Anda di halaman 1dari 6

Kasus PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) Berkaitan dengan Pelanggaran Kode Etik Pialang Saham

Posted by HIKMAH AULIA ROSYADA on 3 OKTOBER 2017

Kasus :

Kasus transaksi semu saham PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) memasuki babak baru. Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) menaikkan status SIAP ke proses penyidikan. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, OJK
menemukan dugaan tindak pidana pasar modal yang dilakukan manajemen SIAP. Nurhaida, Kepala
Pengawasan Pasar Modal OJK, menyatakan, otoritas menemukan sejumlah hal yang harus
ditindaklanjuti.

Oleh karena itu, OJK meningkatkan status kasus SIAP. Sesuai aturan, OJK berwewenang menyidik bila
ada indikasi tindak pidana pasar modal. “Sudah dialihkan statusnya. Tapi kami tidak bisa buka, sampai
kasusnya selesai,” ungkap dia. Dalam pemeriksaan tahap awal, OJK sudah memeriksa seluruh pihak yang
terlibat dugaan transaksi semu. OJK juga akan melanjutkan penyidikan terhadap beberapa pihak
sebelum perkara ini diputus.

Jika terbukti bersalah, akan ada sanksi yang akan dikenakan ke SIAP dan beberapa pihak yang terlibat.
Otoritas belum bisa memastikan kapan perkara SIAP akan rampung. Sebab, masih terbuka kemungkinan
kasus tersebut berkembang dan melibatkan pihak-pihak lain. OJK juga berhati-hati dalam proses
penyidikan yang melibatkan emiten, broker dan investor tersebut. “Penyidikan dimanapun tidak
ditargetkan (waktunya), karena bisa saja berkembang. Pihak yang disidik mungkin juga bisa bertambah,”
tutur Nurhaida.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, bursa tidak menangani kasus SIAP secara
khusus, tetapi hanya mengurusi dugaan pelanggaran oleh anggota bursa (AB) atau broker. Terkait kasus
SIAP, dia mengatakan telah melakukan suspensi broker yang terbukti melanggar. “Bursa sudah men-
suspend brokernya. Jika bicara emiten dan investor, itu ranah OJK,” ujar dia Tito.

Hingga semalam, manajemen SIAP belum bisa dimintai konfirmasi mengenai langkah OJK yang
meningkatkan status perkara ke level penyidikan. Kasus dugaan transaksi semu saham SIAP bermula
pada Oktober 2015. Kala itu, BEI menemukan kejanggalan atas transaksi saham SIAP yang dilakukan
beberapa broker. Puncaknya, otoritas pasar modal melakukan suspensi kepada sejumlah broker,
termasuk Danareksa Sekuritas, atas kasus saham SIAP. Kepala Riset NH Korindo Securities Reza
Priyambada, menganggap kasus SIAP tidak memiliki pengaruh terhadap pasar modal Indonesia secara
keseluruhan.

Sebab, tidak semua pelaku pasar saham mentransaksikan saham tersebut. Memperketat aturan Reza
berharap, otoritas mempercepat penyelesaian kasus ini demi memberikan jaminan pasar modal
Indonesia sehat. Langkah otoritas dan bursa sejauh ini cukup baik, dengan tidak memperbolehkan
transaksi yang melibatkan saham SIAP. “Nanti kalau memang ada tindakan, itu harus melalui prosedur
hukum. Apakah SIAP bersalah atau investor bersalah. Yang jelas, pengawasannya perlu diperketat,” kata
Reza.

Untuk menghindari kasus serupa terjadi, BEI akan menambah pasal dalam aturan terkait transaksi
negosiasi. Kelak, para broker pelaku transaksi negosiasi harus membuat kesepakatan secara tertulis.
Sehingga sebelum memasukkan pemesanan, transaksi itu harus jelas akan diselesaikan secara delivery
free of payment (DFOP) atau melalui delivery versus payment (DVP).

Jika tak ada kesepakatan antara broker penjual dan pembeli, maka penyelesaiannya otomatis berlaku
secara DVP. Sebab, DFOP adalah tata cara penyelesaian transaksi efek melalui pemindahbukuan antar-
rekening efek di KSEI, dimana penyerahan efek dilaksanakan tanpa disertai pembayaran dana.
Sebaliknya, DVP adalah penyelesaian transaksi efek melalui pemindahbukuan antar-rekening efek di
KSEI. Penyerahan efek dan pembayaran dana dilakukan bersamaan.

Analisis :

Dalam kasus ini, PT SIAP telah melanggar kode etik pialang saham, dimana seharusnya para pialang
wajib untuk mengetahui hak dan kewajibannya, para pialang diharuskan untuk memegang amanat dan
dilarang dalam menggunakan saham untuk kepentingan pribadi, dalam kasus di atas terdapat
pelanggaran dimana broker bersikap curang guna kepentingan saham.

Pelanggaran ini sudah tentu akan mendapatkan sanksi yang berat apabila terbukti, pelanggaran yang
dilakukan oleh para broker sangat lah fatal.
Dalam hal ini PT SIAP telah melanggar beberapa poin-poin penting kode etik pialang saham terhadap
investor, berikut beberapa poin kode etik yang menjadi rambu bagi pialang dan wajib diketahui oleh
investor :

Pialang wajib memahami segala hak dan kewajibannya dalam berkegiatan di pasar modal, serta
memahami segala sanksi yang melekat pada kegiatan tersebut.

Pialang dilarang bekerja rangkap di perusahaan sekuritas (efek) lainnya

Pialang wajib melaksanakan amanat (perintah) investor, mengkonfirmasi amanat tersebut kepada
investor, dan memelihara catatan catatan sehubungan dengan pelaksanaan amanat yang dilakukan

Pialang dilarang menggunakan saham (efek) milik investor untuk kepentingan lain tanpa seijin investor
sendiri, seperti melakukan transaksi demi meningkatkan komisi pialang, melakukan kegiatan short
selling, atau memindahbukukan efek ke rekening selain milik investor.

Pialang dilarang meminta atau memungut biaya di luar ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan
sekuritas.

Pialang wajib menolak amanat investor yang tidak etis atau dapat merusak citra pasar modal, seperti
melakukan transaksi semu dengan memanipulasi pergerakan harga pasar (cornering)

Oleh karena itu, pialang atau perusahaan sekuritas yang melanggar poin tersebut akan menerima
ganjaran seperti :

Teguran secara tertulis

Teguran keras tertulis

Pemberhentian sementara selama tiga sampai dengan enam bulan

Pemberhentian (suspend)

Pencabutan ijin pialang atau ijin perusahaan sekuritas

Penjara

Manipulasi harga saham merupakan salah satu kejahatan pasar modal dan ini bertentangan dengan
Undang-Undang (UU) No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, khususnya pasal 91 dan 92. Pada Pasal 91
disebutkan bahwa setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung,
dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan,
keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek.
Pasal 92 juga menambahkan, setiap pihak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pihak
lain, dilarang melakukan dua transaksi efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga
menyebabkan harga efek di bursa efek tetap, naik, atau turun, dengan tujuan memengaruhi pihak lain
untuk membeli, menjual, atau menahan efek.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal :

Pasal 90

Dalam kegiatan perdagangan Efek, setiap Pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung :

menipu atau mengelabui Pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apapun.

turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain.

membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengungkapkan fakta yang
material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat
pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri
sendiri atau Pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual Efek.

Pasal 91

Setiap Pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk
menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau
harga Efek di Bursa Efek.

Pasal 92

Setiap Pihak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan Pihak lain, dilarang melakukan 2 (dua)
transaksi Efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga menyebabkan harga Efek di
Bursa Efek tetap, naik, atau turun dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli, menjual,
atau menahan Efek.
Pasal 95

Orang dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang
melakukan pembelian atau penjualan atas Efek :

Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud.

perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan.

Pasal 96

Orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilarang :

mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek dimaksud.

memberi informasi orang dalam kepada Pihak mana pun yang patut diduganya dapat menggunakan
informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek.

JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio berubah pikiran terkait
kemungkinan PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) dikeluarkan dari BEI atau delisting akibat
kasus transaksi semu saham.

Sebelumnya Tito mengatakan, SIAP bisa masuk ke dalam kategori emiten yang akan terkena
hukuman delisting akibat kasus transaksi itu. Namun saat ini, pihaknya sulit menghukum
sampai delisting. (Baca: Bos BEI: Sekawan Intipratama Terancam Delisting).

"Kita akan berpikir 1.000 kali untuk delisting SIAP," ujarnya di Jakarta, Selasa (17/11/2015).
(Baca: Ini Kemungkinan Sanksi yang Akan Diterima SIAP).

Menurutnya, bukan berarti ke depannya hukuman tersebut tidak menghampiri SIAP, dengan
catatan masih terus melakukan tindakan nakal. BEI juga memikirkan kondisi investor yang ada
di sana.

"Kalau delisting, bagaimana nasib investornya? Tapi kalau dia nakal terus ya mau tidak mau
kami delisting," pungkas Tito. (Baca: OJK Terima Laporan Final Kasus SIAP Pekan Ini).

Sebelumnya diberitakan, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio
mengungkapkan, PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP) bisa masuk dalam kategori perusahaan
yang terancam delisting akibat terkait transaksi janggal dalam dua pekan belakangan ini.

"Pasti ada sanksinya disesuaikan dengan pelanggaran. Bisa masuk kategori delisting," ujarnya
di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Sementara, sebagai perusahan terbuka keputusan SIAP melanggar atau tidak akan ditentukan
jawaban yang diberikan pemegang saham pengendalinya.