Anda di halaman 1dari 6

Tentang ISDV, Cikal Bakal PKI di Indonesia

Posted on January 2, 2013by TuanSemaon


ISDV merupakan sebuah organisasi atau partai yang berpaham Sosialis. Seiring
berjalannya waktu, partai ini berhaluan atau berpaham komunis (cikal-bakal
lahirnya PKI). Pada tahun 1914, Sneevliet dan kawan-kawan giat melebarkan
jaringan-jaringannya di kota Semarang dan Surabaya. Sneevliet telah berhasil
memikat beberapa orang pengurus dan anggota Serikat Islam cabang Semarang, di
antaranya Semaun dan Darsono. Semaun adalah Ketua Cabang Serikat Islam
Semarang, sedangkan Darsono adalah seorang wartawan. Sneevliet sering diundang
oleh Semaun untuk memberikan ceramah tentang sosialisme di gedung Serikat
Islam cabang Semarang.

ISDV, Semarang 1917, H. Sneevliet di Tengah


Ideologi Marxisme datang ke Hindia pada masa sebelum perang dunia pertama.
Paham tersebut dibawa pemimpin buruh Belanda bernama H.J.F.M Sneevliet. Pada
9 Mei 1914 dengan orang sosialis lainnnya seperti J.A. Brandsteder, H.W. Dekker,
dan P.Bregsma mendirikan Indischee Sociaal-demokratische Vereniging (atau
disingkat ISDV) di Surabaya.

J. A. Brandstender
HW. Dekker atau Multatuli

P. Bergsma dan Keluarga


Perkembangan ISDV sangat lambat sehingga mereka bersekutu dengan Insulinde.
Karena tidak sepaham, ISDV terpisah dari Insulinde. Seiring waktu, mereka
bersekutu dengan SI atau Sarekat Islam. Sneevliet berhasil menyusup ke dalam kubu
SI dengan membuat keanggotaan ganda di antara anggota SI dengan ISDV. Pada
tahun 1917, Semaun dan Darsono resmi menjadi anggota ISDV, merangkap sebagai
pimpinan Serikat Islam cabang Semarang. Semaun berhasil meningkatkan jumlah
keanggotaan SI Semarang menjadi 1700 anggota di tahun 1916 dan 20.000 orang
setahun setelahnya.

Karena membawa ideologi Marxis dari pengaruh ISDV, mereka berseberangan


dengan CSI (Central Sarekat Islam) pimpinan H.O.S Cokroaminoto. Pada saat
Revolusi Bolsyewick di Rusia tahun 1917, ISDV telah bersih dari pengaruh-pengaruh
moderat dan lebih condong ke sifat yang komunistis. Kemenangan Bolsyewik atas
Dinasti Tsar Rusia mendorong elemen komunis yang ada di negara Hindia Belanda
untuk mengikuti jejak yang ada.

Pada tahun 1917, ISDV mengerahkan pelaut Belanda untuk mengumpulkan 3000
orang untuk melakukan aksi atau gerakan ISDV, yaitu demonstrasi sehingga memicu
bentrokan dengan polisi Hindia. Sementara itu, partai moderat mendesak
pemerintah agar menggantikan Volksrad dengan parlemen pilihan rakyat.

Krisis tersebut segera mereda setelah Gubernur Jenderal van Limburg Stirum
menjanjikan akan mengadakan perubahan yang luas. Setelah semua terkendali,
pemerintah kolonial segera mengambil tindakan keras. Anggota militer yang
indisipliner dihukum berat. Sneevliet diusir, sedangkan Darsono, Abdul Muis, dan
beberapa pemimpin lainnya ditangkap. ISDV pun menjadi mati suri.

Tahun 1919 merupakan tahun yang sulit bagi ISDV. Karena pemimpin mereka
banyak yang ditangkap. Di sisi lain, pada tahun 1918, Darsono diangkat sebagai
propagandis resmi SI dan Semaun diangkat sebagai Komisaris wilayah Jawa
Tengah. Di dalam SI, Semaun dan Darsono berupaya untuk meningkatkan
pengaruhnya agar SI menjadi lebih radikal.
Darsono dan Anaknya
Komintern didirikan pada tahun 1919 yang pengaruhnya terasa di Indonesia.
Komintern menilai banyak sekali terjadi kegagalan dalam merencanakan program
komunisnya di Asia. Lenin menyatakan bahwa untuk Asia, garis politik komintern
harus bekerja sama dengan kaum borjuis nasional (kaum terpelajar yang memimpin
pergerakan Nasional) dan menggunakan organisasi rakyat terjajah.

Pada tanggal 5 Maret 1919 M, di Moskow, Rusia, diadakan Kongres Komunis


Internasional III. Lenin, pemimpin Kongres Komintern, menyerukan penyeragaman
nama bagi semua gerakan Komunis sedunia. Social Democratische
Arbeideispartij (SDAP) di Belanda juga mengumumkan dirinya sebagai Partai
Komunis Belanda (CPN) sehingga para anggota ISDV dari golongan Eropa
mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Pada 23 Mei tahun 1920, ISDV mengubah
namanya menjadi Perserikatan Komunis Indonesia Hindia, kemudian pada bulan
Desember tahun 1920 diubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia di
gedung Serikat Islam cabang Semarang dengan susunan pengurus:
Ketua : Semaun
Wakil Ketua : Darsono
Sekretaris : Bergsma
Bendahara : Dekker
Anggota : Adolf Baars

