Anda di halaman 1dari 17

TATA CARA DAN AKIBAT HUKUM PENGANGKATAN ANAK

DALAM MASYARAKAT HUKUM ADAT BATAK TOBA


ANGGOTA KELOMPOK

Nama & NIM

Adi Setya Landya Desta 15/377576/HK/20308

Harumi Rizkita Ayuningrum 15/377625/HK/20357

Imelda Chandra 15/377629/HK/20361

Indira Puspitasari Fathika 15/377630/HK/20362

Dinda Putri Aprilia 15/382491/HK/20558

Robiatul Adawiyah 15/382589/HK/20656


PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG RUMUSAN MASALAH

Pengangkatan anak di Indoneisa pada umumnya


dilaksanakan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan 1. Bagaimana prosedur pelaksanaan
berkembang dalam masyarakat. Seperti yang terjadi di Suku pengangkatan anak menurut hukum
Batak, dimana pengangkatan anak dilaksanakan sesuai adat Batak?
dengan hukum adat yang ada. Dalam masyarakat Batak, 2. Bagaimana akibat hukum dari
pengangkatan anak bisa dilakukan sejak anak tersebut lahir pengangkatan anak dalam masyarakat
maupun ketika akan menikah. Hal ini disebabkan karena Batak ?
masyarakat Batak Toba menganggap anak sebagai harta yang
paling berharga dalam hidupnya atau yang sering disebut
dengan Hagabeon.
TUJUAN PENELITIAN MANFAAT

Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan


Manfaat Teoritis
pengangkatan anak menurut hukum adat
Manfaat Praktis
Batak.
Untuk mengetahui akibat hukum dari
pengangkatan anak dalam masyarakat
Batak.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum atas Anak Angkat dalam Masyarakat Hukum Adat Batak Toba

Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang
sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut
kedalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan.

Dalam masyarakat Batak Toba, anak angkat disebut juga dengan Anak na niain. Anak na niain berasal dari
kata ain yang artinya angkat, yang menurut kamus Batak Toba-Indonesia karangan J. Warneck, anak na
niain berarti anak angkat, sedangkan mangain artinya mengangkat seseorang menjadi anak sendiri.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Umum atas Pengangkatan Anak dalam Masyarakat Hukum Adat Batak Toba

Adapun kedudukan anak angkat dalam keluarga menurut Hilman Hadikusuma yakni, Selain pengurusan
dan perwalian anak dimaksud bagi keluarga-keluarga yang mempunyai anak, apalagi tidak mempunyai anak
dapat melakukan adopsi, yaitu pengangkatan anak berdasarkan adat kebiasaan dengan mengutamakan
kepentingan kesejahteraan anak, pengangkatan anak dimaksud tidak memutuskan hubungan darah antara anak
dan orang tua kandungnya berdasarkan hukum berlaku bagi anak yang bersangkutan.

Dalam masyarakat Batak Toba, terdapat dua jenis adopsi atau pengangkatan anak, yaitu pertama, adopsi
secara umum, yaitu adopsi yang sifatnya formal dan bukan merupakan peristiwa hukum, oleh karena itu
perbuatan tersebut tidak mempunyai akibat hukum dan yang kedua ialah adopsi secara khusus, yaitu adopsi yang
merupakan peristiwa hukum serta mempunyai akibat hukum.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


PEMBAHASAN

Tiga Prinsip utama dalam keluarga pada Syarat Pengangkatan Anak pada
Masyarakat Batak Toba : Masyarakat Batak Toba :

Hagabeon Harus didahulukan berasal dari


lingkungan keluarga atau kerabat
PROSEDUR orang yang mengangkat
pengankatan
Hamoraon ANAK

Terang ( dihadapan Dalihan Na


Tolu)
Hasangabon

Boleh dari panti asuhan atau


rumah sakit

Bab I Bab II Bab III Bab IV


Jenis Pengangkatan Anak :

PROSEDUR
Dari Lahir
pengankatan Pengangkatan yang sering dilakukan
ANAK adalah pengangkatan anak perempuan

Ketika dewasa
Biasanya dilakukan apabila si anak akan
menikah

Prosedur Pengangkatan Anak :

