Anda di halaman 1dari 19

Soal dan Jawaban Telaah Kurikulum dan

Buku Teks

1. Mengapa kurikulum menentukan kualitas pendidikan?

Jawab:

Menurut saya, kurikulum merupakan suatu kelengkapan sekolah untuk menunjukkan sesuatu
kepada masayarakat bahwa sekolah tersebut memiliki identitas agar sekolah tersebut dinilai baik.
Dan juga kurikulum di rancang dan disusun sebagai alat ukur siswa untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik, agar dapat mengetahui sampai dimana batas kemampuan pengetahuan siswa dalam
suatu pembelajaran.

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan, karena melalui pendidikan manusia
dapat tumbuh dan berkembang sehingga siap melaksanakan tugas sebagai manusia seutuhnya
untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan
sumber daya manusia yang berkualitas pula.

Kualitas secara sederhana berarti kesetaraan penilaian masyarakat umum secara objektif terhadap
suatu input, proses dan output yang terjadi didalamnya. Kualitas bersifat dinamis, yaitu selalu
mengalami perubahan, baik berupa peningkatan atau penurunan. Kualitas pendidikan ditentukan
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kurikulum, guru atau tenaga pengajar, fasilitas, dan
sumber belajar. Ada beberapa faktor, yaitu :

1. Kurikulum.

Kurikulum yang sering berganti-ganti berdampak negatif terhadap dunia pendidikan, terlebih pada
peserta didik. Belum sampai kita memahami dan memenuhi satu kurikulum yang ditentukan oleh
pusat, sudah berganti dengan kurikulum yang baru, hal ini menimbulkan ketidakstabilan bahkan
kekacauan dalam sistem pendidikan. Kurikulum seharusnya dibuat secara konsisten dan efisien.

1. Guru atau tenaga pengajar.

Profesionalisme guru menentukan kualitas pendidikan. Profesional merupakan standar dalam


penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan dalam mentransfer ilmu tersebut kepada peserta
didik berlandaskan moral yang baik. Guru yang profesional harus mampu mengantarkan anak
didiknya menjadi manusia yang berilmu dan bermoral.

Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi
guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.Kompetensi pedagogik adalah kemampuan
mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan memiliki dan
membentuk karakteristik dan moral yang baik pada siswa. Kompetensi sosial adalah kemampuan
guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama
guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional adalah
kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

1. Fasilitas.

Fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, ruangan belajar yang memadai, suasana
belajar yang mendukung, media pembelajaran, komputer, internet dan segala sesuatu yang
menyangkut sarana dan prasarana pendidikan akan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan.

1. Sumber belajar.

Sumber belajar di era globalisasi saat ini sangat luas dan tak terbatas. Selain buku pelajaran, segala
informasi dapat kita dapat dari internet, tentu saja dengan penggunaan yang tepat sesuai etika.
Dalam hal ini yang terpenting adalah menumbuhkan minat membaca kepada anak didik oleh guru
maupun orang tua. Buku pelajaran yang mudah dipahami dan memberikan banyak informasi
secara tepat adalah buku yang sebaiknya dikonsumsi oleh peserta didik. Peserta didik sebaiknya
dikenalkan dengan internet sejak dini tetapi dengan batasan-batasan tertentu yang dalam hal ini
diperlukan pengawasan dari orangtua.

Jadi, pendidikan yang berkualitas berarti pendidikan yang memenuhi faktor faktor tersebut,
dimana diperlukan suatu sistem dalam mengatur pelaksanaan pendidikan meliputi input, proses
dan output, sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara pengetahuan
maupun moral.

2. Apa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan?

Jawab :

Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan Fungsi kurikulum dalam
pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini,
alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan
Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai
segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri.
Dsdengan demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk itu, maka:

1) Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,

2) Kuriulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses
belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu,
3) Kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar
dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

1. Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan Kurikulum Bagi Sekolah yang
Bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut:

1) Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

2) Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, fungsi ini meliputi:

1. Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan


2. Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan
3. Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan.
4. Fungsi kurikulum yang ada di atasnya

1) Fungsi Kesinambungan Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui kurikulum yang
dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat menyesuaikan kurikulm yang
diselenggarakannya.

2) Fungsi Peniapan Tenaga Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang mempersiapkan tenaga
guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara
mengajar.

1. Fungsi Kurikulum Bagi Guru Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum
sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembanga kurikulum dalam
rangaka pelaksanaan kurikulum tersebut.
2. Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan
barometer atau alat pengukur keberhasilanprogram pendidikan di sekolah yang
dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol, apakah kcegiatan
proses pendidikan yang dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.
3. Fungsi Kurikulum Bagi Pengawas (supervisor) Bagi para pengawas, fungsi kurikulum
dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan menetapkan bagaimana yang
memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan
peningkatan mutu pendidikan.
4. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Melalui kurikulum sekolah yang bersangkutan,
masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan nilaiserta keterampilan yang
dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kuri-kulum suatu sekolah.
5. Fungsi Kurikulum Bagi Pemakai Lulusan Instansi atau perusahaan yang memper-gunakan
tenaga kerja yang baik dalamarti kuantitas dan kualitas agar dapat meningkatkan produk-
tivitas.

3. Mengapa dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum harus berlandaskan asa


filosofis, asas psikologi belajar, asas psikologi anak dan asas sosiologi.

Jawab:
Sebelum menjelaskan mengapa pengembangan kurikulum harus berlandaskan asas filosofis, asas
psikologi belajar, asas psikologi anak dan asas sosiologis. Sebaiknya saya menjelaskan apa asas-
asas yang akan dijelaskan diatas.

