Anda di halaman 1dari 3

Contoh Penalaran Deduktif :

Akuntansi sektor publik adalah sistem akuntansi yang dipakai oleh lembaga-lembaga
publik sebagai salah satu pertanggungjawaban kepada publik. Sekarang terdapat perhatian yang
semakin besar terhadap praktek akuntansi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga publik, baik
akuntansi sektor pemerintahan maupun lembaga publik non-pemerintah. Lembaga publik
mendapat tuntutan dari masyarakat untuk dikelola secara akuntabel, transparan, dan
bertanggungjawab.
Sumber : Anugriani, Mulya. 2014. Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi, dan Pengawasan
terhadap Kinerja Anggaran Berkonsep Value for Money pada Instansi Pemerintah di
Kabupaten Bone. Skripsi. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Penalaran Induktif (Hipotesa dan Teori)


Hipotese (hypodi bawah, tithenaimenempatkan) adalah semacam teori atau kesimpulan yang
diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penentu dalam peneliti
fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain secara lebih lanjut.
Sebaliknya teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila
dibandingkan dengan hipotese.
Contoh :
Anggie Veronisa (2015) membuktikan bahwa pengaruh penerapan anggaran berbasis
kinerja terhadap akuntabilitas kinerja instansi pemerintah dapat dijelaskan melalui empat
hipotesis:
H1 : Kompetensi aparatur pemerintah daerah berpengaruh terhadap Akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah.
H2: Komitmen Organisasi berpengaruh terhadap Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
H3: Gaya Kepemimpinan berpengaruh terhadap Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
H4: Penghargaan dan Hukuman berpengaruh terhadap Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
Sumber : Veronisa, Anggie. 2015. Pengaruh Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja
Terhadap Akuntanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Studi pada Satuan
Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Bengkalis). Jom FEKON, 2(2), h: 1-15.
Penalaran Induktif (Hubungan Kausal)
Hubungan kausal merupakan proses penalaran yang dimulai dengan menggunakan fakta yang
berupa sebab dan sampai pada simpulan yang merupakan yang merupakan akibat atau
sebaliknya.
Contoh :
Dengan diberlakunaya Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor Nomor 53 Tahun
2004 tersebut memberikan kejelasan terhadap bentuk partisipasi masyarakat dalam proses
kebijakan publik, yakni melalui orang pribadi, organisasi social, LSM, Media massa , maupun
lembaga publik. Sedangkan untuk memantau dan menevaluasi pelaksanaan kebijakan publik ,
melakukan konsultasi dengan stakeholder dan melakukan mediasai antar pihak yang bermasalah,
amka atas inisiatif masyarakat dan prakarsa masyarakat dapat dibentuk Komisi Patisipasi
masyarakat. Sebagai konsekuensi adanya perda tersebut , apabila lembaga publik tidak
melaksanakan ketentuan Perda Nomor 53 Tahun 2004 tersebut maka dapat dikenakan sanksi
adminsitratif sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam Perda ini terdapat jangka waktu peninjauan
kembali terhadap kebijakan publik yaitu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kalender .
sumber : Rahmanurrasjid, Amin. 2008. Akuntabilitas Dan Trasnparansi Dalam
Pertanggungjawaban Pemerintah Daerah Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang
Baik Di Daerah (Studi Di Kabupaten Kebumen). Tesis. Program Magister
Ilmu Hukum, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang.

Penalaran Induktif (Metode Eksposisi)


Metode eksposisi dapat diartikan sebagai pembahasan fakta-fakta yang diajukan secukupnya
untuk mengadakan konkritisasi atas inti persoalan yang dikemukakan, sehingga para pembaca
mengetahui bukan hanya persoalannya tetapi juga beberapa landasan (teori) yang menunjang inti
persoalan.
Contoh:
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa akuntabilitas publik berpengaruh signifikan
positif tehadap kinerja manajerial SKPD dengan nilai signifikansi 0,000 < = 0,05 dan nilai
thitung 5,211 > ttabel 1,6602. Nilai koefisiensi dari variabel X1 bernilai positif yaitu 2,449.
Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan adanya akuntabilitas publik setiap manajer pada
semua tingkatan pada SKPD akan meningkatkan kinerja manajerial. Hal ini sesuai dengan
dengan teori yang dinyatakan oleh Mardiasmo (2002) yaitu akuntabilitas merupakan prinsip
pertanggungjawaban yang berarti bahwa proses penganggaran dimulai dari perencanaan,
penyusunan, pelaksanaan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan
kepada DPRD dan masyarakat. Hal ini menegaskan pentingnya akuntabilitas publik dalam
peningkatan kinerja manejerial, karena dengan adanya akuntabiliatas kepada masyarakat,
masyarakat tidak hanya untuk mengetahui anggaran tersebut tetapi juga mengetahui pelaksanaan
kegiatan yang dianggarkan.
Sumber : Putra, Deki. 2013. Pengaruh Akuntanbilitas Publik dan Kejelasan Sasaran Anggaran

Terhadap Kinerjan Manajerial Satuan kerja Perangkat Daerah (Studi Empiris pada
Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang). Skripsi. Program Studi
Akuntansi,
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang.