Anda di halaman 1dari 17

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa September 2016

FKIK Universitas Tadulako


Rumah Sakit Daerah Madani

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA TAK TERINCI

Nama : Nur Safriyanti


Stambuk : N 111 16 037
Pembimbing Klinik : dr. Nyoman Sumiati, M. Biomedik
Sp.JK

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016
Laporan Kasus
Identitas Pasien
Nama : Ny. K
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 35 Tahun
Alamat : Malakosa, Parigi
Status pernikahan : Janda
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Tanggal pemeriksaan : 02 September 2016

I. Riwayat Penyakit
Anamnesis (Autoanamnesis):
a. Keluhan Utama : Gelisah, mengamuk,
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Keluhan dan gejala:
- Pasien datang dibawa oleh ibu pasien karena mengalami gelisah,
mengamuk, berbicara sendiri dan susah tidur kurang lebih satu
minggu yang lalu. Pasien seringkali mendengar bisikan disalah satu
telinganya yaitu telinga kiri. Pasien juga kadang melihat ada sosok
keluarganya yang berdiri disekitar pasien. Ia juga merasa kepalanya
berlubang karena dibelah dan ada tali yang mengikat kepalanya dari
langit, tangan kanannya seperti terkena pacul.
- Pada awalnya pasien menyaksikan ada seseorang yang sedang
diobati oleh dukun dengan memberikan segelas air, namun tiba-tiba
pasien mengatakan bahwa jangan meminum air tersebut, itu bohong,
hanya dokter yang mampu mengobati. Semenjak itu pasien kembali
sering berbicara sendiri dan kadang mengamuk sehingga keluarga
pasien membawanya ke rumah sakit.

1
- Pasien pernah di rawat di RSD Madani dengan keluhan yang sama
pada tahun 2014, pasien mendengar ada bisikan-bisikan yang
mengejar pasien, sehingga pasien pernah berjalan kaki dari malakosa
sampai ke Poso. Setelah memperlihatkan gejala seperti itu respon
keluarga belum langsung membawanya ke rumah sakit. Sampai
keluarga merasa keadaan pasien menggangggu lingkungan lalu
kemudian dibawa ke rumah sakit. Pasien memperoleh pengobatan
selama di rumah sakit. Setalah keadaan membaik pasien kembali
datang pada tahun 2015 pasien dua kali masuk rumah sakit, dan
paada tahun 2016 kembali masuk dengan keluhan yang sama. Satu
tahun terakhir pasien mengalami putus obat.

Hendaya/disfungsi :
Hendaya Sosial (+)
Hendaya Pekerjaan (+)
Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (+)
Faktor stresor psikososial :
Saat ini faktor stresor psikososial yang mempengaruhi pasien adalah
suami pasien yang masih dicintainya, namun sudah cerai pada tahun 2014,
da nada kabar bahwa ia telah memiliki wanita lain.

Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan


psikis sebelumnya.
Pada tahun 2014 dan 2015 pasien pernah dirawat di RSD Madani
dengan keluhan yang sama. Berupa adanya bisikan-bisikan dari seseorang
dan melihat adanya sosok keluarganya disekitar pasien.

c. Riwayat Kehidupan Sebelumnya


Riwayat Penyakit Dahulu :
- Pasien tidak pernah mengalami trauma, kejang dan sakit berat.

2
Riwayat gangguan psikiatri
- Pasien pernah mengalami gangguan psikiatri sebelumnya, tepatnya
pada tahun 2014 dan 2015.
Riwayat penggunaan zat psikoaktif
- Pasien tidak pernah mengonsumsi alcohol, obat-obatan ataupun rokok.

d. Riwayat Kehidupan pribadi


Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien dilahirkan dalam kondisi normal di rumah dengan bantuan
dukun beranak. Tidak ada gangguan atau penyakit yang diderita oleh
ibunya saat mengandung hingga melahirkan beliau. Pasien lahir cukup
bulan. Imunisasi tidak dilakukan.

Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)


Pasien mendapatkan ASI dari ibunya, pertumbuhan dan
perkembangan sesuai umur, tidak ada riwayat kejang, trauma atau infeksi
pada masa ini. Pasien mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.

Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)


Pasien tumbuh normal dan bergaul seperti anak-anak biasa. Pasien
tidak mengikuti sekolah TK, masuk SD pada usia 7 tahun dan berhenti
sekolah saat duduk dibangku kelas 3 SD karena pernah mendapat
hukuman berupa dijemur dari gurunya setelah menonton di bioskop
bersama teman-temannya, namun yang mendapat hukuman hanya pasien
sendiri, hal ini menyebabkan bapak kandung pasien memukuli pasien dan
tidak mengizinkan pasien untuk melanjutkan sekolahnya.

3
Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Setelah pasien putus sekolah, pasien selalu menemani bapaknya
untuk mencari ikan dilaut karena bapaknya adalah seorang nelayan. Pasien
merupakan anak yang sangat rajin dan penurut kepada kedua orang tua.
Pasien memiliki hubungan yang baik dengan tetangga dan lingkungan
sekitar.

Masa Dewasa
Pasien menikah pada tahun 2004 dengan seorang pria, setelah 8
tahun menikah pasien belum memiliki anak. Pasien sempat mengalami
keguguan hingga dua kali selama perkawinan. Pada tahun 2014 pasien
berpisah dengna suaminya (cerai). Selama ini pasien selalu bekerja untuk
mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti sandang
dan pangannya. Pekerjaan yang dilakukan oleh pasien beragam, pasien
pernah bekerja untuk membuat kopra, menyabit sawah dan lain-lain.
Mantan suami pasien bekerja sebagai petani, namun mantan suaminya
sering meminta uang kepada pasien, jika tidak diberikan ia marah dan
memukuli pasien beberapa kali.

e. Riwayat kehidupan keluarga


Pasien merupakan anak ke 3 dari 8 bersaudara terdiri dari 1 orang
laki-laki dan 7 orang perempuan. Satu orang laki-laki dan satu orang
perempuan telah meninggal dunia. Pasien mempunyai hubungan yang baik
dengan saudara dan kedua orang tuanya. Tidak ada riwayat penyakit di
dalam keluarga.
Pasien menikah pada usia 23 tahun yakni pada tahun 2004 dan
pisah dengan suaminya pada taun 2012. Hubungan dengan suami kurang
baik karena pasien sering dipukuli oleh suaminya jika tidak diberikan
uang. Hubungan suami dengan keluarga pasien juga kurang baik.

4
f. Situasi Sekarang
Setelah cerai pada tahun 2012 pasien tinggal di rumah kedua orang
tuanya bersama saudara-saudaranya serta keponakan pasien.

g. Persepsi Pasien Tentang Diri Dan Kehidupannya


Pasien merasa perlu mendapatkan pertolongan medis dengan
keluhan yang ia rasakan sekarang.

II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


a. Deskripsi Umum
- Penampilan: cara berpakaian baik, menggunakan kerudung, tampak
sehat dan sesuai umur,
- Kesadaran: composmentis
- Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang
- Pembicaraan: bicara spontan, fasih, gaya bicara monoton
- Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif
b. Keadaan Afektif
- Mood : Sedih
- Afek : Tumpul
- Keserasian : Serasi
- Empati : Tidak dapat diraba/rasakan
c. Fungsi Intelektual (kognitif)
- Taraf Pendidikan, Pengetahuan umum dan kecerdasan : Pengetahuan
umum sesuai dengan tingkat pendidikannya
- Daya konsentrasi : baik
- Orientasi waktu, tempat, dan orang : baik
- Daya ingat jangka panjang baik, menengah dan pendek: baik
- Pikiran abstrak : terganggu
- Bakat kreatif : memasak
- Kemampuan menolong diri sendiri : baik

