Anda di halaman 1dari 11

PROBLEMATIKA AGROEKOSISTEM

PAPER
Mata kuliah problematika agroekosistem
Dosen pengampu : Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P.
Selasa, 22 November 2016

AGROEKOSISTEM RAWA PADA ZONA A

Disusun Oleh :
Hutami Rusbadillah 20150210074
Muhammad Widin 20150210078
Herdian Ageng Sadewa 201502100
Irfan Aris 20150210083
Muhammad Burhanuddin I. 20150210114

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016

0
I. Pendahuluan

Lahan rawa merupakan lahan basah (wetland) yang menurut definisi


Ramsar Convention mencakup wilayah marsh, fen, lahan gambut (peatland),
swamp dan bog yang terbentuk secara alami atau buatan dengan air yang tidak
bergerak atau mengalir. Rawa terbentuk dari pasangnya sungai atau laut, sehingga
airnya dapat tawar, payau maupun asin. Pada keadaan surut terendah tidak
melebihi enam meter (Wibowo dan Suyatno, 1997).
Wilayah rawa Swamp yaitu area yang secara permanen selalu jenuh air,
permukaan air tanahnya dangkal, atau tergenang air dangkal hampir sepanjang
waktu dalam setahun. Marsh yaitu rawa yang genangan airnya bersifat tidak
permanen, namun mengalami genangan banjir dari sungai atau air pasang dari laut
secara periodik, dimana debu dan liat sebagai muatan sedimen sungai seringkali
diendapkan. Bog adalah rawa yang tergenang air dangkal, permukaan tanahnya
tertutup lapisan vegetasi yang melapuk atau gambut. Fed adalah rawa yang
tanahnya jenuh air serta ditumbuhi rumputan rawa sejenis reeds, sedges, dan
rushes. Air tanah fed mengandung kapur dan berPh netral (Subagyo, 2006).
Lahan rawa sebenarnya merupakan lahan yang menempati posisi peralihan
diantara sistem daratan dan sistem perairan seperti sungai, danau atau laut yang
berada diantara daratan dan laut atau di daratan sendiri antara wilayah lahan
kering (uplands) dan sungai. Dalam kondisi alami, lahan rawa ditumbuhi berbagai
tumbuhan air sejenis rumputan seperti reeds, sedges dan rushes serta vegetasi
semak atau hutan. Keadaan tanahnya jenuh air sehingga selalu tergenang air yang
dangkal. Berdasarkan pengaruh pasang surut air laut, klasifikasi zona rawa terbagi
menjadi tiga wilayah yang telah diuraikan oleh Widjaja-Adhi et al. (1992) dan
Subagyo (1997). Ketiga zona wilayah rawa tersebut yaitu : Zona A yaitu rawa
pasang surut air asin/payau, Zona B yaitu rawa pasang surut air tawar dan Zona C
yaitu rawa lebak (Subagyo, 2006).
Lahan rawa di zona A memiliki karakteristik tersendiri, yaitu sistem
pengairan yang mengandalkan pasang dan surutnya air, tanahnya bereaksi masam
sampai sangat masam, mempunyai lapisan pirit (FeS2) yang merupakan sumber
racun besi bagi tanaman, tanahnya miskin hara dengan heterogenitas yang sangat
tinggi sehingga bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya (Anwar, 2001).