Adolf Baars
Di SI sendiri mulai terjadi perpecahan karena adanya perbedaan tujuan dan taktik
perjuangan antara golonangan kiri dan kanan. Pemimpin di golongan kiri adalah
Semaun, Alimin, dan Darsono. Sedangkan, kubu kanan yang berpusat di Yogyakarta
dipimpin oleh Abdul Muis, Agus Salim, dan Suryoranoto. Golongan kiri kemudian
mendirikan Revolutionnaire Vak Centrale (RVC) dan berkedudukan di Semarang.
Di dalam kongres SI tanggal 6-10 Oktober 1921, pertentangan semakin memuncak.
Agus Salim dan Abdul Muis mendesak agar segera dilakukan disiplin partai, yaitu
melarang keanggotaan rangkap. Namun, Tan Malaka meminta agar peraturan
disiplin partai itu tidak diterapkan bagi PKI karena perjuangan Islam sejak awal
telah bersama-sama komunis. Disiplin partai diterima di dalam kongres dengan
suara mayoritas sehingga langkah untuk mengakhiri penyusupan PKI ke dalam
tubuh SI berhasil.
Sebuah Rapat Sarekat Islam
Pada tahun 1922, terjadi pemogokan secara besar-besaran yang melibatkan PKI dan
SI. Akibatnya, Abdul Muis, Tan Malaka, dan Bergsma ditangkap dan diasingkan
sehingga muncul kekosongan kepemimpinan pada tubuh PKI. Semaun segera
mengambil alih kepemimpinan dalam PKI. Ia berusaha memperbaiki hubungan
dengan SI. Akan tetapi, usaha tersebut gagal karena pada bulan Februari tahun 1923,
di Madiun, Cokroaminito mempertegas aturan disiplin organisasi SI.

PKI kemudian menggerakan kubu SI-Merah untuk menandingi SI-Putih yang


dipimpin oleh Cokroaminoto. Pada kongres PKI, pada bulan Maret tahun 1923,
diputuskan untuk mendirikan SI-Merah di tempat yang terdapat SI-Putih. Untuk
membedakan dengan lawannya, golongan kiri dalam SI mengubah namanya menjadi
Sarekat Rakyat pada bulan April tahun 1924. Mulai saat itu, pendidikan komunis
dilakukan secara intensif.

PKI tumbuh menjadi partai politik dengan jumlah masa yang besar. Akan tetapi
jumlah anggota intinya sedikit sehingga kurang dapat mengontrol dan menanam
disiplin kepada anggotanya. Akibatnya, pada akhir tahun 1924 beberapa cabang
Sarekat Rakyat di daerah-daerah menjalankan aksi terornya sendiri-sendiri. Hal itu
menyebabkan munculnya antikomunis di masyarakat Islam dan menimbulkan
tindakan tegas dari pemerintah Belanda. Pada Desember 1924 di Yogyakarta, para
pemimpin PKI berinisiatif untuk melebur Sarekat Rakyat dalam PKI.

Lambang Partai Komunis Indonesia


PKI telah menempatkan diri sebagai partai yang besar sehingga PKI merasa kuat
untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Pemberontakan dirancang oleh
Sarjono, Budi Suciarto dan Sugono. Tokoh lain seperti Tan Malaka tidak menyetujui
pemberintakan tersebut, namun Alimin dan kawan-kawannya tetap meneruskan
persiapan tersebut.
Tan Malaka
Pemberontaan meletus pada bulan November 1926 di Batavia. Disusul tindak
kekerasan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam satu hari,
pemberontakan di Batavia dapat diredam dan dalam satu minggu pemberontakan di
seluruh Jawa dapat dihentikan.

PKI di Batavia
Di Sumatra, pemberontakan meletus pada tanggal 1 Januari tahun 1927 dan dalam
tiga hari, pemberontakan ini dapat dihentikan. Akhirnya, puluhan ribu pengikut PKI
ditangkap dan dipenjarakan. Ada juga yang dibuang ke daerah lain seperti Papua,
Tanah Merah, dan Digul Atas. Sejak pemberontakan itu, organisasi pergerakan
nasional Indonesia juga ikut merasakan imbasnya. Mereka mengalami penindasan
oleh pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak dapat bergerak.

Hampir sepuluh tahun kemudian, Komintern mengirimkan Musso pada bulan April
1935. Dengan bantuan Joko Sujono, Pamuji, dan Achmad Sumadi mendirikan PKI
ilegal. Musso dikirimkan untuk menjalankan kebijakan baru yang bernama Doktrin
Dmitrov. Georgi Dmitrov adalah sekretaris jenderal Komintern tahun 1935-1945.
Isi doktrin adalah gerakan komunis harus bekerja sama dengan kekuatan manapun
juga. Sehubungan dengan doktrin tersebut, Musso beranggapan bahwa pemerintah
kolonial dapat melunakan sikapnya terhadap kaum Komunis Indonesia. Tetapi,
harapan itu tidak terealisasi sampai Jepang datang ke Indonesia. Bahkan, pada
tahun 1936 Musso sudah meninggalkan indonesia lagi.

Musso
Akhirnya, kegiatan komunis Indonesia disalurkan melalui Gerakan Rakyat
Indonesia (Gerindo) yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin.

Amir Syarifuddin
Sumber lain:

http://vivaciousky.blogspot.com/2012/03/sosialis-isdv-yang-melahirkan-pki.html