Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


HEMATURIA

Dosen Pembimbing: Alwin Widhiyanto, S.Kep.,Ns

Di Susun Oleh Kelompok :


1. Istatutik Nabilah (14201.06.14022)
2. Siti Ismaul (14201.06.14036)
3. Nur Kholidiyah (14201.06.14074)

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES HASHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG
PAJARAKAN PROBOLINGGO
TAHUN AJARAN 2016-2017
HALAMAN PENGESAHAN

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


HEMATURIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar


Sistem Perkemihan

Mengetahui,
Dosen Mata Ajar

Alwin Widhiyanto, S.Kep.,Ns


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT.
atas segala limpah rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini, dan sholawat serta salam semoga selalu tercurah
limpahkan kepada proklamator sedunia, pejuang tangguh yang tak gentar
menghadapi segala rintangan demi umat manusia, yakni Nabi Muhammad SAW.
Adapun maksud penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas di STIKES
Hafshawaty, saya susun dalam bentuk kajian ilmiah dengan judul Makalah
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hematuria dan dengan selesainya
penyusunan makalah ini, saya juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih
kepada:
1. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM sebagai pengasuh pondok
pesantren Zainul Hasan Genggong.
2. Ns. Iin Aini Isnawaty, S.Kep.,M.Kes. sebagai ketua STIKES Hafshawaty
Zainul Hasan Genggong.
3. Shinta Wahyusari, S.Kep.Ns.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat., sebagai Ketua Prodi
S1 Keperawatan.
4. Alwin Widhiyanto, S.Kep.,Ns, sebagai dosen mata ajar Sistem
Perkemihan.
5. Santi Damayanti,A.Md. sebagai ketua perpustakaan STIKES Hafshawaty
Zainul Hasan Genggong.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, kami dengan rendah hati mengharap kritik dan saran dari pihak dosen
dan para audien untuk perbaikan dan penyempurnaan pada materi makalah ini.

Probolinggo, Februari 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Sampul .............................................................................................. i


Lembar Pengesahan ......................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................. iii
Daftar Isi........................................................................................................... iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................
1.3 Tujuan ........................................................................................................
1.4 Manfaat ......................................................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Fisiologi ......................................................................................
2.2 Definisi .......................................................................................................
2.3 Klasifikasi ..................................................................................................
2.4 Etiologi .......................................................................................................
2.5 Patofisiologi ...............................................................................................
2.6 Epidemiologi ..............................................................................................
2.7 Manifestasi Klinis ......................................................................................
2.8 Pemeriksaan Penunjang .............................................................................
2.9 Penatalaksanaan .........................................................................................
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ..................................................................................................
3.2 Diagnosa Keperawatan...............................................................................
3.3 Intervensi Keperawatan ..............................................................................
3.4 Implementasi ..............................................................................................
3.5 Evaluasi ......................................................................................................
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ................................................................................................
4.2 Saran ...........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hematuria adalah istilah klinis yang digunakan untuk menjelaskan adanya
darah, khususnya sel darah merah, dalam urin. Adanya darah dalam urin ini bisa
saja tidak kasat mata dan hanya terlihat di bawah mikroskop atau atau juga
mungkin darah dalam urin akan terlihat dalam jumlah yang cukup dengan mata
telanjang, hematuria merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang menyebabkan
perdarahan abnormal pada saluran urogenital pasien. Sumber perdarahan bisa
terjadi di mana saja di sepanjang saluran ini: ginjal, ureter (tabung yang berjalan
dari ginjal ke kandung kemih), kelenjar prostat, kandung kemih atau uretra.

