Anda di halaman 1dari 15

MATERI PERKULIAHAN

A. INFORMASI UMUM
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Kode/SKS : NPK 102/ 2 SKS
Pokok Bahasan : Paragraf
Pertemuan ke- :5
Dosen : Ayu Gustia Ningsih, M.Pd.

B. KOMPETENSI DASAR

Pada akhir pembelajaran, diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi:

1. Memahami pengertian, persyaratan dan jenis-jenis paragraf;

2. Menganalisis gagasan dasar dan gagasan pengembang dalam sebuah paragraf;

3. Mengembangkan gagasan dasar menjadi paragraf yang sesuai dengan syarat


paragraf yang baik; dan

4. Menulis paragraf yang sesuai dengan syarat paragraf yang baik.

C. MATERI

1. Pengertian Paragraf
Paragraf adalah satuan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan
sebuah gagasan dalam bentuk untaian kalimat. Berdasarkan pengertian ini,
paragraf dapat disebut sebagai untaian kalimat yang berisi sebuah gagasan dalam
karangan. Dengan pengertian ini, sejalan dengan konsep untaian kalimat,
paragraf yang ideal terdiri atas sejumlah kalimat.

Jika paragraf terdiri atas sejumlah kalimat, tentu kita berpikir bahwa
kalimat-kalimat dalam paragraf itu saling berhubungan antara yang satu dengan
yang lainnya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa menyusun paragraf pada
hakikatnya adalah menyusun sejumlah kalimat dalam rangka menghubungkan
sejumlah gagasan. Sehubungan dengan itu, paragraf sering disebut sebagai
karangan mini. Karena itu, tidaklah keliru jika dinyatakan bahwa menyusun
paragraf adalah menyusun karangan mini.

1
2

Untuk membekali Anda menyusun paragraf yang baik, uraian yang berisi
pokok-pokok bahasan tentang paragraf berikut perlu Anda pelajari, yaitu: (1)
persyaratan dan jenis-jenis paragraf yang mencakup paragraf induktif, paragraf
deduktif dan paragraf campuran, (2) pengembangan paragraf secara internal yang
mencakup pengembangan gagasan utama ke dalam gagasan penjelas dan
penuangannya ke dalam paragraf, dan (3) pengembangan paragraf secara
eksternal.

2. Struktur Paragraf
Menurut fungsinya, seluruh kalimat yang membangun sebuah paragraf
pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu kalimat
topik/kalimat pokok dan kalimat penjelas/pendukung. Kalimat topik ialah kalimat
yang berisi ide pokok atau ide utama paragraf. Kalimat topik merupakan kalimat
terpenting dan harus ada dalam setiap paragraf. Jika dalam satu paragraf tidak
terdapat kalimat topik, berarti ide paragraf itu juga tidak ada. Kalimat penjelas/
pendukung sesuai dengan namanya adalah kalimat yang berfungsi menjelaskan
atau mendukung ide utama paragraf.
Kalimat topik dan kalimat penjelas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Ciri kalimat topik:

(1) Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih
lanjut;
(2) Merupakan kalimat lengkap yang berdiri sendiri;
(3) Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat
lain;

(4) Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung atau kata penghubung/transisi.

Ciri kalimat penjelas:

(1) Sering melupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);

(2) Arti kalimat kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat
lain dalam satu paragraf;

(3) Pembentukkannya sering memerlukan kata sambung atau frasa penghu-


bung/transisi;

(4) Isinya berupa rincian, keterangan, contoh dan data tambahan lain yang bersifat
mendukung kalimat topik.
3

Ukuran panjang pendeknya sebuah paragraf tidak dapat dipatok secara


mutlak. Hal itu tergantung pada bobot/kadar informasi yang diungkapkan. Sebagai
pegangan, dapat disebut di sini bahwa paragraf yang ideal panjangnya berkisar
antara empat sampai enam kalimat. Namun, dalam satu paragraf dapat saja
kalimatnya sampai delapan jika kalimatnya pendek-pendek atau kurang dari
empat jika kalimatnya panjang. Yang terpenting, salah satu itu harus mengandung
satu ide pokok dan kalimat lainnya men-support ide pokok tersebut. Pengecualian
dalam hal ini adalah paragraf dalam karangan fiksi yang sering seluruhnya berupa
kalimat topik.

Membicarakan struktur paragraf sebenarnya tidak lepas dari struktur


sebuah karangan pada umumnya, karena pada prinsipnya menyusun paragraf
sudah sama dengan membuat karangan sederhana. Kalimat topik dalam sebuah
paragraf pada hakikatnya sama dengan bagian pembuka karangan, sedangkan
kalimat-kalimat penjelas sama dengan isi karangan, dan kalimat simpulan sama
dengan bagian penutup pada sebuah karangan.

3. Persyaratan Paragraf

Paragraf yang efektif harus memenuhi dua syarat, yaitu adanya kesatuan
dan kepaduan.

1. Kesatuan

Sebuah paragraf dikatakan mempunyai kesatuan jika seluruh kalimat dalam


paragraf hanya membicarakan satu pokok pikiran atau satu masalah. Jika dalam
sebuah paragraf terdapat kalimat yang menyimpang dari masalah yang sedang
dibicarakan, berarti dalam paragraf itu terdapat lebih dari satu pokok pikiran.
Perhatikan paragraf di bawah ini.

Pekerjaan saya sehari-hari adalah guru bahasa Indonesia.


Sebelum menjadi guru, saya mempelajari bahasa Indonesia dengan
sungguh-sungguh. Pekerjaan sehari-hari Clinton adalah sebagai
Presiden Amerika. Melalui perjuangannya, Clinton berhasil menjadi
Presiden Amerika. Clinton termasuk Presiden Amerika yang populer.
Amerika adalah negara kaya. Di Amerika perkembangan ilmu
pengetahuan maju pesat. Semua bahasa yang besar di pelajari untuk
keentingan Amerika, termasuk bahasa Indonesia. Pernah terlintas di
benak saya suatu hari nanti mungkin saya menjadi guru bahasa
Indonesia di Amerika.

Paragraf di atas terdiri atas sembilan kalimat. Untuk ukuran paragraf yang
ideal, jumlah kalimat terlalu banyak sehingga dapat membosankan pembaca.
4

Selain itu, ide pokok paragraf terasa rancu karena lebih dari satu dan tidak jelas
mana ide yang dikembangkan.

Jika ditelusuri, dalam paragraf di atas ada tiga ide yang potensial untuk di
kembangkan: (1) saya sebagai guru bahasa Indonesia, (2) Clinton sebagai
Presiden Amerika, dan (3) tentang negara Amerika itu sendiri. Selain itu, tidak
seluruh kalimat penjelas mendukung ide pokok, misalnya kalimat.

(2) Sebelum menjadi guru, saya mempelajari bahasa Indonesia dengan


sungguh-sungguh. Jika dilihat dari maksud utama penulisnya yang hendak
menerangkan kedudukannya sebagai guru, maka usaha yang bersungguh-
sungguh tidaklah relevan diungkapkan dalam konteks tersebut.

Berikut perbaikan paragraf di atas.

Pekerjaan saya sehari-hari adalah sebagai guru bahasa


Indonesia. Bahasa Indonesia tidak hanya diajarkan di Indonesia tetapi
juga di manca negara termasuk Amerika. Di Amerika semua bahasa
yang besar dipelajari guna kepentingan politik Amerika, termasuk
bahasa Indonesia. Pernah terlintas dalam pikiran saya, suatu hari nanti
mungkin saya menjadi guru bahasa Indonesia di Amerika.

Pekerjaan Clinton sehari-hari adalah presiden Amerika. Jabatan


ini diperolehnya melalui perjuangan. Clinton termasuk presiden
Amerika yang populer.

Amerika adalah negara kaya. Di Amerika perkembangan ilmu


pengetahuan maju pesat. Di sana semua bahasa yang besar termasuk
bahasa Indonesia dipelajari guna kepentingan politik Amerika.

2. Kepaduan

Seperti halnya persyaratan kalimat efektif yang mengharuskan adanya


kepaduan, dalam paragraf juga dikenal istilah kepaduan atau koherensi. Koherensi
paragraf akan terwujud jika aliran kalimat yang satu ke kalimat yang lainnya
berjalan mulus dan lancar. Koherensi paragraf dapat dicapai melalui susunan yang
logis dan perkaitan antarkalimat, sehingga tercipta kepaduan. Untuk keperluan
tersebut dapat digunakan kata ganti, kata sambung, dan frasa penghubung.

Contoh pembentukan paragraf dengan repetisi kata dan frasa.

Faktur adalah tanda bukti penjualan barang. Faktur ada yang


diabungkan dengan kuitansi dan faktur itu disebut faktur ber-
kuitansi. Faktur berkuitansi cocok dipakai unuk penjualan tunai.
5

Faktur yang kedua adalah faktur tanpa kuitansi. Faktur tanpa


kuitansi ini dapat dipakai baik untuk penjualan tunai maupun
kredit.

Untuk membangun paragraf di atas, kata kunci faktur diulang-ulang untuk


memulai kalimat baru (kalimat penjelas). Repetisi seperti itu tidak hanya terbatas
pada kata, tetapi juga dapat pada frasa, seperti frasa faktur tanpa kuitansi ini yang
dapat diulang dari kalimat ke-4 untuk memulai kalimat ke-5 atau kalimat terakhir
paragraf tersebut.

Pengulangan kata kunci seperti yang dicontohkan di atas kurang baik


karena dapat menimbulkan rasa bosan dan jenuh pada pembaca. Oleh karena itu,
repetisi nama orang misalnya, hendaklah diselingi dengan kata ganti. Perhatikan
contoh paragraf di bawah ini.

Salah satu presiden yang unik dan nyentrik di dunia ini


adalah Presiden Abdurrahman Wahid. Dia dapat terpilih sebagai
presiden walaupun memunyai penglihatan yang kurang sempurna,
bahkan dapat dikatakan nyaris buta. Presiden ke-4 Republik
Indonesia ini pada awal masa jabatannya terlalu sering pula
melakukan kunjungan ke luar negeri sehingga mengundang kritik
pedas terutama dari lawan politiknya. Abdurrahman Wahid juga
sering mengeluarkan pernyataan yang kontrovesial dan inkonsisten.
Akibatnya, suami dari Sinta Nuriah ini tetap pada prinsipnya dan
tidak bergeming menghadapi semua itu.

Selain dengan repetisi dan kata ganti, pertalian antarkalimat dapat dijalin
dengan kata atau frasa penghubung. Dalam peranannya, ada beberapa macam kata
atau frasa yang dapat dipakai untuk maksud yang berbeda. Tabel berikut ini
memuat contoh kata dan frasa penghubung lengkap dengan fungsinya masing-
masing.

Fungsi Contoh Kata dan Frasa

Menyatakan hubungan akibat/ akibatnya, karena itu, oleh sebab itu, , maka,
hasil dengan demikian, jadi
Menyatakan hubungan berikutnya, demikian juga, kemudia, selain
pertambahan itu, lagi pula, lalu, selanjutnya, tambahan lagi
Menyatakan hubungan dalam hal yang sama, lai halnya dengan,
perbandingan sebaliknya, lebih aik dari itu, berbeda dengan
itu
Menyatakan hubungan akan tetapi, bagaimanapun,meskipun begitu,
pertentangan namun, sebaliknya, walaupun demikian
Menyatakan hubungan tempat berdekatan dengan itu, di sana, di sini, di
seberang sana, tak jauh dari sana,persis di
depan, di bawah, di sepanjang
6

Menyatakan hubungan tujuan agar, untuk/guna, untuk maksud itu


Menyatakan hubungan waktu baru-baru ini, beberapa saat kemudian,mulai,
sebelum, segera, sesudah, sejak, ketika
Menyatakan hubungan singkatan Singkatnya, ringkasnya, akhirnya, sebagai
kesimpulan, pnedek kata

Contoh (a) yang menyatakan akibat atau hasil:

Tenaga kerja di pulau Jawa, Bali, Madura dan Lombok


berlebihan, sedangkan di pulau-pulau lain kekurangan. Oleh sebab
itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau itu dipindahkan
kepulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian,
akan terjadi pemeratan tenaga kerja di Indonesia ini.

Contoh (b) yang menyatakan hubungan pertambahan:

Deterjen tidak hanya cocok dipakai untuk mencuci bahan yang


kasar, tetapi juga untuk mencuci bahan halus seperti sutera. Selain
itu, detejen, dapat juga dipakai untuk mencuci perabot dapur.
Tambahan lagi, perabotan yang dicuci dengan bubuk deterjen
warnanya tidak pudar.

Contoh (c) yang menyatakan hubungan perbandingan:

Dalam menghormati wanita, tampaknya orang Barat lebih


baik dari orang Timur. Kalau kita perhatikan cara-cara orang Timur,
seperti orang Jepang, Cina, India danThailand memperlakukan wanita
akan timbul kesan bahwa wanita merupakan warga negara kelas
dua. Adat Timur umumnya menempatkan wanita sebagai golongan
yang utama. Lain halnya di Eropa. Orang-orang Barat begitu
mengutamakan wanita. Slogan Ladies First bukan hanya omong
kosong yang tak terbukti. Dalam tata krama Barat, kedudukan wanita
paling tidak sudah sama derajatnya dengan pria, walaupun belum
dapat dikatakan lebih tinggi.

Contoh (d) yang menyatakan hubungan pertentangan:

Manusia diizinkan Tuhan untuk memanfaatkan semua isi alam


ini termasuk memakan daging binatang. Namun, manusia tidak di-
izinkan menyakiti, menyiksa, atau menyia-nyiakan binatang. Siapa
yang menyiksa binatang, berdosa besar. Sebaliknya, siapa yang
menolong binatang akan mendapat pahala.

Contoh (e) yang menyatakan hubungan tempat:


7

Saat Anda melintas di Jalan Manggarai Utara, Jakarta Pusat,


persis di depan, tampak berjajar sembilan tukang jahit. Mereka
berjajar dengan mesin jahit, masing-masing yang sebagian besar
catnya terkelupas. Agar dapat berkerja dengan nyaman, mereka
berlindung di bawah tenda plastik. Pemandangan seperti ini pula
dapat Anda temukan di sepanjang Jalan Jatinegara atau Jalan
Slamet Riyadi.

Contoh (f) yang menyatakan hubungan tujuan:

Sidang Istimewa MPR akan digelar dan sudah pasti memerlukan


pengamanan. Pimpinan MPR telah mengirim surat kepada Panglima
ABRI, Panglima Kodam V Jayakarta, Pangkostrad, dan Kapolri
meminta bantuan pengamanan. Untuk mengamankan SI MPR ini
Polri akan dibantu oleh TNI mengingat jumlah anggota Polri yang
terbatas dibanding dengan tugas kamtib yang diembannya. Agar
terjalin koordinasi yang baik, hendaknya persiapan pengamanan bagi
musyawarah para wakil rakyat yang memerlukan nasib bangsa itu
dilakukan sejak jauh-jauh hari.

Contoh (g) yang menyatakan waktu:

Sejak bayi, Rere selalu kami ajak berkomunikasi. Mulai usia


dua minggu, ketika matanya sudah mulai menatap, kami tidak hanya
menganggapnya sebagai bayi, tetapi manusia dewasa. Saat dia pipis
kami selalu memintanya untuk mengangkat kaki guna memudahkan
penggantian popok. Berapa minggu kemudian, dia mulai paham
dengan maksud kami tersebut. Ketika usianya memasuki minggu ke
tujuh, Rere tidak hanya paham tetapi dapat melakukannya. Terkadang
dia sudah mengangkat kakinya, sebelum perintah tersebut kami
ucapkan.
(Dikutip dengan sedikit perubahan dari Angkat Kakinya... dalam Nakita, No.37, 5 Oktober 1999).

Contoh (h) yang menyatakan hubungan singkatan:

Lalu lintas di persimpangan jalan di Jakarta banyak yang


macet yang kacau. Kendaraan berpenumpang, terutama angkutan
umum seperti bus besar, bus sedang, mikrolet, saling serobot.
Kendaraan yang lebih kecil seperti bajaj, bemo, bahkan di beberapa
tempat ada becak, turut pula meramaikan persimpangan jalan. Belum
lagi truk, mobil pribadi, dan sepeda motor. Pendek kata, semua jenis
8

kendaraan turut ambil bagian memacetkan persimpangan jalan di


Jakarta.

4. Jenis Jenis Paragraf

Paragraf banyak ragamnya. Untuk membedakan paragraf yang satu


dengan yang lain berdasarkan kelompoknya, perhatikan bagan di bawah ini.

PARAGRAF
1. Menurut fungsinya kalimat topiknya 1. Paragraf deduktif
2. Paragraf induktif
3. Paragraf deduktif induktif
4. Paragraf penuh kalimat topik
2. Menurut fungsinya dalam karangan 1. Paragraf pembuka
2. Paragraf pengembang
3. Paragraf penutup
3. Menurut sifat isinya 1. Paragraf Persuasif
2. Paragraf Argumentatif
3. Paragraf Naratif
4. Paragraf Deskriptif
5. Paragraf Espositoris
Dengan berpedoman pada bagan di atas, dapat dapat dideteksi misalnya
sebuah paragraf, disebut deduktif dari segi penempatan kalimat topik; disebut
paragraf pembuka dari segi fungsi dalam karangan; dan disebut naratif dari segi
isinya.

a) Jenis Paragraf Menurut Posisi Kalimat Topiknya

Seperti telah disebutkan dalam uraian sebelumnya, kalimat yang berisi


gagasan utama paragraf adalah kalimat topik. Karena berisi gagasan utama itulah
keberadaan kalimat topik dan letak posisinya dalam paragraf menjadi penting.
Posisi kalimat di dalam sebuah paragraf akan memberi warna tersendiri bagi
sebuah paragraf. Hal ini tak ubahnya dengan penekanan dalam sebuah kalimat
dengan cara menempatkan bagian yang dipentingkan pada posisi tertentu.

Berdasarkan posisi kalimat topik, paragraf dibedakan atas empat macam,


yakni (a) paragraf deduktif, (b) paragraf induktif, (c) paragraf deduktif-induktif,
dan (d) paragraf penuh kalimat topik.

(1) Paragraf deduktif

Bila kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal paragraf akan terbentuk
paragraf yang bersifat deduktif, yaitu cara penguraian yang menyajikan pokok
permasalahan lebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai
pemasalahan atau gagasan paragraf (urutan umum-khusus). Perhatikan contoh
paragraf deduktif di bawah ini.
9

Media massa merupakan salah satu sarana yang penting


untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia (kalimat
topik ini terdapat pada awal paragraf). Melalui media massa,
setiap hari disebarkan informasi yang memakai bahasa sebagai
sarananya. Dalam penyebaran informasi itu sudah barang tentu
pengelola media massa senantiasa memperhatikan pemakaian
bahasa Indonesia. Berdasarkan hubungan tersebut, media massa
telah memberi sumbangan yang berharga bagi pembinaan dan
pengembangan bahasa Indonesia. (Tiga kalimat berikut ini adalah
kalimat penjelas)

(2) Paragraf Induktif

Bila kalimat pokok ditempatkan pada akhir paragraf, akan terbentuk


paragraf induktif. Dalam pragraf ini, penulis menguraikan penjelasan terlebih
dahulu, barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan (urutan khusus-umum).
Penyajian paragraf dengan cara ini lebih sulit jika dibandingkan dengan paragraf
deduktif, tetapi paragrafnya akan terasa lebih argumentatif. Simaklah contoh
paragraf induktif berikut ini.

Rumah sakit dengan karyawan yang dapat bekerja secara


efisien akan dapat mengatasi persaingan yang ketat. Rumah sakit
dewasa ini bukan sebagai unit pelayanan sosial semata, melainkan
lebih merupakan unit pelayanan sosialekonomi, bahkan sudah
boleh dikatakan sebagai perusahaan jasa. Rumah sakit memerlukan
manajer yang ahli menghitung pengelolaan investasi yang
ditanam, pengelolaan sumber daya manusia yang efisien, serta
mampu menghitung biaya pelayanan medis yang ditawarkan
kepada pasien (kalimat-kalimat ini adalah kalimat penjelas). Kini
makin dirasakan perlunya pemimpin rumah sakit yang
mempunyai latar belakang pendidikan manajemen (Kalimat
topik yang letaknya diakhir paragraf).

(3) Paragraf Deduktif-Induktif

Bila kalimat pokok ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf maka
akan terbentuklah paragraf campuran. Kalimat pada akhir paragraf bersifat
mengulang atau menegaskan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal
paragraf.

Pemerintah menyadari bahwa rakya Indonesia, memer-


lukan rumah murah, sehat, dan kuat. Departemen PU sudah lama
10

menyelidiki bahan rumah yang kuat tetapi kuat. Agaknya, bahan


perlit yang diperoleh dari bantuan gunung berapi sangat menarik
perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagi pula,
bahan perlit dapat dicetak menurut keinginan seseorang. Usaha ini
menunjukkan bahwa permerintah berusaha membangun rumah
murah, sehat dan kuat untuk memenuhi keperluan rakyat.

(4) Paragraf Penuh Kalimat Topik

Seluruh kalimat yang membangun paragraf sama pentingnya sehingga


tidak satu pun kalimat yang khusus menjadi kalimat topik. Kondisi demikian itu
bisa terjadi akibat sulitnya menentukan kalimat topik karena kalimat yang satu
dengan yang lainnya sama-sama penting. Paragraf semacam ini sering dijumpai
dalam uraian-uraian yang bersifat deskriptif dan naratif. Inilah contoh paragraf-
nya.

Pagi hari itu aku duduk di bangku panjang dalam taman di


belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalah.
Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Di depanku
bermekaran bunga beraneka warna. Angin pegunungan membelai
wajahku. Ku hirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku.

b) Jenis Paragraf Menurut Fungsinya dalam Karangan

Berdasarkan fungsinya dalam karangan, paragraf dapat dibedakan atas tiga


macam yaitu paragraf pembuka, paragraf pengembang, dan paragraf penutup.
Ketiga jenis paragraf itu memiliki fungsi tersendiri antara satu dengan yang lain.

(1) Paragraf pembuka

Paragraf pembuka berfungsi mengutarakan satu aspek pokok pembicaraan


dalam karangan. Sebagai awal sebuah karangan, paragraf pembuka harus mampu
menjalankan fungsinya, yaitu: (a) mengantar pokok pembicaraan; (b) menarik
minat dan perhatian pembaca; dan (c) menyiapkan pikiran pembaca untuk
mendapatkan gambaran umum tentang isi karangan.

Setelah menilik ketiga fungsi tersebut, dapat dikatakan bahwa paragraf


pembuka memegang peranan penting di dalam sebuah karangan. Guna mencapai
sasaran penulisan, paragraf pembuka harus disajikan dalam bentuk yang menawan
pembaca. Untuk itu, bentuk-bentuk berikut ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan
menulis paragraf pembuka, yaitu: (a) kutipan, peribahasa, anekdot; (b) uraian
mengenai pentingnya pokok pembicaraan; (c) suatu tantangan atas pendapat atau
11

pertanyaan seseorang; (d) uraian tentang pengalaman pribadi; (e) uraian mengenai
maksud dan tujuan penulisan; atau (e) sebuah pernyataan.

(2) Paragraf Pengembang

Paragraf ini mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang


sebelumnya telah dirumuskan di dalam paragraf pembuka. Contoh-contoh
ilustrasi, inti permasalahan, dan uraian pembahasan adalah isi sebuah paragraf
pengembang.

Secara rinci dapat dirumuskan bahwa fungsi paragraf pengembang di


dalam karangan adalah: (a) mengemukan inti persoalan; (b) memberi ilustrasi atau
contoh; (c) menjelaskan hal yang diuraikan pada paragraf berikutnya; (d)
meringkas paragraf berikutnya; dan (e) mempersiapkan dasar atau landasan bagi
simpulan

(3) Paragraf Penutup

Paragraf penutup berisi simpulan bagian karangan (subbab, bab) atau


simpulan seluruh karangan. Paragraf ini sering merupakan pernyataan kembali
maksud penulis agar lebih jelas. Mengingat paragraf ini dimaksud untuk
mengakhiri karangan atau bagian karangan, penyajiannya harus memperhatikan
hal berikut ini: (a) sebagai penutup, paragraf ini tidak boleh terlalu panjang; (b) isi
paragraf ini harus berisi simpulan yang mencerminkan sebagai inti seluruh uraian;
(c) sebagai bagian yang paling akhir di baca, hendaklah paragraf ini dapat
menimbulkan kesan yang mendalam bagi pembacanya.

Untuk memperoleh gambaran tentang isi paragraf pembuka, pengembang


dan penutup, berikut ini disajikan petikan karangan singkat yang berisi ketiga
paragraf yang dimaksud agar dapat dilihat fungsi yang dijalankan di dalam
karangan.

