Anda di halaman 1dari 41

Dampak Migrasi Ulang Alik dari Aspek Ekonomi, Sosial, Budaya dan

Keamanan Terhadap Masyarakat Penglaju Demak Semarang

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Analisis Kependudukan kelas C

Dosen Pengampu:
Dra. Herniwati Retno Handayani, MS.
Evi Yulia Purwanti, S.E., M.Si

Disusun oleh:
Prima Corry Wijaya 12020114130083
Cendikia Himawan T.N. 12020114140103
Wulaida Zuhriana 12020115120007
Resiska Septianingrum 12020115120025
Muhammad Rosyid Ridho 12020115120026
Yulianita 12020115120033
Dian Hotlando Damanik 12020115120052
Syahid Izzulhaq 12020115130082
Irza Nanda H 12020115130100

ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat kehendak-
Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Analisis Kependudukan. Adapun judul
yang dibahas dalam makalah ini adalah Dampak Migrasi Ulang Alik dari Aspek Ekonomi,
Sosial, Budaya dan Keamanan Terhadap Masyarakat Penglaju Demak Semarang.

Bimbingan, dorongan dan bantuan dari para pengajar sangat membantu penulis dalam
mengerjakan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada yang terhormat:
1. Dra. Herniwati Retno Handayani, MS. dan Evi Yulia Purwanti, S.E., M.Si. selaku
dosen pengampu mata kuliah Analisis Kependudukan yang telah banyak
meluangkan waktunya dalam mengarahkan, membimbing dan memberi masukan,
serta motivasi yang tak ternilai harganya kepada penulis selama mengikuti kegiatan
akademis dan selama penyusunan makalah ini.
2. Narasumber dalam penelitian ini yang telah meluangkan waktunya untuk
mengarahkan dan membimbing kami dalam melakukan penelitian untuk mencari
data selama penyusunan dalam makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan kerendahan
hati, penulis berharap semoga segala kekurangan yang ada pada makalah ini dapat dijadikan
bahan pembelajaran untuk penelitian yang lebih baik di masa yang akan datang, dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca serta pihak yang membutuhkan.

Semarang, 17 November 2017

Tim Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................5
1.1 Latar Belakang................................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................6
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian..................................................................6
1.4 Metode Pengumpulan dan Analisis Data......................................................7
1.4.1 Metode Pengumpulan Data......................................................................7
1.4.2 Metode Analisis Data................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................8
2.1 Landasan Teoritis............................................................................................8
2.1.1 Migrasi........................................................................................................8
2.1.2 Migrasi Ulang Alik....................................................................................9
2.1.3 Teori-Teori Migrasi.................................................................................11
2.1.4 Mobilitas Penduduk................................................................................13
2.2 Penelitian Terdahulu.....................................................................................14
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................20
3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian..........................................................20
3.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Demak (Kota Asal)...............................20
3.1.2 Gambaran Umum Kota Semarang (Kota Tujuan)...............................22
3.1.3 Gambaran Umum Responden.................................................................26
3.2 Faktor-faktor Terjadinya Migrasi Ulang Alik Kab.Demak Kota
Semarang........................................................................................................26
3.3 Dampak Positif dan Negatif Kabupaten Demak........................................29
3.3.1 Dampak Positif dan Negatif Kabupaten Demak: Ekonomi.................29
3
3.3.2 Dampak Positif dan Negatif Kabupaten Demak: Sosial.......................31
3.3.3 Dampak Positif dan Negatif Kabupaten Demak: Budaya....................32
3.3.4 Dampak Positif dan Negatif Kabupaten Demak: Keamanan..............33
3.4 Dampak Positif dan Negatif Kota Semarang..............................................34
3.4.1 Dampak Positif dan Negatif Kota Semarang: Ekonomi.......................34
3.4.2 Dampak Positif dan Negatif Kota Semarang: Sosial.............................35
3.4.3 Dampak Positif dan Negatif Kota Semarang: Budaya.........................36
3.4.4 Dampak Positif dan Negatif Kota Semarang: Keamanan....................36
BAB IV PENUTUP..............................................................................................37
4.1 Kesimpulan.....................................................................................................37
4.2 Saran...............................................................................................................37
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................38

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Analisis demografi sangat diperlukan untuk kebijakan kependudukan dengan
mempertimbangkan pola dinamika kependudukan yang terjadi karena adanya dinamika
kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk (migrasi) terhadap perubahan-perubahan dalam
jumlah, komposisi dan pertumbuhan penduduk. Namun salah satu masalah dari kependudukan
yaitu pertumbuhan angkatan kerja yang tidak sebanding dengan penyediaan lapangan kerja
sehingga menyebabkan meningkatnya angka pengangguran, fenomena ini yang mendorong
meningkatnya arus perpindahan penduduk.
Perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan menjadi salah satu bagian dari
proses pembangunan. Proses urbanisasi di Indonesia diperkirakanakan lebih banyak disebabkan migrasi
desa-kota, yang didasarkan pada makin rendahnya pertumbuhan alamiah penduduk di daerah perkotaan,
relatif lambannya perubahan status dari daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, serta relatif kuatnya
kebijaksanaan ekonomi dan pembangunan yang "urban bias", sehingga memperbesar daya tarik daerah
perkotaan bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan (Prijono, 2000).
Lee (1996), Todaro (1995) dan Titus (1982) A Theory of Migration berpendapat,
motivasi utama untuk berpindah adalah motif ekonomi, motif yang mana berkembang karena
adanya ketimpangan ekonomi antardaerah. Oleh karena itu pengerahan penduduk cenderung ke
kota yang memiliki kekuatan yang relatif diharapkan dapat memenuhi harapan ekonominya.
Arus migrasi dari desa ke kota seringkali mengakibatkan dampak negatif di kota besar.
Permintaan terhadap kesempatan kerja, fasilitas infrastruktur dan pelayanan kota seperti :
komunikasi, sekolah, rumah sakit, air, penerangan dan listrik cenderung meningkat.
Fenomena migrasi yang berlangsung dalam suatu negara (internal migration) banyak terlihat di
berbagai wilayah Indonesia (interprovincial) (Prasetyo, 1995; Tommy, 1994). Salah satu daerah yang
mencerminkan adanya fenomena migrasi antar daerah (interprovincial migration) diperlihatkan oleh
masyarakat Kabupaten Demak yang melakukan migrasi ulang alik ke Kota Semarang, hal ini dikarenakan
semakin meningkatnya kebutuhan tiap individu dalam satu rumah tangga, banyak masyarakat
Kab. Demak memilih untuk bekerja di Kota Semarang yang wilayah perkotaan berbatasan
langsung sehingga memiliki jarak tidak terlampau jauh.

5
Salah satu alasan yang mendasar mengapa penduduk bersedia melakukan commuting
adalah karena upah minimum kerja (UMR) tahun 2017 di Kota Semarang sebesar Rp 2.125.000
lebih tinggi di bandingkan UMR Kabupaten Demak sebesar Rp 1.900.000. Interaksi yang terjadi
antara penduduk Demak dengan Kota Semarang menjadi semakin kuat karena kegiatan tersebut
berlangsung setiap hari.
Tentu migrasi ulang alik yang dilakukan oleh masyarakat Kab. Demak ke Kota Semarang
menimbulkan berbagai dampak dari aspek ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan baik dari
daerah asal maupun daerah tujuan. Oleh, karena itu dalam penelitian ini akan dikaji lebih lanjut
terkait faktor dan dampak yang terjadi akibat migrasi ulang alik masyaratak Kab. Demak dan
Kota Semarang.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini penulis mencoba meneliti faktor apa sajakah yang dapat
mempengaruhi masyarakat Demak yang lebih memilih bekerja di Kota Semarang, sehingga
dapat di rumuskan pertanyaan kajian sebagai berikut:
1. Gambaran umum mengenai wilayah Kabupaten Demak, dan kondisi pekerjaan yang ada
di Kabupaten Demak
2. Faktor yang menyebabkan masyarakat Demak lebih memilih bekerja di Kota Semarang
3. Dampak yang di timbulkan dengan adanya migrasi ulang alik pada Kabupaten Demak
maupun Kota Semarang.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Melalui pembahasan diatas baik latar belakang maupun rumusan masalah, maka dapat di
simpulkan bahwa kami melakukan penelitian ni bertujuan untuk
1. Memberi gambaran mengenai wilayah Kabuapten Demak dan kondisi pekerjaan yang ada
di Kabupaten Demak.
2. Memberikan gambaran mengenai faktor yang menyebabkan masyarakat Demak lebih
memilih bekerja di Kota Semarang
3. Memberikan gambaran tentang dampak yang di timbulkan adanya migrasi ulang alik baik
pada Kabupaten Demak maupun Kota Semarang.
4. Rekomendasi untuk kebijakan pemerintah daerah penelitian.

