0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan10 halaman

Bab II Wiyung

Dokumen ini membahas tentang rencana detail tata ruang (RDTR) untuk unit pengembangan X Wiyung di Kota Surabaya. RDTR ini menjelaskan ketentuan umum yang mencakup definisi istilah, struktur ruang, pola ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian ruang, zona, dan koefisien bangunan. RDTR ini bertujuan untuk merencanakan penataan ruang unit pengembangan secara terperinci sesuai dengan arahan Rencana Tata Ru

Diunggah oleh

Nateq Nouri Oik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
255 tayangan10 halaman

Bab II Wiyung

Dokumen ini membahas tentang rencana detail tata ruang (RDTR) untuk unit pengembangan X Wiyung di Kota Surabaya. RDTR ini menjelaskan ketentuan umum yang mencakup definisi istilah, struktur ruang, pola ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian ruang, zona, dan koefisien bangunan. RDTR ini bertujuan untuk merencanakan penataan ruang unit pengembangan secara terperinci sesuai dengan arahan Rencana Tata Ru

Diunggah oleh

Nateq Nouri Oik
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)

UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG


KOTA SURABAYA

BAB II 6. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu


KETENTUAN UMUM wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung
2.1 Istilah dan Definisi dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
Istilah dan Definisi Dalam pedoman ini yang dimaksud 7. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur
dengan: ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, penyusunan dan pelaksanaan program beserta
dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu pembiayaannya.
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, 8. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan
2. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. peraturan perundang-undangan.
3. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata 9. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan mewujudkan tertib tata ruang.
ruang. 10. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang
4. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan
menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata
5. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan ruang.
sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai 11. Penggunaan Lahan adalah fungsi dominan dengan ketentuan
pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara khusus yang ditetapkan pada suatu kawasan, blok peruntukan,
hierarkis memiliki hubungan fungsional. dan/atau persil.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-1
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

12. Rencana tata ruang wilayah (RTRW) kabupaten/kota adalah rincinya, dalam hal ini RDTR, sesuai arahan atau yang
rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah ditetapkan di dalam RTRW kabupaten/kota yang
kabupaten/kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW bersangkutan, dan memiliki pengertian yang sama dengan
provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan zona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
ruang wilayah kabupaten/kota, rencana struktur ruang wilayah Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota, Penataan Ruang. Dalam hal ini, BWP sama halnya dengan
penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, arahan UP.
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan 16. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub
pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota. BWP adalah bagian dari BWP yang dibatasi dengan batasan
13. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR fisik dan terdiri dari beberapa blok, dan memiliki pengertian
adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah yang sama dengan subzona peruntukan sebagaimana
kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
kabupaten/kota. tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
14. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis 17. Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan
beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan
ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
fungsional. distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan
15. Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disingkat BWP kegiatan ekonomi.
adalah bagian dari kabupaten/kota dan/atau kawasan strategis 18. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota adalah wilayah yang
kabupaten/kota yang akan atau perlu disusun rencana penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-2
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota 23. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian
terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan. yang memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat
19. Kawasan Budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan tinggal yang layak, sehat, aman, dan nyaman.
fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan 24. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur
potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber yang lain.
daya buatan. 25. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya
20. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan oleh batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan, sungai,
fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan ekstra tinggi,
mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. dan pantai, atau yang belum nyata seperti rencana jaringan
21. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang jalan dan rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai
terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai dengan rencana kota, dan memiliki pengertian yang sama
prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud dalam
kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
perdesaan. Penyelenggaraan Penataan Ruang.
22. Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari 26. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan
pemukiman, baik perkotaan maupun pedesaan, yang karakteristik spesifik.
dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum 27. Sub zona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi
sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni. dan karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari
fungsi dan karakteristik pada zona yang bersangkutan.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-3
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

28. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB pembatas ruang, atau jarak bebas minimum dari bidang terluar
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh suatu massa bangunan terhadap lahan yang dikuasai, batas
lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah tepi sungai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana rencana saluran, jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa
tata ruang dan RTBL. gas, dsb (building line).
29. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disingkat KDH 32. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh
bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana sengaja ditanam.
tata ruang dan RTBL. 33. Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH
30. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah ruang terbuka di bagian wilayah perkotaan yang tidak
adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang diperkeras
lantai bangunan gedung dan luas tanah perpetakan/daerah atau yang berupa badan air, maupun kondisi permukaan
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan tertentu yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau berpori.
RTBL. 34. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi yang selanjutnya
31. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB disingkat SUTET adalah saluran tenaga listrik yang
adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat bangunan menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan
terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar saluran air kotor untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat
(riol) sampai batas terluar muka bangunan, berfungsi sebagai beban dengan tegangan di atas 278 kV.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-4
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

35. Saluran Udara Tegangan Menengah yang selanjutnya 40. Kelahiran adalah gambaran mengenai jumlah kelahiran hidup
disingkat SUTM adalah saluran tenaga listrik yang dalam suatu wilayah pada periode waktu tertentu.
menggunakan kawat penghantar di udara yang digunakan 41. Kematian adalah gambaran menenai jumlah penduduk yang
untuk penyaluran tenaga listrik dari pusat pembangkit ke pusat meninggal dunia dalam waktu tertentu.
beban dengan tegangan di atas 6 kV sampai dengan 30 kV. 42. Penataan Bangunan adalah kegiatan pembangunan untuk
36. Simpul (Node) adalah suatu simpul pada daerah strategis yang merencanakan, melaksanakan, memperbaiki,
aktivitasnya diarahkan untuk saling bertemu serta juga dimana mengembangkan atau melestarikan bangunan dan lingkungan
orang akan masuk dan keluar pada tempat yang sama. atau kawasan tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan
37. Jaringan (Linkage) adalah hubungan yang memperhatikan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan
hubungan pergerakan yang memiliki keterkaitan dengan secara optimal yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan
sampul. pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan,
38. Kependudukan adalah hal yang berkaitan dengan jumlah, ciri pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung dan
utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, lingkungan.
kualitas, kondisi, kesejahteraan yang menyangkut politik, 43. Transportasi adalah sebagai perpindahan orang atau barang
ekonomi, sosial, budaya, agama, serta lingkungan penduduk dengan menggunakan kendaraan atau alat lain dari dan ke
tersebut dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang tempat-tempat yang terpisah secara geografis.
terjadi. 44. Jaringan Pergerakan adalah jaringan yang menghubungkan
39. Pertumbuhan Penduduk adalah adalah perubahan jumlah sistem aktifitas melalui pergerakan yang terjadi karena adanya
penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu bangkitan dan tarikan.
dibandingkan waktu sebelumnya

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-5
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

45. Jaringan Air Bersih adalah air yang digunakan untuk 50. Rencana adalah tahap pemrosesan hasil-hasil analisis
keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi persyaratan evaluatif yang telah dilakukan pada tahap analisis, hasil
kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. analisis evaluatif kemudian di analisis menggunakan analisis
46. Sistem Distribusi adalah sistem yang langsung berhubungan preskriptif untuk menghasilkan rencana.
dengan konsumen, yang mempunyai fungsi pokok 51. Survei Primer adalah survei yang dilakukan secara langsung
mendistribusikan air yang telah memenuhi syarat ke seluruh untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan.
daerah pelayanan. 52. Suvei Sekunder adalah survei yang dilakukan secara tidak
47. Drainase adalah serangkaian bangunan air yang berfungsi langsung untuk mendapatkan data dan informasi yang
untuk mengurangi dan/ atau membuang kelebihan air dari diperoleh melalui instansi pemerintah ataupun instansi terkait.
suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan 53. Analisis Deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status
secara optimal. sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu
48. Pengumpulan data adalah suatu tahapan dari peneliti yang sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
digunakan untuk memperoleh suatu informasi agar dalam sekarang.
kebutuhan peneliti tersebut dapat memiliki hubungan antara 54. Analisis evaluatif merupakan metode yang digunakan untuk
peneliti dengan subjek penelitian serta juga sebagai input membandingkan kondisi eksisting dengan tinjauan pustaka.
penyusunan RDTR. 55. Kemampuan Lahan adalah upaya untuk memanfaatkan lahan
49. Analisis adalah suatu tahapan dimana para peneliti (sumberdaya lahan) sesuai dengan potensinya.
menganalisis dari data-data yang telah didapat pada saat 56. Kesesuaian Lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan
tahapan pengumpulan data. untuk penggunaan tertentu.