Di Amerika Serikat, prevalensi hematuria gross pada anak-anak


diperkirakan 0,13%. Lebih dari setengah dari kasus (56%) ini disebabkan oleh
penyebab yang mudah diidentifikasi. Penyebab paling umum tampaknya sistitis
(20-25%). Seks mungkin mempengaruhi seorang anak untuk menderita penyakit
tertentu yang bermanifestasi sebagai hematuria. Misalnya, penyakit terkait seks
yaitu sindrom Alport memiliki kecenderungan pada laki-laki, sedangkan nefritis
lupus lebih sering terjadi pada gadis remaja. Prevalensi kondisi tertentu juga
bervariasi dengan usia. Misalnya, tumor Wilms lebih sering pada anak-anak usia
prasekolah, sedangkan postinfectious glomerulonefritis akut lebih sering terjadi
pada usia anak sekolah. Pada orang dewasa, hematuria sering merupakan tanda
keganasan dari saluran Genitourinary (misalnya, karsinoma sel ginjal, kandung
kemih tumor, tumor prostat). Kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak.
Hematuria adalah salah satu temuan kemih paling umum pada anak-anak
dengan penyakit nephrologis pediatrik. Secara umum, hematuria didefinisikan
sebagai muculnya 5 atau lebih sel darah merah per LPB dalam 3 dari 3 spesimen
urin yang disentrifugasi secara berturut-turut yang diperoleh paling sedikit 1
minggu. Pemeriksaan hematuria dengan dipstik harus dikonfirmasi dengan analisa
urin mikroskopis dengan cara mensentrifuse 10-15 ml urin segar. False negatif
terjadi bila terdapat formalin (bahan preservatif urin) atau pada urin dengan
konsentrasi asam askorbat yang tinggi. False positif bila terkontaminasi darah
menstruasi, urin basa dengan pH kurang dari 9, atau terkontaminasi agen oksida
yang digunakan untuk membersihkan perineum sebelum mengambil spesimen.
Hematuria dapat gross / makroskopik (yaitu, terang-terangan urin berdarah, atau
berwarna teh) atau mikroskopis.

Hematuria mungkin memiliki gejala atau tanpa gejala, sementara atau


terus-menerus, dan dapat pula terisolasi atau berhubungan dengan proteinuria dan
kelainan saluran kencing lainnya. Peran dokter dalam perawatan utama
pengelolaan anak dengan hematuria adalah dengan mengkonfirmasi temuan serta
menegakan etiologinya.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus hematuria?

1.3 Tujuan Tujuan


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus
hematuria.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui anatomi fisiologi ginjal.
2. Untuk mengetahui definisi dari penyakit hematuria.
3. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit hematuria.
4. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit hematuria.
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit hematuria.
6. Untuk mengetahui epidemiologi dari penyakit hematuria.
7. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit hematuria.
8. Untuk menegatahui pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
penderita hematuria.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita
hematuria.
10. Untuk mengetahui pengkajian yang dilakukan pada penderita hematuria.
11. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada penderita hematuria.
12. Untuk mengetahui intervensi yang akan dilakukan pada penderita
hematuria.
13. Untuk mengetahui implementasi yang akan dilakukan pada penderita
hematuria.
14. Untuk mengetahui evaluasi yang akan dilakukan pada penderita
hematuria.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
1. Terciptanya mahasiswa yang paham tentang proses terjadinya
hematuria.
2. Menambah referensi pendidikan mengenai asuhan keperawatan
pada pasien hematuria.
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Untuk menambah wawasan mengenai konsep terjadinya hematuria dan
asuhan keperawatan pada pasien hematuria.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Ginjal

Ginjal adalah bagian utama dari sistem perkemihan yang juga masuk
didalamnya ureter, kandung kemih dan uretra. Ginjal terletak pada rongga
abdomen posterior, dibelakang peritonium diarea kanan dan kiri dari kolumna
vertebralis. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang
tebal. Pada orang dewasa normal panjangnya 1213 cm, lebar 6 cm dan beratnya
antara 120-150 gram. Setiap ginjal memiliki korteks dibagian luar dan di bagian
dalam yang terbagi menjadi piramide-piramide. Pada setiap piramide membentuk
duktus papilaris yang selanjutnya menjadi kaliks minor, kaliks mayor dan bersatu
membentuk ginjal tempat terkumpulnya urine. Ureter menghubungkan ginjal
dengan kandung kemih.
Garis-garis yang terlihat pada piramide disebut nefron yang merupakan
satuan fungsional ginjal. Setiap ginjal terdiri dari satu juta nefron. Setiap nefron
terdiri atas glomerulus yang merupakan lubang-lubang yang terdapat pada
piramide-piramide renal, membentuk simpul dan kapiler badan samulpigli, kapsul
bowman, tubulus proximal, ansa henle dan tubulus distal. Ureter menghubungkan
pelvis ginjal dengan kandung kemih. Kedua ureter merupakan saluran yang
panjangnya 1012 inc. Ureter berfungsi menyalurkan urin ke kandung kemih.
Kandung kemih mempunyai tiga muara. Dua maura ureter dan satu muara uretra.
Kandung kemih sebagai tempat menyimpannya urin dan mendorong urin untuk
keluar. Uretra adalah saluran kecil yang berjalan dari kandung kemih sampai ke
luar tubuh yang disebuat meatus uretra.
Fungsi ginjal:
1. Fungsi ekskresi
a. Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 cm osmol dengan
mengubah ekskresi air.
b. Mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam
rentang normal.
c. Mempertahankan pH plasma dengan mengeluarkan kelebihan dan
membentuk kembali HCo3.
d. Mengekskresikan produk ahkir nitrogen dan metabolisme protein
terutama urea, asam urat dan kretinin.
2. Fungsi non ekskresi
a. Menghasilkan renin, penting untuk mengatur tekanan darah.
b. Menghasilkan eritropoitin, faktor penting dalam stimulasi produksi sel
darah merah dan sumsum tulang.
c. Metabolisme vitamin D menjdai bentuk aktifnya.
d. Degradasi insulin
e. Menghasilkan prostaglandin.

2.2 Definisi
Hematuria adalah keadaan abnormal dengan ditemukannya sel darah
merah dalam urin. Ada dua macam hematuria, yaitu hematuri mikroskopis dan
hematuri makroskopis (gross hematuria). Hematuria makroskopis dapat terjadi
bila sedikitnya 1cc darah perliter urin sedangkan hematuria mikroskopis sering
kita temukan pada pemeriksaan laboratorium urinlisis pada pasien dengan pasien
berbagai keluhan, atau pada saat tes kesehatan (check up). Dikatakan hematuria
bila pada pemeriksaan mikroskop ditemukan 3 atau lebih per lapang besar urin
yang disentrifugasi, dari evaluasi sedimen urin dua dari tiga contoh urin yang
diperiksa.
Hematuria adalah didapatkannya sel-sel darah merah di dalam urine.
Penemuan klinis sering di dapatkan pada populasi orang dewasa, dengan
prevalensi yang mulai dari 2,5% menjadi 20,0% . Secara visual terdapatnya sel-sel
darah merah di dalam urine dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu:
1. Hematuria makroskopik
Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata dapat
dilihat sebagai urine yang berwarna merah, mungkin tampak pada awal
miksi atau pada akhirnya yang berasal dari daerah posterior uretra atau
leher kandung kemih. Hematuria makroskopik yang berlangsung terus
menerus dapat mengancam jiwa karena dapat menimbulkan penyulit
berupa: terbentuknya gumpalan darah yang dapat menyumbat aliran urine,
eksanguinasi sehingga menimbulkan syok hipovolemik/anemi, dan
menimbulkan urosepsis. (Mellisa C Stoppler, 2010)
2. Hematuria mikroskopik
Hematuria mikroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata tidak
dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan
mikroskopik diketemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapang
pandang. Meskipun gross hematuria didefinisikan didapatkannya sel-sel
darah merah di dalam urine, ada kontroversi mengenai definisi yang tepat
dari hematuria mikroskopik. American Urological Association (AUA)
mendefinisikan hematuria mikroskopis klinis yang signifikan karena
terdapat lebih dari 3 sel darah merah (sel darah merah) pada lapangan
pandang besar pada 2 dari 3 spesimen urin dikumpulkan dengan selama 2
sampai 3 minggu. Namun, pasien yang berisiko tinggi untuk penyakit
urologi harus dievaluasi secara klinis untuk hematuria jika urinalisis
tunggal menunjukkan 2 atau lebih sel darah merah pada lapangan pandang
besar. (Mellisa C Stoppler, 2010)
Evaluasi yang tepat dan waktu yang cepat sangat penting, karena setiap derajat
hematuria dapat menjadi tanda dari penyakit genitourinari yang serius.

