Anda di halaman 1dari 23

KISAH KETELADANAN NABI DAN RASUL

1. Kisah Nabi Ibrahim AS


Ibrahim dilahirkan di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak). Ayahnya
bernama Azar, seorang ahli pembuat dan penjual patung.
Nabi Ibrahim AS dihadapkan pada suatu kaum yang rusak, yang dipimpin oleh Raja
Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti rakyatnya dan menganggap dirinya sebagai
Tuhan.
Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik memikirkan kejadian-kejadian alam. Ia
menyimpulkan bahwa keajaiban-keajaiban tsb pastilah diatur oleh satu kekuatan yang
Maha Kuasa.
Semakin beranjak dewasa, Ibrahim mulai berbaur dengan masyarakat luas. Salah satu
bentuk ketimpangan yang dilihatnya adalah besarnya perhatian masyarakat terhadap
patung-patung. Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah
SWT dan menjauhi berhala, memohon kepada Allah SWT agar kepadanya diperlihatkan
kemampuan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati. Tujuannya adalah untuk
mempertebal iman dan keyakinannya.
Allah SWT memenuhi permintaannya. Atas petunjuk Allah SWT, empat ekor burung
dibunuh dan tubuhnya dilumatkan serta disatukan. Kemudian tubuh burung-burung itu
dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan di atas puncak bukit yang
terpisah satu sama lain. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil
burung-burung tsb. Atas kuasa-Nya, burung yang sudah mati dan tubuhnya tercampur itu
kembali hidup. Hilanglah segenap keragu-raguan hati Ibrahim AS tentang kebesaran Allah
SWT.

Ibrahim menghancurkan berhala kaum Babylonia


Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri.
Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang
disembahnya, bahkan mengajak untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah
SWT. Ibrahim pun diusir dari rumah.
Ibrahim merencanakan untuk membuktikan kepada kaumnya tentang kesalahan mereka
menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia merayakan
suatu hari besar dengan tinggal di luar kota selama berhari-hari. Ibrahim lalu memasuki
tempat peribadatan kaumnya dan merusak semua berhala yang ada, kecuali sebuah patung
yang besar. Oleh Ibrahim, di leher patung itu dikalungkan sebuah kapak.
Mukjizat Allah: Api menjadi dingin
Akibat perbuatannya ini, Ibrahim ditangkap dan diadili. Namun ia menyatakan bahwa
patung yang berkalung kapak itulah yang menghancurkan berhala-berhala mereka dan
menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya. Tentu saja para hakim mengatakan
bahwa berhala tidak mungkin dapat ditanyai. Saat itulah Nabi Ibrahim AS mengemukakan
pemikirannya yang berisi dakwah menyembah Allah SWT.
Hakim memutuskan Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukumannya. Saat itulah
mukjizat dari Allah SWT turun. Atas perintah Allah, api menjadi dingin dan Ibrahim pun
selamat. Sejumlah orang yang menyaksikan kejadian ini mulai tertarik pada dakwah
Ibrahim AS, namun mereka merasa takut pada penguasa.
Langkah dakwah Nabi Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud dan kaki
tangannya. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS
meninggalkan tanah airnya menuju Harran, suatu daerah di Palestina. Di sini ia menemukan
penduduk yang menyembah binatang. Penduduk di wilayah ini menolak dakwah Nabi
Ibrahim AS. Ibrahim AS yang saat itu telah menikah dengan Siti Sarah kemudian berhijrah
ke Mesir. Di tempat ini Nabi Ibrahim AS berniaga, bertani, dan beternak. Kemajuan
usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga ia pun kembali ke Palestina.

Ibrahim menikahi Siti Hajar


Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai
seorang anak. Untuk memperoleh keturunan, Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahi
Siti Hajar, pembantu mereka. Dari pernikahan ini, lahirlah Ismail yang kemudian juga
menjadi nabi.

Ketika Nabi Ibrahim AS berusia 90 tahun, datang perintah Allah SWT agar ia meng-khitan
dirinya, Ismail yang saat itu berusia 13 tahun, dan seluruh anggota keluarganya. Perintah
ini segera dijalankan Nabi Ibrahim AS dan kemudian menjadi hal yang dijalankan nabi-
nabi berikutnya hingga umat Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT juga memerintahkan Ibrahim AS untuk memperbaiki Ka'bah (Baitullah). Saat
itu bangunan Ka'bah sebagai rumah suci sudah berdiri di Mekah. Bangunan ini
diperbaikinya bersama Ismail AS. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al-Baqarah
ayat 127.

Ibrahim AS adalah nenek moyang bangsa Arab dan Israel. Keturunannya banyak yang
menjadi nabi. Dalam riwayat dikatakan bahwa usia Nabi Ibrahim AS mencapai 175 tahun.
Kisah Nabi Ibrahim AS terangkum dalam Al Qur'an, diantaranya surat Maryam: 41-48, Al-
Anbiyâ: 51-72, dan Al-An'âm: 74-83.

2. Kisah Nabi Daud AS


Nabi Daud AS adalah salah seorang nabi dari Bani Israil, yaitu dari sibith Yahuda. Ia
merupakan keturunan ke-13 dari Nabi Ibrahim AS.
Thalut Sang Raja
Sesudah Nabi Harun dan Nabi Musa wafat, kaum Bani Israil dipimpin oleh Nabi Yusya'
bin Nun, yang memang telah ditunjuk oleh Nabi Musa untuk menggantikan beliau sesaat
sebelum kewafatannya. Berkat kepemimpinan Yusya' bin Nun mereka dapat menguasai
tanah Palestina dan bertempat tinggal di istana. Namun setelah Yusya bin Nun wafat,
mereka terpecah belah. Isi kitab Taurat berani mereka rubah dan ditambah-tambah. Mereka
sering bersilang pendapat sesama mereka sendiri, hingga akhirnya hilanglah kekuatan
persatuan mereka. Tanah Palestina diserbu dan dikuasai bangsa lain.

Bani Israil menjadi bangsa jajahan yang tertindas. Mereka merindukan datangnya seorang
pemimpin yang tegas dan gagah berani untuk melawan penjajah. Pada suatu hari, mereka
pergi menemui Nabi Samuel untuk meminta petunjuk. "Wahai Samuel, angkatlah salah
seorang di antara kami sebagai Raja yang akan memimpin kita berperang melawan
penjajah."
Tetapi Nabi Samuel menjawab, "Aku khawatir bila sudah mendapat pemimpin yang dipilih
Allah, kalian justru tidak mau berangkat perang."
"Kita sudah lama menjadi bangsa tertindas," kata mereka. "Kita tidak mau menderita lebih
lama lagi."
Karena didesak oleh kaumnya, Nabi Samuel kemudian berdoa kepada Allah SWT agar
menetapkan satu di antara mereka menjadi pemimpin. Doa Nabi Samuel dikabulkan, Allah
memilih Thalut sebagai Raja yang memimpin mereka. Tapi ternyata begitu mendengar
nama Thalut diucapkan oleh Nabi Samuel, mereka justru menolak dengan alasan bahwa
Thalut tidak begitu dikenal, ia hanya seorang petani biasa yang sangat miskin.
Nabi Samuel kemudian menjelaskan bahwa walaupun Thalut itu petani biasa, namun ia
pandai strategi perang, tubuhnya kekar dan kuat, dan pandai tentang ilmu tata negara. Baru
akhirnya mereka mau menerima Thalut sebagai Raja mereka.
Kisah Jalut dan Daud
Thalut mengajak orang-orang yang tak punya ikatan rumah tangga dan perdagangan ke
medan perang. Dengan memilih orang-orang terbaik itu, ia berharap mereka dapat
memusatkan diri pada pertempuran dan tak terganggu dengan urusan rumah tangga dan
perdagangan.

Salah seorang anak muda yang ikut dalam barisan Thalut adalah seorang remaja bernama
Daud. Ia diperintah oleh ayahnya untuk menyertai kedua kakaknya yang maju ke medan
perang. Daud tidak diperkenankan maju ke garis depan, ia hanya ditugaskan untuk
melayani kedua kakaknya. Tempatnya di garis belakang. Jika kakaknya lapar atau haus,
dialah yang melayani dan menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka.

Tentara Thalut sebenarnya tidak seberapa banyak. Jauh lebih banyak dan lebih besar tentara
Jalut Sang Penindas (Goliath). Jalut sendiri adalah seorang panglima perang yang bertubuh
besar seperti raksasa. Setiap orang yang berhadapan dengannya selalu binasa. Tentara
Thalut gemetar saat melihat keperkasaan musuh-musuhnya itu. Demi melihat tentaranya
ketakutan, Thalut berdoa kepada Allah, "Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas diri
kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang
kafir."

Maka dengan kekuatan doa itu mereka menyerbu tentara Jalut. Tak mengira lawan yang
berjumlah sedikit itu mempunyai keberanian bagaikan singa terluka, akhirnya pasukan
Jalut dapat diporak-porandakan dan lari tercerai berai.
Tinggallah Jalut Sang Panglima dan beberapa pengawalnya yang masih tersisa. Thalut dan
pengikutnya tak berani berhadapan dengan raksasa itu. Lalu Thalut mengumumkan, siapa
yang dapat membunuh Jalut maka ia akan diangkatnya sebagai menantu. Tak disangka dan
diduga, Daud yang masih berusia remaja tampil ke depan, minta izin kepada Thalut untuk
menghadapi Jalut. Mula-mula Thalut ragu, mampukah Daud yang masih sangat belia itu
mengalahkan Jalut? Namun setelah didesak oleh Daud, akhirnya ia mengizinkan anak
muda itu maju ke medan perang.
Dari kejauhan Thalut mengawasi sepak terjang Daud yang menantang Jalut. Jalut memang
sombong. Ia telah berteriak berkali-kali, menantang orang-orang Israil untuk berperang
tanding. Ia juga mengejek bangsa Israil sebagai bangsa pengecut dan hinaan-hinaan lainnya
yang menyakitkan hati.
Tiba-tiba Daud muncul di hadapan Jalut. Jalut tertawa terbahak-bahak melihat anak muda
itu menantangnya duel. Daud tidak membawa senjata tajam. Senjatanya hanya ketapel.
Berkali-kali Jalut melayangkan pedangnya untuk membunuh Daud, namun Daud dapat
menghindar dengan gesitnya. Pada suatu kesempatan, Daud berhasil melayangkan peluru
ketapelnya tepat di antara kedua mata Jalut.
Jalut berteriak keras, roboh dengan dahi pecah, dan tewaslah ia. Dengan demikian
menanglah pasukan Thalut melawan Jalut. Sesuai janji, Daud lalu diangkat sebagai
menantu Raja Thalut. Ia dinikahkan dengan putri Thalut yang bernama Mikyai.

Daud menjadi Raja


Disamping menjadi menantu Raja, Daud juga diangkat sebagai penasihatnya. Ia dihormati
semua orang, bahkan rakyatnya seolah lebih menghormati Daud daripada Thalut. Hal ini
membuat Thalut iri hati. Karenanya ia berusaha mencelakakan Daud ke medan perang yang
sulit. Daud ditugaskan membasmi musuh yang jauh lebih kuat dan lebih besar jumlahnya.
Namun Daud justru memenangkan pertempuran itu dan kembali ke istana dengan disambut
luapan kegembiraan rakyatnya.
Thalut makin merasa iri dan tersaingi atas kepopuleran Daud di mata rakyatnya. Ia terus
mencoba membunuh dan menyingkirkan Daud dengan berbagai cara, namun selalu
menemui kegagalan. Daud seolah selalu dilindungi Allah.
Akhirnya terjadilah perang Jalbu' antara Thalut dan Daud serta pendukung mereka. Dalam
peperangan itu Thalut tewas. Setelah kematian Thalut dan putra mahkotanya yang juga
mati dalam pertempuran tsb, maka rakyat langsung mengangkat Daud sebagai Raja Israil.

Mukjizat Nabi Daud AS


Allah SWT menurunkan kitab Zabur bagi Nabi Daud AS. Selain Zabur, keistimewaan Nabi
Daud AS lainnya adalah setiap pagi dan senja gunung-gunung bertasbih atas perintah Allah
SWT mengikuti tasbihnya. Nabi Daud AS juga memahami bahasa burung-burung.
Binatang juga mengikuti tasbih Nabi Daud AS.
Keistimewaannya dalam beribadah ini diterangkan dalam surat Shâd: 17-19 dan Saba': 10.

Selain itu kerajaannya yang kuat belum pernah sekalipun dapat terkalahkan. Sebaliknya,
Nabi Daud AS selalu mendapat kemenangan dari semua lawannya. Ia menduduki takhta
kerajaan selama 40 tahun.
Diantaranya mukjizatnya adalah Nabi Daud dapat melunakkan besi seperti lilin, kemudian
ia dapat merubah-rubah bentuk besi itu tanpa memerlukan api atau peralatan apapun. Dari
besi itu, ia dapat membuat baju besi yang dikokohkan dengan tenunan dari bulatan-bulatan
rantai yang saling menjalin secara berkesinambungan. Jenis baju ini membuat pemakainya
lebih bebas bergerak, karena tidak kaku seperti baju besi biasa yang dibuat dari besi
lembaran.
Tentang mukjizatnya ini disebutkan dalam surat Saba': 10 dan Al-Anbiyâ': 80.

Nabi Daud juga dikaruniai suara yang sangat merdu sekali. Kitab Zabur yang diturunkan
kepadanya selain berisi pelajaran dan peringatan, juga berisi nyanyian puji-pujian kepada
Tuhan. Nyanyian ini sering juga disebut dengan Mazmur.
Nabi Daud membagi hari-harinya menjadi 4 bagian. Sehari untuk beribadah, sehari ia
menjadi hakim, sehari untuk memberikan pengajaran, dan sehari lagi untuk kepentingan
pribadi. Ia juga suka berpuasa. Ia melakukan puasa dua hari sekali, sehari berpuasa, sehari
lagi tidak.