Pada prinsipnya, asas-asas tersebut harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum,
yaitu :

1. Asas filosofis, yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikatmanusia, hakikat


pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi padda perumusan tujuan pendidikan,
pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta
didik dan peranan pendidik.
2. Asas psikologis belajar, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang
dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus
yang harus menjadi acuan, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi
perkembangan proses dan karakteristik perkembangan peserta didik sebagai subjek
pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam
situasi belajar. Ada 3 jenis teori belajar yang mempunyai pengaruh besar dalam
mengembangkan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, behavioristik, dan humanistic.
3. Asas psikologi anak, yaitu dalam hubungannnya dengan proses belajar mengajar
(pendidikan), syamsu Yusuf (2005:23), menegaskan bahwa penahapan perkembangan
yang digunakan sebaiknya bersifat elektif, artinya tidak terpaku pada suatu pendapat saja,
tetapi bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai hubungan erat.
Setiap tahap perkembangan memiliki karakterisitk terseb=ndiri, karena ada dimensi-
dimensi perkembagan tertentu yang lebih dominan dibandingkan dengan tahap
perkembagan lainnya. Atas dasar itu kita dapat memahami karakterisitik profil pada setiap
tahapan perkembangannya. Syamsu yusuf (2005:25) menguraikan karakteristik tahap-
tahap perkembagan individu, yaitu masa usia prasekolah, masa usia sekolah dasar, masa
usia sekolah menengah.
4. Asas sosiologis, yaitu asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak
dalam pengembangan kurikulum. Dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses
mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan, pendidikan
adalah proses sosialsasi, dan berdasarkan pandangan antropologi, pendidikan adalah
enkuturasi atau pembudayaan.

Jadi kesimpulannya, bahwa asas-asas yang telah dijelaskan diatas, sangat erat kaitannya dengan
pengembangan kurikulum karena asas-asas yang telah dijelaskan diatas berasal dari masayarakat,
mendapatkan pendidikan baik formal, maupun nonformal dalam lingkungan masyrakat, dan
diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyrakat
dan budaya dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam
melaksanankan pendidikan.
4. Jelaskanlah hubungan komponen-komponen kurikulum.

Jawab:

Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oelh emapt komponen, yaitu:
komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi.

1. Komponen tujuan, ini berhubungan dengan arah atau hasil yang dihrapkan dalam skala
makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang
dianut oleh masyrakat yang dicita-citakan. Misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut
masyrakat indonedia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oelh suatu
kurikulum adalah terbentuknya masyrakat yang pancasilais.
2. Komponen isi kurikulum, merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman
belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulm itu menyangkut semua aspek baik yang
berhbungan dengan p-engetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada
isi setiap mata pelajaran yang diberikan mapun aktivitas dan kegitan siswa. Baik materi
maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapi tujuan yang ditentukan.
3. Komponen atau strategi pencapaian tujuan, merupakan komponen yang memiliki peran
yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimanapun
bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya,
maka tujuan itu tidak mungkin dapat dicapai. Strategi meliputi rencana, metode dan
perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
4. Komponen evaluasi, merupakan proses yang tidak pernah berakhir (olive, 1988). Proses
tersebut meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Merujuk pada pendapat
tersebut, maka evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam
pengembangan kurikulum. Evealuasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas
pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui
apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan
sebgai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.

5. Ada berbagai model pengembangan kurikulum menurut sendiri, model manakah yang
lebih baik. Jelaskan!
Jawab:

Dari ketujuh model yang telah dipaparkan, model yang lebih baik adalah model Beauchamp,
karena konsep ini berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga
bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.

Dalam sukmadinata (2005:5), beauchamp mengatakan: a curriculum is a written document which


may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their
enrollment in given school. Selanjutnya Beauchamp (1976) mendefinisikan teori kurikulum
sebagai: a set of related statement that gives meaning to a schools curriculum by pointing up
the relationships among its elements and by directing its development, its use, and its evaluation.
(sukmadinata, 2005:6). Dan beauchamp (1975) menggambarkan: (1) the choice of arena for
curriculum decision making, (2) the selection and involvement of person in curriculum planning,
(4) actual writing of a curriculum, (5) implementing the curriculum, (6) evaluation the curriculum,
and (7) providing for feedback and modification of the curriculum.; (sukmadinata, 2005:7)

Kelemahan padda model-model yang lain, yaitu:

1. Model Ralph tyler, yaitu model yang telah dikembangkan olehnya itu di sajikan dalam
bentuk yang usdah umum. Karena ketika membaca medel yang telah dipaparkannya saja,
pastilah itu yang untuk dikembangkan dalam sebuah kurikulum.
2. Model administrative, yaitu model yang telah disajikan itu langkah-langkahnya
memang termasuk kedalam dalam sebuah pembuatan kurikulum. Dan juga model ini
termasuk kedalam prinsip-prinsip k=pengembangan kurikulum.
3. Model demonstrasi, yaitu langkah-langkah dalam model ini begitu rumit untuk dilakukan.
Karena idenya saja berasal dari bawah (grass roots)
4. Model Miller-Seller, yaitu sama dengan model Ralph Tyler, karena model ini sudah begitu
umum dan termasuk juga dalam pengembangan kurikulum
5. Model taba, yaitu model yang tidak semenarik model-model lain. Dikarenakan model ini
modifikasi dari model Ralph tyler. Tetapi modifikasinya hanya pada penekanan terutama
peusatan perhatian guru.
1. Apakah perbedaan kurikulum yang lama dengan yang baru?apa hanya ikut2an mengikuti
perkembangan tahun saja? ataukah memang benar-benar ada pengembangan di setiap pointnya?
apa faktor yang menyebabkan kurikulum berubah?
2. Bagaimana penerapan kurikulum dalam pembelajaran?apakah kurikulum tersebut harus
disesuaikan dengan keadaan sekolah padahal setiap sekolah mempunyai keadaan yang berbeda?
3. Apakah dengan waktu yang terbatas semua KD bisa "tertuntaskan"?
4. Kalau mengacu pada kalender akademik, bagaimana cara membagi setiap materinya supaya
semua KD dapat terpenuhi ?
5. Apakah kurikulum diluar pelajaran yang di UANkan pada setiap provinsi sama?

1. apakah seorang guru diwajibkan mengikuti kurikulum?


2. bagaimana jika kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah ternyata tidak sesuai jika
diaplikasikan di suatu sekolah?
3. apa yang seorang guru harus lakukan jika ada materi yang harus disampaikan tetapi tidak terdapat
dalam kurikulum?
Hubungan Buku Teks dan Komponen Pembelajaran
Oleh Masnur Muslich

Lewat uraian ini diharapkankan Anda mempunyai pemahaman tentang hubungan buku teks
dan komponen pembelajaran, khususnya mengenai:
- hubungan buku teks dan kurikulum;
- hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran;
- hubungan buku teks dan siswa;
- hubungan buku teks dan guru;
- hubungan buku teks dan media pembelajaran; dan
- hubungan buku teks dan strategi pembelajaran.

Mengapa buku teks dihubungkan dengan komponen pembelajaran? Ya, karena buku teks
merupakan sajian tertulis suatu pembelajaran. Oleh karena itu, semua komponen pembelajaran
layak tecermin di dalam buku teks.

1. Hubungan Buku Teks dan Kurikulum


Para guru yang setiap hari berkecimpung dalam dunia pembelajaran akan terasa benar betapa
erat hubungan antara kurikulum dan buku teks. Begitu eratnya, terasa hubungan itu saling
menunjang antara satu dengan yang lain. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa
kurikulum lebih dahulu daripada buku teks. Buku teks dianggap sebagai sarana penunjang bagi
kurikulum tersebut. Walaupun begitu, tidaklah menutup kemungkinan bahwa kurikulum lahir
berdasarkan adanya buku teks yang dianggap relatif baik sehingga perlu disusun programnya
secara bersistem.
Pada hakikatnya, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Sementara itu, buku
teks adalah sarana belajar yang digunakan di sekolah untuk menunjang suatu program
pembelajaran. Dengan demikian, keberadaan kurikulum dan buku teks selalu berdekatan dan
berkaitan. Atau, dengan perkataan lain, kurikulum itu ibarat resep masakan dan buku teks
adalah bahan-bahan yang dilakukan untuk mengolah masakan tersebut. Dalam hal ini pengolah
atau juru masaknya adalah guru.
Namun demikian, kurikulum itu tidak bersifat menentukan segalanya. Pada kurikulum KTSP,
misalnya, yang pengembangannya dilakukan sepenuhnya oleh sekolah masih diperlukan
penafsiran, penjelasan, perincian, dan pemaduan terhadap kompetensi, hasil belajar, indikator,
dan materi pokok yang tercantum pada kurikulum itu. Dalam penulisan buku teks, penulis masih
perlu menyusun silabus, menentukan metode pembelajaran, mencari bahan yang sesuai
dengan kompetensi yang ingin dicapai, dan menentukan cara penyajian bahan yang sesuai
dengan perkembangan anak. Mengingat keadaan kurikulum demikian itu, makin besarlah
tanggung jawab penulis buku teks untuk menjabarkan kurikulum dalam bentuk silabus. Di
samping itu, penulis perlu memahami benar landasan-landasan dan arah yang digunakan
dalam penyusunan kurikulum agar penafsiran dan pengembangannya dalam bentuk buku teks
dapat dipertanggungjaabkan dari berbagai segi.
Menurut Tyler, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan
kurikulum.
1) Tujuan apa yang ingin dicapai?
2) Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan?
3) Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?
4) Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?
Keempat pertanyaan tersebut terlihat pada (1) Komponen tujuan, (2) Komponen isi. (3)
Komponen metode pembelajaran, dan (4) Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum.
Komponen tujuan merupakan arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses
penyelenggaraan pendidikan. Dalam setiap kegiatan sepatutnya mempunyai tujuan, karena
tujuan menuntun kepada apa yang hendak dicapai, atau sebagai gambaran tentang hasil akhir
dan suatu kegiatan.
Komponen isi merupakan pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari sekolah. Dalam hal ini
siswa melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut.
Pengalaman-pengalaman ini dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa sehingga apa
yang diperoleh siswa sesuai dengan tujuan.
Komponen metode pembelajaran merupakan cara yang dilakukan siswa untuk memperoleh
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Metode kurikulum berkaitan dengan proses
pencapaian tujuan sedangkan proses itu sendiri berkaitan dengan bagaimana pengalaman
belajar atau isi kurikulum diorganisasikan.
Komponen evaluasi atau penilaian pada kurikulum merupakan cara yang dilakukan untuk
mengukur kadar ketercapaian tujuan pembelajaran, baik secara proses maupun hasil. Hasil
evaluasi ini dapat dipakai sebagai dasar untuk melakukan perbaikan lebih lanjut agar tujuan
pembelajaran yang diidealkan dalam kurikulum dapat tercapai secara maksimal.
Pada sisi lain, setiap pilihan dan bentuk yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum akan
membawa dampak terhadap proses memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. Untuk itu
perlu, ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif.
Menurut Tyler, kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum yang efektif adalah(1)
berkesinambungan (continuity), (2) berurutan (sequence), dan (3) keterpaduan (integration).
Prinsip berkesinambungan terlihat adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum
secara vertikal. Sebagai contoh, jika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia pengembangan
keterampilan membaca dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, maka pelatihan
membaca perlu dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan. Dengan demikian,
keterampilan siswa dalam membaca dapat berkembang secara efektif melalui pelajaran
tersebut. Prinsip berurutan terlihat pada isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan
bahan pelajaran sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasannya. Sebagai contoh,
pembelajaran keterampilan membaca dimulai dari membaca permulaan sampai dengan
membaca lanjut. Dengan demikian, penguasaan siswa terhadap diperoleh secara bertahap dari
yang mudah (keterampilan dasar) menuju yang sulit atau kompleks (keterampilan lanjut).
Sementara itu, prinsip keterpaduan menampak pada tidak adanya pemisahan secara dikotomis
antara isi yang satu dengan yang lain dalam kurikulum. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa
dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak pernah menerapkan secara terpisah keterampilan
tertentu dengan keterampilan yang lain. Mereka selalu menerapkannya secara terpadu.
Sebagai contoh, pembelajaran membaca di sekolah sebaiknya dilakukan secara terpadu
dengan pembelajaran menulis sehingga keterampilan siswa lebih utuh, tidak terpisah-pisah.
Oleh karena itu, pembelajaran berbasis kontekstual dan tematik sangat cocok untuk memenuhi
kriteria keterpaduan ini.
Jawaban atas keempat pertanyaan yang dapat digali dari keempat komponen kurikulum
tersebut harus dipakai sebagai dasar pengembangkan silabus dan penulisan buku teks.