2.3 Klasifikasi
Dalam mengevaluasi hematuria, terutama hematuria makroskopik, banyak
ahli mencoba untuk mempersempit penyebab yang mungkin melalui klasifikasi
stadium dimana perdarahan terjadi selama urinasi. Meskipun klasifikasi ini tidak
definitif, namun sering memberikan indikator yang diperlukan umtuk
pemeriksaan dan tes lebih lanjut.
1. Hematuria inisial: darah yang muncul saat mulai berkemih, sering
mengindikasikan masalah di uretra (pada pria, dapat juga di prostat).
2. Hematuria terminal: darah yang terlihat pada akhir proses berkemih dapat
menunjukkan adanya penyakit pada buli-buli atau prostat.
3. Hematuria total: darah yang terlihat selama proses berkemih, dari awal
hingga akhir, menunjukkan permasalahan pada buli-buli, ureter atau
ginjal.
2.4 Etiologi

Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam sistem


urogenitalia atau kelainan yang berada di luar urogenitalia.
Kelainan yang berasal dari sistem urogenitalia antara lain adalah:
1. Infeksi antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan
uretritis
2. Menstruasi
3. Tumor jinak atau tumor ganas yaitu: tumor ginjal (tumor Wilms), tumor
grawitz, tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan
hiperplasia prostat jinak.
4. Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain : kista ginjal
5. Trauma yang mencederai sistem urogenitalia.
6. Batu saluran kemih. (Mellisa C Stoppler, 2010)
Kelainan-kelainan yang berasal dari luar sistem urogenitalia antara lain adalah:
1. Kelainan pembekuan darah (Diathesis Hemorhagic)
2. Penggunaan antikoagulan, atau proses emboli pada fibrilasi atrium jantung
maupun endokarditis. (Wim de Jong, dkk, 2004)

2.5 Patofisiologi

Berdasarkan lokasi yang mengalami kelainan atau trauma, dibedakan


glomerulus dan untuk memisahkan bidang nefrologi. Darah yang berasal dari
nefron disebut hematuria glomerulus. Pada kedaan normal, sel darah merah jarang
ditemukan pada urin. Adanya eritrosit pada urin dapat terjadi pada kelainan
herediter atau perubahan stuktur glomerulus dan integritas kapiler yang abnormal.
Erisolit bila berikatan dengan protein TaamHorsfall akan membentuk silinder
eritrosis. Ini merupakan petunjuk penyakit / kelainan glomerulus yang merupakan
petanda penyakit ginjal kronik. Pada penyakit manefron/glomelus biasanya hanya
ditemukan sel darah merah saja tanpa silinde. Proteinuria merupakan tanda lesi
nefron / glomerulus.
Hematuria mikroskopik bila ditemukan eristrosit 3 atau lebih dari 3/lapang
pandang besar. bila hematuria disertai protenuria positif 1 dengan menggunakan
dipstick dilanjutkan dengan pemeriksaan kuantitatif eskresi protein/24 jam. Bila
eskresi protein lebih dari 1g/24jam segera konsultasi nefrologi untuk evaluasi.
Pada ekskresi protein lebih dari 500mg/24jam yang makin meningkat atau
persisten di perkirakan suatu kelainan parenkim ginjal.
Perlu diperhatikan dalam mpengambilan contoh urine: pada perempuan
harus disingkirkan penyebab hematuria lain misalnya menstruasi, laserasi pada
organ genitalia sedangkan pada laki-laki apakah disirkumsisi atau tidak.
Infeksi Tumor
mikroorganisme

