bentuk Dasar


Sumber : Ching (2007 : 38) disketsa ulang oleh Gusti Ngurah
Putra Pinatih S.
2.2. Unsur-Unsur Arsitektur Tradisional
Mardanas (1985:72) menyatan sebagaiman unsur-unsur kebudayaan lainnya,
maka maka terknologi tradisional dimana termasuk arsitetkur juga mengalami
perubahan dan perkembangan. Kemudian, salalin (2013:24) menyatakan bahwa

9 | A R S I T E KT U R I N D O N E S I A
arsitektur adalah pencitraan, arsitektur juga adalah tanda, arsitektur juga adalah
kebudayaan sekaligus merupakan cerim suatu peradaban. Jika diyakini bahwa
kebudayaan berdinamika, maka arsitektur juga bergerak dinamis searah dengan
perubahan kebudayaan. Perubahannya ada yang berlangsung lambat atau disebut
dengan evolusi ada juga yang cepat atau disebut dengan revolusi.
Di Negara seperti Indonesia, yang saat ini pembangunan di segala bidang
sedang digalakkan selain kontak dengan bangsa lain dengan intensif menyebabkan
perubahan melaju dengan cepat.
Demikian pula dalam tatanan definisi; yang disampaikan oleh beberapa pakar
dan pemerintah intinya ada dalam arsitektur setempat yang berlangsung dari waktu ke
waktu dengan sedikit perubahan. Perubahan-perubahan yang mudah dikenali adalah
dimensi dalam dimensi dan fungsi yang terjadi dari bentuk.
Wong (dalam Salain 2013 : 30) mengatakan bahwa bentuk adalah
keseluruhan rupa suatu rancang. Atau dengan kata lain, semua unsur rupa tersebut
disebut dengan bentuk. Baik tersusun karena titik garis dan bidang. Dan setiap bentuk
memiliki raut, ukuran, warna dan barik atau tekstur. Ching (Dalam Salain 2013:30)
mengatakkan bahwa bentuk adalah ciri utama yang menunjukkan suatu ruang,
ditentukan oleh rupa dan hubungannya antara bidang-bidang yang menjelaskan batas-
batas ruang tersebut. Oleh ching dalam sumber yang sama menjelaskan bahwa ciri-
ciri visual dari bentuk dari wujud adalah wujud, tekstur, dimensi, warna, tekstur,
posisi, dan inersia visual.
Dari kedua pendapat diatas, pengertian sekaligus batasan dari bentuk untuk
Arsitektur Tradisional Bali ditetapkan menjadi lima unsur yaitu wujud, struktur,
bahan, ornnamen, dan diamati sebagai identitas arsitektural (Salain 2013:30).
Salain (2013:30) menjelaskan identitas arsitektural tersebut berawal dari
unsur-unsur ATB yaitu wujud, struktur, bahan, ornament dan warna. Kelimanya
adalah unsur dari bentuk dari bentuk sebagai ciri khas yang mudah dilihat untuk
langgam arsitekturnya.
Salain (2013:30) adapun proses pengenalan ekspresi tersebut berlangsung
ketika pengamat dengan cepat dengan cepat dapat menagkap bentuk arsitktural di
hadapannya, kemudian berproses dalam ingatannya dengan latar belakang
pengetahuan dan wawasannya. Perekaman sesaat tersebut dengan cepat

10 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
diterjemhakan dengan latar pengetahuan dan wawasannya. Perekaman sesaat tersebut
dengan cepat diterjemahkan melalui identitas atau aksesoris yang melengkapi
arsitektur tersebut.
Kelima unsur berupa wujud, bahan, struktur, warna dan ornament, dan warna
ujung-ujungnya akan bermuara pada bentuk. Bentuk arsitektur tradisional tersebutlah
yang oleh pengamat dipandang sebagai sebuah bentuk yang selanjutnya
diinterprentasikan ke dalam sistem arsitektural yang disebut sebagai style, langgam,
atau gaya, atau juga ciri dari identitas
Dalam tulisaan ini, akan digunakan lima unsur ini untuk membedah apa saja
bentuk-bentuk yang terdapat dalam Arsitektur Tradisional Bugis. Kelima unsur ini
juga digunakan untuk memudahkan dalam pengenalan identitas arsitektur tradisional
Bugis.

