Anda di halaman 1dari 54

1.

Kodein fosfat

Nama dagang : Coditam

Golongan: analgesic narkotik

Dosis : -

Mekanisme kerja : kodein bekerja pada reseptor dalam lamina I dan lamina II dari substansia
gelatinosa medulla spinalis dan menurunkan pelepasan substansia P, yang memodulisasi persepsi
nyeri dalam medulla spinalis. Kodein juga menghambat pelepasan banyak transmitter eksitori
dari ujung saraf terminal yang membawa rangsangan nociceptif.

Interaksi obat : kerja depresan kodein di tingkatkan oleh fenotiazin, penghambat monoamine
oksidase dan anti depresan trisiklik.dosis rendah amfetamin meningkatkan efek analgesia secara
aneh. Hidroksizin juga meningkatkan analgesia.

Indikasi : meredakan rasa nyeri yang hebat

Kontra indikasi :

Hipersensitif
Asma
Peningkatan penekanan intracranial
Pembedahan saluran empedu
Wanita hamil dan menyusui
Gangguan fungsi hati

Efek samping :

Depresi pernapasan terutama pada penderita asma


Depresi jantung dan syok
Depresi mental
Sedasi
Disforia
Lemah
Agitasi
Nervous
Delirium dan insomnia
Mual dan muntah
Hipotensi
Kontipassi
Padaa dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati

2. Fentanil

Nama dagang : Durogesic, fentanyl.

Golongan : analgesic narkotik

Farmako dinamik : Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu
analgesik, fentanil 75-125 kali lebih potendibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan
lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan
dengan morfin. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi.
Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi
menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Fentanil
dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia.

Farmako kinetik : Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir
sama dengan dengan morfin, tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya.
Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa
metabolismenya dikeluarkan lewat urin.

Dosis :
Parentral :

o Sebelum operasi : 50-100 mcg IM, 30-60 menit sebelum operasi


o Sebagai tambahan anestesi umum :
o Dosis rendah (operasi minor) IV 2 mcg/kg
o Dosis sedang ((operasi mayor) awal 2-20 mcg/kg, tambahan dosis IV/IM 25-100 mcg
jika perlu
o Dosis tinggi (operasi jantung terbuka, saraf atau prosedur ortopedi) awal 20-50 mcg/kg,
tambahan dosis 25 mcg - 1 dosis awal jika perlu

Mekanisme kerja: Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan
respon thd nyeri.

Interaksi obat :

Dengan Obat Lain :

o Antidepresan (MAOi & trisklik) : Potensiasi efek antidepresan.


o Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik : potensiasi
efek depresi sistem saraf pusat.
o Relaksan otot : Opioid dpt meningkatkan kerja penghambatan neuromuscular.
o Kumarin antikoagulan : Potensiasi aktivitas antikoagulan.
o Diuretik : Opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung.
o Amfetamin : Dekstroamfetamin dapat meningkatkan efek analgetik agonis opioid

Indikasi : Nyeri sebelum operasi,selama & paska operasi, penanganan nyeri pada kanker,
sebagai suplemen anestesi sebelum operasi untuk mencegah atau menghilangkan takipnea dan
delirium paska operasi emergensi.

Kontraindikasi : Hipersensitivitas, depresi pernapasan yang parah, Sediaan transdermal tidak


direkomendasikan pada nyeri akut atau paska operasi, nyeri kronis ringan atau intermiten atau
pasien yg belum pernah menggunakan opioid & toleran thd opioid.

Efek samping :
Depresi pernapasan.
Sistem saraf : sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa
mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang.
Pencernaan : mual, muntah, konstipasi
Kardiovaskular : aritmia, hipotensi postural
Reproduksi, ekskresi & endokrin : retensi urin, oliguria
Efek kolinergik : bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot,
pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau disorientasi, halusinasi
Lain-lain : Berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit

3. Morfin sulfate

Nama dagang : mst continus

Golongan : analgesic narkotik

Farmako dinamik : Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung
otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan
stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar.
Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiper aktif reflek spinal,
konvulsi dan sekresi hormone anti diuretika (ADH).
Farmakokinetik : Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang
luka. Morfin juga dapat mmenembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik
setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian
parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin.
Ekresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan
keringat.

Dosis : Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan
diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengguranggi nyeri
sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat
diulang sesuai yamg diperlukan.

Mekanisme kerja : -

Interaksi obat : Kekuatan 100 X morphin, efek depresi napas lebih lama dari efek analgesiknya,
dapat menyebabkan kekakuan otot punggung, lebih sering dipakai sebagai analgetik durante op.

Indikasi : untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan
analgesik non-opioid. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ;
(2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer,
pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri
akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.

Kontraindikasi : -

Efek samping : meliputi depresi pernafasan, nausea, vomitus, dizzines, mental berkabut,
disforia, pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier, retensi urin, dan hipotensi.

4. sufentanil

Nama dagang : sufenta

Golongan : analgesic narkotik

Farmako dinamik : -
Farmako kinetik : Waktu paruh pembuangan pada sufentanil adalah berada diantara fentanyl
dan alfentanil . Suatu dosis tunggal IV sufentanil memiliki suatu waktu paruh pembuangan pada
pasien dengan atau tanpa sirosis hati . Suatu waktu paruh pembuangan yang memanjang telah
diamati pada pasien usia tua yang mendapatkan sufentanil pada pembedahan aorta abdominal
dan waktu paruh pembuangan pada sufentanil meningkat pada pasien obese, yang kemungkinan
paling banyak menunjukkan kelarutan lemak yang tinggi pada opioid ini.
Suatu afinitas jaringan yang tinggi menetap dengan keadaan lipofilik pada sufentanil, yang
memungkinkan penetrasi yang cepat pada sawar darah otak dan onset pada efek SSP (waktu efek
keseimbangan yang sama pada 6,2 menit sama halnya dengan 6,8 menit untuk fentanyl). Suatu
redistribusi cepat untuk tempat jaringan yang tidak aktif yang mengakhiri efek pada dosis kecil,
tetapi suatu kumpulan efek obat dapat menyertai dosis besar sufentanil dan berulang. Sufentanil
menjalani uptake pertama yang melintasi paru (sekitar 60 %) setelah injeksi IV secara cepat.
Uptake pertama yang melintasi paru sama pada fentanyl dan lebih besar dibandingkan pada
morfin (sekitar 7 %) dan alfentanil (sekitar 10 %).
Ikatan protein yang luas dengan sufentanil (92,5 %) dibandingkan dengan pada fentanyl (79 %
sampai 87 %) yang berperan pada suatu Vd yang lebih kecil, yang ditandai pada sufentanil.
Ikatan pada alfa1-asam glikoprotein yang menyususn suatu proporsi utama pada protein plasma
total yang berikatan dengan sufentanil. Tingkat pada alfa1-asam glikoprotein bervariasi sekitar
tiga kali lipat pada sukarelawan yang sehat dan meningkat setelah pembedahan, yang akan
mengakibatkan penurunan pada konsentrasi dalam plasma secara farmakologi aktif yang tidak
berikatan dengan sufentanil. Konsentrasi alfa1-asam glikoprotein yang lebih rendah pada
neonatus dan bayi mungkin diperhitungkan mengalami penurunan pada ikatan protein terhadap
sufentanil pada kelompok umur ini yang dibandingkan pada anak-anak yang lebih tua dan orang
dewasa. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan fraksi bebas dari sufentanil pada neonatus yang
mungkin berperan untuk menambah efek opioid ini. Sebenarnya, fentanyl dan derivatnya
menibulkan anesthesia dan depresi pernapasan pada dosis yeng lebih rendah pada neonatus
dibandingkan pada orang dewasa .

Dosis : Analgesik 0,1 0,3 mg/kg BB.

Mekanisme kerja : -

Interaksi obat : Efek pulih lebih cepat dari fentanyl, kekuatan 5 10 kali fentanyl.
Indikasi : sebagai tambahan analgesic terhadap NO2/O2 dan sebagai zat anestesi tunggal untuk
pasien yang mendapat ventilasi buatan atau pemberian secara epidural pada anestesi spinal.

Kontra indikasi: penggunaan bersama MAOI atau dalam 2 minggu setelah penghentian terapi
MAOI

efek samping :

depresi napas
kekakuan otot skelet
mual
muntah
penurunan TD dan denyut jantung sementara
Analgesik non narkotik

1. paracetamol
Gamesic Alfidon Alphagesic Alphamol Analpin Betamol
Bimagen Biogesic Bobotan Bodrex Brocon Cafmosol
Contratemp Copara Cupanol Cymacold Darcemol Dapyrin
Decadol Tramadol Andalpha Dolo- Dumin afiflu
slixir neurobion

Golongan : analgesik non narkotik

Farmakodinamik

Farmakodinamik:

Indikasi : Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai
analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid
dan sakit pada otot. Serta menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat


dehidroganase.tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

Mekanisme kerja : Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandin dengan


mengganggu enzim cyclooksigenase ( COX ). Parasetamol menghambat kerja COX pada sistem
syaraf pusat yang tidak efektif dan sel endothelial dan bukan pada sel kekebalan dengan
peroksida tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan otak inilah yang
membuat paracetamol dapat mengurangi rasa sakit kepala dan dapat menurunkan demam tanpa
menyebabkan efek samping,tidak seperti analgesik2 lainnya.

Interaksi obat : -

Dosis : 3 kali sehari 1 kapsul


Efek samping :
hipersensitif
dosis besar menyebabkan gangguan fungsi hati
2. Na diklofenak
Nama dagang
Arthrotec Atranac Berifen Deflamat deflamatCR Diclomec
Difelin Dicloflam Difelin Divoltar Dolofenac fenaren

Golongan : analgesic non narkotik

Dosis :

Osteoartritis : 2 - 3 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.


Reumatoid artritis : 3 - 4 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
Ankilosing spondilitis : 4 kali sehari 25 mg ditambah 25 mg saat akan tidur.
Tablet harus ditelan utuh dengan air, sebelum makan.

Farmakodinamik : -

Farmako kinetik : -

Mekanisme kerja : Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti
inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim siklo-
oksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.

Interaksi obat :

Penggunaan bersama aspirin akan menurunkan konsentrasi plasma dan AUC


diklofenak.
Diklofenak meningkatkan konsentrasi plasma digoksin, metotreksat, siklosporin
dan litium sehingga meningkatkan toksisitasnya.
Diklofenak menurunkan aktivitas obat-obatan diuretik.
Indikasi : Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan
ankilosing spondilitis

Kontra indikasi :

Penderita yang hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma,


urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAIA lain.
Penderita tukak lambung.

Efek samping :

nyeri/keram perut, sakit kepala, retensi cairan, diare, nausea, konstipasi, flatulen,
kelainan pada hasil uji hati, indigesti, tukak lambung, pusing, ruam, pruritus dan
tinitus.
Peninggian enzim-enzim aminotransferase (SGOT, SGPT) hepatitis.
Dalam kasus terbatas gangguan hematologi (trombositopenia, leukopenia, anemia,
agranulositosis).

3. Kalium diklofenak
Nama dagang
Cataflam Cataflamfast Catanac Diflam Eflagen
Exaflam Flamic Flamigra flamsy

Golongan : analgesic non narkotik

Dosis :

Dewasa :
umumnya takaran permulaan untuk dewasa 100-150 mg sehari.
Pada kasus-kasus yang sedang, juga untuk anak-anak di atas usia 14 tahun
75-100 mg sehari pada umumnya mencukupi.
Dosis harian harus diberikan dengan dosis terbagi 2-3 kali

Anak-anak :

tablet kalium diklofenak tidak cocok untuk anak-anak.

Farmakodinamik : Kalium diklofenak adalah suatu zat anti inflamasi non steroid dan
mengandung garam kalium dari diklofenak. Pada kalium diklofenak, ion sodium dari sodium
diklofenak diganti dengan ion kalium. Zat aktifnya adalah sama dengan sodium diklofenak. Obat
ini mempunyai efek analgesik dan antiinflamasi. Tablet kalium diklofenak memiliki mula kerja
yang cepat. Penghambatan biosintesa prostaglandin, yang telah dibuktikan pada beberapa
percobaan, mempunyai hubungan penting dengan mekanisme kerja kalium diklofenak.
Prostaglandin mempunyai peranan penting sebagai penyebab dari inflamasi, nyeri dan demam.
Pada percobaan-percobaan klinis Kalium Diklofenak juga menunjukkan efek analgesik yang
nyata pada nyeri sedang dan berat. Dengan adanya inflamasi yang disebabkan oleh trauma atau
setelah operasi, kalium diklofenak mengurangi nyeri spontan dan nyeri pada waktu bergerak
serta bengkak dan luka dengan edema. Kalium diklofenak secara in vitro tidak menekan
biosintesa proteoglikan di dalam tulang rawan pada konsentrasi setara dengan konsentrasi yang
dicapai pada manusia.

Farmakokinetik : -

Mekanisme kerja : -

Interaksi obat : Bila diberikan bersama dengan sediaan yang mengandung litium atau digoksin,
diklofenak dapat meningkatkan konsentrasi obat-obat tersebut dalam plasma tetapi belum pernah
dilaporkan terjadi tanda-tanda klinis overdosis. Berbagai obat anti-inflamasi nonsteroid dapat
menghambat aktivitas diuretik. Pemberian bersama diuretik hemat kalium kemungkinan
berhubungan dengan peningkatan kadar kalium serum, sehingga perlu dimonitor.
Pemberian bersama dengan senyawa anti-inflamasi nonsteroid sistemik dapat meningkatkan
terjadinya efek samping.
Walaupun penelitian klinis tidak menunjukkan diklofenak mempunyai pengaruh terhadap efek
anti-koagulan, terdapat laporan khusus mengenai peningkatan resiko perdarahan dengan terapi
kombinasi penggunaan diklofenak dan anti-koagulan. Karena itu pada penderita yang demikian,
disarankan dilakukan monitoring ketat. Seperti anti-inflamasi nonsteroid lainnya, diklofenak
dosis tinggi (200 mg) dapat menghambat agregasi trombosit untuk sementara. Penelitian klinis
menunjukkan bahwa diklofenak dapat diberikan bersama dengan obat anti-diabetik oral tanpa
mempengaruhi efek klinisnya. Namun terdapat laporan bahwa efek hipoglikemik dan
hiperglikemik diklofenak mengharuskan penyesuaian dosis obat-obat hipoglikemik.
Perlu diperhatikan bila obat anti-inflamasi nonsteroid diberikan kurang dari 24 jam sebelum atau
sesudah pengobatan dengan metotreksat, karena kadar dan toksisitas metotreksat dapat
meningkat.
Peningkatan nefrotoksisitas siklosporin terhadap prostaglandin ginjal mungkin terjadi melalui
efek obat anti-inflamasi nonsteroid.

Indikasi :

Sebagai pengobatan jangka pendek untuk kondisi - kondisi akut sebagai berikut :

Nyeri inflamasi setelah trauma, seperti karena terkilir.


Nyeri dan inflamasi setelah operasi, seperti operasi tulang atau gigi.
Sebagai ajuvan pada nyeri inflamasi yang berat dari infeksi telinga, hidung atau
tenggorokan, misalnya faringotonsilitis, otitis. Sesuai dengan prinsip pengobatan
umum, penyakitnya sendiri harus diobati dengan terapi dasar. Demam sendiri
bukan suatu indikasi.

Kontra indikasi :

Tukak lambung
Hipersensitif terhadap zat aktif
Seperti halnya dengan anti inflamasi non steroid lainnya, kalium diklofenak
dikontraindikasikan pada pasien dimana serangan asma, urtikaria atau rhinitis
akut ditimbulkan oleh asam asetilsalisilat atau obat-obat lain yang mempunyai
aktivitas menghambat prostaglandin sintetase

Efek samping : Saluran cerna

Kadang-kadang : nyeri epigastrik, gangguan saluran cerna lain seperti mual,


muntah, diare, kram perut, dispepsia, flatulen, anoreksia.
Jarang: perdarahan saluran cerna, hematemesis, melena, tukak peptik dengan atau
tanpa perdarahan atau perforasi, diare berdarah.
Kasus khusus: gangguan saluran cerna bagian bawah seperti kolitis hemoragik
non-spesifik dan eksaserbasi kolitis ulseratif atau proktokolitis Crohns,
stomatitis aftosa, glositis, lesi esofagus, konstipasi.
Kasus khusus : gangguan perasaan (sensation), termasuk parestesia, disorientasi,
gangguan memori, gangguan penglihatan (penglihatan kabur, diplopia), kurang
pendengaran, tinitus, insomnia, iritabilitas, konvulsi, depresi, cemas, mimpi
buruk, tremor, reaksi psikotik, gangguan pengecapan.
Kulit
Kadang-kadang : ruam atau erupsi kulit.
Jarang: urtikaria.
Kasus khusus : erupsi bulosa, eksim, eritema multiforme, sindroma Stevens
johnson, sindroma Lyell (epidermalisis toksik akut), eritoderma (eksfoliatif
dermalitis), rambut rontok, reaksi fotosensitivitas, purpura, termasuk purpura
alergik.
Sistem urogenital
Kasus khusus : gagal ginjal akut, abnormalitas urin seperti hematuria,
proteinuria, nefritis interstisial, sindroma nefrotik, nekrosis papiler.
Hati
Kadang-kadang : peningkatan enzim serum aminotransferase (SGOT, SGPT).
Jarang : hepatitis dengan atau tanpa ikterus.
Kasus khusus : hepatitis fulminan.
Darah
Kasus khusus : trombositopenia, leukopenia, anemia (anemia hemolitik,anemia
aplastik), agranulositosis.
Hipersensitivitas
Jarang : reaksi hipersensitivitas seperti asma, reaksi anafilaktif/reaksi
anafilaktoid sistemik termasuk hipotensi.

