Anda di halaman 1dari 15

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
TEKNIK GEOLOGI

TUGAS MAKALAH
GEOKIMIA
GEOKIMIA METAMORF

OLEH

DARNAWATI
WD. ST NURHASANAH
ISTIHSAN KAMIL
TIRTA DWI GUSTINA
MASTIKA
RIA ANGGRAINI
ALAN

KENDARI
2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca
dalam pemahaman mahasiswa tentang GEOKIMIA METAMORF dan
pembuatan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas makalah geokimia
umum.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Kendari, 4 Januari 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .........................................................................................


KATA PENGANTAR .......................................................................................
DAFTAR ISI ......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................
1.1 Latar belakang ...............................................................................................
1.2 Rumusan masalah ..........................................................................................................................
1.3 Tujuan ...............................................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................
2.1 Pengertian Batuan metamorf ........................................................................
2.2 Agen-agen Metamorfisme.............................................................................
2.3 Jenis-jenis Metamorfisme .............................................................................
2.4 Komposisi Batuan Metamorf ........................................................................
BAB III PENUTUP ...........................................................................................
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................
3.2 Saran ..............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................
LAMPIRAN .......................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah bentuk.
Batuan yang terkubur sangat dalam mengalami perubahan tekanan dan temperatur.
Jika mencapai suhu tertentu, batuan tersebut akan melebur jadi magma. Namun
saat belum mencapai titik peleburan kembali menjadi magma, batuan tersebut
berubah menjadi batuan metamorf.
Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses metamorfosis.
Proses metamorfosis hanya terjadi di dalam bumi. Proses tersebut mengubah
tekstur asal batuan, susunan mineral batuan, atau mengubah keduanya sekaligus.
Proses ini terjadi dalam solid state, artinya batuan tersebut tidak melebur.
Meskipun demikian, penting diingat bahwa fluida (terutam air) memiliki peranan
yang penting dalam proses metamorfosis.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang dapat diambil yaitu :
1. Apa yang dimaksud batuan metamorf dan metamorfisme ?
2. Apa saja agen-agen metamorfisme pembentukan batuan metamorf ?
3. Apa saja jenis-jenis metamorfisme ?
4. Apa saja komposisi dari batuan metamorf ?

1.3 TUJUAN
1. Menjelaskan batuan metamorf dan metamorfisme ?
2. Mengetahui agen-agen metamorfisme pembentukan batuan metamorf ?
3. Mengetahui jenis-jenis metamorfisme ?
4. Mengetahui komposisi dari batuan metamorf ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BATUAN METAMORF


Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses
metamorfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur)
dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada 5osaic5lar5 dan tekanan tinggi
dalam kerak bumi atau Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan
induk yang lain, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan
metamorf sendiri yang telah mengalami proses/perubahan 5osaic5lar, tekstur
maupun struktur sebagai akibat pengaruh 5osaic5lar5 dan tekanan yang tinggi.
Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair,
dengan 5osaic5lar5 200oC 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam
batuan metamorf adalah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan
terbentuk kristal baru, begitupula pada teksturnya.
Menurut H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adealah proses yang
mengubah mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi
fisika dan kimia dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan
sebelumnya. Proses tersebut tidak termasuk pelapukan dandiagenesa.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat
proses perubahan 5osaic5lar5 dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada
sebelumnya. Akibat bertambahnya dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan
berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur
dan struktur yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate
yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan
perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu
pasir. Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh
maka akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan
kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi.

2.2 AGEN-AGEN METAMORFISME


Adapun agen-agen metamorfisme yaitu:
1. Panas. Suhu atau panas merupakan agen pengontrol yang berperan dalam proses
metamorfisme. Kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan
rekristalisasi atau pengkristalan kembali mineral-mineral dalam batuan yang telah
ada dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini 6osaic6lar6 sekitar 350-1200
derajat celcius.
2. Tekanan atau pressure merupakan 6osaic pengontrol atau agen dari proses
metamorfisme. Kenaikan tekanan dapat menyebabkan terjadi perubahan dan
rekristalisasi pada mineral dalam batuan yang telah ada sebelumnya. Pada kondisi
ini tekanan sekitar 1-10.000 bar (Jackson).
3. Cairan panas/aktivitas larutan kimia.
Adanya kenaikan, tekanan dan aktivitas larutan kimia, menyebabkan terjadinya
perubahan dan rekristalisasi yaitu proses pengkristalan kembali mineral-mineral
dan batuan yang telah ada dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini
6osaic6lar6 sekitar 350oC 1200oC dan tekanan 1 10000 bar (Jackson) =
(0,9869) atm.

4.3 JENIS-JENIS METAMORFISME


Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi, metamorfosa dapat dibedakan
menjadi dua:
1. Metamorfosa Lokal
Jenis ini penyebaran metamorfosanya sangat terbatas hanya beberapa
kilometer saja. Termasuk dalam tipe metamorfosa ini adalah:
a. Metamorfosa kontak/thermal
Yaitu metamorfosa yang diakibatkan oleh kenaikan temperatur yang tinggi,
dan biasanya jenis ini ditemukan pada kontak antara tubuh intrusi
magma/ekstrusi dengan batuan di sekitarnya dengan lebar 2 3 km. Salah satu
contohnya pada zona intrusi yang dapat menyebabkan pertambahan suhu pada
daerah disekitar intrusi.
b.Metamorfosadinamo/dislokasi/kataklastik
Yaitu metamorfosa yang diakibatkan oleh kenaikan tekanan. Tekanan yang
berpengaruh disini ada dua macam, yaitu: hidrostatis, yang mencakup ke segala
arah; dan stress, yang mencakup satu arah saja. Makin dalam ke arah kerak
bumi pengaruh tekanan hidrostatika semakin besar. Sedangkan tekanan pada
bagian kulit bumi yang dekat dengan permukaan saja, metamorfosa semacam
ini biasanya didapatkan di daerah sesar/patahan.
2. Metamorfosa Regional
Tipe metamorfosa ini penyebarannya sangat luas, dapat mencapai beberapa
ribu kilometer. Termasuk dalam tipe ini adalah:
a. Metamorfosa regional/dinamothermal
Terjadi pada kulit bumi bagian dala, dimana faktor yang mempengaruhi adalah
temperatur dan tekanan yang tinggi. Proses ini akan lebih intensif apabila
diikuti oleh orogenesa.
b. Metamorfosa beban/burial
Proses ini tidak ada hubungannya dengan orogenesa dan intrusi, tetapi terjadi
pada daerah geosinklin, hingga karena adanya pembebanan sedimen yang tebal
di bagian atas, maka lapisan sedimen yang ada di bagian bawah cekungan akan
mengalami proses metamorfosa.

