Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH GEOMETRI TRANSFORMASI

LANJUTAN ISOMETRI

Disusun Oleh :

1. Ratna Susilowati (4101406521)

2. Dewi Agung M (4101406522)

3. Marlina Andriati (4101406524)

4. Sullywan Un H. (4101406525)

5. Arif Budi L. (4101406530)

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2009

BAB XIII
ISOMETRI LANJUTAN

Dalam isometri dasar, terdapat empat jenis isometri yaitu :


Reflexi pada garis,
Translasi,
Rotasi,
Reflexi geser.
Apabila reflexi geser dikalikan dengan salah satu dari ketiga isometri yang semula atau
reflexi geser dikalikan dengan reflexi geser yang lain, maka apakah kita akan memperoleh suatu
isometri yang baru ?
Contoh kasus:
1. Hasil kali reflexi geser dengan translasi.
Andaikan R sebuah reflexi geser dengan sumbu t sehingga R=GABMt dengan AB // t.
Andaikan GCD sebuah translasi.
Maka GCD R = GCD (GABMt)
= (GCD GAB ) Mt
Karena hasil kali dari dua translasi adalah translasi, maka ada dua garis berarah EF
sehingga GCD GAB = GEF.
Dengan demikian maka GCD R = GEF Mt.
Apabila EF t, maka GEF Mt adalah suatu reflexi pada sebuah garis yang sejajar
dengan t.
Apabila EF tidak tegak lurus pada t, maka GEF Mt adalah suatu reflexi geser.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil kali reflexi geser dengan sebuah translasi adalah
suatu reflexi atau reflexi geser.

2. Hasil kali reflexi geser dengan reflexi.


Misalkan Ms adalah reflexi pada garis s.
Misalkan R sebuah reflexi geser.
Maka Ms R = Ms (GAB Mt)
= Ms (Mt GAB)
= (Ms Mt) GAB
Apabila s // t,
maka Ms Mt sebuah translasi.
Jadi (Ms Mt) GAB juga merupakan translasi.
Sehingga Ms R juga merupakan translasi.
Apabila s tidak sejajar t,
Maka Ms Mt sebuah rotasi.
Dari teorema reflexi geser, diperoleh Ms R = R Ms juga merupakan rotasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil kali reflexi geser dengan reflexi adalah sebuah
translasi atau sebuah rotasi.

Di atas telah dibicarakan berbagai jenis isometri. Lalu timbul pertanyaan, kalau diketahui
dua titik A dan A, maka ada banyak sekali isometri yang memetakan A pada A, sebab setiap titik
pada sumbu AA' dapat digunakan sebagai pusat pusat rotasi yang membawa A ke A. Ada
pula translasi GAA, kecuali itu kalau T titik tengah AA maka ST adalah setengah putaran yang
memetakan A pada A.

Apabila ada titik titik A, A dan B, B, dan jika AB = AB maka ada paling sedikit dua
isometri yang memetakan A pada A dan B pada B.

Teorema 13.1.(Teorema Ketunggalan Isometri)


Diketahui tiga titik yang tak kolinear yaitu A, B dan C.
Jika pada tiga titik lain A,B,C maka ada paling banyak satu isometri
yang memetakan A pada A, B pada B, dan C pada C.

Bukti :
Dipunyai tiga titik yang tak kolinear (A, B, C).
Andaikan ada dua isometri T1 dan T2 sehingga,
T1(A) = A = T2(A)
T1(B) = B = T2(B)
T1(C) = C = T2(C)
Karena T1 dan T2 isometri isometri, maka
AB = AB
AC = AC
BC = BC
Karena A, B, C tak segaris, maka A, B, C juga tak segaris.
Andaikan T1(P) T2(P) dan T1(P) = P, T2(P) = P,
Maka PA = PA = PA.
Jadi A terletak pada sumbu ruas garis P ' P ' ' .
Dengan cara yang serupa, didapat B, C juga terletak pada sumbu P ' P ' ' .
Jadi A, B, C segaris.
Ini tentunya berlawanan dengan sifat bahwa A, B, C tak segaris.
Jadi haruslah T1(P) = T2(P), P V .
Ini berarti T1 = T2.
Jadi ada paling banyak satu isometri yang memetakan A pada A, B pada B, dan C pada C

Bahwa tidak selalu ada isometri, dapat kita lihat apabila ABC tidak kongruen dengan
A' B ' C ' .

