Anda di halaman 1dari 51

13

BAB II

KONVERTER AC - DC

Penyearah daya merupakan rangkaian elektronika daya yang berfungsi


untuk mengubah tegangan sumber masukan arus bolak-balik dalam bentuk
sinusoida menjadi tegangan keluaran dalam bentuk tegangan searah yang tetap
ataupun variabel tergantung pada keperluan atau pemakaian. Jenis sumber
tegangan masukan untuk mencatu rangkaian penyearah daya dapat digunakan
tegangan bolak- balik satu fasa dan tiga fasa. Penyearah satu fasa merupakan
rangkaian penyearah daya dengan sumber masukan tegangan bolak-balik satu
fasa, sedangkan penyearah tiga fasa rangkaian penyearah daya dengan
sumber masukan tegangan bolak-balik tiga fasa seperti diperlihatka pada gambar
berikut ini.

Vac
3 Fasa

Vac Konverter AC - DC Vdc Konverter AC - DC Vdc

(a) (b)
Gambar 9. Blok Diagaram Konverter AC – DC
(a) Konverter ac dc 1 fasa
(b) Konverter ac dc 3 fasa

Rangkaian konveter ac dc seperti gambar 9. di atas dapat dilakukan dalam


bentuk konverter ac dc setengah gelombang (halfwave) dan konverter ac dc
gelombang-penuh (fullwave). Pembebanan pada rangkaian penyearah daya
umumnya dipasang beban resistif atau beban domonan induktif (resistif-
induktif). Pengaruh dari jenis pembeban akan akan mempengaruhi kualitas
tegangan dan arus keluaran yang dihasilkan dari rangkaian konverter jenis
ini.

Teknik Elektronika Daya


14

A. Konverter ac-dc Fasa Tunggal Tidak Terkendali

Representasi yang umum dari sebuah penyearah dengan tegangan


suplai fasa tunggal diperlihatkan pada gambar 10. berikut. Suatu penyearah
minimal terdiri dari sisi tegangan sumber, sisi komponen pensakelaran dan
sisi beban. Rangkaian pada kotak hitam (black book) yang mewakili
penyearah dapat terdiri dari beberapa macam konfigurasi. Khusus untuk
konverter ac-dc fasa tunggal dapat berupa konverter fasa tunggal tidak
terkendali (uncontrolled rectifier) dan konverter fasa tunggal terkendali
(controlled rectifier). Untuk keperluan pembahasan pertama kali digunakan
penyearah 1 fasa ½ gelombang yang selanjutnya dilengkapi dengan
penyearah 1 fasa gelombang penuh

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada penyearah tidak


terkendali, komponen penghubung (switching component) yang digunakan
adalah dioda. Penggunaan dioda sebagai komponen pensakelaran tidak
memungkinkan untuk mendapatkan tegangan keluaran yang bervariasi.
Tegangan keluaran penyearah Karena itu besarnya tegangan keluaran
penyearah hanya ditentukan oleh besarnya amplitudo tegangan sumber pada
sisi bolak-balik. Semakin besar amplitudo tegangan ac yang diberikan pada
sisi masukkan penyearah, maka tegangan pada sisi keluaran juga akan
semakin besar.
Rangkaian daya penyearah 1 fasa dengan menggunakan transformator
centre tap (CT) dan bentuk gelombang pada sisi masukan dan keluaran
diperlihatkan pada gambar 9. Setiap ½ kumparan transformator berhubungan
dengan kerja sebuah dioda dan berlaku sebagai sebuah penyearah ½
gelombang. Untuk ½ siklus pertama dari tegangan sumber, Dioda D1
mengalami tegangan arah maju (on), sementara dioda D2 mengalami
tegangan arah balik (off). Pada setengah siklus ke dua dari tegangan sumber,
Dioda D2 mengalami tegangan arah maju (on), sedangkan dioda D1
mengalami tegangan arah balik (off).

