Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada Rasulullah SAW serta
sahabat dan keluarga beliau sekalian dengan segala kebaikan Beliau yang telah
membawa kita dari alam jahiliyah kepada alam islamiayh dan dari alam yang penuh
kebiadaban kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Dalam makalah ini
yang berjudul Implementasi Kebijakan Ujian Nasional yang ditulis dengan
segenap kemampuan yang terbatas dan sederhana mungkin.

Terima kasih yang tidak terhingga kepada Dosen Mata Kuliah Kebijakan Publik
dan seluruh pihak yang telah ikut berpatisipasi dalam penyelesaian makalah ini.
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, saya berharap agar makalah ini dapat
dikritik yang membangun dan hasilnya dapat bermanfaat bagi kami dan orang lain.

Jatinangor, 17 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 3
BAB II ........................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4
A. UAN .................................................................................................................... 4
Pengertian Ujian Nasional (UN) .......................................................................... 4
B. Analisa Kebijakan UAN .......................................................................................... 4
C. Pelaksanaan UN di lapangan ................................................................................. 7
Dilematis Pelaksanaan UN .................................................................................. 7
Apa yang terjadi jika UN dilaksanakan ................................................................ 8
D. Evaluatif .............................................................................................................. 9
Bagaimana seharusnya UN itu. ........................................................................... 9
Kenapa harus demikian ................................................................................... 10
Aspek yang perlu diterapkan dalam UN ............................................................. 10
BAB III ........................................................................................................................ 12
PENUTUP .................................................................................................................... 12
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 12
B. Saran ................................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 13

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ujian Akhir Nasional merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan
Pemerintah yang merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir)
yang sebelumnya dihapus. Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) dalam beberapa
tahun ini menjadi satu masalah yang cukup ramai dibicarakan dan menjadi
kontraversi dalam banyak seminar atau perdebatan. Beberapa kali sempat terlontar
rencana atau keinginan dari beberapa pihak untuk menghapus atau meniadakan
Ujian Akhir Nasional tersebut. Tidak kurang dari Mendikbud sendiri pernah
melontarkan pernyataan akan menghapus UAN, dan pernyataan beberapa anggota
Dewan yang mengusulkan penghapusan UAN tersebut.

Pendidikan yang berkualitas memegang peran kunci dalam menciptakan


sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Sementara SDM diperlukan
sebagai penggerak proses pembangunan suatu Negara, semakin berkualitas SDM
yang dimiliki oleh suatu Negara maka semakin cepat proses pembangunannya
menuju masyarakat madani. Undang-undang Dasar tahun 1945 menyebutkan bahwa
pendidikan merupakan hak warga Negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah
sebagai intitusi Negara.
Hak warga Negara tersebut dapat berupa mendapatkan akses pendidikan
yang berkualitas dan murah, sehingga masyarakat tidak terbebani dengan biaya
pendidikan yang mahal. Dalam era otonomi daerah, terutama sejak dikeluarkannya
Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, pemerintah
pusat menyerahkan wewenang kepada pemerintah daerah untuk menjalankan
proses pendidikan di daerahnya masing-masing, tetapi tetap megikuti pedoman dan
prosedur yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat selaku pemegang kebijakan
tertinggi.
Semakin besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) maka semakin besar pula dana
yang dianggarkan untuk peningkatan penyelenggaraan pendidikan. Sementara
1
pemerintah pusat mematok anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Salah
satu program pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini
adalah dengan melaksanakan ujian kelulusan atau yang dikenal dengan Ujian
Nasional (UN) yang dilakukan serentak secara nasional dengan standar nilai dan
jumlah mata ujian ditentukan sebelumnya oleh Departemen Pendidikan dari tingkat
Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). UN sudah dilaksanakan
sejak tahun ajaran 2002/2003 dengan standar nilai 3,01 hingga tahun ajaran
2009/2010 dengan standar nilai kelulusan menjadi 6,00 dan dengan enam (6) mata
pelajaran yang diujikan.
Terjadi perdebatan di masyarakat berkenaan dengan kebijakan pemerintah
ini, ada yang mendukung UN dengan alasan untuk meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia yang memang terperosok jauh dari Negara tetangga dan ada yang
menolak dengan beragam argumentasi kerugian yang timbul akibat pelaksanaan UN.
Puncaknya ketika pada 14 September 2009 Mahkamah Agung (MA) memutuskan
menolak kasasi perkara yang diajukan pemerintah dengan No 2596 K/PDT/2008.
Dalam isi putusan ini, tergugat yakni presiden, wapres, mendiknas, dan Ketua
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dinilai lalai memenuhi kebutuhan hak
asasi manusia (HAM) di bidang pendidikan. Pemerintah juga lalai meningkatkan
kualitas guru. Dengan demikian MA melarang UN yang diselenggarakan oleh
Depdiknas. Sehingga terjadi permasalahan yang belum ada kejelasan hingga saat ini,
apakah UN tetap dijalankan dengan mekanisme dan prosedur yang diperbaiki atau
UN dihapus berganti dengan kebijakan lain. Meskipun perkembangannya pada
akhirnya UN tetap dilaksanakan dengan memberikan keringan bagi yang tidak lulus
UN untuk mengulang kembali mata pelajaran yang tidak lulus.