Berikut contoh keterpaduan antara paragraf pembuka, pengembang dan


penutup dalam satu bentuk karangan mini.

Paragraf pembuka:

Secara umum, dapat dikatakan bahwa surat adalah alat untuk


menyampaikan maksud secara tertulis. Batasan itu mengandung
pengertian yang sangat luas karena banyak sekali hal yang dapat
dituangkan secara tertulis, misalnya karangan berbentuk artikel,
makalah, skripsi dan buku. Oleh sebab itu, batasan tersebut perlu di
pertegas lagi dengan penekanan bahwa maksud yang disampaikan
melalui surat dapat berupa permintaan, penolakan, dan sebagainya.
12

Paragraf pengembang:

Walupun demikian, batasan di atas pun masih belum


mencakup tentang misi atau pesan yang diemban oleh surat secara
keseluruhan. Dalam pengalaman sehari-hari, surat umumnya hanya
di kenal sebagai alat untuk menyampaikan berita secara tertulis.
Pengertian tersebut adalah pengertian sempit akibat dari anggapan
bahwa surat hanya merupakan alat untuk mengirimkan kabar atau
berita, padahal surat mengandung aspek yang lebih luas meliputi
informasi tertulis berupa rekaman kegiatan secara tertulis yang
dibuat dengan persyaratan tertentu.

Yang di maksud dengan informasi tertulis dalam hal ini


adalah informasi yang berupa kabar atau berita seperti, surat juga
sudah umumnya dikenal, misalnya surat penawaran, surat pesanan,
dan surat permohonan, sedangkan informasi berupa rekaman berita
secara tertulis dapat di sebut misalnya surat tanda bukti, kartu
identitas, dan kontrak.

Paragraf penutup:

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada


dasarnya surat adalah informasi tertulis yang dapat digunakan
sebagai alat komunikasi tulis yang dibuat dengan persyaratan
tertentu yang khusus berlaku untuk surat menyurat.

c) Jenis Paragraf Menurut Sifat Isinya

Isi sebuah paragraf dapat bermacam-macam bergantung pada maksud


penulisannya dan tuntutan konteks serta sifat informasi yang akan disampaikan.
Untuk keperluan ini paragraf diselaraskan dengan jenis karangan yang sudah
umum dikenal yaitu karangan persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan
eksposisi. Penyelarasan sifat isi paragraf dengan isi karangan sebenarnya cukup
beralasan karena di muka sudah dinyatakan bahwa pekerjaan menyusun paragraf
adalah pekerjaan mengarang juga. Walaupun karangan yang berbentuk satu
paragraf merupakan karangan sederhana (karangan minor), prinsip penulisannya
sama dengan karangan kompleks (karangan mayor), yaitu sama-sama mempunyai
topik, tema, bahkan sama-sama mempunyai kerangka (outline). Hanya saja di
dalam paragraf unsur-unsur tersebut berwujud sederhana.

Berdasarkan sifat isinya, paragraf dapat digolongkan menjadi lima macam,


yaitu:
13

a. paragraf persuasif, jika isi paragraf bersifat mempromosikan sesuatu dengan


cara mempengaruhi pembaca;

b. paragraf argumentatif, jika paragraf bersifat membahas satu masalah dengan


bukti-bukti atau alasan yang mendukung;

c. paragraf naratif, jika isi paragraf bersifat menuturkan peristiwa atau keadaan
dalam bentuk cerita;

d. paragraf deskriptif, jika isi paragraf bersifat melukiskan atau menggambarkan


sesuatu; dan

e. paragraf ekspositoris, jika isi paragraf bersifat memaparkan atau menerangkan


suatu fakta atau kejadian tertentu.

Berikut contoh masing-masing jenis paragraf tersebut.

Contoh paragraf persuasif

WAP (Wireless Application Protocol) adalah aplikasi yang


mewujudkan impian mengakses dunia informasi dan layanan terkini
langsung dari layar ponsel Anda layaknya akses internet. Dengan
Ericsson R320S, salah satu ponsel pertama yang dilengkapi dengan
NNAP, Anda dengan cepat akan mengakses ke pusat data informasi
dan layanan ini melalui situs WAP. Semuanya dapat di lakukan dari
telapak tangan Anda. Dengan dilengkapi dengan fitur-fitur inovatif
dapat di katakan ponsel tipis yang memiliki berat 95 gr ini adalah
kantor dalam kantong Anda.