Teknik Elektronika Daya


15

Gambar 10. Penyearah 1 Fasa Gelombang Penuh


dengan Menggunakan Transformator CT

Setiap dioda konduksi secara bergantian setiap setengah siklus dari


tegangan suplai yang selanjutnya menghasilkan tegangan searah (dc)
gelombang penuh pada sisi beban. Pengaruh kejenuhan inti transformator
tidak ada oleh karena tidak ada arus searah (dc) yang mengalir pada inti
transformator. Besarnya tegangan output rata-rat diberikan oleh persamaan:
2 𝑇/2
𝑉𝑑𝑐(𝑟𝑎𝑡𝑎) = 𝑇 ∫0 𝑉𝑚 sin 𝑤𝑡 𝑑𝑤𝑡 (1)

𝑉𝑑𝑐(𝑟𝑎𝑡𝑎) = 0,636 𝑉𝑚 (volt)


1/2
2 𝑇/2
𝑉𝑑𝑐(𝑟𝑚𝑠) = [ ∫ 𝑉𝑚𝑥 2 𝑠𝑖𝑛𝑥 2 𝑤𝑡 𝑑𝑤𝑡]
𝑇 0
𝑉𝑑𝑐(𝑟𝑚𝑠) = 0,707 𝑉𝑚 (volt) (2)

Besarnya tegangan arah balik maksimum dioda adalah sebesar 2Vm.


Besarny tegangan arah balik ini akan sangat tergantung dari kemampuan
dioda, karena dioda yang mengalami tegangan arah balik lebih besar dari
kemampuan akan menyebabkan dioda akan rusak.

Teknik Elektronika Daya


16

Selanjutnya model rangkaian daya untuk menghasilkan penyearah 1


fasa gelombang penuh juga dapat dilakukan dengan menggunakan 4 buah
dioda yang membentuk jembatan (bridge). Diagram rangkaian daya dan
bentuk gelombangan tegangan keluaran diperlihatkan pada gambar x berikut
ini. Setengah siklus dari siklus positif dari tegangan suplai, dioda D1 dan D2
akan konduksi (on state) dan mengalirkan arus pada beban, sementara dioda
D3 dan D4 akan mengalami tegangan arah balik (off state). Demikian juga
dengan setengah siklus negatif dari tegangan suplai, dioda D3 dan D4 akan
konduksi dan mengalirkan arus ke beban, sedangkan dioda D1 dan D2 akan
berada pada keadaan off state.

Gambar 11 Penyearah 1 Fasa Gelombang Penuh Sistem


Jembatan dengan Beban Resistor

Terlihat berdasrkan gambar 11 di atas bentuk gelombang keluaran


penyearah 1 fasa jembatan penuh 2 dioda dan trafo CT dibandingkan dengan
penyearah 1 fasa jembatan penuh 4 dioda tanpa trafo CT akan menghasilkan
bentuk gelombang dan besar yang sama, baik tegangan Vdc(rata) dan
Vdc(rms). Perbedaan kasat mata diantara ke dua jenis rangkaian adalah dalam
hal jumlah dioda dan digunakannya trafo CT. Namun dari segi elektronika
daya ada hal penting yang harus diperhatikan, yaitu dalam hal tegangan balik
maksimum yang dialami oleh setiap komponen. Khusus untuk penyearah

Teknik Elektronika Daya


17

dengan 2 dioda makan tegangan balik maksimum yang dirasakan oleh dioda
adalah sebesar tegangan sumber, sedangkan untuk penyearah dengan 4 dioda,
besarnya tegangan balik yang dirasakan dioda adalah setengah dari tegangan
sumber karena pada saat yang sma terdapat dua dioda yang konduksi. Jadi
secaara teknis penggunaan penyearah fasa tunggal dengan 4 dioda lebih
dianjurkan

B. Konverter ac-dc Fasa Tunggal Terkendali

Konverter fasa tunggal terkendali {phase-controlled) merupakan


penyearah yang sederhana dan murah, efisiensi penyearah ini secara umum
berada diatas 95%. Karena penyearah ini mengkonversikan tegangan ac ke
dc, penyearah ini dikenal sebagai konverter ac ke dc (ac-to-dc converter) dan
banyak digunakan dalam alpikasi industri terutama pada penggerak listrik
dengan kecepatan variabel (variable-speed drives), yang mencakup level daya
hingga megawatt.
Konverter dengan fasa terkontrol dapat diklasifikasikan pada dua tipe,
bergantung pada suplai masukan : (1) konverter satu fasa, dan (2) konverter
tiga fasa. Setiap tipe dapat dibagi lagi menjadi (a) semikonverter
(semiconverter), (b) konverter penuh (full konverter), (c) konverter ganda
(dual konverter). Semikonverter merupakan konverter satu kuadran dan
hanya memiliki satu polaritas tegangan dan arus keluaran. Konverter penuh
merupakan konverter dua kuadran yang dapat memilki tegangan keluaran
baik positif dan negatif, akan tetapi keluran arusnya hanya dapat berharga
positif. Konveter ganda akan beroperasi pada empat kuadran yang akan dapat
menghasilkan tegangan dan arus keluaran berharga positif maupun negatif.
Pada banyak aplikasi, konverter-konverter dihubungkan secara sen agar dapat
beropersi pada tegangan yang lebih tinggi serta meningkatkan faktor daya.

Teknik Elektronika Daya


18

1. Konverter 1 fasa Terkendali ½ Gelombang


Rangkaian daya konverter 1 fasa ½ gelombang diperlihatkan pada
gambar 11(a), sedangkan bentuk gelombang masukan dan keluaran
diperlihatkan pada gambar 11(b).

(a)

(b)
Gambar 12. Konverter ac dc Fasa Tunggal ½ Jembatan
(a) Rangkaian daya
(b) Gelombang Tegangan dan Arus

Perhatikan rangkaian gambar 12(a) konverter satu fasa setengah


gelombang dengan resistif. Selama setengah siklus positif dari tegangan
masukan, anode thyristor relatif lebih positif terhadap katoda sehingga
thyristor disebut terbius maju. Ketika thyristor dinyalakan pada t = ,
thyristor T akan konduksi dan pada beban akan muncul tegangan
keluaran. Ketika tegangan masukan mulai negatif pada t = π, anoda
thyristor akan lebih negatif dari katodanya dan thyristor T) disebut

Teknik Elektronika Daya


19

terbaias mundur, dan akan padam secara natura. Waktu setelah tegangan
masukan mulai positif hingga thyristor dinyalakan pada t = π disebut
sudul kelambatan atau penyalaan (α).

Jika Vm adalah tegangan masukan puncak, tegangan keluaran


rata-rata Vdc dapat diperoleh dari

1 𝜋
𝑉𝑑𝑐 = ∫ (𝑉𝑚. 𝑠𝑖𝑛𝜔𝑡 dωt)
2𝜋 0
𝑉𝑚
𝑉𝑑𝑐 = [1 + cos 𝛼] (volt) (3)
2𝜋

Tegangan keluara Vdc dapat dikontrol dari Vm/π hingga 0 dengan


mngubah-ubah  antara 0 hingga π. Tegangan keluaran rata-rata akan
menjadi maksimum bila  = 0 dan tegangan keluaran maksimum Vdm
akan menjadi Vm/π volt..

Contoh Soal
Jika konverter mem.ilki beban resistif R dan sudut penyalaan  = π/2,
tentukan (a) efisiensi penyearah, (b) faktor bentuk FF, (c) faktor ripple
RF, (d) falctor utilitas trafo TUF, dan (e) tegangan puncak balik PIV
dari thyristor T1.

Penyelesaian : Sudut penyalaan, = π/2. Dari persamaan (3-1), Vdc =


0,1592Vm dan Idc = 0,1592Vm/R. Dari persamaan (3-3), Vn = 0,5. Dari
persamaan (3-4), Vrms = 0,3536Vm dan Irms= 0,3536Vm/R. Dari
persamaan (2-42), Pdc = (0,1592Vm)2/R dan dari persamaan (2-43), Pac -
VrmsIrms = (0,3536Vm)2/R.
(a) dari persamaan (2-44) efisiensi penyearah

(b) dari persamaan (2-46) faktor bentuk

Teknik Elektronika Daya


20

(c) dari persamaan (2-48) faktor ripple RF = (2,2212-1)1/2 = 1,983 atau


198,3%
(d) Tegangan rms sekunder trafo, Vs = Vm/V2 = 0,7070Vm. Nilai rms
arus sekunder trafo sama dengan arus beban Is = 0,3536Vm/R.
Rating volt- ampere (VA) trafo, VA = VSIS =
0,7070Vmx0,3536Vm/R. Dari persamaan (2-49),

(e) Tegangan puncak balik PIV = Vm.