Peringatan Allah pada Nabi Daud AS


Para nabi adalah manusia yang menjadi contoh teladan umat. Jika ia melakukan kesalahan,
maka Allah segera memperingatkannya untuk meluruskan kesalahannya itu. Demikian pula
halnya dengan Nabi Daud. Ia memiliki istri 99 orang. Ketika itu memang tidak ada
pembatasan jumlah istri yang boleh dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang lelaki biasa untuk
memiliki banyak istri, terlebih lagi bagi seorang raja. Nabi Daud ingin menggenapkan
istrinya menjadi 100 orang.
Pada suatu hari, datanglah dua orang lelaki mengadu kepada Nabi Daud. Seorang di antara
mereka berkata, "Saudaraku ini memiliki kambing 99 ekor, sedang aku hanya memiliki
seekor, tetapi ia menuntut dan mendesakku agar menyerahkan kambingku yang seekor itu
kepadanya, supaya jumlah kambingnya menjadi genap 100 ekor. Ia membawa berbagai
alasan yang tak bisa kubantah karena aku tak pandai berdebat."
Daud lalu bertanya pada lelaki yang satu lagi, "Benarkah ucapan saudaramu itu?"
"Benar," jawab lelaki itu.
Berkatalah Daud dengan marah, "Jika demikian halnya, maka saudaramu telah berbuat
zalim. Aku tidak akan membiarkanmu meneruskan perbuatanmu yang semena-mena itu
atau engkau akan mendapat hukuman pukulan pada wajah dan hidungmu!"
"Hai Daud!" kata lelaki itu, "Sebenarnya engkaulah yang pantas mendapat hukuman yang
kau ancamkan kepadaku itu. Bukankah engkau telah mempunyai 99 istri? Tetapi mengapa
kau masih menyunting lagi seorang gadis yang sudah bertunangan dengan pemuda yang
menjadi tentaramu sendiri? Padahal pemuda itu sangat setia dan berbakti kepadamu."

Nabi Daud tercengang mendengar ucapan yang tegas dan berani dari lelaki itu. Ia berpikir
keras, siapakah sesungguhnya kedua orang ini? Tetapi tiba-tiba kedua pria itu sudah hilang
lenyap dari pandangannya. Tahulah Nabi Daud bahwa ia telah diperingatkan Allah melalui
malaikat-Nya. Ia segera bertaubat memohon ampun kepada Allah, dan Allah menerima
taubatnya.
Pelanggaran terhadap Hari Sabath
Suatu ketika rakyat Nabi Daud AS bersepakat untuk melanggar ketentuan yang menyatakan
hari Sabtu (Sabath) sebagai hari besar untuk Bani Israil, sebagaimana yang telah diajarkan
oleh Nabi Musa AS. Hari Sabat dikhususkan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT,
menyucikan hati dan pikiran dengan berzikir dan bersyukur atas segala nikmat yang telah
diberikan-Nya, serta memperbanyak amal dan diharamkan melakukan kesibukan-
kesibukan yang bersifat duniawi.
Penduduk desa Ailat di tepi Laut Merah juga mematuhi perintah itu. Pada hari Sabtu
mereka tidak menangkap ikan, tetapi pada hari Sabtu itu justru ikan-ikan di laut banyak
menampakkan diri. Akhirnya penduduk Ailat tidak dapat menahan diri untuk melanggar
larangan hari Sabtu itu. Hari Sabtu mereka gunakan untuk mengumpulkan ikan.

Azab Allah SWT pun turun kepada mereka. Wajah mereka diubah menjadi wajah yang
amat buruk, kemudian terjadi gempa bumi yang dahsyat. Kisah ini diriwayatkan dalam
surat Al-A'râf: 163-166.
Asal-usul Baitul Maqdis
Pada suatu hari, berjangkitlah penyakit kolera di wilayah kerajaan yang dikuasai Nabi Daud
AS. Banyak rakyat yang mati karena penyakit ini. Nabi Daud kemudian berdoa kepada
Allah agar menghilangkan wabah ini, maka hilanglah penyakit itu.
Untuk menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah, maka Nabi Daud mengajak putranya,
Sulaiman, untuk membangun tempat suci, yaitu Baitul Maqdis, yang sekarang kita kenal
sebagai Masjidil Aqsha di Yerusalem, Palestina. Tempat inilah yang menjadi kiblat
pertama umat Islam sebelum beralih ke Ka'bah.

3. Kisah Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam
suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Ayahnya bernama Abdullah Muttalib,
seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya bernama Aminah binti Wahab
dari Bani Zuhrah. Baik dari garis ayah maupun garis ibu, silsilah Nabi Muhammad SAW
sampai kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama Tahun Gajah, karena pada tahun
itu terjadi peristiwa besar, yaitu datangnya pasukan gajah menyerbu Mekah dengan tujuan
menghancurkan Ka'bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, gubernur Kerajaan Habsyi di
Yaman. Abrahah ingin mengambil alih kota Mekah dan Ka'bahnya sebagai pusat
perekonomian dan peribadatan bangsa Arab. Ini sejalan dengan keingin Kaisar Negus dari
Ethiopia untuk menguasai seluruh tanah Arab, yang bersama-sama dengan Kaisar Byzantium
menghadapi musuh dari timur, yaitu Persia (Irak).
Dalam penyerangan Ka'bah itu, tentara Abrahah hancur karena terserang penyakit yang
mematikan yang dibawa oleh burung Ababil yang melempari tentara gajah. Abrahah sendiri
lari kembali ke Yaman dan tak lama kemudian meninggal dunia.
Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Qur'an surat Al-Fîl: 1-5.
Beberapa bulan setelah penyerbuan tentara gajah, Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki,
yang diberi nama Muhammad. Ia lahir pada malam menjelang dini hari Senin, 12 Rabiul Awal
Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Saat itu ayah Muhammad, Abdullah, telah
meninggal dunia.
Nama Muhammad diberikan oleh kakeknya, Abdul Muttalib. Nama itu sedikit ganjil di
kalangan orang-orang Quraisy, karenanya mereka berkata kepada Abdul Muttalib, "Sungguh
di luar kebiasaan, keluarga Tuan begitu besar, tetapi tak satu pun yang bernama demikian."
Abdul Muttalib menjawab, "Saya mengerti. Dia memang berbeda dari yang lain. Dengam nama
ini saya ingin agar seluruh dunia memujinya."
Masa pengasuhan Halimah binti Abi Du'aib as-Sa'diyah
Keluarga Halimah tergolong miskin, karenanya ia sempat ragu untuk mengasuh Muhammad
karena keluarga Aminah sendiri juga tidak terlalu kaya. Akan tetapi entah mengapa bayi
Muhammad sangat menawan hatinya, sehingga akhirnya Halimah pun mengambil Muhammad
SAW sebagai anak asuhnya.
Ternyata kehadiran Muhammad SAW sangat membawa berkah pada keluarga Halimah.
Dikisahkan bahwa kambing peliharaan Haris, suami Halimah, menjadi gemuk-gemuk dan
menghasilkan susu lebih banyak dari biasanya. Rumput tempat menggembala kambing itu juga
tumbuh subur. Kehidupan keluarga Halimah yang semula suram berubah menjadi bahagia dan
penuh kedamaian. Mereka yakin sekali bahwa bayi dari Mekah yang mereka asuh itulah yang
membawa berkah bagi kehidupan mereka.
Tanda-tanda kenabian
Sejak kecil Muhammad SAW telah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.
Usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara. Pada usia 2
tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala
kambing. Saat itulah ia berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi pada ibunya.
Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa
berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat
dan segar.