B. Rumusan Masalah
UN sejak awal sudah menuai kontroversi di Indonesia, sebahagian masyarakat
menganggap UN tidak tepat untuk dilaksanakan secara merata di Indonesia.
Disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana masing-masing sekolah yang
ada di seluruh Indonesia belum merata, serta tidak semua sekolah dan siswa
mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Sehingga dari latar

2
belakang di atas dapat dibuat rumusan masalahnya, apakan kebijakan UN masih
tetap layak untuk dilaksanakan di Indonesia dan jika tidak solusi apa yang bisa
diberikan untuk mengganti kebijakan UN tersebut.

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah UN itu sebenarnya?
2. Analisis Kebijakan UN.
3. Bagaimanakah plaksanaan UN di lapangan?
4. Apa yang terjadi jika UN dilaksanakan?
5. Apakah UN itu perlu dilaksanakan?
6. Jika UN dilaksanakan

3
BAB II

PEMBAHASAN
A. UAN

Pengertian Ujian Nasional (UN)

Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan


penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan
menengah. Ujian Nasional (UN) merupakan istilah bagi penilaian kompetensi peserta
didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Berbagai
polemik yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional di Indonesia tampak baik
bagi demokrasi di negeri ini. Tapi satu hal yang jangan terlupa bahwa siswa peserta
UN jangan sampai dibuat ragu atau takut tentang kepastian Ujian Nasional sebagai
sarana untuk mengukur kemampuan mereka di bangku sekolahnya. Walaupun UN
mengundang pro dan kontra tapi hendaknya tetap di jalur yang semestinya, karena
bagaimana pun para siswa terutama siswa SMA / MA adalah para calon Agent of
Change yang akan berperan untuk membawa perubahan-perubahan konstruktif bagi
negeri ini. Oleh karena itu agar keraguan berkurang di kalangan dunia kependidikan,
kami dari Tim Ujian Nasional mencoba menyampaikan beberapa hal yang dipandang
penting terutama dalam hal dalam kebijakan UN 2011 yang tentunya diharapkan
dapat menjadi bekal bagi para siswa agar mereka cukup persiapan dalam
menghadapi Ujian Nasional 2011.

B. Analisa Kebijakan UAN

Analisa kebijakan UAN yang bertentangan dengan UU Sisdiknas dan bentuk


evaluasi di dalam pendidikan. Pertama, ada anggapan dari sebagian orang, terutama
para pejabat Legislatif yang menganggap bahwa UAN bertentangan dengan UU
Sisdiknas. Dimana Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN
sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri
Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran
2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil

4
belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat
pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas.

Begitu pula evaluasi dalam pendidikan seharusnya dapat memberikan


gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-
Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi
tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan
tiga informasi penting seperti yang dipaparkan oleh McNeil. Selain itupula dalam
evaluasi pendidikan diharapkan dapat memberikan informasi tentang keimanan dan
ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan juga dapat
meningkatkan kreativitas, kemandirian dan sikap demokratis peserta didik

Dari paparan di atas, yang menjadi pertanyaan apakah mutu pendidikan dapat
diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun ajaran? Apalagi
bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku siswa, apakah bisa
dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu pendidikan pada tingkat
nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi pelaksanaan UAN sebagaimana
yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan sejauh mana mutu pendidikan di
Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan
terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu disebut Ebtanas) berbeda dari
tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka akibatnya tidak bisa
dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan sekarang. Selain itu mutu
pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya memberikan tes pada beberapa mata
pelajaran penting saja, apalagi dilaksanakan sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu
pendidikan terkait dengan semua mata pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari
dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya pengetahuan kognitif saja. UAN tidak akan
dapat menjawab pertanyaan seberapa jauh perkembangan anak didik dalam
mengenal seni, olah raga, dan menyanyi. UAN tidak akan mampu melihat mutu
pendidikan dari sisi percaya diri dan keberanian siswa dalam mengemukakan
pendapat dan bersikap demokratis. Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu
menyediakan informasi yang cukup mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang
diinginkan masih terlalu jauh untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN.

5
Selain itu pula UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa
mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang
perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan. Karena tes
yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran tidak dapat memberikan
gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik, tes tersebut tidak dapat
memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian karena tes tertulis tidak
dapat melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak selain itu pula tes di
ujung tahun ajaran tidak dapat menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya
dan juga hasil tes tidak dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak
selama mengikuti pelajaran. Oleh karena itu terjadi pertentangan antara tujuan yang
ingin dicapai dengan bentuk ujian yang diterapkan, karena pengukuran hasil belajar
tidak bisa diukur hanya dengan memberikan tes di akhir tahun ajaran saja.

Kedua, tujuan UAN yang lain dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 adalah
untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan
pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Adalah
ironis kalau UAN dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan
pendidikan, karena pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif,
afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk
manusia yang berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang
semuanya itu tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata
lain, UAN belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk
pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.

Ketiga, jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan
dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu
diversifikasi kurikulum. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan dengan
situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan kota-kota
besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah
perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda
mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota
relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah
6
pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah
guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan
penerapan UAN dengan standar yang sama untuk semua sekolah di Indonesia telah
melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidakadilan bagi peserta didik yang
tentu saja hasilnya akan jauh berbeda, sedangkan kebijakan yang diambil adalah
menyamakan mereka.

Keempat, pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang


dianggap penting juga memiliki permasalahan tersendiri. Sekarang yang terjadi
orang akan beranggapan hanya matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan
IPA yang merupakan mata pelajaran penting. Sedangkan ada diantara kita anak-
anak yang memiliki bakat untuk melukis atau olahraga, mereka akan meragukan
bahwa pelajaran tersebut merupakan pelajaran penting bagi dia. Sehingga bakat
tersebut akan terkubur dengan sendirinya karena yang ada di benak mereka adalah
bagaimana mereka bisa lulus dalam UAN tersebut. Dengan demikian pelaksanaan
UAN hanya pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung
mengajarkan hanya mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan
ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain, padahal
tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari kondisi ini
adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan pengujian.

Kelima, tingkat kreativitas guru empat mata pelajaran tersebut akan


terkekang karena dikejar target untuk menyelesaikan materi. Selain itu pula metode
pembelajaran yang seharusnya bisa disajikan secara menarik dan dikembangkan
sesuai dengan implementasi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari tergantikan
dengan metode drill latihan soal dan peserta didik hanya dicekoki dengan
bagaimana dapat menjawab soal-soal pada empat mata pelajaran tersebut.
C. Pelaksanaan UN di lapangan

Dilematis Pelaksanaan UN

Ujian Nasional sejak digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003 tidak jarang
menjadi momok menakutkan bagi pelajar yang kawatir tidak lulus karena tidak
mendapatkan nilai yang mencukupi, sementara bagi para guru dan institusi

7
pendidikan tempat siswa menimba ilmu kekawatiran serupa terjadi, kualitas dan
profesionalitas mereka dipertaruhkan, tergantung dari banyak dan sedikitnya siswa
yang lulus dalam UN. Sehingga tidak jarang terjadi kecurangan-kecurangan dari
pelaksanaan UN di daerah-daerah baik yang dilakukan oleh siswa itu sendiri maupun
oleh para pendidik, dengan tujuan satu, mendongkrak nilai UN siswa agar
mendapatkan nilai sesuai dengan batas minimal kelulusan.

UN di beberapa daerah masih cenderung mengabaikan nilai-nilai kejujuran


dan tanggung jawab. Media elektronik dan cetak merekam kecurangan ini, banyak
sekolah dan orang tua siswa yang paranoid dan sangat khawatir siswanya tidak lulus
ujian dengan persentase tinggi. UN layaknya palu sidang yang akan dijatuhkan
untuk memvonis apakah seorang siswa dianggap pandai sehingga layak memperoleh
predikat lulus, atau sebaliknya.

Apa yang terjadi jika UN dilaksanakan

Akhir akhir ini kita diingatkan kembali dengan masalah Ujian Nasional,
karena beberapa Media baik cetak maupun Elektronik, ramai ramai memberitakan
kemenangan dari gugatan warga Negara atau Citizen Lawsuit terhadap Pemerintah,
dimana kemenangan ini mulai dari tingkat Pengadilan Negri sampai dengan
Mahkamah Agung. Ujian Nasional sesungguhnya mempunyai 2 sisi baik dan buruk,

SISI BAIK

1. Kita jadi mempunyai standard yang sama untuk kelulusan siswa, sehingga
pada akhirnya tidak ada perbedaan antara siswa di Jakarta dan kota kota
besar lainnya dengan siswa didaerah.

2. Kelulusan akan menjadi suatu hal yang membanggakan dan suatu hal yang
patut disyukuri, karena ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan
yang besar.

3. Pada akhirnya untuk masuk ke Perguruan tinggi cukup menggunakan nilai


hasil kelulusan.
8
4. Dan lain lain.

SISI BURUK

1. Siswa menjadi Depresi dan sangat tertekan karena Ujian Nasional seolah olah
tidak bisa diprediksi materi yang akan diujikan

2. Karena Standard pengajaran diseluruh Indonesia berbeda beda, sesuai


dengan kualitas pengajar, tingkat ekonomi didaerah, dan lain lain, maka sulit
untuk dilakukan penyeragaman soal ujian. Bayangkan saja sekolah yang
berbeda standard pengajarannya dipaksakan harus mengerjakan soal yang
sama.

3. Pembuat soal kurang turun ke lapangan, meninjau sekolah sekolah terpencil


untuk mengetahui sebaiknya materi Ujian itu sampai tingkat yang bagaimana.

4. Di beberapa kasus terjadi kesalahan dari sistim koreksi yang dilakukan untuk
menilai hasil ujian Nasional ini, contohnya ada kasus dimana satu sekolah
tidak lulus ujian dan selanjutnya dilakukan ujian ulang. Bagaimana Pemerintah
bisa yankin bahwa sistim penilaiannya sudah benar, seandainya saja pada
contoh kasus diatas yang mengalami kesalahan penilaian hanya 11 orang,
mungkin ujiannya tidak bisa diulang. Dan jadilah siswa yang apes tadi harus
menerima nasib ia tidak lulus ujian.

D. Evaluatif

Bagaimana seharusnya UN itu.

1) Menurut kami Ujian Nasional dengan penyeragaman soal, baik untuk


dilakukan diseluruh Indonesia, namun untuk kelulusan siswa tetap
diserahkan pada sekolah masing masing dengan
mempertimbangkan hasil ujian Harian, Tengah Semester dan Semester
yang telah dilakukan selama ini. Karena yang benar benar mengetahui
kemampuan siswa yang bersangkutan adalah guru guru mereka sendiri.

9
2) Data hasil dari Ujian Nasional itu menjadi masukan yang baik bagi
Pemerintah untuk mengetahui peta keberhasilan pendidikan yang
dilaksanakan diseluruh Indonesia, jadi bisa tahu, mana daerah yang perlu
mendapatkan perhatian lebih, atau mana Sekolah yang perlu dievaluasi
mutu pendidikkannya.

Kenapa harus demikian


Mutu Standard Pendidikan belum merata baik antar sekolah, maupun
antar Daerah, untuk itu merupakan tugas Pemerintah melalui Departemen
Pendidikan untuk membenahi hal tersebut. Alasan lainnya adalah Pemerintah
seharusnya tidak terburu buru menerapkan standard yang MUTLAK untuk
Ujian Nasional, sebaiknya diberlakukan standard NORMA, yang
mempertimbangkan berbagai aspek, belajar itu tidak harus dibangku sekolah,
banyak orang yang disekolahnya biasa-biasa saja namun setelah lulus ia
menambah pengetahuannya dengan berbagai hal yang menunjang
pekerjaannya dan berhasil.

Aspek yang perlu diterapkan dalam UN


Dari hasil kajian Koalisi Pendidikan, setidaknya ada empat
penyimpangan dengan digulirkannya UN. Pertama, aspek pedagogis. Dalam
ilmu kependidikan, kemampuan peserta didik mencakup tiga aspek, yakni
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Tapi
yang dinilai dalam UN hanya satu aspek kemampuan, yaitu kognitif,
sedangkan kedua aspek lain tidak diujikan sebagai penentu kelulusan.
Kedua, aspek yuridis. Beberapa pasal dalam UU Sistem Pendidikan
Nasional Nomor 20 Tahun 2003 telah dilanggar, misalnya pasal 35 ayat 1
yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi,
proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan, yang harus ditingkatkan
secara berencana dan berkala. UN yang selama ini dilakukan hanya mengukur
kemampuan pengetahuan dan penentuan standar pendidikan yang ditentukan
secara sepihak oleh pemerintah. Ketiga, aspek sosial dan psikologis.

10
Dalam mekanisme UN yang diselenggarakannya, pemerintah telah
mematok standar nilai kelulusan 3,01 pada tahun 2002/2003 dan meningkat
seterusnya dari tahun ketahun. Ini menimbulkan kecemasan psikologis bagi
peserta didik dan orang tua siswa. Siswa dipaksa menghafalkan pelajaran-
pelajaran yang akan di UN kan di sekolah dan di rumah. Keempat, aspek
ekonomi. Secara ekonomis, pelaksanaan UN memboroskan biaya.
Tidak hanya pemerintah yang harus mengeluarkan dana ekstra dalam
memberikan materi tambahan kepada peserta didik, tetapi juga orang tua
siswa yang terpaksa mengalokasikan dana untuk memberikan kursus
tambahan agar anaknya mendapatkan nilai memuaskan dalam pelaksanaan
UN nantinya. Selain itu, belum dibuat sistem yang jelas untuk menangkal
penyimpangan finansial dana UN. Sistem pengelolaan selama ini masih sangat
tertutup dan tidak jelas pertanggungjawabannya. Kondisi ini memungkinkan
terjadinya penyimpangan (korupsi) dana UN.

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ujian Nasional yang
diberlakukan oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan tidak lain mempunyai
tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang terpuruk dari
Negara lain terutama di wilayah Asia Tenggara. Meskipun akhirnya terjadi kontroversi
di tengah masyarakat dan berakibat keluarnya putusan MA, yang melarang
dilaksanakannya UN pada tahun ajaran 2009/2010.

B. Saran

Adapun beberapa hal yang dapat kami sarankan terhadap pemerintah perlu
dilakukan dalam pelaksanaan UN selanjutnya yaitu:
1. UN tetap dilaksanakan tetapi soal UN diselaraskan dengan tingkatan Akreditasi
masing-masing sekolah.
2. Membentuk kepanitiaan independen dalam pelaksanaan UN dari tingkat
pusat,sampai ke sekolah-sekolah. Bukan hanya itu, Panitia Independen juga
bertugas menjadi pengawas ruang saat berlangsungnya ujian, mengawasi dan
atau mengumpulkan lembar-lembar jawaban, sampai dengan pengawasan
dalam proses penilaian dan pengumuman hasil ujian nasional.
3. Pemerintah pusat dan daerah perlu terus menerus meningkatkan
pengalokasian anggaran di bidang pendidikan agar kualitas pendidikan
dinegeri ini semakin meningkat dan merata.
4. Para pendidik dan pemerintah daerah negeri ini perlu belajar kembali tentang
norma-norma kejujuran, sehingga tidak dengan mudah menerapkan segala
cara dalam mendongkrak nilai UN siswa.

12
DAFTAR PUSTAKA

Conny R. Semiawan. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. 2005. PT


RAJAGRAFINDO PERSADA : JAKARTA

Jones, Charles O.. (1996). Pengantar Kebijakan Publik. Ed. 1. Jakarta: PT. RAJA
GRAFINDO PERSADA : JAKARTA

Suharto, Edi. (2005). Analisis Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.


www.swaramerdeka.com.
www.kompas.com.
http://www.hariansumutpos.com/2010/04/42801/un-amburadul-gambaran-
pendidikan-yang-bobrok.html
http://jurnal-politik.blogspot.com/2009/07/kontroversi-ujian-nasional.html
http://antikorupsi.org/indo/content/view/3764/2/
http://scalamedia.net/berita/editorial/389-ujian-nasional.html
http://kampungtki.com/baca/10710

13