Anda di halaman 1dari 11

Coal Workers’ Pneumoconiosis, Penyakit Akibat Kerja

Surya Dharma
102012390
suryadharmabaharudin@gmail.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan

Istilah pneumokoniosis berasal dari bahasa yunani yaitu “pneumo” berarti paru dan “konis”
berarti debu. Terminologi pneumokoniosis pertama kali digunakan untuk menggambarkan
penyakit paru yang berhubungan dengan inhalasi debu mineral. Pneumokoniosis digunakan
untuk menyatakan berbagai keadaan berikut:1,2
 Kelainan yang terjadi akibat pajanan debu anorganik seperti silika (silikosis), asbes
(asbestosis) dan timah (stannosis).

 Kelainan yang terjadi akibat pekerjaan seperti pneumoconiosis Batubara.

 Kelainan yang ditimbulkan oleh debu organik seperti kapas (bisinosis).

Istilah pneumokoniosis seringkali hanya dihubungkan dengan inhalasi debu anorganik. Definisi
pneumoconiosis adalah deposisi debu di dalam paru dan terjadinya reaksi jaringan paru akibat
deposisi debu tersebut. International Labour Organization (ILO) mendefinisikan
pneumoconiosis sebagai suatu kelainan yang terjadi akibat penumpukan debu dalam paru yang
menyebabkan reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Reaksi utama akibat pajanan debu di paru
adalah fibrosis. Istilah pneumokoniosis ini dibatasi pada kelainan reaksi non-neoplasma akibat
debu tanpa memasukkan asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan pneumonitis
hipersensitif walaupun kelainan tersebut dapat terjadi akibat pajanan debu dalam jangka lama.

Anamnesis

Adalah percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang
lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk data pasien beserta permasalahan medisnya.
Untuk mendiagnosis penyakit akibat kerja langkah ini sangat penting karena maklumat yang
mencukupi supaya dapat menghubungkan antara paparan di tempat kerja dengan gejala yang
diderita pasien. Antara data yang dapat dipertanyakan adalah seperti:

Identitas

 Nama
 Umur
 Alamat tinggal
 Pekerjaan

Keluhan utama

Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan atau yang paling berat sehingga
mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis. Dalam kasus ini pasien
tersebut mengeluh batuk yang tidak sembuh-sembuh sejak 1 tahun terakhir.

Riwayat penyakit sekarang

Tahapan ini penting untuk menanyakan beberapa perkara seperti kronologi atau perjalanan
penyakit, gambaran atau deskripsi keluhan utama, keluhan atau gejala penyerta dan usaha
berobat.

Apakah batuknya disertai dahak, darah?

Frekuensi batuknya apakah sepanang hari?

Apakah disertai dengan sesak nafas?

Apakah ada keluhan lain seperti demam, keringat malam?

Kalau di tempat kerja (tambang) pakai alat pelindung diri tidak seperti masker?

Teman sekerjanya ada yang menderita batuk-batuk juga tidak?

Riwayat penyakit dahulu

Tujuannya untuk mendapatkan informasi tentang riwayat penyakit dahulu secara lengkap.
Tanyakan riwayat penyakit dahulu yang mungkin menimbulkan gejala yang sama dengan
keluhan pasien. Pasien sudah satu tahun menderita tuberculosis paru dan resisten karena masih
kambuh setelah menerima pengobatan.

Riwayat penyakit keluarga

Tujuannya untuk menanyakan riwayat penyakit yang diderita keluarga pasien tidak hanya
penyakit orang tuanya saja, tetapi juga riwayat kakek/nenek, paman/bibi, saudara sepupu dan
lain-lain.

Riwayat pribadi

Beberapa kebiasaan berakibat buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menjadi penyebab
penyakit yang kini diderita pasien tersebut. Dalam kasus ini pasien dinyatakan tidak merokok.