1
II. Pembahasan

A. Lahan Rawa Zona A


Rawa zona A merupakan wilayah rawa pasang surut air laut yang terdapat
dibagian daratan yang bersambungan dengan laut, khususnya di muara sungai
besar dan pulau-pulau delta di wilayah dekat muara sungai. Daerah pantai
memiliki pasang surut air laut yang kuat, hal ini disebut dengan tidal wetlands,
yaitu lahan basah yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut/salin.
Wilayah pantai yang terbuka berhadapan langsung ke laut lepas apabila pesisir
pantainya berpasir, maka ombak dapat langsung mencapai garis pantai yang akan
membentuk beting pasir pantai (coastal dunes/ridges) yang di belakangnya
terdapat laguna (lagoons) atau danau kecil (Subagyo, 2006).
Fenomena pasang dan surut pada rawa pasang surut disebabkan oleh
adanya gaya tarik antara benda-benda langit, khususnya bulan dengan bumi. Pada
saat bulan dan bumi berjarak terdekat, maka terjadilah pasang besar (spring tide),
sebaliknya terjadi surut, yaitu saat jarak bulan dan bumi terjauh, maka terjadilah
surut. Selain pasang besar yang terjadi saat purnama (spring tide), juga didapati
pasang kecil (neap tide) yang terjadi antara masa purnama dan bulan mati
(Lindung, 2014).
Berdasarkan kondisi tinggi rendahnya pasang atau luapan air
(hidrotopografi), maka daerah rawa pasang surut dibagi menjadi 4 (empat) tipe
luapan, yaitu tipe A, B, C dan D (Noorsyamsi dan Hidayat 1976). Tipe A, yaitu
daerah yang mendapatkan luapan pada saat pasang besar dan pasang kecil.
Wilayah tipe A ini meliputi pantai sampai pesisir, dan tepian sungai. Tipe B, yaitu
daerah yang hanya mendapatkan luapan pada saat pasang besar. Wilayah tipe B ini
meliputi rawa belakang (back swamps) dari pinggiran sungai sampai mencapai >
50 km ke pedalaman. Tipe C, yaitu daerah yang tidak mendapatkan luapan pasang
langsung, tetapi mendapatkan pengaruh resapan pasang dengan tinggi muka air
tanah < 50 cm. Sedangkan tipe D sama serupa dengan tipe C, tetapi pengaruh
resapan kurang dengantinggi muka air tanah lebih dalam> 50 cm. Wilayah tipe D
ini sering diserupakan dengan lahan tadah hujan (Lindung, 2014).
Berdassarkan jenis tanah dan potensinya, lahan rawa pasang surut
dibedakan antara tanah mineral dan tanah gambut. Tanah mineral tanah terbentuk

2
oleh proses pedogenik beupa endapan liat, debu, dan sebagian pasir yang berupa
alluvial sungai atau marin (laut). Sedangkan tanah gambut terbentuk oleh adanya
proses geogenik berupa akumulasi (pasisa-sisa tanaman baik yang sudah mati baik
terdekomposisi (matang) maupun belum terdekomposisi (mentah). Dua jenis
tanah ini mempunyai sifat fisik, kimia, maupun biologi yang berbeda sehingga
mempunyai potensi yang berbeda. Sifat- sifat tanah yang berbeda tersebut
diantaranya adalah kadar bahan organik, kadar air, kapasitas tukar kation,
kejenuhan basa, dan ketersediaan hara bagi tanaman (Noor dan Raahman, 2001).
B. Terbentuknya Rawa Pasang Surut Air Laut
Rawa zona A terbentuk dikarenakan terjadinya pasang air laut yang
melalui muara dan meluas disekiataran hingga air menggenangi cekungan yang
berada di daerah pinggiran sungai dan muara. Pada bagian teluk yang terlindung
dari hantaman ombak langsung atau di bagian pantai yang terlindung gosong pasir
(sand spits) pada bagian paling depan terdapat dataran lumpur disebut tidal flats
yang terbenam air laut sewaktu laut pasang dan muncul sebagai daratan sewaktu
air surut. Pada bagian daratan yang sedikit lebih tinggi letaknya yang sebagian
atau seluruhnya masih digenangi air pasang disebut tidal marsh (rawa pasang
surut) atau salt marsh (rawa dipengaruhi air garam) (Subagyo, 2006).
Panjang wilayah zona A pasang surut air laut masuk ke arah hulu dari
muara sungai dipengaruhi dari bentuk estuari atau teluk. Pada bagian muara
sungai yang melebar berbentuk V ke arah laut akan terjadinya pasang dan surut air
laut. Jika bentuk estuari lebar dan lurus pengaruh air asin/salin dapat mencapai
sekitar 10-20 km dari muara sungai besar. Namun, apabila muara sempit dan
sungai berkelok, pengaruh air asin/salin hanya mencapai jarak 5-10 km dari muara
sungai. Sementara dari laut ke arah daratan pulau delta atau pinggiran sungai jarak
masuknya air pasang dapat mencapai sekitar 4-5 km (Subagyo, 2006).
Contoh lahan rawa zona A yang berada di Indonesia seperti daerah hutan
mangrove di Kulonprogo, rawa gambut di Ujung Pandaran, Kalimantan Tengah,
muara Mentaya, Sampit, rawa asam, Belitung Timur, rawa pasang surut di daerah
pantai utara jawa dan hutan gambut di daerah sumatra selatan.

3
Gambar 1. Pembagian zona lahan rawa di sepanjang daerah aliran sungai
(DAS) bagian bawah dan tengah. Sumber gambar : Subagyo, 2006
C. Fungsi Rawa Pasang Surut Air Laut (Zona A)
Wilayah rawa zona A terdapat fungsi dalam agroekosistem yang cocok
untuk daerah rawa air asin atau payau. Fungsi rawa pasang surut air laut antara
lain sebagai hutan mangrove dan hutan gambut.
1. Hutan Mangrove
Daerah di belakang laguna atau pesisir laut merupakan daerah yang
dapat ditumbuhi tanaman bakau atau mangrove (Rhizophora sp., Bruguiera
sp.) yang masih dipengaruhi pasang suru air laut. Lebar daerah hutan bakau
dari garis pantai hingga daratan mencapai 1,5 2 km (Subagyo, 2006). Proses
terbentuknya lahan hutan mangrove dimulai dengan pembentukan endapan
dari beberapa material seperti lumpur, sampah organik dan sisa-sisa vegetasi
yang secara akumulatif membentuk sebuah dangkalan yang nantinya akan
semakin meluas seiring waktu dan menjadi tempat tumbuhnya tumbuhan
bakau jenis Avicennia alba dan Rhizophora apiculata. Dengan bertambahnya

4
usia kwalitas tanah juga berubah sehingga jenis tumbuhan yang tadinya
tumbuh pertama kali tidak lagi bisa berkembang, namun sebaliknya memicu
tumbuhan baru untuk muncul. Hutan mangrove merupakan jenis hutan
heterogen. Proses pembentukan hutan mangrove secara alami membutuhkan
waktu yang lama, akan tetapi hutan mangrove dapat terbentuk dengan cara
melakukan konservasi mangrove pada lahan rawa tepi pantai (Pongo, 2011).
Hutan mangrove memiliki beberapa fungsi seperti :
a) Hutan mangrove menjadi habitat berbagai jenis satwa seperti blekok
Asia Limnodrumus semipalmatus, bangau wilwo Mycteria cinerea,
bubut hitam (Centropus nigroruf), dan bangau tongtong (Leptoptilos
javanicu), udang-udangan (Crustacea) dan ikan air payau seperti
bandeng (Chanos chanos), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus),
ikan kakap putih (Barramundi) dan lain-lain.

b) Pelindung terhadap bencana alam. Vegetasi hutan mangrove dapat


melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari
kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui
proses filtrasi.

c) Pengendapan lumpur. Sifat fisik tanaman pada hutan mangrove


membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur
berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena
bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan
hutan mangrove, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi.

d) Penambah unsur hara, sifat fisik hutan mangrove cenderung


memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan
proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai
sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian.

e) Penambat racun, banyak racun yang memasuki ekosistem perairan


dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara
kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam

5
hutan mangrove bahkan membantu proses penambatan racun secara
aktif

f) Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ),


Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau
mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan.
Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di
hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian
digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber
makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti
menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur
(www.pusatbiologi.com, 2013).

