Anda di halaman 1dari 1

1.

Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Karena Tukar Menukar


Tukar menukar adalah suatu persetujuan dengan mana kedua belah pihak
mengikatkan dirinya untuk saling memberikan suatu barang secara timbal balik sebagai
gantinya barang lain.
Dalam dunia perdagangan, tukar menukar disebut dengan sistem barter. Perjanjian tukar
menukar ini disebut sebagai perjanjian yang bersifat obligator, yaitu persetujuan yang
menimbulkan hak dan kewajiban. Selain itu, tukar menukar juga bersifat konsensual,artinya
perjanjian tukar menukar itu sudah terjadi sejak tercapai kata sepakat diantara pihak,
(tercapainya kata sepakat dari para pihak yang berjanji).
Tukar menukar tanah dan bangunan harus dilakukan oleh dan dihadapan PPAT dengan
membuat satu akta tukar menukar dan selanjutnya akta tersebut didaftarkan ke kantor
Pertanahan untuk mendapatkan sertifikat tanah. Sesuai dengan ketentuan BPHTB,
perolehan hak karena suatu perbuatan hukum terjadi pada saat ditandatangani akta yang
berkaitan dengan perolehan hak oleh para pihak, saksi, dan pejabat yang berwenang. Kedua
belah pihak memperoleh hak atas tanah dan bangunan, pada saat yang bersamaan
keduanya menjadi subyek pajak. Sesuai ketentuan, kedua belah pihak harus melunasi BPHTB
terutang yang menjadi kewajibannya pada saat ditandatanganinya akta tukar menukar oleh
para pihak yang melakukan tukar menukar tersebut, para saksi, dan PPAT.
2. Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan karena Pemisahan Hak Yang Mengakibatkan
Peralihan
Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan hak adalah pemindahaan sebagian hak
bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama
pemegang hak bersama.
Pemisahan hak ini bisa terjadi antara orang-orang yang memiliki hak bersama atas suatu tanah
dan bangunan maupun antara orang dan badan yang memiliki hak bersama atas suatu tanah
dan bangunan. Sebagai contoh pemisahan hak bersama terjadi dalam hal sebidang tanah
diwariskan seorang pewaris kepada tiga orang anaknya. Pewarisan bersama tersebut
didaftarkan ke kan kantor pertahanan dan diterbitkan sertifikat tanah atas nama ketiga ahli
waris tersebut. Beberapa waktu kemudian dilakukan pemufakatan diantara ketiga ahli waris
tersebut dan disepakati bahwa hak atas tanah tersebut diserahkan sepenuhnya kepada salah
satu ahli waris, yaitu ahli waris tertua (anak sulung). Dalam hal ini terjadi pemisahan hak
(semula tanah tersebut merupakan hak bersama ketiga ahli waris) yang mengakibatkan
peralihan hak, dari dua orang ahli waris (anak kedua dan ketiga) kepada salah satu ahli waris
saja, yaitu kepada anak sulung. Dengan adanya pemisahan hak ini maka salah seorang ahli
waris, yaitu anak sulung, memperoleh hak penuh atas tanah tersebut. Untuk membuktikan
pemisahan hak ini harus dibuat akta pemisahan hak oleh pejabat yang berwenang
(notaris/PPAT).