Pemeriksaan Fisik

Setelah mengambil tanda-tanda vital pasien, dilakukan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan
seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Disebabkan keluhan pasien adalah batuk jadi
daerah yang akan diperiksa adalah toraks. Berikut dijelaskan kelainan-kelainan yang dapat
ditemukan pada penyakit yang diduga diderita pasien.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan bakteriologis untuk menemukan kuman TB mempunyai arti yang sangat penting
dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologis ini dapat berasal dari
dahak, cairan pleura, bilasan bronkus, liquor cerebrospinal, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar, urin, faeces, dan jaringan biopsy.3

Pemeriksaan rutin radiologi adalah foto toraks PA. Tuberkulosis memberikan gambaran
bermacam-macam pada foto toraks. Gambaran radiologis yang ditemukan dapat berupa:4

 bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
 bayangan berawan atau berbercak
 Adanya kavitas tunggal atau ganda
 Bayangan bercak milier
 Bayangan efusi pleura, umumnya unilateral
 Destroyed lobe sampai destroyed lung , Kalsifikasi
Working diagnosis
Tuberkulosis paru

Pada pemeriksaan toraks tidak ada tanda-tanda spesifik yang menunjang diagnosis tuberculosis
paru. Hasil pemeriksaan dapat berupa normal atau ada ditemukan tanda klasik seperti bunyi
ronki basah pada apeks paru.4

Penatalaksaan Tuberkulosis Paru


World Health Organization merekomendasikan obat kombinasi dosis tetap (KDT)untuk
mengurangi risiko terjadinya TB resisten obat akibat monoterapi. DenganKDT pasien tidak dapat
memilih obat yang diminum, jumlah butir obat yang harusdiminum lebih sedikit sehingga dapat
meningkatkan ketaatan pasien dan kesalahanresep oleh dokter juga diperkecil karena
berdasarkan berat badan.2,8 Dosis harianKDT di Indonesia distandarisasi menjadi empat
kelompok berat badan 30-37 kg BB,38-54 kg BB, 55-70 kg BB dan lebih dari 70 kg BB.5
Table 3: Dosis Rekomendasi OAT lini Pertama Untuk Dewasa.5

Tuberkulosis resisten obat

Diagnosis TB resisten obat ganda dipastikan berdasarkan hasil uji resistensi dari laboratorium
dengan jaminan mutu eksternal. Semua suspek TB resisten obat ganda diperiksa dahaknya untuk
selanjutnya dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi. Jika hasil uji kepekaaan terdapat M.
tuberculosis yang resisten minimal terhadap rifampisin dan isoniazid maka dapat ditegakkan
diagnosis TB resisten obat ganda.
Kasus TB diklasifikasikan dalam kategori berdasarkan uji resistensi obat dari isolate klinis yang
dikonfirmasi M. tuberculosis yaitu:

 Monoresisten: isolat M. tuberculosis kebal terhadap salah satu OAT lini pertama.
 Poliresisten: isolat M. tuberculosis kebal dua atau lebih OAT lini pertama selain
kombinasi rifampisin dan isoniazid.
 Resisten obat ganda atau dikenal dengan multidrug-resistant tuberculosis (MDRTB):
isolat M. tuberculosis resisten minimal terhadap isoniazid and rifampisin yaitu OAT yang
paling kuat dengan atau tanpa disertai resisten terhadap OAT lainnya.
 Resisten berbagai OAT / extensively drug-resistant tuberculosis (XDR-TB): adalah TB
resisten obat ganda yang disertai resisten terhadap salah satu fluorokuinolon dan salah
satu dari tiga obat injeksi lini kedua (amikasin, kapreomisin atau kanamisin).
 Resisten rifampisin: resisten terhadap rifampisin yang dideteksi menggunakan metode
fenotipik dan genotipik, dengan atau tanpa resisten terhadap OAT lain. Apapun dengan
resisten rifampisin termasuk dalam kategori ini, baik monoresisten, poliresisten, resisten
obat ganda atau resisten berbagai OAT.
 Resisten OAT total / totally drug-resistant tuberculosis (TDR-TB): TB resisten dengan
semua OAT lini I dan lini II.
Tabel 4: Tingkatan OAT untuk Pengobatan MDR-TB.5
Diagnosis Okupasi
Pneumokoniosis

Pemeriksaan fisik pada pneumoconiosis, ronki basahparupada basilar biasanyasedikitatau tidak


ada.Penyakit infeksi, gangguan paru-paruinterstitiallainnya, danmetastasisneoplasmaharus
dipertimbangkanjikaterdapat demam, penurunan berat badan, clubbingfinger, nyeri dada,
hemoptisis, ataudyspneaprogresif ataumalaise. 6

