Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1 LATAR BELAKANG
Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah sakit tidak
tertutup kemungkinan timbul konflik Konflik tersebut dapat terjadi antara tenaga
kesehatan dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun
antar profesi). Hal yang lebih khusus adalah dalam penanganan gawat darurat fase pra-
rumah sakit terlibat pula unsur-unsur masyarakat non-tenaga kesehatan. Untuk mencegah
dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan norma hukum yang mempunyai
tolok ukur masing-masing. Oleh karena itu dalam praktik harus diterapkan dalam
dimensi yang berbeda. Artinya pada saat kita berbicara masalah hukum, tolok ukur
norma hukumlah yang diberlakukan.

I. 2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimanana Aspek Legal Dalam Keperawatan Kegawatdaruratan?

I. 3 TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami Aspek Legal Dalam Keperawatan Kegawatdaruratan
BAB II
PEMBAHASAN

II. 1 PENDERITA GAWAT DARURAT (AMERICAN HOSPITAL ASSOCIATION)


Penderita gawat darurat adalah penderita yang oleh karena suatu penyebab
(penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan anestesi) yang bila tidak segera ditolong akan
mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggal. (Sudjito, 2003).
Kondisi emergency yang sebenarnya (frue emergency). Yaitu setiap kondisi yang
secara klinik memerlukan penanganan medik segera. Kondisi seperti ini baru dapat
ditentukan setelah pasien diperiksa oleh petugas kesehatan yang berwenang. Penderita
gawat darurat ialah penderita yang tiba-tiba berada dalam anggota gerak badannya akan
menjadi cacat, bila tidak mendapat pertolongan secepatnya. Diagnosa yang tepat dan
pertolongan yang benar akan dapat mencegah kematian atau kecatatan (to save life and
limb).
Keterlambatan penanganan dapat membahayakan pasien, mengakibatkan
terjadinya kecacatan atau mengancam kehidupan. Pada Keperawatan Gawat Darurat
diperlukan asuhan keperawatan secara langsung kepada pasien dengan berbagai tatanan
pelayanan kesehatan. Asuhan keperawatan tersebut harus dilaksanakan secara teliti,
cepat, dan tepat agar menjauhkan pasien dari keadaan yang mengancam jiwa maupun
yang menyebabkan kecacatan. Tahap pertama diawali dengan triage, yaitu tindakan
memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk mendapatkan
prioritas penanganan. Penggolongan pasien ini diharapkan dapat membantu tenaga
medis agar dapat memberikan penanganan secara tepat. Tindakan awal dalam
penanganan gawat darurat adalah ABCDE. A yaitu airway management, breathing
management, circulation management, drug management dan EKG management. Hal
hal tersebut harus sangat diperhatikan oleh tenaga medis, dalam hal ini khususnya
perawat.
Dalam keperawatan gawat darurat ini peran perawat yang sangat utama yaitu
Fungsi Independen yang merupakan fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian
asuhan. Fungsi Dependen yang merupakan fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau
sebagian dari profesi lain; Fungsi Kolaboratif yang merupakan kerjasama saling
membantu dalam program kesehatan (Perawat sebagai anggota Tim Kesehatan).
Perawat harus benar-benar menjalankan perannya karena apabila hal ini diabaikan
maka perawat akan banyak menghadapi dilema-dilema etik yang sulit dipertanggung
jawabkan secara hukum.

II. 2 ASPEK LEGAL KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN


Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah sakit tidak
tertutup kemungkinan timbul konflik Konflik tersebut dapat terjadi antara tenaga
kesehatan dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik satu profesi maupun
antar profesi). Hal yang lebih khusus adalah dalam penanganan gawat darurat fase pra-
rumah sakit terlibat pula unsur-unsur masyarakat non-tenaga kesehatan. Untuk
mencegah dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan norma hukum yang
mempunyai tolok ukur masing-masing. Oleh karena itu dalam praktik harus diterapkan
dalam dimensi yang berbeda. Artinya pada saat kita berbicara masalah hukum, tolok
ukur norma hukumlah yang diberlakukan.

UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 73 ayat 1,2,3


o Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain
yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan
adalah dokter.
o Setiap orang dilarang menggunakan alat, metode, atau cara lain dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan ..dst
o Ketentuan sebagaimana ayat 1, 2 tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang
diberi kewenangan oleh peraturan perundangan.
Penjelasan pasal 73 ayat 3 : Tenaga kesehatan yang dimaksud antara
lain bidan dan perawat yang diberi kewenangan untuk melakukan
tindakan medis sesuai dengan peratuan perundang-undangan.

UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


o Pasal 82 tentang pelayanan kesehatan bencana: Pelayanan kesehatan dimaksud
pada ayat (2) : tanggap darurat dan paska bencana; mencakup pelayanan
kegawat daruratan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah
kecacatan lebih lanjut.
o Pasal 83 ayat (1) setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada
bencana harus ditunjukkan untuk penyelamatan nyawa dan mencegah
kecacatan lebih lanjut, dan kepentingan terbaik bagi pasien.
o Ayat (2) Pemerintah menjamin perlindungan hukum bagi setiap orang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Permenkes Nomor 512 Tahun 2007 Tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan
Praktik Kedokteran Antara lain menjelaskan :
o Dokter dan dokter gigi dapat memberikan pelimpahan suatu tindakan
kedokteran kepada perawat, bidan, atau nakes lain secara tertulissesuai
dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki dan dilaksanakan sesuai
ketentuan perundang-undangan.

Permenkes Nomor 148 Tahun 2010 Tentang Izin Penyelenggaraan Praktik


Perawat Antara lain menjelaskan :
o Pasal 2 ayat (1) Perawat dapat menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan
kesehatan
o Ayat (2) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana yang dimaksud ayat (1)
meliputi fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri dan/ praktik
mandiri
o Ayat (3) Perawat yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) berpendidikan minimal Diploma III (DIII) Keperawatan
o Pasal 8 ayat (7) Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan dapat
memberikan obat bebas dan/ obat bebas terbatas.
o Pasal 9 : Perawat dalam melakukan praktik harus sesuai dengan kewenangan
yang dimiliki.

KETENTUAN PIDANA Pasal 190


o Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang
melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang
dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang
dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
o Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
terjadinya kecacatan dan/atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan
kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).
BAB III

PENUTUP

III. 1 SIMPULAN
Gawat darurat atau emergensi merupakan suatu keadaan yang membutuhkan
tindakan segera untuk menanggulangi ancaman terhadap jiwa atau anggota badan
yang timbul secara tiba-tiba. Keterlambatan penanganan dapat membahayakan pasien,
mengakibatkan Keberhasilan tim terjadinya kecacatan atau mengancam kehidupan.
kesehatan dalam menunaikan tugasnya yang kompleks itu bukan saja ditentukan oleh
pengetahuan dan keterampilan mereka, melainkan juga oleh perilaku, etika, dan
moral. Apabila dalam waktu melebihi batas toleransi, sel tidak mendapatkan oksigen
maka akan terjadi kematian sel. Oleh karena itu prinsip menolong, agar tdk terjadi
kematian adalah mengusahakan agar oksigenasi sel terlaksana dengan baik. Untuk
mencegah dan mengatasi konflik biasanya digunakan etika dan norma hukum yang
mempunyai tolok ukur masing-masing yaitu:

UU No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 73 ayat 1,2,3


UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Permenkes Nomor 512 Tahun 2007 Tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan
Praktik Kedokteran
Permenkes Nomor 148 Tahun 2010 Tentang Izin Penyelenggaraan Praktik
Perawat
KETENTUAN PIDANA Pasal 190

III. 2 SARAN
Aspek Legal Keperawatan Kegawatdaruratan sangat penting untuk dipelajari dan
dipahami oleh perawat karena itu merupakan norma hukum yang menjadi pedoman
dalam tindakan kegawatdaruratan yang diambil perawat.
DAFTAR PUSTAKA

Aspek Legal Keperawatan Kegawatdaruratan. 2016. Available at:


https://www.slideshare.net/ElonYunus/aspek-etik-dan-legal-dalam-keperawatan-
gawat-darurat-ppt?next_slideshow=1 Diakses pada: 1 September 2017

Aspek Legal Keperawatan Kegawatdaruratan. 2016. Available at:


https://id.scribd.com/upload-
document?archive_doc=305689133&escape=false&metadata=%7B%22context%
22%3A%22archive%22%2C%22page%22%3A%22read%22%2C%22action%22
%3Afalse%2C%22logged_in%22%3Afalse%2C%22platform%22%3A%22web
%22%7D Diakses pada: 1 September 2017

Aspek Legal Keperawatan Kegawatdaruratan. 2015. Available at:


http://182.253.203.102/balpelkes/aspek-etikolegal-ke-gawat-darurat-an-perawat/
Diakses pada: 1 September 2017

Aspek Legal Keperawatan Kegawatdaruratan. 2016. Available at:


http://karyatulisilmiah.com/aspek-legal-kegawatdaruratan/ Diakses pada: 1
September 2017