Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MELANOMA MALIGNANT

I. KONSEP DASAR MELANOMA MALIGNANT


A. DEFINISI
1. Melanoma adalah keganasan sel yang menghasilkan pigmen (melanosit) yang
terletak terutama di kulit, tetapi juga ditemukan dimata, telinga, saluran
pencernaan, leptomeninges, serta membrane mukosa oral dan kelamin. Melanoma
hanya 4% dari semua kanker kulit, namun hal itu menyebabkan jumlah terbesar
kematian terkait kanker kulit di seluruh dunia. Deteksi dini melanoma kulit adalah
cara terbaik untuk mengurangi kematian. (Arif Mutaqqin, 2012).
2. Melanoma maligna merupakan neoplasma maligna dengan terdapatnya melanosit
(sel-sel pigmen) dalam lapisan epidermis maupun dermis (dan kadang-kadang sel
subkutan). Melanoma maligna merupakan jenis kanker kulit yang mematikan dan
menyebabkan sekitar 2% dari seluruh kematian karena kanker (Brunner &
Suddarth, 2001).
3. Melanoma maligna adalah tahi lalat atau bercak kecoklatan kulit yang ganas dan
merupakan kanker kulit yang paling berbahaya. Kanker ini berkaitan dengan
pajanan yang berlebihan terhadap radiasi ultra violet paling sering menyerang
individu berkulit terang dan berambut pirang atau merah. Penyakit ini ditandai
perubahan dalam warna, bentuk dan ukuran tahi lalat atau tahi lalat yang berdarah
atau gatal. Prognosis bergantung pada ketebalan breslow penetapan stadium yang
melibatkan penetuan status kelenjar limfe dengan biopsi kelenjar sentinel.
Karsinoma sel basal atau ulkus rodens merupakan kanker kulit yang paling sering
penyakit ini umum nya terkalit dengan pajanan terhadap sinar matahari yang
berlansung bertahun – tahun. Misalnya individu yang bekerja di luar (pekerja
bangunan) atau mereka yang berkulit terang dan tinggal di dekat khatulistiwa
meskipun menyebabkan kerusakan lokal yang luas namaun kanker ini tidak
pernah bermetatastis. Karsinoma sel skuamosa adalah sel kanker invasit yang jika
di biarkan dapat bermetastatis. Terapi kanker ini mungkin eksisi yang luas.
(Eksklopedia keperawatan: 2009 hal 334 – 335).
B. EPIDEMIOLOGI
Melanoma maligna predileksi pada orang kulit putih, wilayah Queensland
Australia merupakan daerah insiden tinggi yang terkenal. Pada tahun 1982 insidennya
pada pria 18/100.000, pada wanita 17,6/100.000, angka itu masih terus meningkat.
Amerika Serikat dalam 60 tahun silam memiliki pertumbuhan insiden melanoma
maligna yang tercepat, pada tahun 1935 dari 1500 orang Amerika Serikat ada 1 orang
menderita melanoma maligna, tahun 1987 dari 135 orang ada 1 orang, pada tahun
2000 sudah berkembang menjadi dari 75 orang ada 1 menderita tumor ini. Di
kalangan kulit berwarna kejadian melanoma maligna lebih rendah. Kejadiannya
berkaitan dengan radiasi ultraviolet. Di kalangan penduduk sekitar Khatulistiwa,
angka kejadian dan kematian penyakit ini secara jelas lebih tinggi dari penduduk yang
jauh dari Khatulistiwa. Di Amerika, didapatkan data enam dari tujuh penderita kanker
ini meninggal dunia. Dan jumlah orang yang terserang meningkat dari tahun ke tahun.
Melanoma Maligna bisa berkembang dari tahi lalat timbul yang sudah ada atau yang
baru muncul.
Asia Tenggara termasuk kawasan Khatulistiwa, insiden melanoma maligna
belum terdata secara tepat. Insiden diantara kulit pria kulit putih meningkat 5,1%
setiap tahun. Sekitar 93,3% secara keseluruhan, sedangkan pada wanita peningkatan
hanya sebesar 3,8% pertahun dan 6,7 secara keseluruhan.
Melanoma maligma lebih sering terjadi kulit putih. Tempat yang paling
sering terkena pada kulit gelap adalah telapak tangan, telapak kaki, jari tangan dan
kaki, dan membran mukosa. Melanoma dapat terjadi pada usia remaja dan awal dua
puluh tahun dan tiga puluh tahun. Bukti epidemiologis yang melibatkan paparan
matahari dalam menyebabkan melanoma didukung oleh bukti biologis bahwa
kerusakan yang disebabkan oleh radiasi ultraviolet khususnya kerusakan DNA
memainkan peran inti dalam patogenesis tumor ini.
Insidensi melanoma menigkat dua kali lipat setiap 10 tahun, dan kenaikan
ini mungkin berhubungan dengan peningkatan terpapar sinar matahari saat berekreasi
dan metode deteksi dini yang lebih baik. Insidensi puncak terjadi antara usia 20 dan
45 tahun. Insidensi melanoma meningkat lebih cepat dari pada angka mortalitas
kanker yang lain, kecuali penyakit kanker paru. (Brunner & Sudarth, 2001).

