Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH PENGGUNAAN BIOAKTIVATOR EM4 DAN

PENAMBAHAN TEPUNG IKAN TERHADAP SPESIFIKASI PUPUK


ORGANIK CAIR RUMPUT LAUT Gracilaria sp.

ANALISIS JURNAL
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Biotenologi
yang dibina oleh Ibu Siti Imroatul Maslikah, S.Si, M.Si

Disusun Oleh:
Della Azizatul Faraoidah
(140342600478)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
MEI 2017
Bibliografi
Sundari, I., Maruf, W. F., dan Dewi, E. N. 2014. Pengaruh Penggunaan Bioaktivator Em4 dan
Penambahan Tepung Ikan Terhadap Spesifikasi Pupuk Organik Cair Rumput Laut Gracilaria
Sp. jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. Vol 3 No 3. Universitas Diponegoro.

1. Pendahuluan
Penggunaan pupuk kimia dapat mengakibatkan lahan subur berkurang dan daya tahan
tubuh manusia menurun. Kesadaran masyarakat akan produk sehat yang bebas residu bahan-
bahan kimia berbahaya maka mulai banyak digunakan pupuk organik sebagai sumber hara
bagi tumbuhan. Gracilaria sp., rumput laut ini merupakan salah satu jenis alga merah yang
dapat dijadikan pupuk dengan teknologi fermentasi (pengomposan) menggunakan
bioaktivator/agen dekomposer yakni Effective Microorganism 4 (EM4) yang memiliki tujuan
untuk mempercepat pembentukan pupuk cair. EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi
dan sintetik yang terdiri dari bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.), bakteri Fotosintetik
(Rhodopseudomonas sp.), Actinomycetes sp., Streptomycetes sp. dan ragi (Yeast).
Penambahan tepung ikan rucah bertujuan untuk meningkatkan kandungan unsur hara melalui
proses dekomposisi oleh mikroorganisme dan dijadikan sebagai pemanfaatan limbah.
Spesifikasi pupuk organik cair rumput laut diantaranya kadar C-Organik (C), nitrogen (N),
fosfor (P), kalium (K), nilai pH dan kandungan bakteri patogen dalam pupuk organik cair.
Sehingga dapat dijadikan alternatif pengganti pupuk kimia.

2. Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan bioaktivator EM4 dan penambahan tepung
ikan terhadap kandungan C-organik, nitrogen, fosfor, dan kalium, pH dan kandungan bakteri
patogen dalam pupuk organik cair.

3. Metode
Proses pembuatan pupuk cair organik rumput laur sebagai berikut:
4. Rancangan Penelitian
Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 taraf perlakuan yaitu
perlakuan A merupakan control, perlakuan B merupakan perlakuan dengan EM4, dan
perlakuan C merupakan perlakuan EM4 dan tepung ikan masing-masing 3 kali ulangan.