Teorema 13.2 (Perluasan Teorema Ketunggalan Isometri).


Jka s sebuah garis melalui titik asal sebuah sistem koordinat orthogonal dan
jika Ms memetakan A = (1,0) pada B = (h,k) dan P = (x,y) maka Ms(P) = (hx

+ ky, kx - hy).

Bukti:
Dipunyai sebuah sistem koordinat, dengan titik A = (1,0) , B = (h,k) , P = (x,y) dan s garis
melalui titik asal sistem koordinat.
Perhatikan gambar berikut
B(h,k)
s

O A(1,0)

Gambar 13.1

Andaikan T memetakan P = (x,y) pada titik (hx + ky, kx hy), T(P) = (hx + ky, kx hy).
Akan dibuktikan bahwa T = Ms.
i) Akan dibuktikan bahwa T sebuah isometri.
Andaikan P1= (x1,y1), P2 = (x2,y2) dua titik sebarang,
Maka P1=T(P1) = (hx1 + ky1, kx1 hy1), dan P2=T(P2) = (hx2 + ky2, kx2 hy2).
Sehingga,
(P1P2)2 = [(hx1 + ky1) (hx2 + ky2)]2 + [(kx1 hy1) (kx2 hy2)]2
= [h(x1- x2) + k(y1 y2)]2 + [k(x1 x2) h(y1 y2)]2
= (h2 + k2)(x1-x2)2 + (k2+h2)(y1-y2)2
Oleh karena itu B = Ms(A) dan Ms(O) = O.
Maka OB = OA.
Karena OA = 1 dan OB = h 2 k 2 maka h2 + k2 = 1.

Sehingga P1' P2' x1 x 2 2 y1 y 2 2 P1 P2

Jadi T sebuah isometri.


ii) Akan dibuktikan T = Ms.
Dari uraian di atas, diperoleh :
T(O) = (0,0)
T(A) = (h,k)
T(B) = (h.h + k.k , kh hk) = (h2 + k2 , 0) = (1,0).

Contoh :
Jika O titik asal sebuah sistem koordinat, dan P = (x,y) sebuah titik, tentukan peta P terhadap

rotasi R0, 60 .
0

Jawab :

Ms(A) s

300 O A(1,0)

Gambar 13.2

Andaikan s sebuah garis melalui O sehingga sudut dari sumbu x ke garis s adalah 300.
1 1
Kita tahu bahwa Ms(1,0) = , 3.
2 2

1 1 1 1
Jadi Ms(P) = x y 3, x 3 y.
2 2 2 2

Andaikan t adalah sumbu x, maka R0,60 = MsMt.


Jadi R0,60(P) = MsMt(P) = Ms(x-y)
1 1 1 1
= x y 3, x 3 y .
2 2 2 2

Teorema 13.3.
Himpunan transformasi-transformasi yang terdiri atas translasi,
reflexi, rotasi dan reflexi geser adalah tertutup terhadap operasi komposisi
(perkalian).

Teorema 13.4.
Apabila ada dua ruas garis dan ruas garis sehingga . Maka ada dua

isometri yang satu isometri langsung dan yang lain isometri lawan yang
memetakan A pada C dan B pada D.
Bukti :
Dipunyai dua ruas garis AB dan ruas garis CD sehingga AB CD .

Kasus 1 : A C , B D .
Perhatikan gambar berikut:
B

s
A=C

D t
Gambar 13.3
Andaikan A C , B D dan s sumbu ruas BD
Maka AB CB

Karena A = C maka AB AD

Sehingga s melalui A
Jadi M s A A C dan M s B D
Sehingga M s adalah isometri lawan
Andaikan CD adalah garis t
Maka M t M s A M t C C
Dan M t M s B M t D D
Jadi M t M s adalah isometri langsung.

