Anda di halaman 1dari 4

Nama Kelompok : Linda Ramadhani (11150496)

Nadya Ratna Nandasari (11150516)


Nayli Hardiyanti R (11150518)

The Lincoln Electric Company


1. Resume Kasus
Lincoln electric didirikan oleh John C.Lincoln pada tahun 1895 untuk motor
dan generator listrik. Lincoln telah menjadi perusahaan manuufaktur produk las
listrik terbesar di dunia. Lincoln memiliki tiga ang gota dewan, yaitu John C.
Lincoln, James F Lincoln, dan Willian Irrgang yang menjadi ketua pada tahun
1972.
Lincoln memberikan kepercayaan yang tak terbatas terhadap orang lain
(pelanggan,karyawan) yang dianggap akan dapat mengembangkan kemampuannya
sepenuhnya. Lincoln juga memperlakukan karyawannya dengan baik, karena
karyawanlah yang dapat menciptakan produk sesuai keinginan pelanggan. Para
karyawan selalu berusaha untuk membuat produk dengan kualitas yang meningkat
dengan biaya yang semakin kecil, karena mereka sadar bahwa profit perusahaan
berasal dari pelanggan.
Sistem pembayaran gaji yang diterapkan oleh Lincoln yaitu menggunakan
sistem borongan. Karyawan akan digaji dan diberi bonus berupa uang sesuai
dengan kinerja mereka, misal berdasar unit yang diproduksi. Oleh karena itu
mereka tidak punya gaji pokok maupun upah per jam. Hal itu awalnya berjalan
dengan baik, namun beberapa waktu diketahui ada seorang perempuan yang
menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan karyawan lainnya, dimana ia sedang
makan siang dimejanya yang menggunakan satu tangan untuk makan sementara
tangan yang lain untuk menekan tuts.
Bagian perorangan dari pool bonus ditentukan oleh merit rating semi tahunan
yang mengukur kinerja individu dibandingkan dengan anggota lain pada
departemen atau kelompok kerja. Ada 4 faktor dalam menentukan merit rating
karyawan yang dinilai secara terpisah antara lain : keterandalan, kualitas,output, ide
dan kerjasama.
2. Analisis Kasus
Pengendalian yang dilakukan oleh Lincoln sebagian besar sudah cukup baik seperti:
Pengendalian hasil pada Insentif
Insentif yang diberikan kepada karyawan berupa uang sesuai dengan kinerja
mereka masing-masing. Lincoln mengukur kinerja bonus mereka dengan teliti
dan objektif dari keterandalan, kualitas,ouput, ide dan kerjasama.
Pengendalian akuntabilitas tindakan
Lincoln memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk ikut berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan secara tidak langsung.

Selain pengendalian diatas yang telah dilakukan oleh perusahaan Lincoln, mereka
juga harus memperhatikan problem yang dapat menjadi berantakan di
perusahaannya yakni sebagai berikut :

a. Kepercayaan yang tak terbatas


Lincoln memberikan kepercayaan yang tak terbatas terhadap orang lain
(karyawan, pelanggan) merupakan tindakan yang kurang tepat, karena
perusahaan ironisnya tidak boleh sepenuhnya menaruh kepercayaan pada
karyawan. Dikhawatirkan karyawan akan melakukan hal-hal menyimpang atau
menyepelekan kebijakan dari perusahaan Lincoln karena mereka menganggap
sudah sangat dipercayai, Lincoln tetap harus memperketat pengendaliannya
dengan pengendalian personel agar personality karyawannya tetap terjaga.
b. Kurangnya Pengawasan yang Cermat
Salah satu pekerja perempuan Lincoln diketahui bahwa ia sedang makan
siang dimana tangan satu untuk makan dan tangan lainnya untuk bekerja demi
mengejar target yang diinginkan merupakan hal yang sangat tidak efektif. Selain
itu, potensi untuk menghasilkan produkpun kurang maksimal. Sebagus apapun
program perusahaan, perusahaan Lincoln tetap harus melakukan pengendalian
tindakan yang ketat terhadap pelacakan tindakan, seperti pengawasan melalui
kamera cctv sehingga dapat diketahui aktivitas yang dilakukan oleh
karyawannya dan tidak ada kecurangan dalam melakukan pekerjaannya. Selain
itu juga perlu adanya teguran bagi karyawan yang tidak bekerja secara
profesional melalui surat peringatan ataupun yang lainnya.
PCL : Kerusakan dalam Penyelenggaraan Pengendalian Manajemen
1. Resume kasus
PCL merupakan perusahaan multinasional canggih yang berbasis di Eropa. Pada
tahun 2010 perusahaan ini memiliki tempat penjualan dan pelayanan serta situs
manufaktur dilebih 100 negara diseluruh dunia. Produk yang dibuat yaitu pesawat
televisi berwarna, pemutar DVD, produk audio, monitor PC, dan PC peripherals.
Pada tahun 2008, penanganan pesawat televisi yang dikembalikan merugikan
PCL sekitar US$6 juta, setara dengan sekitar 5% dari penjualan televisi tahunannya.
Biaya itu mencakup pengangkutan dari penyalur ke gudang PCL dan tempat reparasi
dibengkel pabrik. Tiap tahunnya, total barang yang dikembalikan oleh konsumen itu
sekitar 37% dari barang no fault found (NFF) returns atau mengalami kerugian US$
2,2 juta.
Tingginya tingkat pengembalian, manajemen PCL menugaskan manajer
pemasaran produk dari divisi TV untuk menyelidiki dan menemukan penyebab
masalahnya, manajer pemasaran kemudian membuat satuan tugas yang terdiri atas
manajer operasi penjualan, manajer servis, dan pengendalian keuangan dari bisnis
televisi. Dari hasil penyelidikan ternyata Pengecer maupun ASC tidak dilatih dalam
memberitahukan pelanggan mengenai kinerja produk atau kriteria untuk menerima
barang yang dikembalikan. Sehingga seringkali menerima barang yang dikembalikan
tanpa disertai pemeriksaan yang memadai, meskipun sudah ditetapkannya prosedur
persetujuan terhadap barang-barang tersebut.
Tim servis setelah penjualan PCL, yang bertanggung jawab untuk mengawasi
ASC, tidak melapor langsung kepada devisi televisi, tapi melapor kepada manajer
umum perusahaan. Tak hanya itu, mereka juga kadang memalsukan laporan
pemeriksaan, hal ini semakin buruk karena perusahaan PCL tidak memiliki kebijakan
jika ada kasus penipuan dalam internal perusahaan.

2. Analisis Kasus
a. Tidak Adanya Pelatihan Dan Arahan Karyawan
Tidak ada pelatihan dan arahan yang diberikan oleh manajemen terhadap
pengecer maupun ASC dalam memberitahukan pelanggan mengenai kinerja
produk atau kriteria untuk barang yang direturn merupakan tindakan yang kurang
tepat. Untuk mencapai tujuan perusahaan yang diinginkan, manajer PCL perlu
melakukan pengendalian akuntabilitas tindakan yang ketat yaitu melakukan
pelatihan dengan instruksi kerja yang mendetail terhadap ASC dan pengecer
mengenai bagaimana cara memeriksa dan menerima barang yang dikembalikan
dengan cermat, selain itu manajer PCL juga harus memberikan arahan mengenai
proses dan kriteria untuk barang yang direturn seperti barang yang dikembalikan
harus dikemas dalam kemasan PCL asli dengan semua aksesoris lainnya.
b. Pemisahan Tugas yang Jelek
Tim servis yang tidak melapor langsung kepada divisi televisi PCL, namun
langsung melaporkan kepada manajer umum perusahaan PCL merupakan
tindakan atau keputusan yang salah. Seharusnya lapor kepada manajer televisi
terlebih dahulu yang bertanggung jawab untuk permasalahan pada pemeriksaan
barang. Oleh karena itu manajer PCL harus melakukan pengendalian tindakan
yang ketat pada pembatasan perilaku terhadap pemisahan tugas yang baik
diperusahaan PCL, seperti manajer pemasaran produk televisi ditugaskan untuk
mengatur proses dan kriteria dalam pemasaran produk sementara direktur servis
yang akan menjadi pengambil keputusan nantinya.
c. Kurangnya Pengawasan Pada Bagian ASC
Selain gagal dalam menyelidiki barang yang direturn dengan cermat, ASC
juga memalsukan laporan pemeriksaan, hal tersebut merupakan tindakan yang
sangat buruk terhadap kinerja perusahaan. Dengan demikian manajer PCL harus
melakukan pengendalian akuntabilitas tindakan yang ketat dalam pelacakan
tindakan yakni dengan cara melakukan pengawasan atau memperhatikan aktivitas
ASC serta mendeteksi apakah ada hal yang mencurigakan, pengawasan tersebut
dapat berupa dipasangnya kamera cctv. Selain itu manajer PCL juga perlu
membuat keputusan atau kebijakan terhadap kasus penipuan atau ketidakpatuhan
pihak ASC seperti diberikannya hukuman berupa denda atau diberhentikan
sebagai pegawai.