Anda di halaman 1dari 7

Pengertian Bendungan

Bendungan (dam) merupakan sebuah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
menjadi waduk, danau, ataupun tempat rekreasi. seringkali bendungan juga digunakan untuk
mengalirkan air untuk menggerakan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Bendungan memiliki bagian yang disebut dengan pintu air yang digunakan untuk mengalirkan
air yang tidak diperlukan secara bertahap. Fungsi bendungan diantaranya sebagai pembangkit
listrik, untuk menstabilkan aliran air/ irigasi, untuk mencegah banjir, untuk bangunan
pengalihan.

Bagian-bagian bendungan

Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :


1. Pondasi (foundation)
2. Pintu air (gates)
3. Transformer
4. Dam
5. Angker (anchorage)
6. Outflow
7. Turbine
8. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)
9. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier, flood way)
10. Kanal (canal)
11. Reservoir
12. Power House
13. Katup (kelep, valves)
14. Drainage gallery
15. Power House
16. Emergency spillewey
Tipe Bendungan
Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
A. Berdasarkan ukuran
1. Bendungan besar (large dams)
Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur dari bagian terbawah pondasi sampai
ke puncak bendungan. Bendungan yang tingginya antara 10m dan 15m dapat pula
disebut dengan bendungan besar asal memenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai
berikut :
- Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500m.
- Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m.
- Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000 m/detik.
- Bendungan menghadapi kesulitan - kesulitan khusus pada pondasinya (had specially
ifficult foundation problems). Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual
design).

2. Bendungan kecil (small dams, weir, bendung)


Semua bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar di sebut
bendungan kecil.

B. Berdasarkan konstruksinya
1. Bendungan urugan (fill dams, embankment dams)
Menurut ICOLD definisinya adalah bendungan yang dibangun dari hasil
penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan lain yang bersifat campuran secara
kimia, jadi betul-betul bahan pembentuk bendungan asli. Bendungan ini masih dapat
dibagi menjadi :
- Bendungan urugan serbasama (homogeneous dams) Adalah bendungan urugan
yang lapisannya sama.
- Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams) Adalah bendungan
urugan yang terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan kedap air (water tight
layer), lapisan batu (rock zones, shell), lapisan batu teratur (rip-rap) dan lapisan
pengering (filter zones).
- Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face
rockfill dams, dekced rockfill dams) Adalah bendungan urugan batu berlapis-
lapis yang lapisan kedap airnya diletakkan di sebelah hulu bendungan. Lapisan
kedap air yang biasa digunakan adalah aspal dan beton bertulang.

2. Bendungan beton (concrete dams)


Adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton baik dengan tulangan maupun
tidak. Ini masih dapat dibagi lagi menjadi :
- Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity dams).
- Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress dams)
- Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur atau concerete
arch dams)
- Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams, mixed type
concerete dams)

C. Berdasarkan tujuan pembangunannya

1. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams) adalah bendungan yang
dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja.

2. Bendungan serbaguna (multipurpose dams) adalah bendungan yang dibangun untuk


memenuhi beberapa tujuan.

D. Berdasarkan penggunaannya

1. Bendungan untuk membuat waduk (storage dams) adalah bendungan yang


dibangun untuk membentuk waduk guna menyimpan air pada waktu kelebihan agar
dapat dipakai pada waktu diperlukan.

2. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams) adalah bendungan yang


dibangun agar permukaan airnya lebih tinggi sehingga dapat mengalir masuk
kedalam saluran air atau terowongan air.

3. Bendungan untuk memperlamabat jalannya air (detension dams) adalah bendungan


yang dibangun untuk memperlamabat aliran air sehingga dapat mencegah
terjadinya banjir besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi 2, yaitu :

-Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam saluran air bagian hilir.
-Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah sekitarnya.

E. Berdasarkan fungsinya

1. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam, dike) adalah bendungan


yang pertama-tama dibangun di sungai pada waktu debit air rendah agar lokasi
rencana bendungan pengelak menjadi kering yang memungkinkan
pembangunannya secara teknis.

