Anda di halaman 1dari 10

III.

Analisa
III.1. Dasar Hukum
Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek
Kebijakan PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia)
UDRP (Uniform Dispute Resolution)
III.2. Analisis Hukum

Analisis Kasus Sony-AK vs Sony Corp berdasarkan pada Undang-Undang No.


11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
Nama Domein menurut UU ITE Pasal 1 butir 20 Nama Domain adalah alamat internet
penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat, yang dapat digunakan
dalam berkomunikasi melalui internet, yang berupa kode atau susunan karakter yang bersifat
unik untuk menuju lokasi tertentu dalam internet.1

Dalam UU No. 11 Tahun 2008 ( UU ITE ) pengaturan mengenai kepemilikan nama


domain serta penggunaannya dijelaskan dalam BAB VI tentang Nama Domain, Hak
Kekayaan Intelektual dan Perlindungan Hak Pribadi Pasal 23, sebagai berikut :

1. Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat berhak memiliki
Nama Domain berdasarkan prinsip pendaftar pertama.

2. Pemilikan dan penggunaan Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada iktikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan
tidak melanggar hak Orang lain.

3. Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, atau masyarakat yang dirugikan karena
penggunaan Nama Domain secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak mengajukan gugatan
pembatalan Nama Domain dimaksud. 2

Berdsarkan pasal diatas pasal 23 ayat 1 menjelaskan bahwa prinsip perlindungan


HAKI dalam nama domain adalah berdasarkan prinsip yang mana hak atas nama domain
timbul berdasarkan pendaftaran First Come First Served namun berbeda dengan prinsip
kontitutif pada merek yaitu prinsip First to File pada merk dilakukan pemeriksaan
substantif sedangkan pada nama domain tidak dilakukan pemeriksaan substantif, kebalikan
dari prinsip deklaratif yang mana haknya lahir secara otomatis tanpa pendaftaran. Pendaftaran
tersebut memberikan hak kepada pihak pendaftar untuk menggunakan nama domain yang

1 UU No. 11 Tahun 2008 Pasal 1 butir 20


2 UU No. 11 Tahun 2008 Pasal 23
telah ia daftarkan. Berdasarkan pasal 23 ayat 2 akibat dari prinsip First Come First Served
melahirkan suatu kewajiban dari registrant kepada registrar yaitu untuk bertanggung jawab
dan menjamin bahwa pengajuan permintaan pendaftarkan nama domain dengan itikad baik,
tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat dan tidak melanggar hak orang lain.
Timbulnya suatu kewajiban menimbulkan pula sebuah hak yaitu yang tercantum dalam pasal
23 ayat 3 yaitu hak registar untuk membatalkan pendaftaran nama domain jika registrant
mangkir dari prestasi yang diatur dalam pasal tersebut, begitu pula hak registrant untuk
mengajukan gugatan pembatalan apabila ia merasa dirugikan.

Seperti yang disebutkan dalam pasal 23 ayat 3 para pihak berhak melakukan gugatan
pembatalan nama domain apabila pihak pihak tersebut telah dirugikan dengan adanya
penggunaan nama domain secara tanpa hak yang dilakukan oleh pihak lain. Gugatan tersebut
dijelaskan lebih lanjut pada pasal 38 dan pasal 39 UU ITE.

Pada Pasal 38 UU ITE disebutkan bahwa:

(1) Setiap Orang dapat mengajukan gugatan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem
Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang menimbulkan kerugian. (2)
Masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang
menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang
3
berakibat merugikan masyarakat, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Dan pada pasal 39 UU ITE dijelaskan bahwa:

(1) Gugatan perdata dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (2)
Selain penyelesaian gugatan perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1), para pihak dapat
menyelesaikan sengketa melalui arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif
4
lainnya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Pada kasus Sony A.K sesuai dengan pasal 23 ayat 2 dinyatakan secara tegas bahwa
Pemilikan dan penggunaan Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada iktikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan
tidak melanggar hak Orang lain maka, kemiripan nama domian bukanlah satu satunya
ukuran untuk men-klaim bahwa terjadi suatu pelanggaran hukum, tetapi harus pula dilihat

3 UU No. 11 Tahun 2008 Pasal 38


4 UU No. 11 Tahun 2008 Pasal 39
pula bagaimana penggunaan domain tersebut.5 Sedangkan pada kasus Sony A.K ini dapat
dibuktikan bahwa nama domainnya tidak ada konten tertentu yang berisikan konten yang
berusaha mengubah pencitraan mengenai Sony.com. Sony AK Knowledge Center
mengandung kata SONY tapi Sony AK Knowledge Center bukanlah MEREK,Sony AK
Knowledge Center tidak berbadan hukum dan Sony tidak ada niat untuk membuat badan
hukum atas label tersebut, Sony AK Knowledge Center juga bukan organisasi dan tidak
mendapat profit apa-apa. Sony mengisi sony-ak.com dengan tulisan-tulisan pribadi, karena
kompetensinya di bidang IT dan hobinya menulis, dan menyukai knowledge sharing maka ia
menulis segala sesuatu mengenai IT pada domain tersebut. 6 Dari pihak Sony AK juga
menuliskan pada websidenya Website ini dikelola oleh Sony Arianto Kurniawan dan tidak
memiliki hubungan apapun dengan Sony Corporation maupun perusahaan afiliasinya.
Sehingga dapat dibuktikan bahwa Sony AK memilki itikad baik dalam pembuatan situs
tersebut dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Sony Corporation dan tidak ada
perbuatan dari Sony AK yang sekiranya dapat menimbulkan kerugian harta materil dan
imateriil bagi pihak Sony Corporation. Sehingga berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Sony AK tidak dapat dipersalahkan.

Analisis Kasus Sony-AK vs Sony Corp berdasarkan pada Undang-Undang No.


15 Tahun 2001 tentang Merek.
Perlu kita ketahui terlebih dahulu, apakah yang dimaksud dengan merek. Berdasarkan
UU No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 1 ayat 1, merek adalah suatu tanda yang berupa
gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-
unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan
barang dan jasa. Perlindungan hukum hak atas merek di Indonesia yang terdapat dalam
undang-undang merupakan suatu upaya untuk mencegah adanya pelanggaran yang dilakukan
oleh oknum-oknum yang beritikad tidak baik untuk merugikan pihak-pihak tertentu dalam
kegiatan bisnisnya. Maka dari itu, perlindungan hak atas merek dapat diperoleh dengan
dilakukannya pendaftaraan terhadap merek tersebut dimana pendaftaran merek menggunakan
sistem konstitutif (first to file system) yang berarti hak atas merek hanya dapat diberikan
kepada pendaftar yang terlebih dahulu mendaftarkannya. Jika terjadi pelanggaran terhadap
suatu merek dan/atau merek terkenal, pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan

5 Saepudin, Sony Corp vs Sony AK, https://saepudinonline.wordpress.com/2010/11/09/sony-corp-vs-sony-ak/,


pada tanggal 19 oktober 2016 pukul 12.15
6Wicak Hidayat, 10 Poin Balasan Sony AK ke Sony Corp,
http://inet.detik.com/read/2010/03/12/151950/1317230/399/10-poin-balasan-sony-ak-ke-sony-corp, pada 19
Oktober 2016 pukul 13.00
terhadap orang maupun badan hukum yang secara tanpa hak telah menggunakan merek
tersebut untuk barang maupun jasa yang dapat mempunyai persamaan pada pokoknya atau
keseluruhannya dengan merek terkenal untuk barang maupun jasa sejenis, ketentuan merek
terkenal dilihat dengan memperhatikan pengetahuan umum masyarakat mengenai merek
tersebut di dalam bidang usaha yang bersangkutan, dan juga dapat dilihat dari reputasi merek
terkenal tersebut yang diperoleh melalui promosi yang dapat dilakukan melalui iklan atau
pemasaran produk secara besar- besaran dan investasi di beberapa Negara di dunia yang
dilakukan oleh pemiliknya, dan juga disertakan bukti untuk pendaftaran merek tersebut
dibeberapa negara.7
Dalam perkembangannya, nama domain digunakan dalam jaringan internet dan telah
memunculkan pelanggaran ketika salah satu pihak yang tidak memiliki keterkaitan dengan
sebuah merek yang kemudian mendaftarkan merek tersebut menjadi sebuah nama domain.
Jika kita menganggap nama domain termasuk dalam merek, maka segala sesuatu yang
berhubungan dengan nama domain tersebut dapat diselesaikan dengan UU Merek walaupun
selama ini tidak disebutkan secara eksplisit dalam pengaturan tentang merek bahwa nama
domain merupakan bagian dari merek. Dengan begitu, untuk memberikan perlindungan hak
atas merek, dalam UU Merek dipertegas dengan adanya hak gugat kepada pemegang merek,
dan adanya sanksi pidana bagi orang yang melanggar hak tersebut, sebagaimana yang diatur
dalam pasal 76, pasal 90, dan pasal 91 UU Merek.
Pada Pasal 76 UU Merek disebutkan bahwa :
(1) Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara
tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau
keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis berupa :
a. gugatan ganti rugi, dan/atau
b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan Merek tersebut.
(2) Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Pengadilan Niaga.8
Pada Pasal 90 UU Merek disebutkan bahwa :
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada
keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis

7 Budi Agus Riswandi, Hukum Republika Mengenai Cybersquatting, Domain Name


dan Hukum
Merek di Indonesia, Yogyakarta, 2004, Hlm.205.
8 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Pasal 76
yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).9
Pada Pasal 91 UU Merek disebutkan bahwa :
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada pokoknya
dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi
dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).10
Dengan demikian, untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran merek dalam domain
name sony-ak.com, maka seluruh syarat berikut harus dipenuhi :
a. Ada bukti bahwa Sony Corp memiliki hak yang sah atas merek terkait, yakni melalui
pendaftaran atau pemakaian pertama, tanggal pendaftaran atau pemakaian pertama ini
harus lebih dulu dari tanggal efektif pendaftara domain name tersebut.
b. Nama domain tersebut harus memiliki persamaan keseluruhan atau pada pokoknya
terhadap merek pihak yang merasa telah dirugikan.
c. Bagi pihak pendaftar nama domain atau registrant tidak cuma sekedar mendaftarkan
nama domain tersebut melainkan juga menggunakannya untuk memperdagangkan
barang maupun jasa yang sejenis. Namun apabila untuk merek terkenal, unsur
persamaan jenis barang maupun jasanya dapat dikesampingkan terlebih dahulu.11
d. Pihak registrant nama domain telah mendaftarkan dan memakai nama domain
tersebut dengan itikad yang buruk.
Jika Sony Corp sudah memenuhi kewajibannya dengan mendaftarkan mereknya di Daftar
Untuk Merek, maka kewajiban lain yang harus dipenuhi adalah membuktikan bahwa Sony
AK memakai jasa yang sama dengan jasa yang didaftarkan oleh Sony Corp dengan merek
Sony.
Dengan demikian, Sony AK tidak dapat dipersalahkan telah melakukan pelanggaran
merek terhadap nama domainnya karena tidak memenuhi syarat-syarat yang dijelaskan
diatas. Terdapat perbedaan konten antara nama domain dengan merek yang merasa dirugikan.
Sony Arianto Kurniawan sebagai pemilik dari blog dari Sony-ak.com mengisi halaman-
halaman blognya dengan tulisan-tulisan pribadinya karena hobinya menulis dan
kegemarannya terhadap dunia IT dan kesukaannya terhadap knowledge sharing. Selain itu,