ISK (pielonefritis, glomerulonefritis, Penekanan Sel kanker Mengambil nutrisi dari sel
ureteritis, sistitis, uretritis) pembuluh darah
Inflamasi Sel normal mati
Trauma pada
saluran urin
Obstruksi Mengeluarkan Apitosis
saluran kemih mediator nyeri
Pecahnya pembuluh
darah di renal Nekrosis di tubulus proksimal
Resiko Menekan ujung
infeksi saraf bebas
Pendarahan Fungsi ginjal menurun
Nyeri
Reabsorpsi menurun
Urine tercampur Anemia
darah
Penurunan sekresi H+ Penurunan
HEMATURIA Tampak Nutrisi ke HCO3 & PCO2
pucat jaringan
menurun Penurunan pH
Asidosis respiratorik
Asidosis metabolik
O2 ke otak menurun Lemas
Nafas kusmaull
Resiko Penurunan Intoleransi aktifitas Ketidakefektifan
syok kesadaran Hiperventilasi pola nafas
2.6 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, prevalensi hematuria gross pada anak-anak
diperkirakan 0,13%. Lebih dari setengah dari kasus (56%) ini disebabkan oleh
penyebab yang mudah diidentifikasi. Penyebab paling umum tampaknya sistitis
(20-25%). Seks mungkin mempengaruhi seorang anak untuk menderita penyakit
tertentu yang bermanifestasi sebagai hematuria. Misalnya, penyakit terkait seks
yaitu sindrom Alport memiliki kecenderungan pada laki-laki, sedangkan nefritis
lupus lebih sering terjadi pada gadis remaja. Prevalensi kondisi tertentu juga
bervariasi dengan usia. Misalnya, tumor Wilms lebih sering pada anak-anak usia
prasekolah, sedangkan post infectious glomerulonefritis akut lebih sering terjadi
pada usia anak sekolah. Pada orang dewasa, hematuria sering merupakan tanda
keganasan dari saluran Genitourinary (misalnya, karsinoma sel ginjal, kandung
kemih tumor, tumor prostat). Kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak.

2.7 Manifestasi Klinis


Gajala klinis yang dapat ditimbulkan antara lain:
1. Darah pada urin (hematuria makroskopis atau hematuria mikroskopis)
2. Nyeri saat proses mengeluarkan urin (disuria)
3. Urgensi
4. Nyeri pada daerah pelvis atau pinggang
5. Hematuria dapat menimbulkan retensi bekuan darah sehingga pasien
datang dengan meminta pertolongan karena tidak dapat miksi

2.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan per-rektal atau vaginal.
Hal ini berguna untuk memeriksa keberadaan tumor dengan ukuran yang
cukup besar.
2. Sistoskopi (atau disebut juga sistouretroskopi)
Suatu pemeriksaan yang mana alat ini dimasukkan sepanjang uretra untuk
memeriksa kandung kemih dan traktus urinarius untuk melihat adanya
suatu abnormalitas struktural atau obstruksi, seperti tumor atau batu.
Contoh jaringan kandung kemih (biopsi) dapat diambil melalui sistoskop
untuk kemudian diperiksa dengan menggunakaan mikroskop.
3. Intavenous pyelogram (IVP)
Pemeriksaan ini berguna untuk memeriksa ginjal, ureter, dan kandung
kemih, mendeteksi adanya tumor, abnormalitas, batu, dan mengetahui
obstrusi lainnya. Pemeriksaan IVP dapat mendeteksi adanya tumor buli
berupa filling deffect. Didapatkannya hidroureter atau hidronefrosis
merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara
ureter.
4. Laboratorium
Laboratorium yang dapat digunakan anatara lain darah rutin, kimia darah,
urin mikroskopis dan deteksi bakteri di dalam urin. Selain itu dapat pula
dilakukan pemeriksaan sitologi urin, yaitu pemeriksaan sel-sel urotelium
yang terlepas bersama urin.
5. USG, berguna untuk menentukan letak dan sifat massa ginjal dan prostat
(padat atau kista), adanya batu atau lebarnya lumen pyelum, penyakit
kistik, hidronefrosis, atau urolitiasis ureter, kandung kemih dan uretra,
bekuan darah pada buli-buli/pielum, dan untuk mengetahui adanya
metastasis tumor di hepar. Ultrasonografi dari saluran kemih sangat
berguna pada pasien dengan hematuria berat, nyeri abdomen, nyeri
pinggang, atau trauma. Jika hasil penelitian awal ini tetap normal,
disarankan dilakukan pemeriksaan kreatinin dan elektrolit serum.
6. Pemeriksaan endoskopi uretra dan kandung kemih memberikan gambaran
jelas dan kesempatan untuk mengadakan biopsy.
7. Intervenous Urography (IVU)
Pemeriksaan ini menggunakan cahay X-Ray melalui injeksi IV, dan
dimasukkan ke dalam ginjal dan ureter. Pemeriksaan ini dapat
mendeskripsikan dan mendeteksi adanya batu pada ginjal dan lesi pada
ureter.
8. KUB X-Ray
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya batu pada saluran perkemihan
terutama dilakukan pada pasien mudayang memiliki resiko terjadinya
tumor ureter. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi terjadinya hematuria
atau perdarahan yang terjadi di glomerulus.
9. CT-Scan
Pemeriksaan ini efektif digunakan untuk memeriksa adanya gangguan
pada saluran kemih bagian atas.
10. MRI
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi terjadinya hematuria.
(Bruce, 2008)

