Anda di halaman 1dari 6

SK 2

1. Definisi dan Klasifikasi

2. Anatomi regio cruris


Meniskus merupakan bantalan fibrokatilago yang melekat pada medial (sisi
dalam) dan lateral (sisi luar) tibial plateu. Meniskus ini menutupi 50% dari
tibial ptateu. Meniskus lateral menutupi lebih banyak permukaan tibial
plateu lebih banyak dibanding meniskus medial sehingga terjadi kontak
langsung yang lebih banyak antara femur dan tibia pada kompartemen
medial. Meniskus ini berfungsi untuk memperlebar dan memperdalam
permukaan kontak antara femur dan tibia, hal ini menyebabkan
berkurangnya stess atau tekanan pada kartilago artikuler.

VASKULARISASI MENISKUS :
1/3 bagian perifer (bagian luar) meniskus mempunyai vaskularisasi yang baik dari
kapiler-kapiler kapsul fibrosus dan membran synovial. Sedangkan bagian dalam
merupakan area avaskuler (tidak ada pembuluh darah). Oleh karena itu bila terjadi
tear pada bagian perifer, akan sembuh dengan baik dan tear pada bagian dalam
akan sulit sembuh.

3. Epidemiologi
Cedera Meniscal sering terjadi pada pria muda yang terlibat dalam kegiatan olahraga. kedua
yakni pada orang tua yang berusia lebih dari 55 tahun; Kejadian ini merupakan akibat
meniskus yang merosot yang rentan terhadap luka-luka dengan trauma ringan. Cedera
Meniscal jarang terjadi pada anak-anak di bawah 10 tahun dengan morfologis menisci
normal.

Pasien dengan cedera olahraga biasanya pada berkisar pada usia tiga puluh tahun,
dan terjadi kira-kira 33% dari kasus. Pasien dengan trauma bukan disebabkan
olahraga pada dekade keempatterjadi kira-kira 39% dari kasus. Pasien dengan
trauma yang tidak dapat di identifikasi memiliki umur rata-rata 43 tahun, dan
berkisar 29% dari kasus. Perbandingan laki-laki dan perempuan yaitu 4:1 pada
kasus trauma ini, dan kira-kira 2 / 3 dari semua kasus terjadi pada meniskus
medial. Hasil laporan juga mencatat kejadian yang berhubungan dengan ACL
melapokan ditemukan 47% dari pasien merupakan akibat cedera olahraga dan di
13% dari cedera selain olahraga. Pada ACL kronis kejadian trauma meniskus
medial sebesar 36%, trauma meniskus lateral sebesar 22% dan kejadian kedua
bagian meniskus yaitu sebesar 16%.
4. Faktor risiko
a. Umur Tua
b. Mengangkat beban berat
c. Olahraga yang banyak melibatkan kedua lutut seperti pada bolabasket, sepak bola atau
bulu tangkis

5. Etiopatomekanisme
6. Kriteria diagnosis
Anamnesis
1. Nyeri
2. Pembengkakan pada lutut
3. Akibat pembengkakan yang mengganggu gerak sendi lutut terkunci (tidak dapat
digerakkan) dan lutut tidak dapat diluruskan atau ditekuk sepenuhnya
4. Sulit berjalan karena rasa sakit
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

1. Statis

Pasien datang dengan keadaan pincang dan cenderung menumpu pada kaki yang
sehat.

Lutut pasien masih ada peradangan

Pasien datang dengan mimik wajah kesakitan

Terdapat oedema

2. Dinamis

Pasien merasa sakit apabila dari duduk ke berdiri


Pasien merasa sakit dari jongkok ke berdiri

Pemeriksaan Fungsi Gerakan Dasar

Orientasi tes
Squad and bounching : nyeri

Aktif

Tujuan : untuk mengetahui adanya nyeri, ROM, Aktif dan koordinasi gerakan

Fleksi : Adanya nyeri dan ROM terbatas

Ekstensi : Adanya nyeri dan ROM terbatas

Eksorotasi : adanya nyeri dan ROM terbatas

Endorotasi : Adanya nyeri dan ROM terbatas

Pasif

Tujuan : untuk mengetahui ROM pasif, stabilitas sendi dan end feel

Fleksi : Nyeri dengan soft endfel

Ekstensi : Nyeridengan hard endfeel

Eksorotasi : Nyeri, dengan elastis endfeel

Endorotasi : Nyeri, dengan elastis endfeel

TIMT

Tujuan : untuk mengetahui kualitas saraf

Fleksi : Nyeri dan kualitas saraf kurang baik

Ekstensi: Nyeri dan kualitas saraf kurang baik

Eksorotasi :Nyeri, kualitas saraf kurang baik

Endorotasi :Nyeri, kualitas saraf kurang baik

Pemeriksaan Spesifik

Ballotement Test

Tujuan : untuk mengetahui adanya cairan di dalam lutut.

Caranya :recessus suprapatellaris dikosongkan dengan cara menekannya


dengan satu tangan dansementara itu dengan jari-jari tangan lainnya patella ditekan
ke bawah. Dalam keadaan normal patella itu tidak dapat ditekan kebawah : dia
sudah terletak di atas kedua condyli dari femur. Bila ada (banyak) cairan dalam
lutut, maka patella sepertinya terangkat, yang memungkinkan adanya sedikit
gerakan.