Catatan : kinerja konverter berkurang pada daerah sudut (α) rendah.

2. Konverter 1 fasa Terkendali Penuh


Diagram rangkaian penyearah 1 fasa terkendali gelombang penuh
dengan beban dominan induktif dan beban sumber tegangan
diperlihatkan pada gambar 12. penggunaan jenis beban dominan induktif
akan menyebabkan arus pada sisi beban (arus dc) merupakan arus
kontinue dan tanpa riak (constant load current operation)

Gambar 13. Diagram Rangkaian Penyearah 1 Fasa Terkendali


Gelombang Penuh Dengan beban Dominan Induktif.

Seperti pada gambar 13. di atas, sebuah penyearah 1 fasa terkendali


gelombang penuh terdiri dari 4 buah thyristor T1 , T2 , T3 and T4 yang

Teknik Elektronika Daya


21

dihubungkan dengan cara tertentu untuk membentuk konfigurasi gelombang


penuh sistem jembatan. Setiap thyristor dikendalikan saat konduksinya dengan
pengaturan sinyal pulsa pada gate masing-masing thyristor, dan akan padam
secara natural bila tegangan arah balik diaplikasikan pada setiap pasang
thyristor. Selama ½ siklus positif, bila sisi sebelah atas dari tegangan keluaran
transformator mempunyai polaritas lebih positif terhadap sisi sebelah bawah,
maka thyristor T1 dan T2 akan mendapat tegangan arah maju (forward biased)

selama interval t  0 to  . Thyristor T1 dan T2 akan ditriger secara

bersamaan pada t   ; (0     ) . Pada saat tersebut beban akan

terhubung pada tegangan sumber melalui konduksinya thyristor T1 dan T2 .


Tegangan keluaran pada sisi beban akan mempunyai bentuk yang sama dengan
tegangan suplai, yaitu Vo  Vm sin t . Oleh karena beban merupakan beban

yang dominan induktif, thyristor T1 dan T2 akan tetap konduksi dari  sampai

(   ) . Polaritas tegangan beban dari t   sampai dengan (   ) akan


mempunyai nilai negatif

Gambar. 14. Bentuk Gelombang Tegangan Penyearah 1 Fasa Terkendali


Gelombang Penuh Dengan beban Dominan Induktif.

Teknik Elektronika Daya


22

Kemudian selama ½ siklus ke dua (siklus negatif) dari tegangan suplai

untuk t   to 2 , thyristor T3 and T4 akan mengalami tegangan arah

t     
maju. Thyristor T3 and T4 akan di triger pada . Pada saat yang

bersamaan dengan thyristor T3 and T4 mendapatkan tegangan arah maju,

pada itu pula thyristor T1 dan T2 akan mendapatkan tegangan arah balik dan

akan berada dalam keadaan off (off state), dan arus beban akan dipindahkan

dari T1 dan T2 ke thyristors T3 and T4 . Tegangan pada beban akan mengikuti

bentuk tegangan suplai dengan bentuk


vO  Vm sin t selama periode

t  (   ) sampai (2   ) . Terhadap polaritas tegangan pada sisi beban


akan tetap seperti pada saat T1 dan T2 yang konduksi. Artinya polaritas

tegangan pada sisi beban akan tetap.

Selama periode waktu t   sampai  , tegangn suplai S dan arus


v

suplai
iS mempunyai polaritas positif, dan arus akan mengalir dari sumber ke

beban. Konverter dalam hal ini berkerja pada modus penyearah selama t  
sampai π. Selanjutnya selama periode waktu ωt=π sampai (π+α), tegangan
suplai mempunyai polaritas negatif, sedangkan arus suplai is mempunyai
polaritas positif. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pembalikan arah aliran
draya dari beban ke suplai. Konverter bekerja pada modus inverter selama
periode waktu t   sampai (π+α), dan energi dikembalikan pada sumber.
Penyearah terkendali 1 fasa gelombang penuh pada umumnya digunakan secara
luas pada aplikasi industri dengan range mencapai daya keluaran mencapai 15
kW. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan dengan pengaturan sudut
perlambatan penyalaan  , tegangan keluaran rata-rata dapat mempunyai
polaritas positif ataupun negatif, sekaligus memungkinkan untuk pengoperasian
menjadi operasi 2 kuadran.