2. Hutan Gambut
Lahan gambut merupakan bentang lahan yang tersusun oleh tanah
hasil dekomposisi tidak sempurna dari vegetasi pepohonan yang tergenang air
sehingga kondisinya anaerobik. Material organik tersebut terus menumpuk
dalam waktu lama sehingga membentuk lapisan-lapisan dengan ketebalan
lebih dari 50 cm. Hutan gambut mempunyai kemampuan menyimpan karbon
dalam jumlah yang besar. Karbon tersimpan mulai dari permukaan hingga di
dalam dalam tanah, mengingat kedalamannya bisa mencapai lebih dari 10
meter. Tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali
dari bobotnya (Subagyo, 2006).
Lahan gambut terbentuk akibat endapan bahan organik seperti batang
dan kayu yang terbawa dari sungai yang akhirnya mengendap di rawa.
Penumpukan bahan organik dikarenakan pergerakan gelombang pasang yang
membawa material tersebut. Bahan organik yang terendam dalam air asin
atau payau sulit untuk terdekompoisi. Selanjutnya secara perlahan-lahan akan
terjadi akumulasi bahan organik, sehingga lama-kelamaan akan terus
menumpuk hingga memiliki ketebalan tertentu (Widjaja-Adhi et al, 2000:
Subagyo, 2006).
Berdasarkan tingkat dekomposisinya dan bahan materi induknya,
gambut dibedakan menjadi 3, yaitu;

6
a) Gambut Endapan (campuran air, rumputan air, plankton)
Gambut endapan biasanya diakumulasikan di perairan, dan pada
umumnya dijumpai di bagian bawah dari suatu profil organik. Kadang-
kadang tercampur dengan gambut lain yang lebih dekat ke permukaan.
Gambut endapan dibentuk dari bahan tanaman yang mudah
dihumifikasikan. Mengingat sifat dari jaringan asal dan macam pelapukan,
maka terbentuk bahan sangat koloidal, padat dan bersifat seperti karet;
kapasitas kelembabannya tinggi, antara empat hingga lima kali bobot
keringnya. Air yang diisap secara demikian diikat secara kuat dan dengan
demikian gambut jenis ini sangat lambat mengering. Bila terjadi
kekeringan kemampuan menghisap air sangat lambat dan tetap keras
berada dalam bentuk bongkah yang kuat.

b) Gambut Berserat (sisa tumbuhan, ranting, daun, rerumputan dan semak-


belukar)
Sejumlah gambut berserat sering dijumpai di dalam rawa di mana
gambut endapan berada. Gambut ini mempunyai kapasitas menahan air
yang tinggi dan dapat memperlihatkan tingkat dekomposisi yang berbeda-
beda, terutama disebabkan oleh sifat fisik serat atau filamennya. Bila
bahan berserat melapuk maka akan menghasilkan tanah yang bagus,
meskipun tingkat produktivitasnya berbeda. Hampir semua gambut lumut
bersifat masam dan rendah akan kadar abu dan nitrogen. Gambut berserat
dapat dijumpai dari akumulasi organik. Biasanya berada di atas gambut
endapan.
c). Gambut Berkayu (tanaman keras dan tumbuhan di bawahnya)
Endapan rawa gambut berkayu biasanya dijumpai di atas permukaan
akumulasi organik. Gambut berkayu berwarna coklat atau hitam bila
basah. Warna itu bergantung dari tingkat dekomposisi. Gambut jenis ini
bersifat lepas dan terbuka bila kering atau agak lembab dan nyata bersifat
tidak berserat. Gambut berkayu terbentuk dari sisa pohon-pohon tetapi
juga dari semak dan tumbuhan lain yang tumbuh di rawa. Meskipun
berbagai macam tumbuhan menjadi sumber bahan organik yang
diakumulasikan, gambut berkayu agak homogen, terkecuali bila ia

7
mengandung campuran bahan-bahan berserat. Gambut ini kapasitas
menahan airnya lebih rendah dari gambut berserat.
Beberapa fungsi dari lahan rawa gambut adalah sebagai beriut :
a) Mitigasi banjir dan kekeringan di wilayah hilir. Gambut memiliki
porositas yang tinggi sehingga mempunyai daya serap air yang sangat
besar. Menurut jenisnya, gambut saprik, hemik, dan fibrik dapat
menampung air berturut-turut sebesar 451% (empat ratus lima puluh satu
per seratus), 450-850% (empat ratus lima puluh hingga delapan ratus
lima puluh per seratus), dan lebih dari 850% (delapan ratus lima puluh
per seratus) dari bobot keringnya atau hingga 90% (sembilan puluh per
seratus) dari volumenya. Karena sifatnya itu, gambut memiliki
kemampuan sebagai penambat (reservoir ) air tawar yang cukup besar
sehingga dapat menahan banjir saat musim hujan dan sebaliknya
melepaskan air tersebut pada musim kemarau.

b) Kegiatan pertanian di wilayah pasang surut akan memperoleh manfaat


besar dari keberadaan rawa gambut di wilayah hulu, sebagai sumber air
tawar untuk irigasi dan memasok air tawar secara terus menerus guna
menghindari atau mitigasi intrusi air asin.

c) Rawa gambut menyediakan sumber alam yang luar biasa. Tidak kurang
dari 300 (tiga ratus) jenis tumbuhan telah tercatat di hutan rawa gambut
Sumatera. Di Taman Nasional Berbak Jambi, misalnya kawasan ini
merupakan pelabuhan bagi keanekaragaman genetis dan ekologis dataran
rendah pesisir di Sumatera. Sejauh ini telah tercatat tidak kurang dari 260
(dua ratus enam puluh) jenis tumbuhan (termasuk 150 jenis pohon dan 23
jenis palem), sejauh ini merupakan jumlah jenis terbanyak yang pernah
diketahui (Cecep, 2016).

III. KESIMPULAN

8
Lahan rawa zona A merupakan suatu daerah yang tergenang air dalam
kurun waktu tertenti yang berada disekitar pantai. Rawa zona A dipengaruhi
pasang surut air laut langsung atau melalui muara sungai, sehingga ainya terasa
asin. Pada daerah rawa zona A memiliki agroekosistem seperti hutan bakau dan
gambut serta memiliki ekosistem yang khas. Wilayah Rawa pasang surut di
Indonesia sangat luas, seperti lahan gambut di pesisir sumatra selatan, hutan
mangrove di pesisir pulau jawa dan papua serta rawa-rawa di daerah kalimantan.

Daftar Pustaka

Subagyo. 2006. Karakteristik Dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar


Penelitian Dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Bogor.
http://bbsdlp.litbang.pertanian.go.id/phocadownload/buku/bukulahanrawa.
pdf. diakses tanggal 24 November 2016
Pongo, Abeli. 2011. Hutan Mangrove. https://alamendah.org/2011/02/18/hutan-
bakau-hutan-mangrove-definisi-dan-fungsi/. Diakses tanggal 24
November 2016
Anonim. 2013. Fungsi Dan Manfaat Hutan Mangrove.
http://www.pusatbiologi.com/2013/12/fungsi-dan-manfaat-hutan-
mangrove.html?m=1. Diakses tanggal 24 November 2016 .
Cecep, sunandar. Fahmi. 2016. Hutan Gambut. https://jurnalbumi.com/lahan-
gambut/. Diakses tanggal 24 November 2016.
Noor. Rahman. 2015. Biodiversitas Dan Kearifan Lokal Dalam Budidaya
Tanaman Pangan Mendukung Kedaulatan Pangan: Kasus Di Lahan Rawa
Pasang Surut. Balitra ULM. Kalimantan Selatan. Pros sem nas masy
biodiv indon Volume 1, ISSN: 2407-8050, Halaman: 1861-1867.
www.biodiversitas.uns.ac.id. Diakses tanggal 25 November 2016.
Lindung. 2014. Teknologi Tata Air Di Lahan Gambut Untuk Budidaya Pertanian.
http://www.bppjambi.info/newspopup.asp?id=604. Diakses tanggal 25 November
2016

9
10