5
d. Gangguan Persepsi
- Halusinasi : Halusinasi auditori (+) berupa suara ceramah
ditelinga kiri, halusinasi visual (+) berupa sosok keluarga yang muncul
disekitar pasien.
- Ilusi : (-)
- Depersonalisasi : (+)
- Derealisasi : (-)

e. Proses Berpikir
- Bentuk Pikiran : Pikiran tidak realistik
- Arus Pikiran
a. Produktivitas : Meluas
b. Kontinuitas : Asosiasi longgar
c. Hendaya berbahasa : Tidak ada
- Isi Pikiran
a. Preokupasi : ada
b. Gangguan isi pikir : Delusi pasivitas (+) pasien merasa pasrah
terhadap kekuatan dari luar.
f. Pengendalian Impuls
Selama wawancara, impuls pasien dapat di dikendalikan dengan
normal.
g. Daya Nilai
- Norma Sosial : Baik
- Uji Daya Nilai : Baik
- Penilaian Realitas : Kurang
h. Tilikan
Pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi
untuk mencapai perbaikan (derajat tilikan 6)
i. Taraf Dapat Dipercaya:
Dapat dipercaya

6
III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
Pemeriksaan Fisik :
Status Internus
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Denyut Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 37,5C
Pernapasan : 18 kali/menit
Anemis : (-)/(-)
Ikterus : (-)/(-)
Sianosis : (-)/(-)
Thorax
o Inspeksi : Respirasi dada simetris/bilateral
o Palpasi : Massa (-), Pergerakan dada bilateral
o Perkusi : Paru (Sonor), Batas jantung normal, bunyi pekak
o Auskultasi : Paru (Bronkovesikuler) dan Jantung (S1 dan S2,
bunyi tambahan (-)
Abdomen
o Inspeksi : Massa (-), dalam batas normal
o Auskultasi : Peristaltik usus (+)
o Perkusi : Bunyi timpani di 4 kuadran, Pembesaran hepar (-),
lien (-)
o Palpasi : Nyeri tekan (-)
Neurologis
o Kesadaran : Compos mentis dengan GCS 15 (E4V5M6)
o Nervus Cranial : Dalam batas normal
o Refleks Fisiologi : Normal
o Refleks Patologis :-

7
IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
- Pasien datang dibawa oleh ibu pasien karena mengamuk, merasa gelisah,
berbicara sendiri, dan susah tidur.
- Pasien adalah pasien berulang yang pernah dirawat beberapa kali pada
tahu 2014 dan 2015.
- Pasien seringkali mendengar bisikan ceramah ditelinga kiri dan melihat
sosok keluarganya disekitar pasien.
- Perilaku dan aktivitas psikomotor pasien selama wawancara adalah
tenang. Pembicaraan spontan, menjawab sesuai dengan pertanyaan
namun jawaban yang diberikan tidak masuk diakal. Mood terlihat putus
asa, afek datar keserasien serasi. Pada gangguan persepsi didapatkan
adanya halusinasi auditorik (+), halusinasi visual (+) dan pada gangguan
isi pikir didapatkan delusi (+), tilikan derajat VI.

V. DIAGNOSIS MULTIAXIAL
a. Axis I
Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna
berupa halusinasi auditorik dan halusinasi visual dan adanya delusi pasivitas.
Keadaan ini menimbulkan disstress bagi pasien dan keluarganya, serta
menimbulkan disabilitas dalam sosial dan pekerjaan dan dalam menilai
realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan
Jiwa.
Pada pasien ditemukan hendaya dalam menilai realita, sehingga pasien
didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Psikotik.
Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan
neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasi
gangguan medis umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak serta
dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien ini, sehingga
diagnosis gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosa
Gangguan Jiwa Psikotik Non Organik.

