Anda di halaman 1dari 23

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT MAKALAH

FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2017


UNIVERSITAS PATTIMURA

MANAJEMEN KORBAN MUSIBAH LAUT

OLEH BASARNAS AMBON

DISUSUN OLEH :
Karmila Missy
(2010-83-007)

PEMBIMBING:

dr. Robert Chandra, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2017
DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ............................................................................. 3

B. Rumusan masalah ........................................................................ 4

C. Tujuan penulisan .......................................................................... 4

BAB II ISI PENULISAN

A. Definisi BASARNAS.................................................................... 6

B. Sistem kerja korban musibah laut BASARNAS........................... 6

C. Pertolongan pertama korban musibah laut oleh BASARNAS....... 11

D. Manajemen korban musibah laut oleh BASARNAS ……............. 15

E. Teknik evakuasi korban musibah laut oleh BASARNAS ……...... 18

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 21

Daftar Pustaka ................................................................................ 23

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi bencana alam

yang sangat tinggi dan jenis yang bervariasi. Pada umumnya bencana alam yang sering

terjadi meliputi, bencana alam akibat faktor geologi (gempa bumi, tsunami dan letusan

gunung api), akibat hydrometeorologi (banjir, tanah longsor, kekeringan, angin topan),

akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia, penyakit tanaman/ternak, hama

tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakan industri, kecelakaan transportasi,

radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia).1

Kompleksitas permasalahan bencana memerlukan penataan atau perencanaan

yang matang dalam penanggulangannya, sehingga dapat dilaksanakan secara terarah

dan terpadu. Dalam kondisi Kedaruratan Bencana diperlukan sebuah institusi yang

menjadi pusat komando dan koordinasi kedaruratan bencana sesuai dengan lokasi dan

tingkatan bencana yang terjadi.2

Keberadaan Search And Rescue (SAR) di setiap daerah benar-benar sangat penting

dan dibutuhkan. SAR yang merupakan akronim dari Search And Rescue, adalah

kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang

atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah-musibah seperti

pelayaran, penerbangan, dan bencana.3

3
Anggota dari SAR melibatkan banyak pihak baik dari militer, kepolisian, aparat

pemerintah, organisasi masyarakat dan lain-lainnya. Sesuai dengan ketentuan badan

internasional IMO (International Maritime Organization) dan ICAO (International

Civil Aviation Organization) setiap negara wajib melaksanakan operasi SAR, negara

yang tidak memiliki organisasi SAR akan disebut sebagai ‘Black Area’. Di Indonesia,

instansi yang bertanggung jawab di bidang SAR diemban oleh Badan SAR Nasional

atau disingkat BASARNAS.3

Manajemen penanggulangan bencana merupakan salah satu rangkaian dari siklus

penanganan kedaruratan penanggulangan bencana alam, musibah darat, laut dan udara.

Siklus tersebut terdiri dari pencegahan ( mitigasi ), kesiagaan ( preparedness ), tanggap

darurat (response ) dan pemulihan ( recovery ).

Jenis musibah yang sering terjadi di Indonesia yaitu, musibah darat (kebakaran,

gedung runtuh, kecelakaan kereta api dll), musibah penerbangan/udara (pesawat jatuh,

mendarat darurat, dan hilang kontak) dan musibah pelayaran/laut (kapal tenggelam,

terbakar, hilang, kandas, kebocoran, dll).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Basarnas Ambon pada tahun 2012-2107

terdapat kejadian musibah pelayaran/laut yang paling banyak terjadi hal ini disebabkan

maluku terdiri dari gugusan laut pulau yang mempunyai potensi untuk terjadinya

musibah laut yang bervariasi. Maka dari itu perlu dibahas mengenai manajemen korban

musibah laut oleh BASARNAS.

4
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah

ini adalah manajemen korban musibah laut oleh BASARNAS

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mengetahui manajemen korban musibah laut oleh BASARNAS

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui sistem kerja korban musibah laut oleh BASARNAS

b. Mengetahui pertolongan pertama korban musibah laut oleh BASARNAS

c. Mengetahui manajemen korban musibah laut oleh BASARNAS

d. Mengetahui teknik evakuasi korban musibah laut oleh BASARNAS

5
BAB II

ISI PENULISAN

A. Definisi

Badan SAR Nasional (BASARNAS) adalah lembaga pemerintah Non Kementrian

Indonesia yang bertugas untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian

dan pertolongan (search and rescue).

Search and Rescue yang disingkat SAR adalah usaha dan kegiatan kemanusiaan

mencari dan memberikan pertolongan kepada manusia dengan kegiatan meliputi:

mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan

hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah, mencari kapal dan atau

pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, evakuasi pemindahan korban musibah

pelayaran, penerbangan, bencana alam atau bencana lainya dengan sasaran utama

penyelamatan jiwa manusia.6

B. Sistem kerja korban musibah laut oleh BASARNAS

6
1. Tiga tingkat keadaan darurat (pada saat menerima berita)

a. Tingkat meragukan (uncertainty phase - incerfa)

Adalah suatu situasi dimana terjadi keragu-raguan tentang keselamatan para

penumpang karena belum atau tidak ada laporan oleh kapal pada posisi tertentu

atau laporan tiba pada pelabuhan sebagaimana yang direncanakan, serta

kemungkinan akan terjadinya suatu bencana

b. Tingkat mengkhawatirkan (alert phase – alerfa)

Merupakan kelanjutan dari tingkat meragukan atau diketahui hal/kejadian yang

mengganggu beroperasinya kapal yang dapat mengancam keselamatan

penumpangnya, serta semakin jelasnya suatu bencana kemungkinan akan

terjadi

c. Tingkat memerlukan bantuan atau keadaan bahaya (distress phase – detresfa)

Merupakan kelajutan dari tingkat mengkhawatirkan atau tingkat yang benar-

benar diketahui bahwa kapal berikut penumpangnya berada dalam keadaan

bahaya, serta telah terjadinya suatu bencana

2. Komponen dasar SAR (pada saat terjadi becana)

Untuk penyelenggaraan operasi SAR, ada 5 komponen SAR yang merupakan bagian

dari sistem SAR yang harus dibangun kemampuannya, agar pelayanan jasa SAR

dapat dilakukan dengan baik. Komponen-komponen SAR yaitu:

a. Organisasi

Organisasi merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek pengerahan

unsur, koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup

penugasan dan tanggung jawab penanganan musibah.

7
b. Fasilitas adalah komponen berupa unsur, peralatan, perlengkapan, serta

fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi SAR laut.

Fasilitas kantor SAR ambon:

 1 rescue boats
 1 rigid boat
 1 sea riders
 10 rubber boats (2 pos SAR)
 12 diving eqpmnt
c. Komunikasi

komunikasi sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi ada musibah,


fungsi komando dan pengendalian operasi dan koordinasi selama operasi
SAR.
Fungsi komunikasi:
 Penginderaan dini (early detection)
 Koordinasi (coordination)
 Pengendalian & pengawasan (command & control)
 Pembinaan administrasi & logistik (administration & logistic)
 Penginderaan dini (early detection)
 Koordinasi (coordination)
 Pengendalian & pengawasan (command & control)
 Pembinaan administrasi & logistik (administration & logistic)

d. Perawatan gawat darurat

Penyediaan fasilitas perawatan darurat yang bersifat sementara, sampai

ketempat penampungan atau fasilitas perawatan yang lebih memadai.

e. Dokumentasi

Berupa pendataan laporan/kegiatan, analisa serta data kemampuan yang akan

menunjang efisiensi pelaksanaan operasi SAR

8
3. Lima tahapan penyelenggara operasi SAR

a. Tahap Menyadari (awareness stage)

Saat disadari terjadinya keadaan darurat/ musibah atau kekhawatiran bahwa

suatu keadaan darurat diduga akan muncul.

Tindakan yang diambil mencatat data :

1) Nama kapal

2) Lokasi atau posisi kejadian

3) Jenis musibah

4) Waktu kejadian

5) Cuaca atau keadaan alam di lokasi kejadian

6) Data lain (pob, tanda-2 lain, jenis objek, dll)

b. Tahap tindak awal (initial action stage)

Saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respons) terhadap musibah

yang terjadi

1) Evaluasi informasi kejadian atau musibah (Lokasi, waktu, objek, dll)

2) Penyiagaan fasilitas SAR (Jenis, kemampuan, lokasi siaga, dll)

3) Pencarian awal dengan komunikasi (Precom)

4) Pencarian lanjutan dengan komunikasi (Excom)

5) Pengerahan unsur milik sendiri

6) Pengusulan SMC

c. Tahap perencanaan

Saat dilakukan pembuatan rencana operasi efektif berupa :

1) Menentukan titik duga (datum)

9
2) Penentuan koordinat dan luas daerah pencarian
3) Pemilihan unsur yang akan digunakan
4) Pola pencarian yang akan digunakan
5) Rencana operasi pertolongan
6) Situasi daerah pencarian (medan, SRU lain, cuaca, dll)
7) Koordinasi di lokasi
8) Jaring komunikasi
9) Pelaporan
d. Tahap operasi yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta

penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi SAR meliputi:

1) Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian.

2) Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang

diperkirakan ditinggalkan survivor.

3) Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor.

4) Menolong, menyelamatkan dan mengevakuasi korban dengan memberi

perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkan dan membawa

korban yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).

5) Mengadakan briefing kepada Search Rescue Unit (SRU).

6) Mengirim atau memberangkatkan fasilitas SAR.

7) Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.

8) Melakukan penggantian/penjadwalan SRU di lokasi ke

e. Tahap pengakhiran adalah tahap akhir operasi SAR dihentikan jika:

1) Seluruh korban telah berhasil ditemukan, ditolong dan dievakuasi.

2) Setelah jangka waktu 7 hari sejak dimulainya operasi sar tidak ada tanda-

tanda korban akan ditemukan.

10
3) Operasi sar yang telah dihentikan atau dinyatakan selesai, dapat dibuka

kembali dengan pertimbangan adanya informasi baru mengenai indikasi

diketemukannya lokasi atau korban musibah.

4) Operasi sar dapat diperpanjang pelaksanaannya atas permintaan dengan

beban biaya ditanggung oleh pihak yang meminta.

5) Operasi sar dinyatakan selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke satuan

induknya, evaluasi operasi, dan pembuatan laporan.

C. Pertolongan Pertama Korban musibah laut oleh BASARNAS

Pertolongan pertama korban bencana dinamakan Medical First Responder

(MFR) Basic adalah penolong yang pertama kali tiba di lokasi kejadian bencana,

memiliki kemampuan medis dalam penanganan kasus gawat darurat, terlatih untuk

tingkat paling dasar. Seorang Rescue sebagai orang awam khusus yang telah

mendapatkan pengetahuan cara-cara penanggulangan kasus gawat darurat sebelum

korban dibawa kerumah sakit mempunyai kewajiban:6

1. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, korban dan orang-orang di sekitar.

2. Menjangkau korban.

3. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam jiwa.

4. Meminta bantuan.

5. Memberikan pertolongan pertama berdasarkan keadaan korban.

6. Membantu pelaku pertolongan lainnya.

7. Ikut menjaga kerahasiaan medis korban.

8. Berkomunikasi dengan petugas lain yang terlibat.

11
9. Mempersiapkan korban untuk dibawa ke tempat pelayanan medis

Peralatan dasar MFR yang harus dipergunakan saat menolong korban yaitu

sarung tangan, kacamata pelindung, baju pelindung, masker penolong, masker

Resusitasi Jantung Paru (RJP). Perlindungan diri seorang Rescue dilakukan dengan

dasar pemikiran bahwa semua darah dan cairan yang keluar dari tubuh korban bersifat

menular sehingga perlu perlindungan terhadap tubuh seorang Rescue sebagai upaya

preventif.4

Beberapa tindakan umum untuk perlindungan diri memakai alat pelindung diri

(APD). Seorang Rescue harus memastikan keselamatannya (termasuk pemakaian APD)

saat tiba di lokasi kejadian becana, memastikan keselamatan korban, menentukan

keadaan umum kejadian (mekanisme cedera).6

Seorang Rescue melakukan penilaian dini pada korban (bila sadar) perkenalkan

diri, mengenali dan mengatasi cedera, gangguan yang mengancam jiwa, stabilkan dan

teruskan pemantauan penderita. Penilaian dalam pemerikasaan korban yaitu penilaian

keadaan (scene assessment) bagaimana kondisi saat itu memeriksa kemungkinan-

kemungkinan yang akan terjadi bagaimana mengatasinya. Proses untuk mengenali dan

mengatasi keadaan yang dapat mengancam keselamatan nyawa korban, dapat dilakukan

penilaian awal dengan langkah langkah antara lain:6

1. Keadaan umum dengan menentukan kasus trauma atau medis.

2. Periksa respon/tingkat kesadaran

Terdapat empat tingkatan yang umum dipakai untuk menentukan tingkat respon

seorang korban:

- Alert, penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.