9 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Pasal 90


10 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Pasal 91
11 Shanti Rachmadsyah, perlindungan nama domain dalam tinjauan UU Merek,
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6558/kasus-nama-domain diunduh pada tanggal 19 Oktober
2016 pukul 18.30
Situs sony-ak.com didaftarkan dengan itikad baik dimana ia membubuhi situs tersebut
dengan label Sony AK Knowledge Center karena ia gunakan sebagai media knowledge
sharing pribadi dengan semua pembaca media online di seluruh dunia, Sony AK Knowledge
Center memang mengandung kata SONY tetapi Sony AK Knowledge Center tersebut
bukanlah sebuah merek.
Analisis Kasus Sony-AK vs Sony Corp berdasarkan pada Kebijakan PANDI
(Pengelola Nama Domain Indonesia)

PANDI merupakan organisasi nirlaba yang dibentuk pada 29 Desember 2006 oleh
Pemerintah Republik Indonesia bersama komunitas internet Indonesia. PANDI dibentuk
untuk mengelola nama domain .ID secara profesional, akuntabel, dan transparan sesuai
dengan kaidah hukum Republik Indonesia. Pada 29 Juni 2007, Departemen Kominfo RI
secara resmi menyerahkan pengelolaan nama domain .ID kepada PANDI. Penyerahan ini
tertuang dalam Berita Acara Penyerahan Pengelolaan Domain .id no. BA-
343/DJAT/MKOMINFO/6/2007 dari Dirjen Aptel Kominfo Republik Indonesia.12

Jenis Perselisihan Nama Domain yang diatur dalam PANDI adalah :

1. Perselisihan Nama Domain yang terkait dengan Merek

Perselisihan Nama Domain terkait Merek diindikasikan dengan hal hal sebagai
berikut :

a. Nama Domain identik/atau memiliki kemiripan dengan merek yang dimiliki oleh
pemohon.

b. Termohon tidak memiliki hak dan/atau kepentingan sah atas nama Domain
tersebut.

c. Nama Domain telah didaftarkan atau dipergunakan oleh Termohon dengan itikad
tidak baik yang dapat ditunjukan oleh kondisi kondisi berikut ini, khususnya
termasuk namun tidak terbatas pada :

- Nama Domain didaftarkan dengan tujuan untuk mencegah pemilik


merek/layanan menggunakan nama domain dimaksud; atau

12PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia), Tentang Pandi, https://pandi.id/profil/tentang-pandi/, pada 19


oktober 2016 pukul 16.30
- Nama Domain didaftarkan dengan tujuan untuk mengganggu/merusak
kegiatan usaha dari lawan bisnis; atau

- Pendaftaran dan penggunaan nama domain dimaksudkan secara sengaja untuk


menarik pengguna internet ke situs-nya atau ke lokasi online lainnya, untuk
keuntungan materiil/finansiil yang tidak sah; atau

- Pendaftaran nama domain dengan maksut untuk dijual, disewakan, atau


ditransfer kepada pemohon sebagai pemilik merek/layanan atau kepada lawan
bisnis pemohon untuk suatu keuntungan materiil/finansiil.

Pemohon harus membuktikan ketiga dari unsur unsur tersebut terpenuhi.