11 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Arsitektur Tradisional Bugis
Diijelaskan oleh Mardanas (1985 :67) bahwa Arsitektur tradisisonal ruang
lingkupnya meliputi bangunan khas Sulawasi Selatan yang bentuk struktur, fungsi
dan cara membuatnya diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi
berikutnya serta dapat digunakan untuk aktifitas hidup sebaik-baiknya.
Bangunan tradisional baik berupa tempat tinggal, tempat ibadah, tempat
musyawarah, maupun tempat menyimpat sesuatu, merupakan sumber informasi
budaya
Arsitktur (Bangunan) Tradisional suku bangsa Bugis sebagai salah satu
sumber informasi budaya Sulawesi Selatan mengandung nilai-nilai budaya yaitu :
Nilai Falsafah, Nilai ekonomi/Politik (Kekuasaan), Nilai Status Sosial, Nilai
Kesatuan Hidup Keluarga, Nilai Estetika.
3.2. Bentuk-Bentuk yang Terdapat dalam Arsitektur Tradisional Bugis
Untuk mengidentifikasi bentuk bentuk yang terdapat dalam arsitektur
tradsisionla Bugis, ada lima variable yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur-
unsur tersebut yaitu wujud, struktur, bahan, ornament dan warna.
3.2.1. Wujud
Wujud menurut Ching (dalam Salain 2013:32) berhubungan dengan
permukaan suatu bidang atau permukaan suatu benda ruang. Wujud merupakan
merupakan sarana utama dalam mengenal dan menilai suatu objek.
Wujud dalam arsitektur Bugis tebuagi dari dua bidang yaitu wujud bidang
vertical dan horizontal. Wujud horizontal berupa pembagian ruang atau denah, dan
wujud vertical berupa tampak bangunan
1. Wujud horizontal berupa denah bangunan yang terdiri dari wujud bujur
sangkar atau persegi panjang. Wujud masa bangunan tersebut terbagi atas tiga
ruang yaitu ruang depan , ruang tengah dan ruang belakang. Ruang depan ini
berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat tidur tamu, tempat
bermusyawarah, tempat menyimpan, benih, dan tempat membaringkan mayat
sebelum dibawa ke kuburan. Ruang tengah berfungsi untuk tempat tidur
kepala keluarga dan isterinya serta tempat didur bangi anak-anak yang belum

12 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
dewasa. Sementara ruang belakang merupakan tempat tidur bagi para gadis-
gadis dan orang tua. Hal ini dikarenakan ruang belakang lebih aman daripada
ruangan tengah dan depan. Untuk pengukuran dimensi pada arsitektur
tradisional bugis digunakan ukuran tubuh manusia misalnya, lebar dan
panjang rumah diambil dari jengkal kepala rumah tangga.

2. Wujud bidang vertical berupa tampak bangunan diambil dari falsafah alam

Gambar 3.1. Zoning pada rumah tradisional bugis


Sumber : sketsa oleh Gusti Ngurah Putra Pinatih S.

kosmologis suku bangsa Bugis yang menganggap bahwa makro-kosmos


(alam raya) ini tersusun tiga tingkat yaitu : Boting langi (dunia atas), Ale
kawa (dunia tegah), Uri liyu (dunia bawah). Sebagai pusat dari dari ketiga
bagian alam raya ini iyalah Boting langi (langit tertinggi) tempat Dewata
Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa) besemayam. Pandangan ini, diwujudkan
dalam bentuk bangunan rumah yang dipandang sebagai mikro kosmos. Oleh
karena itu, tempat tinggal orang Bugis dibagi atas tuga tingkat yaitu :
- Rakkeang (rakkiang, loteng)
- Ale bola (badan rumah atau lantai tempat tinggal)
- Awa bola (kolong rumah)

13 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
Ketiga bagian ini, terpusat pada bagian ini terpusat pada posi bola yaitu
tempat pada sebuah rumah yang dianggap suci. Ditempat inilah didirikan
tiang pusat (alliri posi) rumah itu.

