Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN

KUNJUNGAN INDUSTRI

BATIK TULIS GIRILOYO

YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD AFANDI

NIM : 071410098

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

TAHUN AKADEMIK 2016/2017


LAPORAN

KUNJUNGAN INDUSTRI

BATIK TULIS GIRILOYO

YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH :

MUHAMMAD AFANDI

NIM : 071410098

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

TAHUN AKADEMIK 2016/2017

i
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI
BATIK TULIS GIRILOYO
YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH :
NAMA : MUHAMMAD AFNDI
NIM : 071410098
KELAS : VI B
PRODI : AKUNTANSI
FAKULTAS : EKONOMI

Diterima dan di sahkan oleh dosen pembimbing :

Hari/tanggal :

Tempat :

Ketua Program Studi Dosen Pembimbing

DWI HARI PRAYITNO, M.Ec. Dev AKHMAD IMAM AMROZI, SE, M.S.A
NIDN. 0705077705 NIDN. 0703058603

Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi

PUDI ASTIONO, SE,MM


NIDN. 0707036302
KATA PENGANTAR

ii
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan
Kunjungan Industri yang berjudul Batik Tulis Giriloyo Yogyakarta tepat pada
waktunya.
Laporan Kunjungan Industri ini ditulis untuk memenuhi salah satu
persyaratan untuk medapatkan Gelar Sarjana pada Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Lamongan.
Dalam penulisan laporan ini tentunya melibatkan berbabagi pihak yang
telah membantu, ucapan terimahkasih penulis haturkan :
1. Bapak H. Bambang Eko M.,SH,SpN.,M.Hum selaku Rektor Universitas Islam
Lamongan.
2. Bapak Pudi Astiono, SE, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Lamongan.
3. Bapak Dwi Hari Prayitno, M.Ec.Dev selaku Ketua Program Studi Akuntansi
Universitas Islam Lamongan.
4. Bapak Akhmad Imam Amrozi ,SE.,M.S.A selaku Dosen Pembimbing.
5. Orang tua saya yang telah memberi biaya dan memberi dorongan serta
motivasi dan doa.
6. Dan teman teman yang telah membatu dalam penyelesaian laporan ini.
7. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam proses penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan Kunjungan Industri
ini jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dalam penyempurnaan laporan ini. Semoga Laporan Kunjungan
Industri ini barmanfaat bagi pembaca.

Lamongan, 30 Mei 2017


Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................i

iii
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................iii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Tujuan...............................................................................................1
C. Sasaran dan Target............................................................................2
D. Waktu dan Tempat............................................................................2
E. Pengumpulan Data...........................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Batik Tulis Giriloyo.............................................................3
B. Penjelasan Umum Produk................................................................4
C. Prosedur Karyawan..........................................................................6
D. Proses Produksi................................................................................7
E. Pemasaran........................................................................................9
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan..........................................................................................10
B. Saran.................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................13
LAMPIRAN.....................................................................................................14

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kunjungan industri dipilih untuk memperkenalkan mahasiswa ke
dunia kerja. Selain itu kunjungan industri sebagai sarana belajar dengan cara
mendatangi industri secara langsung dan melihat bagaimana urutan proses
kerja di industri tersebut, agar mahasiswa mampu mengimplementasikan antara
ilmu yang didapatkan dibangku kulia dengan keadaan dunia kerja yang
sesungguhnya.
Mahaiswa di tuntut untuk aktif mengenali berbagai macam informasi
tentang kunjungan industri untuk memperoleh pengetahuan tentang cara
membuat batik di Sentra Batik Tulis Giriloyo Yogyakarta.
Batik merupakan suatu hasil karya yang tidak asing lagi bagi
masyarakat Indonesia. Di berbagai wilayah Indonesia banyak ditemui daerah
daerah perajin batik. Setiap daerah pembatikan mempunyai keunikan dan
kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Dan salah
satu daerah itu adalah Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri
sentra produksi batik tulis bertebaran di berbagai wilayah yang masing
masing hanya mengembangkan motif-motif tertentu, sehingga mudah untuk
dikenali dari wilayah mana asal batik tersebut.
Di Kota Yogyakarta sendiri industri batik terdapat di wilayah :
Tirtodipuran, Panembahan dan Prawirotaman. Di Kabupaten Kulonprogo
berada di Desa : Hargomulyo, Kulur dan Sidorejo. Di Kabupaten Gunungkidul
berada di Desa : Nitikan, Ngalang dan Mengger. Di Kabupaten Sleman industri
batik berada di Desa Nogotirto dan Mororejo. Di Kabupaten Bantul industri
batik berada di Desa : Wijireja, Murtigading dan Wukirsari.