2. Bendungan pengelak (cofferdam) adalah bendungan yang dibangun sesudah


selesainya bendungan pengelak pendahuluan sehingga lokasi rencana bendungan
utama menjadi kering yang memungkinkan pembangunannya secara teknis.

3. Bendungan utama (main dam) adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi
satu atau lebih tujuan tertentu.

4. Bendungan sisi ( high level dam ) adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi
kiri dan sisi kanan bendungan utama yang tinggi puncaknya juga sama. Ini dipakai
untuk membuat proyek seoptimal-optimalnya, artinya dengan menambah tinggi
pada bendungan utama diperoleh hasil yang sebesar-besarnya biarpun harus
menaikkan sebelah sisi kiri dan atau sisi kanan.

5. Bendungan di tempat rendah (saddle dam) adalah bendungan yang terletak di tepi
waduk yang jauh dari bendungan utama yang dibangun untuk mencegah keluarnya
air dari waduk sehingga air waduk tidak mengalir ke daerah sekitarnya.

6. Tanggul ( dyke, levee) adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan atau
kanan bendungan utama dan di tempat yang jauh dari bendungan utama yang tinngi
maksimalnya hanya 5 m dengan panjang puncaknya maksimal 5 kali tingginya.

7. Bendungan limbah industri (industrial waste dam) adalah bendungan yang terdiri
atas timbunan secara bertahap untuk menahan limbah yang berasal dari industri.

8. Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam) adalah bendungan yang
terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan hasil galian pertambangan dan
bahan pembuatnya pun berasal dari hasil galian pertambangan juga.

F. Berdasarkan jalannya air

1. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams) adalah bendungan yang dibangun
untuk untuk dilewati air misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).

2. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams) adalah bendungan yang sama
sekali tidak boleh di lewati air.
Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari beton, pasangan batu
atau pasangan bata.

Identifikasi masalah pada konstruksi bendungan

Masalah pada bendungan umunya yaitu bendungan tersebut jebol mengakibatkan di


suatu daerah tersebut terkena bencana banjir. karena debit air yang sangat besar sehingga sulit
untuk memperkirakan kelimpahan air pada suatu waktu pada. Kemudian curah hujan juga
menunjukan angka yang fluaktif dan sulit di prediksi.

Contoh identifikasi masalah ini diambil di suatu Daerah Bendungan Jatigede,


Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

Dari masalah tersebut yakni Bendungan Jatigede akan dibuat Perencanaan dan
Penentuan Lokasi Pembangunan Pelimpah Darurat. Terdapat dua alternatif utama lokasi
pembangunan pelimpah darurat di Waduk Jatigede, yakni rencana pelimpah darurat kiri
(sebelah barat bendungan utama) dan pelimpah darurat kanan (sebelah timur bendungan utama)
yang memiliki karakteristik geologi masing-masing.
Rumusan permasalahan pada pembahasan ini yakni terkait dimana lokasi yang cocok
untuk dilaksanakannya pembangunan pelimpah darurat Bendungan Jatigede berdasarkan
kondisi dan karakteristik geologi.

Suatu konstruksi bendungan dikatakan baik apabila mampu dan stabil dalam menahan
laju air kolam waduk, sehingga pada suatu kondisi tertentu yang mana laju air kolam waduk
tersebut mencapai batas maksimal dibutuhkan suatu bangunan pelimpah cadangan (disamping
adanya bangunan pelimpah utama) yang dapat difungsikan pada suatu waktu, yakni suatu
bangunan pelimpah darurat (emergency spillway).

Untuk menunjang pembangunan pelimpah darurat, diperlukan berbagai data dan


informasi, salah satunya adalah data dan informasi geologi. Kondisi dan karakteristik geologi
pada suatu lokasi merupakan aspek penting yang sangat mempengaruhi tingkat kestabilan suatu
konstruksi. Data geologi nantinya dapat memberikan informasi mengenai kekuatan serta
karakteristik lapisan tanah atau batuan yang berguna di dalam perencanaan dan penataan ruang.
Selain itu itu data geologi akan sangat membantu dalam pemeliharaan dan mengevaluasi suatu
perencanaan konstruksi teknik terkhusunya untuk pembangunan pelimpah darurat.

Anilisis Secara Geologi Teknik

Daerah Bendungan Jatigede, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi


Jawa Barat memiliki geomorfologi berupa satuan geomorf struktural

Secara umum di daerah Jatigede menunjukkan kondisi batuan yang lapuk, bahkan pada
beberapa litologi seperti breksi tuff di bagian barat daerah penelitian sebagian besar telah
berubah menjadi soil lapukan.
Pada daerah bagian timur breksi volkanik bersifat urai yang menumpang secara
unconformity dengan batulempung menghasilkan kondisi yang rentan terjadinya longsor.

Struktur geologi di daerah Jatigede teridentifikasi terutama di sepanjang aliran Sungai


Cimanuk, diantaranya berupa kekar, perlipatan, dan sesar. Secara umum sesar yang ditemukan
pada lokasi penelitian berupa sesar yang saling berpotongan pada daerah sekitar aliran sungai
Cimanuk, diantaranya berupa sesar geser sinistral yang memanjang dari utara hingga ke selatan
memotong X bendungan yang berpotongan dengan sesar turun menganan yang memanjang
dari dari barat ke timur tegak lurus dengan aliran Sungai Cimanuk.

Hasil identifikasi Tim Geologi Waduk Jatigede tahun 2004 dalam Laporan PT. Indra
Karya Consulting Engineer (2013) yang menyebutkan tidak adanya tanda-tanda yang
menunjukkan sesar aktif di daerah Jatigede.

Terkait dengan aspek kebencanaan, secara umum daerah area rencana pembangunan
pelimpah darurat berada pada kawasan zona kerentanan gerakan massa sedang hingga tinggi,
khususnya pada daerah bagian timur yang lebih cenderung menunjukkan tingkat kerentanaan
tinggi. Lokasi longsor utamanya ditemukan pada daerah bagian barat di sekitar tebing aliran
Sungai Cimanuk dan menyebar di areal tengah daerah bagian timur.
Berdasarkan identifikasi kondisi geologi yakni morfologi, litologi, struktur
geologi, kerentanan gerakan massa serta tata guna lahan yang kemudian dihubungkan
dengan data-data sekunder, menunjukkan bahwa kondisi geologi di daerah bagian barat
lebih ideal untuk dilakukan pembangunan pelimpah darurat Bendungan Jatigede.

Kemudian menurut interpretasi kami merekomendasikan untuk dibangunnya pelimpah


darurat di bagian barat lokasi penelitian .

Sarannya agar dilakukannya pengkajian dan penguatan lereng di daerah Bendungan


Jatigede khususnya di daerah bagian barat bendungan, sekitar aliran Sungai Cimanuk yang
nantinya juga sebagai pertimbangan untuk kestabilan batuan dan tanah lokasi dibangunnya
pelimpah darurat.
DAFTAR PUSTAKA

Warman, Gusti, I Gede Budi Indrawan dan Dwi Agus Kuncoro. 2014. Studi Karakteristik
Geologi Dalam Perencanaan dan Penenetuan Lokasi Bangunan Pelimpah Darurat di
Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. Paper. Teknik Geologi Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta.

Bendungan. https://id.wikipedia.org/wiki/Bendungan. Diakses pada 25 September 2017

Desain Bangunan Pelimpah dan Bangunan Pelengkap.


http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/545/jbptitbpp-gdl-migipraset-27228-5-2007ta-5.pdf.
Diakses pada 25 September 2017.

Pengertian Bendungan. http://www.ilmutekniksipil.com/bangunan-air/pengertian-bendungan.


Diakses pada 25 September 2017.