Gambar 3.2. Tampak dan potongan rumah tradisional bugis


Sumber : http://jurnalite.com/wp-
content/uploads/2016/11/Rumah-bugis_edit.jpg (diunduh 21
mei 2017 pukul 20.46)
3.2.2. Struktur
Struktur dalam bangunan terbagi atas tiga unsur yaitu upper struktur, super
struktur, dan sub struktur. Untuk lebih rinci dijelaskan sebagai berikut :
1. Super struktur
Bagian atas rumah tradisional bugis baik Saoraja maupun Bola terdiri dari loteng dan
atap. Atap berbentuk prisma memiliki tutup bubungan yang disebut Timpak Laja.
Pada Timpak Laja inilah terdapat perbedaan antara Saoraja dan Bola. Pada Saoraja
inilah terdapat timpak laja yang bertingkat tingkat antara tiga sampai lima. Timpak
laja bertingkat lima menandakan pemilik rumah tersebut merupakan bangsawan
tinggi. Jika timpak lajanya bertingkat empat, maka bangsawan yang menemati rumah
tersebut, maka bangsawan yang mempunyai rumah tersebut adalah bangsawan yang

14 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
memegang kekuasaan atau jabatan-jabatan tertentu. Bagi bangsawan-bangsawan yang
tidak memegang jabatan Timpak Laja hanya betingkat tiga.Rakyat bisa yang
diklasifikasikan ke dalam kelompok to merdeka dapat memakai Timpak Laja pada
atap rumahnya, tetapi hanya dibenarkan menggunakan Timpak Laja sampai dua
tingkatan.

Gambar 3.3. Timpak laja Bola dan Saoraja


Sumber : http://jurnalite.com/wp-
content/uploads/2016/11/Rumah-bugis1.jpg (diunduh 21 mei
2017 pukul 20.46)
2. Super strukur
Super struktur ini terdiri atas tiang dan dinding tiang ini mengandung nilai
kesatuan keluarga yang menunjukkan nilai kesatuan antar suami dan isteri. Diantara
semua tiang yang digunakan pada sebuah bugis ada dua buah tiang yang memegang
peran yang sangat penting yaitu : aliri posi bola (tiang pusat rumah) dan tiang
bersandarnya tangga depan (alirai pakka). Karena itu tiang ini disebut juga
sanraseng addeng yang berarti sandaran tangga.
Tiang pusat rumah diberi sifat seorang wanita (ibu ruah tangga) yang harus
menyimpan dan memelihara hasil yang diperoleh dari suaminaya. Dia harus menjaga
keharonisan dala hidup berumah tangga.
Tiang sandaran tangga diberi sifst seorang laki-laki (kepala rumah tangga)
yang memikul tanggung jawab berumah tangga. Dia harus berusaha mencari nafkah
untuk keluarga. Semua bahan kebutuhan rumah tangga harus melalui dia. Karena itu
di Bugis terlarang memasukan barang dari pintu/tangga belakang apalagi jendela.
Semua harus melalui pintu atau tangga depan tersebutatau melalui aliri pakka.

15 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
Dalam menetukan ukuran-ukuran peralatan rumah juga dapat dilihat peranan
kesatuan dari suami isteri dari pemilik rumah. Ukuran panjang dan lebar dan tinggi
rumah diambil dari rumah ukuran anggota badan empunya rumah suami istri.
Misalnya, tinggi kolong rumah diambil dari tinggi badan suami, tinggi
dinding ruamah diambil dari ukuran tinggi badan sang isteri. Panjang dan lebar
rumah diambil dari jengkal sang suami. Oleh karena itulah orang bugis menganggap
bahwa rumahnya adalah dirinya sendiri.
3. Sub struktur
Karena arsitektur tradisisonal bugis merupakan jenis rumah panggung, maka
sistem sub struktur rumah bugis ini menggunakan tiang penyangga dan tidak
menggunakan pondasi. Pada rumah yang paling tua, tiang penyangganya langsung
ditanam ke tanah.
Pada bagian bawah selain ada kolong, karena rumah adat ini merupakan
rumah panggung, maka memerlukan tangga. Tangga inipun berbeda antara Saoraja
dan Bola. Tannga ini pun berbeda antar Saoraja dan Bola selain jumlah anak tangga
yang lebih banyak, tangga pada Saoraja dilengkapi dengan railing yang disebut juga
dengan accakuccureng. Jumlah tangga saoraja berkisar antara 11 dan 13, sedangkan
pada pada Bola jumlahnya berkisar antara 3, 5, 7, dan 9. Yang pasti jumlah anak
tangga baik Saoraja maupun Bola adalah ganjil.
Tangga bisa terbuat dari kayu atau bambu. Tangga yang terbuat dari bambu
disebut sapana. Tangga sapana biasanya tidak memiliki accakuccureng.
3.2.3. Ornament atau Ragam Hias
Pada umunya, rumah-rumah tradisional menggunakan ragam hias. Ragam
hias selain berfungsi untuk keindahan suatu bangunan, dilain pihak mengdung
makna-makna sebagai acuan kebudayaan penghuninya. Oleh karena itu, pada setiap
ragam hias mengandung arti yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan
suatu masyarakat. Dalam ragam hias dengan sendirinya pula terpatri sistem budaya
yang dominan dalam masyarakat tersebut.
Dalam masyarakat bugis terdapat ragam hias yang berasal dari flora,
fauna,alam sekitar dan tulisan-tulisan kaligrafi.
Ragam hias flora biasanya berupa bunga parengreng yang berarti bunga yang
menarik.Bunga ini hidupnya menjalar berupa sulur-sulur yang tidak ada putus-
putusnya. Biasanya ditempatkan pada papan jendela, induk tangga dan tutup

16 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
bubungan. Makna bunga parengreng ini diibaratkan sebagai rezeki yang tidak
terputus seperti menjalarnya bunga parengreng.
Ragam hias fauna biasanya berupa ayam jantan, kepala kerbau dan bentuk
ular naga. Ayam jantan dalam bahasa Bugis disebut manuk yang berarti baik-baik.
Selain itu juga sebagai simbol keberanian. Biasanya ditempatkan di puncak bubungan
rumah bagian depan atau belakang.

Gambar 3.4. Timpak laja Bola dan Saoraja


Sumber :
http://www.melayuonline.com/image/budaya/2010/20100126-
panggungsul-5.jpg (diunduh 21 mei 2017 pukul 20.46)
Ragam hias kepala kerbau melambangkan kekayaan dan status sosial. Biasanya
ditempatkan pada pucuk depan atau belakang bubungan untuk rumah bangsawan.

Ragam hias naga atau ular besar melambangkan kekuatan yang dahsyat.
Biasanya ditempatkan pada pucuk bubungan atau induk tangga.

Ragam hias yang berupa kaligrafi dan bulan sabit biasanya ditempatkan pada
bangunan peribadatan atau masjid.

Ragam hias flora yang berupa sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya
menggunakan teknik pahat tiga dimensi yang membentuk lobang terawang. Bentuk
demikian selain makin menampakkan keindahan karena adanya efek pencahayaan
yang dibiaskan juga dapat menyalurkan angin dengan baik.

17 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
3.2.4. Bahan Bangunan
Untuk membangun suatu rumah, baik tempat tinggal maupun bangunan
lainnya, pengadaan bangunan dilakukan setelah dibuat rencana secara keseluruhan
melalui musyawarah. Perencanaan bangunan tersebut tidak disertai dengan gambar
arsitektur , tetapi hanya ada dalam pikiran.
Pengadaan bahan bangunan ini, desesuaikan dengan dengan waktu-waktu
tertentu yang secara turun temurun dianggap baik. Tujuan dari pemilihan waktu
tersebut adalah agar bahan bangunan yang dikumpulkan kuat, tahan llama dan siap
untuk digunakan. Waktu yang baik untuk menebang kayu, bambu, atau memotong
rumput adalah pada embun yang melekat pada daun-daun tersebut sudah mongering.
Karena pada keadaaan tersebut, benda-benda tersebut siap dipakai.
Dalam pembangunan ruamh tinggal, bahann yang pertama yang dicariadalah
tiang pusat rumah atau posi bola. Tiang ini mempunyai beberapa persyaratan tertentu
yaitu harus kayu yang kuat, mempunyai buah yang enak di alam sekitar,
Untuk jenis-jenis kayu yang biasanya digunaan oleh suku bangsa bugis adalah
kayu bitti, kayu api, kayu amar, kayu cendana, kayu tipulu, kayu durian, kayu
nangka(aju panasa), kayu besi(aju seppu). Bahan lain yang digunakan adalah batang
lontar, batang kelapa, batang enau, batang pinang untuk tiang bangunan bambu,
sementara untuk atap bahan yang digunakan berupa daun ilalang dan ijuk. Sementara,
bahan-bahan modern yang digunakan berupa batu bata, semen dan sirap.
Dalam membangun rumah, ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan atau
pantangan dalam memilih bahan banguunan. Adapun pantangan-pantangan tersebut
yaitu :
1. Kayu yang pernah tersambar petir.
2. Kayu yang bergesek ujungnya atau dahannya dengan dengan dahan dari
pohon lain pada waktu masih hidup.
3. Kayu yang waktu tumbangnya saat ditebang menindih mahluk hidup apalagi
manusia.
4. Kayu yang waktu tubuhnya dibelit oleh tumbuhan lain.
5. Kayu yang dilubangi oleh kumbang sementara ia tummbuh di hutan.
3.2.5. Warna
Menurut Salain (2013:50), warna memiliki peranan yang penting pada karya
arsitektural. Selain memberikan kesan pada permukaan bentuk, identitas lingkungan,