Namun tak lama setelah itu Muhammad SAW kembali diasuh oleh Halimah karena terjadi
wabah penyakit di kota Mekah. Dalam masa asuhannya kali ini, baik Halimah maupun anak-
anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad SAW. Anak-anak Halimah
sering mendengar suara yang memberi salam kepada Muhammad SAW, "Assalamu 'Alaika ya
Muhammad," padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.
Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan
bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap Muhammad
SAW. Halimah bergegas menyusul Muhammad SAW. Saat ditanyai, Muhammad SAW
menjawab, "Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku,
membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuhnya dengan air yang
mereka bawa, lalu menutup kembali dadaku tanpa aku merasa sakit."
Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muhammad SAW, namun
karena kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan
Muhammad SAW, yang saat itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah.
Dalam usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW telah menjadi yatim-piatu. Aminah meninggal
karena sakit sepulangnya ia mengajak Muhammad SAW berziarah ke makam ayahnya. Setelah
kematian Aminah, Abdul Muttalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad
SAW. Namun kemudian Abdul Muttalib pun meninggal, dan tanggung jawab pemeliharaan
Muhammad SAW beralih pada pamannya, Abi Thalib.
Ketika berusia 12 tahun, Abi Thalib mengabulkan permintaan Muhammad SAW untuk ikut
serta dalam kafilahnya ketika ia memimpin rombongan ke Syam (Suriah). Usia 12 tahun
sebenarnya masih terlalu muda untuk ikut dalam perjalanan seperti itu, namun dalam
perjalanan ini kembali terjadi keajaiban yang merupakan tanda-tanda kenabian Muhammad
SAW.

Segumpal awan terus menaungi Muhammad SAW sehingga panas terik yang membakar kulit
tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan Muhammad
SAW. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kejadian ini menarik perhatian seorang
pendeta Kristen bernama Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Ia
menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat dalam kafilah itu terdapat
seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung
dari sorotan sinar matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. "Inilah Roh Kebenaran yang
dijanjikan itu," pikirnya.

Pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu dan mengundang mereka dalam
suatu perjamuan makan. Setelah berbincang-bincang dengan Abi Thalib dan Muhammad SAW
sendiri, ia semakin yakin bahwa anak yang bernama Muhammad adalah calon nabi yang
ditunjuk oleh Allah SWT. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan bahwa di belakang
bahu Muhammad SAW terdapat sebuah tanda kenabian.
Saat akan berpisah dengan para tamunya, pendeta Buhairah berpesan pada Abi Thalib, "Saya
berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang telah
ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini jangan diketahui oleh
orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada,
apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab Taurat dan Injil.
Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan."
Apa yang dikatakan oleh pendeta Kristen itu membuat Abi Thalib segera mempercepat
urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah.
Gelar al-Amin
Pada usia 20 tahun, Muhammad SAW mendirikan Hilful-Fudûl, suatu lembaga yang bertujuan
membantu orang-orang miskin dan teraniaya. Saat itu di Mekah memang sedang kacau akibat
perselisihan yang terjadi antara suku Quraisy dengan suku Hawazin. Melalui Hilful-Fudûl
inilah sifat-sifat kepemimpinan Muhammad SAW mulai tampak. Karena aktivitasnya dalam
lembaga ini, disamping ikut membantu pamannya berdagang, namanya semakin terkenal
sebagai orang yang terpercaya. Relasi dagangnya semakin meluas karena berita kejujurannya
segera tersiar dari mulut ke mulut, sehingga ia mendapat gelar Al-Amîn, yang artinya orang
yang terpercaya.
Selain itu ia juga terkenal sebagai orang yang adil dan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.
Suatu ketika bangunan Ka'bah rusak karena banjir. Penduduk Mekah kemudian bergotong-
royong memperbaiki Ka'bah. Saat pekerjaan sampai pada pengangkatan dan peletakan Hajar
Aswad ke tempatnya semula, terjadi perselisihan. Masing-masing suku ingin mendapat
kehormatan untuk melakukan pekerjaan itu. Akhirnya salah satu dari mereka kemudian
berkata, "Serahkan putusan ini pada orang yang pertama memasuki pintu Shafa ini."
Mereka semua menunggu, kemudian tampaklah Muhammad SAW muncul dari sana. Semua
hadirin berseru, "Itu dia al-Amin, orang yang terpercaya. Kami rela menerima semua
keputusannya."

Setelah mengerti duduk perkaranya, Muhammad SAW lalu membentangkan sorbannya di atas
tanah, dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah, lalu meminta semua kepala suku
memegang tepi sorban itu dan mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai pada
ketinggian yang diharapkan, Muhammad SAW meletakkan batu itu pada tempatnya semula.
Dengan demikian selesailah perselisihan di antara suku-suku tsb dan mereka pun puas dengan
cara penyelesaian yang sangat bijak itu.
Pernikahan dengan Khadijah
Pada usia 25 tahun, atas permintaan Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar kaya raya,
Muhammad SAW berangkat ke Suriah membawa barang dagangan saudagar wanita yang telah
lama menjanda itu. Ia dibantu oleh Maisaroh, seorang pembantu lelaki yang telah lama bekerja
pada Khadijah. Sejak pertemuan pertama dengan Muhammad SAW, Khadijah telah menaruh
simpati melihat penampilan Muhammad SAW yang sopan itu. Kekagumannya semakin
bertambah mengetahui hasil penjualan yang dicapai Muhammad SAW di Suriah melebihi
perkiraannya.

Akhirnya Khadijah mengutus Maisaroh dan teman karibnya, Nufasah untuk menyampaikan isi
hatinya kepada Muhammad SAW. Khadijah yang berusia 40 tahun, melamar Muhammad
SAW untuk menjadi suaminya.
Setelah bermusyawarah dengan keluarganya, lamaran itu akhirnya diterima dan dalam waktu
dekat segera diadakan upacara pernikahan dengan sederhana. yang hadir dalam acara itu antara
lain Abi Thalib, Waraqah bin Nawfal dan Abu Bakar as-Siddiq.
Pernikahan bahagia itu dikaruniai 6 orang anak, terdiri dari 2 anak lelaki bernama Al-Qasim
dan Abdullah, dan 4 anak perempuan bernama Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan
Fatimah. Kedua anak lelakinya meninggal selagi masih kecil. Nabi Muhammad SAW tidak
menikah lagi sampai Khadijah meninggal, saat Muhammad SAW berusia 50 tahun.

Dalam kehidupan rumah-tangganya dengan Khadijah, Muhammad SAW tidak pernah


menyakiti hati istrinya. Sebaliknya istrinya pun ikhlas menyerahkan segalanya pada suaminya.
Kekayaan istrinya digunakan oleh Muhammad SAW untuk membantu orang-orang miskin dan
tertindas. Budak-budak yang telah dimiliki Khadijah sebelum pernikahan mereka, semuanya
ia bebaskan, salah satunya adalah Zaid bin Haritsah yang kemudian menjadi anak angkatnya.
Wahyu pertama
Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua
Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah
disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang
benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil
berkata, "Iqra' (bacalah)." Lalu Muhammad SAW menjawab, "Mâ anâ bi qâri' (saya tidak dapat
membaca)." Mendengar jawaban Muhammad SAW, Jibril lalu memeluk tubuh Muhammad
SAW dengan sangat erat, lalu melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad SAW
membaca. Namun setelah dilakukan sampai 3 kali dan Muhammad SAW tetap memberikan
jawaban yang sama, Malaikat Jibril kemudian menyampaikan wahyu Allah SWT pertama,
yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar (manusia)
dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS.
96: 1-5)
Saat itu Muhammad SAW berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah
(penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun
syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Dengan turunnya 5 ayat pertama ini, berarti
Muhammad SAW telah dipilih oleh Allah SWT sebagai rasul.

Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi
Muhammad SAW pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, "Selimuti aku, selimuti aku."
Sekujur tubuhnya terasa panas dan dingin berganti-ganti. Setelah lebih tenang, barulah ia
bercerita kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi
Muhammad SAW datang pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang banyak
mengetahui kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Nabi
Muhammad SAW, Waraqah pun berkata, "Aku telah bersumpah dengan nama Tuhan, yang
dalam tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan telah memilihmu menjadi nabi kaum ini.
An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadamu. Kaummu akan mengatakan
bahwa engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh,
sekiranya aku dapat hidup pada hari itu, aku akan berjuang membelamu."

Dakwah Nabi Muhammad SAW


Wahyu berikutnya adalah surat Al-Muddatsir: 1-7, yang artinya: Hai orang yang berkemul
(berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu
bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi
perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)
Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah SAW berdakwah. Mula-mula ia
melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-rekannya. Orang
pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali
masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu
baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian
Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin
Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi
SAW sejak ibunya masih hidup.
Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti,
Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqas, dan
Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam.

Setelah beberapa lama Nabi SAW menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah
agar Nabi SAW menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang
kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya.
Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian
menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad SAW dalam pertemuan yang lebih
besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang banyak.
Karena Muhammad SAW adalah orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah
terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi SAW.

Untuk menarik perhatian, mula-mula Nabi SAW berkata, "Saudara-saudaraku, jika aku
berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah
kalian?"
Dengan serentak mereka menjawab, "Percaya, kami tahu saudara belum pernah berbohong.
Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin."
Kemudian Nabi SAW meneruskan, "Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini adalah seorang
nazir (pemberi peringatan). Allah telah memerintahkanku agar aku memperingatkan saudara-
saudara. Hendaknya kamu hanya menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila
saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan
kemudian tidak ada gunanya."
Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian
dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada saat itu, Abu Lahab berteriak, "Celakalah engkau
hai Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?"
Sebagai balasan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur'an yang artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah
kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari
sabut. (QS. 111: 1-5)
Aksi-aksi menentang Dakwah Nabi Muhammad SAW
Reaksi-reaksi keras menentang dakwah Nabi SAW bermunculan, namun tanpa kenal lelah
Nabi Muhammad SAW terus melanjutkan dakwahnya, sehingga hasilnya mulai nyata. Hampir
setiap hari ada yang menggabungkan diri dalam barisan pemeluk agama Islam. Mereka
terutama terdiri dari kaum wanita, budak, pekerja, dan orang-orang miskin serta lemah.
Meskipun sebagian dari mereka adalah orang-orang yang lemah, namun semangat yang
mendorong mereka beriman sangat membaja.
Tantangan dakwah terberat datang dari para penguasa Mekah, kaum feodal, dan para pemilik
budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lama disamping juga khawatir jika struktur
masyarakat dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan oleh ajaran Nabi
Muhammad SAW yang menekankan pada keadilan sosial dan persamaan derajat. Mereka
menyusun siasat untuk melepaskan hubungan keluarga antara Abi Thalib dan Nabi Muhammad
SAW dengen cara meminta pada Abu Thalib memilih satu di antara dua: memerintahkan
Muhammad SAW agar berhenti berdakwah, atau menyerahkannya kepada mereka. Abi Thalib
terpengaruh oleh ancaman itu, ia meminta agar Muhammad SAW menghentikan dakwahnya.
Tetapi Muhammad SAW menolak permintaannya dan berkata, "Demi Allah saya tidak akan
berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota keluarga dan sanak
saudara mengucilkan saya."Mendengar jawaban ini, Abi Thalib pun berkata, "Teruskanlah,
demi Allah aku akan terus membelamu".
Gagal dengan cara pertama, kaum Quraisy lalu mengutus Walid bin Mugirah menemui Abi
Thalib dengan membawa seorang pemuda untuk dipertukarkan dengan Muhammad SAW.
Pemuda itu bernama Umarah bin Walid, seorang pemuda yang gagah dan tampan. Walid bin
Mugirah berkata, "Ambillah dia menjadi anak saudara, tetapi serahkan kepada kami
Muhammad untuk kami bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah belah kita".
Usul Quraisy itu ditolak mentah-mentah oleh Abi Thalib dengan berkata, "Sungguh jahat
pikiran kalian. Kalian serahkan anak kalian untuk saya asuh dan beri makan, dan saya serahkan
kemenakan saya untuk kalian bunuh. Sungguh suatu penawaran yang tak mungkin saya
terima."

Kembali mengalami kegagalan, berikutnya mereka menghadapi Nabi Muhammad SAW secara
langsung. Mereka mengutus Utbah bin Rabi'ah, seorang ahli retorika, untuk membujuk Nabi
SAW. Mereka menawarkan takhta, wanita, dan harta yang mereka kira diinginkan oleh Nabi
SAW, asal Nabi SAW bersedia menghentikan dakwahannya. Namun semua tawaran itu ditolak
oleh Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan, "Demi Allah, biarpun mereka meletakkan
matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah
agama Allah ini, hingga agama ini memang atau aku binasa karenanya."

Setelah gagal dengan cara-cara diplomatik dan bujuk rayu, kaum Quraisy mulai melakukan
tindak kekerasan. Budak-budak mereka yang telah masuk Islam mereka siksa dengan sangat
kejam. Mereka dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Salah seorang budak
bernama Bilal, mendapat siksaan ditelentangkan di atas pasir yang panas dan di atas dadanya
diletakkan batu yang besar dan berat.
Setiap suku diminta menghukum anggota keluarganya yang masuk Islam sampai ia murtad
kembali. Usman bin Affan misalnya, dikurung dalam kamar gelap dan dipukul hingga babak
belur oleh anggota keluarganya sendiri. Secara keseluruhan, sejak saat itu umat Islam mendapat
siksaan yang pedih dari kaum Quraisy Mekah. Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk
melakukan ibadah di Ka'bah, dan lain sebagainya.
Kekejaman terhadap kaum Muslimin mendorong Nabi Muhammad SAW untuk mengungsikan
sahabat-sahabatnya keluar dari Mekah. Dengan pertimbangan yang mendalam, pada tahun ke-
5 kerasulannya, Nabi SAW menetapkan Abessinia atau Habasyah (Ethiopia sekarang) sebagai
negeri tempat pengungsian, karena raja negeri itu adalah seorang yang adil, lapang hati, dan
suka menerima tamu. Nabi SAW merasa pasti rombongannya akan diterima dengan tangan
terbuka.

Rombongan pertama terdiri dari 10 orang pria dan 5 orang wanita. di antara rombongan tsb
adalah Usman bin Affan beserta istrinya Ruqayah (putri Rasulullah SAW), Zubair bin Awwam,
dan Abdur Rahman bin Auf. Kemudian menyusul rombongan kedua yang dipimpin oleh Ja'far
bin Abi Thalib. Beberapa sumber menyatakan jumlah rombongan ini lebih dari 80 orang.