B. TUJUAN
1. Tujuan Kunjungan Industri

1
2

a) Untuk mengetahui potensi apa saja yang ada di desa Giriloyo,


Yogyakarata.
b) Sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa tentang dunia kerja yang
sebenarnya.
c) Untuk mengetahui bagaimana cara memproduksi dan memasarkan Batik
Tulis Giriloyo.
2. Tujuan Pembutan Laporan Kunjungan Industri
a) Sebagai tugas sekaligus pertanggungjawaban setelah melaksanakan
kunjungan industri.
b) Sebagai evaluasi mengenai hasil pembelajran secara langsung.

C. SASARAN DAN TARGET


1. Sasaran
a) Mahasiswa fakultas ekonomi universitas islam lamongan.
b) Dosen pembimbing kunjungan industri universitas islam lamongan.
2. Target
a) Terciptanya pola pikir mahasiswa tentang dunia kerja.
b) Membangkitkan semangat mahasiswa dalam berwirausaha.

D. WAKTU DAN TEMPAT


Kunjungan industri ini dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2017
berlokasi di Senta Baik Tulis Giriloyo, yang bertempat di Desa Wukirsari,
Kecamatan Bantul Imogiri, Yogyakarta.

E. PENGUMPULAN DATA
Data yang diperoleh dikumpulkan dengan metode berikut ini :
1) Metode Interview / wawancara
2) Metode Observasi
3) Metode Dokumentasi / dokumenter
BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH BATIK TULIS GIRILOYO


Belum di temukan bukti otentik tentang kapan masuk nya kerajinan
batik tulis di daerah Giriloyo, namun dari beberapa penuturan warga setempat,
kerajinan batik tulis ini mulai berkembang sekitar tahun 1654 atau abad ke 17.
Pada saat itu, kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung
memerintahkan agar daerah perbukitan Imogiri dijadikan area pemakaman
raja-raja, sehingga pihak kerajaan mengirim abdi dalem keraton untuk menjaga
area tersebut. Selain menjaga makam, abdi dalem ini juga memiliki keahlian
membuat batik tulis yang hasil nya di gunakan untuk keperluan keraton.
Semenjak itulah di daerah Giriloyo berkembang kerajinan batik tulis,
dari hasil interaksi warga setempat dengan abdi dalem keraton, kerajinan batik
tulis semakin berkembang di daerah ini yang kemudian di wariskan secara
turun temurun.
Awalnya, penduduk giriloyo hanya bertindak sebagai buruh nyanting
batik selama puluhan tahun lamanya dan menjual hasil karya mereka dalam
bentuk produk setengah jadi kepada juragan batik di pusat kota Yogyakarta.
Namun pada tahun 2006 peristiwa tidak di sangka datang melanda,
akibat gempa yang terjadi pada tahun tersebut banyak sentra batik yang hancur
dan gulung tikar. Setahun pasca terjadi nya gempa, perajin batik di wilayah ini
mencoba bangkit kembali. Masyarakat di daerah Giriloyo dengan semangat
kebersamaan untuk membangun kejayaan, masyarakat mulai membentuk
kelompok-kelompok pengrajin batik yang di bawah naungan kelompok
Paguyuban Batik Giriloyo. Terbentuknya kelompok batik giriloyo ini ternyata
mendapatkan respon positif dari LSM sosial dan pemerintah, khusus nya Balai
Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta. Salah satu bentuk perhatian LSM
dan pemerintah adalah di berikan nya pelatihan dan pendampingan kepada
kelompok batik terkait dengan ketrampilan pembuatan batik tulis mulai tahap
awal hingga siap pakai. Selain itu pula pengrajin batik giriloyo juga di berikan

3
4

pelatihan terkait dengan strategi pemasaran batik, sehingga menjadi


pengerajin batik yang mandiri tidak lagi tergantung pada tengkulak batik.
Untuk menandai kebangkitan batik giriloyo, warga masyarakat membuat aksi
membatik bersama di selendang sepanjang 1.200 meter, aksi ini di lakukan
pada tanggal 27 Mei 2007 dan mendapatkan REKOR MURI sebagai batik
terpanjang di Indonesia.
Dukungan pemerintah tidak hanya itu, di tahun 2007 2008,
pemerintah mengucurkan dana bantuan untuk perbaikan sarana dan prasarana,
seperti perbaikan jalan untuk akses masuk ke area Sentra Batik Giriloyo. Pada
tahun yang sama LSM membantu untuk pembangunan gazebo (tempat
pameran dan belajar membatik) yang saat ini menjadi tempat wisata belajar
membatik di Yogyakarta.

B. PENJELASAN UMUM PRODUK


Kekayaan alam Yogyakarta sangat mempengaruhi terciptanya ragam
hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta
dari alat yang sederhana dan proses kerja yang terbatas, namun hasilnya
merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi kain batik tulis
bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang
diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif motif ragam hias
biasanya dipengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor faktor :
1) Letak geografis.
2) Kepercayaan dan adat istiadat.
3) Keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna.
4) Adanya kontak atau hubungan antardaerah penghasil batik.
5) Sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan.
Dalam Katalog Batik Khas Yogyakarta terbitan Proyek Pengembangan
Industri Kecil dan Menengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1996),
menyebutkan bahwa di Daerah Istimewa Yogyakarta paling tidak memiliki
lebih dari 400 motif batik, baik motif klasik maupun modern. Beberapa nama
ragam hias atau motif batik Yogyakarta antara lain : Parang, Banji, Tumbuh-
Tumbuhan Menjalar, Tumbuh-Tumbuhan Air, Bunga, Satwa, Sido Asih, Keong
Renteng, Sido Mukti, Sido Luhur, Semen Mentul, Sapit Urang, Harjuna
Manah, Semen Kuncoro, Sekar Asem, Lung Kangkung, Sekar Keben, Sekar
5

Polo, Grageh Waluh, Wahyu Tumurun, Naga Gini, Sekar Manggis, Truntum,
Tambal, Grompol, Ratu Ratih, Semen Roma, Mdau Broto, Semen Gedhang,
Jalu Mampang dan lain sebagainya.
Masing-masing motif tersebut memiliki nilai filosofis dan makna
sendiri. Adapun makna filosofis dari batik-batik yang dibuat di Giriloyo antara
lain :
1) Sido Asih mengandung makna si pemakai apabila hidup berumah tangga
selalu penuh dengan kasih sayang.
2) Sido Mukti mengandung makna apabila dipakai pengantin, hidupnya akan
selalu dalam kecukupan dan kebahagiaan.
3) Sido Mulyo mengandung makna si pemakai hidupnya akan selalu mulia.
4) Sido Luhur mengandung makna si pemakai akan menjadi orang berpangkat
yang berbudi pekerti baik dan luhur.
5) Truntum mengandung makna cinta yang bersemi.
6) Grompol artinya kumpul atau bersatu, mengandung makna agar segala
sesuatu yang baik bisa terkumpul seperti rejeki, kebahagiaan, keturunan,
hidup kekeluargaan yang rukun.
7) Tambal mengandung makna menambah segala sesuatu yang kurang.
Apabila kain dengan motif tambal ini digunakan untuk menyelimuti orang
yang sakit akan sebuh atau sehat kembali sebab menurut anggapan pada
orang sakit itu pasti ada sesuatu yang kurang.
8) Ratu Ratih dan Semen Roma melambangkan kesetiaan seorang isteri.
9) Madu Bronto melambangkan asmara yang manis bagaikan madu.
10) Semen Gendhang mengandung makna harapan agar pengantin yang
mengenakan kain tersebut lekas mendapat momongan.
Motif-motif tersebut dari dahulu hingga sekarang diwariskan secara
turun-temurun, sehingga polanya tidak berubah, karena cara memola motif itu
sendiri hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu dan tidak setiap pembatik
dapat membuat motif sendiri. Orang yang membatik tinggal melaksanakan pola
yang telah ditentukan. Jadi kerajinan batik tulis merupakan suatu pekerjaan
yang sifatnya kolektif. Sebagai catatan, para pembatik di Giriloyo khususnya
dan Yogyakarta umumnya, seluruhnya dilakukan oleh kaum perempuan baik
tua maupun muda. Keahlian membatik tersebut pada umumnya diwariskan
secara turun-temurun dari generasi ke generasi lainnya.