18 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
serta bobot visual, warna juga memiliki warna dan symbol-simbol sesuai dengan
budaya tiap-tiap daerah.
Menurut Salain (2013:50), dijelaskan bahwa warna dari Arsitektur Tradisional
Bali bersumber dari warna alam atau bahan yang digunakan. Dengan kata lain, dapat
dinyatakan bahwa Arsitektur Tradisional Bali dari sudut warna mengedepankan tema
alamiah.aritnya, warna yang terancar pada bangunan sesuai dengan warna bahan
bangunan tersebut. Seperti halnya Arsitektur Tradisional Bali, arsitektur tradisional
bugis juga menggunakan bahan yang berasal dari alam. Seperti warna pada dinding,
kolom pada kolong bangunan ralling, warna yang ditampilkan berupa warna alami
dari komponen bangunan tersebut.
Lama-kelamaan untuk alasan kekuatan, keindahan dan ketahanan, bahan-
bahan kayu tersebut dilapisi atau di cat. Warna-warna yang digunakan untuk melapisi
bahan-bahan kayu tersebut adalah warna coklat atau warna yang mendekati warna
kayu.

Gambar 3.5. Warna yang terpancar pada Arsitektur Tradisional


Bugis yang berasal dari bahan bangunan (ruamh adat
tradisional Mandar)
Sumber :
https://abdillahmandar.files.wordpress.com/2010/08/rumah-
adat-mandar.jpg (diunduh 21 mei 2017 pukul 20.46)

19 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Arsitktur (Bangunan) Tradisional suku bangsa Bugis sebagai salah satu
sumber informasi budaya Sulawesi Selatan mengandung nilai-nilai budaya yaitu :
Nilai Falsafah, Nilai ekonomi/Politik (Kekuasaan), Nilai Status Sosial, Nilai
Kesatuan Hidup Keluarga, Nilai Estetika.
Untuk mengidentifikasi bentu-bentuk yang terdapat Pada Arsitektur
Tradisional Bugis, ada lima variable yang digunakan yaitu wujud, struktur, bahan,
ragam hias/ornament dan warna. Wujud dalam arsitektur tradisional bugis terbagi
atas 2 yaitu wujud secara horizontal dan wujud secara vertical. Wujud secara
horizontal diwakili oleh denah. Sementara wujud secara vertical berupa tampak
bangunan yang memilki nilai falsafah alam kosmologis suku Bugis. Yang terdiri atas
tiga tingaktan yaitu Boting langi (dunia atas), Ale kawa (dunia tegah), Uri liyu
(dunia bawah). Sebagai pusat dari dari ketiga bagian alam raya ini iyalah Boting
langi (langit tertinggi) tempat Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa)
besemayam. Ke tiga wujud ini diwujudkan dalam bentuk bangunan rumah yang
terbagi atas tiga tingkat yaitu Rakkeang (rakkiang, loteng), Ale bola (badan rumah
atau lantai tempat tinggal), Awa bola (kolong rumah).
Struktur dalam bangunan terbagi atas tiga yaitu super struktur yang mana
terdiri atas loteng dan atap. Atap pada rumah tradisional bugis ini berbenuk prisma
dan memiliki tutup bubungan yang disebut timpak laja yang mana merupakan ciri
khas dari arsitektur tradisional bugis ini. Selain itu, dari timpak laja juga kita dapat
mengetahui siapa yang menghuni rumah tersebut. untuk bangsawan tinggi memiliki
lima buah, untuk bangsawan dengan jabatan tertentu menggunakan 4 timpak laja,
sementra untuk rakyat merdeka menggunakan 2 timpak laja.
Super struktur ini terdiri atas tiang dan dinding tiang ini mengandung nilai
kesatuan keluarga yang menunjukkan nilai kesatuan antar suami dan isteri. Diantara
semua tiang yang digunakan pada sebuah bugis ada dua buah tiang yang memegang

