Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KEPERAWATAN PALIATIF

MANAJEMEN NYERI

DISUSUN OLEH :

Kelompok 3

1. Atina Balqin Izzah


P1337420614012
2. Aditiya Pratama P1337420614013
3. Hana Muzdalifah P1337420614014
4. Virgiana P1337420614015
5. Muslikah IdaMugi Rahayu P1337420614016

PROGRAM STUDI S1 TERPAN KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau
intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan
nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah
ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini
juga sulit untuk dipastikan.
Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang
lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS)
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi
yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini
diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan.
Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih
intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa
jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling
tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah
kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical
rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata.
Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala
paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah
intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka
direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992).
Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi.
VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus
menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi
klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat
merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat
mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu
kata atau satu angka (Potter, 2005).
Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan
tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien
dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat.
Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat
keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat
dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk
atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter,
2005).

B. Rumusan Masalah
Dapat dirumuskan masalah :
1. Berbagai tipe nyeri
2. Berbagai sindrom nyeri yang terjadi
3. Perbedaan manajemen nyeri untuk pasien untuk pasien dirumah
sakit dengan lingkungan masyarakat
4. Pengkajian nyeri secara komperhensif
5. Aktivitas teraputik dalam penanganan nyeri
6. Pengaruh psikis, emosi, dan lingkungan terhadap simtom dan
penanganan

C. Tujuan

BAB II
ISI

A. Definisi Nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang
dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri,
2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat
terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima
rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah
ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat
yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor,
secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada
juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam
beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep
somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah,
nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang
berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan.
Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
1. Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30
m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang
apabila penyebab nyeri dihilangkan.
2. Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5
m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat
tumpul dan sulit dilokalisasi. Struktur reseptor nyeri somatik dalam
meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf,
otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya
komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit
dilokalisasi.
Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini
meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan
sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif
terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan,
iskemia dan inflamasi.
Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat
pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial
budaya
Respon fisiologis terhadap nyeri
1. Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial)
a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
b) Peningkatan heart rate
c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
d) Peningkatan nilai gula darah
e) Diaphoresis
f) Peningkatan kekuatan otot
g) Dilatasi pupil
h) Penurunan motilitas GI
2. Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam)
a) Muka pucat
b) Otot mengeras
c) Penurunan HR dan BP
d) Nafas cepat dan irreguler
e) Nausea dan vomitus
f) Kelelahan dan keletihan
Respon tingkah laku terhadap nyeri
a) Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
b) Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas,
Mendengkur)
c) Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
d) Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan
gerakan jari & tangan
e) Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari
percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian,
Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri)
Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat
berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi
kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih
untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat.
Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir
dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.
Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri:
a) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini
bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang
belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran
perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan
informasi pada klien.
b) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat
subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda.
Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan
orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri
tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang
toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan
stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri
mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi
terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum
nyeri datang.
Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana
orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama.
Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi
sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan
nyeri lebih besar.
Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari
ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan
klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang
menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti
apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang
yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus
seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien
mengkomunikasikan nyeri secara efektif.
c) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)
Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien
masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis,
sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila
klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath)
dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam
membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan
kemungkinan nyeri berulang.
Faktor yang mempengaruhi respon nyeri
1) Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji
respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika
sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung
memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri
adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami
penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
2) Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara
signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya
(ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh
nyeri).
3) Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon
terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan
bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan
kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
4) Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan
dan bagaimana mengatasinya.
5) Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang
meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya
distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik
relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6) Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan
seseorang cemas.
7) Pengalaman masa lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat
ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya.
Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di
masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8) Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan
sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang
mengatasi nyeri.
9) Support keluarga dan sosial
Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota
keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan

Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan
kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua
orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan
pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik
tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak
dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti
perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi
nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih
posisi nafas panjang dan distraksi.
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi,
memukul.
Penilaian Nyeri Berdasarkan PQRST
P : Provokatif / Paliatif
Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri? Apakah karena terkena ruda
paksa / benturan..? Akibat penyayatan..? dll.
Q : Qualitas / Quantitas
Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana rasanya..?. Seberapa sering
terjadinya..? Ex : Seperti tertusuk, tertekan / tertimpa benda berat, diris-iris,
dll.
R : Region / Radiasi
Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan / ditemukan..? Apakah juga
menyebar ke daerah lain / area penyebarannya..?
S : Skala Seviritas
Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS ( Baca : Cara Mengukur
GCS (Glasgows Coma Scale) ) untuk gangguan kesadaran, skala nyeri /
ukuran lain yang berkaitan dengan keluhan
T : Timing
Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan / dirasakan..? Seberapa sering
keluhan nyeri tersebut dirasakan / terjadi? Apakah terjadi secara
mendadak atau bertahap..? Acut atau Kronis..?