2.4 KOMPOSISI BATUAN METAMORF


2.4.1 Komposisi Kimia Batuan Metamorf
Pada umumnya batuan metamorf memiliki komposisi kimia bervariasi.
Beberapa ciri kimiawi yang dapat digunakan untuk memperkirakan asal batuan
aslinya adalah sebagai berikut :
a) Kelebihan alumina (disebut C)
Bila C > 5 % diduga asalnya adalah batuan sedimen
Bila C >10 % asalnya jelas batuan sedimen
b) K2O > Na2O dikombinasikan dengan Mg2O > CaO ciri batuan
lempungan, terutama yang mengandung mineral Illite dan
Montmorillonite cukup besar.
c) SiO2 berlimpah ( > 80 % ) menunjukan asalnya batupasir atau chert.
Secara umum, metamorfisme cenderung menghasilkan suatu batuan yang
berkomposisi mineral lebih kurang seragam pada daerah yang luas
Rekristalisasi yang terjadi selama proses metamorfisme dapat menghasilkan
segregrasi (pemisahan) mineral-mineral tertentu ke dalam lensa-lensa atau
lapisan-lapisan.
Selama proses metamorfisme, komposisi kimia dapat mengalami 2 hal
sebagai berikut :
1. Konstan ( isochemical metamorphism), atau
2. Berubah ( allochemical metamorphism disebut juga metasomatisme),
perpindahan / pemasukan material melalui 3 cara transportasi yaitu :
dalam fase gas
dalam fase cair
berupa migrasi atom atau ion pada batas-batas kristal atau melewati
fase padat
Dari pengamatan lapangan dan percobaan laboratorium terlihat bahwa
metasomatisme pada dasarnya merupakan hasil penambahan atau perpindahan
material dalam fase cair
2.4.2 Komposisi Mineralogi Batuan Metamorf
1. Amphibole/Hornblende
Amphibole adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau
kristal yang menyerupai jarum. Mineral amphibole umumnya mengandung
besi (Fe), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), dan Alumunium (Al), Silika
(Si), dan Oksigen (O). Hornblende tampak pada foto yang berwarna hijau
tua kehitaman. Mineral ini banyak dijumpai pada berbagai jenis batuan beku
dan batuan metamorf.
2. Biotite
Semua mineral mika berbentuk pipih, bentuk kristal berlembar menyerupai
buku dan merupakan bidang belahan (cleavage) dari mineral biotite.
Mineral biotite umumnya berwarna gelap, hitam atau coklat sedangkan
muscovite berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika mempunyai
kekerasan yang lunak dan bisa digores dengan kuku.
3. Plagioclase feldspar
Mineral Plagioclase adalah anggota dari kelompok mineral feldspar.
Mineral ini mengandung unsur Calsium atau Natrium. Kristal feldspar
berbentuk prismatik, umumnya berwarna putih hingga abu-abu, kilap gelas.
Plagioklas yang mengandung Natrium dikenal dengan mineral Albite,
sedangkan yang mengandung Ca disebut An-orthite.
4. Potassium feldspar (Orthoclase)
Potassium feldspar adalah anggota dari mineral feldspar. Seperti halnya
plagioclase feldspar, potassium feldspars adalah mineral silicate yang
mengandung unsur Kalium dan bentuk kristalnya prismatik, umumnya
berwarna merah daging hingga putih.
5. Mica
Mica adalah kelompok mineral silicate minerals dengan komposisi yang
bervariasi, dari potassium (K), magnesium (Mg), iron (Fe), aluminum (Al)
, silicon (Si) dan air (H2O).
6. Quartz
Quartz adalah satu dari mineral yang umum yang banyak dijumpai pada
kerak bumi. Mineral ini tersusun dari Silika dioksida (SiO2), berwarna
putih, kilap kaca dan belahan (cleavage) tidak teratur (uneven) concoidal.
7. Calcite
Mineral Calcite tersusun dari calcium carbonate (CaCO3). Umumnya
berwarna putih transparan dan mudah digores dengan pisau. Kebanyakan
dari binatang laut terbuat dari calcite atau mineral yang berhubungan
dengan lime dari batugamping.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan dalam makalah ini tentang batuan sedimen maka dapat di
simpulakan bahwa :
1. Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses metam
orfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur)
dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan
tinggi dalam kerak bumi.
2. Agen-agen atau faktor-faktor yang mempengaruhi proses metamorfisme
meliputi suhu (temperatur), tekanan (Pressure), dan aktivitas larutan kimia.
3. Secara umum metamorfisme terbagi menjadi 3 yaitu metamorfisme sentuh
atau kontak, metamorfisme dynamo, dan metamorfisme regional.
4. Secara umum ada beberapa fasies dari batuan metamorf yang meliputi:
Fasies metamorfisme kontak
Fasies metamorfisme regional
Fasies granulit
Fasies eklogite
5. Mineral penyusun batuan metamorf merupakan mineral-mineral yang ada
pada batuan yang telah ada sebelumnya, baik mineral yang berasal dari
batuan beku, sedimen, maupun metamorf.
DAFTAR PUSTAKA

Ariany, Mitha, 2012. Batuan Metamorf.

http://mithaariany.wordpress.com/2012/05/30/batuan-metamorf/

(diakses pada Selasa, 20 Desember 2016 )

Adila, Erva, 2011. Makalah tentang Batuan Metamorf.

http://effmakalahsripsi.blogspot.com/2011/11/makalah-tentang-batuan-

metamorf.html

(diakses pada Selasa, 20 Desember 2016 )


L
A
M
P
I
R
A
N
DISKUSI

1. Parameter apa yang digunakan sehingga anda menggolongkan 2 jenis


metamorfisme tersebut (metamorfisme lokal dan regional) dan bagaimana
mengetahui komposisi kimia batuan metamorf dan membedakan batuan
tersebut dalam geokimia ?
Jawab !!
Kedua jenis metamorfisme tersebut, yaitu lokal dan regional digolongkan
berdasarkan letak, lebar wilyah penyebarannya. Yang mana untuk jenis
metamorfisme regional sifat penyebarannya sangat luas, dapat mencapai
beberapa ribu kilometer. Sedangkan jenis metamorfisme lokal penyebaran
metamorfosanya sangat terbatas hanya beberapa kilometer saja.
Cara untuk mengetahui komposisi kimia batuan metamorfisme dalam
geokimia yaitu jika ;
1. Kelebihan alumina (disebut C)
Bila C > 5 % diduga asalnya adalah batuan sedimen
Bila C >10 % asalnya jelas batuan sedimen
2. K2O > Na2O dikombinasikan dengan Mg2O > CaO ciri batuan
lempungan, terutama yang mengandung mineral Illite dan
Montmorillonite cukup besar.
3. SiO2 berlimpah ( > 80 % ) menunjukan asalnya batupasir atau chert.
2. Bagaimana ciri-ciri produk dari jenis metamorfisme tersebut ?
Jawab !!
Jika Metamorfisme kontak terjadi akibat adanya intrusi tubuh
magma panas pada batuan yang dingin dalam kerak bumi. Akibat
kenaikan suhu, maka rekristalisasi kimia memegang peran utama.
Sedangkan deformasi mekanik sangat kecil, bahkan tidak ada,
karena stress disekitar magma relatif homogen.
Batuan yang terkena intrusi akan mengalami pemanasan dan
termetamorfosa, membentuk suatu lapisan di sekitar intrusi yang
dinamakan aureole metamorphic (batuan ubahan). Tebal lapisan
tersebut tergantung pada besarnya tubuh intrusi dan kandungan H2O
di dalam batuan yang diterobosnya. Misalkan pada korok ataupun
sill yang seharusnya terbentuk lapisan setebal beberapa meter hanya
akan terbentuk beberapa centimeter saja tebalnya apabila tanpa
H2O.
Batuan metamorf yang terjadi sangat keras terdiri dari mineral yang
seragam dan halus yang saling mengunci (interlocking), dinamakan
Hornfels. Pada intrusi berskala besar, bergaris tengah sampai ribuan
meter menghasilkan energy panas yang jauh lebih besar, dan dapat
mengandung H2O yang sangat banyak.
Jika batuan metamorf yang dijumpai di kerak bumi dengan
penyebaran sangat luas sampai puluhan ribu kilometer persegi,
dibentuk oleh metamorfisme regional dengan melibatkan deformasi
mekanik dan rekristalisasi kimia sehingga memperlihatkan adanya
foliasi. Batuan ini umumnya dijumpai pada deretan pegunungan
atau yang sudah tererosi, berupa batu sabak (slate), filit, sekis dan
gneiss.
Deretan pegunungan dengan batuan metamorf regional terbentuk
akibat subduksi atau collision. Pada collision batuan sedimen
sepanjang batas lempeng akan mengalami diferensial stress yang
intensif sehingga muncul bentuk foloiasi yang khas seperti batu
sabak, sekis dan gneiss.
Sekis hijau dan amfibolit dijumpai dimana segmen kerak samudra
purba yang berkomposisi masuk zona subduksi dan bersatu dengan
kerak benua dan kemudian termetamorfosa. Ketika segmen kerak
mengalami stress kompresi horizontal, batuan dalam kerak akan
terlipat dan melengkung (bukling). Akibatnya bagian dasar
mengalami peningkatan suhu dan tekanan, dan mineral baru mulai
tumbuh.
3. Perbedaan pembentukan alterasi dan batuan metamorf, dan apa yang
dimaksud dengan geosinklin ?
Jawab !!
Perbedaannya yaitu : Jika alterasi merupakan perubahan komposisi
mineralogi batuan ( dalam keadaan padat ) karena adanya pengaruh Suhu
dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan
mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi
merupakan peristiwa sekunder, berbeda dengan metamorfisme yang
merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang
mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan
masuknya air meteorik (meteoric water) untuk dapat mengubah komposisi
mineralogi batuan. Sedangkan terbentuknya batuan metamorf karena
adanya perubahan yang disebabkan oleh proses metamorfosa. Proses
metamorfosa adalah sebuah proses pengubahan batuan akibat adanya
perubahan tekanan, temperatur, dan adanya aktivitas kimia, baik fluida
ataupun gas, bahkan bisa merupakan variasi dari ketiganya (tekanan,
temperatur, dan aktivitas kimia). Proses metamorfosa sendiri sebenarnya
merupakan proses isokimia, di mana tidak adanya penambahan unsur-unsur
kimia pada batuan yang mengalami metamorfosa. Adapun temperatur yang
berkisar biasanya antara 200oC 800oC, tanpa melalui fase cair.
Geosinklin adalah depresi pada daerah sempit dikerak bumi selama
beberapa waktu sehingga terendapkan secara ekstrem sedimen yang tebal.
Proses pengendapan ini menyebabkan subsidence (penurunan) pada dasar
cekungan.