Anda di halaman 1dari 39

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 PENGERTIAN & FUNGSI BESI BETON


1.1.1. PENGERTIAN
Besi beton merupakan besi yang digunakan untuk penulangan konstruksi
beton atau yang lebih dikenal sebagai beton bertulang. Beton bertulang yang
mengandung batang tulangan dan direncanakan berdasarkan anggapan bahwa
bahan tersebut bekerja sama dalam memikul gaya-gaya. Beton bertulang
bersifat unik dimana dua jenis bahan yaitu besi tulangan dan beton dipakai
secara bersamaan. Tulangan menyediakan gaya tarik yang tidak dimiliki beton
dan mampu menahan gaya tekan.
Secara umum besi beton tulangan mengacu pada dua bentuk yaitu besi
polos (plain bar) dan besi ulir (deformed bar/BJTD). Besi polos adalah besi yang
memiliki penampang bundar dengan permukaan licin atau tidak bersirip. Besi ulir
atau besi tulangan beton sirip adalah batang besi dengan bentuk permukaan
khusus berbentuk sirip melintang (puntir/sirip ikan) atau rusuk memanjang (sirip
teratur/bambu) dengan pola tertentu, atau batang tulangan yang dipilin pada
proses produksinya.

Gambar 1.1
Besi beton polos

Tulangan ulir, yang diberi ulir melalui proses rol pada permukaannya
(polanya berbeda tergantung dari pabrik pembuatnya) untuk mendapatkan
ikatan (bonding) yang lebih baik antara tulangan dan beton yang digunakan

1
pada hampir semua aplikasi dibandingkan dengan tulangan polos dengan
luas penampang sama. Bentuk ulir berupa sirip meningkatkan daya lekat guna
menahan gerakan dari batang secara relatif terhadap beton. Tulangan polos
(BJTD) jarang digunakan kecuali untuk membungkus tulangan longitudinal
(sengkang atau spiral) yang diberi kait pada ujungnya, terutama pada kolom.

Gambar 1.2
Besi beton ulir/deform

1.1.2. FUNGSI BESI BETON


Sejak tahun 1950 konstruksi konstruksi besi beton mulai digunakan
sebagai elemen utama dalam pembangunan gedung tinggi. Karena pengetahuan
manusia tentang perilaku beton bertulang yang terbatas, terutama mengenai
nonlinearitas material beton itu sendiri, pada awal abad ke-20 kebanyakan
gedung tinggi di Amerika menggunakan baja profil sebagai elemen struktur
utamanya. Baru pada 1950-an konstruksi beton mulai ikut berperan dalam
konstruksi gedung tinggi.
Di Indonesia sendiri, besi beton lebih sering digunakan untuk
pembangunan gedung, karena bahan ini lebih mudah didapat sehingga dirasakan
lebih ekonomis dibanding konstruksi lainnya.
Besi beton atau beton bertulang boleh jadi merupakan bahan konstruksi
yang paling penting karena digunakan dalam berbagai bentuk untuk hampir
semua struktur baik besar maupun kecil seperti bangunan, jembatan, perkerasan
hjalan, bendungan, dinding pebahan tanah, terowongan, jembatan yang
melintasi lembah (viaduct), drainase, fasilitas irigasi, tangki dan sebagainya.
Khusus untuk bangunan gedung bertingkat tinggi, besi beton digunakan
untuk struktur kolom, balok, dinding, plat, besi poer dan sloof.

2
Sukses beton bertulang sebagai bahan konstruksi yang universal
karena banyaknya kelebihan yang dimilikinya. Kelebihan tersebut antara lain :
1. Memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan kebanyakan bahan
lain.
2. Memiliki ketahanan yang tinggi terhadap api dan air, bahkan memiliki
struktur terbaik untuk bangunan yang banyak bersentuhan dengan air. Pada
peristiwa kebakaran dengan intesitas rata-rata, batang-batang struktur
dengan ketebalan penutup beton yang memadai sebagai pelindung tulangan
hanya mengalami kerusakan pada permukaannya saja tanpa mengalami
keruntuhan.
3. Struktur beton bertulang sangat kokoh.
4. Tidak memerlukan biaya pemeliharaan yang tinggi.
5. Dibandingkan dengan bahan lain, memiliki usia layan yang sangat panjang.
Dalam kondisi-kondisi normal, struktur beton bertulang dapat digunakan
sampai kapanpun tanpa kehilangan kemampuannya untuk menahan beban.
Ini dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kekuatannya tidak berkurang
dengan berjalannya waktu bahkan semakin lama semakin bertambah dalam
hitungan tahun, karena lamanya proses pemadatan semen.
6. Merupakan satu-satunya bahan yang ekonomis untuk pondasi tapak, dinding
basement, tiang tumpuan jembatan, dan bangunan-bangunan semacam itu.
7. Dapat dirakit menjadi bentuk yang sangat beragam mulai dari plat, balok dan
kolom yang sederhana sampai menjadi atap kubah dan cangkang besar.
8. Keahlian buruh yang dibutuhkan untuk membangun konstruksi beton
bertulang lebih rendah bila dibandingkan dengan bahan lain seperti baja
struktur.

1.2 PENGETAHUAN DASAR PENULANGAN


1.2.1 Fungsi Penulangan Pada Struktur Beton
Beton adalah batu buatan yang kuat sekali menerima tekanan tetapi sangat
lemah apabila menerima gaya tarik. Jadi sifat-sifat beton sangat baik apabila
hanya menerima gaya tekan, seperti pada kolom.
Tetapi setelah beton tersebut menerima lenturan, seperti pada balok atau
pelat, akan timbul sifat-sifat lain yang tampak seperti pada karet busa. Satu sisi
pada beton lubang-lubang porinya tertekan sedangkan pada sisi yang lain

3
ubang-lubang tersebut tertarik. Daerah yang tertekan terletak pada bagian
yang tertarik pada sebelah luarnya.
Karena beton sangat lemah dalam menerima gaya tarik, maka beton
tersebut tidak mampu menerima gaya tarik sehingga mengakibatkan terjadinya
retak-retak yang lama-lama bisa mengakibatkan elemen beton akan pecah.
Untuk menjaga retak lebih lanjut serta pecahnya balok tersebut, diperlukan
pemasangan tulangan-tulangan baja pada daerah yang tertarik dan daerah
dimana beton akan mengalami retak-retak. Alasan menggunakan tulangan baja
ialah karena baja sangat baik dan mampu menerima gaya tarik.
Pada beton bertulang, kita memanfaatkan sifat-sifat baik beton dalam
menerima tekanan serta memakai tulangan pada daerah-daerah yang menerima
gaya tarik.
Jadi tulangan pada konstruksi beton sangat diperlukan untuk menahan
gaya tarik yang terjadi, maka dari itu diperlukan luasan tulangan minimum pada
penampang beton bruto. Dengan mengetahui tulangan minimum yang harus
terpasang, maka konstruksi relatif aman untuk dilaksanakan.

Gambar 1.3
Pekerjaan penulangan

4
Gambar 1.4
Gaya tarik pada beton

Perlu diketahui bahwa pada beton bertulang, tulangan-tulangan baja


tersebut tidak mencegah retakan-retakan pada daerah beton bertulang yang
menerima tarikan tetapi hanya mencegahnya dari retakan-retakan yang lebih
besar (yang dapat terlihat jelas dengan kaca pembesar atau microscope)
sehingga mencegah elemen beton dari kehancuran.
Sebenarnya ada beberapa penyebab keretakan pada besi beton namun
sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
Dengan mengingat hal ini, kita sekarang mempunyai sebuah kriteria untuk
menilai serta memeriksa apakah penempatan tulangan utama pada bagian
kerangka mendatar (balok ataupun pelat) sudah benar.

Gambar 1.5
Penempatan tulangan utama pada kerangka mendatar balok (plat)

5
Karena pelat dapat dibayangkan seperti terbuat dari sambungan balok-balok
yang mempunyai perubahan bentuk yang sama pada titik silangnya maka
anggapan yang dapat diterapkan sambungan-sambungan balok tersebut pada
tiap-tiap arah.

Gambar 1.6
Perubahan bentuk pada sambungan-sambungan balok plat yang diberi tulangan

6
Gambar 1.7
Pekerjaan penulangan pada plat

1.2.2 Karakteristik Penulangan Pada Elemen Struktur


1. Penulangan Kolom
Kolom adalah komponen struktur bangunan yang bertugas menyangga
beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak
tiga kali dimensi lateral terkecil.
Kolom beton yang pendek dan tidak bertulang mampu untuk membawa
beban aksial yang besar, karena tegangan yang dihasilkannya merupakan
desakan saja dan panjangnya yang tidak seberapa menghindarkan pelengkungan
sisinya atau tekuk. Pemberian tulangan longitudinal akan meningkatkan kapasitas
dukungan beban dari kolom tersebut, atau tanda beban yang diberikan akan
memungkinkan penggunaan kolom yang luas penampang lintangnya lebih kecil.
Di dalam praktek pada hakekatnya tak mungkin untuk menjamin bahwa beban
akan tetap aksial dan dengan demikian tiada momen yang terjadi pada
pertemuan balok dengan kolom. Dapat ditambahkan bahwa kolom seringkali
ramping. Kesemuanya ini mempengeruhi lenturan sebuah kolom dengan akibat
timbulnya tegangan tarik. Oleh karena itu kolom beton diberi tulangan untuk
menghindari retak atau terjadinya reruntuhan.
Tulangan desak memerlukan dukungan lateral (samping) untuk
menjaganya dari tekuk keluar dibawah suatu beban, serta pecahnya selimut
beton. Hal ini diatasi dengan mempergunakan tulangan transversal, dalam
bentuk pengikatan lateral yang dikenal sebagai begel, diketakkan sedemikian

7
rupa sehingga setiap tulangan memanjang yang dipegangnya agar tidak
tertekuk keluar. Ujungnya harus diberi angkur. Jarak antara begel sepenjang
tiang harus dikalikan diameter batang tulangan yang terkecil diameternya. Agar
kolom beton bertulang tahan terhadap tekuk, maka perlu untuk memasang
batang tulangan sedekat mungkin muka keluar dengan konsistensi selimut beton
yang secukupnya.

Syarat menentukan tulangan kolom


1

Gambar 1.8
Tulangan Kolom
Keterangan gambar :
1. Luas Penampang Tulangan Memanjang/Pokok adalah luas minimum 1%
dan luas maksimum 8% dari luas penampang beban bruto
2. Diameter Begel; dimana :

Tidak boleh 14 mm

Tidak boleh 1/3 diamater tul pokok

Minimum 6 mm

8
3. X adalah Jarak Begel; dimana :

X 15 kali tul pokok

Xab

Apabila oleh ketentuan praktis bagel tidak dapat dipasang (misal pada
persilangan). Maka pengikat tulangan memanjang harus dilakukan dengan cara
lain.
1

Gambar 1.9
Penulangan utama
Keterangan gambar :
2. Jarak maksimum penulangan utama yaitu 300 mm
3. Jarak minimum penulangan utama; dimana :
Jarak 30 mm

Sama dengan tul pokok

4/3 butir kerikil normal (nominal yang terbesar)

2/3 butir kerikil pada ujung tulangan

2. Penulangan Balok
Pembebanan pada sebuah balok menaikkan tegangan tarik, desak dan
geser, sedemikian rupa sehingga pemikiran desain sebuah balok merupakan
suatu penghantar yang mudah pada prinsip elementer desain beton bertulang.
Dalam tujuan desain, kuat tarik beton yang kecil itu diabaikan, oleh karena
itu satu balok beton, yang mampu memikul desakan di atas sumbu netral, tak
mempunyai kemampuan yang berarti dalam menahan tarikan di bawah sumbu
ini. Agar supaya balok dapat berfungsi dengan baik, pada daerah tarik harus
diberi suatu tahanan atau dengan kata lain, luasan balook di bagian ini harus
ditulangi.

9
Bilamana batang tulangan ditempatkan pada bagian bawah balok, tepatnya
di dekat permukaan tarik yang terluar, kekuatan balok tak lagi dibatasi oleh kuat
tarik beton dan pemberian tulangan untuk mencegah geseran horisontal,
sehingga balok dapat menjadi kuat baik di dalam menahan tarikan maupun
desakan. Agar supaya dapat memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari
tulangan, maka harus dipasang sedekat mungkin pada dasar balok.
Bagaimanapun juga, perlu diberi selimut beton untuk mencegah korosi dan
memberikan daya tahan terhadap api yang diperlukan.

Syarat-syarat Menentukan Tulangan Balok

Gambar 1.10
Penulangan Balok
1. Luas tulangan pokok :
Minimum 0,5% (dari luas balok a.b)

Jarak maksimum 20 tulangan pokok

Jarak maksimum 30 cm

2. Begel :
Luas minimum 0,2% (dari luas a.X)

10
3. Jarak Begel :

Xa

X 30 cm

X 25 tulangan begel

X 2/3 untuk daerah geser

Gambar 1.11
Jarak penulangan balok

Keterangan gambar :
a. Jarak maksimum penulangan sisi 300 mm
b. Jarak minimum penulangan utama :
30 mm
sama dengan tulangan pokok

4/3 butir kerikil (nominal yang terbesar)

2/3 butir kerikil nominal

50 mm

Pada balok T boleh diterapkan bentuk begel terbuka apabila syarat-syarat berikut
ini terpenuhi :
1. Akhir dari begel harus dibuat kait bulat/kait serong.
2. Dalam pembengkokan kait ini harus terdapat batang memanjang.
3. Sisi terbuka dari begel harus ditutup dengan penulangan atas lantai tegak
lurus dengan sumbu balok.

11
Begel Terbuka
Keuntungan dengan memakai begel terbuka pada penulangan balok
mempercepat pelaksanaan penulangan plat lantai karena :
1. Tulangan tidak harus memasukkan satu per satu.
2. Bila memakai tulangan mes (jaring) tidak mendapat kesulitan untuk
memasukannya ke dalam balok (tidak memotong tulangan mes).

Gambar 1.12
Jarak penulangan balok

3. Penulangan Plat Lantai


Bersama balok dan kolom, pelat melengkapi ketiga elemen dasar dari
bangunan pada umumnya. Pelat dapat terdiri atas unit pra cetak atau sebagian
beton yang dicor setempat sedapat mungkin monotolit (menjadi satu) dengan
balok pendukungnya. Disini akan dibahas tentang elemen terakhir yaitu pelat.
Sifat pelat di bawah suatu pembebanan, dalam kaitannya dengan keadaan
dukungan ujung dan dukungan antara adalah mirip dengan balok. Tergantung
pada bentuk panel pelat yang ditinjau, yaitu perbandingan antara panjang pada
lebarnya, desain mungkin dilakukan sebagai penegangan satu arah saja, atau
dalam dua arah yang biasanya tegak lurus satu dengan yang lain. Di dalam
praktek, suatu pelat yang yang direncanakan membenytang satu arah sajaakan
mencoba, menurut beberapa tingkat kemampuannya untuk menegang pada arah
lain mengikat sifat alamiah konstruksi sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu,
tulangan yang jumlahnya minimum dipasang pada arah tegak lurus terhadap
tulangan utama. Peletakan tulangan atas dan tulangan bawah pelat adalah
serupa dengan peletakannya pada balok.

12
Pelat dapat diberi tulangan yang berbentuk anyaman yang sudah dilas dari
pabrik (tulangan mes). Pada umumnya disediakan dalam bentuk lembaran atau
rol, atau dengan memakai batang tulangan.
Beberapa syarat yang harus diperhatikan untuk penulangan plat menurut PBI
1971 :
1. Tebal pelat lantai tidak boleh diambil kurang dari 7 cm untuk pelat atap dan
12 cm untuk pelat lantai.
2. Luas tulangan pembagi harus diambil minimum 0.25% dari luas beton.
3. Pada pelat-pelat dimana tulangan pokoknya berjalan hanya satu arah saja,
maka tegak lurus pada tulangan pokok tersebut harus dipasang tulangan
pembagi, minimum 20% dari luas tulangan pokoknya.
4. Pada pelat-pelat dicor setempat, diameter dari batang tulangan pokok
tersebut harus dipasang tulangan pembagi minimum 6 mm.
5. Pelat-pelat yang memikul beban vertikal ke bawah, walaupun menurut
perhitungan teoritis oleh pengaruh pembebanan bentang-bentang pelat yang
berbatas hanya memikul momen negatif, tetapi juga harus diberi tulangan
bawah. Jumlah tulangan bewah ini harus diambil minimum sama dengan
tulangan yang diperlukan oleh pelat tersebut untuk memikul momen negatif,
tetapi juga harus diberi tulangan yang diperlukan oleh pelat tersebut untuk
memikul beban vertikal yang sama, tetapi dengan tepi-tepinya terjepit
penuh. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pelat kantilever.
6. Pelat-pelat yang lebih tebal dari 25 cm senantiasa harus dipasang tulangan
atas dan tulangan bawah di setiap tempat, dengan memperhatikan poin 2,3
dan 4. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pondasi telapak.

13
Syarat-syarat menentukan tulangan pelat lantai

Gambar 1.13
Tulangan pelat lantai

1. Luas tulangan pokok 1,5% (Hr.X)


2. Luas tulangan pembagi 0,1% (Hr.Y)
3. Jarak maksimum penulangan utama (X) :

1,2 Hr

250 mm

4. Jarak maksimum penulangan bagi (Y) :


2 Hr

250 mm

4. Penulangan Balok Kantilever


Balok kantilever adalah balok yang salah satu ujungnya terdapat tumpuan jepit
dan ujung lain menggantung (bebas). Balok kantilever yang menahan beban
gavitasi menerima momen negatif pada keseluruhan panjang balok tersebut.
Akibatnya tulangan balok kantilever ditempatkan pada bagian atas atau sisi
tariknya seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.13. Untuk batang seperti
pada gambar, momen maksimum terjadi pada penampang di bagian peletakan.
Akibatnya sejumlah besar tulangan diperlukan pada titik ini. Tulangan tidak tidak
dapat hanya sampai pada tumpuan, harus dipanjangkan atau diangkur pada

14
beton di sebelah luar tumpuan. Perpanjangan ini disebut sebagai panjang
penyaluran (development length). Panjang penyaluran ini tidak harus lurus
seperti yang diperlihatkan pada gambar, karena tulangan akat dikaitkan pada 90o
atau 180o.

Gambar 1.13
Balok kantilever

Hingga saat ini hanya batang statis tertentu yang telah banyak dibicarakan,
namun situasi yang sering terjadi untuk balok dan pelat adalah menerus di atas
bebarapa perletakan seperti pada Gambar 1.14. Karena tulangan diperlukan pada
daerah tarik balo, tulangan tersebut ditempatkan pada bagian bawah ketika
momen positif dan pada bagian atas ketika momen negatif. Ada beberapa cara
dalam mengatur letak tulangan untuk menahan momen positif dan negatif pada
beban menerus. Salah satu pengaturan adalah yang mungkin diperlihatkan pada
gambar 1.14.

Gambar 1.14
Pelat menerus menunjukkan penempatan tulangan secara teoritis untuk diagram
momen yang diberikan

15
5. Penulangan Balok Prestress (prategang)
Struktur beton prestress adalah sistem struktur beton yang secara khusus
dengan cara memberikan tegangan awal tertentu pada komponen sebelum
digunakan untuk mendukung beban luar sesuai yang diinginkan. Tujuan
memberikan tegangan awal atau prategangan adalah untuk menimbulkan
tegangan awal tekan beton pada lokasi dimana nantinya akan timbul tegangan
tarik pada waktu komponen mendukung beban sedemikian rupa sehingga
diharapkan sewaktu beban seluruhnya bekerja tegangan tarik total berkurang
atau bahkan lenyap sama sekali.
Bahan beton tidak kuat menahan gaya tarik, sehingga diusahakan untuk
menghindari timbulnya tegangan tarik dalam beton agar berkurang masalah
retak bahkan bebas retak sehingga proses korosi (pengaratan) tulangan akibat
oksidasi dapat dihindari. Penampang balok dalam keadaan tertekan mampu
mencegah timbulnya tegangan tarik diagonal sehingga retak-retak miring dapat
dihindari. Selain itu dengan sengaja memasang tendon melengkung mengikuti
koordinat yang diinginkan akan menimbulkan komponen gaya vertikal yang
sangat membantu untuk memikul geser. Ketahanan terhadap geser yang lebih
baik dan efektivitas penampang tersebut memberikan dimensi penampang
komponen struktur prategangan menjadi lebih ramping sehingga beban mati
berkurang.
Cara yang biasa dilakukan untuk penerapan gaya prategang pada komponen
struktur beton adalah menggunakan tendon baja yang dilakukan dengan cara :
a. Pemberian prategangan melalui pra-penarikan (pretensioning) yaitu
pemberian prategangan pada beton dimana tendon ditarik untuk
ditegangkan sebelum dilakukan pengecoran adukan beton ke dalam acuan
yang disiapkan. Pelaksanaan cara ini umumnya dilakukan di suatu tempat
khusus di lapangan pencetakan (casting yard). Langkah-langkah metoda ini
seperti pada Gambar 1.15. Setelah seluruh proses hilangnya gaya
prategangan berlangsung, pada tahap pelayanan beban kerja tersusun suatu
kombinasi beban mati, beban hidup dan gaya prategangan. Tegangan tarik
pada bagian tepi bawah balok tidak boleh lebih dari Sfc, sedangkan

16
tegangan tekan pada bagian tepi atas tidak melebihi 0,45fc. Nilai
tegangan tarik ijin tersebut diambil hanya sedikit di bawah nilai modulus
runtuh beton normal fr=0,7Sfc, karena kemungkinan bahaya retak atau
tekuk secara tiba-tiba di daerah tersebut hanya kecil karena umumnya posisi
tendon berada di dekat serat sisi terbawah. Pembatasan tegangan tarik ijin
tersebut sudah termasuk memperhitungkan penyediaan tebal selimut beton
dimana untuk kondisi korosif tebalnya ditambah di atas syarat minimum.

Gambar 1.15
Komponen struktur prategang

17
b. Penarikan purna (post-tensioning) adalah cara memberikan prategangan
pada beton dimana tendon baru ditarik setelah betonnya dicetak terlebih
dahulu dan mempunyai cukup kekerasan untuk menahan tegangan sesuai
dengan yang diharapkan.

Gambar 1.16
Komponen struktur penarikan purna

1.3 JENIS-JENIS BESI BETON STANDAR


1.3.1 Macam-Macam Bahan Tulangan
Besi beton yang dipakai dalam bangunan harus memenuhi persyaratan terhadap
metoda pengujian dan pemeriksaan untuk bermacam-macam mutu besi beton
seperti Tabel 1.1. Disamping mutu besi beton BJTP 24, BJTD 40 dan BJTD 50
seperti yang ditabelkan itu, mutu besi yang lain dapat juga dipesan secara
khusus seperti BJTP 30. Tetapi perlu diingat, bahwa waktu didapatnya lebih lama
dan harganya jauh lebih mahal. Guna menghindari kesalahan pada saat
pemasangan, lokasi penyimpanan baja yang dipesan secara khusus itu perlu
dipisahkan dari baja yang umum digunakan (BJTP 24 DAN BJTD 40).

Tabel 1.1 Mutu besi beton


Jenis besi Mutu besi Batas Luluh Kuat Tarik Regangan
2 2
MPa (kg/cm ) MPa (kg/cm ) pada Beban
Maksimal
Polos BJTP 24 240 (2400) 390(3900) 3%
Deform BJTD 40 400 (4000) 500(5000) 5%

18
Tanda-tanda pengenal mutu baja

Gambar 1.17
Ciri-ciri nampak besi beton

Besi beton BJTP 24 dipasok sebagai batang polos. Bentuk dari besi beton BJTD
40 adalah deform atau dipuntir (batang yang diprofilkan).

a. Batang polos
Batang polos adalah batang yang berpenampang bulat, persegi, lonjong dan lain-
lain dengan permukaan licin. Agar beton dan batang tulangan dapat bekerja
sama maka harus ada ikatan dalam antara keduanya. Pada batang polos,
tegangan tarik yang mengalir pada batang harus ditahan oleh ikatan lengket
(gaya gesek) yang segaris.

Gambar 1.15
Besi beton polos

19
Hal yang sama berlaku untuk transfer tegangan tarik pada tulangan yang tidak
terikat misalnya angkur dan tegangan tulangan.

b. Batang yang diprofilkan/deform/ulir


Batang profil adalah batang yang dipuntir dan permukaannya diberi rusuk-rusuk
tegak/miring terhadap sumbu batang dengan jarak antara rusuk-rusuknya tidak
> 0,7 x diameter batang pengenal.

Gambar 1.16
Besi beton profil (ulir)

Tujuan pembuatan batang yang diprofilkan adalah untuk memperoleh ikatan


lengket yang lebih baik antara beton dan batang tulangan. Dengan adanya rusuk
(profil) maka permukaan lengket menjadi lebih besar dan beton yang berada di
antara rusuk-rusuk mencegkeram batang tulangan lebih kuat. Dengan demikian
ada ikatan lengket yang tertahan oleh rusuk-rusuk pada batang yang bertujuan
untuk memperoleh kuat tarik yang lebih besar.

1.3.2 Standar Besi Beton


Standar besi beton dibedakan untuk jenis besi polos (plain) dan besi ulir
(deform).

20
Tabel 1.2 Jenis dan kelas besi tulangan (SII 0136-80)
BATAS ULUR KUAT TARIK REGANGAN SUDUT DIAMETER
JENIS KELAS SIMBOL MINIMUM MINIMUM MINIMUM LENGKUNG LENGKUNG
N/mm2 N/mm2 (%)

Polos 1 BJTP 24 235 382 20 180o 3d


(24) (39) 24
2 BJTP 30 294 480 16 180o 3d
(30) (49) 20

Deformation 1 BJTD 24 235 382 18 3d


180o
22

2 BJTD 30 294 480 14 4d


180o
(30) (49) 18 4d

3 BJTD 35 343 490 18 maks 5d


180o D40
maks
20 D50

4 BJTD 40 392 559 16 5d


180o
(40) (57) 18

5 BJTD 50 490 618 12 maks 5d


90o D40
maks
(50) (63) 14 6d
D50

Tabel 1.4 Dimensi dan Berat Besi Tulangan (SII-136-80)


TULANGAN BAJA DIAMETER LUAS BERAT
POLOS DEFORM NOMINAL NOMINAL NOMINAL
(MM) (CM2) (KG/M)

P6 D6 6,00 0,283 0,222


P8 D8 8,00 0,503 0,395
P9 D9 9,00 0,636 0,499
P10 D10 10,00 0,785 0,617
P12 D12 12,00 1,131 0,888
P13 D13 13,00 1,327 1,040
P14 D14 14,00 1,540 1,210
P16 D16 16,00 2,011 1,580
P18 D18 18,00 2,545 2,000
P19 D19 19,00 2,835 2,230
P20 D20 20,00 3,142 2,470
P22 D22 22,00 3,801 2,980
P25 D25 25,00 4,909 3,850
P28 D28 28,00 6,157 4,830
D29 29,00 6,605 5,190
P32 D32 32,00 8,043 6,310
D36 36,00 10,179 7,990
D40 40,00 12,565 9,870
D50 50,00 19,635 15,400

21
Tabel 1.5 Luas Tulangan Besi
DIAMETER LUAS PANAMPANG (mm2)
BATANG JUMLAH BATANG
(mm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9

6 28.3 56.5 84.8 113.1 141.4 169.6 197.9 226.2 254.5


8 50.3 100.5 150.8 201.1 251.3 301.6 351.9 402.1 452.4
9 63.6 127.2 190.9 254.5 318.1 381.7 445.3 508.9 572.6
10 78.5 157.1 235.6 314.2 392.7 471.2 549.8 628.3 706.9
12 113.1 226.2 339.3 452.4 565.5 678.6 791.7 904.8 1017.9
13 132.7 265.5 398.2 530.9 663.7 796.4 929.1 1061.9 1194.6
14 153.9 307.9 461.8 615.8 769.7 923.6 1077.6 1231.5 1385.4
16 201.1 402.1 603.2 804.2 1005.3 1206.4 1407.4 1608.5 1809.6
18 254.5 508.9 763.4 1017.9 1272.3 1526.8 1781.3 2035.8 2290.2
19 283.5 567.1 850.6 1134.1 1417.6 1701.2 1984.7 2268.2 2551.8
20 314.2 628.3 942.5 1256.6 1570.8 1885.0 2199.1 2513.3 2827.4
22 380.1 760.3 1140.4 1520.5 1900.7 2280.8 2660.9 3041.1 3421.2
25 490.9 981.7 1472.6 1963.5 2454.4 2945.2 3436.1 3927.0 4417.9
28 615.8 1231.5 1847.3 2463.0 3078.8 3694.5 4310.3 4926.0 5541.8
29 660.5 1321.0 1981.6 2642.1 3302.6 3963.1 4623.6 5284.2 5944.7
32 804.2 1608.5 2412.7 3217.0 4021.2 4825.5 5629.7 6434.0 7238.2
36 1017.9 2035.8 3053.6 4071.5 5089.4 6107.3 7125.1 8143.0 9160.9
40 1256.6 2513.3 3769.9 5026.5 6283.2 7539.8 8796.5 10053.1 11309.7
50 1963.5 3927.0 5890.5 7854.0 9817.5 11781.0 13744.5 15708.0 17671.5

Tabel 1.6 Luas Tulangan Besi per Meter Panjang Plat


2
DIAMETER LUAS PENAMPANG (mm )
BATANG JARAK SPASI P.K.P (mm)
(mm) 50 100 150 200 250 300 350 400 450

6 565.5 282.7 188.5 141.4 113.1 94.2 80.8 70.7 62.8


8 1005.3 502.7 335.1 251.3 201.1 167.6 143.6 125.7 111.7
9 1272.3 636.2 424.1 318.1 254.5 212.1 181.8 159.0 141.4
10 1570.8 785.4 523.6 392.7 314.2 261.8 224.4 196.3 174.5
12 2261.9 1131.0 754.0 565.5 452.4 377.0 323.1 282.7 251.3
13 2654.6 1327.3 884.9 663.7 530.9 442.4 379.2 331.8 295.0
14 3078.8 1539.4 1026.3 769.7 615.8 513.1 439.8 384.8 342.1
16 4021.2 2010.6 1340.4 1005.3 804.2 670.2 574.5 502.7 446.8
18 5089.4 2544.7 1696.5 1272.3 1017.9 848.2 727.1 636.2 565.5
19 5670.6 2835.3 1890.2 1417.6 1134.1 945.1 810.1 708.8 630.1
20 6283.2 3141.6 2094.4 1570.8 1256.6 1047.2 897.6 785.4 698.1
22 3801.3 2534.2 1900.7 1520.5 1267.1 1086.1 950.3 844.7
25 4908.7 3272.5 2454.4 1963.5 1636.2 1402.5 1227.2 1090.8
28 6157.5 4105.0 3078.8 2463.0 2052.5 1759.3 1539.4 1368.3
29 6605.2 4403.5 3302.6 2642.1 2201.7 1887.2 1651.3 1467.8
32 8042.5 5361.7 4021.2 3217.0 2680.8 2297.9 2010.6 1787.2
36 6785.8 5089.4 4071.5 3392.9 2908.2 2544.7 2261.9
40 8377.6 6283.2 5026.5 4188.8 3590.4 3141.6 2792.5
50 13090.0 9817.5 7854.0 6545.0 5610.0 4908.7 4363.3

22
23
24
25
26
27
28
29
Mutu baja tulangan

pada umumnya baja tulangan yang terdapat di pasaran Indonesia dapat dibagi dalam beberapa jenis Mutu
baja tulangan Namun demikian, pada umumnya baja tulangan yang terdapat di pasaran Indonesia dapat
dibagi dalam mutu-mutu. Mutu baja tulangan diberi kode U, mulai dari U-22 dan U-24 yang dikenal
dengan baja lunak. U-32 dikenal dengan baja sedang, sedangkan U-39 dan U-48 dikenal dengan baja keras.
Pemberian nama U, adalah mengambarkan nilai tetangan lelehnya. Misalnya U-24 mempunyai tengan leleha
2.400 kg/cm2. Baja tulangan dengan mutu yang diragukan harus diperiksa di lembaga pemeriksaan bahan-
bahan yang diakui. Lembaga tersebut selanjutnya akan memberikan pertimbangan-pertimbangan dan
petunjuk-petunjuk dalam penggunaan jenis baja tersebut. Batang tulangan menurut bentuknya dibagi dalam
batang polos dan batang yang diprofilkan. Yang dimaksud dengan batang polos adalah batang prismatis
berpenampang bulat, persegi, lonjong, dan lain-lain, dengan prmukaan licin. Yang dimaksud dengan batang
yang diprofilkan adalah batang primatis atau dipuntir yang permukaannya diberi rusuk-rususk yang terpasang
tegak lurus atau miring terhadap sumbu batang, dengan jarak antara rusuk-rususk tidak lebih dari 0,7 kali
diameter pengenalnya. Apabila tidak ada data yang mengyakinkan (misalnya keterangan dari pabriknya atau
hasil-hasil pemeriksaan laboratorium), maka batang yang diprofilkan dengan jarak rusuk yang tidak
memenuhi syarat di atas atau batang yang dipuntir dengan penampang persegi, lonjong, atau berbentuk salib
yang permukaannya bertakik, harus dianggap sebagai batang polos. Batang-batang tulangan harus disimpan
dengan tidak menyentuh tanah. Batang-batang tulangan dari berbagai-bagai jenis baja harus diberi tanda-
tanda yang jelas dan ditimbun terpisah jenis yang satu dari jenis yang lainnya, sehingga tidak mungkin saling
tertukar. Penimbunan batang-batang tulangan di udara terbuka untuk jangka waktu yang panjang harus
dicegah. Kawat ikat harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan
terlebih dahulu dan tidak bersepuh seng. Jika kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang
sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran diameter besi dengan
diameter yang terdekat dengan catatan : Harus ada persetujuan tertulis dari pengawas; Jumlah besi persatuan
panjang atau jumlah besi di tempat tersebut tidak boleh kurang dari tertera dalam gambar (dalam hal ini yang
dimaksudkan adalah jumlah luas) dan mutu tulangan sama. Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan
keruwetan pembesian di tempat tersebut dan di daerah overlapping yang dapat menyulitkan penggetaran
adukan beton. Dengan penggantian tersebut ada pekerjaan tambah yang terjadi dan semua akibat lainnya
menjadi tanggungan kontraktor

Besi Beton Polos


Plain Bars (Besi Beton Polos )

Besi beton, biasa disebut besi tulang beton (BTB) adalah salah satu material pembentuk beton struktur.
Kualitas dan kuantitas besi beton yang dipakai berbanding lurus dengan dimensi beton
.
Syarat Penandaan. Setiap batang baja tulangan beton diberi tanda(marking) dengan huruf timbul yang
menunjukkann inisial pabrik pembuat serta ukuran diameter nominal. Setiap batang baja tulangan beton
diberi tanda pada ujung-ujung penampangnya dengan warna yang tidak mudah hilang sesuai dengan kelas
baja seperti. Setiap kemasan, diberi label dengan mencantumkan: Nama atau nama singkatan dari pabrik
pembuat, warna, nomor lembaran (No. Heat), nomor seri produksi dan tanggal produksi, nomor SNI.
Standart kekuatan besi beton polos yaitu BJTP 24 dan ukuran standart SNI yaitu full ukurannya. Meski
demikian, pada ukuran aktualnya tetap saja mempunyai toleransi misalnya besi beton Merek KS yang disebut
ukuran full tetap saja ada toleransi 0,1mm . sebagai Contoh besi besi beton ukuran 10mm (Merek KS) ukuran
nyatanya 9,9mm namun demikian produk KS pada saat ini tetap menjadi primadona pasar dikarenakan
kuwalitas dan ukuran No. 1 di Indonesia dan mempunyai harga yang paling tinggi dibandingkan produk yang
lainnya. Pada umumnya spesifikasi material besi beton adalah JIS G 3112
Kandungan kimia besi beton (Chemical Composition) KS 10mm
C 16 %, Si 19 %,Mn 52%,P 1,2%,S 0,9%,Ni 2%,Cr 2% ,V 0 %
Mecanical Properties Besi Beton
Batas Ulur = 29,96 kg/mm
Kuat Tarik = 43,85 kg/mm
Regang = 30 %

Info Besi Beton - Mutu Tips & Tricks

Sedikit latar belakang bagaimana besi beton dibuat

Besi beton diproduksi secara umum terdiri dari 3 jenis: besi beton permukaan polos (round bar),
besi beton ulir (deformed bar) dan besi beton kanal u (shape). Bahan baku besi beton adalah billet,
yang merupakan balok baja berukuran 100 x 100 mm, 110 x 110 mm, 120 x 120mm dengan
panjang masing-masing sekitar 170 mm. Bahan baku dari billet sendiri adalah besi-besi tua, skrap,
serta bahan penolong seperti kokas, grafit, lime, ferro alloys yang dilebur dengan berbagai metode.
Bahan penolong tadi digunakan untuk mendapatkan unsur carbon (C), Si (silicon), Mn (Mangan)
yang akan sangat berpengaruh pada qualitas besi beton.

Mutu besi beton yang baik adalah yang memiliki kekuatan tarik (standard yield strength / Ys)
minimal 24 kg / mm2. Kadar carbon berpengaruh besar kepada sifat mekanik dari besi beton.
Kadar carbon yang terlalu besar akan membuat besi beton menjadi lebih getas dan akan
meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik tetapi keuletannya cenderung menurun. Kadar unsur
silikon berpengaruh terhadap struktur mikro besi beton. Kadar silikon yang rendah mengakibatkan
besi menjadi kropos. Kadar unsur mangan berpengaruh besar pada keuletan besi beton. Unsur
mangan yang terlalu banyak dapat meningkatkan keuletan tetapi mengurangi kekerasan.

Cara menghitung berat besi beton SNI (Standard Nasional Indonesia)

Polos dengan grade U24 (Standard Yield Strength: 24 kg / mm2)


Ulir dengan grade U40 (Standard Yield Strength: 40 kg / mm2)

Berat (dalam kg) = diameter (mm) * diameter (mm) * panjang (m) * 0.006165
0.006165 merupakan coefisien dalam mencari berat besi beton.

Sebagai contoh besi dengan diameter 10mm dan panjang 12m mempunyai berat
10*10*12*0.006165 = 7.398 kg

Untuk daerah bali dan sekitarnya, besi yang banyak dipasarkan adalah besi dari PT Hanil Jaya
Steel - Surabaya. Hal ini dikarenakan biaya transportasi yang lebih murah dan kualitas besi beton
yang baik. Besi beton SNI dari pabrik Hanil mempunyai toleransi 0.2mm dengan panjang 12m.
Besi beton jenis ini mempunyai marking seperti "HIJ SNI 16mm" untuk ukuran 16mm.
Contoh diatas adalah besi beton ulir SNI 13mm (S13 = Sirip 13) dan besi beton polos SNI 10mm
(P10 = Polos 10)

Selain besi beton jenis SNI, terdapat juga besi beton NON-SNI atau sering kali disebut BANCI.
Kekuatan tarikan atau yield strength dari besi beton jenis ini tidak dapat dipastikan. Untuk besi
beton dengan marking HJ menurut informasi dari pabrik mempunyai kekuatan U19-20 untuk yang
jenis polos dan untuk jenis ulir mempunya kekuatan U25-30. Toleransi untuk besi beton jenis ini
biasanya lebih besar sampai 0.3mm dengan panjang 12m dan terdapat marking dengan berbagai
tanda salah satunya HJ.

Besi Beton NON SNI Ulir/Sirip 13mm (Ukuran Sket 12.5mm)

Terdapat lagi jenis besi beton tarikan. Besi beton jenis ini biasanya tidak mempunyai panjang 12m
dan tidak terdapat marking atau tanda.

Perhatian!
Terdapat fenomena belakangan ini banyak penjual menjual kawat baja dan bukan besi beton. Besi
beton dengan diameter ukuran 6-10mm yang sering kali menjadi korban. Fungsi dari kawat baja
sangat berbeda dengan besi beton. Kawat baja berfungsi untuk pengikat dan besi beton berfungsi
untuk penyangga. Sehingga kekuatan tarikan kawat baja jauh dibawah kekuatan besi beton. Hanya
saja diameter kawat baja ini sama besar dengan besi beton ukuran tertentu. Hal ini sering kali
digunakan untuk mendapatkan pasar atau pun mengeruk keuntungan maximal.

Anda dapat mempercayakan supplier besi anda kepada kami. Kami hanya menjual besi dari PT
Hanil Jaya Steel - Surabaya dengan marking HIJ untuk besi beton SNI dan marking HJ untuk besi
beton NON-SNI.

Tulangan sebagai Salah Satu Bahan Penyusun Beton


Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa mengalami keretakan.
Oleh karena itu, agar beton dapat bekerja dengan baik dalam sistem struktur, beton perlu
dibantu dengan memberinya perkuatan penulangan yang berfungsi menahan gaya tarik.
Penulangan beton menggunakan bahan baja yang memiliki sifat teknis yang kuat
menahan gaya tarik. Baja beton yang digunakan dapat berupa batang baja lonjoran atau
kawat rangkai las (wire mesh) yang berupa batang-batang baja yang dianyam dengan
teknik pengelasan.

Baja beton dikodekan berurutan dengan: huruf BJ, TP dan TD,


BJ berarti Baja
TP berarti Tulangan Polos
TD berarti Tulangan Deformasi (Ulir)

Angka yang terdapat pada kode tulangan menyatakan batas leleh karakteristik yang
dijamin. Baja beton BJTP 24 dipasok sebagai baja beton polos, dan bentuk dari baja beton
BJTD 40 adalah deform atau dipuntir Gambar 7.4). Baja beton yang dipakai dalam
bangunan harus memenuhi norma persyaratan terhadap metode pengujian dan
perneriksaan untuk bermacam-macam mutu baja beton menurut Tabel 7.1.

Secara umum berdasarkan SNI 03-2847-2002 tentang Tata cara perhitungan struktur
beton untuk bangunan gedung, baja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir. Baja
polos diperkenankan untuk tulangan spiral atau tendon. Baja tulangan umumnya harus
memenuhi persyaratan yang berorientasi pada ASTM (American Society for Testing
Materials) yang diantaranya memenuhi salah satu ketentuan berikut:
-> Spesifikasi untuk batang baja billet ulir dan polos untuk penulangan
beton (ASTM A615M).
-> Spesifikasi untuk batang baja axle ulir dan polos untuk penulangan
beton (ASTM A617M).
-> Spesifikasi untuk baja ulir dan polos low-alloy untuk penulangan
beton (ASTM A706M).

Sedangkan di Indonesia, produksi baja tulangan dan baja struktur telah diatur sesuai
dengan Standar Industri Indonesia (SII), antara lain adalah SII 0136-80 dan SII 318-80.
Di samping mutu baja beton BJTP 24 dan BJTD 40 seperti yang ditabelkan itu, mutu baja
yang lain dapat juga spesial dipesan (misalnya BJTP 30). Tetapi perlu juga diingat, bahwa
waktu didapatnya lebih lama dan harganya jauh lebih mahal. Guna menghindari
kesalahan pada saat pemasangan, lokasi penyimpanan baja yang spesial dipesan itu perlu
dipisahkan dari baja Bj.Tp 24 dan Bj.Td 40 yang umum dipakai.

Sifat-sifat fisik baja beton dapat ditentukan melalui pengujian tarik, dengan diagram
seperti pada gambar 10.4. Sifat fisik tersebut adalah:
-> kuat tarik; (fy)
-> batas luluh/leleh;
-> regangan pada beban maksimal;
-> modulus elastisitas (konstanta material), (Es)

Produk tulangan baja beton sangat bervariasi, untuk itu dalam pelaksanaan di lapangan
diberlakukan beberapa toleransi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Beberapa toleransi terhadap penyimpangan pada kondisi baja yang ada di lapangan
disebutkan dalam tabel 7.2 hingga tabel 7.5.

BELAKANG BAGAIMANA BESI


BETON DIBUAT
[ Adv : konsultan trainingiso ]
Sedikit latar belakang bagaimana besi beton dibuat
Besi beton diproduksi secara umum terdiri dari 3 jenis: besi beton permukaan polos (round bar),
besi beton ulir (deformed bar) dan besi beton kanal u (shape). Bahan baku besi beton adalah billet,
yang juga merupakan balok baja berukuran 100 x 100 mm, 110 x 110 mm, 120 x 120mm dengan
panjang masing-masing sekitar 170 mm. Bahan baku dari billet sendiri adalah besi-besi tua, skrap,
serta bahan penolong seperti kokas, grafit, lime, ferro alloys yang dilebur dengan berbagai metode.
Bahan penolong tadi digunakan untuk mendapatkan unsur carbon (C), Si (silicon), Mn (Mangan)
yang akan sangat berpengaruh pada qualitas besi beton.

Mutu besi beton yang baik adalah yang telah memiliki kekuatan tarik (standard yield strength / Ys)
minimal 24 kg / mm2. Kadar carbon berpengaruh besar kepada sifat mekanik dari besi beton.
Kadar carbon yang terlalu besar akan membuat besi beton menjadi lebih getas dan akan
meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik tetapi keuletannya cenderung menurun. Kadar unsur
silikon berpengaruh terhadap struktur mikro besi beton. Kadar silikon yang rendah mengakibatkan
besi menjadi kropos. Kadar unsur mangan berpengaruh besar pada keuletan besi beton. Unsur
mangan yang terlalu banyak dapat meningkatkan keuletan tetapi mengurangi kekerasan.

Cara menghitung berat besi beton SNI (Standard Nasional Indonesia)

Polos dengan grade U24 (Standard Yield Strength: 24 kg / mm2)

Ulir dengan grade U40 (Standard Yield Strength: 40 kg / mm2)

Berat (dalam kg) = diameter (mm) * diameter (mm) * panjang (m) * 0.006165

0.006165 merupakan coefisien dalam mencari berat besi beton.

Sebagai contoh besi dengan diameter 10mm dan panjang 12m mempunyai berat

10*10*12*0.006165 = 7.398 kg

Untuk daerah bali dan sekitarnya, besi yang banyak dipasarkan adalah besi dari PT Hanil Jaya
Steel - Surabaya. Hal ini dikarenakan biaya transportasi yang lebih murah dan kualitas besi beton
yang baik. Besi beton SNI dari pabrik Hanil mempunyai toleransi 0.2mm dengan panjang 12m.
Besi beton jenis ini mempunyai marking seperti "HIJ SNI 16mm" untuk ukuran 16mm.

Besi Beton Ulir/Sirip SNI 13mm

Besi Beton Polos SNI 10mm

Contoh diatas adalah besi beton ulir SNI 13mm (S13 = Sirip 13) dan besi beton polos SNI 10mm
(P10 = Polos 10)

Selain besi beton jenis SNI, terdapat juga besi beton NON-SNI atau sering kali disebut BANCI.
Kekuatan tarikan atau yield strength dari besi beton jenis ini tidak dapat dipastikan. Untuk besi
beton dengan marking HJ menurut informasi dari pabrik mempunyai kekuatan U19-20 untuk yang
jenis polos dan untuk jenis ulir mempunya kekuatan U25-30. Toleransi untuk besi beton jenis ini
biasanya lebih besar sampai 0.3mm dengan panjang 12m dan terdapat marking dengan berbagai
tanda salah satunya HJ.

Besi Beton NON SNI Ulir/Sirip 13mm

Besi Beton NON SNI Ulir/Sirip 13mm (Ukuran Sket 12.5mm)

Terdapat lagi jenis besi beton tarikan. Besi beton jenis ini biasanya tidak mempunyai panjang 12m
dan tidak terdapat marking atau tanda.

Perhatian!
Terdapat fenomena belakangan ini banyak penjual menjual kawat baja dan bukan besi beton. Besi
beton dengan diameter ukuran 6-10mm yang sering kali menjadi korban. Fungsi dari kawat baja
sangat berbeda dengan besi beton. Kawat baja berfungsi untuk pengikat dan besi beton berfungsi
untuk penyangga. Sehingga kekuatan tarikan kawat baja jauh dibawah kekuatan besi beton. Hanya
saja diameter kawat baja ini sama besar dengan besi beton ukuran tertentu. Hal ini sering kali
digunakan untuk mendapatkan pasar atau pun mengeruk keuntungan maximal.

Anda dapat mempercayakan supplier besi anda kepada kami. Kami hanya menjual besi dari PT
Hanil Jaya Steel - Surabaya dengan marking HIJ untuk besi beton SNI dan marking HJ untuk besi
beton NON-SNI

sekitar 170 mm. Bahan baku dari billet sendiri adalah besi-besi tua, skrap, serta bahan penolong
seperti kokas, grafit, lime, ferro alloys yang dilebur dengan berbagai metode. Bahan penolong tadi
digunakan untuk mendapatkan unsur carbon (C), Si (silicon), Mn (Mangan) yang akan sangat
berpengaruh pada qualitas besi beton.

Mutu besi beton yang baik adalah yang memiliki kekuatan tarik (standard yield strength / Ys)
minimal 24 kg / mm2. Kadar carbon berpengaruh besar kepada sifat mekanik dari besi beton.
Kadar carbon yang terlalu besar akan membuat besi beton menjadi lebih getas dan akan
meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik tetapi keuletannya cenderung menurun. Kadar unsur
silikon berpengaruh terhadap struktur mikro besi beton. Kadar silikon yang rendah mengakibatkan
besi menjadi kropos. Kadar unsur mangan berpengaruh besar pada keuletan besi beton. Unsur
mangan yang terlalu banyak dapat meningkatkan keuletan tetapi mengurangi kekerasan.

Cara menghitung berat besi beton SNI (Standard Nasional Indonesia)

Polos dengan grade U24 (Standard Yield Strength: 24 kg / mm2)


Ulir dengan grade U40 (Standard Yield Strength: 40 kg / mm2)

Berat (dalam kg) = diameter (mm) * diameter (mm) * panjang (m) * 0.006165
0.006165 merupakan coefisien dalam mencari berat besi beton.

Sebagai contoh besi dengan diameter 10mm dan panjang 12m mempunyai berat
10*10*12*0.006165 = 7.398 kg
Info Besi Beton - Mutu Tips & Tricks
Sedikit latar belakang bagaimana besi beton dibuat

Besi beton diproduksi secara umum terdiri dari 3 jenis: besi beton permukaan polos (round bar),
besi beton ulir (deformed bar) dan besi beton kanal u (shape). Bahan baku besi beton adalah billet,
yang merupakan balok baja berukuran 100 x 100 mm, 110 x 110 mm, 120 x 120mm dengan
panjang masing-masing
Untuk daerah bali dan sekitarnya, besi yang banyak dipasarkan adalah besi dari PT Hanil Jaya
Steel - Surabaya. Hal ini dikarenakan biaya transportasi yang lebih murah dan kualitas besi beton
yang baik. Besi beton SNI dari pabrik Hanil mempunyai toleransi 0.2mm dengan panjang 12m.
Besi beton jenis ini mempunyai marking seperti "HIJ SNI 16mm" untuk ukuran 16mm.
Contoh diatas adalah besi beton ulir SNI 13mm (S13 = Sirip 13) dan besi beton polos SNI 10mm
(P10 = Polos 10)

Selain besi beton jenis SNI, terdapat juga besi beton NON-SNI atau sering kali disebut BANCI.
Kekuatan tarikan atau yield strength dari besi beton jenis ini tidak dapat dipastikan. Untuk besi
beton dengan marking HJ menurut informasi dari pabrik mempunyai kekuatan U19-20 untuk yang
jenis polos dan untuk jenis ulir mempunya kekuatan U25-30. Toleransi untuk besi beton jenis ini
biasanya lebih besar sampai 0.3mm dengan panjang 12m dan terdapat marking dengan berbagai
tanda salah satunya HJ.
Besi Beton NON SNI Ulir/Sirip 13mm (Ukuran Sket 12.5mm)

Terdapat lagi jenis besi beton tarikan. Besi beton jenis ini biasanya tidak mempunyai panjang 12m
dan tidak terdapat marking atau tanda.

Perhatian!
Terdapat fenomena belakangan ini banyak penjual menjual kawat baja dan bukan besi beton. Besi
beton dengan diameter ukuran 6-10mm yang sering kali menjadi korban. Fungsi dari kawat baja
sangat berbeda dengan besi beton. Kawat baja berfungsi untuk pengikat dan besi beton berfungsi
untuk penyangga. Sehingga kekuatan tarikan kawat baja jauh dibawah kekuatan besi beton. Hanya
saja diameter kawat baja ini sama besar dengan besi beton ukuran tertentu. Hal ini sering kali
digunakan untuk mendapatkan pasar atau pun mengeruk keuntungan maximal.

Anda dapat mempercayakan supplier besi anda kepada kami. Kami hanya menjual besi dari PT
Hanil Jaya Steel - Surabaya dengan marking HIJ untuk besi beton SNI dan marking HJ untuk besi
beton NON-SNI.

30