Pemeriksaan

Foto Toraks

Pada pneumokoniosis digunakan klasifikasi standar menurut


International Labour Organization (ILO) untuk interpretasi
gambaran radiologi kelainan parenkim difus yang terjadi.
Klasifikasi ini digunakan untuk keperluan epidemiologic
penyakit paru akibat kerja dan mungkin untuk membantu
interpretasi klinis. Perselubungan pada pneumoconiosis
dibagi dua golongan yaitu perselubungan halus dan kasar.
Gambar 1: Foto Toraks Pasien Dengan CWP.
Klasifikasi standar ILO tersebut dapat dilihat pada table
1.2,7
Computed Tomography (CT) scan

Computed tomography (CT) scan bukan merupakan bagian dari klasifikasi pneumokoniosis
secara radiologi. Pemeriksaan CT mungkin sangat bermanfaat secara individual untuk
memperkirakan beratnya fibrosis interstisial yang terjadi, menilai luasnya emfisema dan
perubahan pleura atau menilai ada tidaknya nekrosis atau abses yang bersamaam dengan opasiti
yang ada. High resolution CT (HRCT) lebih sensitif dibanding radiologi konvensional untuk
evaluasi abnormalitas parenkim pada asbestosis, silikosis dan pneumokoniosis lainnya.
Gambaran paling sering HRCT pada pneumokoniosis adalah nodular sentrilobular atau high
attenuation pada area percabangan seperti gambaran lesi bronkiolar. Fibrosis interstisial
mungkin bermanifestasi bronkiektasis traksi, sarang tawon/honey comb atau hyperattenuation.
Gambaran HRCT yang khas pada silikosis, pneumokoniosis batubara dan asbestosis adalah
terdapat opasitas halus (small nodular opacities) yang predominan pada zona paru atas (upper
zone). Gambaran opasitas halus pada HRCT ada 2 karakteristik (1) ill-defined fine branching
lines dan (2) well-defined discrete nodules. Asbestosis menunjukkan gambaran garis penebalan
interlobular dan intralobular, opasitas subpleura atau curvilinier dan honey comb, predominan
terdistribusi pada basal paru. Gambaran HRCT pada jenis pneumokoniosis lainnya bervariasi dan
tidak spesifik, masing-masing mempunyai karakteristik sendiri.2,7
Tabel 1: Klasifikasi ILO Gambaran Radiologi Pneumokoniosis.

Langkah-langkah Diagnosis Okupasi

1. Diagnosis Klinis
Tuberculosis paru
Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan infeksi kronis yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman mycobacterium tuberculosis
menyerang paru dan sebagian kecil mengenai organ tubuh lain. Kuman TB berbentuk
batang aerobik dan ramping lurus. Kuman TB ini ditandai dengan sifat tahan asam yang
sangat tergantung pada integritas selubung berlilin, oleh kerana itu kuman TB disebut
pula sebagai basil tahan asam.3
Manifestasi klinis TB dikelompokkan dalam kelainan pada paru dan kelaianan di luar
paru. Diagnosis TB mudah ditegakkan berdasarkan keluhan klinis, gejala-gejala fisik,
kelainan bakteriologis sampai pemeriksaan radiologis. Gejala klinis yang penting dari TB
yang sering digunakan untuk menegakkan diagnosis klinik adalah batuk yang terus
menerus selama tiga minggu yang disertai dengan keluarnya sputum dan berkurangnya
berat badan.3
2. Pajanan yang Dialami dan Hubungannya dengan Penyakit
Pneumoconiosis mencakup spektrum reaksi patologis pada jaringan paru-paru akibat
deposisi permanen debu mineral atau bahan berserat yang dihirup dari lingkungan
pekerjaan. Tingkat keparahan penyakit ini berhubungan dengan bahan dihirup dan
intensitas dan durasi paparan. Pneumoconiosis yang terutama mempengaruhi mereka
yang terpapar di tempat kerja, tapi paparan lingkungan dapat mempengaruhi orang lain
juga. Hal ini ditandai dengan perubahan non-neoplastik granulomatosa dan fibrosis pada
paru-paru setelah menghirup zat anorganik, seperti kristal silika, asbes, atau debu
batubara.8

