Anda di halaman 1dari 3

Peran kohati dalam menghadapi perkembangan zaman

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia biasanya dibedakan secara sexual, sesuai jenis kelamin (sex) yakni laki-laki
dan perempuan. Berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan adalah sebuah
kodrat. Berbicara mengenai masalah perempuan tidak akan ada habis-habisnya dan
selalu menjadi hal yang menarik. Keberadaan perempuan yang selalu dijadikan
makhluk nomor dua adalah akibat hasil dari sistem masyarakat. Perempuan
memiliki hak untuk hidup dan mengatur hidupnya sendiri walaupun pada
kenyataan hidup seorang perempuan lebih banyak didominasi oleh laki-laki.
Keberadaan jenis kelamin dijadikan alasan untuk berlaku tidak adil pada
perempuan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Hilangnya sifat keperempuanan akibat adanya kesetaran gender
2. Hak asuh anak tidak lagi sesuai dengan yang seharusnya
3. Akibat adanya kesetaraan gender kaum adam sudah tidak menempati
kedudukannya sebagai pemimpin dalam rumah tangga
4. Hilangnya hubungan emosional antara anak dan orang tua akibat modernisasi
C. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Perempuan mengetahui dirinya sebagaimana hakekat seorang Perempuan
2. Hak asuh anak dapat dikembalikan sesuai dengan seharunya
3. Manajemen organisasi dalam rumah tangga sesuai dengan seharusnya
4. Hubungan emosional anak dan orang tua semakin meningkat

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. Gender
Gender berasal dari kata genus (dari gener, latin) yang berarti jenis, tipe.
Gender kemudian berarti jenis kelamin. Tetapi kini gender lebih mengacu pada
perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang dibuat melalui proses sosial
dan budaya yang panjang. Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial
yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung-jawab laki-laki dan
perempuan. Perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki dapat ditukarkan
dan berubah dari waktu ke waktu, serta berbeda dari satu tempat ke tempat
lain.
Gender dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang dikaitkan
dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran sosial atau
identitasnya dalam masyarakat. WHO memberi batasan gender sebagai
“seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi
laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksikan secara sosial dalam suatu
masyarakat”.
Istilah gender lebih merujuk kepada kontruksi sosial dengan kata lain, gender
adalah kategori untuk menjelaskan perbedaan antara perempuan dan laki-laki
akibat konstruksi sosial (culture). Yang termasuk dalam kategori tersebut
adalah ciri feminim/ maskulin, identitas feminim/ maskulin, dan aktor sosial
perempuan/ laki-laki berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Dengan kata lain,
gender tidak dapat direduksikan dengan ciri-ciri biologis, walaupun sering kali
hal tersebut dianggap alamiah. Pertentangan ciri ini sangat penting dalam
konstruksi gender sebab jika sesuatu dianggap feminim maka ia tidak maskulin.
2. Perempuan
Kata perempuan adalah kata yang berasal dari Sansekerta yakni “empu”
merupakan gelar kehormatan yang berarti tuan; orang ahli; atau jika dijadikan
verbal: mengampu, menghormati, memuliakan, mengasuh, membimbing. Kata
perempuan lebih menunjuk kepada manusia yang mempunyai ciri-ciri yakni
memiliki rahim, mempunyai saluran untuk melahirkan, memproduksi sel telur,
memiliki vagina dan mempunyai alat menyusui.
Kata lain yang sering digunakan antara lain adalah wanita dan juga berasal dari
bahasa Sanskerta yakni “vanita” yang berarti “yang diinginkan laki-laki”.
Demikian juga dalam bahasa Jawa kata wanita diartikan yakni “berani diatur”
atau “berani ditata”.
3. Kohati
Sebelum kita membahas lebih banyak yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah
pengertiannya. Kohati merupakan singkatan dari Korps HMI-Wati (PDK pasal 1). Kohati
juga merupakan badan khusus HMI yang bertuga membina, mengembangkan dan
meningkatkan potensi HMI-Wati dalam wacan dan dinamika gerakan keperempuanan.
Jadi Kohati adalah wahana untuk mengakomodir potensi dan menampung aspirasi para
HMI-Wati. Untuk dapat menjadi anggota Kohati adalah semua mahasiswi yang telah lulus
LK1 (pasal 8).

Kohati bersifat semi-otonom (pasal 5), artinya secara internal ia menjadi bidang UPP, dan
secara eksternal ia menjadi Kohati. Dengan sifat ini, maka Kohati sebagai sub-sistem
dalam perjuangan HMI. Latar belakang munculnya sifat ini, karena pada dasarnya
anggota HMI mengakui adanya kesamaan kemampuan dan kesempatan antar anggota,
baik laki-laki maupun perempuan. Namun suprastruktur masyarakat kita nampaknya
masih menempatkan organisasi sebagai alat yang efektif untuk menyahuti berbagai
persoalan dalam upaya pencapaian tujuannya.

Adapun tujuan Kohati adalah “Terbinanya Muslimah Berkualitas Insan Cita” dan
statusnya adalah badan khusus HMI yang bergerak dalam wacana dan dinamika gerakan
keperempuanan. Dengan spesialisasinya di bidang perempuan maka sudah seharusnya
Kohati mampu merespon perkembangan permasalahan keperempuanan di masyarakat
dewasa ini.
B. TEORI KESETARAAN GENDER
C. AKIBAT ADANYA KESETARAAN GENDER
D. PERAN DALAM RUMAH TANGGA
E. DAMPAK MODERNISASI TERHADAP ANAK
F. PERAN KOHATI DALAM MENGHADAPI PERKEMBANGAN ZAMAN

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN