Anda di halaman 1dari 14

Askep Penyakit Addison

Askep Penyakit Addison

by Heri Setiawan

A. Definisi Penyakit

Penyakit Addison merupakan penyakit isufiensi adrenal yang mengakibatkan


sindrom klinik ( Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin,
1999 ).

Penyakit Addison Merupakan suatu proses patologik akibat dari isufiensi dikorteks
adrenal. ( Patofisiolagi Vol 2, 2005 )

Penyakit Addison Adalah Kegagalan korteks adrenal memproduksi hormon


adrenokortikal yang disebabkan oleh atropi primer pada korteks adrenal akibat
automunitas (www.goegle.co.id)

Penyakit Addison ( insufiensi adrenokortikal ) terjadi jika adrenal yang kurang aktif
menghasilkan kortikosteroid dalam jumlah yang tidak memadai
(www.Medicastore.com).

B. Etiologi

Etiologi dari penyakit Addison antara lain adalah :

- Autoimmune ( Idiopatik ).

- Pengangkatan Kelenjar adrenal.

- Infeksi pada kelenjar adrenal.

- Tuberkulosis.

- Isufiensi ACTH Hipofise

( Ilmu Penyakit Dalam I edisi 3, 1996 )

C. Web Of Caution

Penyakit Addison atau isufiensi adrenokortikal terjadi bila fungsi hormone-


hormon korteks adrenal. Atrofi otoimun atau idiopatik pada kelenjar adrenal
merupakan penyebab pada 75% kasus penyakit Addison ( stren & tuek, 1994 ).
Penyebab lainnya adalah mencakup operasi pengangkatan kedua kelenjar adrenal
atau infeksi pada kedua kelenjar tersebut. Tuberkulosis (TB) dan hitoplasma
merupakan infeksi yang paling sering ditemukan dan menyebabkan kerusakan pada
kelenjar adrenal, sekresi ACTH yang tidak adekuat dari kelenjar hipofisis juga akan
menimbulkan isufiensi adrenal akibat penurunan stimulasi korteks adrenal. Gejala
isufiensi adrenokartikal dapat pula terjadi akibat penghentian mendadak terapi
hormon adrenokortikal yang akan menekan respons normal tubuh terhadap
keadaan stress dan mengganggu mekanisme umpan balik normal. Terapi denganb
pemberian kortikosteroid setiap hari selama 2 minggu 4 minggu dapat menekan
fungsi adrenal ; Oleh sebab itu, kemungkinan penyakit adddison harus diantisipasi
pada pasien yang mendapat pengobatan kortikosteroid. ( Keperawatan Medikal
Bedah II, edisi 8,2001 )

D. Manifestasi Klinis

Penyakit Addison ditandai oleh kelemahan otot anoreksia, gejala


gastrointestinal, keluhan mudah lelah, emasiasi ( Tubuh kurus kering ); Pigmentasi
pada kulit, bulu-bulu jari, lutut, siku serta membran mukosa ;hipotensi, kadar glukosa
darah dan natrium serum rendah; dan kadar kalium serum yang tinggi. Pada kasus
yang berat, gangguan metabolisme natrium natrium dan kalium yang dapat ditandai
oleh pengurangn natrium dan air,serta dehidrasi yang kronis dan berat. Dengan
berlanjutnya penyakit yang disertai hipotensi akut akibat dari hipokortikoisme, pasien
akan mengalami krisis addisonian yang ditandai oleh sianosis, panas dan tanda-
tanda syok, pucat, perasaan cemas, dennyut nadi cepat dan lemah, pernafasan
cepat serta tekanan darah rendah. Disamping itu, pasien dapat mengeluh sakit
kepala, mual, nyeri abdomen serta diare , dan memperlihatkan tanda-tanda
kebingungan serta kegilasahan. Bahkan aktivitas jasmani ynag sedikit berlebihan,
terpajan udara dingin, infeksi yang akut atau penurunan asapan garam.(
keperawatan Medikal Bedah II, edisi 8, 2001 )

E. Pemerikasaan Penunjang

- Kadar kortisol dan aldosteron serum

- Kadar ACTH serum

- BUN

- Kadar glukosa darah

- Pemeriksaan urine

- Pemeriksaan radiologi, anteriografi, sken

- Pemeriksaan Ekce

F. Penata laksanaan
Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok, memulihkan sirkulasi darah,
memberikan cairan, melakukan terapi penggantian,kortisteroid, memantau tanda-
tanda fital dan memempatkan pasien pada posisi setengah duduk dengan kedua
tungkai ditingggikan.Hidrokortison ( Solu-cortef) disuntikkan secara intravena yang
kemudian diikuti dengan pemberian infus dektrosa 5% dalam larutan normal salin.
Preparat vasopretor amina mungkin diperlukan jika kedaan hipotensi bertahan. Anti
biotik dapat diberikan jika infeksi memicu krisis adrenal pada penderita insufiensi
kronis adrenal. Asupan per oral dapat dimulai segera setelah pasien dapat
menerimanya, secara perlahan-lahan. Pemberian infus dikurangi ketika asupan
cairan per oral sudah adekuat, untuk mencegah hipokolemia jika kelenjar adrenal
tidak dapat berfungsi kembali. Pasien memerlukan terapi penggantian seumur hidup
untuk mencegah timbul kembali isufiensi adrenal serta krisis adisonia pada keadaan
stress atau sakit. Selain itu pasien mungnkin akan memerlukan suplemen makanan
penembahan garam, pada saat terjadi kehilangan cairan dari saluran cerna akibat
muntah dan diare. ( Keperawatan medikal Bedah II, edisi 8.2001 )

G. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian ( data focus )

a. Riwayat penyakit yang dapat menggali kemungkinan penyebab dan faktor


yang mempermudah seperti operasi intra abdominal, radiasi kepala,
pengangkatan hipofise atau adrenal.

b. Keluhan yang biasanya mencakup kelelahan, tetapi dan tidak mampu


beraktivitas juga tidak nafsu makan, mual, muntah, diare dan nyeri abdomen.

c. Tanyakan pada klien pakah terjadi penuruanan berat badan selama enam
bulan terakhir. Bagaimana masukan garamnya

d. Pada klien wanita tanyakan pola menstruasinya, pada klien pria tanyakan
apakah mengeluh impotensi.

e. Tanyakan apakah klien menderita tuberculosis, karsinoma paru atau infeksi


menahun kuman gram negatif, karena kesemuanya ini dapat menyebabkan
hipofungsi idiopatik

f. Penggunaan obat-obatan baik masa lalu maupun sekarang seperti golongan


steroid, anti kuagulan dan obat sitotoknik

g. Pemeriksaan fisik mencakup pigmentasi pada klit yang disebabkan oleh


peransangan MSH akibat mekanisme kontrol hipofise yang terganggu.

h. Kerontokon rambut tubuh.


i. Banyak berkeringat, nyeri kepala, takikardia dan tremor dapat dijumpai bila
klien mengalami hipoglikemia.

j. Kaji juga tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit yang buruk, mukosa kering
dan penurunan berat badan.

k. Pengkajian psikososial : Apakah klien tampak lertagi atau apasis, bingung atau
psikosa; kaji bagaimana orientasi klien terhadap orang,tempat dan waktu,
keluarga mungkin akan mengeluh emosi klien labil dan sangat lemah.

l. Pemeriksaan Laboratorium Mencakup :

- Kadar kartisol dan aldosteron serum

- Kadar ACTH serum

- BUN

- Kadar glukosa darah

- Pemeriksaan urine terhadap 17 OHC dan 17 ketosteroid.

- Pemeriksaan radiologi, anteriografi, sken-CT

- Pemeriksaan EKG ( dapat dijumpai gelombang QRS yang melebur, interval


PR memanjang dan elevasi gelombang ). Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Sistem endokrin. 1999 )

2. Diagnosa Keperawatan

1. Intoleransi aktivitas ( kelelehan ) berhubungan dengan ketidakseimbangan


elektrolit. ( Carpenito, Lynda Juall. 1998 )

Definisi :

Intoleransi aktifitas : Penurunan kapasitas fisiologi seseorang untuk


mempertahankan aktivitas sampai ketingkat yang diinginkan atau
diperlukan ( magnam, 1987 )

Batasan Karekteristik

- Mayor :

- Frekuensi nafas meningkat.

- Pernafasan cepat
- Nadi cepat dan lemah.

- Minor :

- Kelemahan Kelelahan.

- Pucat atau sianosis

- Kacau mental.