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-6
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

57. Rawan Bencana adalah mengetahui kawasan-kawasan yang 63. Skala Pelayanan adalah jangkauan pelayanan sarana terhadap
peruntukannya tidak sesuai sehingga menyebabkan kawasan wilayah yang terlayani di lingkungan sarana tersebut.
tersebut menjadi kawasan yang rawan bencana. 64. Level of Service (LoS) adalah mengetahui volume kendaraan
58. Daya Dukung Lingkungan adalah kemampuan lingkungan 65. Bangkitan adalah banyaknya lalu lintas yang ditimbulkan oleh
untuk mendukung peri kemanusiaan dan makhluk hidup suatu zona atau daerah per satuan waktu.
lainnya. 66. Tarikan adalah jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata
59. Pola Permukiman adalah analisis yang digunakan untuk guna lahan atau zona tarikan pergerakan.
mengetahui pola atau bentuk permukiman di wilayah tertentu. 67. Analisis Konten adalah teknik penelitian untuk membuat
60. Kepadatan Bangunana adalah perbandingan antara jumlah inferensiinferensi yang dapat ditiru (replicable).
bangunan yang ada dalam satu daerah dengan luas daerah 68. Analisis Potensi dan Masalah analisis yang merupakan
tersebut. kesimpulan dari beberapa analisis sebelumnya.
61. Amplop Ruang adalah analisis yang digunakan untuk 69. Analsis Preskriptif adalah untuk menganalisis output dari
menganalisis intensitas bangunan (KDB, KLB, dan KDH) analisis evaluatif sehingga dapat menjadi rencana.
serta sempadan (bangunan, sungai, rel kereta api). 70. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara
62. Indeks Sentralitas adalah analisis yang digunakan untuk sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan.
menentukan pusat dan sub pelayanan yang ada dalam suatu 71. Analisis IFAS EFAS merupakan ringkasan atau rumusan
wilayah perencanaan berdasarkan jenis sarana yang ada, faktor-faktor strategis internal dalam matriks Kekuatan
seberapa banyak jumlah sarana, berapa jumlah penduduk yang (Strength) dan Kelemahan (Weakness) dan EFAS adalah
dilayani. ringkasan atau rumusan faktor-faktor strategis eksternal dalam
matriks Kesempatan (Opportunity) dan Ancaman (Threat).

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-7
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

2.2 Kedudukan RDTR dan Peraturan Zonasi


Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15
Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW
kabupaten/kota harus menetapkan bagian dari wilayah
kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah
yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan
atau kawasan strategis kabupaten/kota. Kawasan strategis
kabupaten/kota dapat disusun RDTR apabila merupakan:
a. Kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau
direncanakan menjadi kawasan perkotaan; dan Gambar 2.1 Kedudukan Rencana Detail Tata Ruang dalam
b. Memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR Penataan Ruang Kota
Sumber: Permen PU No.20/PRT/M/2011
yang ditetapkan dalam pedoman ini.
RDTR disusun apabila sesuai kebutuhan, RTRW
Kedudukan RDTR dalam sistem perencanaan tata ruang dan
kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan acuan lebih detil
sistem perencanaan pembangunan nasional dapat dilihat pada
pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Dalam hal RTRW
Gambar 2.1
kabupaten/kota memerlukan RDTR, maka disusun RDTR yang
muatan materinya lengkap, termasuk peraturan zonasi, sebagai salah
satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang dan sekaligus
menjadi dasar penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR
ditentukan sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. Dalam

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-8
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

hal RTRW kabupaten/kota tidak memerlukan RDTR, peraturan b. Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci
zonasi dapat disusun untuk kawasan perkotaan baik yang sudah ada dari kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur dalam
maupun yang direncanakan pada wilayah kabupaten/kota. RTRW;
RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada c. Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;
kawasan fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud d. Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang
ruang yang memperhatikan keterkaitan antarkegiatan dalam kawasan e. Acuan dalam penyusunan RTBL.
fungsional agar tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat sebagai:
utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut. a. Penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai
RDTR yang disusun lengkap dengan peraturan zonasi kesamaan fungsi dan lingkungan permukiman dengan
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk suatu BWP karakteristik tertentu;
tertentu. Dalam hal RDTR tidak disusun atau RDTR telah ditetapkan b. Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan
sebagai perda namun belum ada peraturan zonasinya sebelum pengawasan pelaksanaan pembangunan fisik
keluarnya pedoman ini, maka peraturan zonasi dapat disusun terpisah kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah,
dan berisikan zoning map dan zoning text untuk seluruh kawasan pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat;
perkotaan baik yang sudah ada maupun yang direncanakan pada c. Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang untuk setiap
wilayah kabupaten/kota. bagian wilayah sesuai dengan fungsinya di dalam struktur
2.3 Fungsi dan Manfaat RDTR dan Peraturan Zonasi ruang kabupaten/kota secara keseluruhan
RDTR dan peraturan zonasi berfungsi sebagai: d. Ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan
a. Kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota untuk disusun program pengembangan kawasan dan
berdasarkan RTRW;

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-9
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR)
UNIT PENGEMBANGAN X WIYUNG
KOTA SURABAYA

pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat UP atau 4. Kawasan strategis Kabupaten atau Kota yang memiliki
Sub UP. ciri kawasan perkotaan dan atau bagian dari wilayah
2.4 Kriteria dan Lingkup Wilayah Perencanaan RDTR dan Kabupaten atau Kota yang berupa kawasan perdesaan dan
Peraturan Zonasi direncanakan menjadi kawasan perkotaan.
Dalam pedoman penyusunan Rencana Detail Tata Ruang 2.5 Masa Berlaku RDTR
Tahun 2011, RDTR disusun apabila: RDTR UP X Wiyung berlaku dalam jangka waktu 20 (dua
1. RTRW Kabupaten atau Kota dinilai belum efektif sebagai puluh) tahun yaitu tahun 2017 hingga tahun 2037 serta ditinjau
acuan dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang karena tingkat kembali setiap 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali RDTR dapat
ketelitian peta dokumen tersebut belum mencapai 1:5000 atau, dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun jika: .
2. RTRW Kabupaten atau Kota sudah mengamanatkan bagian a. Terjadi perubahan RTRW kabupaten/kota yang
dari wilayah yang perlu melakukan penyusunan RDTR mempengaruhi UP RDTR
Sedangkan apabila kriteria tersebut belum terpenuhi, maka b. Terjadi dinamika internal kabupaten/kota yang
dapat disusun peraturan zonasi tanpa disertai penyusunan RDTR yang mempengaruhi pemanfaatan ruang secara mendasar antara
lengkap. Ruang lingkup wilayah perencanaan RDTR berdasarkan lain berkaitan dengan bencana alam skala besar,
penyunan RDTR mencakup: perkembangan ekonomi yang signifikan, dan perubahan
1. Wilayah administrasi; batas wilayah daerah
2. Kawasan fungsional, seperti UP atau SUP
3. Bagian dari wilayah Kabupaten atau Kota yang memiliki
ciri perkotaan

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK II-10
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Anda mungkin juga menyukai