6
1.4 Metode Pengumpulan dan Analisis Data
1.4.1 Metode Pnegumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
melakukan melakukan wawancara berdasarkan kuesioner yang telah disusun terhadap responden
dan secara dokumentasi dengan studi pustaka dari berbagai literatur atau buku-buku yang
berkaitan dengan permasalahan ini dan berbagai sumber-sumber lain yang berasal dari instansi-
instansi terkait yaitu kantor BPS Jawa Tengah, BPS Kota Semarang dan BPS Kabupaten Demak.
1.4.2 Metode Analisis Data

Metode analisis data kualitatif yang digunakan pada penelitian ini sesuai dengan
Miles dan Huberman yang menyatakan bahwa terdapat tiga teknik analisisi data kualitatif yaitu
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Proses ini berlangsung terus-menerus
selama penelitian berlangsung, bahkan sebelum data benar-benar terkumpul.

(1) Reduksi Data


Reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.
Reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan,
menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan
mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat
diambil. Reduksi tidak perlu diartikan sebagai kuantifikasi data
(2) Penyajian Data
Penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.
Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun,
sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan.
Bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan
lapangan), matriks, grafik, jaringan dan bagan.
(3) Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan salah satu dari teknik analisis data
kualitatif. Penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat
digunakan untuk mengambil tindakan.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Migrasi

Menurut Rozy Munir dalam buku Dasar-Dasar Demografi, Migrasi adalah


perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain
melampaui batas politik/negara ataupun batas administratif/batas bagian dalam suatu
negara. Jadi migrasi sering diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari
suatu daerah ke daerah lain. Ada dua dimensi penting yang perlu ditinjau dalam
penelaahan migrasi, yaitu dimensi waktu dan dimensi daerah. Untuk dimensi waktu
ukuran yang pasti tidak ada karena sulit menentukan berapa lama seseorang pindah
tempat tinggal untuk dapat dianggap sebagai seorang Imigran, tetapi biasanya digunakan
definisi yang ditentukan dalam sensus penduduk. Untuk dimensi daerah secara garis
besarnya dibedakan perpindahan antar negara yaitu perpindahan penduduk dari suatu
negara ke negara lain yang disebut Migrasi Internasional dan perpindahan yang terjadi
dalam satu negara misalnya antar provinsi, kota atau kesatuan administratif lainnya yang
dikenal dengan Migrasi Intern. Batasan Unit Wilayah bagi migrasi di Indonesia menurut
sensus tahun 1961, 1971 dan sensus tahun 1980 adalah provinsi. Migrasi merupakan
suatu aktivitas pindahnya seseorang sedangkan orangnya yang pindah tempat tinggal
disebut Migran.
Definisi migran menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa : a migrant is a person
who changes his place of residence from one political or a administrative area to
another. pengertian ini dikaitkan dengan pindahtempat tinggal secara permanen sebab
selain itu dikenal pula moveryaitu orang yang pindah dari satu alamat ke alamat lain
dan dari satu rumah ke rumah lain dalam batas satu daerah kesatuan politik atau
administratif, misalnya pindah dalam satu Propinsi. Migrasi sendiri memiliki beberapa
jenis yang salah satunya yang akan lebih dibahas dalam penelitian ini.

8
2.1.2 Migrasi Ulang Alik
Pada gerak penduduk yang bersifat non permanen, sirkulasi dan commuter
menurut Zelinsky dalam Rusli (1985: 107) tercakup dalam istilah circulation. Istilah ini
secara umum bermakna berbagai macam gerak penduduk yang biasanya berciri jangka
pendek, repetitif, atau siklikal. Hal itu punya kesamaan dalam tak nampak niat yang jelas
untuk merubah tempat tinggal yang permanen. Dengan demikian, ciri pokok dari
sirkulasi dan commuter adalah tak terjadi pindah tempat tinggal permanen dari orang-
orang yang terlibat di dalamnya. Sirkulasi merupakan gerak berselang antara tempat
tinggal dan tempat tujuan baik untuk bekerja ataupun untuk menuntut ilmu. Dalam
sirkulasi ada periode waktu tertentu di mana sirkulator menginap di tempat tujuan. Hal ini
berbeda dengan commuter yang semata-mata merupakan gerak penduduk harian yaitu
gerak berulang hampir setiap hari antara tempat tinggal dan tempat tujuan. Seorang
commuter pada dasarnya tidak punyak rencana untuk menginap di daerah tujuan. Dari
pendapat Zelinsky di atas dapat disimpulkan bahwa penglaju (commuter) adalah
seseorang yang bekerja dalam satu hari. Mereka pergi pada pagi hari dan kembali sore
hari atau dihari yang sama yang dilakukan secara terus menerus setiap harinya. Faktor-
faktor yang menyebabkan terjadinya penglaju (commuter). Ada beberapa macam
penyebab mengapa penglaju (commuter) lebih banyak terjadi dibandingkan dengan
menetap. Menurut Mantra (1995: 6-19), dijelaskan ada tiga faktor yang menyebabkan
terjadinya penglaju (commuter) di antaranya ialah:
a) Senrifugal
Kekuatan sentrifugal adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk
meninggalkan daerah asal. Terbatasnya kesempatan kerja di bidang pertanian dan
non pertanian serta terbatasnya fasilitas pendidikan mendorong penduduk untuk
pergi ke daerah lain di mana kesempatankesempatan tersebut terdapat. Kedua
kekuatan di atas terlihat bahwa satu dengan yang lain saling pertentangan.
Penduduk dihadapkan pada dua keadaan yang sulit untuk dipecahkan. Apakah
tetap tinggal di desa dengan keadaan ekonomi yang sulit dan fasilitas pendidikan
yang terbatas, ataukah berpindah ke daerah lain, meninggalkan desa,
sawah/ladang dan sanak saudara? Konflik tersebut di atas oleh penduduk dengan

9
melakukan commuter yang merupakan kompromi antara tetap berdiam di daerah
asal dan berpindah ke daerah lain.
b) Perbaikan Saranan dan Prasarana Transportasi
Dorongan untuk melaksanakan commuter bagi para migran didukung oleh
perbaikan sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan desa dengan
kota sejak tahun 1970-an di Jawa. Sebelumnya bagi penduduk yang bekerja dan
yang menempuh pendidikan menginap di daerah tujuan. Tetapi setelah jalan yang
menghubungkan antara desa dan kota sudah diperbaiki dan banyaknya kendaraan
umum yang melalui rute jalan tersebut, banyak dari mereka menjadi penglaju
(commuter). Dengan tersedianya sarana dan prasarana angkutan yang relatif
murah, banyak dari mereka yang melakukan commuter untuk berdagang, sekolah
atau kuliah, buruh dan lain-lainnya. Ramainya lalu lintas orang dan barang yang
pergi dan begitu juga sebaliknya dapat dilihat dari tingginya frekuensi kendaraan,
yang hampir setiap kali penuh dengan penumpang. Jadi, sesuai dengan
perubahan-perubahan di atas, terlihatlah adanya perubahan bentuk mobilitas
penduduk, misalnya dari yang tadinya menetap menjadi tidak menetap. Dari yang
tadinya menginap di daerah tujuan menjadi penglaju (commuter).
c) Kesempatan Kerja di Sektor Formal dan Informal
Tekanan penduduk yang tinggi di desa dan terbatasnya lapangan pekerjaan
di luar sektor pertanian menyebabkan masyarakat mencoba mencari kehidupan di
kota-kota sekitarnya. Banyak dari para pendatang yang bekerja di sektor informal
dengan upah rendah dan tidak menentu. Urbanisasi di Indonesia tidak diikuti
dengan terjadinya perluasan lapangan pekerjaan di kota. Kecilnya pendapatan
penduduk yang bekerja di kota, dan tingginya biaya hidup, tidaklah mungkin bagi
para migran untuk bertempat tinggal di kota bersama keluarganya. Inilah
sebabnya mengapa sebagian dari mereka tetap bertempat tinggal di desa dan tiap
hari melakukan commuter ke kota. Dengan tinggal di desa di samping biaya hidup
lebih murah, penduduk dapat pula bekerja di sawah atau ladang setelah bekerja di
kota. Ini berati mereka dapat menambah pendapatan.

10
2.1.3 Teori-teori Migrasi
Teori migrasi mula-mula diperkenalkan oleh Ravenstein dalamtahun 1985 dan kemudian
digunakan sebagai dasar kajian bagi parapeneliti lainnya (Lee, 1966; Zelinsky, 1971 dalam
Waridin, 2002). Parapeneliti tersebut mengatakan bahwa motif utama atau faktor primer
yangmenyebabkan seseorang melakukan migrasi adalah karena alasanekonomi.Teori migrasi
menurut Ravenstein (1985) mengungkapkan tentangperilaku mobilisasi penduduk (migrasi) yang
disebut dengan hukum-hukummigrasi berkenaan sampai sekarang. Beberapa diantaranya
adalahsebagai berikut :
a. Para migran cenderung memilih tempat tinggal terdekat dengan daerahtujuan.
b. Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi seseorang untukbermigrasi adalah
sulitnya memperoleh pendapatan di daerah asal dankemungkinan untuk memperoleh
pendapatan yang lebih baik di daerahtujuan.
c. Berita-berita dari sanak saudara atau teman yang telah pindah kedaerah lain merupakan
informasi yang sangat penting.Informasi yang negatif dari daerah tujuan mengurangi niat
pendudukuntuk bermigrasi.
d. Semakin tinggi pengaruh kekotaan terhadap seseorang, semakin besartingkat mobilitas
orang tersebut.
e. Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi frekuensimobilitas orang tersebut.
f. Para migran cenderung memilih daerah dimana telah terdapat temanatau sanak saudara
yang bertempat tinggal di daerah tujuan.
g. Pola migrasi bagi seseorang maupun sekelompok penduduk sulit untukdiperkirakan.
h. Penduduk yang masih muda dan belum menikah lebih banyakmelakukan migrasi
dibandingkan mereka yang berstatus menikah.
i. Penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi biasanya lebihbanyak mobilitasnya
dibandingkan yang berpendidikan rendah.

Mantra, Kastro dan Keban (1999) dalam Waridin (2002) menyebutkan bahwa ada beberapa
teori yang mengungkapkan mengapaseseorang melakukan mobilitas, diantaranya adalah teori
kebutuhan danstres. Setiap individu mempunyai beberapa macam kebutuhan yang
berupakebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan psikologis. Semakin besarkebutuhan yang tidak
terpenuhi, semakin besar stres yang dialamiseseorang. Apabila stres sudah berada di atas batas

11
toleransi, makaseseorang akan berpindah ke tempat lain yang mempunyai nilaikefaedahan atau
supaya kebutuhannya dapat terpenuhi. Perkembanganteori migrasi ini kemudian dikenal sebagai
model stress treshold ataumodel place utility. Model semacam ini juga diterapkan oleh
Keban(1994) dan Susilowati (1998) dalam Ara (2008).
Everett S. Lee (1976) mengungkapkan bahwa volume migrasi disatu wilayah berkembang
sesuai dengan keanekaragaman daerah-daerah didalam wilayah tersebut. Bila melukiskan di
daerah asal dan daerah tujuanada faktor-faktor positif, negatif dan adapula faktor-faktor netral.
Faktorpositif adalah faktor yang memberi nilai yang menguntungkan jika bertempat tinggal di
daerah tersebut, misalnya di daerah tersebut terdapatsekolah, kesempatan kerja, dan iklim yang
baik. Sedangkan faktor negatif adalah faktor yang memberi nilai negatif pada daerah yang
bersangkutansehingga seseorang ingin pindah dari tempat tersebut. Perbedaan nilaikumulatif
antara kedua tempat cenderung menimbulkan arus imigrasipenduduk.
Selanjutnya Everett S. Lee (1976) menambahkan bahwa besarkecilnya arus migrasi juga
dipengaruhi rintangan, misalnya ongkos pindahyang tinggi dan menurutnya terdapat 4 faktor
yang perlu diperhatikandalam proses migrasi penduduk antara lain :
a. Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal
b. Faktor-faktor yang terdapat di tempat tujuan
c. Rintangan antara daerah asal dan daerah tujuan
d. Faktor-faktor daerah asal dan daerah tujuan.
Gambar 2.1 Faktor Determinan Mgrasi Penduduk Menurut Everett S. Lee

12
Pada masing-masing daerah terdapat faktor-faktor yang menarikseseorang untuk tidak
meninggalkan daerah tersebut (faktor positif) danfaktor-faktor yang tidak menyenangkan sehigga
menyebabkan seseoranguntuk meninggalkan daerah tersebut (faktor negatif). Di samping
ituterdapat faktor-faktor yang pada dasarnya tidak ada pengaruhnya terhadapdaerah tersebut,
faktor ini disebut dengan nol (0). Diantara ke empat faktortersebut, faktor individu merupakan
faktor yang sangat menentukan dalampengambilan keputusan untuk bermigrasi. Penilaian positif
atau negatif suatu daerah tergantung pada individu itu sendiri.
Robert Norris (1972) adanya tambahan tiga komponen daripendapat Lee, yaitu migrasi
kembali, kesempatan antara, dan migrasipaksaan (force migration). Noriss berpendapat bahwa
faktor daerah asalmerupakan faktor terpenting. Dapat dikatakan bahwa penduduk migran
adalah penduduk yang bersifat bi local population, yaitu dimanapunmereka bertempat tinggal,
pasti mengadakan hubungan dengan daerahasal.

2.1.4 Mobilitas Penduduk

Menurut Mantra (1995: 1-2), mobilitas penduduk dibagi menjadi dua yaitu mobilitas
penduduk vertikal atau perubahan status dan mobilitas penduduk horizontal atau mobilitas
penduduk geografis. Mobilitas penduduk vertikal adalah perubahan status seseorang, misalnya
seseorang pada tahun tertentu aktivitasnya pada bidang pertanian, pada beberapa tahun
berikutnya ia bekerja sebagai pegawai negeri. Jadi perubahan status seseorang dari waktu
tertentu ke waktu yang lain atau pada waktu yang sama disebut mobilitas penduduk vertikal,
sedangkan mobilitas penduduk horizontal adalah gerak penduduk dari satu wilayah menuju ke
wilayah yang lain dalam jangka waktu tertentu. Belum adanya kesepakatan di antara para ahli
mobilitas penduduk mengenai ukuran batas wilayah dan waktu ini, menyebabkan hasil penelitian
mengenai mobilitas penduduk di antara peneliti tidak dapat dibandingkan. Mengingat bahwa
skala penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang mobilitas penduduk adalah bervariasi
antara peneliti yang satu dengan penelitian lain. Sulit bagi seorang peneliti mobilitas penduduk
untuk menggunakan batas wilayah dan waktu yang baku/standard (Mantra, 1995: 2), sehingga
sebaiknya tidak terdapat batasan baku untuk batas wilayah dan waktu dalam penelitian mobilitas
penduduk. Semakin sempit batasan ruang dan waktu yang digunakan dalam suatu penelitian
maka semakin banyak terjadi gerak penduduk antara wilayah tersebut (Mantra, 1995: 5).
Mobilitas penduduk horizontal dapat dibagi menjadi dua, yaitu mobilitas permanen atau migrasi,

13
dan mobilitas atau gerak penduduk non permanen (migrasi sirkuler). Mobilitas permanen adalah
perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dengan maksud untuk menetap di
daerah tujuan, sedangkan mobilitas non permanen adalah gerak penduduk dari satu tempat ke
tempat lain dengan tidak ada niat untuk menetap di daerah tujuan. Mobilitas penduduk non
permanen dapat dibedakan menjadi dua, pertama mobilitas penduduk ulang-alik (commuter)
yaitu gerak penduduk dari daerah asal ke daerah tujuan dalam batas waktu tertentu dengan
kembali ke daerah asal pada hari itu juga, kedua adalah gerak penduduk dari daerah asal ke
daerah tujuan lebih dari satu hari dan kurang dari enam bulan (Mantra, 1995: 2-3). Jadi secara
keseluruhan pengklasifikasian mobilitas penduduk dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Skema Bentuk Mobilitas Penduduk

2.2 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang kami jadikan acuan adalah sebagai berikut,

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

NO Judul dan Penulis Tujuan Penelitian Variabel dan Metode Hasil Penelitian
Analisis Data

DIDIT PURNOMO, Untuk mencoba Metode pengumpulan Berdasarkan temuan di


lapangan terdapat 4,8
1 FENOMENA melanjutkan data yaitu di awali
persen perantau yang
MIGRASI TENAGA penelitian dengan survey untuk
berniat untuk menetap di
KERJA DAN terdahulu yang mendapatkan informasi perantauan, sedangkan

14
PERANNYA BAGI meneliti tentang tentang perkembangan 15,6 persen perantau tidak
berniat untuk menetap.
PEMBANGUNAN migrasi penduduk aktivitas migrasi di
Maka dapat di simpulkan
DAERAH ASAL: dengan subyek daerah penelitian.
bahwa kecenderungan
STUDI EMPIRIS DI penelitian di Obyek penelitian yaitu migran asal Wonogiri tetap
KABUPATEN daerah Kabupaten di fokuskan sebagai migran silkuler.
WONOGIRI, 2009 Wonogiri. Selain untukmendapatkan data Dengan demikian para
tenaga kerja asal wonogiri
itu untuk dari para responden
ini akan lebih suka tetap
menganalisa yaitu di fokuskan pada
tinggal di desa asalnya bila
bagaiman kondisi migran. Analisis data di tersedia lapangan
tenaga kerja di lakukan secara kualitatif pekerjaan atau lahan yang
Kabupaten maupun kuantitaif dapat di garap.

Wonogiri, dan analisis kuantitatif


dampak adanya dengan model logistik di
migrasi terhadap karenakan dependen
tingkat variabel dalam
kesejahteraan penelitian ini bersifat
masyarakat dikotomi atau
tersebut. multinominal.
2 AYU WULAN Untuk Variabel : faktor usia, Dari 100 orang
PUSPITASARI, menganalisis pendapatan, pekerjaan, responden, sebesar 63
ANALISIS FAKTOR- faktor-faktor yang asal, tingkat pendapatan, responden yang
FAKTOR YANG dapat status perkawinan, dan menjawab bahwa
MEMPENGARUHI memengaruhi kepemilikan tanah mereka bertujuan
MINAT MIGRASI migrasi sirkuler terhadap minat migrasi untuk tidak menetap di
SIRKULER KE untuk mengambil ke Kabupaten Semarang daerah tujuanmigrasi
KABUPATEN keputusan menetap atau memilih
SEMARANG, 2010 di Kabupaten untukkembali ke
Semarang atau Teknik analisis daerah asal. Berarti
memilih menggunakan metode sebagian besar
melakukan migrasi Logistic Regression responden mempunyai
sirkuler. Model dan juga statistik niat sebagai migran

15
deskriptif. sirkuler.
3. SURYA untuk mengetahui Variabel : umur, tingkat Variabel umur, tingkat
DEWI ada atau tidaknya pendidikan, lama pendidikan, lama
RUSTARIYU pengaruh upah, melakukan mobilitas, melakukan mobilitas
RI, FAKTOR- lama melakukan dan upah dan upah berpengaruh
FAKTOR mobilitas sirkuler, secara
YANG umur Metode penelitian: simultan dan
MEMPENGA dan tingkat menggunakan Binary signifikan terhadap
RUHI MINAT pendidikan secara Logistik dengan data keputusan minat
MIGRAN simultan dan Primer sebanyak 90 melakukan mobilitas
MELAKUKA parsial terhadap responden. ke Kota Denpasar.
N mobilitas sirkuler Variabel tingkat
MOBILITAS ke Kota Denpasar. pendidikan dan upah
NON Untuk mengetahui secara parsial
PERMANEN variabel yang berpengaruh positif
KE KOTA berpengaruh terhadap keputusan
DENPASAR, dominan terhadap minat melakukan
2013 mobilitas sirkuler mobilitas ke Kota
ke Kota Denpasar. Denpasar.

16
ANGGA Untuk mengetahui Variabel: upah, Yang memiliki
ERLANDO, karakteristik pekerjaan sektor jasa, kecenderungan untuk
4 ANALISIS migran sirkuler pekerjaan sektor menentukan
TERHADAP yang sifatnya perdagangan, pekerjaan minat atau keputusan
MIGRAN tidak menetap sektor industri, jarak melakukan migrasi
SIRKULER DI (ulang-alik) dan status dalam keluarga, sirkuler secara ulang
KOTA SURABAYA, para migran yang status alik/harian/tidak
2016 pulang dalam pernikahan, jenis menetap adalah
tempo mingguan kelamin, jenjang variabel pekerjaan
atau bulanan pendidikan,umur,dan disektor jasa, status
(menetap). Selain daerah asal. penikahan, tingkat
itu untuk pendidikan, dan
mengetahui faktor- Metode penelitian: daerah asal
faktor pembeda dengan menggunakan (perkotaan)
yang data sekunder, data karena memilikin
mempengaruhi tersebut diolah pada kofisien positif dan
migrasi sirkuler probit dan sebagi signifikan. Sementara
yang sifatnya pembandingya kecenderungan untuk
harian (ulang- menggunkan LPM melakukan
alik) dengan yang (Linear Probability migrasi dengan ada
sifatnya pulang Model) melalui operasi proses menetap
secara mingguan software Stata 10. (mingguan/bulanan)
atau bulanan. pulang, lebih
cenderung karena
faktor
pekerjaan disektor
industri, jarak, status
kepala rumah tangga,
dan umur, karena
adanya kofisien
negative secara

17
signifikan.

RABUL ALAMIN,
5. FAKTOR YANG Metode penelitian di Faktor pendorong
MEMPENGARUHI Untuk mengetahui lakukan dengan responden yang
MOBILITAS faktor yang menggunakan data melakukan mobilitas
ULANG ALIK mempengaruhi primer. Data primer ulang alik ke Kota
PENDUDUK mobilitas ulang alik diperoleh melalui Banjarmasin bagi
KECAMATAN penduduk observasi, wawancara yang bekerja adalah
TAMBAN MENUJU Kecamatan Tamban dan kuesioner sedangkan karena kurangnya
KOTA menuju Kota data sekunder diperoleh lapangan pekerjaan di
Banjarmasin. melalui studi dokumen,
BANJARMASIN, daerah asal, bagi yang
2015 studi kepustakaan dan sekolah karena
internet. Analisis data terbatasnya fasilitas
yang digunakan adalah
pendidikan didaerah
dengan teknik analisis
asal dan ditambah
persentase.
semakin baiknya
sarana transportasi
dari daerah asal
menuju Kota
Banjarmasin. Faktor
penarik responden
yang melakukan
mobilitas ulang alik ke
Kota Banjarmasin
bagi yang bekerja
karena untuk
mencukupi kebutuhan.

18
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian


3.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Demak (Kota Asal)

Wilayah Kabupaten Demak terletak di bagian utara Pulau Jawa dengan luas wilayah 89.743
ha dengan jarak bentangan Utara ke Selatan 41 km dan Timur ke Barat 49 km dan berbatasan
langsung dengan Laut Jawa. Adapun kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa
adalah kecamatan Sayung, Bonang, dan Wedung. Secara geografis Kabupaten Demak terletak
pada 1102758-1104847 Bujur Timur dan 64326-70943 Lintang Selatan dengan
batas-batas administrasi wilayah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Peta Administratif Kabupaten Demak

Sumber : kabdemak.go.id

Sebelah Utara : Kabupaten Jepara dan Laut Jawa


Sebelah Timur : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Grobogan

19
Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang
Sebelah Barat : Kota Semarang

Sebagai daerah agraris yang kebanyakan penduduknya hidup dari pertanian, sebagian besar
wilayah Kabupaten Demak terdiri atas lahan sawah yang mencapai luas 50.893 ha (56,71
persen), dan selebihnya adalah lahan kering. Menurut penggunaannya, sebagian besar lahan
sawah yang digunakan berpengairan teknis 36,11 % dan tadah hujan 34,83 %, dan setengah
teknis dan sederhana 29,06 %. Sedangkan untuk lahan kering 34,82 % digunakan untuk
tegal/kebun, 29,60 % digunakan untuk bangunan dan halaman, serta 18,17 % digunakan untuk
tambak.

Sebagian penduduk bermata pencaharian petani karena sebagian besar wilayah adalah berupa
lahan sawah yang cukup potensial yaitu 48.778 ha (54,35 persen) dan selebihnya sebesar 40.970
ha (45,65 persen) berupa lahan kering. Menurut penggunaannya, sebagian besar lahan sawah
yang digunakan berpengairan tadah hujan 18,98 persen (17.029 ha), teknis 21,65 persen (19.430
ha), setengah teknis 6,19 persen (5.558 ha), sederhana PU 2,72 persen (2.439 ha) dan sederhana
non PU 4,81 persen (4.317 ha). Sedang untuk lahan kering 17,31 persen (15.532 ha) digunakan
untuk tegal/kebun, 14,84 persen (13.319 ha) digunakan untuk bangunan dan halaman, 8,04
persen (7.211 ha) digunakan untuk tambak, 0,07 persen (63 ha) digunakan untuk
tebat/empang/rawa, 1,75 persen (1.572 ha) berupa hutan negara, serta 3,65 persen (3.273 ha)
untuk keperluan lainnya.

a. Kondisi Sosial Ekonomi

Jumlah penduduk Kabupaten Demak Tahun 2015 berdasarkan estimasi dari Badan Pusat
Statistik Kabupaten Demak sebanyak 1.117.901 jiwa, terdiri dari 553.876 jiwa (49,55%) laki-laki
553.876
dan 564.025 jiwa (50,45%) perempuan. Rasio penduduk berdasarkan jenis kelamin : x
564.025

100 = 98,20 yang artinya terdapat 98 laki-laki diantara 100 perempuan. Jumlah tersebut
menunjukkan bahwa struktur penduduk Kabupaten Demak tertinggi usia 15 19 tahun
sedangkan berdasar kelompok umur produktif jumlah penduduk produktif ( Usia 15 64 tahun )
Kabupaten Demak sebanyak 758.944 (67,89%) jiwa sedangkan penduduk non produktif (Usia 0
14 tahun dan 65 75+ tahun) sebanyak 358.957 (32,11%) jiwa. Hal ini menunjukkan

20
358.957
Dependency ratio x 100 = 47,30. Jadi setiap 10 orang penduduk menanggung 47 orang
758.944

penduduk non produktif.

Struktur ekonomi Kabupaten Demak masih didominasi oleh lapangan usaha Industri
pengolahan yang mencapai 28,83 persen. Tak heran bila perkembangan produksi di lapangan
usaha ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Untuk tahun
2014, sebesar 2,34 persen dari 4,27 persen pertumbuhan ekonomi Demak disumbangkan oleh
Lapangan Usaha industri pengolahan, dan apabila dibandingkan dengan tahun 2013
pertumbuhan ekonomi Demak sedikit menurun. PDRB per kapita dapat mencerminkan peluang
pendapatan yang diterima tiap penduduk. PDRB per kapita tahun 2014 mencapai 15,47 juta
rupiah per kapita per tahun, meningkat 9,07 persen dari tahun sebelumnya.

Posisi Kabupaten Demak dalam perekonomian Jawa Tengah dapat dilihat dengan
membandingkan beberapa indikator ekonomi dengan kabupaten/kota lain. Dari total PDRB Jawa
Tengah sebesar kurang lebih 925 trilyun rupiah, Kabupaten Demak hanya memberi andil 1,85
persennya saja. Untuk laju pertumbuhan ekonomi, Kabupaten Demak masih di bawah
pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah maupun nasional. Dibanding dengan kabupaten/kota
sekitarnya seperti Grobogan, Kudus, Jepara, Semarang, Kendal serta kota Semarang, PDRB
Kabupaten Demak termasuk yang paling kecil kedua nilainya. PDRB Demak kurang lebih hanya
seperenam PDRB Kabupaten Kudus, namun demikian pertumbuhan ekonomi Kabupaten Demak
sebesar 4,27 persen tahun 2014 masih lebih tinggi dibanding Kabupaten Grobogan yang tumbuh
4,03 persen. PDRB per kapita yang menggambarkan produktivitas penduduk, untuk Kabupaten
Demak sebesar 15,47 juta rupiah hanya sedikit berada di atas Kabupaten Grobogan sebesar 13,52
juta rupiah dan sangat jauh bila dibandingkan dengan Kabupaten Kudus dan Kota Semarang
dimana masing-masing mencapai 93,36 juta rupiah dan 72,48 juta rupiah.

3.1.2 Gambaran Umum Kota Semarang (Kota Tujuan)

Letak dan kondisi geografis Kota Semarang memiliki posisi astronomi di antara garis 6050
7o10 Lintang Selatan dan garis 109035 110050 Bujur Timur, dengan batas-batas sebagai
berikut:

21
Gambar 3.2 Peta Administratif Kota Semarang

Sumber : kotasemarang.go.id

Utara : Laut Jawa


Selatan : Kabupaten Semarang
Timur : Kabupaten Demak
Barat : Kabupaten Kendal

1. Luas Wilayah

Dengan luas wilayah sebesar 373,67 km2, dan merupakan 1,15% dari total luas daratan
Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Dari 16
kecamatan yang ada, kecamatan Mijen (57,55 km2) dan Kecamatan Gunungpati (54,11 km2),
dimana sebagian besar wilayahnya berupa persawahan dan perkebunan. Sedangkan kecamatan
dengan luas terkecil adalah Semarang Selatan (5,93 km2) dan kecamatan Semarang Tengah (6,14
km2), sebagian besar wilayahnya berupa pusat perekonomian dan bisnis Kota Semarang, seperti
bangunan toko/mall, pasar, perkantoran dan sebagainya.

2. Kependudukan

Secara umum jumlah penduduk di Kota Semarang per bulan oktober Tahun 2015
berjumlah 1,773,905 jiwa dengan sebaran laki-laki 884,804 jiwa dan perempuan 889,101
22
jiwa. Berikut adalah rincian jumlah penduduk Kota Semarang yang dibagi berdasarkan
kecamatan di Kota Semarang:

Tabel 3.1 Penduduk Kota Semarang

Sumber : bpskotasemarang.go.id

Penyebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan
daya dukung lingkungan yang tidak seimbang. Secara geografis wilayah Kota Semarang terbagi
menjadi dua yaitu daerah dataran rendah (Kota Bawah) dan daerah perbukitan (Kota Atas). Kota
Bawah merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan dan industri, sedangkan Kota Atas
lebih banyak dimanfaatkan untuk perkebunan, persawahan, dan hutan. Sedangkan ciri
masyarakat Kota Semarang terbagi dua yaitu masyarakat dengan karakteristik perkotaan dan
masyarakat dengan karakteristik pedesaan. Sebagai salah satu kota metropolitan, Semarang boleh
dikatakan belum terlalu padat. Pada tahun 2013 kepadatan penduduknya sebesar 4.207 jiwa per
km2 sedikit mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun 2012.

23
Bila dilihat menurut Kecamatan terdapat 3 kecamatan yang mempunyai kepadatan di bawah
angka rata-rata Semarang, sebagai berikut: Kecamatan Tugu sebesar 984 jiwa per km2,
Kecamatan Mijen (1.006 jiwa/ km2), Kecamatan Gunungpati (1.402 jiwa/ km2). Dari ketiga
Kecamatan tersebut, dua diantaranya merupakan daerah pertanian dan perkebunan, sedangkan
satu kecamatan lainnya merupakan daerah pengembangan industri. Namun sebaliknya untuk
Kecamatan-Kecamatan yang terletak di pusat kota, dimana luas wilayahnya tidak terlalu besar
tetapi jumlah penduduknya sangat banyak, kepadatan penduduknya sangat tinggi. Yang paling
tinggi kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Semarang Selatan 13.882 jiwa/km 2 , kemudian
Kecamatan Candisari 12.187 jiwa/km2, dan Kecamatan Gayamsari 11.939 jiwa/km2. Bila
dikaitkan dengan banyaknya keluarga atau rumah tangga, maka dapat dilihat bahwa rata-rata
setiap keluarga di Kota Semarang memiliki 4 (empat) anggota keluarga, dan kondisi ini terjadi
pada hampir seluruh Kecamatan yang ada.

Dari dua gambaran umum wilayah asal dan tujuan maka gambar di bawah ini merupaka jalur
Kabupaten Demak-Kota Semarang dengan jarak kurang lebih 26km.

Gambar 3.3 Jalur Kabupaten Demak-Semarang

Sumber : Google Earth, bulan November 2017

24
3.1.3 Gambaran Umum Responden
Penyebaran kuisioner online ini diisi oleh responden yang merupakanpenglaju
Kabupaten Demak Kota Semarang. Jumlah responden yang kami gunakan yaitu
sebanyak 20 orang dengan berbagai usia, gender, dan pekerjaan utama.
Tabel 3.2 Data Responden

No Nama Usia Gender Status ASS Pekerjaan Utama


1 Munti 50 P Menikah 6 Penjual Sayur
2 Ratna 23 P Menikah 12 Karyawan Toko
3 Rahmat 24 L Lajang 9 Montir
4 Linggar 27 L Menikah 16 Wiraswasta
5 Satrio 24 L Lajang 12 Pegawai Swasta
6 Aldino 20 L Lajang 12 Pegawai Swasta
7 Delivia 20 P Lajang 14 Mahasiswa
8 Jati 56 L Menikah 0 Wiraswasta
9 Dewi 19 P Lajang 12 Karyawan
10 Ade Hasan 34 L Menikah 16 Pegawai Swasta
11 Endang Retnowati 42 P Menikah 16 Pegawai Swasta
12 Ahmad 23 L Lajang 12 Pegawai Swasta
13 Shinta 22 P Lajang 12 Pegawai Swasta
14 April 22 P Lajang 16 Mahasiswa
15 Dwiyani 27 P Menikah 12 Wiraswasta
16 Sriyani 36 P Menikah 16 Pegawai Swasta
17 Sulisna 19 P Lajang 12 Wiraswasta
18 Tri 21 L Lajang 14 Mahasiswa
19 Nisfah 22 P Lajang 16 Mahasiswa
20 Andi 18 L Lajang 13 Mahasiswa
Sumber : Data Prmer yang diolah bulan November 2017

3.2 Faktor-faktor Terjadinya Migrasi Ulang Alik Kab.Demak Kota Semarang


Faktor pendorong dari adanya fenomena pekerja ulak- alik ini biasanya berasal
dari daerah mereka berasal atau kesulitan yang mereka hadapi di daerah asal, sedangkan
faktor penarik adanya fenomena pekerja lebih dikarenakan daerah tujuan yang lebih
maju. Berikut merupakan faktor pendorong dan penarik adanya fenomina pekerja ulak-
alik:

25
1. Upah / Gaji
Upah adalah imbalan atau bayaran yang akan diterima oleh para pekerja
setelah mereka melakukan atau memenuhi kewajibannya kepada perusahaan.
Dalam observasi kami dilapangan untuk upah para pekerja diberikan
perusahaan setiap satu bulan sekali yakni setiap tanggal 25. Untuk besaran
upahnya sendiri narasumber menyebutkan jika upah yang telah mereka terima
sudah sesuai dengan UMR ataupun diatas UMR. Perbedaan besaran
penerimaan upah sendiri ditentukan oleh jam kerja dari para pekerja itu
sendiri, jika dalam satu hari mereka bekerja lebih dari 8 jam kerja maka
mereka akan mendapat upah lebih karena mereka melakukan lembur. Berikut
kami sajikan data UMR Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Tengah.

Tabel 3.3 Daftar UMR Provinsi Jawa Tengah

NO DAERAH BESARAN NO DAERAH BESARAN


1 KAB. DEMAK Rp 1.900.000 20 CILACAP TIMUR Rp 1.490.000
2 KAB. KENDAL Rp 1.774.867 21 CILACAP BARAT Rp 1.483.000
3 KAB. SEMARANG Rp 1.745.000 22 KAB. BANJARNEGARA Rp 1.370.000
4 KOTA SEMARANG Rp 2.125.000 23 KAB. PURBALINGGA Rp 1.522.500
5 KOTA SALATIGA Rp 1.596.844 24 KOTA PEKALONGAN Rp 1.623.750
6 KAB. GROBOGAN Rp 1.435.000 25 KAB. PEKALONGAN Rp 1.583.697
7 KAB. BLORA Rp 1.438.100 26 KAB. TEGAL Rp 1.499.500
8 KAB. KUDUS Rp 1.740.900 27 KOTA TEGAL Rp 1.487.000
9 KAB. JEPARA Rp 1.600.000 28 KAB. BREBES Rp 1.418.100
10 KAB. PATI Rp 1.420.500 29 KAB. MAGELANG Rp 1.570.000
11 KAB. REMBANG Rp 1.408.000 30 KAB. BATANG Rp 1.603.000
12 KAB. BOYOLALI Rp 1.519.289 31 KAB. TEMANGGUNG Rp 1.431.500
13 KOTA SURAKARTA Rp 1.534.982 32 KAB. BANYUMAS Rp 1.461.400
14 KAB. SUKOHARJO Rp 1.513.000 33 KAB. WONOGIRI Rp 1.401.000
15 KAB. SRAGEN Rp 1.422.585 34 KAB. KLATEN Rp 1.528.500
16 KOTA MAGELANG Rp 1.453.000 35 KAB. PEMALANG Rp 1.460.000
17 KAB. WONOSOBO Rp 1.457.100 36 KAB. KARANGANYAR Rp 1.560.000
18 KAB. KEBUMEN Rp 1.433.900 37 KAB. PURWOREJO Rp 1.445.000
19 CILACAP KOTA Rp 1.608.000
Sumber : data.go.id , bulan November 2017

26
Dari data tersebut dapat dilihat dari besaran UMR yang telah Provinsi Jawa
Tengah. Inilah salah satu daya Tarik untuk para pekerja didaerah sekitar kota
Semarang untuk bekerja di Kota Semarang .

2. Lapangan kerja yang luas


Di kota Semarang sendiri jumlah lapangan pekerjaan cukup besar dari
perusahaan tekstil, tenun hingga perusahaan farmasi. Para penglaju
beraasumsi dengan mereka mencari pekerjaan di Semarang mereka memiliki
peluang lebih besar jika dibandingkan jika mereka hanya mencari pekerjaan di
daerah asal. Banyaknya perusahaan dikota Semarang ini karena didukung
adanya fasilitas fasilitas yang dapat memperlanjar kegiatan usaha seperti
adanya pelabuhan besar di Kota semarang, adanya bandarara Ahmad Yani,
adanya fasilitas jalan antar kota atar provinsi yang sudah bagus dan lebar.

3. Adanya tunjangan yang diberikan


Tunjangan ini berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, juga
akan berbeda antara perusahaan dibawah BUMN dengan perusahaan swasta
murni. Walaupun tidak menutup kemungkinan jiak perussahaan swasta juga
ada yang memberikan tunjangan yang terkadang melebihi perusahaan
lainnya. Untuk perusahaan yang kami observasi memberikan beberapa
tunjangan diluar gaji pokok seperti:
1. Uang lembur .
2. Uang makan (Rp 15.000 / orang).
3. Uang transport bagi pekerja ulak-alik.
4. Uang THR.
5. Tunjangan kesehtan secara penuh ditanggung perusahaan.
6. Insentif kepada pekerja yang dapat mencapai target perusahaan.
7. Pemberian hadiah bagi pekerja yang mengabdi diatas 25 tahun.
8. Pemberian dana pensiun.
9. Pemberian BPJS kepada pensiunan perusahaan.

27
Pemberian tunjangan diluar gaji pokok, seperti apa yang telah kami uraikan
dalam poin-poin diatas dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi
pekerja untuk lebih memilih bekerja di perusahaan yang kami jadikan sebagai
obyek penelitian dari pada bekerja didaerah asal, walaupun dengan gaji pokok
yang sama besar.

4. Sempitnya lapangan pekerjaan didaerah asal


Tidak hanya lapangan pekerjaan di sector industry yang sudah mulai sempit
melainkan sector pertanian yang sudah mulai menyempit. Hal ini terjadi
karena beralih fungsinya lahan pertanian menjadi perumahan perumahan
masyarakat. Keadaan tersebut menjadi faktor pendorong para pekerja di
daerah Demak untuk mencari kerja keluar kota yakni kota Semarang. Sektor
pertanian yang menjadi tumpuan utama sudah habis diperuntukan untuk
perumahan dan hal yang lainnya.

5. Fasilitas yang lebih memadai


Fasilitas di semarang lebih memadai baik dari segi kesehatan maupun segi
transportasi. Untuk fasilitas kesehatan ini menjadi bahan pertimbangan karena
perusahaan memberikan tunjangan kepada para pekerjanya. Untuk
transportasi sendiri dapat mempermudah para pekerja untuk melakukan
perjalanan dari daerah asal ke tempat kerja.

3.3 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kabupaten Demak


3.3.1 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kabupaten Demak : Ekonomi
Adapun dampak dari aspek ekonomi terhadap Kabupaten Demak atas adanya migrasi
ulang-alik yakni,
1. Dampak positif :
a) Tingkat kesejahteraan penduduk semakin meningkat di karenakankegiatan
mereka yang bekerja di Kota Semarang mampu menghasilakn penghasilan yang
lebih besar di bandingkan dengan penghasilan yang mereka peroleh di daerah asal
yaitu di Kabupaten Demak dengan UMR yang berbeda dan di dukung araf hidup

28
di Kabupaten Demak yang relatif lebih murah di bandingkan dengan
penghasilannya di daerah urban. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya angka
kemiskinan dari tahun ke tahun.
Tabel 3.5 Tingkat Kemiskinan Kabupaten Demak Tahun 2010-2015

b) Mengurangi pengangguran di daerah asal, karena tenaga kerja terserap ke luar daerah

29
Tabel 3.4 Jumlah Pencari Kerja Kabupaten Demak

2. Dampak negatif
Semakin berkurangnya tenaga penggerak pembangunan di daerah asalkota
Demak. Di karenakan keinginan untuk mensejahterakan kehidupannya ia
memilihuntuk mencari penghasilan yang lebih tinggi. Sehingga banyak kaum
intelektual yangberpendidikan lebih memilih bekerja di kota tujuan Semarang.

3.3.2 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kabupaten Demak : Sosial


Adapun dampak positiif dan negative dari aspek sosial yaitu,
1. Dampak Positif
a) Semakin terbukanya arus globalisasi antara Kab. Demak-Kota Semarang,
semakin meningkatkan SDM yang ada di Demak, hal ini dapat dilihat bahwa
proses migrasi ulang alikbukan hanya dilakukan karena alasana ekonomi namun
juga pendidikan.

30
Tabel 3.5 IPM Demak 2013-2015

Sumber: BPS Demak, diakses November 2017

2. Dampak Negatif
a) Masyarakat Demak cenderung menjadi masyarakat patembayan.
Karena keseharian penduduk Demak yang cenderung sibuk bekerja
menyebabkan kehidupan sosial yang cenderung patembayan, ditandai dengan
acuhnya masyarakat terhadap lingkungan sosial sekitar, tidak mengenal
tetangga, dan menutup diri dari sosialisasi dengan lingkungan sekitar.

3.3.3 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kabupaten Demak : Budaya

Hasil kebudayaan Kerajaan Demak adalah kebudayaan yang berkaitan dengan Islam. Hasil
kebudayaannya yang cukup terkenal dan sampai sekarang masih tetap berdiri adalah Masjid Agung
Demak.

Dampak yang terjadi setelah adanya migrasi ulang alik di Kabupaten Demak dari segi budaya:

1. Dampak Positif

a) Kebudayaan dari Demak bisa tersebar luas ke daerah lain terutama kota semarang , dapat
di contohkan dengan ritual dugderan, sekaten, dan upacara keagamaan lainnya
b) Kota Semarang memiliki arus globalisasi yang pesat, maka dari itu karena secara letak
geografis Kabupaten Demak dan Kota Semarang berdekatan maka arus globalisasi pun
menyebar ke Kabupaten Demak
c) Sikap toleransi budaya yang baik, karena kebudayaan Kabupaten Demak yang memiliki
latar belakang islam cukup kental, sedangkan Kota Semarang memiliki latar belakang
kental dengan budaya tionghoa.
d) Terjadinya amalgamasi.

31
e) Budaya etos kerja yang tinggi di Demak meningkat

2. Dampak Negatif

Lunturnya beberapa kebudayaan demak di sekitar daerah perbatasan seiring tingginya


migrasi, dan efek moderenisasi yang di dapat dari daerah lain terutama kota semarang.

3.3.4 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kabupaten Demak : Keamanan


Adapun dampak positif dan negatif dari aspek keamanan yaitu,
1. Dampak Positif
a) Dengan berkurangnya pengangguran di Kabupaten Demak, ini
mengakibatkan penurunan kriminalitas.

2. Dampak Negatif
a) Adanya resiko kecelakaan bagi penglaju Kab. Demak Kota Semarang
mengingat masih ada beberapa titik rawan kecelakaan dan jalan yang rusak dan
Demak merupakan jalur pantura yang rawan kecelakaan.
Tabel 3.6 Jumlah kecelakaan Lalu Lintas Di Demak

32
3.3 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kota Semarang

3.3.1 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kota Semarang : Ekonomi


Adapun dampak positif dan negative dari aspek ekonomi yaitu
1. Dampak Positif
a) Dengan bertambahnya angkatan kerja karena migrasi ke daerah tujuan (kota Semarang),
Perekonomian di kota Semarang pun semakin berkembang. Produktivitas pun ikut
meningkat, kesempatan terbukanya usaha-usaha baru juga semakin besar. Hal iniakan
mengakibatkan peningkatan pendapatan daerah sehingga pembangunan yang dilakukan di
kota Semarang juga akan baik dan semakin pesat .
b) Adanya spread effect yang dilakukan oleh penglaju Kab. Demak dalam kegiatan ekonomi.
c) Peningkatan penggunaan transportaasi umum

2. Dampak Negatif
a) Masih ada masyarakat kota Semarang yang belum terserap lapangan pekerjaan.
Tabel 3.7 Jumlah Pencari Kerja Kota Semarang

33
b) Meningkatnya persaingan masyarakat kota Semarang dengan masyarakat migran.

3.3.2 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kota Semarang : Sosial


Adapun dampak positif dan negatif akibat migrasi ulang alik dari aspek sosial yaitu,

1. Dampak Positif

a) Bertambahnya jumlah armada transportasi umum seperti trans semarang, serta perbaikan
sarana prasarana transportasi.
Tabel 3.8 Jumlah Jenis Transportasi Di Kota Semarang tahun 2010-2014

Jenis 2010 2011 2012 2013 2014


Bus 438 445 786 786 786
Truk 913 1474 2633 2633 2633
Taksi 1265 2024 2966 2966 2966
Oplet/
859 1355 2112 2112 2112
Mikrolet
Mobil
Dinas / 44660 33523 56453 56453 56453
Pribadi
Sepeda
216916 151286 247936 247936 247936
Motor
Sumber : BPS Kota Semarang
b) Jumlah tenaga kerja bertambah
c) Integrasi penduduk semakin tampak

2. Dampak Negatif

Kemacetan lalu lintas yang disebabkan ruang gerak jalan yang terus menyempit karena
meningkatnya jumlah kendaraan yang melakukan mobilisasi di Semarang.

3.3.3 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kota Semarang : Budaya


Adapun dampak positif dan negatif akibat migrasi ulang alik dari aspek budaya yaitu,

1. Dampak positif migrasi ulang alik bagi kota semarang aspek budaya
a) Semakin beragamnya kebudayaan di kota semarang

34
b) Paham mengedepankan pluralisme semakin berkembang karena beragamnya kebudayaan
c) Kebudayaan khas semarang semakin di kenal khususnya untuk kaum migran ulang alik
tersebut
d) Dinamika kehidupan dan budaya semakin ramai di kota semarang
e) Meningkatnya hubungan persahabatan dan saling mengenal kebudayaan khas masing-
masing

3.3.3 Dampak Negatif Migrasi Ulang Alik Bagi Kota Semarang Aspek Budaya
a) Terjadinya benturan kebudayaan antara masyarakat semarang yang bersangkutan dengan
kaum migran ulang alik tersebut
b) Meningkatkan persaingan dalam tenaga kerja dapat membuat konflik dan kebencian akan
suatu kebudayaan tertentu
c) Lalu lintas yang padat membuat kota semarang menjadi macet
d) Dapat menciptakan kecemburuan sosial dan munculnya kebudayaan persaingan yang negatif
di tengah masyarakat
e) Dapat masuknya kebudayaan negatif yang dibawa oleh kaum migran ulang alik yang tidak
sesuai dengan kebudayaan khas kota semarang

3.3.4 Dampak Positif dan Dampak Negatif Kota Semarang : Keamanan


Adapun dampak positif dan negatif akibat migrasi ulang alik dari aspek keamanan yaitu,
1. Dampak Positif

a) Pemerintah dalam ini kepolisian semakin mewaspadai dengan meningkatkan keamanan


bagi kaum migran ulang alik sehingga pengamanan di area semarang menjadi meningkat
b) Banyaknya jumlah kaum migran ulang alik membuat kepolisian meningkatkan jumlah
personilnya untuk mengantisipasi pelanggaran hukum sehingga kota semarang menjadi
tetap aman dengan banyaknya aparat polisi tersebut

2. Dampak Negatif

a) Meningkatnya pelanggaran hukum dan kecelakaan dalam lalu lintas

35
b) Adanya potensi benturan sosial budaya yang bisa memicu konflik membuat keamanan di
kota semarang menjadi kurang
c) Dapat berpotensi meningkatkan tindakan kriminalitas khususnya di jalan (begal)

36
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Dari analisis dampak migrasi ulang alik Kab. Demak Kota Semarang, terdapat banyak
dampak dari migrasinya suatu individu atau kelompok. Masing-masih daerahdaerah asal (Kab.
Demak), dan daerah tujuan (Kota Semarang)menerima dampak dari adanya migrasi, baik dampak
positif maupun negatif. Dampak-dampak ini dapat dilihat berdasarkan aspek ekonomi, aspek sosial,
aspek budaya, dan aspek keamanan.

4.2 Saran
Adapun rekomendasi yang dapat dilakukan adalah,
1. Penyediaan lapangan kerja yang cukup di daerah asal
2. Perbaikan infrastruktur jalan pada jalur migrasi, untuk meminimalisirkan adanya kecelakaan.
3. Program bangun daerah bagi pemuda asal agar tidak selalu merantau ke daerah maju.

37
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2017. Kabupaten Demak Dalam Angka 2017. Diunduh 11/11/2017. 10.00

Badan Pusat Statistik. 2017. Kota Semarang Dalam Angka 2017. Diunduh 11/11/2017. 10.015

Indareni, anindita. 2013. Pengaruh Pergerakan Pekerja Comuter Terhadap Pola Konsumsi di

Kecamatan Kaliwungu. Teknik PWK; Vol. 2: No. 4; 20B; hal. 927-937. di unduh 11/11/2017.

08:44

Purnomo, Didit. 2009. Fenomena Migrasi Tenaga Kerja dan Perannya Bagi Pembangunan

Daerah Asal: Studi Empiris di Kabupaten Wonogiri vol. 10, No. 1 Juni 2009, hal. 84-102. Di

unduh 17/11/2017. 14:00

Wulan, Ayu Puspasari. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruuhi Minat Migrasi

Sirkuler ke Kabupaten Semarang.Semarang: Universitas Diponegoro. Di unduh 16/11/2017.

22:00

Dewi, Surya Rustariyuni. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Migran Melakukan

Mobilitas Non Permanen Ke Kota Denpasar. Piramida.Vol. IX no. 2: 95-104. Di unduh

17/11/2017. 14:12.

Erlando, Angga. 2016. Analisis Terhadap Migran Sirkuler di Kota Surabaya.Malang:

Universitas Brawijaya. Di unduh 17/11/2017: 14:19.

38
Alamin, Rabul. 2015. Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas Ulang Alik Penduduk
Kecamatan

Tamban Kota Bnjarmasin. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat. Di unduh

17/11/2017. 16:02

39
Lampiran I
Kuisioner Penelitian

Dampak Migrasi Ulang Alik dari Aspek Ekonomi, Sosial, Budaya dan
Keamanan Terhadap Masyarakat Penglaju Kab. Demak Kota Semarang

1. Nama Pengunjung :.....................................................................................


2. Asal :.....................................................................................
3. Umur : ............. tahun
4. Jenis Kelamin :L/P
5. Status : Kawin / Belum / Janda-Duda
6. Jumlah Tanggungan Keluarga : .............. orang
7. Pekerjaan Utama : 1. PNS
2. Pegawai Swasta
3. Wiraswasta, sebutkan usaha yang ditekuni.......
4. Petani/Nelayan/Pedagang/Buruh
5. Mahasiswa
6. Lainnya (sebutkan) ...........................
7. Pekerjaan Sampingan: 1. Ada, (........) 2. Tidak
8. Penghasilan / bulan : Rp...........................................
9. Pendidikan Terakhir :...............................................kelas : ..........................
10. Apa alasan saudara lebih memilih bekerja di Semarang dari pada di Demak?
11. Sudah berapa lama menjadi penglaju/ migran Ulang Alik?
12. Mengapa saudara lebih memilih menjadi penglaju daripada tinggal menetap di Kota
Semarang?
13. Apa kelebihan dan kelemahan bekerja di Kota Semarang menurut pengalaman anda?
14. Menurut anda apa saja dampak atau resiko selama menjadi penglaju?
Dari segi:
a. Ekonomi :
b. Lingkungan :
c. Budaya :
d. Keamanan :

15. Apa harapan atau saran anda untuk kondisi Kota Semarang dan Kabupaten Demak?

40
41