Anda di halaman 1dari 26

MODUL 5

INSERSI, RETENSI, DAN EVALUASI

SKENARIO 5

Ada kawat di gigiku

Sani (11 tahun) diantar ibunya ke klinik gigi dengan keluhan gigi depan
atasnya sedikit maju dan bercelah. Setelah dilakukan analisa, dokter gigi
menganjurkan pemakaian piranti lepasan untuk mengoreksi kasus diatas. Pada
saat insersi piranti lepasan, dokter gigi berpesan agar piranti tersebut dipakai
setiap hari.
Dokter gigi juga menganjurkan setelah maloklusi terkoreksi, Sani tetap
memakai piranti lepasan tersebut yang berfungsi sebagai retensi agar tidak terjadi
relaps. Sani bingung kenapa haus memakai retainer dan berapa lama pemakaian
retainer tersebut ?
Bagaimana saudara menjelaskan kasus Sani diatas ?

I. Terminologi

1. Retainer adalah alat untuk menjaga kondisi gigi setelah


perawatan orthodonti.
2. Relaps adalah kembalinya gigi ke keadaan semula pasca
perawatan orthodonti.

II. Identifikasi Masalah

1. Apa saja hal-hal yang harus diinformasikan kepada pasien saat


insersi ?
2. Piranti lepasan apa yang tepat untuk kasus tersebut ?

1
3. Apa saja pertimbangan dalam memakai retainer?
4. Faktor faktor apa yang harus dipertimbangkan dalam
penggunaan retainer?
5. Berapa lama penggunaan retainer ?
6. Apa saja faktor yang menyebabkan relaps ?
7. Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi relaps ?
8. Apa saja faktor penentu keberhasilan perawatan orthodonti ?

III. Analisa Masalah

1. Apa saja hal-hal yang harus diinformasikan kepada pasien saat


insersi ?
a. Penggunaan piranti terus menerus
b. Kunjungi dokter (kontrol)
c. Saat makan dilepas
d. Segera ke dokter gigi jika patah
e. Menjaga OH dengan baik
f. Cara membuka dan memasang piranti
g. Saat dilepas direndam dalam air
h. Terasa tidak nyaman pada awal pemakaian
2. Piranti lepasan apa yang tepat untuk kasus tersebut ?
Piranti yang tepat untuk kasus di atas adalah menggunakan
labial bow.
3. Apa saja pertimbangan dalam memakai retainer?
a. Oklusi tepat
b. Penyesuain tulang dan jaringan sekitar
c. Syarat :
- Mampu menahan gigi
- Tidak mengganggu jariangan
- Tidak mengganggu fungsi
- Tidak menimbulkan tekanan (pasif)

2
4. Faktor faktor apa yang harus dipertimbangkan dalam
penggunaan retainer?
a. Umur pasien
b. Etiologi maloklusi
c. Jaringan sekitar gigi
d. Kondisi tubuh passien
e. OH
f. Kondisi mental pasien
5. Berapa lama penggunaan retainer ?
3 bulan pertama dipakai full time kecuali makan. 9 bulan
berikutnya dipakai malam hari saja.
6. Apa saja faktor yang menyebabkan relaps ?
a. Tarikan ligamen periodontal : membutuhkan waktu 40
minggu untuk penyesuaian
b. Adaptasi tulang
c. Tekanan otot
d. Terjadi kegagalan dalam mengjilangkan etiologi
e. Disharmoni oklusi gigi
f. Tidak adanya penggunaan retainer
g. Kesalahan diagnosis
7. Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi relaps ?
a. Perpanjang waktu penggunaan retainer
b. Menghilangkan etiologi maloklusi
c. Mengurangi gingiva yang tebal di papilla insisivus
d. Diagnosa tepat
8. Apa saja faktor penentu keberhasilan perawatan orthodonti ?
Dari pasien :
a. Adanya erupsi gigi di tengah tengah perawatan
b. Kooperatif pasien
c. Piranti tepat

3
IV. Skema

Sani (11 tahun)

Klinik gigi

Keluhan : gigi depan atas maju dan bercelah

Piranti lepasan

Insersi dan instruksi Retensi Evaluasi


pada pasien

Faktor penentu keberhasilan Penyebab relaps

4
V. Learning Objective

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang insersi


dan instruksi pada pasien yang menggunakan piranti lepasan
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang retensi
piranti lepasan
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang faktor
penentu kebehasilan dalam pemakaian piranti lepasan
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang
penyebab dan pencegahan relaps

A. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang


insersi dan instruksi pada pasien yang menggunakan piranti
lepasan

Insersi1

Pada tahapan ini operator menjelaskan cara pemasangan dan


cara melepas alat ortho lepasan tidak hanya pada anak namun
pada pengantar khususnya keluarga pasien. Pada saat tahapan
insersi ini operator menjelaskan agar pasien :

a) Saat makan dan tidur alat dilepas


b) Tidak memakan makanan yang keras dan lengket
c) Tidak menggunakan alat sambil melakukan olahraga
keras
d) Tidak menggunakan alat saat berenang

5
Pasien diinstruksikan agar memakai alat dengan syarat keadaan
mulut yang bersih. Saat pemakaian, alat ortodonti harus dalam
keadaan bersih dan tidak ada debris.

Untuk pemakaian pertama kalinya, mungkin pasien dapat


berkaca untuk melihat saat pemasangan alat.

Pasangkan alat ortodonti dari bagian depan terlebih dahulu,


setelah bagian depan sudah terpasang dengan baik, tekankan
base plate sesuai dengan tempatnya. Ingatkan pasien untuk
tidak makan makanan dengan konsistensi yang keras atau
terlalu kenyal karena hal tersebut akan merusak alat ortodonti.
Kebersihan mulut sangat diutamakan selama pemakaian alat.
Penyikatan gigi dapat dibantu menggunakan interdental brush
atau dental floss untuk membersihkan daerah-daerah sempit
pada alat ortodontik.

Pemakaian alat ortodonti lepasan sebaiknya digunakan selama


12-20 jam. Terutama dapat digunakan pada malam hari.

Paska insersi1

Hal hal yang harus diperhatikan :

a) Kenyamanan pemakaian
Kenyamanan pemakaian perlu diperhatikan apakah
kawat yang dipergunakan menekan ginggiva. Pegas
bukal dan busur hendaknya terletak sedekat mungkin
dengan mukosa akan tetapi tidak kontak dan harus
tidak menyentuh sulkus bukal atau frenulum bukal.

6
Penyesuaian cangkolan hendaknya dilakukan pada saat
insersi untuk meyakinkan adanya retensi yang baik.

b) Ketebalan lempeng akrilik


Ketebalan lempeng akrilik yg diperiksa terutama pada
peninggian gigit. Peninggian gigit posterior hendaknya
digerinda sehingga ketebalannya sama dan pada saat
pasien beroklusikan didapatkan oklusi yang seimbang
pada kedua sisi. Ketebalan peninggian gigit ini harus
cukup sehingga pada waktu pasien beroklusi akan
didapatkan gigitan terbuka di anterior seperti yang
diinginkan.

c) Komponen aktif
Komponen aktif perlu diperiksa apakah pegas telah
terletak baik sehingga dapat memberikan arah
pergerakan gigi yang benar. Kadang-kadang karena
adanya kontak proksimal tidaklah mungkin untuk
menempatkan pegas dengan tepi gingiva. Bila gigi
sudah bergerak pegas dapat disesuaikan untuk dapat
terletak dekat dengan gingiva. Aktivasi awal
hendaknya sedikit saja, 1 mm untuk pegas palatal dan
kurang 0,5 mm untuk pegas dari kawat 0,7 mm
sehingga memberikan kekuatan yang ringan, keadaan
ini akan memudahkan pasien menangani peranti.

d) Penjangkaran
Penjangkaran yang perlu dipertimbangkan adalah
apakah penjangkaran ekstraoral perlu dipasang pada
saat ini ataukah pada kunjungan berikutnya. Bila satu-
satunya penjangkaran adalah penjangkaran ekstraoral

7
maka penjangkaran ekstraoral harus dipasang
bersamaan dengan insersi peranti.

B. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang


retensi piranti lepasan

Retensi2

Retensi dibutuhkan pasca perawatan ortodonti karena :

a) Gingiva dan jaringan periodontal dapat terpengaruh


oleh adanya pergerakan gigi saat perawatan ortodontik
dan memerlukan waktu untuk reorganisasi setelah alat
ortodontik tersebut dilepaskan.

b) Kemungkinan gigi pada posisi yang belum stabil


setelah perawatan ortodontik, sehingga tekanan dari
jaringan lunak dapat menimbulkan relaps.

c) Perubahan yang dihasilkan oleh pertumbuhan tulang


alveolar dan jaringan gigi pada masa pertumbuhan
dapat mengubah hasil perawatan ortodontik.

Kategori piranti retensi2

a) Tanpa piranti retensi


Kasus ortodonti yang tidak memerlukan piranti
ortodonti pasca perawatan ortodonti adalah gigitan
silang baik di anterior maupun di posterior asalkan
sudah dikoreksi dengan baik.

8
Beberapa kasus pencabutan juga tidak memerlukan
tidak memerlukan piranti retensi,asalkan penutupan
ruang tidak dicapai dari posisi tipping gigi geligi. Hal
ini dapat diperiksa melalui pemeriksaan radiografik
untuk memasstikan kesejajaran akar gigi di daerah
pencabutan.

b) Pemakaian piranti retensi terbatas


Sebagian besar kasus membutuhkan pemakaian
kategori ini pasca perawatan ortodontik,baik dalam arti
lamanya maupun pemakaian pirantinya.

c) Pemakaian piranti retensi permanen


Salah satu kasus yang membutuhkan pemakaian piranti
retensi permanen pasca perawatan ortodonti adalah
diastema sentral. Sementara diastema di gigi posterior
dapat diatasi dengan pembuatan gigi tiruan, baik
jembatan, implan, maupun gigi tiruan lepasan.

Prinsip Retainer3

a) Merupakan alat ortodontik yang bertujuan untuk


mempertahankan gigi dan lengkung gigi pada paska
perawatan.

b) Harus tetap dipakai sampai terjadi transformasi


sempurna pada rahang dan jaringan lunak sekitar gigi,
yaitu sampai tercapainya proses aposisi dan resorpsi.

c) Gigi dapat digerakkan kemana saja ke posisi yang baik


dan benar, akan tetapi secara alamiah jaringan
sekitarnya akan menggerakkan gigi ke posisi dimana

9
gigi mempunyai penyesuaian yang baik dengan jaringan
sekitarnya.

Syarat retainer3

a) Harus dapat menahan gigi yang telah digerakkan


supaya tidak relaps. Alat retainer tidak aktif
menggerakkan gigi.
b) Tidak mengganggu jalannya perubahan jaringan dan
tulang rahang paska perawatan aktif.
c) Dibuat sedemikian rupa sehingga tonus-tonus otot
sekitar mulut tidak membantu terjadinya relaps suatu
malposisi yang telah dirawat.
d) Bersifat pasif dan tidak ada tekanan
e) Tidak mengganggu jalannya erupsi gigi
f) Mudah dibersihkan dan tidak mengganggu fungsi
pengunyahan, bicara, penelanan dan pernafasan
g) Kekuatan mekanis yang dihasilkan berlawanan dengan
arah kekuatan yang menyebabkan relaps.
h) Mempunyai sifat self cleansing. Yaitu untuk menjaga
kebersihan mulut.

Cara pemakaian retainer3

a) Dipakai siang dan malam dalam keadaan pasif selama 3


6 bulan tergantung keadaan maloklusi dan lama
perawatan. Kontrol tiap 3 bulan untuk mengetahui
derajat kegoyahan.

b) Setelah 3 bulan , jika terjadi kegoyahan maka


pemakaian retainer diperpanjang 3 bulan lagi. Jika
mobilitas hilang, maka jika keluar rumah dilepas, cek
dan pemakaian kembali. Jika terasa sesak maka

10
diperpanjang lagi. Kontrol tiap bulan. Jika tidak sesak,
maka alat dilepas jika keluar rumah.

c) Jika tidak sesak, maka dipakai pada malam hari dan


kontrol 3 bulan berikutnya. Jika tidak ada perubahan,
maka pemakaian retainer dihentikan. Jika ada
perubahan, maka pemakaian diperpanjang 3 bulan lagi
dan kontrol tiap bulan.