Faktor-faktor yang berhubungan.

- Berhubungan dengan meningkatnya kebutuhan metabolisme sekunder


terhadap : kelainan metabolic atau endokrin.

- Situsional berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolic


sekunder terhadap stress.

2. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui


ginjal / kelenjar keringat, saluran gastrointestinal ( Carpenito, Lynda Juall,
1998 ).

Definisi

Kekurangan volume cairan : keadaan dimana seseorang yang tidak


makan dan minum peroral mempunyai resiko terjadinya dehidrasi
vaskuler, interstisial atau intraseluler.

Batasan karekteristik.

- Mayor :

- Ketidakcukupan masukan cairan peroral.

- Tidak adanya keseimbangan antara asupan dan saluran.

- Membran mukosa / kulit kering.

- Berat badan kurang.

- Minor :

- Meningkatnya natrium darah.

- Menurunnya saluran urine atau saluran urine berlebihan.


- Sering berkemih.

- Turgor kulit menurun.

- Haus / mual/ anoreksia.

Faktor faktor yang berhubungan.

- Situsional

Berhubungan dengan muntah / mual.

Berhubungan dengan menurunnya motivasi untuk minum, sekunder


terhadap keletihan dan depresi

- Berkurangnya asupan cairan yang dengan

- Mual atau anoreksia, keletihan

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,


muntah, anoreksia ( carpenito, Lynda Juall. 1998 )

Definisi :

Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh kondisi ini dilami oleh
individu yang tidak mengalami puasa atau berisiko mengalami penurunan
berat badan yang berhubungan dengan tidak cukupnya masukan atau
metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme.

Batasan karakteristik

- Mayor :

Seseorang yang mengalami puasa dilaporkan atau mempunyai


ketidakcukupan masukan makanan, kurang dari ynag dianjurkan
sehari-hari (RDA) dengan atu tanpa terjadinya penurunan berat badan
dan /atau kebutuhan metabolic aktual atau potensial pada kelebihan
masukan terhadap penurunan terhadap berat badan.

- Minor :

- Berat badan 10%-20% dibawah normal dan tinggi serta kerangka


tubuh dibawah ideal.

- Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah, dan lingkar otot


pertengahan lengan kurang dari 60% dari ukuran standart.
- Penurunan albumin serum.

Faktor-faktor yang berhubungan

- Patofisiologi

Berhubungan dengan muntah disengaja bahkan fisik berlebihan dari


masukan kalori, atau menolak makan sekunder terhadap anoreksia.

- Situsional

Berhubungan denga menurunnya nafsu makan sekunder terhadap :

- Anoreksia

- Stress

- Mual dan muntah

4. Gangguan rasa nyaman nyeri kronis berhubungan dengan peningkatan asam


lambung.

Definisi :

- Perubahan kenyamanan : Suatu keadaan dimana individu mengalami


perasaan yang tidak nyaman dalam berespon terhadap stimulus yang
berbahaya.

Batasan Karekteristik

- Mayor :

Induvidu mengatakan atau terlihat tidak nyaman

- Minor : Respon otonomi pada nyeri akut

Tekanan darah meningkat.

5. Ganguan Pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kronis (


Carpenito, Lynda Juall, 1998 )

Definisi :

Gangguan pola tidur : suatu keadaan dimana individu mengalami atau


mempunyai resiko mengalami istirahat yang menyebabkan
ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan.
Batasan karakteristik

- Mayor :

- Kesulitan jatuh atau tetap tertidur.

- Minor :

- Lelah pada saat bangun atau sepanjang hari.

- Agitasi

- Mengantuk sepanjang hari.

- Perubahan atau perasaan.

Faktor faktor yang berhubungan

- Patofiologis

Berhubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap kerusakan


eliminasi yaitu diare.

- Situsional

Berhubungan dengan nyeri.

3. Rencana Tindakan Keperawatan

1. Diagnosa keperawatan :

Intoleransi aktivitas ( kelelahan ) berhubungan dengan ketidakseimbangan


elektronik.(Doenges,Marylin E.1999)

Tujuan :

o Menyatakan mampu untuk beristirahat,peningkatan tenaga dan penurunan


rasa.

o Mampu menunjukkan faktor yang berpengaruh terhadap kelelahan .

o Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktifitas.

Intervensi
a. Kaji / diskusikan tinggkat kelemahan klien dan identifikasi aktifitas yang
dapat dilakukan klien.

Rasional :

Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga kelelahan otot


menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan
munculnya ketidakseimbangan natrium dan kalsium.

b. Pantau tanda vital sebelum dan sesudah melakukan aktivitas,observasi


adanya takikardi, hipotensi dan perifer yang dingin.

Rasional :

Kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stes aktifitas jika
curah jantung berkurang.

c. Diskusikan kebutuhan aktivitas dan rencanakan jadwal aktivitas bersama


sama dengan pasien. Identifikasi aktivitas yang menyebabkan
kelelahan.

Rasioanal :

Aktivitas yang kurang selama menerima terapi hormon pengganti untuk


memperbaiki tonus dan kekuatan otot, menurunnya kelelahan . Selain itu
hal tersebut memberikan harapan bahwa kemampuan untuk melakukan
aktivitas yang baik akan kembali seperti semula.

d. Sarankan pasien untuk menentukan masa / periode antara dan


melakukan aktivitas.

Rasional :

Mengurangi kelelahan dan mencegah ketegangan pola jantung .

e. Berikan kesempatan kepada pasien untuk ikut berpartisipasi secara


adekuat untuk melakukan aktifitasnya sehari hari sebagian atau
seluruhnya. Tingkatkan keterlibatkan pasien sesuai kemampuan.

Rasional :

Menambahkan kenyakinan pasien dan harga dirinya secara baik sesuai


dengan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransinya .

2. Diagnosa keperawatan
Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui
ginjal,kelenjar keringat. Saluran gastrointestional.

(Doenges marylin E.1999)

Tujuan

Menunjukkan adanya perbaikan keseimbangan cairan dengan kriteria :


pengeluaran urine yang adekuat (batas normal) , tanda-tanda vital stabil
,tekanan nadi periver jelas, turgor kulit baik , pengertian kapiler baik dan
membran mukosa lembab / basah.

Intervensi :

a. Dapatkan riwayat dari pasien atau keluarga yang berhubungan dengan


lama dan intensitas dari gejala yang muncul seperti contoh ; muntah,
pengeluaran urine yang berlebihan

Rasional:

Membantu memperkirakan penurunan volume total cairan.

b. Pantau tanda vital, catat perubahan tekanan darah pada perubahan


posisi, kekuatan dari nadi perifer

Rasional

Hipotensi postural merupakan bagian hipovolemia akibat kekurangan


hormon aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai akibat dari
penurunan kortisol ,nadi mungkin melemah yang dengan mudah dapat
hilang .

c. Ukur dan timbang berat badan setiap hari

Rasional

Memberikan perkiraan kebutuhan akan penggantian volume cairan dan


keefektifan pengobatan. Peningkatan berat badan yang cepat
disebabkan oleh adanya retensi cairan dan natrium yang berhubungan
dengan pengobatan steroid.

d. Kaji pasien mengenai adanya rasa haus, kelelahan, nadi cepat, pengisian
kapiler memanjang, turgor kulit jelek, membran mukosa kering, catat
warna kulit dan temperaturnya.

Rasional
Untuk mengindikasikan berlanjutnya hipovolemia dan mempengaruhi
kebutuhan volume pengganti.

e. Auskultasi bising usus (peristaltik usus ). Catat dan laporkan adanya mual,
muntah dan diare.

Rasional :

Kerusakan fungsi saluran cerna dapat meningkatkan kehilangan cairan


dan elektrolik dan mempengaruhi cara untuk pemberian cairan dan
nutrisi .

f. Anjurkan cairan oral diatas 3000 ml / hari segera mungkin sesuai dengan
kemampuan pasien.

Rasional :

Adanya perbaikan pada saluran cerna dan kenbalinya fungsi saluran


cerna tersebut memungkinkan untuk memberikan cairan dan elektrolit
melalui oral.

g. Kolaborasi dalam memeberikan cairan 0,9% NaCI ( normal salin )

Rasional :

Pasien mungkin memerlukan cairan pengganti 4-6 liter dengan


pemberian cairan NaCL 0,9 % Melalui IV Sebanyak 500 1000 ml/jam
dapat mengatasi kekurangan natrium yang telah terjadi.

3. Diagnosa Keperawatan :

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


mual/muntah, anoreksia.( Doenges, Marylin E. 1999)

Tujuan :

o Tidak ada mual dan muntah.

o Menunjukkan berat badan stabil atau menungkat sesuai dengan yang


diharapkan nilai laboratorium normal.

Intervensi :

a. Auskultasi bising usus dan kaji apakah nyeri perut mual atau muntah.

Rasional :
Kekurangan kortisol dapat menyebabkan gejala gastrointestinal berat
yang mempengaruhi pencernaan dan absorbsi dari makanan.

b. Catat adanya kulit yang dingin atau basah, perubahan tingkat kesadaran,
nadi yang cepat, peka ransang,nyeri kepala sempoyongan.

Rasional :

Gejala hipoglikemia dengan timbulnya tanda tersebut mungkin perlu


pemberian glukosa dan mengindikasikan pemberian tambahan
glukokortikoid.

c. Pantau pemasukan makanan dan timbang berat badan setiap hari.

Rasional :

Anoreksia, kelemahan dan kehilangan pengaturan metabolisme oleh


kortisol terhadap makanan dapat mengakibatkan penurunan berat badan
dan terjadinya malnutrisi yang serius. Perhatikan : Berat badan yang
meningkat dengan cepat merupakan indikasi terjadinya retensi cairan atau
pengaruh dari pemberian glukokortikoid.

d. Catat muntah mengenai jumlah kejadian, atau karekteristik lainnya.

Rasional :

Ini dapat membantu menentukan derajat kemampuan pencernaan atau


absorbsi makanan.

e. Berikan informasi tentang menu pilihan.

Rasional :

Pencernaan menu yang disukai pasien dapat menstimulasi nafsu makan


dan meningkatkan pemasukan makanan.

f. Kolaborasi dengan ahli gizi.

Rasional :

Bermanfaat menentukan penggunaan / kebutuhan kalori dengan tepat.

g. Tingkatkan diet natrium, contoh : Daging, ikan, susu, telur.

Rasional :
Dapat menolong mencegah / memperbaiki hiponatremia.

h. Pantau Hb,Ht.

Rasional :

Anemia dapat terjadi akibat defisit nutrisi atau pencernaan (difusi ) yang
terjadi akibat retensi cairan sehubungan pemberian glukokortikoid.

4. Gangguan rasa nyaman nyeri kronis berhubungan dengan peningkatan asam


lambung (Doenges, Marylin E. 1999)

Tujuan :

o Menyatakan nyeri abdomen hilang / terkontrol.

o Menunujukkan menurunya tegangan, rileks, mudah bergerak.

Intervensi :

a. Pantau / catat karekteristik nyeri, catat laporan verbal, petunjuk non verbal,
dan respon hemodinamik ( contoh meringis, menangis, gelisah,
berkeringat, nafas cepat,TD / frekuensi jantung berubah.

Rasional :

Variasi penampilan dan perilaku pasien karena nyeri terjadi sebagai


temukan pengkajian.

b. Lingkungan yang tenang, aktivitas perlahan dan tindakan nyaman.

Rasional :

Menurunkan ransangan eksternal.

c. Kolaborasi dalam pemberian analgasik.

Rasional :

Untuk mengurangi nyeri pada abdomen.

5. Gangguan pola istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri kronis (


Doenges, marylin E. 1999 )

Tujuan :
o Kebutuhan istirahat tidur dapat terpenuhi.

o Kebutuhan tidur kurang lebih 7 -8 jam perhari.

o Klien tidak lesu dan tidak gelisah.

o Klien merasa nyaman.

Intervensi :

a. Jelaskan pada klien tentang pentingnya istirahat tidur bagi kesehatan.

Rasional :

Klien bisa mengerti manfaat tidur, sehingga termotivasi untuk memenuhi


kebutuhan istirahat tidurnya.

b. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.

Rasional :

Untuk mengalihkan dan mengurangi rasa nyeri yang dialami klien.

c. Kaji kebutuhan istirahat tidur pasien.

Rasional :

Mengetahui sejauh mana pasien / klien mengalami gangguan dalam


pemenuhan istirahat tidur.

d. Batasi jumlah pengunjung dan ciptakan lingkungan yang aman.

Rasional :

Mendukung usaha pemenuhan istirahat tidur klien.