Interpretasi : patella seperti terangkat berarti ada kelebihan cairan


Tes Applay kompresi dan traksi

Tujuan : Untuk mengetahui apakah ada gangguan pada meniskus dan ligamen
collateral lateral dan medial pada lutut
Teknik : Pasien dalam posisi tengkurap dengan lutut ditekuk 90 derajat kemudian di
putar kekanan dan kiri sambil diberikan tekanan dan untuk traksi posisi sama
dengan di atas kemudian di traksi
Hasilnya : terdapat nyeri berarti ada gangguan pada ligamen dan meniscus

McMurray

Tujuan : untuk mengetahui adanya gangguan pada meniscus medial dan lateral
Caranya : Pemeriksa memfeleksikan lutut pasien secara penuh, minta pasien
untuk rileks lalu Genggam tumit pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain ,
Satu tangan yang lain menjepit dengan thumb pada satu garis sendi dan jari tengah
pada sisi yang lainnya. Selanjutnya, rotasikan tibia terhadap femur dan secara
bertahap lutut pasien diekstensikan ke arah medial ato ke arah lateral
Hasil : terdapat nyeri pada ekstensi ke arah medial berari terjadi kelainan pada
meniscus medial.

Laci sorong

Tujuan : untuk mengetahui stabilitas pada knee joint, khususnya hipermobilitas


pada knee joint ruptur ligament cruciantum anterior dan posterior
Teknik : pasien dalam posisi tidur terlentang dengan kedua lutut fleksi 70 derajat.
kemudian fisioterapis mendorong dan menarik tibia
Hasil : terdapat nyeri berarti ada kemungkinan terjadi ruptur pada ligamen
cruciatum antreior

Gravity sign

Tujuan : untuk mengetahui adanya ruptur pada ligament cruciatum posterior


Teknik : pasien dalam posisi tidur terlentang diminta agar mengangkat kakinya
sehingga lutut dan pangkal pahanya membentuk sudut 90. Kemudian Ft mengamati
tuberisitas tibiae
Hasil : lutut kanan dan kiri sama berarti tdk ada ruptur pada ligamen crusiatum
posterior
7. Pemeriksaan Penunjang
1. MRI
1. X-Ray
2. Rontgen
3. Arthoscopy
4. Arthrograpy
X-ray pada lutut biasanya dianjurkan untuk meyakinkan bahwa tidak ada degenerasi sendi,
kelonggaran sendi, atau abnormalitas tulang yang lain. Bagaimanapun, meniscus merupakan jaringan
lunak jadi robekan tidak terlihat pada Xray, karena robekan meniscus hanya terlihat dengan MRI
(magnetic resonance imaging), maka dari itu diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan
menggunakan MRI.
Gambar dari MRI meniscus yang robek.

Operasi meniscus dilakukan dengan menggunakan arthroscopy, dengan optik kamera TV


yang kecil dan digunakan untuk melihat dan operasi di dalam sendi. Hanya potongan kecil
diperlukan selama artroskopi. Ahli bedah tidak perlu membuka sendi lutut. Pembedahan dengan
arthroscopy biasanya dapat dilakukan pada prosedur rawat jalan.

Dalam arthoscopy, maka akan dimasukkan instrument melalui dua atau empat pintu, dengan
insisi kulit sepanjang 1cm. Instrumen digunakan untuk melihat kerobekan pada meniscus. Untuk
memperbaiki robekan meniscus, ahli bedah mungkin membutuhkan insisi yang lebih luas disekitar
lutut. Pada lutut yang tidak stabil karena cidera ligament (contohnya, kerobekan ligamentum
cruciata anterior), lebih diperhatikan untuk diperbaiki daripada kerusakan dari meniscus, hal ini
dikarenakan ketidakstabilan lutut dapat menyebabkan robekan meniscus lebih jauh atau perubahan
degeneratif.

Anestesi umum atau anestesi spinal akan dibutuhkan. Dua atau tiga insisi untuk membuat lubang
kecil di lutut, yang disebut portal. Portal ini adalah adalah tempat dimana instrumen bedah
arthroscope dimasukkan ke dalam lutut. Perlindungan pada saraf dan pembuluh darah tetap
diperhatikan.

Gambaran Radiologi

a. Foto rontgen tidak memberikan informasi keadaan meniskus oleh karena hanya di jumpai
gambaran radiolusen.
b. Arthrograpy dengan zat kontras lebih infromatif terutama bila gambaran klinis masih belum
jelas.
c. MRI pada lutut merupakan metode non-invasif yang sangan informatif dalam menilai
keadaan meniskus.
d. Arthroscopy pada sendi lutut terbukti bermanfaat dalam mendiagnosa robekan sisi medial
atau lateral. Alat ini sudah merupakan pemeriksaan rutin dibeberapa center bila terjadi
trauma pada lutut. Selain itu, dengan alat arthroskopi dapat melakukan tindakan operasi
definitif (repair, partial atau total meniscectomy) (Rasjad, Chairuddin dan Wiley Blackwell.
2007).

8. Tatalaksana

9. Komplikasi dan prognosis


Prognosis pasien lesi meniskus tergantung umur dan mekanisme cedera. Akrena
mempengaruhi proses penyembuhan.
10. Integrasi Islam