Macam - macam retainer2,3

a) Retainer Lepasan
Merupakan alat pasif yang dapat dilepas dan dipasang
oleh pasien sendiri. Untuk itu ketaatan pasien sangat
menentukan keberhasilan alat ini.

1. Hawley retainer
Merupakan retainer lepasan yang paling sering
digunakan.
- Hawley retainer dengan busur labial
yang panjang, memiliki loop U di gigi
premolar,didistal kaninus. Sehingga
memungkinkan penutupan celah di
sebelah distal kaninus.
- Hawley retainer pada kasus pencabutan
adalah busur disolder ke bagian bukal
dari cengkram Adams dari busur
M1,sehingga busur membantu daerah
bekas pencabutan tetap tertutup.

11
Gambar 1. Hawley retainer RB

Gambar 2. Hawley retainer RA

2. Begg Retainer
Begg retainer di temukan dan dipopulerkan oleh
P.R.Begg. Alat ini terdiri dari busur yang
memanjang sampai molar terakhir, melengkung
ke palatal di bagian molar terakhir dan
menempel pada plat akrilik.

Keuntungan dari retainer ini adalah tidak


adanya kawat yang terlalu berlebih sehingga
bisa mengeliminasi resiko adanya ruang terbuka
atau diastema.

12
Gambar 3. Begg retaine

3. Clip on Retainer atau Spring Aligner


Spring aligner atau spring retainer didesain
khusus untuk digunakan pada region
anterior.Alat ini dibuat dari kawat yang
memanjang dari gigi insisif kemudian melewati
celah antara gigi kaninus dan gigi premolar lalu
membelok kepermukaan lingual. Baik busur
labial dan lingual ditempelkan disebuah plat
akrllik tipis. Alat ini biasa digunakan untuk
mengkoreksi kelainan gigi rotasi yang sering
terlihat diregio anterior rahang bawah.

Gambar 4. Spring retainer

4. Removable Wraparoud Retainer


Retainer ini hampir sarna dengan Hawley
retainer dengan modifikasi busur labial pada
gigi kaninus dalam oklusi sentrik. Gigi anterior
harus berkontak dengan palatum dan gigi
premolar serta molar harus beroklusi tanpa

13
gangguan. Cengkram pada gigi molar terakhir
dapat digunakan unluk menggeser molar kedua
yang berada dibukal kearah mesial dan palatal.

Gambar 5. Removable Wraparoud Retainer

5. Invisible retainer / Vacuum Former Retainer


Jenis retainer ini terbuat dari Bioacryl yang tipis
atau bahan lain yang serupa,yang kemudian
dipanaskan dan dicetak dengan daya hisap atau
tekanan pada model kerja dari gigi pasien.
Invisible retainer merupakan retainer yang
menutupi seluruh mahkota klinis dan sebagian
jaringan gingiva. Terbuat dari lembaran
termoplastik transparan ultra tipis menggunakan
mesin Biostar. Retainer ini tidak mencolok dan
diterima dengan baik oleh pasien.

Gambar 6. Invisible retainer

14
6. Keslings Tooth Positioner
Terbuat dari bahan karet termoplastik yang
menutupi mahkota dan sebagian dari gingiva.
Tooth positioner tidak perlu diaktivasi setiap
waktu dan tahan lama. Kekurangannya adalah
membuat pasien sulit untuk berbicara dan resiko
terjadinya masalah TMJ.

Gambar 7. Kesling tooth positioner

7. Rickets Retainer
Hampir sama dengan Hawley retainer kecuali
kawat pada bagian labial bermuara dari palatal
kemudian melewati interproksimal antara gigi
insisif kedua dan kaninus. Busur labial
melengkung ke arah kaninus menuju ke mesial.
Retainer ini juga baik untuk pasien dengan
kasus pencabutan.

Gambar 8. Rickets retainer

15
8. Van Der Linden Retainer
Hampir sama dengan Hawley retainer dengan
modifikasi busur labial pada gigi kaninus dalam
oklusi sentrik. Gigi anterior harus berkontak
dengan palatum dan gigi premolar serta molar
harus beroklusi tanpa gangguan. Cengkram pada
gigi molar terakhir dapat digunakan untuk
menggeser molar kedua yang berada di bukal ke
arah mesial dan palatal.

Gambar 9. Van der linder retainer

b) Retainer Cekat

1) Banded Canine to Canine Retainer


Digunakan pada regio anterior bawah. Kaninus
dipasang band dan kawat tebal dibentuk
mengikuti aspek lingual gigi kemudian disolder
di band gigi kaninus. Band yang terpasang di
gigi kaninus menyebabkan kebersihan rongga
mulut menjaddi buruk dan tidak estetik

16
Gambar 10. Banded canine to canine retainer

2) Bonded Lingual Retainer


Merupakan retainer yang diikat di permukaan
lingual gigi. Kawat stainless steel atau kawat
Elgiloy biru ditempatkan di lingual mengikuti
kurvatur anterior. Bagian ujungnya diletakkan di
kaninus kemudian di bonding.

Gambar 11. Bonded lingual retainer

3) Band dan Spur Retainer


Retainer tipe ini digunakan pada kasus dengan
satu gigi yang dirawat secara ortodonti terutama
untuk mengkoreksi rotasi atau untuk labio-
lingua displacement. Gigi yang sudah
digerakkan telah diband dan dispur disolder
pada band sehingga mengikat gigi-gigi
disampingnya kearah distal kaninus menuju ke

17
mesial. Retainer ini juga baik untuk pasien
dengan kasus pencabutan.

C. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang


faktor penentu kebehasilan dalam pemakaian piranti
lepasan

Perawatan ortodonti4

Tujuan Perawatan adalah untuk mendapatkan fungsi,


kesehatan, stabilitas, estetik dentofasial yang optimum.

Berdasarkan atas ruang lingkup, perawatan


ortodontik dapat berupa:

1. Perawatan Sederhana
yaitu perawatan yang ditujukan terhadap sebagian
tertentu dari maloklusi yang ditetapkan sebagai
target perawatan.

2. Perawatan Komprehensif
yaitu perawatan yang dilakukan untuk mengoreksi
maloklusi secara menyeluruh.

3. Perawatan Multidisiplin
yaitu perawatan malo-klusi yang melibatkan
beberapa cabang ilmu.

4. Perawatan Interdisiplin
yaitu perawatan maloklusi yang dilaksanakan
dengan kerjasama antarcabang ilmu, perencanaan

18
perawatan dilakukan secara bersama-sama, misalnya
seperti perawatan ortodontik bekerja sama dengan
perawatan bedah mulut dalam menangani fraktur rahang

Tabel 1.Acuan Kewenangan Dokter Gigi Umum dan


Dokter Gigi Spesialis Ortodonti
Acuan Dokter gigi Dokter giigi
umum spesialis ortodonti
Standar Kasus dental Kasus dental,
kompetensi skeletal
Kasus maloklusi -Gigi sulung, -Gigi sulung,
mixed denition, mixed denition,
gigi permanen gigi permanen
ringan, dan sedang dan parah
sedang -Perawatan
- Perawatan preventif,
preventif, Interseptif, dan
interseptif, dan kuratif
kuratif (komprehensif)
(terbatas)
Alat perrawatan -Alat lepasan -Alat cekat full
-Alat cekat non braces
braces -Alat kombinasi
-Partial braces cekat-lepas
-Alat -Partial braces
kombinasi -Alat cekat non
lepas-cekat braces
-Alat lepassan
Standar Buku Standar
kewenangan dari kewenangan dari
kolegium dokter kolegium ortodonti
gigi/KKI/PDGI Indonesia

19
Keberhasilan perawatan ortodonti4

Perawatan dikatakan berhasil, apabila :

1. Target perawatan tercapai/maloklusi


terkoreksi.
2. Pasien merasa puas.
3. Pasien akan merekomendasikan perawatan kepada
keluarga,famili dan teman-temannya.
4. Merupakan promosi gratis.
5. Popularitas sebagai dokter gigi akan meningkat.

Sebaliknya jika perawatan tidak berhasail :

1. Target perawatan tidak tercapai/


tercipta maloklusi baru.
2. Pasien merasa tidak puas/komplain
3. Tuntutan hukum
4. Kewenangan akan di pertanyakan
5. Tuduhan malparaktek

Sebelum melakukan perawatan perlu dilakukan identifikasi


kasus mengacu kepada kewenangan yang dimiliki. Para
dokter gigi yang akan merawat maloklusi perlu melakukan
evaluasi tentang beberapa hal :

1. Fahami kasus yang akan dirawat


bagian mana dari komponen oklusi yang mengalami
kelainan, apakah maloklusi melibatkan skeletal, dental
atau kombinasi keduanya.

2. Evaluasi pengetahuan dan keterampilan

20
Apakah sudah cukup pengetahuan tentang kasus yang
akan dirawat dan apakah sudah mempunyai pengalaman
merawat kasus tersebut.

3. Sadari keterbatasan internal


Yaitu keterbatasan yang ada pada dokter yang merawat.

4. Waspadai keterbatasan eksternal


Yaitu keterbatasan berasal dari faktor-faktor diluar
dokter yang merawat seperti keadaan pasien dan
kondisi lingkungan.

5. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik dengan


pasien.

Keterbatasan perawatan ortodontik4

1. Tingkat keparahan sebelum perawatan.


2. Kesepakatan yang telah ditetapkan sebelum perawatan
untuk mencapai tujuan terbatas.
3. Abnormalitas morfologi atau pertumbuhan skeletal
ketika dan sesudah dilakukan perawatan.
4. Abnormalitas ukuran, bentuk dan jumlah gigi.
5. Penyimpangan pola erupsi gigi.
6. Kekeliruan pasien untuk memulai, melanjutkan dan
mengakhiri perawatan.
7. Keadaan jaringan periodontal.
8. Tidak bisanya menghilangkan habit dan/atau
abnormalitas otot-otot yang dapat mempengaruhi
komplek dentofasial.
9. Ketidakmampuan atau ketidak inginan pasien bekerja
sama dalam perawatan.

21
10. Kekeliruan untuk mematuhi semua aspek perawatan
yang harus dilaksanakan.
11. Jeleknya kualitas dan tidak tepatnya waktu perawatan
yang direkomendasikan.
12. Timbulnya komplikasi medis akibat faktor sistemik.
13. Pasien pindah keoperator lain selama perawatan
14. Pasien pindah dari operator lain yang sebelumnya
perawatan direncanakan secara terbatas.
15. Prosedur perawatan bedah ortognatik yang belum tuntas
atau relapse

D. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang


penyebab dan pencegahan relaps

Penyebab relaps2,4

1. Tarikan pada ligamen periodontal


Saat gigi digerakkan secara ortodonti,jaringan utama
periodontal dan jaringan gingival yang mengelilingi
gigi akan merenggang. Jaringan yang merenggang ini
akan memendek sehingga dapat berpotensi
menyebabkan relaps pada gigi.

2. Relaps karena perubahan pertumbuhan


Pasien yang memiliki masalah kelainan letak gigi
seperti kelas III, kelas II, open bite, deep bite, akan
mengalami relaps karena pola pertumbuhan gigi yang
tidak normal setelah perawatan ortodonti.

3. Adaptasi tulang

22
Gigi gigi yang baru saja digerakkan akan dikelilingi
oleh tulang osteoid yang sedikit terkalsifikasi, sehingga
gigi tidak cukup stabil dan cenderung untuk kembali ke
posisi semula.

