Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL

TERAPI BERMAIN MOBIL-MOBILAN DI RUANG ANAK JEDAH RS


SYUHADA HAJI BLITAR

Disusun oleh:
Markus Mundu Ana Ratu
Jetro Tlonaen
Tika Agustiono

PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bermain merupakan kebutuhan anak seperti halnya kasih sayang, makanan,

perawatan, dan lain-lainnya, karena dapat memberi kesenangan dan pengalaman

hidup yang nyata. Bermain juga merupakan unsur penting untuk perkembangan anak

baik fisik, emosi, mental, sosial, kreativitas serta intelektual. Oleh karena itu bermain

merupakan stimulasi untuk tumbuh kembang anak (Hidayat, 2008).


Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk

membantu anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan

ketakutan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada masa

pra sekolah adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam

perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar dari

waktu mereka dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 2000). Dalam bermain

di rumah sakit mempunyai fungsi penting yaitu menghilangkan kecemasan, dimana

lingkungan rumah sakit membangkitkan ketakutan yang tidak dapat dihindarkan

(Sacharin, 2003).
Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi anak.

Semakin muda usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi, sehingga

timbul hal yang menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin lama anak

mengalami hospitalisasi maka dampak psikologis yang terjadi salah satunya adalah

peningkatan kecemasan yanng berhubungan erat dengan perpisahan dengan saudara

atau teman-temannya dan akibat pemindahan dari lingkungan yang sudah akrab dan

sesuai dengannya (Whaley and Wong, 2001).


Anak-anak dapat merasakan tekanan (stress) pada saat sebelum hospitalisasi,

selama hospitalisasi, bahkan setelah hospitalisasi, karena tidak dapat melakukan


kebiasaannya bermain bersama teman-temannnya, lingkungan dan orang-orang yang

asing baginya serta perawatan dengan berbagai prosedur yang harus dijalaninya

terutama bagi anak yang baru pertama kali di rawat menjadi sumber utama stress dan

kecemasan / ketakutan (Carson, dkk, 2002). Hospitalisasi merupakan masalah yang

dapat menyebabkan terjadinya kecemasan bagi anak. Dengan demikian berarti

menambah permasalahan baru yang bila tidak ditanggulangi akan menghambat

pelaksanaan terapi di rumah sakit.


Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak

secara optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas

bermain ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada

saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat

tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut

merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa

stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan

anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan

melakukan permainan anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya

(distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan

bermain di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase

pertumbuhan dan perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak,

dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Bermain sangat penting bagi

mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan

kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit

(Wong, 2009).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 35 menit, diharapkan kreativitas

anak-anak berkembang baik anak merasa tenang dan senang selama berada di
instalasi keperawatan anak (Ruang Jedah), dapat bersosialisasi dengan teman

sebaya sesuai tumbuh kembang anak dan dapat membantu mengurangi tingkat

kecemasan atau ketakutan yang dirasakan oleh anak-anak akibat hospitalisasi


2. Tujuan khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain diharapkan :
1) Bisa merasa tenang dan senang selama berada di instalasi keperawatan anak

(Ruang Jedah).
2) Anak dapat bersosialisasi dengan teman sebaya
3) Anak tidak cemas dan takut akibat hospitalisasi
4) Anak menjadi lebih percaya dan tidak takut dengan perawat

C. Sasaran
Anak-anak yang berada di instalasi keperawatan anak (Ruang Jedah) Rumah Sakit

Syuhada Haji usia toddler 1-3 tahun.

BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. Karakteristik Sasaran
Peserta yang mengikuti terapi bermain ini adalah anak usia toddler (1-3 tahun)
yang sedang menjalani perawatan di ruang Jedah dengan kesadaran compos mentis,
kooperatif, dan keadaan umum baik.

B. Prinsip bermain
1. Tidak banyak mengeluarkan energi, singkat dan sederhana
2. Mempertimbangkan keamanan
3. Kelompok umur yang sama
4. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak
5. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak
6. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat
keterampilan tangan lebih majemuk.
7. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain
8. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit

C. Karekteristik permainan
1. Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain
yang bermain disekitarnya. Biasa dilakukan oleh anak balita Todler.
2. Paralel play
Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing
mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada
interaksi dan tidak saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak preschool
Contoh : bermain balok
3. Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yang sama tetapi
belum terorganisasi dengan baik, belum ada pembagian tugas, anak bermain
sesukanya.
4. Kooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya permainan yang terorganisasi dan
terencana dan ada aturan tertentu. Biasanya dilakukan oleh anak usia sekolah
Adolesen.

D. Fungsi bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri,
perkembangan moral dan bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995).
1. Perkembangan Sensoris-motorik
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensoris-motoris merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak sehingga kemampuan penginderaan
anak dimulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak
seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan) dan
stimulasi kinetik.
2. Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala
sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk,
ukuran, tekstur dan membedakan objek.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut.
4. Perkembangan Kreativitas
Dimana melalui kegiatan bermain anak akan belajar mengembangkan
kemampuannya dan mencoba merealisasikan ide-idenya.
5. Perkembangan Kesadaran diri
Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan
mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap
orang lain.
6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai yang benar dan salah dari lingkungan, terutama dari
orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat
kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di
lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang
ada dalam lingkungannya.
7. Bermain sebagai Terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih dan
nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak
karena menghadapi beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk
itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stres
yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi).

E. Kategori berrmain
1. Bermain aktif
Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak, apakah
dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai gambar, melipat
kertas origami, puzzle, mobil-mobilan dan menempel gambar. Bermain aktif juga
dapat dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain dokter-dokteran dan
bermain dengan menebak kata (Hurlock, 1998).
2. Bermain pasif
Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain.
Pemain menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati temannya bermain
atau menonton televisi dan membaca buku. Bermain tanpa mengeluarkan banyak
tenaga, tetapi kesenangannya hampir sama dengan bermain aktif (Hurlock, 1998).

BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. Deskripsi bermain
Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat
paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi menimbulkan krisis
dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering disertai stress berlebihan, maka
anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang mereka alami
sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat penting bagi mental,
emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan
bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Terapi bermain yang akan diberikan ialah menarik dan menjalankan mobil (mobil
dinamo). Permainan yang akan dilakukan hanyalah menarik dan menjalankan mobil
sesuai dengan contoh yang diberikan. Mobil yang diberikan berbentuk mobil
plastik(dynamo) berjalan sendiri dengan cara menarik kebalakang, ada pula jenis
permain lainnya yang disediakan seperti bongkar pasang dan poster yang bergambar
jenis hewan sepeti bebek, ikan, harimau, singa, dan lain-lain..

B. Tujuan permainan
1. Untuk melanjutkan tumbuh kembang yang mormal pada saat sakit. Pada saat sakit
anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan dan fantasi serta ide-idenya. Permainan
adalah media yang sangat efektif untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang
tidak menyenangkan.
3. Mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah. Permainan
akan menstimulasi daya pikir, imajinasi dan fantasinya untuk menciptakan sesuatu
seperti yang ada dalam pikirannya.
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan di rawat di rs
5. Mengurangi tingkat kecemasan atau ketakutan yang dirasakan oleh anak-anak
akibat hospitalisasi

C. Jenis permainan
Menarik dan menjalankan mobil
Berdasarkan kategori bermain jenis permainan mobil-mobilan ini merupakan
bermain aktif. Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak,
apakah dalam bentuk kesenangan. Bermain aktif juga dapat dilakukan dengan
bermain peran misalnya bermain alat misalnya mewarnai gambar, melipat kertas
origami, puzzle, mobil-mobilan, menempel gambar, bermain dokter-dokteran dan
bermain dengan menebak kata (Hurlock, 1998). Pada permainan ini anak akan di ajak
bermain untuk menarik dan menjalankan mobil dynamo yang disediakan.
Sedangkan menurut klasifikasi bermain merupakan permainan keterampilan
(skill play). Permainan ini akan menimbulkan keterampilan anak, khususnya motorik
kasar dan halus. Misalnya, anak akan terampil akan memegang benda-benda kecil,
memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak akan terampil dalam
menyocokan gambar sesuai dengan imajinasinya. Jadi keterampilan tersebut diperoleh
melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan. Pada permainan ini anak
diajarkan bermain mobil-mobilan. Mengapa demikian? Karena dilihat dari kondisi
anak yang tidak boleh main berlebih yang membutuhkan energi ekstra, dan anak yang
cenderung pendiam selama hospitalisasi.
Sasaran utama peserta pada permainan ini adalah anak usia toddler dengan
diagnosa medis Gastro Enteritis di Ruang anak Jedah RSSH Blitar. Permainan ini
dapat melatih kognitif anak dalam bermain mobil-mobilan dan melatih kemampuan
motorik kasar anak dalam bermain mobil-mobilan, kegiatan ini juga membuat anak
lebih aktif. Selain itu permainan ini tidak menguras banyak energi selama anak
bermain dan dapat memberikan kesenangan tersendiri sehingga mengurangi
kejenuhan anak selama hospitalisasi.

D. Alat bermain
1. Mobil-mobilan (Mobil plastik)

E. Proses bermain
No. Terapis Waktu Subjek terapi
1. Persiapan 5 menit Ruangan, alat, anak
a. Menyiapkan ruangan
b. Menyiapkan alat-alat
c. Menyiapkan anak
2. Proses
a. Membuka terapi dengan 15 menit Menjawab salam,
Memperkenalkan diri
mengucapkan salam dan
memperkenalkan diri Memperhatikan
b. Menjelaskan pada orang tua
anak dan anak tentang
Bermain bersama dengan
tujuan dan manfaat bermain
antusias dan
c. Mengajak anak bermain
d. Kalau ingin bertanya atau mengungkapkan
menjawab angkat tangan perasaannya
terlebih dahulu baru
berbicara
e. Mengikuti kegiatan dari
awal sampai akhir
f. Mengevaluasi respon anak
3. Penutup
a. Istirahat 10 menit Memperhatikan dan
b. Evaluasi kegiatan
menjawab salam
c. Meminta anak menceritakan
kegiatan bermain