2. Hubungan Buku Teks dan Tujuan Pembelajaran


Sebelum dijelaskan lebih jauh tentang hubungan buku teks dan tujuan pembelajaran, hasil
penelitian tentang Hubungan Ketersediaan Buku dan Cara Mempelajarinya dengan Hasil
Belajar Siswa dalam Ilmu Pengetahuan Sosial Si Sekolah Menengah Pertama Se-Kota
Administratif Palu yang dilakukan oleh Djamaludin Kantao berikut ini dapat dipakai sebagai
ilustrasi awal.
1. Ada perbedaan hasil belajar berdasarkan ketersediaan buku teks di tangan siswa. Kelompok
siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "baik" memperoleh hasil belajar yang lebih
tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori
"cukup". Sedangkan kelompok siswa yang ketersediaan buku teksnya berkategori "cukup"
memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang
ketersediaan buku teksnya berkategori "kurang".
2. Ada perbedaan hasil belajar siswa berdasarkan cara mempelajari buku teks. Kelompok siswa
yang selalu menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang
lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang kadang-kadang menerapkan cara
mempelajari buku teks yang baik. Sedangkan kelompok siswa yang kadang-kadang
menerapkan cara mempelajari buku teks yang baik memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan kelompok siswa yang hampir tidak pernah menerapkan cara
mempelajari buku teks yang baik.
3. Tidak ada interaksi antara ketersediaan buku teks dengan cara mempelajarinya terhadap
hasil belajar siswa. Penemuan ini merupakan suatu petunjuk bahwa mungkin ada interaksi
antara cara mempelajari buku teks dengan minat dan sikap siswa terhadap bahan pelajaran
dalam buku teks.
Dari hasil-hasil di atas ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar siswa tergantung kepada
ketersediaan buku teks dan cara mempelajarinnya. Penyediaan buku teks yang lengkap di
tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks dengan baik akan meningkatkan hasil
belajar siswa.
Untuk maningkatkan hasil belajar siswa diperlukan penyediaan buku teks yang lengkap si
tangan siswa dan penerapan cara mempelajari buku teks yang baik. Penyediaan buku teks
yang lengkap di tangan siswa dapat dilakukan dengan cara: orang tua membelikan buku teks
yang sesuai dengan kebutuhan anaknya, perpustakaan sekolah menyediakan buku teks sesuai
dengan kebutuhan siswa dan perpustakaan sekolah memberikan pelayanan sebaik-baiknya
terhadap siswa. Peningkatan cara mempelajari buku teks yang baik dapat dilakukan dengan
cara memberikan bimbingan kepada siswa tentang bagaimana cara mempelajari buku teks
dengan baik.
Berdasarkan rangkuman hasil penelitian di atas dapat diketahui betapa hubungan antara buku
teks dan tujuan pembelajaran dengan penjelasan sebagai berikut.
a. Buku teks berisi serangkaian uraian materi yang mendukung tujuan pembelajaran.
b. Buku teks berisi serangkaian kegiatan yang mendukung ketercapaian kompetensi tertentu.
Dengan demikian, dengan menggunakan buku teks diharapkan tujuan pembelajaran atau
kompetensi yang ingin dicapai dapat terwujud.
Tujuan pembelajaran atau kompetensi akan tercapai apabila penulis buku teks
mempertimbangkan hal-hal berikut.
a. Uraian materi yang tertuang dalam buku teks harus diorientasikan pada tujuan pembelajaran
dan kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus.
b. Tahapan-tahapan uraian materi harus diarahkan pada indikator-indikator pencapaian tujuan
pembelajaran atau pencapaian kompetensi.
c. Setiap tahapan uraian materi sebaiknya difokuskan pada satu indikator pencapaian tujuan
pembelajaran atau kompetensi sehingga memudahkan untuk mengukur atau mengevaluasinya.

3. Hubungan Buku Teks dan Siswa


Telah dijelaskan pada bagian 2.1 bahwa buku teks akan berpengaruh terhadap kepribadian
siswa, walaupun pengaruh itu tidak sama antara siswa satu dengan lainnya. Dengan membaca
buku teks, siswa akan dapat terdorong untuk berpikir dan berbuat yang positif, misalnya
memecahkan masalah yang dilontarkan dalam buku teks, mengadakan pengamatan yang
disarankan dalam buku teks, atau melakukan pelatihan yang diinstruksikan dalam buku teks.
Dengan adanya dorongan yang konstruktif tersebut, maka dorongan atau motif-motif yang tidak
baik atau destruktif akan terkurangi atau terhalangi. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan
oleh Musse dkk (1963:484) bahwa pengaruh buku teks terhadap anak bisa dikelompokkan
menjadi dua, yaitu (1) dapat mendorong perkembangan yang baik dan (2) menghalangi
perkembangan yang tidak baik.
Memperhatikan fungsi buku teks yang begitu penting bagi siswa, maka sajian buku teks harus
memperhatikan (1) pertumbuhan dan perkembangan anak, (2) perbedaan individual dan jenis
kebutuhan anak, dan (3) gaya belajar anak. Ketiga hal tersebut diuraikan secara garis besar
berikut ini.
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai sejak saat pembuahan dan
berlangsung terus selama siklus kehidupan (Santrok dan Yussen,1992). Pola gerakan ini
kompleks dan merupakan produk dari beberapa proses, yaitu biologis, kognitif, dan sosial.
Terkait dengan itu, Seifert dan Haffnung membedakan tiga tipe (domain) perkembangan anak,
yaitu perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial.
Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang
serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan
otot-otot. Perkembangan kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir, kemampuan
berbahasa yang terjadi melalui proses belajar. Perkembangan psikososial berkaitan dengan
perubahan-perubahan emosi dan identitas pribadi individu, yaitu bagaimana seseorang
berhubungan dengan keluarga, teman-teman dan guru-gurunya. Ketiga domain tersebut pada
kenyataannya saling berhubungan dan saling berpengaruh.
Setiap fase perkembangan pada dasarnya sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-
tugas sosial. Oleh karena itu, pada usia-usia tertentu seseorang harus mampu melakukan
tugas-tugas perkembangan tersebut agar dapat memberikan kebahagiaan serta memberi jalan
bagi tugas-tugas berikutnya. Menurut Havighurst, setiap tahap perkembangan individu harus
sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainnya, yaitu fisik, psikis, emosional, moral dan
sosial.
Hasil penelitian dan kajian teoretik Carol Gestwicki (1995) mengemukakan bahwa hukum-
hukum perkembangan dideskripsikan sebagai berikut.
- Dalam perkembangan terdapat urutan yang dapat diramalkan.
- Perkembangan pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan berikutnya.
- Dalam perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal.
- Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang
saling mempengaruhi.
- Perkembangan itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang
saling mempengaruhi.
- Setiap individu berkembang sesuai dengan waktunya masing-masing.
- Perkembangan berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang umum
kepada yang khusus.
Dalam hal pertumbuhan anak, Sutterly Donnely (1973) mendeskripsikan sepuluh prinsip dasar
pertumbuhan sebagai berikut.
- Pertumbuhan adalah kompleks, semua aspek-aspeknya berhubungan sangat erat.
- Pertumbuhan mencakup hal-hal kuantitatif dan kualitatif.
- Pertumbuhan adalah proses yang berkesinambungan dan terjadi secara teratur.
- Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat keteraturan arah.
- Tempo pertumbuhan tiap anak tidak sama.
- Aspek-aspek berbeda dari pertumbuhan, berkembang pada waktu dan kecepatan berbeda.
- Kecepatan dan pola pertumbuhan dapat dimodifikasikan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik.
- Pada pertumbuhan dan perkembangan terdapat masa-masa krisis.
- Pada suatu organisme akan kecenderungan untuk mencapai potensi perkembangan yang
maksimum.
- Setiap individu tumbuh dengan caranya sendiri yang unik.

Perbedaan Individual dan Jenis Kebutuhan Anak


Buku teks harus memperhatikan perbedaan individual dan jenis kebutuhan anak, naik anak usia
Sekolah Dasar maupun anak usia Sekolah Menengah.
Perbedaan individual anak usia Sekolah Dasar
a. Perbedaan individual seorang anak akan terjadi pada setiap aspek perkembangan anak itu.
Aspek perkembangan tersebut di antaranya adalah pada aspek perkembangan fisik, intelektual,
moral, maupun aspek kemampuan.
b. Perbedaan pada aspek perkembangan fisik jelas terlihat dari perbedaan bentuk, berat, dan
tinggi badan. Selain itu, perbedaan fisik juga dapat diidentifikasi dari segi kesehatan anak.
Sedangkan perbedaan pada aspek perkembangan intelektual dapat dilihat sejalan dengan
tahapan usia, kemampuan anak pun meningkat. Namun demikian, karena pengaruh berbagai
faktor, kemampuan di antara anak-anak tersebut bisa berbeda. Misalnya, si A pada usia 7
tahun sudah bisa membuat suatu karangan yang bersifat aplikasi dari suatu konsep, tetapi si B
pada usia yang sama belum bisa melakukan hal yang dilakukan A.
c. Perbedaan kemampuan seorang anak bisa mencakup perbedaan dalam berkomunikasi,
bersosialisasi atau perbedaan kemampuan kognitif. Faktor yang menonjol dalam membentuk
kemampuan kognitif adalah faktor pembentukan lingkungan alamiah dan lingkungan buatan.
Jenis-Jenis Kebutuhan Anak Usia Sekolah Dasar
a. Istilah kebutuhan, dorongan, atau motif pada kehidupan sehari-hari sering digunakan
secara bergantian. Namun demikian, secara konsep ada perbedaan di antaranya. Kebutuhan
lebih mengacu pada keadaan di mana seseorang terdorong melakukan sesuatu karena adanya
kekurangan pada jaringan-jaringan di dalam dirinya yang lebih bersifat fisiologis; sedangkan
dorongan atau motif merupakan kebutuhan tingkat tinggi yang bersifat psikologis.
b. Cole dan Bruce (1959) membagi kebutuhan menjadi dua golongan, yaitu kebutuhan fisiologis
dan psikologis; sedangkan A. Maslow (1954) membagi kebutuhan menjadi tujuh tingkatan atau
jenjang dari yang mendasar hingga kebutuhan yang paling kompleks.
c. Dalam kaitannya dengan perbedaan individu pada anak usia Sekolah dasar, digunakan
penggolongan kebutuhan oleh Lindgren (1980) menjadi empat tingkatan kebutuhan, yaitu
kebutuhan jasmaniah, perhatian, dan kasih sayang, kebutuhan untuk memiliki, dan aktualisasi
diri.
d. Hurlock (197 menyatakan bahwa dalam pemenuhan beberapa kebutuhan anak, disiplin
dapat digunakan. Sedangkan DeCecco dan Grawford (1974) mengajukan empat sikap guru
dalam memberikan dan meningkatkan motivasi siswa.
Perbedaan Individu dan Kebutuhan Anak Usia Sekolah Menengah
a. Secara garis besar, perbedaan individu dikategorikan menjadi dua, yaitu perbedaan secara
fisik dan psikis. Perbedaan secara psikis meliputi perbedaan dalam tingkat intelektualitas,
kepribadian, minat, sikap dan kebiasaan belajar.
b. Dalam pandangan yang lain, perbedaan individual siswa sekolah menengah dibedakan
berdasarkan perbedaan dalam kemampuan potensial dan kemampuan nyata. Kemampuan
nyata dapat disebut sebagai prestasi belajar.
c. Menurut Witherington, indikator perilaku intelegen antara lain:
(1) kemudahan dalam menggunakan bilangan,
(2) efisiensi dalam berbahasa,
(3) kecepatan dalam pengamatan,
(4) kemudahan dalam mengingat,
(5) kemudahan dalam memahami hubungan, dan
(6) imajinasi.
d. Gage dan Berlinier (1984:165) mempunyai pandangan tentang kepribadian sebagai berikut.
Personality is the integration of all of persons traits abilities, motives as well as his or her
temperament, attitudes, opinios, beliefs, emotional responses, cognitive styles, characters and
morals.
e. Menurut Murray, kebutuhan individu dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu viscerogenic
dan psychogenic. Kebutuhan psychogenic dibagi lagi menjadi dua puluh kebutuhan. Kebutuhan
yang cenderung dominan pada siswa sekolah menengah berdasarkan dua puluh kebutuhan,
menurut konsep Murray, adalah:
(1) need for affiliation
(2) need for aggression
(3) autonomy needs
(4) conteraction
(5) need for dominance
(6) exhibition
(7) sex.

Gaya belajar anak


Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata memiliki gaya
belajar sendiri. Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama, gaya
belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. Perbedaan itu bahkan terdapat pada anak-anak
dari satu keluarga, antara adik dan kakak, bahkan anak kembar sekalipun. Perbedaan gaya
belajar anak harus terakomodasi pada buku teks.
Sekedar contoh, ada siswa yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi
pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. Ada yang terkesan hanya
memperhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di
bukunya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan
belajar yang menempatkan siswa sebagai pendengar setia.
Secara keseluruhan, ada sementara anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika
disertai praktik. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan
mempelajari berbagai hal nyata dari pada mendengar penjelasan si guru. Sementara itu, yang
lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contohnya,
guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk
tangan.
Tidak hanya itu. Selain ada anak yang harus bersemedi dan tutup pintu kamar rapat-rapat
supaya bisa bekonsentrasi belajar, juga cukup banyak anak yang mengaku justru terbuka
pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik, entah yang mengalun merdu atau malah
ingar-bingar. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran
menjadi komik atau corat-coret yang gampang dibaca.
Dari sekian banyak contoh gaya belajar di atas, ada tiga tipe gaya belajar yang biasa dijumpai,
yaitu visual learner, auditory learner, dan kinesthetic/tactile learner

Visual Learner
Gaya belajar visual (visual learner) menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti
konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar si anak paham. Ciri-ciri anak yang memiliki
gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan menangkap informasi
secara visual sebelum ia memahaminya. Konkretnya, yang bersangkutan lebih mudah
menangkap pelajaran lewat materi bergambar. Selain itu, ia memiliki kepekaan yang kuat
terhadap warna, di samping mempunyai pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik.
Hanya saja biasanya ia memiliki kendala untuk berdialog secara langsung karena terlalu reaktif
terhadap suara, sehingga sulit mengikuti anjuran secara lisan dan sering salah
menginterpretasikan kata atau ucapan.
Untuk mendukung gaya belajar ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai. Caranya,
gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi/materi pelajaran. Perangkat
grafis tersebut bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan atau kartu-kartu gambar berseri yang
dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Perhatikan ciri
lengkap visual learner pada boks berikut
Ciri Visual Learner
- Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
- Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman
lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
- Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-
kata) saat mengungkapkan sesuatu.
- Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
- Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
- Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
- Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

Auditory Learner
Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya.
Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama
untuk menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, untuk bisa mengingat dan memahami
informasi tertentu, yang bersangkutan haruslah mendengarnya lebih dulu. Mereka yang
memiliki gaya belajar ini umumnya susah menyerap secara langsung informasi dalam bentuk
tulisan, selain memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Untuk membantu anak-anak seperti ini, gunakan tape untuk merekam semua materi pelajaran
yang diajarkan di sekolah. Selain itu, keterlibatan anak dalam diskusi juga sangat cocok untuk
anak seperti ini. Bantuan lain yang bisa diberikan adalah mencoba membacakan informasi,
kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan dan
dipahami. Langkah terakhir adalah melakukan review secara verbal dengan teman. Perhatikan
ciri lengkap auditory learner pada boks berikut

Ciri Auditory Learner


- Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
- Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan
komplet.
- Cenderung banyak omong.
- Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat
mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
- Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
- Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak
baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.

Kinesthetic/Tactile Learner
Gaya belajar ini mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang
memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa
karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar
bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya
belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Tak heran kalau
individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar lebih baik kalau prosesnya disertai
kegiatan fisik. Perhatikan ciri lengkap kinesthetic/tactile learner pada boks berikut

Ciri Kinesthetic/Tactile Learner


- Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
- Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
- Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.
- Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
- Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
- Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit
oleh anak dengan gaya belajar ini.
- Cenderung terlihat agak tertinggal dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan
oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim
diterapkan di sekolah-sekolah.

Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar yang
bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil
optimal. Itulah sebabnya mengapa penuls buku teks harus memahami aneka gaya belajar anak
dan diterapkan pada buku teks yang ditulisnya.

4. Hubungan Buku Teks dan Guru


Telah dijelaskan pad bahwa buku teks mempunyai nilai lebih bagi guru. Kelebihan itu terllihat
pada hal-hal berikut.
- Buku teks memuat persediaan materi bahan ajar yang memudahkan guru merencanakan
jangkauan bahan ajar yang akan disajikannya pada satuan jadwal pengajaran (mingguan,
bulanan, caturwulanan, semesteran).
- Buku teks memuat masalah-masalah terpenting dari satu bidang studi.
- Buku teks banyak memuat alat bantu pengajaran, misalnya gambar, skema, diagram, dan
peta.
- Buku teks merupakan rekaman yang permanen yang memudahkan untuk mengadakan review
di kemudian hari.
- Buku teks memuat bahan ajar yang seragam, yang dibutuhkan untuk kesamaan evaluasi, dan
juga kelancaran diskusi.
- Buku teks memungkinkan siswa belajar di rumah.
- Buku teks memuat bahan ajar yang relatif telah tertata menurut sistem dan logika tertentu.
- Buku teks membebaskan guru dari kesibukan mencari bahan ajar sendiri sehingga sebagian
waktunya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.
Kenyataan lain juga menunjukkan bahwa masih banyak guru yang bergantung penuh pada
buku teks sehingga satu-satunya sumber dalam pembelajaran adalah buku teks tersebut. Pada
kondisi seperti ini, peran buku teks menjadi penting dan sangat menentukan benar-tidaknya
pelaksanaan pembelajaran. Konsekuensinynya, jika sesuatu yang ada dalam buku teks
tersebut salah, misalnya, pengetahuan siswa pun akan menjadi salah. Jika kebijakan pemilihan
buku teks diberikan kepada guru mata pelajaran, perlulah memberikan bekal yang memadai
pada para guru akan kriteria buku teks yang baik dan benar. Namun, jika kebijakan yang
diambil adalah membuat buku teks sendiri, perlulah dibuat tim yang benar-benar menguasai
materi bidang studi dan tatacara penulisan buku teks yang benar.
Guru menggunakan buku teks karena ia memiliki beberapa fungsi. Sheldon mengajukan tiga
alasan utama yang diyakininya mengenai penggunaan buku teks oleh para guru. Pertama,
karena mengembangkan materi ajar sendiri sangat sulit dan berat bagi guru. Kedua, guru
mempunyai waktu yang terbatas untuk mengembangkan materi baru karena sifat dari
profesinya itu. Ketiga, adanya tekanan eksternal yang menekan banyak guru (Sheldon dalam
Garinger 2001: 2). Ketiga alasan ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh guru dalam
memilih buku. Penggunaan buku teks merupakan cara yang paling efisien karena waktu untuk
mempersiapkan bahan ajar berkurang. Di samping itu, buku menyediakan aktivitas yang sudah
siap untuk dilaksanakan dan membekali siswa dengan contoh konkret.
Alasan lain bagi penggunaan buku teks ialah karena buku teks merupakan kerangka kerja yang
mengatur dan menjadwalkan waktu kegiatan program pembelajaran. Di mata siswa, tidak ada
buku teks berarti tidak ada tujuan. Tanpa buku teks, siswa mengira bahwa mereka tidak
ditangani secara serius. Dalam banyak situasi, buku teks dapat berperan sebagai silabus. Buku
teks menyediakan teks dan tugas pembelajaran yang siap pakai. Buku teks merupakan cara
yang paling mudah untuk menyediakan bahan pembelajaran. Siswa tidak mempunyai fokus
yang jelas tanpa adanya buku teks dan ketergantungan pada guru menjadi tinggi. Bagi guru
baru yang kurang berpengalaman, buku teks berarti keamanan, petunjuk, dan bantuan.
(Ansary, 2002: 2)
Alasan penggunaan buku teks seperti ini hanya berlaku jika:
(1) buku teks memenuhi kebutuhan guru dan siswa;
(2) topik-topik dalam buku teks relevan dan menarik bagi guru dan siswa;
(3) buku teks tidak membatasi kreativitas guru;
(4) buku teks disusun dengan realistik dan memperhitungkan situasi pembelajaran di kelas;
(5) buku teks beradaptasi dengan gaya belajar siswa; dan
(6) buku teks tidak menjadikan guru sebagai budak dan pelayan.
Apabila aspek-aspek ini tidak dipenuhi, maka buku teks hanya akan menjadi masses of rubbish
skillfully marketed, seperti diungkapkan oleh Brumfit (Ansary 2002: 2), yang hanya akan
menguntungkan secara materi bagi pihak-pihak yang dengan terang-terangan atau sembunyi-
sembunyi membisniskan buku teks, dan mencemari dunia pendidikan. Dalam hal seperti ini,
sebaiknya guru dibekali dengan pengetahuan bagaimana memilih buku teks dan bagaimana
mengaplikasi-kannya secara kreatif di kelas.
Sementara itu, UNESCO menggariskan tiga fungsi pokok dari buku teks, yaitu (1) fungsi
informasi, (2) fungsi pengaturan dan pengorganisasian pembelajaran, dan (3) fungsi pemandu
pembelajaran. (Seguin 1989:18-19).
Selanjutnya berdasarkan fungsi-fungsi ini, dapat ditentukan jenis-jenis buku yang diperlukan
untuk menyertai buku teks, dalam hal ini buku pegangan untuk siswa yang juga dipegang guru
dalam KBM, yang biasanya semuanya telah menjadi satu paket, yang terdiri atas (1) buku
siswa, (2) buku guru, dan (3) sejumlah komponen yang meliputi: buku kerja atau buku kegiatan,
materi bacaan tambahan, dan buku tes (Supriadi, 2000: 1).
Yang perlu diparhatikan adalah, ketika guru menggunakan buku teks dalam pembelajaran, guru
harus tetap menerapkan pembelajaran sebagai sosok guru yang konstruktivis dengan ciri-ciri
sebagai berikut.
1. Guru mendorong, menerima inisiatif, dan kemandirian siswa.
2. Guru menggunakan data atau fenomena aktual dan kontekstual sebagai sumber utama pada
fokus materi pembelajaran.
3. Guru memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terarah pada pelatihan kemampuan
mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan.
4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguraikan isi pelajaran dan
memvariasikan strategi pembelajaran.
5. Guru melakukan penelusuran pemahaman siswa terhadap suatu konsep sebelum memulai
pembelajaran.
6. Guru mendorong terjadinya dialog dengan dan antarsiswa.
7. Guru mendorong siswa untuk berpikir, melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka dan
mendorong siswa untuk bertanya sesama teman.
8. Guru melakukan elaborasi erhadap respons siswa, baik yang sudah benar maupun yang
belum benar.
9. Guru melibatkan siswa pada pengalaman yang menimbulkan kontradiksi dengan hipotesis
siswa dan mendiskusikannya.
10. Guru memberikan waktu berpikir yang cukup bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.
11. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba menghubungkan beberapa
hal yang dipelajari untuk meningkatkan pemahaman.
12. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memfasilitasi proses penyimpulan melalui acuan
yang benar.
(Diadaptasikan Brooks & Brooks, dalam Waliman, dkk. 2001)

5. Hubungan Buku Teks dan Media Pembelajaran


Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan media pembelajaran, perlu dipahami terlebih
dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan media pembelajaran sebagai berikut.
a. Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan penyalur pesan-pesan pembelajaran yang
disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar
pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.
b. Konsep media pembelajaran tidak terbatas hanya kepada peralatan (hardware), tetapi yang
lebih utama yaitu pesan atau informasi (software) yang disajikan melalui peralatan tersebut.
Dengan demikian konsep media pembelajaran itu mengandung pengertian adanya peralatan
dan pesan yang disampaikannya dalam satu kesatuan yang utuh.
c. Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui penggunaan
media secara optimal, sebab media ini memiliki fungsi, nilai dan peranan yang sangat
menguntungkan, terutama sekali mengurangi terjadinya verbalisme (salah penafsiran) terhadap
bahan ajar yang disampaikan pada diri siswa.
d. Ada tiga jenis media pembelajaran yang biasa dipakai dalam pembeljaran, yaitu media
visual, media audio, dan media audio-visual. Dari masing-masing jenis media tersebut terdapat
berbagai bentuk media yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Media
mana yang akan digunakan tergantung kepada tujuan yang ingin dicapai, sifat bahan ajar,
ketersediaan media tersebut, dan juga kemampuan guru dalam menggunakannya.
e. Setiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan. Oleh karena itu, tidak ada media yang
dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan pembelajaran
f. Pemilihan media pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh guru untuk menentukan jenis media mana yang lebih tepat digunakan dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran, sifat materi yang akan disampaikan, strategi yang
digunakan, serta evaluasinya. Adanya pemilihan media ini disebabkan sangat banyak dan
bervariasinya jenis media dengan karakteristik yang berbeda-beda.
g. Penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan tujuan yang ingin dicapai, sifat dari
bahan ajar, karakteristik sasaran belajar (siswa), dan kondisi tempat/ruangan. Juga perlu
dipertimbangkan kesederhanaannya, menarik perhatian, adanya penonjolan/penekanan
(misalnya dengan warna), direncanakan dengan baik, serta memungkinkan siswa lebih aktif
belajar.
Media memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai berikut.
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para
peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang
menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong,
dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik
tidak mungkin dibawa ke objek langsung yang dipelajari, maka objeknyalah yang dibawa ke
peserta didik. Objek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk
gambar-gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin
dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu objek, yang
disebabkan, karena : (a) objek terlalu besar; (b) objek terlalu kecil; (c) objek yang bergerak
terlalu lambat; (d) objek yang bergerak terlalu cepat; (e) objek yang terlalu kompleks; (f) objek
yang bunyinya terlalu halus; (f) objek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui
penggunaan media yang tepat, maka semua objek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan
lingkungannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkret, dan realistis.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral atau menyeluruh dari yang konkret sampai
dengan abstrak

Berdasarkan konsep-konsep pokok tentang media pembelajaran di atas jelaslah bahwa buku
teks merupakan salah satu jenis media pembelajaran. Hanya saja, bila dibanding dengan media
pembelajaran lainnya, buku teks mempunyai fungsi lebih dari pada sekedar media
pembelajaran. Buku teks tidak hanya sebagai penyalur pesan tetapi juga sebagai sumber
pesan atau sebagai pengganti guru. Dengan membaca buku teks, siswa seolah-olah
berhadapan dengan guru. Siswa dapat memperoleh informasi lewat buku teks, siswa dapat
melakukan kegiatan sesuai dengan petunjuk yang tertuang dalam buku teks, dan siswa dapat
mengukur kadar ketercapaian pembelajaran dengan cara mengerjakan tugas-tugas atau
menjawab soal-soal yang terdapat dalam buku teks.

6. Hubungan Buku Teks dan Strategi Pembelajaran


Sebelum mengetahui hubungan buku teks dan strategi pembelajaran, perlu dipahami terlebih
dahulu konsep-konsep pokok yang terkait dengan strategi pembelajaran sebagai berikut.
a. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
b. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik,
maupun afektif.
c. Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak
langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan
lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
d. Keterlibatan dalam pengalaman belajar mempunyai pengaruh penting terhadap
pembelajaran.
e. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan,
bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.Semua unsur atau komponen tersebut saling
berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan
f. Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta didik untuk
mau melaksanakan tugas sekalipun mengandung risiko.
g. Strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun pengaruh penting terhadap beberapa
aspek, seperti; usia, kematangan, kepercayaan dan penghargaan terhadap orang lain.
h. Pada umumnya pembelajaran berpengaruh kepada hal-hal khusus seperti menghargai orang
lain dan bersikap hati-hati kepada yang baru dikenal.
i. Terdapat banyak pengaruh yang dapat dipelajari melalui model (contoh) sedang peserta didik
berusaha menirunya.
j. Pada awal pembelajaran, langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenali modalitas
kita masing-masing yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah modalitas
kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat, apakah auditorial yaitu belajar melalui apa
yang didengar, apakah kinestetik, yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan.
Supaya pembelajaran terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip, yaitu motivasi,
perhatian, aktivitas, umpan balik, dan perbedaan individu.
d. Motivasi adalah dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun
motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan
pembelajaran itu sendiri.
e. Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi.
Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu
sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.
f. Aktivitas merupakan salah satu indikator belajar. Bila pikiran dan perasaan siswa tidak terlibat
aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan
metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.
g. Umpan balik di dalam belajar sangat penting, agar siswa segera mengetahui benar tidaknya
pekerjaan yang ia lakukan. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa
terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.
h. Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru
hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-
masing. Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan.
Terkait dengan konsep-konsep pokok strategi pembelajaran di atas, buku teks hendaknya
mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan
berbagai metode pembelajaran agar setiap anak dapat menyerap dan memahaminya untuk
kemudian digunakan pada saat diperlukan. Hal ini hanya dapat dicapai bila penulis buku teks
mengetahui karakteristik siswa yang visual, yang auditorial maupun yang kinestik.
Buku teks tradisional yang mementingkan perkembangan intelektual haruslah diubah. Buku
teks modern lebih memperhatikan karakteristik kepribadian anak, baik mengenai segi emosi,
sosial, jasmani maupun segi intelektualnya. Penulis buku teks berusaha dengan sengaja
mengembangkan semua aspek pribadi anak dengan memberikan bahan pembelajaran yang
sesuai dan dengan cara penyampaian yang bervariasi. Hal ini mengingat bahwa sebenarnya
pribadi anak itu tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian yang terpisah-pisah.
Dalam segala tindakannya manusia itu bersikap sebagai suatu keseluruhan yang utuh.