C. PROSEDUR KARYAWAN
6

Dalam usaha batik tulis giriloyo menerapkan 2 (dua) metode dalam


pembagian kerja atau partnership, yaitu warga asli penduduk Desa Giriloyo
khususnya perempuan dan warga pendatang atau menikah dengan laki laki
warga kampung tersebut.
Bagi warga asli penduduk Desa Giriloyo khususnya perempuan
diajarkan cara membuat batik, dimana proses membatik tersebut pada awalnya
diajarkan oleh abdi dalem keraton yang kemudian berkembang dan dibentuklah
kelompok kelompok usaha membatik dibawah naungan paguyupan batik
giriloyo. Dengan terbentuknya kelompok batik giriloyo ini ternyata
mendapatkan respon positif dari LSM sosial dan pemerintah, khusus nya Balai
Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta. Salah satu bentuk perhatian LSM
dan pemerintah adalah diberikan nya pelatihan dan pendampingan kepada
kelompok batik terkait dengan ketrampilan pembuatan batik tulis mulai tahap
awal hingga siap pakai. Selain itu pengrajin batik giriloyo juga di berikan
pelatihan terkait dengan strategi pemasaran batik, sehingga menjadi pengerajin
batik yang mandiri tidak lagi tergantung pada tengkulak batik.
Sedangkan bagi warga pendatang atau menikah dengan laki laki
warga kampung tersebut, mereka diajarkan cara membuat kerajian tangan
seperti tas rajut dan membuat bunga dari kain percaan batik.

D. PROSES PRODUKSI
Sebelum proses pembutan batik giriloyo adapun peralatan dan bahan
yang perlu untuk disediakan diantaranya :
Peralatan Bahan
1) Wajan kecil yang digunakan Bahan dasar untuk membuat batik
sebagai tempat untuk memanaskan tulis adalah kain mori. Selain itu, ada
malam (lilin) supaya cair. pula bahan-bahan yang digunakan
2) Anglo untuk memanaskan malam sebagai pewarnanya yang dapat
dengan bara api dari arang. berupa zat kimia maupun pewarna
3) Tepas (kipas) untuk memperoleh alami seperti: kulit kayu tingi, soga,
angin agar bara api tetap menyala. tegeran, dan lain sebagainya.
7

4) Gawangan untuk menempatkan


mori yang akan dibatik.
5) Bandhul untuk menahan kain agar
tidak bergerak-gerak ketika dilukis.
6) Uthik untuk mengais arang.
7) Canting dengan berbagai macam
ukuran sebagai alat untuk
mencurahkan malam cair ke dalam
mori yang digambari.
8) Kenceng untuk mendidihkan air
ketika nglorot atau mbabar.
9) Cawuk untuk mengerok.
10) Alu untuk memukuli kain mori
yang akan dibatik agar lemas dan
memudahkan pembatik dalam
proses pembuatannya.

Proses Pembuatan Batik Tulis Giriloyo, adapun tahap tahap dalam


pembuatan batik tulis di Giriloyo adalah sebagai berikut :
1) Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan
digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang
datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu.
2) Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu
membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.
3) Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni
menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut
nembusi.
4) Setelah itu nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi
menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah untuk menahan
rembesan zat warna biru atau coklat.
8

5) Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru
supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan
beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.
6) Selanjutnya ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga
bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk
yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.
7) Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini
bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam
dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan
warna coklat.
8) Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan
ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh
warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan
soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang
memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat
pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.
9) Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot,
yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke
dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak
menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik
tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai
catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani
oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.

E. PEMASARAN
Pada awal promosinya batik tulis giriloyo diikut sertakan dalam
pameran oleh Pemkab Bantul ke Jakarta. Selain promosi melalui pameran, cara
lain yang dilakukan para pengerajin adalah dengan menitipkan batik giriloyo di
galeri maupun toko batik di kota Yogyakarta.
Setelah mendapat dukungan dari berbagai pihak antara lain LSM dan
pemerintah, para pengerajin mulai bangkit dan berkembang. Proses
9

pemasarnnya pun mulai meluas, hal ini dapat dilihat dari adanya website
tempat berjualan secara online. Selain itu cara yang dilakukan untuk
memperluas pemasarannya ialah dengan menggaet agen travel dan
bekerjasama dengan wartawan serta media masa.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Batik tulis giriloyo merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki
daerah Yogyakarta khususnya masyarakat di desa giriloyo. Batik ini mulai
berkembang sekitar tahun 1654 atau abad ke 17 dimana batik giriloyo
merupakan warisan dari kerajinan Mataram yang saat itu dipimpinan Sultan
Agung.
Dalam Katalog Batik Khas Yogyakarta terbitan Proyek Pengembangan
Industri Kecil dan Menengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1996),
menyebutkan bahwa di Daerah Istimewa Yogyakarta paling tidak memiliki
lebih dari 400 motif batik, baik motif klasik maupun modern. Beberapa nama
ragam hias atau motif batik Yogyakarta antara lain : Parang, Banji, Tumbuh-
Tumbuhan Menjalar, Tumbuh-Tumbuhan Air, Bunga, Satwa, Sido Asih, Keong
Renteng, Sido Mukti, Sido Luhur, Semen Mentul, Sapit Urang, Harjuna
Manah, Semen Kuncoro, Sekar Asem, Lung Kangkung, Sekar Keben, Sekar
Polo, Grageh Waluh, Wahyu Tumurun, Naga Gini, Sekar Manggis, Truntum,
Tambal, Grompol, Ratu Ratih, Semen Roma, Mdau Broto, Semen Gedhang,
Jalu Mampang dan lain sebagainya.
Usaha batik giriloyo ini seluruhnya dilakukan oleh kaum perempuan
baik tua maupun muda. Dimana mereka dibentuk secara berkelompok yang
nantinya kelompok kelompok tersebut berada di bawah naungan Paguyuban
Batik Giriloyo.
Proses Pembuatan Batik Tulis Giriloyo, adapun tahap tahap dalam
pembuatan batik tulis di Giriloyo adalah sebagai berikut :
1. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan
digemplong, yaitu kain mori digulung kemudian diletakkan di tempat yang
datar dan dipukuli dengan alu yang terbuat dari kayu.
2. Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah mola, yaitu
membuat pola pada mori dengan menggunakan malam.

10
11

3. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah nglowong, yakni


menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut
nembusi.
4. Setelah itu nembok yang prosesnya hampir sama dengan nglowong tetapi
menggunakan malam yang lebih kuat. Maksudnya adalah untuk menahan
rembesan zat warna biru atau coklat.
5. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna biru
supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan
beberapa kali agar warna biru menjadi lebih pekat.
6. Selanjutnya ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga
bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk
yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya.
7. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini
bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam
dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan
warna coklat.
8. Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan
ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh
warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan
soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang
memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat
pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja.
9. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah mbabar atau nglorot,
yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke
dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak
menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik
tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai
catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani
oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.
12

Proses promosi batik tulis giriloyo ialah dengan cara diikut sertakan
dalam pameran oleh Pemkab Bantul ke Jakarta. Selain promosi melalui
pameran, cara lain yang dilakukan para pengerajin adalah dengan menitipkan
batik giriloyo di galeri maupun toko batik di kota Yogyakarta. Dan dengan
perkembangan teknologi yang semakin canggih batik tulis giriloyo saat ini
dipasarkan melalui website atau secara online.

B. SARAN
Dalam pembuatan laporan kunjungan industri ini tidak terlepas dari
kekurangan dan kesalahan, maka dari itu kami membutuhkan saran dari
pembaca agar dapat menyempurnakan laporan kunjungan industri ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://sentrabatiktulisyogyakarta.com/sejarah-kampung-batik-tulis-giriloyo-
bantul-yogyakarta/
Diakses 30 Mei 2017
http://batiktulisgiriloyo.blogspot.co.id/
Diakses 30 Mei 2017
https://giriloyobatik.wordpress.com/page/2/
Diakses 31 Mei 2017

13
LAMPIRAN

Struktur Organisasi Paguyupan Batik Giriloyo

Proses Membatik

14
Proses Nyolet, Memberi Warna Detil Batik

Proses nyolet, memberi warna detil batik

Koleksi Batik Giriloyo (Parang Janadri)

Koleksi Batik Giriloyo (Parang Sijang Loga)

15
Koleksi Batik (Parang Janadri)

Showroom Batik Giriloyo

16