Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Hidup adalah perjuangan, istilah itulah yang mungkin paling tepat untuk
mendeskripsikan makna dari sebuah kehidupan. Maka setiap manusia yagn hidup di dunia ini
tidak akan pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Jika seorang manusia ingin hidup
tanpa mau berjuang, maka sama saja ia sedang mengharapkan sebuah kematian untuk
menjemputnya.

Di dalam ajaran Islam, Allah swt mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan
tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia
yang tidak mau beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup.

Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia yang merasa
sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari Allah swt. Bahkan ada pula yang nekat
mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan dengan cobaan yang tengah
dialaminya.

Umat muslim tidak pantas bersikap demikian. Putus asa dan terjebak dalam duka yang tak
berkesudahan bukanlah sifat seorang muslim. Seorang muslim hendaknya senantiasa optimis
dan berpikiran positif. Berbaik sangka kepada yang telah memberikan cobaan, yaitu Allah
swt adalah jalan terbaik yang diajarkan oleh Islam. Karena sesungguhnya Allah swt akan
menjawah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika hambanya berprasangka buruk, maka
keburukanlah yang akan diterimanya. Namun, jika hambanya senantiasa berbaik sangka
maka Allah swt pun akan memberikan kebaikan kepadanya.

Syukur dan sabar adalah merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Sebagaimana kehidupan kita yang terkadang senang atau susah, lapang atau sempit,
kaya atau miskin dan lain-lain. Hidup adalah ujian, maka atas kondisi apapun kita ada dalam
ujian Allah swt. Pada saat kita mendapatkan kesenangan, kelapangan rizki, menjadi orang
kaya ujiannya adalah pandai tidak kita bersyukur. Sedangkan pada suatu ketika kita
mendapatkan kesusahan, kesempitan rizki, menjadi orang miskin ujiannya adalah mampu
tidak kita bersikap sabar.

UJIAN DAN COBAAN

Ujian Dan Cobaan Menurut Pandangan Islam. Di dalam ajaran Islam, Allah swt mengatakan
di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah
kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia yang tidak mau beribadah kepada Allah swt
maka ia tidak patut untuk hidup.

Ibadah kepada Allah swt, itulah perjuangan hidup yang diajarkan di dalam Islam. Islam tidak
mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan. Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang,
karena Islam mengajarkan bahwa Allah swt tidak akan merubah nasib suatu kaum melainkan
kaum itu sendirilah yang harus berjuang untuk merubahnya. Sama saja dengan seorang
karyawan yang direkrut untuk bekerja, kalau dia tidak mau bekerja maka berhenti saja
menjadi karyawan.
Satu hal yang identik dengan perjuangan adalah adanya cobaan. Cobaan adalah salah satu
bagian dari setiap perjuangan yang tidak dapat dihindarkan, pasti dialami dan dirasakan oleh
setiap manusia dalam perjalanan hidup.

Islam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa tidak ada sesuatu apapun yang telah
diciptakan di dunia ini melainkan pasti ada manfaatnya. Tidak ada yang diciptakan dengan
sia-sia, dan tidak ada pula yang diciptakan tanpa tujuan. Allah swt telah
memperhitungkannya dengan sangat sempurna. Bahkan Islam mengajarkan bahwa setiap
cobaan itu merupakan salah satu bentuk pembersih dari dosa-dosa yang telah diperbuat,
cobaan merupakan tanda cinta dari Allah swt. Semakin Allah swt mencintai seorang hamba
maka semakin banyak cobaan yang akan diberikan-Nya. Hal itu tidak lain hanyalah untuk
semakin meningkatkan rasa cinta dan kedekatan umatnya kepada-Nya.

Islam memandang cobaan sebagai suatu pelajaran yang bernilai positif, bukan sebagai satu
hal yang negatif. Begitulah kacamata Islam, selalu mengajarkan untuk melihat dengan
kacamata positif. Cobaan merupakan gudang hikmah yang sangat berharga. Banyak hikmah
yang dapat dipetik melalui sebuah cobaan, di antaranya adalah:

Cobaan adalah Pembersih. Dalam kacamata Islam, cobaan yang menimpa seorang muslim
sebenarnya adalah bukti kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Karena, dengan cobaan
itulah Allah swt akan membersihkan seseorang dari dosa-dosanya yang telah overload. Kalau
dosa-dosa tersebut tidak dibersihkan, tentu saja akan mencelakakan manusia tersebut.

Pembersihan dilakukan oleh Allah swt untuk mengurangi siksa Allah swt yang pedih di
akhirat kelak. Allah swt pun tidak menginginkan hamba-Nya menemui-Nya dalam keadaan
penuh dengan dosa, sehingga Allah swt membersihkan atau menghisapnya terlebih dahulu.
Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt kepada umat-Nya. Dan itulah salah satu
wujud indahnya berada di dalam naungan Islam.

Rasulullah saw bersabda:

Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Taala) adalah para
Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan
orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan
diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya
pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan
(kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Taala) timpakan kepada
seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan
tidak punya dosa (sedikitpun)

Penyempurna Keimanan, Dalam ajaran Islam, cobaan merupakan salah satu media yang
dapat menyempurnakan keimanan seseorang. Karena, kesempurnaan iman dapat dilihat dari
keitiqomahannya untuk tetap taat kepada Allah swt baik dalam keadaan senang maupun
susah.

Rasulullah saw bersabda mengenai bagaimanakah sifat seorang muslim yang sebenarnya,
yang artinya:

Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa)


kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan
kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa
kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya. (HR. Muslim no. 2999)

Islam juga menganggap cobaan sebagai alarm pengingat pesan bagi seluruh umatnya. Dengan
cobaan itulah, Allah swt senantiasa mengingatkan manusia bahwa mereka itu adalah makhluk
yang lemah, tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan kehendak Allah swt. Tidak ada yang
patut dibanggakan atau disombongkan. Rasulullah saw telah berfirman yang artinya:

Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan
perjalanan. (HR. Bukhari no. 6053)

Hadits di atas jelas sekali mengingatkan umat Islam bahwa hidup ini hanyalah ibarat sebuah
perjalanan, yang suatu saat pasti akan berakhir atau mencapai tempat tujuannya, yaitu
kampung akhirat. Dengan adanya cobaan, maka umat muslim akan senantiasa diingatkan
bahwa di dunia ini tidak ada yang kuat dan tidak ada pula yang abadi. Semua akan kembali
kepada Allah swt.

Tafsir Suroh Al-Baqarah ayat 153 157


( 153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah

pertolongan dengan sabar dan shalat; sesung-guhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.

(154) Dan janganlah kamu katakan terhadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati.
Bahkan mereka hidup, akan tetapi kamu tidak merasa.

(155) Dan sesungguhnya akan Kami beri kamu percobaan dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan
dan kekurangan dari harta benda dan jiwa-jiwa dan buah buahan; dan berilah khabar yangmenyukakan
kepada orang yang sabar.

(156) (Yaitu) orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata:
Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalah kita semua akan kembali.

(157) Mereka itu, akan dikurniakan atas mereka anugerah-anugerah dari Tuhan mereka dan rahmat, dan
mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk.

Menghadapi Percobaan Hidup

Pada ayat-ayat yang di atas telah dijanjikan Tuhan bahwa nikmat itu akan terus-menerus disempurnakan,
Nikmat pertama dan utama ialah diutusnya Rasulullah s.a w. menjadi Rasul Beliaulah yang akan memimpin
perjuangan selanjutnya. Sebab itu tetaplah mengingat Allah supaya Allah ingat pula akan kamu dan
syukurilah nikmatNya, jangan kembali kepada kufur, yaitu melupakan jasa dan tidak mengingat budi
Dengan perubahan kiblat setelah berasa di Madinah 16 atau 17 bulan kamu telah dibawa melangkah lebih
maju Akhirnya kelak kemenangan yang gilang-gemilang akan diberikan Tuhan kepada kamu. Tetapi adalah
satu syarat utama yang wajib kamu penuhi. Sebab perobahan-perobahan besar dan kejadian yang akan
diberikan Tuhan kelak kepadamu itu bukanlah terletak di atas talam, perak, lalu dihidangkan saja kepadamu.
Melainkan amat bergantung kepada usaha dan semangat kegiatanmu sendiri. Maka peristiwa-peristiwa yang
dahsyat akan bertemulah oleh kamu dalam Shirathal Mustaqim yang kamu lalui itu. Syarat utama itu ialah :

Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar. (ayat 153).