Table 2: Klassifikasi Pneumokoniosis

3. Pajanan yang Dialami Cukup Besar


Tingkat keparahan pneumoconiosis akibat batubara tergantung pada intensitas, lama
paparannya. Standar yang selamat telah ditetapkan oleh American Conference of
Governmental Industrial Hygients (ACGIH) kriteria referensi yang digunakan adalah
tingkat maximum yang dibenarkan adalah untuk 8 jam kerj aenam hari minggu, kurang
dari 0.90mg/m3 untuk batubara bitumin manakala untuk batubara antrasit 0.40 mg/m3.
4. Peranan Faktor Individu
Antara faktor individu yang telah diteliti menyumbang kepada peningkatan kejadian
pneumoconiosis adalah jenis pekerjaan di tambang dan tingkat pendidikan pekerja.
Pekerja tambang yang terpapar secara langsung dengan debu batubara (face workers)
mempunyai lebih tinggi risiko menderita pneumoconiosis berbanding jenis pekerjaan
yang lain (haulage workers,tunnel/gallery workers, superintendents). Pekerja tambang
yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi lebih mematuhi peraturan pemakaian alat
pelindung diri. Selain itu terdapat penilitian yang mengaitkan faktor genetik seseorang
dengan kerentanan terhadap pneumoconiosis. Menurut penelitian tersebut polimorfism
pada gen yaitu NLRP3 rs1539019 mempunyai hubungan yang signifikan terhadap
pneumoconiosis.9
5. Faktor Lain di Luar Pekerjaan
Selain maklumat tentang pekerjaan pasien di tempat kerjanya, kita juga harus
mendapatkan maklumat tentang kegiatan pasien apabila berada di luar kawasan tempat
kerjanya. Misalnya kebiasaannya seperti merokok, hobinya, dan pekerja lain yang
dilakukan pasien apabila tidak ke tempat kerjanya. Faktor luar ini mungkin
mempengaruhi keadaan kesehatan pasien.10
6. Diagnosis Okupasi
Coal Worker Pneumoconiosis, Penyakit Akibat Kerja
Coal Worker Pneumoconiosis adalah suatu penyakit pernafasan yang mengenai parenkim
paru dan terjadi karena menghirup debu batubara dalam jangka panjang. Beratnya
penyakit tergantung pada jumlah debu yang terinhalasi, lamanya pemaparan, dan
kandungan karbon debu batubara. Berdasarkan beratnya penyakit, pneumokoniosis dibagi
menjadi 2 kategori, yaitu simple (tidak bergejala dan tidak menimbulkan gangguan dalam
pernafasan) dan complicated (bersifat progresif dan menimbulkan gangguan dalam
pernafasan).11

Penatalaksanaan Pneumokoniosis

Terapi untuk pneumoconiosis adalah bersifat asimptomatik. Berikan oksigen sekiranya


berlaku hypoxemia. Pasien dengan simple coal worker’s pneumoconiosis harus dimonitor salalu
untuk menghindari dari terjadinya complicated coal worker’s pneumoconiosis. Terapi
bronkodilator baik secara inhalasi dan atau oral harus diusahakan pada pasien dengan gejala.
Terapi jangka panjang steroid dapat mengurangi gejala non-spesifik hiper responsive
bronkial.4,12
Komplikasi seperti fibrosis, emfisema, dan obstruksi kronis aliran udara merupakan
perubahan yang ireversibel. Intervensi harus ditargetkan untuk mendeteksi, mengobati, dan
mencegah komplikasi. Pemantauan berkala dengan spirometri dan radiografi dada berguna untuk
menentukan laju perkembangan dari gangguan dan untuk mendeteksi terjadinya komplikasi.
Pekerja tambang yang hadir dengan gejala dan tanda-tanda penyakit, penilaian pertukaran gas
saat istirahat dan olahraga dapat diindikasikan. Eksaserbasi infeksi, termasuk bronkitis akut dan
pneumonia, dapat terjadi pada pekerja tambang yang terkena dampak. Antibiotik spektrum luas
dan terapi fisik sangat membantu dalam mengurangi gejala selama episode produksi sputum
purulen.4,12
Tes tuberkulin harus diuji dalam semua pekerja tambang dengan CWP, karena lebih dari
10% mungkin memiliki silikosis, yang akan meningkatkan risiko 30kali lipat pengembangan TB
aktif. Pada pekerja tambang dengan tuberkulin positif dengan pneumokoniosis radiografi,
penyakit tb aktif harus dikecualikan secara hati-hati. Setelah ini telah dicapai, terapi pencegahan
isoniazid dianjurkan bagi mereka dengan tes kulit positif dan tidak ada kontraindikasi atau faktor
risiko untuk infeksi isoniazid-tahan. Sembilan bulan pengobatan harian mengurangi risiko
selanjutnya mengembangkan penyakit aktif.4,12
Skrining

Pengujian medis pra-penempatan terutama ditujukan untuk mengidentifikasi pekerja


dengan kondisi medis yang ada yang akan meningkatkan risiko kesehatan yang berhubungan
dengan tambang batu bara kerja. Skrining kesehatan berkala dapat berupa kuesioner, rontgen
dada, dan spirometry. Pekerja tambang yang ditemukan menderita pneumokoniosis selama
skrining memenuhi syarat untuk tindakan administratif. Mereka berhak untuk ditawarkan pilihan
untuk bekerja di lingkungan kurang debu. 4,12

Skrining medis berkala menggunakan spirometri saat ini dianjurkan. Tes fungsi paru
ditargetkan untuk mengidentifikasi individu dengan obstruksi aliran udara yang progresif. Untuk
menghindari pengembangan gangguan paru-paru, pekerja dengan risiko kehilangnya fungsi paru-
paru harus diberi konseling mengenai pengurangan eksposur saat ini dan masa depan untuk debu,
jika mungkin, serta menghindari faktor risiko lain yang diakui(misalnya asap tembakau). 4,12
Daftar Pustaka

1. Pneumoconiosis. In: Levy BS, Wegman DH, Baron SL, Sokas RK. Editors. Occupational
and environmental health. 6th ed. Oxford University Press. 2011. P417.
2. Susanto AD. Pneumokoniosis.J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 12. Diunduh dari:
http://bit.ly/1VKDB3T.
3. Tuberculosis workup. http://emedicine.medscape.com/article/230802-workup. Diunduh
pada 12/10/2015.
4. Pulmonary tuberculosis. In: Papadakis MA, Mc Phee SJ, Rabow MW. Current medical
diagnosis and treatment. 55th ed. McGraw Hill Education; 2016. P276.
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis; Pedoman diagnosis penatalaksaan di
Indonesia. http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html. Diunduh pada 12/10/2015
6. Coal workers’s pneumoconiosis. In: Rosentock L, Cullen MR, Brodkin CA, Redlich CA.
Textbook of occupational and environmental medicine. 2nd ed. Elsevier Saunder; 2005.
P402.
7. Respiratory disorder. In: Levy BS, Wegman DH, Baron SL, Sokas RK. Editors.
Occupational and environmental health. 6th ed. Oxford University Press. 2011. P399.
8. Karkhanis VS, Joshi JM. Pneumoconiosis. Indian J Chest Dis Allied Sci 2013;55:25-34.
9. Table of exposure limits for chemical and biological substances. Available
from:http://www2.worksafebc.com/Publications/OHSRegulation/GuidelinePart5.asp?Rep
ortID=32895&_from=regulation.healthandsafetycentre.org.
10. Aydin H. Evaluation of the risk of coal workers pneumoconiosis (CWP). Scientific
Research and Essays Vol. 5(21), pp. 3289-3297, 4 November, 2010.
11. Xiaoming J, Wang T, Jin K, Fan J, Luo C, Chen M, et al. Polymorphism in
inflammasome genes and risk of coal workers’ pneumoconiosis in Chinese population.
October 2012 | Volume 7 | Issue 10 | e47949.
12. Coal workers’ treatment and management.
http://emedicine.medscape.com/article/297887-treatment. Diunduh pada 12/10/2015.