12
- Verbal, penderita hanya bereaksi apabila dipanggil.

- Painful, penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri.

- Unresponsive, penderita tidak bereaksi terhadap respon apapun. Tidak membuka

mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali tidak bereaksi terhadap

rangsang nyeri. Seseorang dalam keadaan tidak sadar yang berat tentunya

memerlukan jalan napas yang baik dan pertolongan pendukung lain

3. Pastikan jalan napas (Airway) terbuka dengan baik.


4. Nilai pernapasan.
5. Nilai sirkulasi dan hentikan perdarahan berat bila ada.
6. Hubungi bantuan.
Penilaian awal harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam jiwa sudah

harus ditanggulangi sebelum melanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara

menyeluruh.

a. Pemeriksaan Fisik.

- Penilaian dini dimaksudkan untuk segera mengenali dan mengatasi bahaya

yang mengancam jiwa.

- Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh

korban. Bertujuan untuk menemukan berbagai tanda sehingga memudahkan

dalam penanganan korban.

- Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis dan berurutan, biasanya

dimulai dari ujung kepala sampai ujung kaki korban.

b. Pemeriksaan Korban

Pemeriksaan korban merupakan suatu keterampilan yang harus dilatih. Tindakan

ini melibatkan panca indera penolong (rescue) berupa:

13
- Penglihatan (Inspection).

- Pendengaran (Auscultation).

- Perabaan (Palpation).

Cara memeriksa korban bencana atau kecelakaan (trauma) dengan

mengidentifikasi keadaan korban dengan melihat:

- Perubahan Bentuk (Deformity).

- Luka Terbuka ( Open Injury ).

- Nyeri Tekan ( Tenderness ).

- Pembengkakan ( Swelling ).

Beberapa perubahan dapat dilihat dengan memerhatikan tanda vital seperti denyut

nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, tekanan darah, pupil mata. Seorang

Rescue saat melakukan pemeriksaan harus selalu memerhatikan korban. Data

yang dibutuhkan pada pemeriksaan meliputi:9

- Kepala: Kulit kepala dan tulang tengkorak, telinga, hidung, pupil, mulut.

- Leher

- Dada, tampak luar tulang dada, tulang rusuk.

- Perut, pemeriksaan ketegangan dinding perut, luka yang ada

- Punggung, bagian dada belakang, tulang belakang

- Panggul, tulang-tulang, bagian dalam, kemaluan

- Alat gerak bawah, alat gerak atas.

14
D. Manajemen korban musibah laut oleh BASARNAS

 Korban Sadar 5,6

1) Penolong tidak boleh langsung terjun ke air untuk melakukan pertolongan. Ingat

bahwa korban dalam keadaan panik dan sangat berbahaya bagi penolong.

Sedapat mungkin, penolong untuk selalu memberikan respon suara kepada

korban dan sambil mencari kayu atau tali atau mungkin juga pelampung dan

benda lain yang bisa mengapung disekitar lokasi kejadian yang bisa digunakan

untuk menarik korban ke tepian atau setidaknya membuat korban bisa bertahan

di atas permukaan air.

2) Aktifkan sistem penanganan gawat darurat terpadu (SPGDT). Bersamaan

dengan tindakan pertama di atas, penolong harus segera mengaktifkan SPGDT,

untuk memperoleh bantuan atau bisa juga dengan mengajak orang-orang yang

ada disekitar tempat kejadian untuk memberikan pertolongan.

3) Jika memang ditempat kejadian ada peralatan atau sesuatu yang bisa menarik

korban ketepian dengan korban yang dalam keadaan sadar, maka segera berikan

kepada korban, seperti kayu atau tali, dan usahakan menarik korban secepat

mungkin sebelum terjadi hal yang lebih tidak diinginkan. Setelah korban sampai

ditepian segeralah lakukan pemeriksaan fisik dengan terus memperhatikan ABC

untuk memeriksa apakah ada cedera atau hal lain yang dapat mengancam

keselamatan jiwa korban dan segera lakukan Pertolongan Pertama kemudian

kirim ke pusat kesehatan guna mendapat pertolongan lebih lanjut.