Maksud ini adalah maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi. Menegakkan kalimat Allah,
memancarkan tonggak Tauhid dalam alam. Membanteras perhambaan diri kepada yang selain Allah.
Apabila langkah ini telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan
tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh
dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak mengenal lelah. Betapapun mulianya cita-cita, kalau hati tidak
teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu daripada Muhammad
s.a.w: semuanya telah menempuh jalan itu dan semuanya menghadapi kesulitan.

Kemenangan mereka hanya pada kesabaran. Maka kamu orang yang telah menyatakan iman kepada
Muhammad wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakan. Jangan
gelisah tetapi hendaklah tekap hati.

Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Quran. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai
apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat Iman dalam perjuangan. Hanya dengan
sabar menyampaikan nasihat kepada orang yang lalai. Hanya dengan sabar kebenaran dapat ditegakkan.

Lebih 25 tahun Yakub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya
anaknya Yusuf kembali juga. Tujuh tahun Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani
nasibnya; akhirnya dia dipanggil buat menjadi Menteri Besar.

Bertahun Ayub menderita penyakit , sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan
Tuhan dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi20, karena semua sudah kawin
dan sudah beranak pula. Ibrahim dapat menyempurnakan kalimat-kalimat ujian Tuhan karena sabar.
Demikianlah Musa dengan Bani-Israil. Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Isa Almasih dengan
Hawariyin semuanya dengan sabar.

Ada Nabi yang nyaris kena hukuman karena tidak sabar; yaitu Nabi Yunus. Ditinggalkannya kaumnya
karena seruannya tidak diperdulikan. Maka buat melatih jiwa dia ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari
lamanya. Tetapi keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran.

*Sebab itu sabarlah perbentengan diri yang amat teguh.

Sabar memang berat dan sabar memanglah tidak terasa apa faedahnya jlka bahaya dan kesulitan belum
datang. Apabila datang suatu marabahaya atau suatu musibah dengan tiba-tiba, dengan tidak disangka-
sangka, memang timbullah perjuangan dalam batin. Perjuangan yang amat hebat. Tarik menarik di antara
kegelisahan dengan ketenangan.

Kita gelisah, namun hati kecil kita sendiri tidaklah senang akan kegelisahan itu. Suatu waktu orang yang
belum juga menang ketenangannya atas kegelisahannya bisa jadi memandang gelap hidup ini, sehingga dari
sangat gelapnya mau rasanya mati saja. Mungkin dengan mati kesulitan itu akan habis, lalu dia membunuh
diri.

Sudah kita katakan, hati kecil yang di dalam tidaklah suka akan kegelisahan itu. Maka hati kecil yang di
dalam itulah yang harus ditenangkan. Sebab itu dalam saat yang demikian sabar tadi tidak boleh dipisahkan
dengan shalat! Ingat Tuhan! Hati kecil yang telah dikepung oleh kegelisahan dan kekacauan itu harus
dibebaskan dari kepungan itu. Lepaskan dia menghadap Tuhan; Allahu Akbar! Allah Maha Besar !

Sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar. (ujung ayat 153).

Apakah yang engkau takutkan kepada hidup ini, kalau Allah telah menjamin bahwa Dia ada beserta engkau?
Orang yang ditimpa oleh suatu percobaan yang membuat jiwa jadi gelisah, kemudian berpegang teguh
kepada ayat ini, membenteng diri dengan sabar dan shalat, dengan berangsur timbullah fajar harapan dalam
hidupnya. maka sesungguhnya ia berada dalam kedamaian.

allah berfirman :

(Yaitu) orang -orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah, mereka berkata: Sesungguhnya
kita ini dari Allah, don sesungguhnya kepadaNyalah kita semua akan kembali. (ayat 156).

Kemudian itu menyusul Rahmat, yaitu kasih-sayang.

Dan mereka itulah orang-orang yang akan mendapat petunjuk. (ujung ayat 157).

Maka dengan ketabahan hati menghadapi, lalu mengatasi kesukaran dan kesulitan dan derita, untuk
menempuh lagi penderitaan lain, perlindungan Tuhan datang, rahmatNya meliputi dan petunjukpun
diberikan. Jiwa bertambah lama bertambah teguh, karena sudah senantiasa digembleng dan disaring oleh
zaman.

Mungkin timbul rasa musykil dari pertanyaan orang: Mungkinkah kita mengelakkan diri dari perasaan
sedih atau susah karena ditimpa musibah? Jawabnya sudah pasti, yaitu rasa sedih dan susah mesti ada.
Sedangkan Nabi s.a.w. kematian puteranya Ibrahim bersedih juga dan titik juga airmata beliau. Bahkan
tahun kematian isteri beliau yang tua, Khadijah, beliau namai Tahun Duka. Rasa yang demikian tidaklah
dapat dihilangkan, karena dia adalah sifat jiwa. Dia timbul dari rasa belas-kasihan, atau rahmat.

Maka perasaan yang demikian, kalau tidak dikendalikan, itulah yang kerapkali membawa jiwa merana.
itulah yang diperangi dengan sabar, sehingga akhirnya kesabaran menang, dan kesedihan itu tidak sampai
merusak diri. Adapun kalau ada orang yang mati anaknya* tidak sedih hatinya, dan dia gembira-gembira saja,
itu adalah orang yang tidak berperasaan. Orang yang berperasaan ialah yang memang tergetar hatinya karena
suatu malapetaka, tetapi dengan sabar dia dapat mengendalikan diri, dan diapun menang. Inilah yang
dirnaksudkan.

Kadang-kadang berkesan pada wajahnya peperangan batin itu, entah kurus badannya, bahkan sampai
setengah buta matanya, sebagai Nabi Yakub kehilangan Yusuf, dan kemudian hilang pula Benyamin,
namun beliau tetap berkata:

Sabar yang indah, dan Allahlah tempat memohon pertolongan. (Yusuf: 83)

HADIST YANG MEMPERKUAT ALQURAN SURAT ALBAQORAH: 155

Saad bin Abi Waqqash berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah,
siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya? Nabi Saw menjawab, Para nabi
kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka.
Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai
dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-
menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan
amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.
(HR. Ath-Thabrani).

PENUTUP

Hidup adalah perjuangan, istilah itulah yang mungkin paling tepat untuk mendeskripsikan
makna dari sebuah kehidupan. Maka setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak akan
pernah lepas dari berbagai jenis perjuangan. Jika seorang manusia ingin hidup tanpa mau
berjuang, maka sama saja ia sedang mengharapkan sebuah kematian untuk menjemputny, Di
dalam ajaran Islam, Allah swt mengatakan di dalam Al Quran bahwa manusia diciptakan
tidak lain hanyalah untuk mengabdi/beribadah kepada Allah swt. Artinya, jika ada manusia
yang tidak mau beribadah kepada Allah swt maka ia tidak patut untuk hidup.

Cobaan memang terkadang terasa sangat berat, sehingga banyak sekali manusia yang merasa
sangat menderita manakala mendapatkan cobaan dari ALLAH SWT. Bahkan ada pula yang
nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu untuk bertahan dengan cobaan yang tengah
dialaminya.

Namun dengan kesabaran kita bisa menghadapi semua ujian dan Cobaan yang di berikan
kepada ALLAH SWT. dan yakinilah bahwa allah tidak akan memberika Ujian dan cobaan
diluar kemampuan manusia. sebab hanya allahlah yang maha mengetahui. dan yakinilah
bahwa ketika ujian dan cobaan itu menghampiri maka sesungguhnya allah swt. menyayangi
kita untuk memeberikan sedikit torehan dan warna dalam likaliku hidup yang terus berputar
sebab ujian dan cobaan membuat kita untuk lebih dewasa. Sesungguhnya setelah kesulitan
ada kemudahan.