Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN DEBRIDEMENT

DEFINISI

Debridement adalah proses pengangkatan jaringan avital atau jaringan mati dari

suatu luka. Jaringan avital dapat berwarna lebih pucat, coklat muda atau hitam dan dapat

kering atau basah.

Debridement adalah suatu tindakan untuk membuang jaringan nekrosis, callus dan

jaringan fibrotik. Jaringan mati yang dibuang sekitar 2-3 mm dari tepi luka ke jaringan sehat.

Debridement meningkatkan pengeluaran faktor pertumbuhan yang membantu proses

penyembuhan luka.

Tindakan debridement ini dilakukan untuk membuang jaringan yang mati serta

membantu mempercepat penyembuhan luka. Debridement dapat dilakukan secara surgical,

kimia/ enzimatik, mekanik, atau autolitik. Metode debridement yang dipilih tergantung pada

jumlah jaringan nekrotik, luasnya luka, riwayat medis pasien, lokasi luka dan penyakit

sistemik.

TUJUAN DEBRIDEMEN

Debridement memiliki tujuan antara lain (Brunner and Suddart, 2001) :

a. Menghilangkan jaringan yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing, sehingga

klien dilindungi terhadap kemungkinan invasi bakteri.

b. Menghilangkan jaringan yang sudah mati atau eskar dalam persiapan bagi graft dan

penyembuhan luka.

JENIS DEBRIDEMENT

1. Debridement Autolitik

Autolisis menggunakan enzim tubuh dan pelembab untuk rehidrasi,

melembutkan dan akhirnya melisiskan jaringan nekrotik. Debridement Autolitik


bersifat selektif, hanya jaringan nekrotik yang dihilangkan. Proses ini juga tidak nyeri

bagi pasien. Debridemen Autolitik dapat dilakukan dengan menggunakan balutan

oklusif atau semioklusif yang mempertahankan cairan luka kontak dengan jaringan

nekrotik. Debridement Autolitik dapat dilakukan dengan hidrokoloid, hidrogel atau

transparent films.

Indikasi

Pada luka stadium III atau IV dengan eksudat sedikit sampai sedang.

Keuntungan:

Sangat selektif, tanpa menyebabkan kerusakan kulit di sekitarnya.

Prosesnya aman, menggunakan mekanisme pertahanan tubuh sendiri untuk

membersihkan luka debris nekrotik .

Efektif dan mudah

Sedikit atau tanpa nyeri.

Kerugian:

Tidak secepat debridement surgikal.

Luka harus dimonitor ketat untuk melihat tanda-tanda infeksi.

Dapat menyebabkan pertumbuhan anaerob bila hidrokoloid oklusif

digunakan.

2. Debridement Enzymatik

Debridement enzimatik meliputi penggunaan salep topikal untuk merangsang

debridement, seperti kolagenase. Seperti otolisis, debridement enzimatik dilakukan

setelah debridement surgical atau debridement otolitik dan mekanikal. Debridement

enzimatik direkomendasikan untuk luka kronis.

Indikasi

Untuk luka kronis

Pada luka apapun dengan banyak debris nekrotik.

Pembentukan jaringan parut


Keuntungan

Kerjanya cepat

Minimal atau tanpa kerusakan jaringan sehat dengan penggunaan yang

tepat.

Kerugian:

Mahal

Penggunaan harus hati-hati hanya pada jaringan nekrotik.

Memerlukan balutan sekunder

Dapat terjadi inflamasi dan rasa tidak nyaman.

3. Debridement Mekanik

Dilakukan dengan menggunakan balutan seperti anyaman yang melekat

pada luka. Lapisan luar dari luka mengering dan melekat pada balutan anyaman.

Selama proses pengangkatan, jaringan yang melekat pada anyaman akan diangkat.

Beberapa dari jaringan tersebut non-viable, sementara beberapa yang lain viable.

Debridement ini nonselektif karena tidak membedakan antara jaringan sehat

dan tidak sehat. Debridement mekanikal memerlukan ganti balutan yang sering.

Proses ini bermanfaat sebagai bentuk awal debridement atau sebagai persiapan

untuk pembedahan. Hidroterapi juga merupakan suatu tipe debridement

mekanik.Keuntungan dan risikonya masih diperdebatkan.

Indikasi

Luka dengan debris nekrotik moderat.

Keuntungan:

Materialnya murah (misalnya tule)

Kerugian:

Non-selective dan dapat menyebabkan trauma jaringan sehat atau jaringan

penyembuhan

Proses penyembuhan lambat


Nyeri

Hidroterapi dapat menyebabkan maserasi jaringan. Juga penyebaran melalui

air dapat menyebabkan kontaminasi atau infeksi. Disinfeksi tambahan dapat

menjadi sitotoksik.

4. Debridement Surgikal

Debridement surgikal adalah pengangkatan jaringan avital dengan

menggunakan skalpel, gunting atau instrument tajam lain Debridement surgikal

merupakan standar perawatan untuk mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan

debridement surgikal adalah karena bersifat selektif; hanya bagian avital yang

dibuang. Debridement surgikal dengan cepat mengangkat jaringan mati dan dapat

mengurangi waktu. Debridement surgikal dapat dilakukan di tempat tidur pasien atau

di dalam ruang operasi setelah pemberian anestesi.

Ciri jaringan avital adalah warnanya lebih kusam atau lebih pucat(tahap

awal), bisa juga lebih kehitaman (tahap lanjut), konsistensi lebih lunak dan jika di

insisi tidak/sedikit mengeluarkan darah. Debridement dilakukan sampai jaringan tadi

habis, cirinya adalah kita sudah menemulan jaringan yang sehat dan perdarahan

lebih banyak pada jaringan yang dipotong.

Indikasi

Luka dengan jaringan nekrotik yang luas

Jaringan terinfeksi.

Keuntungan:

Cepat dan selektif

Efektif

Kerugian :

Nyeri

Mahal, terutama bila perlu dilakukan di kamar operasi


Luas dan radikalitas debridemet dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Teknik Operasi

Tindakan a dan antiseptic

Anestesi infiltrasi sekitar luka

Luka dicuci sampai bersih

Identifikasi jaringan nekrotik dan struktur neuro vaskular.

Jepit jaringan nekrotik dengan pinset, gunting

Ulangi langkah 5 sampai semua/sebagian besar jaringan terbuang. Sampai

jaringan sehat terlihat (sudah ada perdarahan normal)

Jika luka tertutup darah, cuci kembali dengan NaCl 0.9 %, lalu kembali

identifikasi jaringan nekrotik.

Selanjutnya tergantung tipe luka dapat dijahit primer atau dilakukan

perawatan luka terbuka atau tindakan definitif lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Lebrun E, Tomic-Canic M, Kirsner RS. The Role of Surgical Debridement in Healing of

Diabetic Foot Ulcers. Wound Repai and Regeneration.2010.

Alexiadou K, Doupis J. Management of Diabetic Foot Ulcers. Diabetes Ther. 2012.

Brunner and Sudarth. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC.

2001.

Riyadi, Sujono. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Eksokrin dan

Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta : Graha Ilmu. 2008.