4) Jika tidak ada peralatan atau sesuatu yang bisa menarik korban, maka penolong

bisa segera terjun ke air untuk menghampiri korban.Tapi harus diingat, penolong

15
memiliki kemampuan berenang yang baik dan menghampiri korban dari posisi

belakang korban.

5) Jika korban masih dalam keadaan sadar dan bisa ditenangkan, maka segera tarik

(evakuasi) korban dengan cara melingkarkan salah satu tangan penolong pada

tubuh korban melewati kedua ketiak korban atau bisa juga dengan menarik krak

baju korban (tapi ingat, hal ini harus dilakukan hati-hati karena bisa membuat

korban tercekik atau mengalami gangguan pernafasan) dan segera berenang

mencapai tepian. Barulah lakukan Pertolongan Pertama seperti pada no. 3 di

atas.

6) Jika Korban dalam keadaan tidak tenang dan terus berusaha menggapai atau

memegang penolong, maka segera lumpuhkan korban. Hal ini dilakukan untuk

mempermudah evakuasi, kemudian lakukan tindakan seperti no 5 dan kemudian

no. 3 di atas.

 Korban tidak sadar 5,6

Ilustrasi pertolongan korban di air seperti halnya dalam memberikan pertolongan

Pertama untuk korban tenggelam dalam keadaan sadar, maka untuk korban tidak

sadar sipenolong juga harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukan

evakuasi korban dari dalam air agar baik penolong maupun korban dapat selamat.

Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Segera hampiri korban, namun tetap perhatikan keadaan sekitar untuk

menghindari hal yang tidak diingin terhadap diri penolong. Lakukan evakuasi

dengan melingkarkan tangan penolong ditubuh korban seperti yang dilakukan

pada no. 3 untuk korban sadar.

16
2) Untuk korban yang dijumpai dengan kondisi wajah berada di bawah permukaan

air (tertelungkup), maka segera balikkan badan korban dan tahan tubuh korban

dengan salah satu tangan penolong. Jika penolong telah terlatih dan bisa

melakukan pemeriksaan nadi dan nafas saat menemukan korban, maka segera

periksa nafas dan nadi korban. Kalau nafas tidak ada maka segera buka jalan

nafas dengan cara menggerakkan rahang korban dengan tetap menopang tubuh

korban dan berikan nafas buatan dengan cara ini. Dan jika sudah ada nafas maka

segera evakuasi korban ke darat dengan tetap memperhatikan nafas korban.

3) Ketika penolong dan korban telah sampai ditempat yang aman (di darat), maka

segera lakukan penilaian dan pemeriksaan fisik yang selalu berpedoman pada

Airway, Breathing ,Circulation .

4) Berikan respon kepada korban untuk menyadarkannya. Ketika respon ada dan

korban mulai sadar, maka segera lakukan pemeriksaan fisik lainnya untuk

mengetahui apakah ada cedera lain yang dapat membahayakan nyawa korban.

Jika tidak ada cedera dan korban kemudian sadar, berikan pertolongan sesuai

dengan yang diperlukan korban, atau bisa juga dengan mengevakuasi korban

ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan secara medis.

5) Jika tidak ada respon dan tidak ada nafas, segera buka jalan nafas dengan cara

ini atau ini, periksa jalan nafas dengan cara Lihat, Dengar dan Rasakan (LDR)

selama 3-5 detik. Jika tidak ada nafas maka segera berikan bantuan pernafasan

(bantuan hidup dasar) dengan cara ini lalu periksa nadi karotis. Apabila nadi

ada, maka berikan bantuan nafas buatan sesuai dengan kelompok umur korban

hingga adanya nafas spontan dari korban (biasanya nafas spontan ini disertai

17
dengan keluarnya air yang mungkin menyumbat saluran pernafasan korban

ketika tenggelam), lalu posisikan korban dengan posisi pemulihan. Terus awasi

jalan nafas korban sambil penolong berupaya untuk menyadarkan seperti

tindakan no. 4 di atas atau mencari bantuan lain untuk segera mengevakuasi

korban.

6) Ketika tindakan no.5 tidak berhasil (tidak ada respon, tidak nafas dan tidak ada

nadi), makas segera lakukan Resusitasi Jantung Paru, dengan cara seperti ini.

Tindakan seperti di atas benar-benar akan berhasil dan terlaksana dengan baik,

ketika penolong mempunyai keahlian untuk melakukan Pertolongan Pertama.

Jika penolong tidak memiliki kemampuan dan keahlian tersebut sebaiknya

segera menghubungi pihak berwenang seperti pelaku Pertolongan Pertama,

paramedik atau tim penyelamat dan mentransportasikan korban (evakuasi) ke

fasilitas kesehatan terdekat. Dan yang harus diingat, ketika proses evakuasi,

jalan nafas korban harus selalu terbuka.

E. Teknik evakuasi korban musibah laut oleh BASARNAS

Evakuasi adalah Suatu tindakan memindahkan orang-orang yang terkena bencana

atau yang berada dekat dengan daerah berbahaya ke tempat aman dan jauh dari zona

berbahaya dengan tujuan agar korban atau orang-orang tidak terkena efek dari bencana

tersebut. Terdapat teknik yang bisa dilakukan yaitu:

18
1. Duck away (mendorong korban dengan dua Tangan)

Penolong menghadap penuh ke korban dan kedua tangan penolong mendorong

bahu korban untuk menghindari dari pelukan korban.

2. Leg block (menghalangi dengan kaki)

Penolong menghadap penuh ke korban, salah satu kaki penolong diarahkan ke

depan untuk mendorong korban, tetap jaga jarak dengan korban sambil tetap

mengamati keadaan korban

19
3. Arm Block (menghalangi dengan tangan)

Penolong menghadap penuh ke korban, salah satu tangan penolong diarahkan ke

depan untuk mendorong korban, tetap jaga jarak dengan korban sambil tetap

mengamati keadaan korban

4. Elbow lift (mengangkat siku)

Korban datangnya dari belakang penolong, penolong merendah atau menyelam

sambal ke dua tangan mendorong bahu korban kearah depan.

20
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Sistem kerja korban musibah laut oleh BASARNAS agar dicapai suatu hasil yang

maksimal maka digunakan suatu sistem kerja SAR sebagai berikut:

a. Tiga tingkat keadaan darurat ( pada saat menerima berita)

b. Lima komponen dasar SAR (pada saat terjadi bencana)

c. Lima tahap penyelanggara operasi SAR

2. Pertolongan pertama korban musibah laut oleh BASARNAS dapat dilakukan

penilaian awal atau Medical First Responder dengan langkah langkah antara lain:6

a. Keadaan umum dengan menentukan kasus trauma atau medis.

b. Periksa respon atau tingkat kesadara

c. Pastikan jalan napas (Airway) terbuka dengan baik, Nilai pernapasan

(brathing), Nilai sirkulasi (sirculation).

d. Hubungi bantuan.

3. Menejemen korban musibah laut oleh BASARNAS terbagi atas korban sadar dan

korban tidak sadar yang memiliki teknik tidak jauh berbeda, dimana untuk korban

tidak sadar penolong harus memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukan

evakuasi korban dari dalam air agar baik penolong maupun korban dapat selamat.

4. Teknik evakuasi korban musibah laut oleh BASARNAS adalah

Suatu tindakan memindahkan orang-orang yang terkena bencana laut dengan

21
tujuan agar korban atau orang-orang tidak terkena efek dari bencana tersebut,

terdapat beberapa teknik yang bisa dilakukan yaitu:

a. Duck away (mendorong korban dengan dua Tangan)

b. Leg block (menghalangi dengan kaki)

c. Arm Block (menghalangi dengan tangan)

d. Elbow lift (mengangkat siku)

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Dirjen Bina Yanmed Depkes RI. 2006. Sistem Penanggulangan Gawat

Darurat Terpadu (SPGDT). Jakarta : EGC.

2. Tugas dan Fungsi (2010). Basarnas [on-line]. Diakses pada tanggal 15

november 2017 dari: http://www.basarnas.go.id/halaman/tugas-dan-fungsi

3. Badan SAR nasional (2012): Basarnas [online]. Diakses pada tanggal 18

november 2017 dari: http://www.basarnas.go.id

4. Kholid, Ahmad. Prosedur Tetap Pelayanan Medik Penanggulangan

Bencana.Jakarta:EGC

5. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, DEPKES RI. Penanggulangan

Penderita Gawat Darurat. 2006

6. Basarnas. Operasi SAR. ambon 2016

23