B. Klasifikasi Nyeri
1. Klasifikasi nyeri menurut smeltzer & bare (2002)
mengklasifikasikan nyeri berdasarkan durasi yaitu :
a) Nyeri akut
Nyeri akut biasanya awitanya tiba-tiba dan umumnya berkaitan
dengan cidera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan
atau cidera telah terjadi. Nyeri ini umumnya terjadi kurang dari 6
bulan dan biasanya kurang dari 1 bulan. Untuk tujuan definisi nyeri
akut dapat dijelaskan sebagai nyeri berlangsung dari beberapa detik
hingga 6 bulan
b) Nyeri Kronik
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiter yang menetap
sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung diluar waktu
penyembuhan yang diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan
dengan penyebab atau cidera spesifik. Nyeri kronik dapat tidak
mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit
diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap
pengobatan yang diarahkan pada penyembuhan. Nyeri kronik sering
di identifikasikan sebagai nyeri yang berlangsung selama 6 bulan atau
lebih, meskipun dapat berubah antara akut dan kronik.

Sementara Price dan Wilson (2006), mengklasifikasikan nyeri


berdasarkan lokasi atau sumber antara lain :
a) Nyeri Somatik superficial (kulit)
Nyeri kulit berasal dari struktur struktur superficial kulit dan
jaringan subkutis. Stimulus yang efektif untuk menimbulkan nyeri
dikulit dapat berupa rangsangan mekanis, suhu, kimiawi, atau listrik.
Apabila hanya kulit yang terlibat, nyeri sering dirasakan sebagai
penyengat, tajam, meringis atau seperti terbakar, tetapi apabila
pembuluh darah ikut berperan menimbulkan nyeri, sifat nyeri menjadi
berdenyut.
b) Nyeri Somatik dalam
Nyeri somatic dalam mengacu pada nyeri yang berasal dari otot,
tendon, ligamentum, tulang,sendi dan arteri. Struktur-strukur ini
memiliki lebih sedikit reseptor nyeri sehingga lokalisasi nyeri kulit
dan cenderung menyebar ke daerah sekitar.
c) Nyeri Viseral
Nyeri Viseral mengacu kepada nyeri yang berasal dari organ-organ
tubuh. Reseptor nyeri visceral lebih jarang dibandingkan dengan
reseptor nyeri somatic dan terletak di dinding otot polos organ-organ
berongga. Mekanisme utama yang menimbulkan nyeri visceral adalah
peregangan atau distensi abdominal dinding atau kapsul organ,
iskemia dan peradangan.
d) Nyeri Alih
Nyeri alih didefinisikan sebagai nyeri berasal dari salah satu daerah
ditubuh tetapi dirasakan terletak didaerah lain. Nyeri alih sering
dialihkan kedermatom (daerah kulit) yang dipersyarafi oleh segmen
medulla spinalis yang sama dengan viksus yang nyeri tersebut berasal
dari masa mudigah, tidak hams ditempat orang tersebut berada pada
masa dewasa
e) Nyeri Neuropati
Sistem saraf secara normal menyalurkan rangsangan yang merugikan
demi system syaraf tepi (SST) ke system syaraf pusat (SSP) yang
menimbulkan perasaan nyeri. Dengan demikian, lesi di SST atau SSP
dapat menyebabkan gangguan atau hilangnya sensasi nyeri. Nyeri
neuropatik sering memiliki kualitas seperti terbakar, perih, atau seperti
tersengat listrik. Pasien dengan nyeri Neuropatik menderita akibat
instabilitas system syaraf otonom (SSO). Dengan demikian, nyeri
sering bertambah parah oleh stress emosi atau fisik (dingin,kelelahan)
dan mereda oleh relaksasi.

C. Sindrom Nyeri
Syndrome nyeri yang lazim terjadi : misalnya plexopaties, sensitization
1. Plexophaties
Istilah plexopati berkenaan dengan sindrom nyeri yang
berhubungan dengan pleksus saraf perifer. Abnormalitas neurologisnya,
melibatkan beberapa syaraf pada pleksus. Pada kasus brachial plexopati,
nyeri diperburuk oleh pernapasan yang dalam atau gerakan dari leher dan
bahu. Palpasi yang dalam pada daerah bahu dapat menimbulkan nyeri
atau perasaan penuh. Nyeri pada brachial plexopati mungkin
berhubungan dengan penyebaran neoplastik ke syaraf, perlekatan dan
penyebaran setelah infeksi, operasi, atau terapi radiasi.
Plexopathy adalah gangguan yang mempengaruhi jaringan saraf,
pembuluh darah, atau pembuluh getah bening. Wilayah saraf itu berada
di brakialis pleksus atau lumbosakral. Gejala yang ditimbulkan termasuk
rasa sakit atau nyeri, kehilangan kontrol motor, dan defisit sensorik.
Ada dua jenis utama plexopathy; Brachial plexopathy dan
lumbosakral plexopathy. Mereka biasanya disebabkan dari beberapa jenis
trauma lokal seperti dislokasi bahu. Kelainan juga dapat disebabkan oleh
kompresi, komorbiditas penyakit pembuluh darah, infeksi, atau mungkin
idiopatik dengan penyebab yang tidak diketahui.
Langkah pertama dalam evaluasi dan manajemen plexopathy terdiri
dari mengumpulkan riwayat medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter
kesehatan. Pola fungsi motorik yang cacat akan terdeteksi dengan baik di
ekstremitas atas atau bawah membantu diagnosis gangguan tersebut. X-
ray dari tulang belakang leher, dada, dan bahu biasanya diperintahkan
jika gejala menunjukkan keadaan akut pada brakialis plexopathy. Jika
riwayat fisik mengungkapkan riwayat diabetes, penyakit vaskular
kolagen, atau gejala infeksi, dokter dapat memerintahkan serangkaian tes
darah termasuk hitung darah lengkap (CBC) dan panel metabolik yang
komprehensif (CMP).
2. Sensitisation
Sensitisasi adalah karakterteristik nosiseptor dimana respon terhadap
stimuli meningkat ditempat cedera. Sensitisasi nosiseptor menghasilkan
hiperalgesia primer di tempat cedera yang menghasilkan nyeri terasa
terus-menerus selama istirahat dan meningkat selama dan setelah
pembedahan, cedera, persalinan dan sakit akut.
Input nosisepsi selama dan setelah pembedahan, cedera, persalinan
dan sakit akut dapat meningkatkan respon saraf yang mentransmisikan
nyeri di susunan saraf pusat, hal ini akan memperbesar sensasi nyeri
secara klinis. Peningkatan respon saraf di susunan saraf pusat terhadap
input aferen yang normal atau dibawah ambang (subtreshold) disebut
sensitisasi sentral (central sensitization). Besarnya sensitisasi sentral
tergantung pada banyak factor, termasuk tipe jaringan dan luasnya cedera
Sensittisasi sentral memperkuat transmisi input dari jaringan perifer
dan menghasilkan hiperalgesia sekunder, peningkatan respon neyri yang
dibangkitkan oleh stimuli diluar area cedera. Sensitisasi sentral bisa
terjadi baik di tingkat spinal maupun supraspinal.

D. Perbedaan Manajemen Nyeri


. Perbedaan Manajemen Nyeri Untuk Pasien Yang di Rumah Sakit dengan
yang di lingkungan masyarakat
Nyeri sendiri dapat didefinisikan sebagai "pengalaman sensoris dan
emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan
jaringan, baik aktual maupun potensial atau dilukiskan dalam istilah seperti
kerusakan" (The International Association for the Study of Pain, 1979).
Namun dewasa ini, banyak rumah sakit yang telah melakukan upaya
intensif untuk mengelola rasa nyeri tersebut, sehingga rasa nyeri yang
menyertai tindakan medis, tindakan keperawatan, ataupun prosedur diagnostik
pada pasien dapat diminimalkan atau dilakukan tindak lanjut yang teratur,
sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh rumah sakit dan kebutuhan
pasien. Nyeri yang dirasakan pasien dikelola dengan melakukan pemantauan
secara kontinyu dan terencana. Bahkan dalam akreditasi Joint Commission
International (JCI) isu manajemen nyeri ini menjadi salah satu elemen
penilaian yang dipersyaratkan untuk dipenuhi oleh pihak rumah sakit.
Berbagai bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien harus
mengacu pada pedoman pengelolaan rasa nyeri. Hal ini seperti tercantum
dalam standar akreditasi JCI berikut:
1. Patient and Family Rights (PFR)
PFR 2.4 Rumah sakit mendukung hak pasien untuk mendapatkan asesmen
dan pengelolaan rasa sakit yang tepat.
2. Assessment of Patients (AOP)
AOP 1.7 Semua pasien rawat inap dan rawat jalan diperiksa apakah
mengalami rasa nyeri dan diperiksa mengenai rasa nyeri tersebut jika ada.
3. Care of Patients (COP)
COP 6. Pasien didukung secara efektif dalam mengelola rasa nyerinya.
Gambaran menjadi pasien di rumah sakit yang identik dengan berbagai
jenis pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, acap kali
memberikan ketakutan tersendiri bagi pasien akan rasa nyeri yang dapat
menyertai proses pemberian pelayanan kesehatan tersebut. Sebagai contoh,
bagaimana proses transfusi darah dapat memberikan rasa nyeri bagi si
pasien, ataupun tindakan medis lainnya yang dapat memberikan rasa nyeri
pada pasien. Sumber-sumber nyeri dapat meliputi; prosedur tindakan
medis, tindakan keperawatan, dan prosedur diagnostik.

COP 7.1. Perawatan pasien dalam keadaan menjelang ajal


mengoptimalkan kenyamanan dan martabatnya.
Proses penerapan manajemen nyeri ini memerlukan peran aktif dari
seluruh civitas hospitalia yang memberikan pelayanan kesehatan pada
pasien, serta peran langsung dari pasien itu sendiri, dimana pasien
didorong untuk menyampaikan rasa nyeri yang mereka alami. Sedangkan
pada proses pelaksanaannya, pihak rumah sakit dapat mempergunakan
beberapa alternatif tools yang dapat dipergunakan untuk mengukur dan
mengkaji intensitas nyeri. Skala pengukuran nyeri sendiri dapat didasarkan
pada self report, observasi (perilaku), atau data fisiologis.
Berikut adalah beberapa tools yang dapat dipergunakan berdasar pada 'self
report' pasien :
1. Verbal Rating Scale (VRS): Verbal Rating Scale merupakan jenis
pengukuran nyeri yang telah lama dipergunakan dan merupakan
pengukuran nyeri dalam bentuk sederhana. Dapat berupa pertanyaan
sederhana 'apakah anda merasa nyeri?', yang dapat dijawab pasien dengan
'iya' atau 'tidak'. Namun, biasanya dalam pengukuran ini mempergunakan
4 sampai dengan 5 titik intensitas skala dengan deskripsi seperti; tidak
nyeri, sedikit nyeri, nyeri sedang, sangat nyeri.
2. Visual Analog Scale (VAS): Visual Analog Scale (VAS) adalah
instrumen untuk mengukur besarnya nyeri pada garis sepanjang 10 cm.
Biasanya berbentuk horizontal atau vertikal, dan garis ini digerakkan oleh
gambaran intensitas nyeri yang memiliki range dari tidak nyeri sampai
dengan rasa nyeri yang ekstrim.
3. Numerical Rating Scale (NRS): Numerical Rating Scale (NRS)
hampir sama dengan Visual Analog Scale, tetapi memiliki angka-angka
sepanjang garisnya, kisaran angka 0-10 dan pasien diminta untuk
menunjukkan rasa nyeri yang dirasakannya.
4. Faces Rating Scale dari Wong Baker: Instrumen dengan
menggunakan Faces Rating Scale terdiri dari 6 gambar skala wajah yang
bertingkat dari wajah yang tersenyum untuk "no pain" sampai wajah yang
berlinang air mata. Pasien dapat menunjukkan dengan gambar, tingkat rasa
nyeri yang dirasakannya.
Manajemen nyeri menjadi salah satu isu penting dalam proses pemberian
layanan kesehatan kepada pasien. Pada implementasinya pelayanan bermutu
diberikan dengan mempedulikan rasa nyeri yang dialami pasien, didukung
dengan tools pengkajian nyeri yang sesuai dan terdokumentasi dengan baik
serta pemberian manajemen nyeri sesuai pedoman yang ditetapkan.

E. Pengkajian Nyeri Secara Komperhensif


. Pengkajian Nyeri Secara Komprehensif
Manajemen nyeri suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang
berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan, pada orang lain ataupun diri
sendiri.
Penanganan Nyeri
Dalam penanganan nyeri, perawat terlebih dahulu mengkaji tingkat nyeri yang
dirasakan pasien. Hal ini dikarenakan nyeri merupakan pengalaman interpersonal,
sehingga perawat harus menanyakannya secara langsung kepada klien
karakteristik nyeri dengan P Q R S T.
Provoking : Penyebab
Quality : Kwalitas
Region : Lokasi
Severate : Skala
Time : Waktu
a. Lokasi
Pengkajian lokasi nyeri mencakup 2 dimensi :
Tingkat nyeri, nyeri dalam atau superfisial
Posisi atau lokasi nyeri
Nyeri superfisial biasanya dapat secara akurat ditunjukkan oleh
klien; sedangkan nyeri yang timbul dari bagian dalam (viscera) lebih
dirasakan secara umum.
Nyeri dapat pula dijelaskan menjadi empat kategori, yang berhubungan dengan
lokasi:
Nyeri terlokalisir : nyeri dapat jelas terlihat pada area asalnya
Nyeri Terproyeksi : nyeri sepanjang saraf atau serabut saraf
spesifik
Nyeri Radiasi : penyebaran nyeri sepanjang area asal yang tidak
dapat dilokalisir
Reffered Pain (Nyeri alih) : nyeri dipersepsikan pada area yang
jauh dari area rangsang nyeri.
b. Intensitas
Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri :
Distraksi atau konsentrasi dari klien pada suatu kejadian
Status kesadaran klien
Harapan klien
Nyeri dapat berupa : ringan, sedang, berat atau tak tertahankan. Perubahan
dari intensitas nyeri dapat menandakan adanya perubahan kondisi patologis
dari klien.
c. Waktu dan Lama (Time & Duration)
Perawat perlu mengetahui/mencatat kapan nyeri mulai timbul; berapa lama;
bagaimana timbulnya dan juga interval tanpa nyeri dan kapan nyeri terakhir
timbul.
d. Kualitas
Deskripsi menolong orang mengkomunikasikan kualitas dari nyeri. Anjurkan
pasien menggunakan bahasa yang dia ketahui: nyeri kepala mungkin
dikatakan ada yang membentur kepalanya, nyeri abdominal dikatakan
seperti teriris pisau.
e. Perilaku Non Verbal
Beberapa perilaku nonverbal yang dapat kita amati antara lain : ekspresi
wajah, gemeretak gigi, menggigit bibir bawah dan lain-lain.

F. Aktivitas Teraputik Dalam Penanganan Nyeri


. Terapeutik dalam penanganan nyeri pada pasien
Penanganan Aktivitas Nyeri
Tindakan Farmakologis
Umumnya nyeri direduksi dengan cara pemberian terapi farmakologi. Nyeri
ditanggulangi dengan cara memblokade transmisi stimulant nyeri agar terjadi
perubahan persepsi dan dengan mengurangi respon kortikal terhadap nyeri
Adapun obat yang digunakan untuk terapi nyeri adalah :
1. Analgesik Narkotik
2. Analgesik Lokal
3. Analgesik yang dikontrol klien
4. Obat obat nonsteroid

Tindakan Non Farmakologis


Menurut Tamsuri (2006), selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi
nyeri ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari
beberapa tindakan penaganan berdasarkan :
1. Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi :
o Stimulasi kulit
Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot.
Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter
besar, sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri
o Stimulasi electric (TENS)
Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah
cara ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri.
Bisa dilakukan dengan massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong
es dan stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical
nerve stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan
menggunakan arus listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.
o Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk
mengobati nyeri. Jarum jarum kecil yang dimasukkan pada kulit,
bertujuan menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang
dapat memblok transmisi nyeri ke otak.
o Plasebo
Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat
tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai
obat seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan sebagainya.
2. Intervensi perilaku kognitif meliputi :
o Relaksasi
Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. Teknik
relaksasi mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil optimal.
Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri.
o Umpan balik biologis
Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi
tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter
terhadap respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot
dan migren, dengan cara memasang elektroda pada pelipis.
o Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.
o Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai
sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio
(mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan),
distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur)
o Guided Imagery (Imajinasi terbimbing)
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi
dari klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan.
Tindakan ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang
nyeri akut.
PENANGANAN NYERI AKUT
o Nyeri akut sering dikelola dengan tidak memadai. Ini tidak
seharusnya demikian. Kontrol nyeri sering bisa diperbaiki dengan strategi
sederhana:
o Nilai nyeri
o Atasi dengan obat dan teknik yang anda sudah terbiasa
o Nilai kembali nyeri setelah terapi dan bersiap untuk memodifikasi
pengobatan jika perlu.
o Analgesia yang baik mengurangi komplikasi pasca bedah seperti
infeksi paru, mual dan muntah, DVT ,dan ileus.

Prinsip umum

1) Pasien yang mengeluh nyeri, berarti mereka betul-betul merasa


nyeri. Mereka perlu didengarkan dan dipercaya.
2) Tidak ada pola fisiologis atau perilaku yang bisa digunakan untuk
membuktikan bahwa seseorang sedang berpura-pura nyeri.
3) Operasi yang sama mungkin akan menghasilkan kebutuhan
analgesia yang bervariasi pada berbagai pasien.
4) Derajat nyeri yang sama mungkin diekspresikan dengan cara
berbeda oleh berbagai pasien.
5) Opioid yang diberikan untuk nyeri akut tidak menyebabkan adiksi
obat.
6) Nyeri hebat setelah pembedahan bisa dicegah.
7) Cari sebab-sebab nyeri yang bisa diatasi, tetapi jangan tunda
analgesia dengan alasan takut menyelubungi tanda-tanda bedah.
8) Dosis tepat dari analgesik opioid adalah cukup dan sering cukup
9) Manfaat maksimum dengan efek samping paling sedikit sering
diperoleh dengan kombinasi berbagai obat dengan cara pemberian berbeda
(misal opioid dan AINS dan anestesi lokal)

Penilaian nyeri, analgesia, dan sedasi


1) Sistem skoring digunakan untuk menilai nyeri dan untuk mengukur
efektivitas pengobatan. Skor nyeri bisa ditulis di kartu suhu atau pada
kartu nyeri terpisah.
2) Skala analogi visual (VAS) adalah garis 10 cm di mana ujung-
ujungnya adalah 0 (tak ada nyeri) dan 10 (nyeri terburuk yang bisa
dibayangkan). Pasien membubuhi tanda pada garis untuk mengungkapkan
keparahan nyeri mereka. Teknik ini mungkin sukar diterapkan jika pasien
sedang berada dalam nyeri hebat.
3) Verbal rating scale (VRS) lebih sederhana. Pasien ditanya apakah
mereka tidak merasa nyeri, nyeri ringan, sedang atau berat dan diberi skor
0 untuk tidak nyeri, 1 untuk nyeri ringan, 2 untuk nyeri sedang, dan 3
untuk nyeri berat.
4) Pasien harus dinilai setelah dibangunkan dengan lembut. Sedasi
sebaiknya diberi skor sekaligus: 0 jika bangun, 1 jika mengantuk kadang-
kadang, 2 jika kebanyakan tidur, 3 jika sukar dibangunkan.
5) Kombinasi skor sedasi dan frekuensi napas bisa digunakan untuk
mendiagnosis overdosis opioid.
6) Frekuensi < 8/menit dengan skor sedasi 3 menunjukkan overdosis.
7) Pernapasan lambat tanpa over-sedasi bisa diterima, tetapi
memerlukan kewaspadaan.
8) Naloxone intravena harus ditirasi dengan penambahan setiap 200
mg sampai over-sedasi memulih tanpa mengurangi efek analgesia.
Naloxone mungkin bekerja lebih singkat daripada opioid, sehingga
penilaian harus dilanjutkan karena sedasi bisa berulang.
BAB III

PENUTUP

. Kesimpulan
Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima
rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah
ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat
yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor,
secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada
juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa
bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan
pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang
timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal
dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan.
DAFTAR PUSTAKA

A. Aziz Alimul Hidayat. 2004. Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta :


Salemba Medika.

http://www.rajawana.com/artikel/pendidikan-umum/453-home-care.html

http://diponegoronursesassociation.blogspot.com/2008/05/home-care-agency-
prespektik-sistem.html

http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/12/18/home-care-seminar/

http://wwwdagul88.blogspot.com/2009/12/home-care-bab-i-pendahuluan-
untuk.html
http://e-learning-keperawatan.blogspot.com/2008/12/teori-leininger.html

http://egithink.multiply.com/journal/item/5