Contoh paragraf argumentatif

Menurut Orrick, public relations merupakan suatu bagian


terkecil dari tiap fungsi diplomat, dan diplomasi merupakan suatu
bagian terkecil dari international public relations di sebabkan oleh
adanya perubahan-perubahan yang sangat cepat dalam segala
bidang. Perkembangan dalam bidang komunikasi, bidang
transportasi, bidang pariwisata, tukar menukar tenaga dalam bidang
14

pendidikan, timbulnya masalah internasional dalam bidang


ekonomi, bidang politik, dan bidang-bidang lainnya telah
mendorong adanya perluasan bidang public relations. Dewasa ini,
eksistensi negara tidak lepas dari negara yang lainnya. Bidang yang
menonjol dalam mendorong public relations ke tingkat internasional
terutama adalah bidang perdagangan dan pariwisata yang
melibatkan perwakilan-perwakilan diplomatik yang ada di negara
masing-masing.

Contoh paragraf naratif

Sesuai dengan satu urusan di Gedung Balai Pengkajian dan


Penerapan Teknologi yang menjulang megah di Jalan Thamrin, aku
akan terus menjelajahi toko-toko di daerah Pasar Pagi. Maksudku
mencari mainan robot besi made in Jepang yang bisa diubah-pasang
menjadi berbagai bentuk untukku putraku yang terkecil, Andri. Hari
sudah lewat tengah hari dan panas. Jakarta yang amat terik tidak
mengendorkan semangatku untuk berputar kayuh mendapatkan
mainan itu.

Contoh paragraf deskriptif

Kuda nil adalah binatang air yang besar dengan kaki


menjejak tanah. Binatang ini hidup di Afrika. Kecuali gajah, kuda
nil adalah binatang terberat yang menjejak tanah. Seekor kuda nil
yang besar, ukuran badannya dapat menyamai tiga mobil sedan.
Tentu kita tidak ingin kuda nil menginjak jari kita, bukan?

Contoh paragraf ekspositoris

Menyambut HUT ke-377 Padang, Minggu (17 24 Agustus)


akan di selenggarakan Karnaval Padang 2008. Walikota Padang,
Fauzi Bahar kepada pers, selasa 12 Agustus 2008 mengatakan
hiburan rakyat ini menampilkan beberapa kreatifitas, antara lain
bendi hias, sepeda hias, mobil hias, mobil kuno, motor besar,
barisan kuda, baronsai, dan pawai bunga. Selain itu, karnaval di
meriahkan dengan atraksi kesenian berupa drum band, rebana, kuda
lumping dan sisingaan. peserta karnaval dibagi dua kelompok jalan
kaki dan kendaraan, katanya. Menurut dia karnaval start dari
depan kantor Walikota menuju Jalan Sudirman, dan finish di Jalan
Rasuna Said. Khusus kelompok pejalan kaki jelas Fauzi Bahar, berputar di
Jalan Ujung Gurun.
15

D. RANGKUMAN

Paragraf adalah bagian karangan, berapa untaian kalimat


berstruktur yang berisi gagasan dasar dan sejumlah gagasan
penjelas.Gagasan dasar itu diungkapkan dalam kalimat topik dan
gagasan-gagasan penjelas diungkapkan dalam kalimat penjelas.
Ada dua pembentukan paragraf yang baik yaitu (1) kesatuan yang
ditandai oleh satu gagasan dasar dan sejumlah gagasan penjelas, dan (2)
kepaduan yang di tandai oleh hubungan yang harmonis antara isi kalimat
dalam paragraf.
Paragraf dapat dibedakan berdasarkan posisi kalimat topiknya,
fungsinya dalam karangan, dan menurut sifat isinya. Menurut posisi
kalimat topiknya paragraf dibedakan atas paragraf deduktif, induktif,
deduktif-induktif, dan paragraf penuh kalimat topik. Menurut fungsinya
paragraf dapat dibedakan atas paragraf pembuka, pengembang, dan
paragraf penutup. Sedangkan berdasarkan sifat isinya paragraf
dibedakan atas paragraf naratif, deskriptif, argumentatif, persuasif, dan
ekspositoris.