5. Analisis Hasil Penelitian


a. Kadar C-Organik
Kadar C-organik yang paling rendah yakni perlakuan B (8,660%) karena EM4
merupakan sumber mikroorganisme dekomposer antara lain Actinomycetes, Yeast dan
bakteri asam laktat menggunakan karbon sebagai sumber energi dalam
mendekomposisikan bahan organik selama proses fermentasi. Sedangkan kadar C-
organik yang paling tinggi yakni perlakuan C (14,760%), adanya penambahan bahan
nutrisi yang kaya akan kandungan asam amino yang berasal dari tepung ikan sehingga
kandungan C-organik dalam pupuk organik cair mengalami peningkatan.
b. Kadar Nitrogen
Penggunaan EM4 dan penambahan tepung ikan meningkatkan kadar nitrogen
pada perlakuan B dan C. Kadar nitrogen tertinggi yakni perlakuan C (4,660%) karena
mikroorganisme menyumbang sejumlah protein sel tunggal, setelah selesai proses
pembusukan, nitrogen akan dilepaskan kembali sebagai salah satu komponen yang
terkandung dalam pupuk. Perombakan bahan organik oleh bakteri nitrifikasi merubah
ammonia menjadi nitrat pada akhir proses fermentasi.
c. Kadar Fosfor
Pada perlakuan A dan B lebih rendah serta tidak menunjukkan perbedaan yang
nyata diduga karena rendahnya kadar fosfor yaitu 0,210% karena kandungan fosfor yang
terdapat pada rumput laut relatif rendah maka hasil yang diperoleh tidak menunjukkan
perberbedaan yang nyata. Kadar fosfor tertinggi terdapat pada perlakuan C (0,490%)
dikarenakan adanya penambahan tepung ikan yang kaya akan kandungan protein
sehingga dapat digunakan sebagai sumber fosfor dan disertai dengan adanya dekomposisi
senyawa protein oleh mikroorganisme proteolitik sehingga kandungan fosfor meningkat.
d. Kadar Kalium
Kadar kalium tertinggi terdapat pada perlakuan B (0,694%) dikarenakan adanya
proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme dekomposer yang berasal dari
EM4. Kadar kalium terendah pada perlakuan C (0,405%), kemungkinan terjadi
pengendapan sehingga sebagian besar unsur kalium dalam pupuk tidak terdeteksi saat
pengujian dan kandungan kalium yang rendah pada tepung ikan sehingga dapat
mempengaruhi kadar kalium pada pupuk organik cair.
e. Nilai Drajat Keasaman
Pada perlakuan B mengalami penurunan pH, diduga adanya pengaruh dari EM4
yang bersifat asam dan adanya aktivitas sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam
proses fermentasi untuk mengubah bahan organik menjadi asam organik karena adanya
aktivitas bakteri seperti bakteri asam laktat, yang menghasilkan asam organik seperti
asam laktat, asam asetat. Asam-asam organik ini berasal dari penguraian karbohidrat,
protein dan lemak. Nilai pH pada perlakuan C mengalami penaikan nilai pH menjadi
netral yaitu dengan nilai pH 7,2 karena adanya reaksi asam basa yang terbentuk antara
bioaktivator EM4 yang bersifat asam dan tepung ikan yang bersifat basa apabila
megalami pembusukan selama proses fermentasi.
f. Identifikasi Kandungan Bakteri Patogen
Tiap perlakuan menunjukkan hasil yang negatif untuk bakteri patogen E. Coli dan
Salmonella, sehingga kehidupan bakteri yang menguntungkan selama proses fermentasi
tidak terganggu oleh keberadaan bakteri patogen. Selain menghambat aktivitas bakteri
dekomposer, keberadaan bakteri patogen dalam pupuk cair juga sangat berbahaya apabila
pupuk diaplikasikan pada tanaman dan bakteri terbawa oleh tanaman hingga terkonsumsi
manusia. Adanya kontaminasi bakteri patogen khusunya E.coli dan Salmonella dalam
tubuh manusia dapat menyebabkan diare yang ditandai dengan gejala nyeri perut,
kembungm mual, muntah yang dapat disertai dengan demam dan bahkan dapat
menyebabkan kematian.

6. Kesimpulan
Pupuk organik cair dengan bioaktivator EM4 dan penambahan tepung ikan dapat
meningkatkan kandungan unsur hara makro. Kandungan unsur hara makro dari rumput laut
Gracilaria sp. dan bebas dari kontaminasi bakteri pathogen dapat dijadikan sebagai bahan
baku pembuatan pupuk organik cair.

7. Fakta unik atau temuan penting


a. Penggunaan EM4 yang mengandung mikroorganisme fermentasi dan sintetik yang terdiri
dari bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.), bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas
sp.), Actinomycetes sp., Streptomycetes sp. dan ragi (Yeast) dapat mempercepat
dekomposisi bahan organik dari 3 bulan menjadi 7 – 14 hari.
b. Pupuk organik cair memiliki keunggulan, selain sebagai perangsang tumbuh, daun dan
batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-
pori yang ada pada permukaannya.
c. Pupuk organik cair rumput laut Gracilaria sp. dengan penambahan tepung ikan memiliki
kadar C-organik yang lebih tinggi dengan kadar nitrogen yang tinggi pula jika
dibandingkan dengan pupuk organik lain yang berasal dari sampah organik (sisa sayuran)
yang memiliki kadar C-organik 9,8%.
d. Kadar fosfor yang terdapat pada perlakuan EM4+tepung ikan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kadar fosfor yang terdapat dalam pupuk cair yang diolah dari
kotoran kambing yaitu 0,13%.
e. Kadar kalium yang terdapat pada pupuk organik cair rumput laut Gracilaria sp. jauh
lebih tinggi jika dibandingkan dengan pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak
yaitu 0,17%.
f. penurunan nilai pH pada pupuk organik cair yang dihasilkan ini disebabkan oleh C-
organik yang terurai di dalamnya menjadi asam-asam organik. Umumnya unsur hara
akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur
hara akan mudah larut dalam air.

8. Refleksi
Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat diperoleh pengetahuan mengenai metode
pembutan pupuk organik cair, pengaruh penggunaan bioaktivator EM4 dan penambahan
tepung ikan terhadap kandungan C-organik, nitrogen, fosfor, dan kalium, pH dan kandungan
bakteri patogen dalam pupuk organik cair. Dengan begitu dapat diketahui perlakuan mana
saja yang menghasilkan kualitas pupuk yang baik dan dapat dijadikan sebagai sarana
pemanfaatan limbah menjadi lebih optimal.