4. Tekanan otot
Gigi diselubungi oleh otot otot. Ketidakseimbangan
otot diakhir masa perawatan ortodonti akan
menimbulkan maloklusi kembali.

5. Kegagalan menghilangkan faktor penyebab


Penyebab maloklusi sebaiknya diketahui saat
menentukan diagnosa dan tahap perawatan harus
ditentukan atau direncanakan terlebih dahulu untuk
mengeliminasi atau mengurangi tingkat keparahan
maloklusi tersebut.

6. Peranan gigi molar ketiga


Tekanan yang dihasilkan karena erupsi gigi molar
ketiga ini dianggap sebagai penyebab ketidakteratuan
susunan gigi anterior yang rentan relaps.

7. Peranan oklusi
Untuk mendapatkan kestabilan hasil perawatan, maka
oklusi sentris dan relasi sentris sebaiknya tepat atau
kurang dari 1,5 2 mm setelah perawatan.
Adanya kebiasaan buruk seperti clenching, grinding,
menggigit kuku, menggigit bibir, dan sebagainya adalah
faktor yang menyebabkan terjadinya relaps. Kebiasaan
buruk yang tidak dikoreksi oleh ortodontis selama
perawatan ortodonti akan memperkuat kecendrungan
relaps paska perawatan ortodonti.

23
Kebiasan buruk dan akibatnya2,5

1. Non nutritive sucking


Kebiasaan menghisap jari menyebabkan terjadinya
kembali open bite anterior, insisif atas labioversi, insisif
bawah linguo versi. Hasil dari open bite anterior terjadi
ketika jari menghalangi pertumbuhan dari gigi gigi
anterior dan menggerakkan gigi gigi tersebut secara
perlahan ke depan dengan diikuti oleh erupsi gigi gigi
posterior dengan pasif. Sedangkan pergerakan gigi
gigi insisif rahang atas dan rahang bawah tergantung
bagaimana jari diletakkan dalam mulut.

2. Tongue thrust
Kebiasaan menjulurkan lidah ke depan dapat
menyebabkan terjadinya relaps dari perawatan gigitan
terbuka atau perawatan gigi geligi depan yang
protrusif. Pada beberapa kasus maloklusi kelas 1 yang
diikuti kebiasaan buruk Tongue thrust, gigi gigi
anteriornya menjadi tidak stabil pada posisi setelah
perawatan ortodonti.

3. Mouth breathing (bernapas melalui mulut)


Kebiasaan ini terjadi karena adanya gangguan
pernapasan pada hidung disebabkan pembesaran tonsil
sehingga jalan udara melalui hidung tidak berjalan
lancar. Hal ini meyebabkan pasien cenderung mencari
jalan lain agar ia bernapas dangan baik, yaitu
menggunakan pernapasa melalui mulut. Keadaan ini
akan menyebabkan relaps pada perawatan open bite,
overbite yang dalam, dan insisif atas yang protrusif.

24
4. Nail biting (menggigit kuku)
Kebiasaan ini akan menyebabkan relaps pada perawatan
gigi berjejal, rotasi, dan mengganggu kestabilan gigi
insisif bawah yang baru saja dirawat.

5. Lip habits
Kebisaan menghisap bibir dan menggigit bibir dapat
menyebabkan terjadinya relaps pada perawatan gigitan
terbuka, insisif atas yang protrusif, dan insisif bawah
yang linguo versi.

25
DAFTAR PUSTAKA

1
Damarysnti, Endah. 2014. Buku Panduan Program Profesi Dokter Gigi

Ortodonsia. Malang: Universitas Brawijaya.

2
Iswari S, Herlianti. 2012. Relaps dan Pencegahannya dalam Ortodonti.

Jurnal kedokteran. Vol: 29(319). Hal 55-57.

3
Soehardono. 2008. Buku Ajar Ortodontia III. Yogyakarta: Universitas Gajah

Mada.

4
Ardhana, Wayan. 2013. Identifikasi Perawatan Ortodonti Spesialistik dan

Umum. Jurnal Kedokteran Gigi. Vol : 20(1). Hal 2-7.

26