2.9 Penatalaksanaan
Saat terjadi gumpalan pada urin yang menimbulkan retensi maka perlu
dilakukan kateterisasi dan bilasan buli dengan memakai cairan garam fisiologis.
Jika gagal maka sebaiknya pasien dirujuk untuk ditangani lebih lanjut dengan
evakuasi bekuan darah dan menghentikan sumber pendarahan. Jika pendarahan
sampai menyebabkan anemia maka perlu difikirkan untuk tranfusi darah. Jika
terjadi infeksi maka harus diberikan antibiotic. Setelah gejala hematuria di
tangani selanjutnya dicari penyebab primernya.
Tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria. Pengobatannya
tergantung pada penyebabnya:
1. Infeksi saluran kemih, bisanya diatasi dengan antibiotic
2. Batu ginjal, dengan banyak minum. Jika batu tetap tidak keluar, dapat
dilakukan ESWL atau pembedahan.
3. Pembesaran prostat, diatasi dengan obat-obatan atau pembedahan.
4. Kanker, dilakukan pembedahan, untuk mengangkat jaringan kanker, atau
kemoterapi.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Identitas
Pasien yang beresiko tinggi penyakit urologi, seperti pada usia lanjut,
memiliki prevelensi hematuria yang tinggi. Penyakit urologi pada pasien
pasien ini bervariasi yang berhubungan dengan factor resiko anatara lain :
Usia > 40 tahun
Pria
Riwayat merokok
b. Keluhan utama
Nyerti pada flank area (diantara iga dan panggul), punggung, perut
bawah, atau kemaluan nyeri atau rasa panas saat berkemih
Demam
Mual muntah
Berat badan menurun
Sering berkemih
Anyangayangan
Sensasi terbakar pada saat buang air kecil
Urine berwarna kelabu oleh adanya nanah dalam urine
c. Riwayat penyakit sebelumnya
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan
penyakit sekarang perlu ditanyakan. Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOM,
Jantung koroner, dan ketahui pula adanya riwayat penyakit saluran kencing
dan pembedahan terdahulu.
d. Riwayat kesehatan lingkungan
Riwayat kesehatan lingkungan meliputi riwayat penyakit pada anggota
keluarga yang sifatnya menurun seperti : hipertensi, DM, asma.
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
2. Resiko syok (hipovolemik)
3. Resiko infeksi
4. Ketidakefektivan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke
jaringan, otak

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam rasa
nyeri berkurang dan pasien dapat mengontrol terjadinya nyeri
Kriteria Hasil:
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Intervensi:

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,


karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor prepitasi
b. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
c. Tingkatkan istirahat
d. Ajarkan teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
e. Kolaborasikan pemberian obat analgesic
2. Resiko syok
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam pasien
tidak mengalami pendarahan
Kriteria Hasil:
a. Nadi, irama jantung, frekuensi nafas, dan irama pernapasan dalam
batas yang diharapkan
b. Natrium serum, kalium serum, klorida serum, kalsium serum,
magnesium serum dalam batas normal
c. pH darah serum balam batas normal
Intervensi:

a. Pantau hasil lab: Hb, Ht, AGD dan elektrolit


b. Monitor TTV
c. Monitor tanda awal syok
d. Monitor fungsi neurologis
e. Monitor fungsi renal
3. Resiko infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam
pasien akan memperlihatkan tidak adannya tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil :

a. Memiliki hasil pemeriksaan temperatur dan lab dalam batas normal


b. Memiliki suara paru yang bersih
c. Urinnya bening dan kuning
Intervensi :

a. Kaji efektifitas pemeberian imunosupresive


b. Monitor serum sel darah merah, antibodi, nilai set T
c. Periksa temp. tubuh setiap 4 jam
d. Catat karakteristik urine
e. Hindari pemasangan kateter pada saluran perkemihan

3.4 Implementasi

1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi


a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor prepitasi
b. Mengobservasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
c. Menganjurkan pasien untuk meningkatkan istirahat
d. Mengajarkan teknik non farmakologi untuk mengurangi rasa nyeri
e. Berkolaborasi tentang pemberian obat analgesic
2. Resiko syok
a. Memantau hasil lab: Hb, Ht, AGD dan elektrolit
b. Memonitor TTV
c. Memonitor tanda awal syok
d. Memonitor fungsi neurologis
e. Memonitor fungsi renal
3. Resiko infeksi
a. Mengkaji efektifitas pemeberian imunosupresive
b. Memonitor serum sel darah merah, antibodi, nilai set T
c. Memeriksa temp. tubuh setiap 4 jam
d. Mencatat karakteristik urine
e. Menghindari pemasangan kateter pada saluran perkemihan

3.5 Evaluasi
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi
2. Tidak ada keluhan nyeri pada pinggang dan pelvis pasien
3. Tidak terjadi pendarahan
4. Tidak terdapat campuran darah pada urine pasien
5. Tidak terjadi obstruksi pada saluran perkemihan sehingga pengeluaran
urine menjadi lancar
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hematuria adalah istilah klinis yang digunakan untuk menjelaskan adanya
darah, khususnya sel darah merah, dalam urin. Adanya darah dalam urin ini bisa
saja tidak kasat mata dan hanya terlihat di bawah mikroskop atau atau juga
mungkin darah dalam urin akan terlihat dalam jumlah yang cukup dengan mata
telanjang, hematuria merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang menyebabkan
perdarahan abnormal pada saluran urogenital pasien. Sumber perdarahan bisa
terjadi di mana saja di sepanjang saluran ini: ginjal, ureter (tabung yang berjalan
dari ginjal ke kandung kemih), kelenjar prostat, kandung kemih atau uretra.
Penyebab terjadinya hematuria ini yaitu: adanya infeksi, tumor jinak atau tumor
ganas, kelainan bawaan sistem urogenitalia, trauma yang mencederai sistem
urogenitalia, batu saluran kemih, kelainan pembekuan darah, penggunaan
antikoagulan.

4.2 Saran
Mengenai makalah yang kami susun, bila ada kesalahan maupun
ketidaklengkapan materi batu ginjal kami memohon maaf. Kamipun sadar bahwa
makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap
kritik dan saran yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Bruce, Turner. 2008. Haematuria: Causes and Management. Nursing Standard


Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta: Sagung Seto
Setyohadi, Bambang (dkk). 2006. Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta: EGC
Silvia and Wilson. 2006. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.
Sjamsuhidayat, R. 2004. Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.Jakarta: EGC