Kasus 2 : A C , B D dan s sumbu AC


Perhatikan gambar berikut:

B B=D
t

Gambar 13.4

A
D
C
t

B B u

Gambar 13.5

Diperoleh M s A C

Andaikan B ' M s B
maka B ' D (gambar 13.4) dan B ' D (gambar 13.5)
Apabila B ' D maka M s B D
Jadi M s satu isometri
Misalkan CD =t
Maka M t M t A M t C C dan M t M s B M t D D
Maka M t M s adalah suatu isometri langsung
Misalkan B , D dan u sumbu B , D
Maka C u karena CB AB ,
CD

Jadi M u C C dan M u B D
,

Maka M u M s A M u C C dan M u M s B M u B D
,

Jadi M u M s adalah isometri langsung


Apabila t CD maka MtMuMs(A) = MtMu(C) = Mt(C) = C
Sedangkan MtMuMs(B) = MtMu(B) = Mt(D) = D
Jadi MtMuMs isometri lawan

Kasus 3 : A= C, B = D
Maka jika s AB

Diperoleh Ms(A) = C dan Ms(B) = D yaitu isometri lawan


Sedangkan I = MsMt adalah isometri langsung

Teorema 13.5 :
Setiap isometri adalah hasil kali dari paling banyak tiga refleksi garis.

Bukti:
Andaikan T sebuah isometri dan ada tiga titik (A, B, C) yang tak segaris.
Andaikan bahwa T(A) = A , T(B) = B , T(C) = C.

Karena , maka menurut teorema 13.4, paling sedikit ada dua isometri yang

memetekan A pada A dan B pada B , yaitu suatu isometri langsung L+ dan suatu isometri lawan
L-.
Dengan L+ adalah hasil kali dua reflexi garis MtMs dan L- adalah refleksi Ms atau hasil kali tiga
refleksi garis MtMuMs.
Pilih diantara L- dan L+ salah satu yang dapat dinyatakan dengan hasil kali refleksi yang
banyaknya paling sedikit.
Jika L- = Ms, kita misalkan N = L- dan kita ambil N = L+ jika L- = MtMuMs.

B=T(B)
Perhatikan gambar berkut:
C

A=T(A)

B C
A

(Gambar 13.6)
Perhatikan C1 = N(C).
Kasus 1. Jika C = C1.
Maka N memetakan A pada A, B pada B dan C pada C.
Jadi menurut teorema ketunggalan isometri, maka T = N.
Kasus 2. Jika C C1.

Andaikan = v.

Oleh karena T dan N adalah isometri, maka AC = AC = AC, dan BC = BC=BC.

Ini berarti bahwa A dan B sama jauhnya dari ujung ujung rua garis .

Ini berarti bahwa v adalah sumbu , sehingga Mv(C1)=C.

Jadi diperoleh:
MvN(A) = MvN(A) = A
MvN(B) = MvN(B) = B
MvN(C) = MvN(C) = C
Dengan menggunakan teorema ketunggalan isometri, maka T = MvN.
Dari kasus 1 dan 2, dapat disimpulkan bahwa T = N atau T = MvN.
Oleh karena N adalah sebuah refleksi garis atau hasil kali dua refleksi garis, maka T adalah hasil
kali dari paling banyak tiga refleksi garis.

Akibat: Setiap isometri langsung adalah suatu translasi atau suatu rotasi, sedangkan suatu
isometri lawan adalah suatu refleksi atau refleksi geser.

Misalnya MsMtMvMwMr adalah suatu refleksi garis atau suatu refleksi geser sedangkan
GABMuRA,GCDMt adalah sebuah translasi atau suatu rotasi.
Teorema 13.6 :
Jika maka ada tepat satu isometri yang memetakan A pada A ; B
pada B ; C pada C.

Bukti:
Menurut teorema ketunggalan isometri, maka hanya terdapat satu isometri.
Kita tahu bahwa ada sebuah isometri T yang bersifat T(A) = A dan T(B) = B.
Ini disebabkan AB = AB.
Andaikan C1 = T(C).
Jika C1=C, maka bukti selesai.

Jika C1 C, andaikan u = .

Karena AC1 = AC dan BC1 = BC, maka u adalah sumbu CC1.


Jadi Mu(C1) = C.
Dengan demikian diperoleh
MuT(A) = MuT(A) = A
MuT(B) = MuT(B) = B
MuT(C) = MuT(C) = C
Dengan demikian telah terbukti adanya suatu isometri yang memetakan A pada A ; B pada B ;

dan C pada C , yaitu T atau MuT yang memetakan pada .

SOAL - SOAL

Soal I.

1. Diketahui ABC XYZ , jika isometri T memetakan ABC pada XYZ , lukislah
P ' T ( P ).
Penyelesaian :

Perhatikan gambar di samping,

Buat ABC XYZ dimana T


memetakan ABC pada XYZ dengan
T merupakan suatu refleksi. Sehingga
untuk setiap titik di V berlaku T(P) =
MS(P) = P.

Perhatikan gambar di samping,


Buat ABC XYZ dimana T
memetakan ABC pada XYZ dengan
T merupakan suatu rotasi. Sehingga untuk
setiap titik di V berlaku T(P) = R0, = P

O
2. Diketahui ABC dengan A = (-2,1) B = (-2,-1) dan C = (-3,1); DEF dengan D =
(1,0), E = (3,0) dan F = (3,1). T sebuah isometri yang memetakan ABC pada DEF .
Jika P = (x,y) tentukan koordinat-koordinat T(P).
Penyelesaian :
Diketahui : ABC dengan A = (-2,1) B = (-2,-1) dan C = (-3,1)
DEF dengan D = (1,0), E = (3,0) dan F = (3,1)
Pilih T1 = R0,90
T2 = GAX dengan titik X = (0,-1)

Perhatikan gambar di bawah ini :


Karena T1 = R0,90
Diperoleh T1(A) = T1(-2,1) = A(1,2)
T1(B) = T1(-2,-1) = B(-1,2)
T1(C) = T1(-3,1) = C(1,3)
Karena T2 = GAX
Diperoleh T2(A) = T2(1,2) = E(3,0)
T2(B) = T2(-1,2) = D(1,0)
T2(C) = T2(1,3) = F(3,1)
Jadi T = T2T1= GAXR0,90
Ambil sembarang P(x,y)
maka diperoleh T(x,y) = GAXR0,90(x,y) = GAX(y,-x) = (y+2,-x+2)
Jadi koordinat-koordinat titik P(x,y) = P = GAX(y,-x) dan P(x,y) = P = (y+2,-x+2)

3. Diketahui ABC dengan A = (0,0), B = (2,0) dan C = (2,1) dan XYZ dengan
X = (-3,0), Y = (-3,-2) dan Z = (-2,-2). T sebuah isometri yang memetakan ABC pada
XYZ . Jika P = (x,y) tentukan koordinat-koordinat T (P).
Penyelesaian :

Diketahui : ABC dengan A = (0,0) B = (2,0) dan C = (2,1)


XYZ dengan D = (-3,0), E = (-3,2) dan F = (-2,2)
Pilih T1 = R0,-90

T2 = Mt dengan garis t : x=

Perhatikan gambar di bawah ini :

Karena T1 = R0,-90
Diperoleh T1(A) = T1(0,0) = A(0,0)
T1(B) = T1(2,0) = B(0,-2)
T1(C) = T1(2,1) = A(-1,-2)
Karena T2 = Mt
Diperoleh T2(A) = T2(0,0) = X(-3,0)
T2(B) = T2(0,-2) = Y(-3,-2)
T2(C) = T2(-1,-2) = Z(-2,-2)
Jadi T = T2T1= MtR0,-90
Ambil sembarang P(x,y)
maka diperoleh T(x,y) = MtR0,-90 (x,y) = Mt (-y,-x) = (2k+y,-x)
Jadi koordinat-koordinat titik P(x,y) = P = Mt (-y,-x) dan P(x,y) = P = (2k+y,-x).
4. a) Suatu padanan T ditentukan oleh persamaan T[(x,y)] = (2x+y, -x+2y). Apakah T sebuah
refleksi?
b) Putaran R0, memetakan titik P = (x,y) pada titik (hx ky),kx + hy). Tentukanlah

[ R0 , ( P )] 1 .

Penyelesaian :
a) Diketahui : Suatu padanan T dengan T[(x,y)] = (2x+y,-x+2y).
Perhatikan gambar berikut:

Pilih titik A = (1,0) ; B = (3,0).


Jelas AB = 2 satuan
Diperoleh T(A) = T[(1,0)] = (2.1+ 0,-1+2.0) = (2,-1)
T(B) = T[(3,0)] = (2.3+ 0,-3+2.0) = (6,-3)
Jelas T(A) = A = (2,-1)
T(B) = B = (6,-3)
Sehingga
Jadi AB AB
Karena refleksi merupakan suatu isometri dan salah satu sifat dari isometri adalah
mengawetkan jarak. Maka refleksi juga harus bersifat mengawetkan jarak.
Karena AB AB, maka padanan T bukan merupakan refleksi.

b) Penyelesaian :
Diketahui :
R0 , memetakan titik P = (x,y) pada titik (hx ky),kx + hy).

Ini berarti x = x cos - y sin = xh yk.


Y = x sin + y cos = xk + yh.
Sehingga cos = h dan sin = k
Sedangkan untuk - , maka cos (-) = h dan sin (-) = -k .
Jelas bahwa [Ro,(P)]. [Ro,(P)]=1
[Ro,(P)] = [Ro,(P)]-1
Jadi [Ro,(P)] = (xh+yk,-xk+yh)

5. Andaikan s sebuah garis melalui O = (0,0) dan besarnya sudut dari sumbu-x ke garis
s. Andaikan P = (x,y). Tentukan M s (P ) apabila
a) 22,50 ; b) 135 0 ; c) 15 0
Penyelesaian :
a) x' = x cos 22,50- y sin 22,50
= 0,923 x 0,38 y
y' = x sin 22,50 + y cos 22,50
= 0,38 x + 0,923 y
b) x' = x cos 1350- y sin 1350
= 0,202 x 0,707 y
y' = x sin 1350 + y cos 1350
=0,707 x + 0,202 y
c) x' = x cos (-150) - y sin (-150)
= 0,966 x 0,259 y
y' = x sin (-150) + y cos (-150)
=0,259 x + 0,966 y

Soal II.
1. Jika AB = CD, maka ada isometri langsung L yang memetakan A pada C dan B pada D.

Lukislah garis-garis s dan t sehingga L M s M t


Penyelesaian:
Buatlah sebuah ruas garis (AB) .
Kemudian refleksikan AB terhadap garis t lalu refleksikan lagi terhadap garis s,
Perhatikan gambar berikut:

A A A=C

B B B=
D
t s

sehingga diperoleh MsMt (A) = Ms(A) = A = C


MsMt (B) = Ms(B) = B = D
Jadi MsMt merupakan suatu isometri langsung L+.
2. Jika EF = GH maka ada isometri lawan T yang memetakan E pada G dan F pada H. Jika

EF sejajar dengan GH . Lukislah garis-garis s, t dan u sehingga T = M s M t M u .


Apakah penyelesaian itu tunggal?
Penyelesaian:
Diketahui: - EF = GH
- EF // GH
- T(E) = G dan T(F) = H

Perhatikan gambar berikut:

Diperoleh T(E) = MsMtMu(E)


= MsMt (E)
= Ms(H)
=G
T(F) = MsMtMu(F)
= MsMt (G)
= Ms(G)
=H
Jelas bahwa T= MsMtMu, dengan T memetakan E pada G dan F pada H.
Jadi pemilihan garis s,t,u pada gambar di atas merupakan penyelesaian.

Akan dibuktikan bahwa ada isometri lain yang memetakan E pada G dan F pada H.
Perhatikan gambar berikut:
Diperoleh T(E) = MsMtMu(E)
= MsMt (E)
= Ms(G)
=G
T(F) = MsMtMu(F)
= MsMt (F)
= Ms(H)
=H

Sehingga pemilihan garis s, t, u di atas juga merupakan penyelesaian.


Jadi Penyelesaian untuk masalah di atas tidak tunggal.

4. Diketahui ruas-ruas garis yang kongruen AB , CD dan EF ; A = (3,-1), B = (6,-1), C =


(-1,2), D = (-1,5), E = ( 3 , 1) , F = (a,b) sedangkan EF melalui titik asal O = (0,0).
F di kuadran pertama. Jika P = (x,y).
a) Tentukan sebuah isometri langsung T yang memetakan A pada C dan B pada D.
Tentukan pula T(P).
b) Tentukan pula isometri lawan T yang memetakan A pada D dan B pada C. Tentukan
pula T(P).

Penyelesaian:
Perhatikan gambar berikut
a) Pilih T=R0,90GAX , dengan X=(2,-1)
Diperoleh T(A) = R0,90GAX (A)
= R0,90GAX [(3,-1)]
= R0,90(2,-1)
= (-1,2)
=C
Dan,
T(B) = R0,90GAX (B)
= R0,90GAX [(6,-1)]
= R0,90(5,-1)
= (-1,5)
=D
Jadi isometri langsung T=R0,90GAX memetakan A pada C dan B pada D.
9
b) Pilih T=R0,90GAXMs , dengan X=(2,-1) dan garis s: x
2
Diperoleh T(A) = R0,90GAX Ms (A)
= R0,90GAX Ms [(3,-1)]
= R0,90 GAX (6,-1)
= R0,90 (5,-1)
= (-1,5)
=D
Dan,
Diperoleh T(B) = R0,90GAX Ms (A)
= R0,90GAX Ms [(6,-1)]
= R0,90 GAX (3,-1)
= R0,90 (2,-1)
= (-1,2)
=C
Jadi isometri langsung T=R0,90GAX Ms memetakan A pada D dan B pada C

5. Diketahui ABC dan DEF yang sama kaki dengan ABC DEF , AB AC

dan DE EF sedangkan garis tinggi yang melalui D membuat sudut 45 0 dengan


garis tinggi yang melalui A.

Sebutlah isometri-isometri yang memetakan ABC pada DEF . Nyatakanlah


isometri-isometri ini sebagai hasil kali rotasi-rotasi, translasi-translasi atau reflexi-reflexi.
Penyelesaian:
Diketahui: - ABC dan DEF yang sama kaki
- ABC DEF , AB AC dan DE EF

- garis tinggi yang melalui D membuat sudut 45 0 dengan garis tinggi yang
melalui A.
Perhatikan gambar berikut:

Jelas bahwa isometri yang dapat memetakan


ABC pada DEF adalah T = R0,22,5R0,22,5

6. Diketahui ABCD sebuah bujursangkar. Sebutkanlah semua isometri yang memetakan


ABCD pada dirinya sendiri.
Penyelesaian:
Perhatikan gambar berikut:
A=A B=B B A

D=D C=C C D

s

Diperoleh MsMs (A) = Ms(A) = A = A


MsMs (B) = Ms(B) = B = B
MsMs (C) = Ms(C) = C = C
MsMs (D) = Ms(D) = D = D
Jadi Bujur sangkar ABCD dengan isometri dua kali refleksi terhadap satu garis yang
sama akan memetakan pada dirinya sendiri.

A=A B=B

D=D C=C
t
N C B

D A
s

Diperoleh SNSN (A) = SN(A) = A = A


SNSN (B) = SN(B) = B = B
SNSN (C) = SN(C) = C = C
SNSN (D) = SN(D) = D = D
Jadi Bujur sangkar ABCD dengan isometri dua kali setengah putaran terhadap satu pusat
yang sama maka akan memetakan pada dirinya sendiri.

A=A B=B

D=D C=C
O x

Diperoleh Ro,360 (A) = A = A


Ro,360 (B) = B = B
Ro,360 (C) = C = C
Ro,360 (D) = D = D
Jadi Bujur sangkar ABCD dengan isometri sebuah rotasi terhadap pusat koordinat O
dengan sudut 360o maka akan memetakan pada dirinya sendiri.

Jadi, Isometri isometri yang memetakan ABCD pada dirinya sendiri adalah 2 kali
refleksi pada garis yang sama, dua kali setengah putaran dan rotasi 3600.