C. ETIOLOGI
Etiologi tidak diketahui, tetapi sinar ultraviolet sering di curigai sebagai
penyebab melanoma maligna. Umumnya resiko tertinggi terdapat pada kulit putih /
cerah, bermata biru, berambut merah atau pirang dengan bercak – bercak kecoklatan
pada kulitnya. Karena orang – orang ini mensintesis melanin lebih lambat. Orang
keturunan Celtik atau Skandinavia menghadapi resiko yang lebih besar di samping
orang yang sering terpapar sinar matahari tetapi kulitnya tidak pernah menjadi cokelat
kekuningan. Jika matahari sangat terik dapat meningkatkan insidensi yang tidak
sebanding. Klien yang menderita melanoma di masa lalu, dapat dilihat dari riwayat
melanoma dalam keluarga, mempunyai nevus congenital yang berukuran raksasa, atau
memiliki riwayat luka bakar matahari yang parah.
Hingga 10% penderita melanoma merupakan anggota keluarga yang
cenderung menderita melanoma dan memiliki lebih dari satu nevus yang terus
berubah (nevi displastik) serta rentan terhadap transformasi maligna. Penderita
sindrom nevus displastik ternyata memiliki mola yang tidak lazim, berukuran lebih
besar dan berjumlah lebih banyak, lesi dengan garis bentuk yang tidak teratur dan
pigmentasi pada seluruh kulit. Pemeriksaan mikroskopik nevus yang displastik akan
memperlihatkan pertumbuhan yang abnormal dan menyimpang.

D. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Secara Klinis
Melanoma maligna ada 4 macam tipe, yaitu:
a. Superficial Spreading Melanoma
Merupakan tipe melanoma yang sering terjadi di Amerika Serikat,
yaitu sekitar 70% dari kasus yang didiagnosa sebagai melanoma. Dapat terjadi
pada semua umur namun lebih sering pada usia 30-50 tahun, sering pada
wanita dibanding pria dan merupakan penyebab kematian akibat kanker
tertinggi pada dewasa muda.
Pada stadium awal, tipe ini bisa berupa bintik yang datar yang
kemudian pigmentasi dari lesi mungkin menjadi lebih gelap atau mungkin
abu-abu, batasnya tidak tegas, dan terdapat area inflamasi pada lesi. Area di
sekitar lesi dapat menjadi gatal. Kadang-kadang pigmentasi lesi berkurang
sebagai reaksi imun seseorang untuk menghancurkannya. Tipe ini berkembang
sangat cepat. Diameter pada umumnya lebih dari 6mm. Lokasi pada wanita di
tungkai bawah, sedangkan laki-laki di badan dan leher.
Gambaran histologis Superficial Spreading Melanoma, pada
epidermis didapatkan melanosit berbentuk epiteloid, dapat tersusun sendiri –
sendiri atau berkelompok, pada umumnya sel – sel tersebut tidak tampak
pleomorfik. Pada dermis terlihat sarang – sarang tumor yang padat dan dengan
melanosit berbentuk epiteloid yang besar serta berkromatin yang atipik, di
dalam sel – sel tersebut terdapat butir – butir kromatin, kadang – kadang dapat
di temukan melanosit berbentuk kumparan dan sel – sel radang.
b. Nodular Melanoma
Merupakan tipe melanoma yang paling agresif. Pertumbuhannya
sangat cepat dan berlangsung dalam waktu mingguan sampai bulanan.
Sebanyak 15% - 30% kasus melanoma yang terdiagnosa sebagai melanoma
merupakan nodular melanoma. Dapat terjadi pada semua umur, namun lebih
sering pada individu berusia 60 tahun ke atas. Tempat predileksinya adalah
tungkai dan tubuh. Melanoma ini bermanifestasi sebagai papul coklat
kemerahan atau biru hingga kehitaman, atau nodul berbentuk kubah, atau
setengah bola (dome shaped) atau polopoid dan aksofitik yang dapat timbul
dengan ulserasi dan berdarah dengan trauma minor, timbul lesi satelit. Secara
klinik bisa berbentuk amelanotik atau tidak berpigmen. Fase
perkembangannya tidak dapat dilihat dengan mudah, dan sulit di identifikasi
dengan deteksi ABCDE.
Gambaran histologis Nodular melanoma pada epidermis didapatkan
melanosit berbentuk epiteloid, dan kumparan atau campuran, dapat ditemukan
pada daerah dermo – epidermal. Gambaran dermis terlihat sel – sel melanoma
menginvasi ke lapisan retikuler dermis, pembuluh darah dan subcutis.
c. Lentigo Maligna Melanoma
Sebanyak 4-10 % kasus melanoma merupakan tipe Lentigo Maligna
melanoma. Terjadi pada kulit yang rusak akibat terpapar sinar matahari pada
usia pertengahan dan lebih tua, khususnya pada wajah, leher dan lengan.
Melanoma tipe ini pada tahap dini terdiagnosa sebagai bercak akibat umur
atau terpapar matahari. Karena mudah sekali terjadi salah diagnosa maka tipe
ini dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan cukup berbahaya.
Pertumbuhan tipe ini sangat lambat yaitu sekitar 5-20 tahun.
Pada tahap in situ lesinya luas (>3cm) dan telah ada selama bertahun-
tahun. Karakteristik invasinya ke kulit berupa macula hiperpigmentasi coklat
tua sampai hitam atau timbul nodul yang biru kehitaman. Pada permukaan
dijumpai bercak-bercak warna gelap (warna biru) tersebar tidak teratur, dapat
menjadi nodul biru kehitaman invasive agak hiperkeratonik.
Pada epidermis di dapatkan Melanositik atipik sepanjang membrane
basalis, berbentuk pleomorfik dengan inti yang atipik. Sel – sel yang di jumpai
berbentuk kumparan. Sedangkan pada dermisnya terdapat Infiltrasi limfosit
dan makrofag yang mengandung melanin.
d. Acral Lentigineous Melanoma
Tipe ini paling sering menyerang kulit hitam dan Asia yaitu sebanyak
29-72% dari kasus melanoma dan karena sering terlambat terdiagnosis maka
prognosisnya buruk. Sering disebut sebagai ”hidden melanoma” karena lesi
ini terdapat pada daerah yang sukar untuk dilihat atau sering diabaikan, yaitu
terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, tumit, ibu jari tangan, atau dibawah
kuku.
Melanoma subungual bisa terlihat sebagai diskolorasi difus dari kuku
atau pita longitudinal berpigmen di dasar kuku. Melanoma ini memiliki
bentukan yang sama dengan benign junctional melanotic nevus. Pigmen akan
berkembang dari arah proksimal menuju ke arah laterla kuku yang disebut
sebagai tanda Hutchinson, sebuah tanda yang khusus untuk melanoma akral.
Pada permukaan timbul papul, nodul, ulcerasi, kadang-kadang lesi tidak
mengandung pigmen.
Gambaran yang paling khas paling baik di lihat pada daerah macula
berpigmen. Tampak adanya gambaran proliferasi melanosit atipikal sepanjang
lapisan basal.

2. Klasifikasi Menurut Kedalaman (Ketebalan) Tumor Menurut Breslow:


a. Golongan I: Kedalaman (ketebalan) tumor < 0,76 mm
b. Golongan II: Kedalaman (ketebalan) tumor 0,76 – 1,5 mm
c. Golongan III: Kedalaman (ketebalan) tumor > 1,5 mm

3. Klasifikasi Tingkat Invasi Menurut Clark.


a. Tingkat I: sel melanoma terletak di atas membran basalis epidermis(melanoma
in situ / intra epidermal).
b. Tingkat II: invasi sel melanoma sampai dengan lapisan papilaris dermis
(dermis superfisial), tetapi tidak mengisi papila dermis.
c. Tingkat III: Sel melanoma mengisi papila dermis dan meluas sampai taut
dermis papiler dan retikuler.
d. Tingkat IV: Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis dermis.
e. Tingkat V: Invasi sel melanoma sampai dengan jaringan subkutan.

4. Klasifikasi yang Merupakan Variasi Dari Sistem TNM (National Comprehensive


Cancer Network).
a. Stage 0: melanoma insitu, yang berarti hanya melibatkan lapisan epidermis
dan belum menyebar ke dermis. Dalam klasifikasi menurut Clark tingkat I.
b. Stage 1: melanoma memiliki ketebalan kurang dari 1 mm atau sekitar 1/25
inch. Dalam klasifikasi Clark, sesuai dengan tingkat II atau III.
c. Stage I – II: melanoma memiliki ketebalan antara 1 – 4 mm atau menurut
klasifikasi Clark sesuai dengan tingkat IV dengan ketebalan berapapun.
Tingkat ini masih terlokalisasi di kulit dan belum ditemukan penyebaran pada
kelenjar limfe atau organ lain yang jauh.
d. Stage III: melanoma sangat tebal, lebih dari 4 mm, atau jika dalam klasifikasi
Clark, sesuai dengan tingkat V dan atau nodul melanoma ditemukan dalam 2
cm dari tumor utama. Atau melanoma telah menyebar ke kelenjar limfe
terdekat, tapi masih belum ada penyebaran jauh.
e. Stage IV: melanoma telah menyebar luas disamping ke regio sekitarnya,
seperti ke paru-paru, hati, otak, dll.

E. PATOFISIOLOGI
Melanosit adalah sel yang terletak atau dekat pada lapisan basal, (pada
lapisan epidermal). Sel-sel ini memproduksi melanin, pigmen coklat pada kulit
melanin adalah dibuat dalam ganul-ganul dan transferan dari keratinosit. Dimana
akumulasi pada bagian permukaan dari tiap-tiap keratinosit dan bentuk perisai dari
bagian pigmen nucleus yng melindungi agen dari sinar ultraviolet. Melanoma maligna
terjadi dimana ada pigmen, tetapi antara 1-3 kali dari mereka murni merupakan tahi
lalat.
Melanoma maligna dapat terjadi sebagai salah satu dari beberapa bentuk ini:
melanoma dengan penyebaran superficial, melanoma lentigo maligna, melanoma
nodular, dan melanoma akral-lentinginosa. Semua tipe ini memiliki ciri klinis, serta
histologik tertentu disamping perilaku biologis yang berlainan. Sebagian besar
melanoma berasal dari melanosit epidermal kutaneus, tetapi sebagian lagi muncul
dalam bentuk nervus yang sudah ada sebelumnya pada kulit atau tumbuh pada traktus
uvea mata. Melanoma sering timbul secara bersamaan dengan kanker pada organ lain.
Kebanyakan melanoma maligna berdiameter lebih dari 6mm, asimetris, dan
ciri khas terjadi pada epidermis, lesi (disebut melanoma maligna in situ) adalah tipis
dan relatif lunak. Bagaimana pun, ketika lesi menembus dermis dan bercampur
dengan darah, vessel limpe dan terjadi pada metastase. Pada bagian ini meningkat,
terjadi tumor atau terbentuk nodul dan sering terdapat nodul-nodul yang lebih kecil,
disebut satelit lesi, sekitar pori-pori.
Prognosis untuk daya tahan orang yang di diagnosa dengan melanoma
maligna adalah derminan oleh beberapa variabel, termasuk tumor yang menebal,
ulserasi, metastasis, tempat, usia, dan gender. Klien yang lebih muda dan wanita lebih
baik perubahan dan pertahanannya. Tumor pada tangan, kaki, dan kulit kepala adalah
prognosis yang buruk, tumor pada kaki dan kepala sedikit tampak dan tidak dapat di
diagnosis sampai mereka tumbuh atau berkembang ke dalam dermis.
Prognosis penderita dengan melanoma maligna tidaklah seburuk yang
dipikirkan, kebanyakan penderita ini dapat hidup lebih dari 5 tahun dan banyak yang
dapat disembuhkan. Diagnosis dini dan pembedahan bertanggungjawab untuk
membuat statistic menjadi lebih baik. Beberapa faktor menentukan keselamatan
penderita melanoma. Penderita melanoma yang menyebar superficial memiliki
prognosis yang paling baik, diikuti oleh melanoma lentigo; melanoma nodular
memiliki prognosis yang paling buruk. Lesi-lesi yang terletak pada kulit kepala
posterior, punggung, dan lengan bagian posterior memiliki prognosis yang paling
buruk.

F. MANIFESTASI KLINIK
Gejala atau tanda yang patut di curigai sebagai tanda keganasan suatu lesi
adalah perubahan warna seperti lebih terang atau lebih gelap, gatal, perubahan bentuk
menjadi tidak teratur atau nevus bertambah luas serta bertambah tebal, pertumbuhan
horizontal dan vertikal, permukaan tidak rata, dan akhirnya pembentukan tukak.
Pendarahan menandakan proses sudah sangat lanjut.
1. Asymmetry : Jika kita melipat lesi menjadi dua, maka tiap-tiap bagian tidak
sesuai
2. Border : Batasnya tidak tegas atau kabur
3. Color : Ciri melanoma tidak memiliki satu warna yang solid melainkan campuran
yang terdiri dari coklat kekuningan, coklat dan hitam, juga bisa tampak merah,
biru atau putih.
4. Diameter : Meskipun melanoma biasanya lebih besar dari 6 mm, ketika dilakukan
pemeriksaan mereka bisa lebih kecil dari seharusnya . Sehingga harus
diperhatikan perubahan tahi lalat dibanding yang lainnya atau berubah menjadi
gatal atau berdarah ketika diameternya lebih kecil dari 6 mm.
5. Evolving : Setiap perubahan dalam ukuran, bentuk, warna, tingginya atau ciri-ciri
lain atau ada gejala baru seperti mudah berdarah, gatal dan berkrusta harus
dicurigai keganasan

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Selain biopsi dari dugaan lesi, laboratorium dan tes diagnostik digunakan
menentukan keadaan tumor apakah telah metastase. Karena malignan melanoma
dapat metastase pada beberapa organ atau jaringan dari tubuh, dilakukan macam-
macam tes. Tes laboratorium termasuk seperti dibawah ini:
1. Tes fungsi liver untuk menentukan keadaan tumor yang telah metastasis pada
liver. Kombinasi dari elevasi LDH, alkaline phosphatase, dan SGOT
mempengaruhi liver.
2. Menghitung jumlah darah yang dilakukan untuk menentukan abnormalitas
hematologi.
3. Tes serum darah dilakukan untuk mengindentifikasi elektrolit mineral yang
abnormal.
4. Biopsi lesi adalah hanya metode definitif pada diagnosa malignan melanoma.
Eksisi biopsI adalah prosedur diagnostik dari pilihan karena dibawah ini lebih
komplit histologic evaluasi dan tingkat mikroskop. Biopsi tidak harus dilakukan
jika terduga melanoma, karena ketebalan dan dalamnya lesi tidak dapat di kaji,
membuat keputusan tentang prognosis dan pengobatan sangat sulit.
5. CT–scan liver menentukan jika enzim hati abnormal dan menentukan luasnya
metastasis dari hati lebih akurat.
6. Rotgen dada dilakukan jika klien sulit bernafas atau hemoptisis, dimana
rangsangan paru-paru menjadi metastasis.
7. Scan tulang dilakukan untuk menentukan metastatik karena tidak dapat
menentukan nyeri tulang.
8. CT scan atau MQI dari otak yaitu menentukan pengkajian dari metastasis jika
klien sakit kepala, seizure, atau defisit neurology.
9. Biopsi jaringan dari limpa tulang belakang atau lesi kulit lain dilakukan untuk
mengidentifikasi metastasis.

H. PENATALAKSANAAN
1. Pembedahan
Eksisi dilakukan seluas 1 cm di luar tumor. Eksisi dengan menyertakan fasia
profunda tidak mempengaruhi prognosis, demikian juga di seksi getah bening
regional pada tumor yang belum menunjukkan tanda metastasis jauh.
2. Perfusi
Setelah eksisi melanoma di ekstremitas, dapat di lakukan perfusi untuk
pembertian sitostatik ajuvan. Perfusi merupakan tindakan bedah yang agak besar
sebab ekstremitas harus di kosongkan dari peredaran darah sehingga harus di
kerjakan dengan pompa pengatur suhu dan oksigenator (mesin jantung paru).
3. Imunologi
Melanoma memperlihatkan reaksi yang tidak di mengerti yang di duga
berdasarkan pengaruh imunologik. Penggunaan vaksin sebagai terapi seperti
vaksin BCG kadang menyebabkan regresi parsial untuk waktu terbatas tetapi tidak
mempengaruhi prignosis. Setelah pembedahan perlu ditekankan pentingnya
pengawasan berkala karena walaupun di temukan pada derajat satu, kemungkinan
kambuh cukup besar.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Pasien yang beriko tinggi mengalami melanoma maligna adalah mereka
yang mempunyai gejala pruritus, nyeri tekan dan rasa sakit yang bukan
merupakan ciri khas nevus yang benigna. Kepada pasien juga ditanyakan
mengenai perubahan yang terjadi pada nevus yang sudah ada sebelumnya atau
pertumbuhan lesi baru berpigmen orang-orang yang beresiko harus diperiksa
dengan cermat. Kaca pembesar dan pencahayaan yang baik diperlukan dalam
melakukan infeksi kulit untuk mendapatkan iregulitas dan perubahan pada nevus.
2. Riwayat Keperawatan
a. Keluhan Utama
Pasien yang datang dengan awitan gejala pruritus, nyeri tekan dan rasa sakit
yang bukan merupakan ciri khas nevus yang benigna.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Umumnya pasien yang datang dengan awitan gejala pruritus,nyeri tekan dan
rasa sakit yang bukan merupakan ciri khas nevus yang benigna.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan sebelum menderita penyakit ini pasien tidak mempunyai
riwayat penyakit lainnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit ini dan
tidak ada anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit menular
ataupun menahun.
3. Pengkajian Bio – Psiko – Sosial – Spiritual
a. Aktivitas/Istirahat
Tanda : Keterbatasan mobilisasi/kehilangan pada bagian yang terkena
(mungkin segera karena nyeri, pembengkakkan setelah tindakan aksisi dan
graft kulit).
b. Sirkulasi
Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai rspon terhadap nyeri/ansietas),
takikardia (respon stress, hipovolemia), lesi cenderung sikuker dengan bagian
luar yang tidak teratur.
c. Neurosensori
Nyeri dada daerah karsinoma.
d. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri berat saat tindakan eksisi dan graft kulit (mungin terlokasi pada
area lesi yang di eksisi local yang luas dan pada graft kulit).
e. Keamanan
Tanda : Lesi semakin menonjol, pendarahan lesi, perubahan local pada warna
nodul (biasanya relative licin serta berwarna biru hitam yang seragam, dapat
meningkat/berubah secara bertahap), serta nodul yang menebal, bersisik dan
berulselasi.
f. Penyuluhan /Pembelajaran
Gejala : Lingkungan trauma, aktivitas perawatan dini dan tugas
pemeliharaan/perwatan rumah
Pengkajian terhadap pasien melanoma maligna dilakukan berdasarkan
riwayat pasien dan gejalanya. Pasien di tanya khususnya tentang gejala pruritus,
nyeri tekan, dan rasa sakit yang bukan merupakan ciri khas nevus yang benigna.
Pasien juga di tanya mengenai perubahan yang terjadi pada nevus yang sudah ada
sebelumnya atau pertumbuhan lesi baru yang berpigmen. Orang-orang yang
bersiko harus diperiksa dengan cermat.
Malignan melanoma sering ditemukan pada tubuh laki-laki dan
ekstremitas bawah wanita. Tidak pernah berkurang, ini penting untuk klien yang
latihan fisik terus dan total pengkajian kulit . pada tahap ini latihan visual dari
seluruh permukaan kulit, palpasi regional pembesaran limpe, hati, dan spleen
adalah penting untuk mengkaji dari metastasis ketika tersangka melanoma
ditemukan.
Smeltzer (2002) memberikan panduan tentang teknik dalam melakukan
inspeksi kulit untuk menemukan iregularitas dan perubahan pada nevus. Tanda-
tanda yang menunjukkan perubahan malignan mencakup berikut ini:
a. Warna yang bervariasi
 Warna yang terdapat menunjukkan keganasan pada lesi yang coklat atau
hitam adalah bayangan warna merah, putih dan biru. Bayangan warna biru
dianggap bisa mengkhawatirkan.
 Daerah-daerah putih dalam lesi yang berpigmen perlu dicurigai.
 Sebagian melanoma maligna tidak memiliki warna yang bervariasi, tapi
sebaliknya mempunyai warna yang seragam (hitam kebiruan, kelabu
kebiruan, merah kebiruan) .
b. Tepi yang ireguler. Indentasi atau lekukan yang menyudut pada bagian tepi
nevus harus dicatat.
 Permukaan yang ireguler.
 Tonjolan permukaan yang tidak merata (topografi ireguler) dapat teraba
atau terlihat. Perubahan pada permukaan bisa licin hingga seperti sisik.
 Sebagian melanoma noduler memiliki permukaan yang licin.
c. Lokasi melanoma yang sering adalah kulit pada bagian punggung, tungkai
(khususnya wanita), antara jari-jari kaki, muka, kulit kepala, jari-jari tangan
serta bagian dorsal tangan.
 Pada orang yang berkulit gelap, melanoma paling sering terdapat di tempat
yang tidak begitu mengandung pigmen seperti telapak tangan, telapak
kaki, daerah subungual dan membrane mukosa.
d. Diameter nevus harus diukur karena umumnya melanoma berukuran lebih dari
6mm. Lesi satelit (lesi yang terletak di dekat nevus) harus dicatat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pre operasi:
a. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi penyakit klien b/d kurangnya
informasi.
b. Cemas b/d krisis situasi (prosedur pembedahan).
c. Nyeri Akut b/d agen boligis (proses kanker).
2. Post operasi:
a. Nyeri akut b/d agen injuri fisik (luka pembedahan).
b. Resiko infeksi dengan resiko infeksi: prosedur invasif, luka pembedahan

D. IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi keperawatan yang telah disusun.

E. EVALUASI
Evaluasi dilakukan dalam bentuk evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi
dilakukan sesuai dengan kriteria hasil yang telah disusun.

F. DISCHARGE PLANNING
Pendidikan kesehatan untuk pulang kerumah
1. Berikan penkes klien dan keluarga tindakan diagnosis dan pengobatan dari
maligna melanoma termasuk 2 area: preventif dan fasilitasi perawatan diri dan
selama perawatan memonitor dirinya. Teknik untuk melindungi dari paparan sinar
matahari dan latih kulit untuk bergerak dan anjuran secara umum untuk perawatan
pada bagian yang utama yang telah dijelaskan. Pada area lainnya dari klien dan
pendidikan kesehatan keluarga telah dijelaskan pada bagian ini. Mereka
mengulang untuk keduanya baik klien dengan malignan melanoma dan klien
dengan nonmalignan kanker kulit.
2. Pengkajian perawat pada kulit klien yang banyak hal yang berbeda dalam
pengaturan dan memberikan penkes dan deteksi dini. Perintahkan untuk
pengkajian perawatan kulit, spesifik deteksi pada kanker kulit.
3. Teknik klien yang resiko tinggi atau yang kanker kulit adalah penting untuk
pengetahuan dasar klien, latar belakang pendidikan dan level cemas dan membaca
untuk belajar. Karena diagnosis kanker meningkatkan cemas, perawat butuh untuk
informasi saat ini yang format simple dan mengulang beberapa kali. Perlihatkan
photograph dari keduanya normal dan lesi kanker kulit mengkin dapat menolong
pendidikan klien dan keluarga untuk melihat ketika melakukan kegiatan sendiri.
4. Penkes untuk klien dan keluarga adalah spesifik untuk tipe pengobatan. Dalam
penambahan perawatan luka, klien yang mengalami dieksisi limpa berikan
instruksi untuk melindungi daerah ekstriminas dari perdarahan, trauma dan
infeksi. Perawat menjelaskan manifestasi dan efek samping dari kemoterapi dan
radiasi dan berikan informasi tentang penurunan nausea dan muntah, anorexia dan
nyeri otot. Klien dengan gejala ini pengobatannya yang dihendaki informasi
tentang perawatn kulit di iritasi pada area kulit.
5. Klien dengan malignan melanoma sangat penting untuk membuat jadwal
pengobatan check up umum setiap 3 bulan selama 2 tahun pertama, setiap 6 bulan
untuk 5 tahun berikutnya dan tahun berikutnya. Perawat harus menekankan bahwa
perawatan diri yang cocok untuk mengkombinasi dengan pengobatan regular
dapat membantu klien untuk kembali pada kehidupan yang normal. Jika asisten
untuk perawatan rumah sebagai tambahan, perawat dapat menunjukkan klien pada
kanker local support group jika klien percaya dapat membantunya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Melanoma Vaccine. Availlable:


http://www.google.com/journal/dermatology.cdlib.org/111/melanoma-vaccine/yeh.html.
(diakses 12 Desember 2013).
Anonim. 2011. Diagnosis and Managemen of Melanoma Maligna. Availlable: www.
American Academy Of Family Phisicians.com. (diakses 12 Desember 2013).
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta; EGC.
Buditjahyono, Susanto. 2003. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Jakarta :
EGC.
Djuanda, Prof. Dr. dr. Adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.5. Jakarta:
FKUI.
Emedcin. 2010. Malignant Melanoma. Availlable: www.emedcine. Susan M
Sweeter MD. (diakses 12 Desember 2013).
Doenges E, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Graham, R. 2005. Lecture Notes on Dermatologi. Ed. 8. Jakarta: Erlangga.
Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.
John A. Parrish. 2011. Immunosuppression, Skin Cancer, and Ultraviolet A
Radiation. Availlable: http://content.nejm.org/cgi/cont. (diakses 12 Desember 2013).
NANDA. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA: Defnisi dan Klasifikasi 2012 –
2014. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-
proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC.
Suriadireja, A. 2010. Mengenal Kanker Kulit Diagnosa, Pengobatan Dan
Pencegahan. Availlable: http://www.dharmais.co.id/new/content.php?
page=article&lang=id&id=15ent/full/352. (diakses 12 Desember 2013).