F. Waktu Pelaksanaan
Pokok Bahasa : Terapi Bermain Pada anak di Instalasi Keperawatan Anak
(Ruang Jedah)
Sub Pokok Bahasan : Terapi Bermain anak usia toddler
Judul Terapi Bermain : Mobil-mobilan
Tempat : Ruang Jedah di Kamar 16 RSSH Blitar
Hari, tanggal : Sabtu, 13 Agustus 2016
Waktu : 35 menit ( jam 14.30 s.d 15.00 WIB)

Nama peserta utama


1. An. M. Nazril ( 3,5 tahun)

G. Hal- hal yang Perlu di Waspadai


1. Kejenuhan anak dalam menyelesaikan permainan
2. Anak lelah
3. Anak tidak mau mengikuti permainan

H. Antisipasi untuk meminimalkan hambatan


1. Mengajak atau melibatkan orang tua
2. Berkomunikasi dengan baik pada anak

I. Pengorganisasian
1. Tim terapi
a. Leader : Markus Mundu Ana Ratu
Tugas
Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi bermain sebelum kegiatan
dimulai. Menjelaskan Kegiatan ,mampu memotivasi anggota untuk aktif
dalam proses kegiatan bermain. Mampu memimpin Terapi bermain dengan
baik dan tertib, serta menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam
kelompok.
b. Co. Leader : Jetro Tlonaen
Tugas
Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas anak dan
mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
c. Fasilitator : Tika Agustiono
Tugas
Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung, memotivasi anak yang
kurang aktif, membantu leader memfasilitasi peserta untuk berperan aktif dan
memfasilitasi peserta.
d. Observer : Markus Mundu Ana Ratu
Tugas
Mengobservasi jalannya proses kegiatan, mencatat perilaku verbal dan non
verbal anak selama kegiatan berlangsung

J. Sistem evaluasi
Peserta terapi bermain mampu :
1. Peserta aktif dalam permainan
2. Peserta dapat mengikuti permainan dari awal sampai akhir
3. Peserta dapat mengepspresikan perasaanya
4. Peserta dapat mempraktekkan tata cara permainan
5. Peserta dapat memberikan kesimpulan dari gambar yang dibuat

K. Setting tempat
Tempat yang akan dilaksanakan diruangan rawat. Anak ditempatkan bersama dalam
satu ruangan rawat. Permainan akan dilakukan di tempat tidur klien.

: Orang Tua

: Fasilitator

: Leader

: Co-Leader
Cara Permainan
Anak akan diberikan sebuah mobil dynamo, dan leader menunjukan cara
bermain mobil dynamo lalu anak diminta untuk mengikuti cara bermain mobil
yang di lakukan oleh leader dengan cara menarik mobil kebelakang lalu
dilepaskan dan mobi akan berjalan dengan sendirinya, setelah leader
menunjukan cara bermain kemudian menyuruh anak untuk bermain mobil
sendiri. Observer Mengobservasi jalannya proses kegiatan, mencatat perilaku
verbal dan non verbal anak selama kegiatan berlangsung. Anak akan diberikan
waktu selama 10 menit untuk bermain mobil-mobilan. Selama kegiatan
berlangsung anak boleh didampingi oleh orang tua untuk menambah semangat
anak selama bermain. setelah selesai bermain mobil-mobilan anak didiminta
untuk mengungkapkan perasaannya dan memberi kesimpulan dari bermain
mobil-mobilan yang telah dilaksanakannya.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bermain sangat penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak seperti
kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat
anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Bermain memiliki beberapa fungsi yaitu, meningkatkan perkembangan
sensoris-motorik, sebagai terapi, meningkatkan perkembangan sosial,
perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral,
dan perkembangan intelektual (kognitif).
Berdasarkan kategori bermain jenis permainan mobil-mobilan ini merupakan
bermain aktif. Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan
anak, apakah dalam bentuk kesenangan. Bermain aktif juga dapat dilakukan
dengan bermain peran misalnya bermain alat misalnya mewarnai gambar, melipat
kertas origami, puzzle, mobil-mobilan, menempel gambar, bermain dokter-
dokteran dan bermain dengan menebak kata (Hurlock, 1998). Pada permainan ini
anak akan di ajak bermain untuk menarik dan menjalankan mobil dynamo yang
disediakan.
Setelah dilakukan tindakan terapi bermaian ini diharapkan anak dapat
melanjutkan tumbuh kembang yang mormal pada saat sakit, mengekspresikan
perasaan, keinginan dan fantasi serta ide-idenya, mengembangkan kreativitas dan
kemampuan memecahkan masalah, dapat beradaptasi secara efektif terhadap
stress karena sakit dan di rawat di RS, serta mengurangi tingkat kecemasan atau
ketakutan yang dirasakan oleh anak-anak akibat hospitalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth B. 1998. Perkembangan Anak jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Soetjiningsih. 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC

Wong, Donna L. 2009. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC