Anda di halaman 1dari 5

Bagaimana Cara dan Syarat Mendirikan Yayasan?

August 26, 2016 Admin HCBerita, Bisnis, Info dan Tips, Perseorangan

Sebelum kita membahas Bagaimana Cara dan Syarat Mendirikan Yayasan, ada baiknya kita pahami dulu
Apa Definisi Yayasan itu?

Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan mencapai
tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.

4 Catatan utama dari Definisi Yayasan yaitu :

1. Yayasan merupakan badan hukum


Artinya, Yayasan secara hukum dianggap bisa melakukan tindakan-tindakan yang sah dan
mempunyai akibat hukum walaupun nantinya secara nyata yang bertindak adalah organ-organ
yayasan, baik pembina, pengawas maupun pengurusnya.

2. Yayasan memiliki kekayaan tertentu


Artinya, yayasan memiliki aset, baik bergerak maupun tidak, yang pada awalnya diperoleh dari
modal/kekayaan pendiri yang telah dipisahkan.Maka secara hukum yayasan memiliki kekayaan
sendiri yang terlepas dan mandiri.

3. Yayasan mempunyai tujuan tertentu yang merupakan pelaksanaan nilai-nilai, baik keagamaan,
sosial maupun kemanusiaan.
Dari sini dapat diketahui bahwa yayasan merupakan organisasi nirlaba yang tidak bersifat
mencari keuntungan (non profit oriented) sebagaimana badan usaha lainnya seperti PT, CV, UD,
Firma dan lain-lain.

4. Yayasan tidak mempunyai anggota.


Maksudnya yayasan tidak mempunyai semacam pemegang saham sebagaimana PT atau sekutu-
sekutu dalam CV atau anggota-anggota dalam badan usaha lainnya. Namun tentu saja yayasan
digerakkan oleh organ-organ yayasan, baik pembina, pengawas, dan terlebih lagi pengurus
sebagai pelaksana hariannya.

Yayasan memiliki kekayaan sendiri yang dipisahkan dari kekayaan pendiri atau pengurusnya, yang
digunakan sebagai modal awal untuk melaksanakan kegiatan. Adapun jumlah kekayaan awal Yayasan
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 PP No.63 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan UU tentang Yayasan
adalah senilai Rp 10.000.000,00. Senilai disini maksudnya bisa berbentuk uang maupun barang, baik
barang bergerak maupun tidak bergerak.

Dasar Hukum :

Undang – Undang No.28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No.16 Tahun 2001
tentang Yayasan.
Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Yayasan.
Dokumen yang harus diurus untuk Mendirikan Yayasan, yaitu :

1. Akta Pendirian Yayasan dari Notaris

2. Surat Keterangan Domisili Perusahaan dari Kelurahan dan Kecamatan

3. Surat Keterangan Terdaftar/NPWP dari Kantor Perpajakan

4. Surat Keputusan Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia

5. Pengumuman dalam lembaran Berita Negara RI dari Perum Percetakan Negara RI

6. Tanda Daftar Yayasan dari Dinas Sosial

Syarat dan Dokumen yang diperlukan/disiapkan untuk Mendirikan Yayasan, antara lain :

1. Nama Yayasan

2. Jumlah Kekayaan Awal Yayasan

3. Bukti Modal/Aset sebagai kekayaan awal Yayasan

4. Fotocopy KTP Para Pendiri

5. Fotocopy KTP Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan

6. Fotocopy NPWP Pribadi khusus ketua Yayasan

7. Fotocopy bukti kantor Yayasan (berupa SPPT PBB/Surat Perjanjian Sewa)

8. Surat Pengantar RT/RW sesuai domisili Yayasan

9. Syarat lainnya jika diperlukan

Bagaimana Prosedur Mendirikan Yayasan?

Bila anda ingin mendirikan Yayasan sebenarnya relatif mudah, karena Notaris memegang peranan
penting disini. Perlu anda ketahui, bahwa Akta Pendirian Yayasan harus dibuat dalam bentuk Akta
Notaris. Selain itu Notarislah yang akan mengawal proses pendirian Yayasan, mulai dari pemesanan
nama, pengajuan permohonan pengesahan badan hukum Yayasan kepada Menteri, hingga penerimaan
berkas-berkas proses jadinya Yayasan.

Bila syarat-syarat tersebut sudah lengkap, maka para pendiri bersama-sama menghadap Notaris untuk
menandatangani akta pendirian. Yayasan ini sudah dianggap berdiri sejak ditandatanganinya akta
pendirian oleh para pendiri di hadapan Notaris. Namun Yayasan ini belum sah menjadi Badan Hukum.
Untuk itu Notarislah yang akan segera memproses pengesahan badan hukum Yayasan ke Kementrian
Hukum dan HAM RI.
Setelah Akta Pendirian Yayasan ini disahkan sebagai badan hukum oleh Menteri Hukum dan HAM. maka
Yayasan dianggap sebagai pihak yang dapat melakukan perbuatan hukum yag secara hukum juga
bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya. Jadi pertanggungjawaban itu melekat setelah Akta
Pendirian Yayasan disahkan oleh Menteri.

Proses Pengurusan -+60 Hari Kerja

(Visited 44,001 times, 75 visits today)


Proses Pendirian Yayasan Panti Asuhan

Yayasan Panti Asuhan merupakan lembaga yang bergerak


dibidang sosial yang menaungi sebuah panti asuhan. Yayasan panti asuhan ini bertanggungg
jawab penuh kepada donatur yang memberikan bantuan untuk seluruh kegiatan operasional
panti asuhan tersebut. Yayasan panti asuhan ini juga diberi hak penuh untuk mengatur semua
kegiatan yang dilakukan oleh panti asuhan, baik kegitan yang secara rutin dilakukan mapun
kegiatan besar yang diadakannya tidak rutin. Pendirian suatu Yayasan, dalam hal ini yayasan
panti asuhan ini diatur dan berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 mengenai Yayasan,
yang diubah dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2004, diatur dalam pasal 9 UU No. 16/2001,
yaitu:

1. Minimal didirikan oleh satu orang atau lebih. Yang dimaksud “Satu orang” di sini bisa berupa
orang perorangan, bisa juga berupa badan hukum. Pendiri yayasan boleh WNI, tapi juga boleh
orang asing (WNA atau Badan hukum asing). Namun demikian, untuk pendirian yayasan oleh
orang asing atau bersama-sama dengan orang asing akan ditetapkan lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah (pasal 9 ayat 5).
2. Pendiri tersebut harus memisahkan kekayaan pribadinya dengan kekayaan yayasan panti
asuhan. Hal ini sama seperti PT, dimana pendiri “menyetorkan” sejumlah uang kepada Yayasan,
untuk kemdian uang tersebut selanjutnya menjadi modal awal/kekayaan yayasan panti asuhan.
3. Dibuat dalam bentuk akta Notaris yang kemudian di ajukan pengesahannya pada Menteri
Kehakiman dan Hak Azasi Manusia, serta diumumkan dalam berita negara Republik Indonesia.

Dalam prakteknya, jika seseorang ingin mendirikan suatu yayasan panti asuhan, maka pertama-
tama orang tersebut harus memiliki calon nama. Nama tersebut kemudian di cek melalui Notaris
ke Departemen Kehakiman. Karena proses pengecekan dan pengesahan yayasan panti asuhan
masih dalam bentuk manual (berbeda dengan PT yang sudah melalui sistem elektronik), maka
untuk pengecekan nama tersebut calon pendiri harus menunggu selama 1 bulan untuk
mendapatkan kepastian apakah nama yayasan panti asuhan tersebut dapat digunakan atau
tidak. Karena proses yang cukup lama tersebut, sebaiknya calon pendiri menyiapkan beberapa
nama sebagai cadangan.

Selama menunggu persetujuan penggunaan nama tersebut, calon pendiri dapat menyiapkan
beberapa hal yang akan dicantumkan dalam akta pendirian yayasan (lihat contoh akta
pendirian yayasan), yaitu:
1. Maksud dan tujuan yayasan panti asuhan, secara baku terdiri dari 3 unsur saja, yaitu: sosial-
kemanusiaan, dan keagamaan.
2. Jumlah kekayaan yang dipisahkan dari kekayaan pendirinya, yang nantinya akan digunakan
sebagai modal awal yayasan.
3. Membentuk susunan pengurus yayasan panti asuhan yang minimal terdiri dari ketua, sekretaris
dan bendahara (pasal 32 ayat 2) untuk jangka waktu kepengurusan selama 5 tahun.
4. Membentuk Pengawas (minimal 1 orang), yang merupakan orang yang berbeda dengan pendiri
maupun pengurus (pasal 40 ayat 2 dan ayat 4).
5. Menyiapkan program kerja yayasan, yang ditanda-tangani oleh Ketua, sekretaris dan
bendahara.

Setelah nama yang dipesan disetujui, maka pendiri harus segera menindak lanjuti pendirian
yayasan tersebut dengan menanda-tangani akta notaris. Notaris akan segera memproses
pengesahan dari yayasan tersebut dalam waktu maksimal 1 (satu) bulan sejak persetujuan
penggunaan nama dari Departemen Kehakiman. Karena apabila proses pengesahan tidak
dilakukan dalam waktu 1 bulan sejak persetujuan penggunaan nama, maka pemesanan nama
tersebut menjadi gugur dan nama tersebut bisa digunakan oleh yayasan lain.

Untuk melengkapi legalitas yayasan panti asuhan, maka diperlukan ijin-ijin standard yang
meliputi:

1. Surat keterangan domisili Perusahaan (SKDP) dari Kelurahan/kecamatan setempat


2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama Yayasan
3. Ijin dari Dinas sosial (merupakan pelengkap, jika diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-
kegiatan sosial) atau
4. Ijin/terdaftar di Departemen Agama untuk Yayasan yang bersifat keagamaan (jika diperlukan).

Sebagai penutup, sekali lagi perlu dicermati bahwa pendirian yayasan pada saat ini harus di ikuti
tujuan yang benar-benar bersifat sosial. Karena sejak berlakunya Undang-Undang No. 16/2001,
maka yayasan tidak bisa digunakan sebagai sarana kegiatan yang bersifat komersial dan harus
murni bersifat sosial. Demikian informasi tentang proses pendirian yayasan panti asuhan,
semoga dapat membantu. apuy