Tulang/Paman dari
Pembicaraan Keluarga Mangain/Paranakhon Ayah Mengatakan Sah Keluarga ibu
mengatakan sah

Bab I Bab II Bab III Bab IV


? APA PERAN TULANG/PAMAN Pasal 19 PP 54 Tahun 2009 Tentang Pengangkatan Anak
Peran Tulang dalam hal ini sangat penting Pengangkatan anak secara adat kebiasaan
karena ia merupakan perwakilan untuk dilakukan sesuai dengan tata cara yang
memberikan berkat dalam pihak keluarga berlaku di dalam masyarakat yang
perempuan (Ibu). hal ini, dikenal dengan
bersangkutan.
istilah Hula-hula.
PROSEDUR
pengankatan
Kedudukan hula-hula sangat penting karena pengkatan anak secara adat saja sudah sah,
ANAK
Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. namun dalam kebiasaan yang berkembang
Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. kemudian pada masyarakat Adat Batak, mereka
Keturunan diperoleh dari seorang istri yang yang melakukan pengangkatan anak pada zaman
berasal dari hulahula. sekarang juga melakukan pendaftaran
Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak pengangkaan anak sesuai Peraturan Pemerintah
ada keturunan. Nomor 54 tahun 2007.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


PP No 54 Tahun 2000

Pasal 12
( Syarat Anak Yang
Diangkat )

PROSEDUR
pengankatan
ANAK

Pasal 13
( Syarat menjadi calon
orang tua angkat )

Bab I Bab II Bab III Bab IV


AKIBAT HUKUM
PENGANGKATAN ANAK

Adanya pengangkatan
Kedudukan yang Anak angkat tidak
anak menghapus
dipersamakan dengan berhak mewaris dari
hubungan anak angkat
anak kandung dari harta peninggalan
dengan orangtua asli /
orangtua angkatnya orangtua biologisnya
orangtua biolog

Bab I Bab II Bab III Bab IV


AKIBAT HUKUM
PENGANGKATAN ANAK

setiap anak angkat Apabila anak


yang masuk dalam perempuan tersebut
seluruh harta
suatu marga maka menikah maka akan
warisan jatuh ke
akan utuh menjadi putus tali marga
anak angkat laki-laki
warga adat kerabat asal-nya dan masuk
tersebut. ke marga suami.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


AKIBAT HUKUM
PENGANGKATAN ANAK

Kedudukan anak
bukan sebagai ahli
angkat perempuan
waris dari orang tua
adalah sama dengan
yang
anak kandung
mengangkatnya
perempuan

Pengangkatan Anak saat dewasa

Bab I Bab II Bab III Bab IV


KESIMPULAN

Syarat pengangkatan anak yaitu haruslah yang diutamakan berasal dari lingkungan
keluarga atau kerabat dekat, dilakukan secara terang dihadapan dalihan na to lu dan
pemuka pemuka adat. Proses yang wajib dilakukan adalah pembicaraan keluarga.
Apabila disetujui, maka akan ada prosesi adat yaitu mangain atau paranakhon. Kemudian
diumumkan bahwa mulai saat itu anak yang diangkat (anak niain) akan dianggap anak
dari orang yang mengangkatnya, terutama dalam hal yang berkaitan dengan suksesi (hak
menggantikan) dan warisan. Dalam pihak Ayah, sang Ayah langsung menyatakan sah dan
mewakili keluarga laki-laki. Dalam pihak Ibu setelah dilakukan pengesahan anak tersebut,
akan dipanggil pihak keluarga Ibu. Biasanya yang mewakili ialah Paman (Tulang) dan ia
menyatakan sah pada keluarga perempuan.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


KESIMPULAN
Konsekuensi dari adanya pengkatan anak adalah anak tersebut memiliki kedudukan yang
dipersamakan dengan anak kandung dari orang tua angkatnya. Hanya saja, terdapat sedikit
perbedaan terkait pembagian harta warisan bagi anak angkat yang di angkat sejak lahir dengan
anak angkat yang diangkat saat dewasa. Untuk anak angkat yang diangkat sejak lahir memiliki
hak yang lebih bulat atau lebih utuh dalam mendapatkan bagian waris dari harta orang tua
angkatnya tersebut
Konsekuensi lebih lanjut akibat putusnya hubungan orang tua biologis dan anak angkat adalah anak angkat
tidak berhak mewaris dari harta peninggalan orang tua biologisnya.