Berbagai usaha dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi hijrah ke Habasyah ini,
termasuk membujuk raja negeri tsb agar menolak kehadiran umat Islam disana. Namun
berbagai usaha itu pun gagal. Semakin kejam mereka memperlakukan umat Islam, justru
semakin bertambah jumlah yang memeluk Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman
tsb, dua orang kuat Quraisy masuk Islam, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin
Khattab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki "Singa Arab" itu, semakin kuatlah
posisi umat Islam dan dakwah Muhammad SAW pada waktu itu.
Hal ini membuat reaksi kaum Quraisy semakin keras. Mereka berpendapat bahwa kekuatan
Nabi Muhammad SAW terletak pada perlindungan Bani Hasyim, maka mereka pun berusaha
melumpuhkan Bani Hasyim dengan melaksanakan blokade. Mereka memutuskan segala
macam hubungan dengan suku ini. Tidak seorang pun penduduk Mekah boleh melakukan
hubungan dengan Bani Hasyim, termasuk hubungan jual-beli dan pernikahan. Persetujuan
yang mereka buat dalam bentuk piagam itu mereka tanda-tangani bersama dan mereka
gantungkan di dalam Ka'bah. Akibatnya, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan
kesengsaraan. Untuk meringankan penderitaan itu, Bani Hasyim akhirnya mengungsi ke suatu
lembah di luar kota Mekah.
Tindakan pemboikotan yang dimulai pada tahun ke-7 kenabian Muhammad SAW dan
berlangsung selama 3 tahun itu merupakan tindakan yang paling menyiksa. Pemboikotan itu
berhenti karena terdapat beberapa pemimpin Quraisy yang menyadari bahwa tindakan
pemboikotan itu sungguh keterlaluan. Kesadaran itulah yang mendorong mereka melanggar
perjanjian yang mereka buat sendiri. Dengan demikian Bani Hasyim akhirnya dapat kembali
pulang ke rumah masing-masing.
Setelah Bani Hasyim kembali ke rumah mereka, Abi Thalib, paman Nabi SAW yang
merupakan pelindung utamanya, meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tiga hari kemudian,
Khadijah, istrinya, juga meninggal dunia. Tahun ke-10 kenabian ini benar-benar merupakan
Tahun Kesedihan ('Âm al-Huzn) bagi Nabi Muhammad SAW. Telebih sepeninggal dua
pendukungnya itu, kaum Quraisy tidak segan-segan melampiaskan kebencian kepada Nabi
SAW. Hingga kemudian Nabi SAW berusaha menyebarkan dakwah ke luar kota, yaitu ke Ta'if.
Namun reaksi yang diterima Nabi SAW dari Bani Saqif (penduduk Ta'if), tidak jauh berbeda
dengan penduduk Mekah. Nabi SAW diejek, disoraki, dilempari batu sampai ia luka-luka di
bagian kepala dan badannya.
Peristiwa Isra Mi'raj
Pada tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa Isra Mi'raj.
Isra, yaitu perjalanan malam hari dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaksa di Yerusalem.
Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilaksa ke langit melalui beberapa
tingkatan, terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arsy (takhta Tuhan), dan kursi
(singgasana Tuhan), hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.
Dalam kesempatannnya berhadapan langsung dengan Allah SWT inilah Nabi Muhammad
SAW menerima perintah untuk mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam.
Peristiwa Isra Mi'raj ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Isrâ' ayat 1.

Hijrah
Harapan baru bagi perkembangan Islam muncul dengan datangnya jemaah haji ke Mekah yang
berasal dari Yatsrib (Madinah). Nabi Muhammad SAW memanfaatkan kesempatan itu untuk
menyebarkan agama Allah SWT dengan mendatangi kemah-kemah mereka. Namun usaha ini
selalu diikuti oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya dengan mendustakan Nabi SAW.

Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan 6 orang dari suku Aus dan Khazraj yang berasal dari
Yatsrib. Setelah Nabi SAW menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam, mereka menyatakan
diri masuk Islam di hadapan Nabi SAW. Mereka berkata, "Bangsa kami sudah lama terlibat
dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan Aus. Mereka benar-benar merindukan
perdamaian. Kiranya kini Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantaramu dan
ajaran-ajaran yang kamu bawa. Oleh karena itu kami akan berdakwah agar mereka mengetahui
agama yang kami terima dari kamu ini."
Pada musim haji tahun berikutnya, datanglah delegasi Yatsrib yang terdiri dari 12 orang suku
Khazraj dan Aus. Mereka menemui Nabi SAW di suatu tempat bernama Aqabah. Di hadapan
Nabi SAW, mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Karena ikrar ini dilakukan di Aqabah, maka
dinamakan Bai'at Aqabah. Rombongan 12 orang tsb kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru
dakwah dengan ditemani oleh Mus'ab bin Umair yang sengaja diutus oleh Nabi SAW atas
permintaan mereka.

Pada musim haji berikutnya, jemaah haji yang datang dari Yatsrib berjumlah 75 orang,
termasuk 12 orang yang sebelumnya telah menemui Nabi SAW di Aqabah. Mereka meminta
agar Nabi SAW bersedia pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela Nabi SAW dari
segala ancaman. Nabi SAW menyetujui usul yang mereka ajukan.
Mengetahui adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib,
kaum Quraisy menjadi semakin kejam terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat Nabi SAW
memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Secara diam-diam, berangkatlah
rombongan-rombongan muslimin, sedikit demi sedikit, ke Yatsrib. Dalam waktu 2 bulan,
kurang lebih 150 kaum muslimin telah berada di Yatsrib. Sementara itu Ali bin Abi Thalib dan
Abu Bakar as-Sidiq tetap tinggal di Mekah bersama Nabi SAW, membelanya sampai Nabi
SAW mendapat wahyu untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum Quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW sebelum ia sempat
menyusul umatnya ke Yatsrib. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap
suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh
Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar
diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta.
Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat
tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur.
Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya
tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu
Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur,
kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3
malam menunggu keadaan aman. Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai
menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu
Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh
Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan
sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai
Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang.

Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya
5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di
rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang
kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi SAW
sebagai pusat peribadatan.

Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu penduduk
Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan
perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh
sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan
dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan. Akhirnya waktu yang ditunggu-
tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kedatangan Nabi SAW.
Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya:
Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur,
selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau
telah membawa sesuatu yang harus kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan
menginap di rumahnya. Tetapi Nabi SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana untaku
berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."
Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan
rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub
sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu
Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya.

Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula
menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam
memancar ke seluruh dunia.
Terbentuknya Negara Madinah
Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi
pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi
pembentukan suatu masyarakat baru.
Dasar pertama yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di dalam Islam),
yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah) dan Anshar
(penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin). Nabi SAW
mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin dengan individu-individu dari
golongan Anshar. Misalnya, Nabi SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin
Zaid, Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan demikian diharapkan masing-
masing orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan
yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu
persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan.
Dasar kedua adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb, yaitu tempat
pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah kepada
Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat digunakan sebagai pusat kegiatan untuk
berbagai hal, seperti belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam
masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.
Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut membangun bersama-
sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi.
Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari.
Dindingnya terbuat dari tanah liat, sedangkan atapnya dari daun-daun dan pelepah kurma. Di
dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW dan keluarganya.
Dasar ketiga adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama
Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga masih terdapat golongan
masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka.
Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan
perjanjian dengan mereka. Perjanjian tsb diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut
dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain mengenai kebebasan
beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban negerinya,
kehidupan sosial, persamaan derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala
pemerintahan di Madinah.

Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah setelah hijrah itu sudah
dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala
negaranya. Dengan terbentuknya Negara Madinah, Islam makin bertambah kuat.
Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka takut
kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka
lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan diganggu atau dikuasai
oleh kaum muslimin.

Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru didirikan itu, Nabi
SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah pimpinannya
maupun tidak. Hamzah bin Abdul Muttalib membawa 30 orang berpatroli ke pesisir L. Merah.
Ubaidah bin Haris membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz
dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa pasukan ke Abwa dan disana berhasil
mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat dengan membawa 200 orang
Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan
Bani Mudij.

Ekspedisi-ekspedisi tsb sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi siaga dan melatih
kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan
mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian dengan kabilah
dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan Madinah.
Perang Badr
Perang Badr yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun musyrikin
Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari serangkaian
pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy.
Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad
SAW gagal.

Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan senjata sederhana yang
terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan
semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal,
panglima perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad SAW sejak awal,
tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi
tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu
sungguh merupakan pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123).
Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka
memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat antara mereka dan Nabi
Muhammad SAW dalam Piagam Madinah.

Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi Muhammad SAW
memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan masing-
masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari
orang-orang Islam yang masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan
kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga.
Tidak lama setelah perang Badr, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan suku
Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan melihat
kekuatan Nabi SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata.

Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang
berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah.

Perang Uhud
Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang ini disebabkan
karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekah yang kalah dalam perang Badr.
Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000 ekor unta
dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus orang di antara
mereka memakai baju besi. Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah
700 orang.

Perang pun berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang jauh
lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.
Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh
Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan turun untuk mengambil harta
peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka
dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi menghiraukan
gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan serangan balik.
Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan
satu per satu pahlawan Islam berguguran.
Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita
tidak benar yang diterima musuh bahwa Nabi SAW sudah meninggal. Berita ini membuat
mereka mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu. Perang Uhuh
ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai syuhada.

Perang Khandaq
Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah
melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan
masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa
suku). Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat
Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagian-
bagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang
berarti parit.

Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan mendirikan
perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat
masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi terputus.
Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani
Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad.
Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan
mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada
malam hari angin dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan
kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga mereka terpaksa
menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil. Para
pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.
Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk
mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung sekitar 1.400 orang
kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya
perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya
untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.
Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari
Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan
menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.
Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara
lain:
Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun.
Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan. Tetapi
bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak
harus mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW.
Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW maupun dengan
pihak Quraisy.
Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan sampai
tahun berikutnya.
Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih
dulu.
Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali
pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam.
Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai
Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.
Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini:
Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa
Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke luar. Apabila suku Quraisy dapat
diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy
mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.
Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk
Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat
kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.
Penyebaran Islam ke negeri-negeri lain
Gencatan senjata dengan penduduk Mekah memberi kesempatan kepada Nabi SAW untuk
mengalihkan perhatian ke berbagai negeri-negeri lain sambil memikirkan bagaimana cara
mengislamkan mereka. Salah satu cara yang ditempuh oleh Nabi SAW kemudian adalah
dengan mengirim utusan dan surat ke berbagai kepala negara dan pemerintahan.

di antara raja-raja yang dikirimi surat oleh Nabi SAW adalah raja Gassan dari Iran, raja Mesir,
Abessinia, Persia, dan Romawi. Memang dengan cara itu tidak ada raja-raja yang masuk Islam,
namun setidaknya risalah Islam sudah sampai kepada mereka. Reaksi para raja itu pun ada
yang menolak dengan baik dan simpatik sambil memberikan hadiah, ada pula yang menolak
dengan kasar.

Raja Gassan termasuk yang menolak dengan kasar. Utusan yang dikirim Nabi SAW
dibunuhnya dengan kejam. Sebagai jawaban, Nabi SAW kemudian mengirim pasukan perang
sebanyak 3.000 orang dibawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Peperangan terjadi di Mu'tah,
sebelah utara Semenanjung Arab.
Pasukan Islam mendapat kesulitan menghadapi tentara Gassan yang mendapat bantuan
langsung dari Romawi. Beberapa syuhada gugur dalam pertempuran melawan pasukan
berkekuatan ratusan ribu orang itu. di antara mereka yang gugur adalah Zaid bin Haritsah
sendiri, Ja'far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Abi Rawahah. Melihat kekuatan yang tidak
seimbang itu, Khalid bin Walid, bekas panglima Quraisy yang sudah masuk Islam, mengambil
alih komando dan memerintahkan pasukan Islam menarik diri dan kembali ke Madinah.
Perang melawan tentara Gassan dan pasukan Romawi ini disebut dengan Perang
Mu'tah.
Kembali ke Mekah
Selama 2 tahun Perjanjian Hudaibiyah, dakwah Islam sudah menjangkau Semenanjung Arab
dan mendapat tanggapan yang positif. Hampir seluruh Semenanjung Arab, termasuk suku-suku
yang paling selatan, telah menggabungkan diri ke dalam Islam. Hal ini membuat orang-orang
Mekah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata telah menjadi senjata bagi umat Islam
untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak orang-orang Quraisy membatalkan
perjanjian tsb. Mereka menyerang Bani Khuza'ah yang berada di bawah perlindungan Islam
hanya karena kabilah ini berselisih dengan Bani Bakar yang menjadi sekutu Quraisy. Sejumlah
orang Kuza'ah mereka bunuh dan sebagian lainnya dicerai-beraikan. Bani Khuza'ah segera
mengadu pada Nabi Muhammad SAW dan meminta keadilan.
Rasulullah SAW segera bertolak dengan 10.000 orang tentara untuk melawan kaum musyrik
Mekah itu. Kecuali perlawanan kecil dari kaum Ikrimah dan Safwan, Nabi Muhammad SAW
tidak mengalami kesukaran memasuki kota Mekah. Nabi SAW memasuki kota itu sebagai
pemenang. Pasukan Islam memasuki kota Mekah tanpa kekerasan. Mereka kemudian
menghancurkan patung-patung berhala di seluruh negeri. Allah SWT berfirman:

"...Kebenaran sudah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah
sesuatu yang pasti lenyap."(QS. 17: 81)
Setelah melenyapkan berhala-berhala itu, Nabi SAW berkhotbah menjanjikan ampunan bagi
orang-orang Quraisy. Setelah khotbah tsb, berbondong-bondong mereka datang dan masuk
Islam. Ka'bah bersih dari berhala dan tradisi-tradisi serta kebiasaan-kebiasaan musyrik.
Sejak itu, Mekah kembali berada di bawah kekuasaan Nabi SAW.

Setelah Mekah dapat dikalahkan, masih terdapat suku-suku Arab yang menentang, yaitu Bani
Saqif, Bani Hawazin, Bani Nasr, dan Bani Jusyam. Suku-suku ini berkomplot membentuk satu
pasukan untuk memerangi Islam karena ingin menuntut bela atas berhala-berhala mereka yang
diruntuhkan Nabi SAW dan umat Islam di Ka'bah. Pasukan mereka dipimpin oleh Malik bin
Auf (dari Bani Nasr).
Dalam perjalanan mereka ke Mekah, mereka berkemah di Lembah Hunain yang sangat
strategis.

Kurang lebih 2 minggu kemudian, Nabi SAW memimpin sekitar 12.000 tentara menuju
Hunain. Saat melihat banyak pasukan Islam yang gugur, sebagian pasukan yang masih hidup
menjadi goyah dan kacau balau, sehingga Nabi SAW kemudian memberi semangat dan
memimpin langsung peperangan tsb. Akhirnya umat Islam berhasil menang. Pasukan musuh
yang melarikan diri ke Ta'if terus diburu selama beberap minggu sampai akhirnya mereka
menyerah. Pemimpin mereka, Malik bin Auf, menyatakan diri masuk Islam.
Dengan ditaklukannya Bani Saqif dan Bani Hawazin, kini seluruh Semenanjung Arab berada
di bawah satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Melihat kenyataan
itu, Heraclius, pemimpin Romawi, menyusun pasukan besar di Suriah, kawasan utara
Semenanjung Arab yang merupakan daerah pendudukan Romawi. Dalam pasukan besar itu
bergabung Bani Gassan dan Bani Lachmides.
Dalam masa panen dan pada musim yang sangat panas, banyak pahlawan Islam yang
menyediakan diri untuk berperang bersama Nabi SAW. Pasukan Romawi kemudian menarik
diri setelah melihat betapa besarnya pasukan yang dipimpin Nabi SAW. Nabi SAW sendiri
tidak melakukan pengejaran, melainkan ia berkemah di Tabuk. Disini Nabi SAW membuat
beberapa perjanjian dengan penduduk setempat. Dengan demikian daerah perbatasan itu dapat
dirangkul ke dalam barisan Islam.
Perang yang terjadi di Tabuk ini merupakan perang terakhir yang diikuti Rasulullah SAW.

Pada tahun 9 dan 10 H banyak suku dari seluruh pelosok Arab yang mengutus delegasinya
kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan tunduk kepada Nabi SAW. Masuknya orang
Mekah ke dalam agama Islam mempunyai pengaruh yang amat besar pada penduduk Arab.
Oleh karena itu, tahun ini disebut dengan Tahun Perutusan atau 'Âm al-Bi'sah. Mereka yang
datang ke Mekah, rombongan demi rombongan, mempelajari ajaran-ajaran Islam dan setelah
itu kembali ke negeri masing-masing untuk mengajarkan kepada kaumnya. Dengan cara ini,
persatuan Arab terbentuk. Peperangan antar suku yang berlangsung selama ini berubah menjadi
persaudaraan agama. Pada saat itu turunlah firman Allah SWT:
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk
agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. 110: 1-
3)
Kini apa yang ditugaskan kepada Nabi Muhammad SAW sudah tercapai.
Di tengah-tengah suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban, telah lahir seorang nabi.
Ia telah berhasil membacakan ayat-ayat Allah SWT kepada mereka dan mensucikannya serta
mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka, padahal sebelumnya mereka berada dalam
kegelapan yang pekat.
Pada awalnya Nabi Muhammad SAW mendapati mereka bergelimang dalam ketakhyulan yang
merendahkan derajat manusia, lalu ia mengilhami mereka dengan kepercayaan kepada satu-
satunya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih Sayang.
Saat mereka bercerai-berai dan terlibat dalam peperangan yang seolah tak ada habisnya,
dipersatukannya mereka dalam ikatan persaudaraan.
Kalau sebelumnya Semenanjung Arab berada dalam kegelapan rohani, maka ia datang
membawa cahaya terang-benderang untuk menyinari rohani mereka.
Pekerjaannya selesai sudah, dan seluruhnya dikerjakan dengan baik semasa hidupnya.
Disinilah letak keunggulan Nabi Muhammad SAW dibanding dengan nabi-nabi yang lain.

Ibadah haji terakhir


Pada tahun 10 H, Nabi SAW mengerjakan ibadah haji yang terakhir, yang disebut juga dengan
haji wada'. Pada tanggal 25 Zulkaidah 10/23 Februari 632 Rasulullah SAW meninggalkan
Madinah. Sekitar seratus ribu jemaah turut menunaikan ibadah haji bersamanya.

Pada waktu wukuf di Arafah, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbahnya yang sangat
bersejarah. Isi khotbah itu antara lain:
 larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq (benar) dan mengambil harta orang
lain dengan bathil (salah), karena nyawa dan harta benda adalah suci.
 larangan riba dan larangan menganiaya perintah untuk memperlakukan para istri
dengan baik serta lemah lembut
 perintah menjauhi dosa
semua pertengkaran di antara mereka di zaman Jahiliah harus dimaafkan
pembalasan dengan tebusan darah sebagaimana yang berlaku di zaman Jahiliyah tidak
lagi dibenarkan
 persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan
hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, yaitu mereka memakan apa yang
dimakan majikannya dan memakai apa yang dipakai majikannya dan yang terpenting,
bahwa umat Islam harus selalu berpegang teguh pada dua sumber yang tak akan pernah
usang, yaitu Al-Qur'an dan Sunah Nabi SAW.
Setelah itu Nabi SAW bertanya kepada seluruh jemaah, "Sudahkan aku menyampaikan
amanat Allah, kewajibanku, kepada kamu sekalian?" Jemaah yang ada di hadapannya
segera menjawab, "Ya, memang demikian adanya." Nabi Muhammad SAW kemudian
menengadah ke langit sambil mengucapkan, "Ya Allah, Engkaulah menjadi saksiku."
Dengan kata-kata seperti itu Rasulullah SAW mengakhiri khotbahnya.
Kembali ke Madinah
Setelah upacara haji yang lain disempurnakan, Nabi Muhammad SAW kembali ke
Madinah. Disinilah ia menghabiskan sisa hidupnya. Ia mengatur organisasi masyarakat di
kabilah-kabilah yang telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari persekutuan Islam.
Petugas keamanan dan para da'i dikirimnya ke berbagai daerah untuk menyebarkan ajaran-
ajaran Islam, mengatur peradilan Islam, dan memungut zakat. Salah seorang di antara
petugas itu adalah Mu'az bin Jabal yang dikirim oleh Nabi SAW ke Yaman. Ketika itulah
hadist Mu'az yang terkenal muncul, yaitu perintah Nabi SAW agar Mu'az menggunakan
pertimbangan akalnya dalam mengatur persoalan-persoalan agama apabila ia tidak
menemukan petunjuk dalam Al-Qur'an dan hadist Nabi SAW.
Pada saat-saat itu pula wahyu Allah SWT yang terakhir turun:

"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu ..." (QS. 5: 3)
Mendengar ayat ini, banyak orang yang bergembira karena telah sempurna agama mereka,
tetapi ada pula yang menangis, seperti Abu Bakar, karena mengetahui bahwa ayat itu jelas
merupakan pertanda berakhirnya tugas Rasulullah SAW.
Wafatnya Nabi SAW
Dua bulan setelah menunaikan ibadah haji wada' di Madinah, Nabi SAW sakit demam.
Meskipun badannya mulai lemah, ia tetap memimpin shalat berjamaah. Baru setelah
kondisinya tidak memungkinkan lagi, yaitu 3 hari menjelang wafatnya, ia tidak mengimami
shalat berjamaah. Sebagai gantinya ia menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat.
Tenaganya dengan cepat semakin berkurang.
Pada tanggal 13 Rabiulawal 11/8 Juni 632, Nabi Muhammad SAW menghembuskan
nafasnya yang terakhir di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, dengan wasiat terakhir,
"Ingatlah shalat, dan taubatlah...".

Anda mungkin juga menyukai