20 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
peran yang sangat penting yaitu : aliri posi bola (tiang pusat rumah) dan tiang
bersandarnya tangga depan (alirai pakka). Karena itu tiang ini disebut juga
sanraseng addeng yang berarti sandaran tangga.
Karena arsitektur tradisisonal bugis merupakan jenis rumah panggung, maka
sistem sub struktur rumah bugis ini menggunakan tiang penyangga dan tidak
menggunakan pondasi. Pada rumah yang paling tua, tiang penyangganya langsung
ditanam ke tanah.
Dalam masyarakat bugis terdapat ragam hias yang berasal dari flora,
fauna,alam sekitar dan tulisan-tulisan kaligrafi. Ragam hias flora biasanya berupa
bunga parengreng dan sulur-sulur bunga yang menjalar biasanya menggunakan
teknik pahat tiga dimensi yang membentuk lobang terawang. Ragam hias fauna
biasanya berupa ayam jantan, kepala kerbau dan bentuk ular naga. Ragam hias yang
berupa kaligrafi dan bulan sabit biasanya ditempatkan pada bangunan peribadatan
atau masjid.
Untuk bahan bangunan, yang digunakan oleh suku bangsa bugis berupa kayu
seperti kayu bitti, kayu api, kayu amar, kayu cendana, kayu tipulu, kayu durian, kayu
nangka(aju panasa), kayu besi(aju seppu). Bahan lain yang digunakan adalah batang
lontar, batang kelapa, batang enau, batang pinang untuk tiang bangunan bambu,
sementara untuk atap bahan yang digunakan berupa daun ilalang dan ijuk.
4.2. Saran
Dari pembuatan makalah ini, saran ditujukan kepada tiga komponen yaitu :
1. Pemerintah
Untuk pemerintah, sebaiknya membuat peraturan tentang persyaratan
arsitektur yang tidak hanya memasukan tentang keamanan dan jenis-jenis
bangunan saja. Tetatpi dalam peraturan tersebut harus memuat tentang
arsitektur tradisional sehingga arsitektur tradisional dapat dilihat dan
dipelajari oleh generasi-generasi selanjutnya
2. Perguruan tinggi
Untuk perguruan tinggi, sebaiknya membuat mata kuliah yang secara khusus
mempelajari tentang arsitektur tradisional agar arsitektur tradisional daerah
tersebut dikenal atau setidaknya diketahui sedikit oleh mahasiswa perguruan
tinggi tersebut.
3. Mahasiswa/Calon Arsitek

21 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
Untuk mahasiswa, sebaiknya menumbuhkan rasa mencintai arsitektur
tradisional. Dengan begitu, mahasiswa menjadi lebih tertarik untuk
mempelajari arsitektur tradisional. Dalam mempelajari arsitektur tradisional,
sebaiknya tidak hanya di dalam kelas tetapi di luar kelas. Adapun cara yang
digunnakan dapat berupa membaca beberapa literature atau melihat
bangunan-bangunan dengan unsur-unsur arsitektur tradisional

22 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A
DAFTAR PUSTAKA
Ching, Frans D.K. 2007. Arsitektur: entuk, Ruang dan Susunannya (Edisi ke 3)
(Hanggan Situmorang, penterjemah). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Mardanas, Izarwisma. 1985. Arsitektur Tradisional Daerah Sulawesi Selatan.
Makassar : Departemn Pendidikan dan Kebudayaan.
Salain, Putu Rumawan. 2013. Arsitektur Posmo pada Mesjid Al Hikmah dalam
Serapan Arsitektur Tradisional Bali. Denpasar : Udayana University Press.

Website :
Wikipedia, diunduh tahun 2017

23 | A R S I T E K T U R I N D O N E S I A