4. Metampiron
Nama dagang
Adineuron Alvita Anacof Analsik Antalgin Arsenal benodon
Betalgin Biomega Biropyron Cetalgin Cetalgin-T Corstanal cymamidon
Dactron Decamidon Danalgin Deparon dolocitaneuron Dolo- Dolo
licobion meganeuron

Dosis : 3 kali sehari 1 kaplet

Farmakodinamik : -

Farmakokinetik : -

Interaksi obat : -

Indikasi : meringankan rasa sakit,seperti sakit kepala, sakit gigi, neuralgia, kolik ginjam dan
empedu, sakit akibat cidera, setelah operasi.

Kontra indikasi : hipersensitif

Efek samping : reaksi hipersensitif, gangguan GI, leukoponia, agranulositosis

5. Fenilbutazon

Nama dagang

Akrofen Bitrasone Butamidon cetapyrin


Enkapyrin Erphazon Etacyl fimedcyl
Golongan : analgesic non narkotik

Dosis : -

6. Asam mefenamat
Allogan Alpain Analspec Anastan forte
Argesid Arsimat Benostan Cetalmic
Citostan Datan Dogesic Dolodon

Golongan : analgesik non narkotik

Dosis ;

Dewasa dan anak di atas 14 tahun : Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian
dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam.

Farmakodinamik : -

Farmakokinetik : -

Interaksi obat : Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin.

Indikasi : Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan
dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi,
nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.

Kontraindikasi : tukak lambung dan usus

Efek samping : Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus,
mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo,
dispepsia.
Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan
agranulositosis dan anemia hemolitik.
7. Ibuprofen

Nama dagang

Arthrifen plus Arthrifen Axalan Bimacyl Bufect


Dofen Dolofen-f Ethifen anafen

Golongan : analgesik non narkotik

Dosis : -

Farmakodinamik : -

Farmakokinetik : -

Interaksi obat : -

Indikasi : Nyeri dan peradangan pada penyakit reumatik dan gangguan musculoskeletal lainnya
termasuk arthritis juvenilis; nyeri ringan sampai sedang termasuk dismenorrhea, sakit kepala;
nyeri pada anak; serangan migren akut.

8. Asetosal

Golongan : analgesic non narkotik

Nama dagang

Analgan Aspilet Aspirin Bodrexin Cafenol


Aptor Farmasal fitramal aminofenazon

Dosis : -

Dewasa : 500-650mg tiap 4jam (maksimal 4gram sehari)

Anak-anakusia 2-3 tahun : 80 -160 mg, tiap 4jam.


4-5 tahun : 160-240 mg, tiap 4jam.
6-8 tahun : 240-320 mg, tiap 4jam.
9-10 tahun : 320-400 mg, tiap 4jam.
>11 tahun : 400-480 mg, tiap 4jam.

Farmakologi : Aspirin bekerja dengan mengasetilasi enzim prostaglandin H2 endoperoxide


synthase (PGHS) & menghambat kerja enzim COX secara permanen. COX-1 umumnya ada di
semua sel termasuk platelet. Aspirin relatif selektif menghambat COX-1 & sedikit COX-2.
PGH2 dala platelet & endotel vaskular memproduksi tromboxan A2 (bertanggung jawab dalam
agregasi platelet dan vasokonstriksi) & prostacyclin (bertanggung jawab dalam menghambat
agregasi platelet & vasodilatasi) sehingga dosis sangat bervariasi.

Efek pada darah : Menghambat fase kedua agregasi platelet & mencegah pelepasan adenosin
diphosphate (ADP) dari platelet & faktor 4 platelet.

Antitrombotik : Menghambat sintesa prostaglandin di vena. Aspirin dosis rendah dapat


mencegah trombosis dengan cara menghambat secara selektif sintesa PGHS & tromboxan A2.

Interaksi obat dengan obat lain Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat
meningkatkan toksisitas allopurinol. Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal,
monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan
konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) .
Indikasi :

Meringankan rasa sakit, misalnya : sakit kepala, nyeri otot.


Menurunkan demam, misalnya : demam setelah imunisasi.

Kontra indikasi : Alergi terhadap Aspirin dan golongan salisilat


Efek Samping : Iritasi lambung, mual dan muntah
Pada pemakaian lama dapat terjadi pendarahan lambung dan tukak lambung.
9. Meloksikam

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang

Arimed Artrilox camelac

Dosis :

rematoid artritris ;15mg\hr.berdasarkan respon terapi, dosis dapat di kurangi


menjadi 7,5mg/hari.
Osteotritis ; bila diperlukan dosis dapat di tingkatkan sampai 15 mg\hari.
pada penderita gagal ginjal berat dengan di analisa,dosis tidak boleh
melebihi 7,5mg/hari.
pda penderita dengan peningkatan resiko efek samping,mulai pengobatan
dengan dosis 7,5mg\hari.dosis maksimum MEVILOX'yang dilanjutkan
adalah 15mg\hari.
tablet harus ditelan dengan air atau cairan lain bersama dengan makan.
wanita hamil atau menyusui.
pendarahan saluran pencernaan,pendarahan pembuluh otak atau penyakit
pendarahan lainya.

Indikasi : terapi simtomatis jangka panjang artritis rematoid(poliartritis kronis).

Farmakodinamik:
Aktivitas anlipiretik. analgesiK, ban antimflamasi.
Meloksikam sebagai obat antiinftamasi non steroid (AINS) dapat menghambat sintesa s-oicws-
Genase > prostaglandin yang dikenal
sebagai mediator peradangan. Meloksikam menghambat innamasi lebih selektif paoa
saoooksigenase (COX-2) danpada (COX-1}.
Farmakokinetik:
Meloksikam memiliki dosis praporsional antara 7,5 mg sampai 15 mg. Cnuw ra:a-rata dicapai
antara 4-5 jam setelah pemberian dosis oral table! 7 5 mo diminum Dada keadaan puasa. hal ini
menunjukkan absorpsi obat yang lama. Kecepatan absorpsi tidak dipengaruhi oleh pemberian
yang lebih sering.hal ini memberikan farmakokinetik yang linier. dengan pemberian yang lebih
sering, kondisi stabildi capai dalam 5 hari. konsentrasi maksimum meloksikam yang kedua
terjadi antara 12 sampasi 14 jam setelah dodis sebelumnya mengalamiresurkolasi lewat saluran
pencernaan.

Interaksi obat :
- anti hipertensi ;penurunan anti efek hipertensi ditimbulkan melalui penghambatan
vasiolidasioleh prostagladin.
- AINS yang lain ; kombinasi dengan lebih dari satu AINS yang lain dapat meningkatkan
resiko ulkus dan pendarahan lambung akibat efek sinergis yang ditimbulkan.
- Kolesteramin ;meningkatkan pengeluaran meloksikam sebanyak 50 %.
- Lithium ;dapat meningkatkan lothium plasma.
- Metotreksat ; meningkatkan efek toksisitas hematologi dari metotreksat.
- Antikaugulan (heparin,tiklodopin,warfarin,trombolitik) ; dapat meningkatan resiko pendarahan.
- Siklosporin ;efek toksisitas gainjal dari siklosporin akan ditingkatkan oleh obat-obatan AINS
melalui efekprostaglandin di ginjal.

Efek samping :

o Reaksi alergi,reaksi anafilaksis,edema muka,demam.


o kardiovaskular ; angina pektoris,gagal jantung,hipertensi,hipotensi,miokard
infark,vaskulitis,palpitasirasa panas pada kulitedema tubuh bagian bawah.
o Saluran pencernaan ; kolistis mulut kering,ulkus duodenum,esofagitis,ulkus
gaster, gastritis,gastreofasegeal refluks,pendarahan saluran cerna,sitomatis
ulseratif.
o sistem pernafasan ; asma,bronkospasme,sesak nafas.
o reaksi mukotaneus ; pruritus,kemerahan kulit,urtikaria,fotosesivitas.
o SSP ; Vertigo,tinitus,mengantuk,sakit kepala.
10. Metamizole

Golongan : Analgesik Non narkotik

Nama dagang

Antalgin Antalgin soho Cornalgin caranal


hexpharm

Dosis :

DEWASA:

Tablet : 1 tablet jika sakit timbul, berikutnya 1 tablet tiap 6-8 jam,maksimum 4 tablet
sehari.

Injeksi : 500 mg jika sakit timbul, berikutnya 500 mg tiap 6-8 jam, maksimum 3 kali
sehari, diberikan secara injeksi I.M. atau I.V.

Cara Kerja :
Metamizole Na adalah derivat metansulfonat dari aminopirin yang mempunyai khasiat
analgesik. Mekanisme kerjanya adalah menghambat transmisi rasa sakit ke susunan saraf pusat
dan perifer. Metamizole Na bekerja sebagai analgesik, diabsorpsi dari saluran pencernaan
mempunyai waktu paruh 1-4 jam.
Interaksi Obat : Bila Metamizole Na diberikan bersamaan dengan Chlorpromazine dapat
mengakibatkan hipotermia.
Indikasi :
Untuk meringankan rasa sakit,terutama nyeri kolik operasi.
Kontra indikasi : Penderita hipersensitif terhadap Metamizole Na. - Wanita hamil dan menyusui.
- Penderita dengan tekanan darah sistolik < 100 mmHg. - Bayi di bawah 3 buian atau dengan
berat badan kurang dari 5 kg.
Efek Samping :

Reaksi hipersensitifitas, agranulositosis.

11. Tramadol Hcl

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang

Bellatram Centrasic Dolgesic Dolgesic 50

Cara kerja obat:

Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.

Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga mengeblok
sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri.

Di samping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif
terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.

Indikasi:

Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.

Dosis :

400 mg sehari. Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.

50-100 mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.

Kontraindikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap Tramadol atau Opiat dan penderita yang mendapatkan
pengobatan dengan penghambat MAO, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotika, analgetik
atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya.

Interaksi obat:

Efek analgesik dan sedasi tramadol ditingkatkan pada penggunaan bersama dengan obat-obat
yang bekerja pada SSP seperti tranquiliser, hipnotik.

Efek samping:

Efek samping yang umum terjadi seperti pusing, sedasi, lelah, sakit kepala, pruritus, berkeringat,
kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah. Dispepsia dan obstipasi.

Efek samping yang berupa ketergantungan sangat jarang terjadi.

12. Karisoprodol
Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang : carnophen

Indikasi :
Nyeri, rasa kaku & kejang pada muskuloskeletal (otot rangka) & sendi pada kondisi
seperti artritis reumatoid, kerusakan tulang belakang, terkilir, patah tulang, dislokasi, nyeri
setelah operasi.

Kontra indikasi :

1. Hamil & menyusui.

2. Porfiria intermiten akut.

3. Kelainan darah.
4. Kelainan saluran pencernaan aktif.

5. Ulkus peptikum.

6. Penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) atau tiroid.

7. Kerusakan fungsi hati atau ginjal yang parah.

8. Riwayat alergi terhadap Aspirin.

Interaksi obat
antikoagulan, hipoglikemik oral, Fenitoin, beberapa Sulfonamida, Klorfeniramin,
Prometazin, Prednison, Levodopa, alkohol, depresan susunan saraf pusat.

Efek samping :

Gangguan saluran pencernaan.

Ulserasi & perdarahan saluran pencernaan.

Hepatitis, sakit kuning.

Pembesaran kelenjar air liur.

Gagal ginjal.

Gondok/gondong.

Gangguan penglihatan & sistem saraf pusat.

Hipotensi, takhikardia, dan aritmia jantung.

Depresi sumsum tulang.

Kelainan darah.

Dosis :
Nyeri akut : 3-4 kali sehari 1 kaplet.

Nyeri kronis : seperti untuk nyeri akut, diberikan selama 1-3 hari.

Selanjutnya : 1 kapsul sehari selama 5 hari.

13. Indometasin

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang : dialon

Cara kerja obat :

o Farmakologi :

Amiodipine adalah inhibitor influks kalsium (slow channel blocker atau antagonis ion
kalsium), yaitu menghambat influks ion-ion kalsium transmembran ke dalam jantung dan
otot polos Mekanisme kerja antihipertensi amiodipine dikarenakan adanya efek relaksasi
secara langsung pada otot polos vaskular, sedangkan mekanisme yang tepat untuk
menghilangkan angina belum sepenuhnya diketahui Dua cara kerja amlodipine untuk
memperkecil iskemia total adalah sebagai berikut:

* Amiodipine menimbulkan dilatasi arteriola perifer sehingga memperkecil tahanan


perifer total (afterload) terhadap kerja jantung Karena tidak menimbulkan refleks
takikardia, maka tidak ada muatan terhadap jantung sehingga konsumsi energi
miokardial dan kebutuhan oksigen menurun

* Amiodipine menimbulkan dilatasi arteri koroner utama dan arteriola koroner, baik pada
keadaan normal maupun iskemia. Dilatasi ini meningkatkan penyampaian oksigen
miokardial pada penderita dengan spasme arteri koroner (Prinzmetal's atau angina
varian)
o Farmakokinetika :
Setelah pemberian dosis terapeutik secara oral, amiodipine diabsorpsi dengan baik dan
kadar puncak dalam plasma tercapai setelah 6 - 12 jam Volume distribusi amiodipine
kira-kira 21 liter/kg Waktu paruh eliminasi plasma terminal adalah sekitar 35 - 50 jam
dan konsisten pada pemberian dosis sekali sehari Kadar mantap dalam plasma tercapai 7
- 8 hari setelah pemberian secara terus menerus sehari sekali Sebanyak 97,5% amiodipine
dalam sirkulasi terikat dengan protein plasma
Amlodipine sebagian besar dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktif, di ekskresi di
urin 10% dalam bentuk tidak berubah dan 60% sebagai metabolit Pada penderita
hipertensi, pemberian dosis sehari sekali memberikan penurunan tekanan darah yang
signifikan secara klinis baik pada posisi terlentang maupun berdiri setelah interval waktu
24 jam. Karena mula kerja yang lambat maka tidak terjadi hipotensi akut setelah
pemberian amlodipine pada penderita angina .Pemberian dosis sekali sehari
meningkatkan waktu exercise dan menurunkan frekuensi serangan angina dan konsumsi
tablet nitrogliserin. Amiodipine tidak mempengaruhi efek metabolisme atau perubahan-
perubahan lipid (lemak) dalam plasma.

Indikasi :
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan digunakan dalam bentuk tunggal
untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita Penderita-penderita yang tidak
cukup terkontrol bila hanya menggunakan obat antihipertensi tunggal, dapat lebih
menguntungkan bila pemberian amlodipine dikombinasi dengan diuretik tiazid, inhibitor
adrenoreceptor, atau inhibitor anglotensin-converting enzym.
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan iskemia miokardial yang disebabkan obstruksi fixed
(angina stabil) dan atau vasospasme/vasokonstriksi (Prinzmetal's atau angina varian) dari
pembuluh darah koroner Amlodipine dapat digunakan sebagai gambaran klinik yang
menunjukkan suatu kemungkinan komponen vasospastik / vasokonstriktif tetapi belum nampak
adanya vasospasme / vasokonstriksi. Amlodipine dapat digunakan dalam bentuk tunggal
(monoterapi) atau dikombinasi dengan obat-obat antiangina lain, terutama pada penderita angina
yang sukar disembuhkan dengan nitrat dan atau dengan p-blocker pada dosis adequat / dosis
yang memadai
Kontra indikasi :
Amlodipine dikontraindikasikan pada penderita yang sensitif terhadap dihidropiridin.

Efek samping :

- Amlodipine ditoleransi dengan baik Pada penelitian klinik dengan kontrol plasebo
yang mencakup penderita dengan hipertensi dan angina, efek samping yang umum
terjadi adalah sakit kepala, edema, somnolen, palpitasi, nyeri abdomen, lelah, mual,
flushing, dan pusing-pusing Tidak ada kelainan-kelainan tes laboratorium yang
signifikan secara klinis yang berkaitan dengan amiodipine

- Efek samping lain yang sedikit ditemukan pada pengalaman klinis adalah pruritus,
rash, dispnea, astenia, kram otot, hiperplasia gingiva, dispepsia dan yang jarang
ditemukan eritema multiforme, Seperti pada calcium channel Mockers, efek samping
lain jarang dilaporkan dan tidak bisa dibedakan dari gejala penyakit penyebabnya:
infark miokard, aritmia (termasuk takikardi ventrikular dan fibrilasi atrium) dan nyeri
dada.

Interaksi obat :
Amlodipine aman diberikan bersama-sama dengan diuretik tiazid, $-blocker, inhibitor
angiotensin-converting enzym, long-acting nitrat, nitrogliserin sublingual, obat-obat I
antiinflamasi non-steroid, antibiotika, dan obat hipoglikemik oral. Pada penelitian khusus I
disebutkan bahwa pemberian amlodipine bersama-sama digoksin tidak mengubah kadar digoksin
dalam serum dan klirens renal digoksin pada sukarelawan normal. Pemberian bersama-sama
dengan simetidin tidak mengubah farmakokinetika amiodipine. Data in-vitro I dari penelitian
pada plasma manusia menyebutkan bahwa amiodipine tidak mempunyai efek pada ikatan protein
dengan obat-obat yang diuji (digoksin, fenitoin, warfarin, atau indometasin).
14. Tramadol hidroklorida

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang

Dolana Dolocap Dolsic forgecic

Indikasi:
TRAMADOL diindikasikan untuk mengobati dan mencegah nyeri yang sedang hingga berat,
seperti tersebut di bawah ini:
- Nyeri akut dan kronik yang berat.
- Nyeri pasca bedah.

Kontra Indikasi:
- Keracunan akut oleh alkohol, hipnotik, analgesik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP
lainnya.
- Penderita yang mendapat pengobatan penghambat monoamin oksidase (MAO).
- Penderita yang hipersensitif terhadap TRAMADOL.

Cara Kerja Obat:


TRAMADOL adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. TRAMADOL mengikat
secara stereospsifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghentikan sensasi nyeri dan
respon terhadap nyeri. Di samping itu TRAMADOL menghambat pelepasan neutrotransmiter
dari saraf aferen yang bersifat sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.

Efek Samping:
o Sama seperti umumnya analgesik yang bekerja secara sentral, efek samping yang dapat
terjadi: mual, muntah, dispepsia, obstipasi, lelah, sedasi, pusing, pruritus, berkeringat,
kulit kemerahan, mulut kering dan sakit kepala.
o Meskipun TRAMADOL berinteraksi dengan reseptor apiat sampai sekarang terbukti
insidens ketergantungan setelah penggunaan TRAMADOL, ringan.

Interaksi Obat:

o Penggunaan TRAMADOL bersama dengan obat-obat yang bekerja pada SSP (seperti:
tranquillizer, hipnotik), dapat meningkatkan efek sedasinya.
o Penggunaan TRAMADOL bersama dengan tranquillizer juga dapat meningkatkan efek
analgesiknya.

Dosis:

o Dosis untuk dewasa dan anak berumur di atas 14 tahun:


o Dosis tunggal: 1 kapsul.
o Dosis perhari: hingga 8 kapsul.
o Apabila sakit masih terasa, dapat ditambahkan dosis tunggal kedua 1 kapsul
TRAMADOL lagi, setalah selang waktu 30 - 60 menit.

15. Piroksikam

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang

Bitrafarm Counterpain pxm Dains Denicam


Emelden Faxiden Felcam grazeo

Farmakologi :
Piroksikam adalah obat anti-inflamasi yang efektif dan juga mempunyai etek analgetik dan
antipiretik.Keuntungan utama Piroksikam adalah waktu paruhnya yang panjang,sehingga
memungkinkan pemakaian dosts tunggal per hari.
Seperti golongan obat anti-inflamasi non-steroida lainnya,Piroksikam bekerja dengan cara
menghambat sinlesa prostaglandin melalui blokade cyclo-oxygenase.
Efektivitas dalam meredakan dismenore,melibatkan penghambatan sintesa prostaglandin intra-
uterin,yang diperkirakan menyebabkan nyeri dan gejala-gejala lain yang berhubungan dengan
dismenore primer.

Indikasi : Artritis reumatoid, osteoartritis, ankylosing spondylitis, kelainan muskuloskeletal


akut, gout akut.
kontra indikasi :
Ulkus peptikum, riwayat serangan asma, rinitis, angioedema atau urtikaria (biduran/kaligata)
yang dipicu oleh Aspirin.
Riwayat polip hidung.

Efek samping :
Gangguan saluran pencernaan, sakit kepala, iritasi & ulkus lambung (pada dosis lebih dari 20
mg/hari).

Dosis :

o Artritis reumatoid, osteoartritis, ankylosing spondylitis : 20 mg sekali sehari.


o Kelainan muskuloskeletal akut : 40 mg sehari selama 2 hari dalam dosis tunggal atau
dalam dosis terbagi, kemudian 20 mg sehari selama 7-14 hari.
o Gout akut : diawali dengan 40 mg sehari sebagai dosis tunggal kemudian 40 mg dalam
dosis tunggal atau dosis terbagi selama 4-6 hari.

16. Diflunisal
Nama dagang : diflonid

Golongan : analgesic dan non narkotik

Indikasi : Refluks esofagitis, tidak bisa mencerna asam.Rasa panas pada ulu hati, rasa tidak enak
pada perut, menghilangkan gejala-gejala kelebihan asam yang berhubungan dengan diagnosis
ulkus peptikum, gastritis, esofagitis peptikum, & hernia hiatus, untuk meringankan atau
menghilangkan gejala-gejala adanya gas, nyeri setelah operasi karena adanya gas atau untuk
pemeriksaan endoskopik.

Interaksi obat
mempengaruhi absorpsi Meksiletin, Klorpromazin, Diflunisal, Ketokonazol, Penisilamin,
Pivampisilin, Fe, Tetrasiklin, Digoksin, INH, Warfarin, antagonis reseptor H2.
alkalisasi urin bisa meningkatkan Quinidin dalam plasma.

Efek samping : Jarang : sulit buang air besar, diare, hipofosfatemia (pada pemakaian jangka
panjang).

Dosis : 1-2 tablet dimakan 1 jam setelah makan & pada malam hari sebelum tidur.

17. Ketorolac trometamin

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang : dolac,farpain

Farmakodinamik
Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini merupakan obat anti-
inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi.
Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai
analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat.
Farmakokinetik
Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian intramuskular
dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 2,2 mcg/ml setelah 50 menit
pemberian dosis tunggal 30 mg. Waktu paruh terminal plasma 5,3 jam pada dewasa muda dan 7
jam pada orang lanjut usia (usia rata-rata 72 tahun). Lebih dari 99% Ketorolac terikat pada
konsentrasi yang beragam. Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah pemberian secara
intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah linear. Kadar steady state plasma dicapai
setelah diberikan dosis tiap 6 jam dalam sehari. Pada dosis jangka panjang tidak dijumpai
perubahan bersihan. Setelah pemberian dosis tunggal intravena, volume distribusinya rata-rata
0,25 L/kg. Ketorolac dan metabolitnya (konjugat dan metabolit para-hidroksi) ditemukan dalam
urin (rata-rata 91,4%) dan sisanya (rata-rata 6,1%) diekskresi dalam feses. Pemberian Ketorolac
secara parenteral tidak mengubah hemodinamik pasien.

Indikasi :. Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut
sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total Ketorolac tidak boleh lebih dari lima
hari. Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke
analgesik alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac
tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri atau untuk analgesia obstetri
karena belum diadakan penelitian yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui
mempunyai efek menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus.

Kontra Indikasi :.

Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini, karena ada
kemungkinan sensitivitas silang.
Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat pemberian Asetosal atau obat
anti-inflamasi nonsteroid lain.
Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif.
Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti.
Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi.
Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema atau bronkospasme.
Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.
Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain.
Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160 mmol/L).
Riwayat asma.
Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau hemostasis inkomplit,
pasien dengan antikoagulan termasuk Heparin dosis rendah (2.5005.000 unit setiap 12
jam).
Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau garam lithium.
Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi.
Anak < 16 tahun.
Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau ruam vesikulobulosa.
Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal).
Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika hemostasis benar-
benar dibutuhkan karena tingginya risiko perdarahan.

Dosis :.

Dewasa
Ampul : Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 1030 mg tiap 4
sampai 6 jam bila diperlukan. Harus diberikan dosis efektif terendah. Dosis harian total tidak
boleh lebih dari 90 mg untuk orang dewasa dan 60 mg untuk orang lanjut usia, pasien gangguan
ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg. Lamanya terapi tidak boleh lebih dari 2
hari. Pada seluruh populasi, gunakan dosis efektif terendah dan sesingkat mungkin. Untuk pasien
yang diberi Ketorolac ampul, dosis harian total kombinasi tidak boleh lebih dari 90 mg (60 mg
untuk pasien lanjut usia, gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg).

Efek Samping :

Efek samping di bawah ini terjadi pada uji klinis dengan Ketorolac IM 20 dosis dalam 5 hari.

Insiden antara 1 hingga 9% :


Saluran cerna : diare, dispepsia, nyeri gastrointestinal, nausea.
Susunan Saraf Pusat : sakit kepala, pusing, mengantuk, berkeringat.
Interaksi Obat :.

Pemberian Ketorolac bersama dengan Methotrexate harus hati-hati karena beberapa obat
yang menghambat sintesis prostaglandin dilaporkan mengurangi bersihan Methotrexate,
sehingga memungkinkan peningkatan toksisitas Methotrexate.
Penggunaan bersama NSAID dengan Warfarin dihubungkan dengan perdarahan berat
yang kadang-kadang fatal. Mekanisme interaksi pastinya belum diketahui, namun
mungkin meliputi peningkatan perdarahan dari ulserasi gastrointestinal yang diinduksi
NSAID, atau efek tambahan antikoagulan oleh Warfarin dan penghambatan fungsi
trombosit oleh NSAID. Ketorolac harus digunakan secara kombinasi hanya jika benar-
benar perlu dan pasien tersebut harus dimonitor secara ketat.
ACE inhibitor karena Ketorolac dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal yang
dihubungkan dengan penggunaan ACE inhibitor, terutama pada pasien yang telah
mengalami deplesi volume.
Ketorolac mengurangi respon diuretik terhadap Furosemide kira-kira 20% pada orang
sehat normovolemik.
Penggunaan obat dengan aktivitas nefrotoksik harus dihindari bila sedang memakai
Ketorolac misalnya antibiotik aminoglikosida.
Pernah dilaporkan adanya kasus kejang sporadik selama penggunaan Ketorolac bersama
dengan obat-obat anti-epilepsi.
Pernah dilaporkan adanya halusinasi bila Ketorolac diberikan pada pasien yang sedang
menggunakan obat psikoaktif.

18. Natrium parekoksib

Nama dagang : dynastat

Golongan : analgesik non narkotik

Indikasi: sakit pasca traumatik inflamatori, inflamasi dan bentuk degeneratif rematik, rematik
non artikular.
Dosis:
Dewasa: awal: sehari100-150 mg dalam dosis terbagi 2-3x;
Anak 14th: 75-100 mg sehari dalam dosis bagi 2-3x.

Efek samping :
Gangguan pengecapan, batuk kering (tidak berdahak), infeksi rongga mulut, kemerahan pada
kulit, gatal-gatal, demam, eosinofilia, trombositopenia, anemia, iritasi saluran cerna,
angioedema, limfadenopati, hipotensi yang bersifat sementara, takhikardia.
Jarang : kerusakan sel hati dan sakit kuning, agranulositopenia, neutropenia.

19. Ketoprofen

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang : Fetik, flamed, gatofen

Farmakologi : Ketoprofen merupakan suatu antiinflamasi non steroid dengan efek antiinflamasi,
analgesik dan antipiretik. Sebagai anti inflamasi bekerja dengan menghambat sintesa
prostaglandin. Pada pemberian oral kadar puncak dicapai selama 0,52 jam. Waktu paruh
eliminasi pada orang dewasa 3 jam, dan 5 jam pada orang tua. .: Indikasi :. Untuk mengobati
gejala-gejala artritis rematoid, ankilosing spondilitis, gout akut dan osteoartritis serta kontrol
nyeri dan inflamasi akibat operasi ortopedik.

Kontra Indikasi :

Hipersensitif terhadap ketoprofen, aspirin dan AINS lain.


Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat

Dosis :

Sediaan oral :
Dosis awal yang dianjurkan : 75 mg 3 kali sehari atau 50 mg 4 kali sehari.
Dosis maksimum 300 mg sehari. Sebaiknya digunakan bersama dengan makanan atau
susu.
Injeksi IM :
50100 mg tiap 4 jam. Dosis maksimum 200 mg/hari, tidak lebih dari 3 hari.

Efek Samping :

Mual, muntah, diare, dyspepsia, konstipasi, pusing, sakit kepala, ulkus peptikum
hemoragi perforasi, kemerahan kulit, gangguan fungsi ginjal dan hati, nyeri abdomen,
konfusi ringan, vertigo, oedema, insomnia.
Reaksi hematologi : trombositopenia.
Bronkospasma dan anafilaksis jarang terjadi.

Interaksi Obat :

Pemakaian bersama dengan warfarin, sulfonilurea atau hidantoin dapat memperpanjang


waktu protrombin dan perdarahan gastrointestinal.
Pemakaian bersama dengan metotreksat dilaporkan menimbulkan interaksi berbahaya,
mungkin dengan menghambat sekresi tubular dari metotreksat.

20. Meloksikam

Golongan : analgesik non narkotik

Nama dagang : flamoxi, flasicox, hufaxicam

Indikasi: sakit pasca traumatik inflamatori, inflamasi dan bentuk degeneratif rematik, rematik
non artikular.

Dosis:
Dewasa: awal: sehari100-150 mg dalam dosis terbagi 2-3x;
Anak 14th: 75-100 mg sehari dalam dosis bagi 2-3x.

Efek samping

Gangguan pengecapan, batuk kering (tidak berdahak), infeksi rongga mulut, kemerahan pada
kulit, gatal-gatal, demam, eosinofilia, trombositopenia, anemia, iritasi saluran cerna,angioedema,
limfadenopati, hipotensi yang bersifat sementara, takhikardia.
Jarang : kerusakan sel hati dan sakit kuning, agranulositopenia, neutropenia.

21. Difenhidramin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang

Adidryl Arcodryl Benadryl Decadryl


Duradryl Erladryl Ifidryl Mutidryl
Novadryl Pheradryl Recodryl valdres

Indikasi :
Batuk alergi & batuk berdahak, batuk karena flu & kelainan saluran pernapasan lainnya.
kontra indikasi :
Bayi prematur atau bayi baru lahir.

Efek samping :
Gangguan pencernaan, mengantuk, mulut kering, sulit buang air kecil, tinitus (telinga
berdenging tanpa rangsang dari luar), sakit kepala.

Dosis :

o Dewasa : 3-4 kali sehari 1-2 sendok teh.


o Anak berusia lebih dari 6 tahun : 3 kali sehari -1 sendok teh.

22. Loratadin golongan :

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang
Alernitis Allotlex Alloris Antlissen Anlos
Cronitin Claritis Claritin Clatatin bradine

Indikasi :

1. Menghilangkan gejala pada hidung dan bukan hidung dari rinitis alergika (musiman dan
sepanjang tahun).

2. Terapi simtomatik (hanya untuk menghilangkan gejalanya saja) gatal-gatal, mengurangi


jumlah dan ukuran hives (penyakit dengan rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan
bengkak) pada pasien dengan urtikaria idiopatik kronis (biduran menahun yang tidak
diketahui sebabnya)

Kontra indikasi :

Hipersensitivitas, penderita yang mendapat anti depresan MAO, pasien glaucoma sudut
sempit/tertutup,retensi urin, hipertensi berat,arteri koroner berat dan hipertiroidisme.

Efek samping
Faringitis, mulut kering, nyeri otot, ketagihan tidur, nyeri saat haid..

Dosis : Dewasa dan anak berusia 12 tahun ke atas : 5 mg sekali sehari.

23. Klorfeniramin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang

AFICITOM ALERMAX ALLERGEN ALLERON


CE TE EM CHLORPHENIRAMINE CHLORPHENON COHISTAN
DECAPHENON DEHISTA HUFAPHENON ORPHEN
ZECAMEX
Mekanisme kerja :
mengandung deksametason, suatu kortikosteroid oral dengan masa kerja panjang, serta
deksklorfeniramin maleat, suatu antihistamin oral yang bekerja dengan menghambat pelepasan
histamin dan mediator radang yang lain dari masf cell dan basofil. Paduan kedua obat ini saling
menunjang untuk mengatasi berbagai menifestasi reaksi alergi.
indikasi :
Untuk mengatasi reaksi alergi pada berbagai organ dimana diperlukan terapi dengan
kortikosteroid. Reaksi alergi ini antara lain ialah rinitis alergi, urtikaria, dermatitis akut atau
kronik dan hay fever, dll.
kontra indikasi :

- dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif terhadap deksklorfeniramin


maleat dan atau deksametason.

- Obat ini tidak boleh diberikan pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan
golongan MAO atau yang menderita tukak lambung.

- Penderita infeksi jamur sistemik.

- Penderita tukak lambung aktif.

Efek samping

- Penggunaan ALEGI pada penderita tertentu dapat menimbulkan rasa mengantuk,


muiut kering, keluhan lambung serta retensi air dan elektrolit.

- Gangguan muskuloskeletal, oftalmik, metabolik dan endokrin.

Interaksi obat : Pemberian ALEGI bersama dengan obat-obat hipnotik sedatif (misalnya
fenobarbital, klorpromazin, diazepam, dil) dapat meningkatkan efek sedasi. Pemberian obat ini
bersama diuretik tertentu dapat meningkatkan efek hipokalemia.
Dosis :
1 kaplet, 3-4 kali sehari sesudah makan. Dosis perlu disesuaikan dengan
Dewasa :
kebutuhan pasien. Dosis maksimal 8 kaplet sehari.

Anak 6 -12 tahun : 1/2 kaplet, 3-4 kali sehari.

1/4 kaplet, 3-4 kali sehari. Bila terjadi perbaikan, dosis dikurangi
Anak 2 - 6 tahun :
bertahap sampai tercapai dosis efektif terkecil.

24. Deksametason

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang

ASONFAN Bidaxtam Dexlosan


Dextra f Dextafan Grafachlor
Omegatamine Mitadex proxona

Mekanisme kerja : ALEGI mengandung deksametason, suatu kortikosteroid oral dengan masa
kerja panjang, serta deksklorfeniramin maleat, suatu antihistamin oral yang bekerja dengan
menghambat pelepasan histamin dan mediator radang yang lain dari masf cell dan basofil.
Paduan kedua obat ini saling menunjang untuk mengatasi berbagai menifestasi reaksi alergi.
indikasi :
Untuk mengatasi reaksi alergi pada berbagai organ dimana diperlukan terapi dengan
kortikosteroid. Reaksi alergi ini antara lain ialah rinitis alergi, urtikaria, dermatitis akut atau
kronik dan hay fever, dll.
kontra indikasi :

- ALEGI dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif terhadap


deksklorfeniramin maleat dan atau deksametason.
- Obat ini tidak boleh diberikan pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan
golongan MAO atau yang menderita tukak lambung.

- Penderita infeksi jamur sistemik.

- Penderita tukak lambung aktif.

Efek samping :

- Penggunaan ALEGI pada penderita tertentu dapat menimbulkan rasa mengantuk,


muiut kering, keluhan lambung serta retensi air dan elektrolit.

- Gangguan muskuloskeletal, oftalmik, metabolik dan endokrin.

Interaksi Obat
Pemberian ALEGI bersama dengan obat-obat hipnotik sedatif (misalnya fenobarbital,
klorpromazin, diazepam, dil) dapat meningkatkan efek sedasi. Pemberian obat ini bersama
diuretik tertentu dapat meningkatkan efek hipokalemia.

Dosis :

1 kaplet, 3-4 kali sehari sesudah makan. Dosis perlu disesuaikan dengan
Dewasa :
kebutuhan pasien. Dosis maksimal 8 kaplet sehari.

Anak 6 -12 tahun : 1/2 kaplet, 3-4 kali sehari.


1/4 kaplet, 3-4 kali sehari. Bila terjadi perbaikan, dosis dikurangi
Anak 2 - 6 tahun :
bertahap sampai tercapai dosis efektif terkecil.

25. Prometazin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : cendofergan

Farmakologi :

Mebnidrolin Napadisilat memiliki daya kerja yang lebih cepat serta kurang efek sedasinya
dibandingkan dengan prometazin.Histapan menghambat reaksi histamin pada otot polos.
Histapan mengurangi bahkan menghilangkan efek utama hisiamin dalam tubuh, sehingga sel-sel
efektor tidak ditempati histamin.INDIKASI HISTAPAN digunakan untuk pengobatan terhadap
penyakit alergi.

:Dosis :

Dewasa : 100 mg-300 mg sehari dalam dosis terbagi.

Anak-anak 6-12
: 100 mg-200 mg sehari dalam dosis terbagi.
tahun

Indikasi :
Nyeri, rasa kaku & kejang pada muskuloskeletal (otot rangka) & sendi pada kondisi
seperti artritis reumatoid, kerusakan tulang belakang, terkilir, patah tulang, dislokasi, nyeri
setelah operasi.
Kontra indikasi :
Hamil & menyusui.

Porfiria intermiten akut.

Kelainan darah.

Kelainan saluran pencernaan aktif.

Ulkus peptikum.

Penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) atau tiroid.

Kerusakan fungsi hati atau ginjal yang parah.

Riwayat alergi terhadap Aspirin.

Interaksi obat
antikoagulan, hipoglikemik oral, Fenitoin, beberapa Sulfonamida, Klorfeniramin,
Prometazin, Prednison, Levodopa, alkohol, depresan susunan saraf pusat.
Efek samping :

Gangguan saluran pencernaan.

Ulserasi & perdarahan saluran pencernaan.

Hepatitis, sakit kuning.

Pembesaran kelenjar air liur.

Gagal ginjal.

Gondok/gondong.

Gangguan penglihatan & sistem saraf pusat.

Hipotensi, takhikardia, dan aritmia jantung.

Depresi sumsum tulang.


Kelainan darah.

26. Siproheptadin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang

Alprocyn Apeton Bimatonin Cydifar Cylat


Cytris Erphacyp Esprocy Etapron heptasan

Indikasi :
Rinitis alergika, menifestasi alergi kulit seperti urtikaria (biduran/kaligata) & angioedema,
urtikaria karena dingin.

kontra indikasi :
Glaukoma, retensi urin, porfiria.
Bayi baru lahir atau bayi prematur.

Interaksi obat :

- efek aditif dengan alkohol dan depresan susunan saraf pusat lainnya.

- efek antikolinergik diperpanjang dan diintensifkan oleh obat-obat penghambat


mono amin oksidase.

Efek samping :
Mengantuk, mulut kering, pusing, mual, muntah, konstipasi/susah buang air besar, diare, retensi
urin, gangguan koordinasi, eksitasi, gemetar, insomnia/susah tidur, sakit kepala, kejang,
halusinasi, histeria, anoreksia (kehilangan nafsu makan), penglihatan kabur.

Dosis :
: 1-5 kaplet/hari dalam dosis terbagi.
Dewasa

Maksimum : 0,5 mg/kg berat badan/hari.

27. Terfenadin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : ansdan, alpenaso, pylitep, terfin.

Faramkodinamik :
Miconazole memiliki aktivitas antifungi terhadap dermatofita dan ragi, serta memiliki aktivitas
antibakteri terhadap basil dan kokus gram positif. Aktivitas ini menghambbat biosintesa
ergosterol di dalam jamur dan mengubah komposisi komponen-komponen lemak di dalam
membran, yang menyebabkan nekrosis sel jamur.
Farmakokinetik :
Miconazole yang diberikan per oral memilki biovaibilitas rendah(25-30%) karena miconazole
diabsorbsi sedikit dalam rongga usus. Dosis 1000 mg pada orang sehat memproduksi kadar
plasma 1,16 g/ml,2-4 jam setelah pemberian. Kadar ini cukup untuk mikosis superfisial dan
mikosis sistemik. Sebagia miconazole yang diabsorbsi hampir seluruhnya dimetabolisme.
Kurang dari 1% dosis yang diberikan, tidak mengalami perubahan di dalam urin. Tidak
ditemukan metabolit aktif eliminasi terjadi dalam 3 fase dan waktu paruh dicapai 20 jam - 25 jam
(untuk fase 3).

Indikasi :
Pengobatan kreatif dan profilaksis terhadap kandidosis pada mulut, rongga oropharyngeal dan
saluran pencernaan.
Dosis :

Bayi : 1/4 sendok takar 5 ml, 4 kai sehari


Anak-anak dan dewasa : 1/2 sendok takar 5 ml, 4 kali sehari
Daktarin oral gel jangan ditelan langsung, biarkan gel dimulut selama mungkin.
Pemgobatan diteruskan selama seminggu sampai gejala-gejala hilang. Untuk
kandidosis mulut dianjurkan melepasakan gigi palsu sebelum istirahat malam
disikat dengan Daktarin oral gel.

Efek samping :

Rasa tidak enak di perut seperti mual, muntah dan pengobatan jangka panajang, diare dapat
dijumpai. Pada kasus yang jarang, reaksi laergi pernah dilaporkan dan pada kasus yang sangat
jarang, hepatitis pernah dilaporkan dan hubungan kausal dengan Daktarin oral gel belum jelas.

Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap miconidazole dan atau terhadap salah satu komponen
obat gangguan hati.

Cara kerja obat :


Merupakan antibiotika yang bekerja dengan cara menghambat sistem protein bakteri dan terikat
pada sub unit ribosom 50s mikroorganisme yang sensitif. Ikaten antara eritromisin dan ribosom
bakteri bersifat reversibel dan hanya terjadi jika sub unit 50s bebas dari molekul t-RNA. Obat
bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung pada konsentras, obat,
sensitivitas,mikroorganisme, kecepatan pertumbuhan dan ukuran inokulum. Erytromicin terdifusi
hampir ke seluruh cairan tubuh. Eritromisin ditemukan pada cairan spinal dalam jumlah kecil,
tetapi cairan obat melalui, "blood-brain barier meningkat pada keadaan meningitis. Pada keadaan
fungsi hati normal eritromisin terkonsentrasi dalam hati dan diekskresikan melalui empedu. Efek
disfungsi hati terhadap ekskresi eritromisin oleh hati ke dalam empedu tidak diketahui.
Eritromisin masuk "placenta barrier" dan diekskresikan melaui ASi.

28. Setirizin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis


Nama dagang

Betarhin Cerini Cetinal Cetirizine Cetrixal


Cetymin Cirrus Estin histrine

Farmakologi :
Setirizin merupakan antihistamin kuat golongan antagonis Hi (AH1) yang tidak menimbuikan
efek antikolinergik dan antiserotonin. Pada dosis farmakologi. hanya sedikit menimbuikan efek
mengantuk. Setirizin menghambat mediator histamin, pada fase cepat reaksialergi, juga
mengurangi perpindahan sel-sel infiamasi dan pelepasan mediator-mediator padd fase lambat
reaksi alergi.
indikasi :
CERINI diindikasikan untuk pengobatan rinitis perennial, rinitis alergi, urtikaria idiopatik kronis.

kontra indikasi :

- Hipersensitivitas terhadap Setirizin.

- Ibu menyusui.

Efek samping :

Efek samping Setirizin dapat ditoleransi dengdn baik, efek samping yang mungkin terjddi yaitu :

- Perasaan mengantuk, pusing-pusing, sakit kepala, geli-sah, mulut kering dan


gangguan saluran pencernaan

- Jika diperlukan pemberian dapdt dilakukdn dengan dosis 5 mg pada pagi hari ddn 5
mg padd sore / malam

- Pada beberapa individu dapat terjadi reaksi hipersen sitif termasuk reaksi pada kulit
dan angioedema.
Interaksi obat :
Hati-hati bila digunakan bersama-sama dengan sedati -va dan alkohol.
Dosis :
Dewasa dan anak-anak usia > 6 tahun : 1 kaplet (10 mg) 1 kali sehari.

- Keamanan penggunaan pada anak-anak usia < 2 tahun belum ditetapkan.

- Belum ada data yang mendukung penurunan dosis pada penderita lanjut usia.

- Pada penderita gangguan fungsi ginjal, dosis dapat diberikan % kaplet 1 kali sehari.

Interaksi obat :

- dengan MAOI atau -bloker dapat meningkatkan tekanan darah.

- dapat menurunkan efek antihipertensi dari Metildopa, Guanetidin, Reserpin, Bretilium,


Betadrin, Debrisoquin.

- dengan Digitalis dapat meningkatkan aktifitas denyut ektopik.

- absorpsi Pseudoefedrin ditingkatkan oleh antasida dan diturunkan oleh Kaolin.

- simpatomimetik, Amfetamin.

28. Feniramin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : avil

Mekanisme kerja obat :


ALEGI mengandung deksametason, suatu kortikosteroid oral dengan masa kerja panjang, serta
deksklorfeniramin maleat, suatu antihistamin oral yang bekerja dengan menghambat pelepasan
histamin dan mediator radang yang lain dari masf cell dan basofil. Paduan kedua obat ini saling
menunjang untuk mengatasi berbagai menifestasi reaksi alergi.
indikasi :
Untuk mengatasi reaksi alergi pada berbagai organ dimana diperlukan terapi dengan
kortikosteroid. Reaksi alergi ini antara lain ialah rinitis alergi, urtikaria, dermatitis akut atau
kronik dan hay fever, dll.

Kontra indikasi :

- ALEGI dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif terhadap


deksklorfeniramin maleat dan atau deksametason.

- Obat ini tidak boleh diberikan pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan
golongan MAO atau yang menderita tukak lambung.

- Penderita infeksi jamur sistemik.

- Penderita tukak lambung aktif.

Efek ssamping :

- Penggunaan ALEGI pada penderita tertentu dapat menimbulkan rasa mengantuk,


muiut kering, keluhan lambung serta retensi air dan elektrolit.

- Gangguan muskuloskeletal, oftalmik, metabolik dan endokrin.

Interaksi obat :
Pemberian ALEGI bersama dengan obat-obat hipnotik sedatif (misalnya fenobarbital,
klorpromazin, diazepam, dil) dapat meningkatkan efek sedasi. Pemberian obat ini bersama
diuretik tertentu dapat meningkatkan efek hipokalemia.
Dosis :

1 kaplet, 3-4 kali sehari sesudah makan. Dosis perlu disesuaikan dengan
Dewasa :
kebutuhan pasien. Dosis maksimal 8 kaplet sehari.

Anak 6 -12 tahun : 1/2 kaplet, 3-4 kali sehari.

1/4 kaplet, 3-4 kali sehari. Bila terjadi perbaikan, dosis dikurangi
Anak 2 - 6 tahun :
bertahap sampai tercapai dosis efektif terkecil.

29. Lerzin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : rydian, ryvel, ryzen, ryzo, tiriz

Indikasi : Batuk yang disertai reaksi allergi.

Dosis :

Anak-anak :

Diatas umur 5 tahun : 3-4 kali sehari 1 sendok teh

Dibawah umur 5 tahun : 3-4 kali sehari i sendok teh

3-4 kali sehari 1-2 sendok teh Atau menurut petunjuk


Dewasa :
dokter.

Efek samping :
Rasa mengantuk.

Kontra indikasi :
Pasien yang peka terhadap obat-obat diatas.
Interaksi obat :

- Meperldine

- Morphine atau narcotic analgesics

- Barbiturates

- Heparine

30. mebhidrolin napadisilat

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang

Biolergi Cellatlist Gabiten


Histapan Inciting Interhistin
Katergi Zoline tralgi

Farmakologi :

Mebnidrolin Napadisilat memiliki daya kerja yang lebih cepat serta kurang efek sedasinya
dibandingkan dengan prometazin.Histapan menghambat reaksi histamin pada otot polos.
Histapan mengurangi bahkan menghilangkan efek utama hisiamin dalam tubuh, sehingga sel-sel
efektor tidak ditempati histamin.INDIKASI HISTAPAN digunakan untuk pengobatan terhadap
penyakit alergi.

Cara kerja obat:


Mebhydrolin Napadisilate adalah suatu anti histamin antagonis reseptor H1. Kerja Mebhydrolin
Napadisilate adalah berkompetisi dengan histamin untuk menduduki bagian reseptor pada sel
efektor, sehingga mencegah efek histamin. Histamin, bila dilepaskan dari jaringan akan
memberikan efek reaksi alergi.
Indikasi: Alergi, rhinitis vasomotor, gigitan serangga, urticaria.

Efek samping :
Agranulositosis, mengantuk, mual, muntah, diare, kolik, sakit pada epigastrik, sakit kepala,
penglihatan kabur, tinnitus, irritabilita, anoreksia.

Kontra indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap antihistamin ini.

DOSIS

Dewasa : 100 mg-300 mg sehari dalam dosis terbagi.

Anak-anak 6-12
: 100 mg-200 mg sehari dalam dosis terbagi.
tahun

31. Deksklorfeniramin

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : bufaramine, histaklor, lorson, mitramin, vilergi TAB

Farmakologi
Deksametason merupakan salah satu glukokortikoid yang memiliki kemampuan dalam
menanggulangi peradangan dan alergi. Deksklorfeniramin maleat mengatasi sebagian besar
akibat - akibat khas yang ditimbulkan oleh histamin dan secara klinis bermanfaat dalam
pencegahan dan : - penanggulangan alergi dan peradangan parah. Kombinasi kedua
zat'tersebut menjadikan BUFACARYL obat dalam pengobatan symtomatik gangguan -
gangguan alergi dan peradangan yang parah.
Mekanisme kerja :
ALEGI mengandung deksametason, suatu kortikosteroid oral dengan masa kerja panjang, serta
deksklorfeniramin maleat, suatu antihistamin oral yang bekerja dengan menghambat pelepasan
histamin dan mediator radang yang lain dari masf cell dan basofil. Paduan kedua obat ini saling
menunjang untuk mengatasi berbagai menifestasi reaksi alergi.

indikasi :
Untuk mengatasi reaksi alergi pada berbagai organ dimana diperlukan terapi dengan
kortikosteroid. Reaksi alergi ini antara lain ialah rinitis alergi, urtikaria, dermatitis akut atau
kronik dan hay fever, dll.

Kontra indikasi :

- ALEGI dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitif terhadap


deksklorfeniramin maleat dan atau deksametason.

- Obat ini tidak boleh diberikan pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan
golongan MAO atau yang menderita tukak lambung.

- Penderita infeksi jamur sistemik.

- Penderita tukak lambung aktif.

Efek samping

- Penggunaan ALEGI pada penderita tertentu dapat menimbulkan rasa mengantuk,


muiut kering, keluhan lambung serta retensi air dan elektrolit.

- Gangguan muskuloskeletal, oftalmik, metabolik dan endokrin.


Interaksi obat :
Pemberian ALEGI bersama dengan obat-obat hipnotik sedatif (misalnya fenobarbital,
klorpromazin, diazepam, dil) dapat meningkatkan efek sedasi. Pemberian obat ini bersama
diuretik tertentu dapat meningkatkan efek hipokalemia.
Dosis :

1 kaplet, 3-4 kali sehari sesudah makan. Dosis perlu disesuaikan dengan
Dewasa :
kebutuhan pasien. Dosis maksimal 8 kaplet sehari.

Anak 6 -12 tahun : 1/2 kaplet, 3-4 kali sehari.

1/4 kaplet, 3-4 kali sehari. Bila terjadi perbaikan, dosis dikurangi
Anak 2 - 6 tahun :
bertahap sampai tercapai dosis efektif terkecil.

32. Cetirizine

Golongan : anti alergi dan obat untuk anafilaksis

Nama dagang : cetinal, cetirizine


farmakologi :Cetirizine adalah antihistamin, pada dosis farmakologi aktif, mempunyai efek
mengantuk yang lebih kecil, dengan tambahan sifat antialergi. Cetirizine adalah reseptor H1-
antagonis selektif dan pada reseptor lain efeknya dapat diabaikan, bebas dari efek anticholinergik
dan antiserotonin. Cetirizine menghambat mediator histamin fase awal dari reaksi alergi, juga
menurunkan migrasi sel inflamasi dan melepaskan mediator yang berhubungan dengan respon
alergi yang sudah lama.

farmakokinetik :

- Puncak level darah untuk 0,3 ug/ml dicapai antara 30- 60 menit setelah pemberian Cetirizine
10 mg.

- Waktu paruh plasma kira-kira 11 jam.


- Absorpsi sangat konsisten pada semua subjek. Pengeluaran melalui ginjal 30 ml/menit dan
waktu paruh ekskresi kira-kira 9 jam.

- Cetirizine terikat kuat pada protein plasma.

indikasi:

- Pengobatan perennial rinitis, alergi rinitis musiman dan kronik idiopatik urtikaria.

kontraindikasi :

Penderita dengan pengalaman hipersensitif pada Cetirizine. Cetirizine kontraindikasi pada ibu
menyusui karena diekskresikan melalui ASI.

Efek samping :
Ada beberapa laporan terjadinya efek samping ringan dan sementara, misalnya sakit kepala,
pusing, mengantuk, gelisah, kering mulut dan ketidaknyamanan pada pencernaan. Pada beberapa
individu terjadi reaksi hipersensitif, termasuk reaksi kulit dan mungkin terjadi angiodema.
Interaksi :
Pada saat ini tidak ada interaksi dengan obat lain. Penelitian Diazepam dan Cetirizine tidak
memperlihatkan interaksi. Seperti pemakaian antihistamin lainnya, disarankan untuktidak
mengkonsumsi alkohol.