8
Dari anamnesis didapatkan gejala umum skizofrenia yaitu adanya
halusinasi dan delusi yang telah berlangsung lebih dari satu bulan,
sehingga berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III, pasien termasuk
kedalam gangguan Skizofrenia Tak Terinci (F20.3).
b. Axis II
Dari anamnesis tidak didapatkan bahwa pasien tanda-tanda gangguan
kepribadian. sehingga dikatakan tidak ada diagnosis Axis II (Z 03.2)
c. Axis III
Tidak ada
d. Axis IV
Masalah dengan Primary Support Group (Keluarga)
e. Aksis V
GAF Scale 70-61 beberapa kesulitan dalam bekerja, namun secara umum
dapat berfungsi cukup baik.

VI. DAFTAR PROBLEM


1. Organobiologik
Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien
memerlukan psikofarmaka.
2. Psikologik
Ditemukan adanya hendaya berupa halusinasi auditorik, halusinai
visual dan delusi pasivitas, sehingga menimbulkan gejala psikis,
sehingga pasien memerlukan psikoterapi.
VII. PROGNOSIS
Dubia at Bonam
- Faktor Pendukung : Kepatuhan mengkonsumsi obat
- Faktor Penghambat : Lingkungan keluarga.

9
VIII. RENCANA TERAPI
a. Farmakoterapi
Antipsikotik atipikal : Risperidon 2 mg, diazepam 5 mg.
b. Psikoterapi
- Terapi perilaku
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali
distorsi kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala
somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan pada
pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.
- Terapi suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-
potensi yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih
bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
c. Terapi psikososial
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya
agar mengerti keadaan pasien dan selalu memberi dukungan sosial
dengan lingkungan yang kondusif untuk membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.

IX. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA


a. Definisi
Bleuler mencetuskan istilah skizorenia, yang menggantikan
demensia prekoks dalam literatur. Ia memilih istilah tersebut untuk
menunjukkan adanya skisme (perpecahan) antara pikiran, emosi, dan
perilaku pada pasien dengan gangguan ini.

b. Etiologi
Etiologi skizofrenia belum pasti. Berdasarkan penelititan biologi,
genetik, fenomologik dinyatakan bahwa skizofrenia merupakan suatu
gangguan atau penyakit.

10
- Model diatesis-stress : menurut model diatesis-stres terhadap
integrasi faktor biologis, psikososial dan lingkungannya, seseorang
mungkin memiliki kerentanan spesifik yang bila diaktifkan oleh
pengaruh yang penuh tekanan, memungkinkan timbulnya gejala
skizofrenia.
- Neurobiologi
Dalam satu decade belakangan, terdapat peningkatan jumlah
penelitian yang mengindikasikan peran patofisiologis area otak
tertentu, termasuk sistem limbic, korteks frontal, serebelum dan
ganglia basalis. Keempat area ini saling terhubung sehingga
disfungsi satu area dapat melibatkan proses patologis primer di
tempat lain.

c. Gejala
Skizofrenia merupakan penyakit kronis. Sebagian kecil dari
kehidupan mereka berada daam kondisi akut dan sebagain besar
penderita berada lebih lama (bertahun-tahun) dalam fase residual yaitu
fase memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama periode
residual, pasien lebih menarik diri dan aneh. Gejala-gejala penyakit
biasanya terlihat jelas yang jelas oleh orang lain. Pemikiran dan
pembicaraan mereka samar-samar sehingga kadang tidak dapat
dimengerti. Penampilan dan kebiasan mereka mengalami kemunduran
serta afek terlihat tumpul.

d. Kriteria diagnostik
Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk
Skizofrenia :
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau
kurang jelas):

11
(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun
isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar
masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil
keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang
lain atau umum mengetahuinya.
(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrah terhadap sesuatu kekuatan dari luar.
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat.
(c) Halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara
berbagai suara yang berbicara).
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh.
(d) Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya
perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam
kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:

12
(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai
baik oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk
tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan
(over- valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.
(b) Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan
(interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang
tidak relevan, atau neologisme;
(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme,
mutisme, dan stupor;
(d) Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang,
dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku
pribadi (personal behaviour),bermanifestasi sebagai hilangnya minat,
hidup tak bertujuan,tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir
(self absorbed atitude), dan penarikan diri secara sosial.
SKIZOFRENIA PARANOID
- Memenuhi kriteria umum untuk diagnostik skizofrenia
- Sebagai tambahan:
o Halusinasi dan/atau waham harus menonjol
Suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal
berupa bunyi pluit, mendengung, bunyi tawa

13
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual
mungkin ada tetapi jarang menonjol
Waham dapat berupa hampir setiap jenis tetapi waham
dikendalikan, dipengaruhi, atau passivity dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling
khas
o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan serta
gejala katatonik secara relative tidak nyata / tidak menonjol.
e. Penatalaksanaan
Farmakoterapi
Pengobatan antipsikotik yang diperkenalkan awal tahun 1950an,
telah merevolusi penanganan skizofrenia. Obat antipsikotik mencakup
dua kelas utama : antagonis reseptor dopamine (klorpromazin,
haloperidol) dan antagonis serotonin dopamine (risperidon dan klozapin).
Oleh karena pasien menunjukan gejala negative yang dominan,
maka dapat diberikan obat antipsikotik atipikal atau generasi kedua, salah
satunya adalah risperidon. Untuk mengatasi susah tidur pasien dapat
diberikan obat golongan benzodiazepine seperti diazepam.
- Risperidon
Risperidon merupakan antipsikotik atipikal yang digunakan untuk
mengatasi sindrom psikosis dengan gejala negatif yang dominan,
yaitu : gangguan perasaan (afek tumpul, respon emosi minimal),
gangguan hubungan sosial (menarik diri, pasif, apatis), gangguan
proses pikir (lambata, terhambat), isi pikiran yang streotip dan tidak
ada inisiatif, perilaku yang sangat terbatas dan cenderung menyendiri
(abulia). Obat antipsikosis atipikal berafinitas terhadap Dopamine
D2 Receptors, dan Serotonin 5 Ht2 Receptors.
- Benzodiazepin
Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepin dimulai
dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respons

14
terapi. Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis
terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. Lama
pengobatan rata-rata adalah 2-6 minggu, dilanjutkan dengan masa
tapering off selama 1-2 minggu. Spektrum klinis benzodiazepin
meliputi efek anti-anxietas, antikonvulsan, anti-insomnia, premedikasi
tindakan operatif.
Diazepam/Chlordiazepoxide : broad spectrum. Dosis anjuran,
oral : 2-3 x 2-5 mg/hari, injeksi : 5-10 mg (im/iv), rectal tube : anak
<10 kg/bb : 5 mg, anak > 10 kg/bb : 10 mg
Nitrazepam/Flurazepam : dosis anti-anxietas dan anti-insomnia
berdekatan (non dose related), lebih efektif sebagai anti-insomnia.
Midazolam : onset cepat dan kerja singkat, sesuai kebutuhan untuk
premedikasi tindakan operatif.
Bromazepam, lorazepam, clobazam : dosis anti-anxietas dan anti-
insomnia berjauhan (dose related), lebih efektif sebagai anti-
anxietas.

Psikoterapi
Dapat diberikan psikoterapi individual, jarang dilakukan terapi
kelompok, karena biasanya mereka sering tidak nyaman atau kurang
mampu bertoleransi dalam terapi kelompok terutama bila pasien yang
beraneka ragam diagnosisnya. Bila akan dilakukan, lebih baik pada saat
pasien dirawat inap, bukan saat rawat jalan.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R (ed). 2001.Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-


III. Jakarta: Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, PT Nuh Jaya
2. Sadock B J, Sadock V A. Kaplan & Sadock. 2010.Buku Ajar Psikiatri Klinis
Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta: EGC
3. Utama H (ed). 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Maslim, R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi Ketiga. Jakarta : FK Unika Atmajaya

16