konsekuensi dalam pengangkataan anak laki-laki, yakni seluruh harta warisan jatuh ke anak
angkat laki-laki tersebut dan anak kandung perempuan tidak mendapat bagian harta warisan.
Sebab dari itu, dalam praktik yang banyak di angkat menjadi anak ialah perempuan karena
menimbang konsekuensi yang ada.

Bab I Bab II Bab III Bab IV


REKOMENDASI

Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan pengangkatan anak dalam suatu masyarakat adat

Masyarakat baik adat maupun bukan adat, hendaknya mematuhi peraturan yang ada, walaupun
telah terlaksananya prosesi adat dalam pengangkatan anak,

Bab I Bab II Bab III Bab IV


DAFTAR PUSTAKA
Hadikusuma, Hilman, 1987, Hukum Kekerabatan Adat, PT Sudiyat, Imam, 2010, Asas Asas Hukum
Citra Aditya Bakti, Jakarta. Adat Bekal Pengantar, Liberty, Yogyakarta.
__________, 1977, Hukum Perkawinan Adat dengan Tafal, Bastian, 1989, Pengangkatan Anak
Adat Istiadat dan Upacara Adatnya, Alumni, Bandung. Menurut Hukum Adat Serta Akibat
__________, 1990, Hukum Perkawinan Adat, Citra Aditya Akibatnya Hukumnya di Kemudian Hari,
Bakti, Bandung. Rajawali Pers, Jakarta.
__________, 1993, Hukum Waris Adat, Citra Aditya Bakti, Vergouwen, J.C., 2003, Masyarakat dan
Bandung. Hukum Adat Batak Toba, Lkis, Bantul.
Meliala, Djaja S, 1982, Pengangkatan Anak (Adopsi) di Yaswariman, 2013, Hukum Keluarga, Raja
Indonesia, Tarsito, Bandung. Grafindo, Jakarta.
Sihombing, T.M., 1986, Filsafat Batak, Balai Pustaka, Zaini, Muderis, 2002, Adopsi Suatu Tinjauan
Jakarta. Dari Tiga Sistem Hukum, Sinar Grafika,
Sitanggang, J.P., 2010, Raja Napagos, Jala Permata Jakarta.
Aksara, Jakarta. Joosten, P. Leo, 2008, Kamus Batak Toba-
Soekanto, Soerjono dan Soleman B. Taneko, 2003, Hukum Indonesia, Bina Medina Perintis, Medan.
Adat Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Soemitro, Setyowati dan Irma, 1999, Aspek Hukum
Perlindungan Anak, Bumi Aksara, Jakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Simbolon, C. J., & Siregar, R. H, 2014, Nilai Hagabeon Nadya Rahmayanti, Agung Basuki Prasetyo dan
dan Upaya Memperoleh Keturunan pada Pasangan Triyono, 2014, Kedudukan Anak Angkat
Suku Batak Toba yang Infertil, Psikologia, Vol. 9, Perempuan Dalam Hukum Waris Adat
No. 1. Masyarakat Hukum Adat Karo Desa Sugihen
Christina Juliana Simbolon dan Rodiatul Hasanah Siregar, Kecamatan Juhar Kabupaten Karo,
2014, Nilai Hagabeon dan Upaya Memperoleh Diponegoro Law Jurnal, vol. 5 no. 4
Keturunan pada Pasangan Suku Batak Toba yang Surjanti, Akibat Hukum dan Sanksi Pidana
Infertil, Psikologia, Vol. 9, No. 1. Pengangkatan Anak Secara Ilegal, Jurnal
Yopita Arihta, 2014, Kedudukan Anak Angkat Dalam Yustitiabelen, hal. 11
Pewarisan Menurut Hukum Adat Batak Karo di Desa
Ajibuhara Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Tanah
Karo, JOM Fakultas Hukum, vol. 2, no. 1.