2. Perselisihan Nama Domain lain.

1. Menyangkut nama

2. Menyangkut kepatutan yang berlaku dalam masyarakat13

Pada kebijakan Pandi diatas untuk menggugat sengketa nama domain dengan merek
pemohon harus membuktikan ketiga poin tersebut diatas. Sedangkan dalam kasus Sony AK,
memang ada kemiripan dengan merek Sony corp namun kata Sony dalam websitenya
merupakan nama dari Sony AK itu sendiri tidak ada sangkut pautnya dengan kata Sony dlm
merek Sony Corp, Sony AK juga menggunakan websitenya untuk sharing pengetahuan sesuai
dengan keahliannya bukan untuk mendapatkan keuntungan (non profit), website tersebut
bukan merupakan badan hukum atau organisasi dan juga tidak mendapatkan keuntungan
apapun dari Sony Corp sehingga tidak berhubungan langsung dengan produk produk Sony
Corp, website tersebut tersebut juga tidak digunakan dengan tujuan untuk
mengganggu/merusak kegiatan usaha dari Sony Corp, nama domain tersebut tidak
menimbulkan kerugian yang berarti bagi Sony Corp, nama domain tersebut juga tidak
ditujukan untuk mendompleng reputasi Sony Corp melainkan hanya kebetulan dalam
kesamaan nama sehingga dapat dibuktikan bahwa Sony AK tidak memiliki itikad tidak baik.

Sehingga Sony AK tiak memenuhi ketiga unsur dalam kebijakan PANDI mengenai
sengketa Nama Domain dan Merek. Maka menurut kebijakan penyelesaian perselisihan
pelisihan nama domain Sony AK tidak dapat dipersalahkan.

13 Kebijakan Penyelesaian Perselisihan Perselisihan Nama Domain,


https://pandi.id/konten/uploads/2016/09/Kebijakan_Penyelesaian_Perselisihan_Nama_Domain_20160503_v4
.0.pdf, pada 19 oktober 2016 pada 17.00
Analisis Kasus Sony-AK vs Sony Corp berdasarkan pada UDRP (The Uniform
Domain Name Dispute Resolution Policy)
Langkah Sony Corp yang mensomasi blogger Indonesia karena menggunakan embel-
embel nama 'Sony' di situsnya dinilai akan percuma. Sebab, alasan yang diajukan dianggap
kurang kuat. Demikian penilaian Sonny Zulhuda, pengamat Cyberlaw dan ICT dari Malaysia
Multimedia University. Ia mengatakan, biasanya dalam kasus-kasus seperti ini aturannya
sudah cukup jelas dan mapan.
"Yaitu berdasarkan UDRP (Uniform Domain name Dispute Resolution Procedure) yang
sudah diadopsi oleh WIPO, ICANN dan badan-badan arbitrase internasional dan nasional,
termasuk di Malaysia," jelasnya kepada detikINET, Jumat (12/3/2010). Menurut UDRP,
lanjutnya, dalam kasus seperti ini si penuntut/pengadu harus membuktikan 3 kriteria sebagai
berikut:

1. Ada kesamaan nama ('Identical' or 'confusingly similar'), untuk kasus ini antara Sony dan
Sony-AK bisa dikatakan mirip atau 'confusingly similar'

2. Pihak pengguna yaitu yang diadukan tidak memiliki 'legitimate interest' atau kepentingan
yang sah. "Untuk kasus ini jelas-jelas yang diadukan bernama Sony A. Kurniawan. Ini berarti
beliau memiliki kepentingan sah terhadap nama itu,karena menggunakan namanya sendiri.
Yang berarti faktor kedua ini mungkin tidak terpenuhi," tukas Sonny.

3. Pihak pengguna atau yang diadukan mendaftarkan nama tersebut untuk alasan
buruk/merugikan ('bad faith'). Misalnya dalam beberapa kasus sebelum ini, nama itu
didaftarkan untuk sengaja mengelirukan pihak pengadu atau misalnya didaftarkan tapi tidak
dipakai, hanya sekedar untuk di-booking agar bisa dilego ke orang lain. "Di sini domain
tersebut dipakai oleh beliau untuk artikel-artikel pribadinya yang tidak secara langsung
berakibat 'membajak' bisnis Sony Corp. Jadi, faktor ini kelihatannya tidak terpenuhi,"
lanjutnya.

"Menurut saya, somasi ini akan sia-sia karena pihak pengadu tidak bisa membuktikan dua
dari tiga faktor di atas," ia menandaskan.14

Dalam UDRP dijelaskan bahwa pihak penggugat harus membuktikan itikad buruk
dari si pendaftar, termasuk penggunaan nama domain. Selain itu, perlu dibuktikan bahwa

14Pengamat-Ancaman Sony Corp akan Sia-sia,


http://inet.detik.com/read/2010/03/12/154057/1317248/399/pengamat-ancaman-sony-corp-akan-sia-sia,
diakses pada tanggal 19 Oktober 2016 pukul 16.20
tergugat tidak memiliki legitimate interest dalam penggunaan nama tersebut.Dalam
penggunaan merek dagang misalnya, berdasarkan UDRP tersebut biasanya pemilik sebuah
merek dagang akan memperoleh nama domain yang telah didaftarkan oleh orang lain untuk
keperluan komersil.

Kemudian pada prakteknya dengan satu pembuktian atas itikad tidak baik dari
pendaftar, pemilik merek dagang tersebut bisa menuntut pengembalian nama domain yang
berada di bawah penguasan orang lain. Dalam prakteknya, kemudian dikenal sebagai reverse
domain name hijacking. Secara praktis digambarkan bahwa pemilik merek dagang tersebut
cukup membuktikan itikad buruk dengan mendasarkan pada ketentuan dalam UDRP bahwa si
pendaftar memang tidak memiliki legitimate interest.15

According to paragraph 4(a) of the UDRP Policy , the UDRP Administrative


procedureis only available for disputes concering an alleged abusive regristration of a domain
name : that is which meet the following criteria :

1. The domain name registered by the domain name registrant is identical or confusingly
similar to a trademark or service mark in which the complainant ( the person or entity
bringing the complaint) has right; and

2. The domain name registrant has no rights or legitimate interest in respect of the
domain name in question;and

16
3. The domain name has been registered and is being used in bad faith.

Mekanisme penyelesaian sengketa atas Nama Domain yang digariskan oleh ICANN
(Internet Corporation for Assigned Names and Numbers) pada hakekatnya adalah
dikembalikan kepada para pihak itu sendiri, untuk menempuh alternatif penyelesaian
sengketa yang dipilih, yakni dapat diselesaikan dengan musyawarah untuk mufakat (resolved
by the parties themselves), mekanisme peradilan umum (the courts) atau Arbitrasi yang di-
approved oleh ICANNs (approved dispute resolution provider) atau lembaga-lembaga
pengambil keputusan keadilan lain yang dikenal secara hukum.

15Penyelesaian Sengketa Nama Domain dengan UDRP Relatif Lebih Murah,


http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol5161/penyelesaian-sengketa-nama-domain-dengan-udrp-
relatif-lebih-murah diakses pada tanggal 19 Oktober 2016 pukul 17.00
16 http://www.wipo.int/amc/en/domains/guide/ diakses pada tanggal 19 Oktober 17.35
Tahapan dalam UDRP Prosedur Administrasi adalah :

(1) Pengajuan Pengaduan dengan penyedia layanan penyelesaian sengketa ICANN-


terakreditasi dipilih oleh Pemohon, seperti WIPO Pusat;

(2) Pengajuan Respon oleh orang atau badan terhadap siapa Keluhan itu dibuat;

(3) Penunjukan oleh penyedia penyelesaian sengketa layanan yang dipilih dari Panel
Administrasi satu atau tiga orang yang akan memutuskan sengketa;

(4) Penerbitan keputusan Panel Administrasi dan pemberitahuan dari semua pihak terkait;
dan

(5) Pelaksanaan keputusan Panel Administrasi ini oleh registrar (s) yang bersangkutan harus
ada keputusan bahwa nama domain (s) yang bersangkutan dibatalkan atau dialihkan.
Prosedur Administrasi biasanya harus diselesaikan dalam waktu 60 hari dari tanggal WIPO
Pusat menerima Pengaduan17.

17 Ibid