Representasi secara umum persamaan tegangan rata-rata adalah:

Teknik Elektronika Daya


23

2
1  
VO dc   Vdc    vO .d t  ; (4)
2  0 

Mengacu pada persamaan di atas dan dengan pemahaman bahwa


gelombang tegangan keluaran penyearah 1 fasa terkendali terdiri dari 2
gelombang pulsa keluaran selama periode waktu tegangan suplai (
0 & 2 radians ). Pada mode operasi arus beban kontinue dari penyearah
1 fasa terkendali gelombang penuh (asumsikan arus beban tetap), maka
setiap thyristor akan konduksi selama  radians (1800) setelah
dinyalakan. Bila thyristor T1 dan T2 dinyalakan pada t   , thyristor T1
dan T2 akan konduksi pada selang  sampai dengan (   ) , dan
bentuk gelombang tegangan keluaran akan mengikuti bentuk gelombang
tegangan suplai. Oleh karena itu tegangan keluaran vo  Vm sin t untuk

t   sampai dengan (   )

Berdasarkan pembahasan di atas, persamaan tegangan dc rata-rata


dapat dinyatakan dengan cara:

 
2  
VO dc   Vdc    Vm sin t.d t  (5)
2   

 
1 
VO dc   Vdc   V sin t.d t 
 
m

 
Vm  
VO dc   Vdc    sin t.d t 
  

Vm
  cos  t 
 
VO dc   Vdc 

Teknik Elektronika Daya


24

Vm
VO dc   Vdc    cos      cos   ;
 

cos       cos

Sehingga

2Vm
VO dc   Vdc  cos  (6)

Tegangan dc keluaran rata-rata Vdc dapat divariasikan dari

2Vm  2Vm
maksimum untuk   0 ke nilai minimum untuk untuk
 
   radian. Tegangan dc keluaran rata-rata maksimum diperoleh
untuk sudut perlambatan penyalaan   00 dengan cara berikut:

2Vm 2Vm
Vdc max   Vdm   cos  0   (7)
 
2Vm
Dengan demikian Vdc max   Vdm  (8)

Selanjutnya tegangan dc normalisasi diperoleh dengan cara


berikut:

VO dc  Vdc
Vdcn  Vn   (9)
Vdc max  Vdm

2Vm
cos 
Vdcn  Vn    cos  (10)
2Vm

Dengan demikian diperoleh bahwa Vdcn  Vn  cos  ; berlaku


untuk penyearah 1 fasa terkendali gelombang penuh dengan asumsi
konverter jenis ini beroperasi pada arus beban kontinue dan konstant.

Teknik Elektronika Daya


25

Besarnya tegangan keluaran efektif dari penyearah 1 fasa


gelombang penuh dengan beban dominan induktif diperoleh dengan cara:

2
1  2 
VO RMS     vO .d  t   (11)
2  0 

Oleh karena penyearah 1 fasa gelombang penuh menghasilkan 2


gelombang selama selang waktu periode tegangan input, maka penyearah
jenis ini biasa disebut dengan penyearah 2 pulsa. Persamaan tegangan
efektif keluaran diperoleh dengan cara:

 
2  
   vO .d  t  
2
VO RMS 
2   

 
1 
VO RMS    V
2
sin 2  t.d  t  
 
m

 
Vm2  
   sin  t.d  t  
2
VO RMS 
  

Vm2  1  cos 2 t 
 

VO RMS     .d  t  
  2 

   
Vm2  
VO RMS     d  t    cos 2 t.d  t  
2    

   
Vm2   sin 2 t  
VO RMS     t    
2    2   

Vm2   sin 2      sin 2  


VO RMS           
2   2  

Teknik Elektronika Daya


26

Vm2   sin  2  2   sin 2 


VO RMS        ; sin  2  2   sin 2
2   2 

Vm2  sin 2  sin 2  


VO RMS        
2   2 

Vm2 V2 V
VO RMS      0  m  m (12)
2 2 2

Vm
Dengan demikian VO RMS    VS (13)
2

Jadi besarnya tegangan dc keluaran efektif mempunyai nilai yang


sama dengan tegangan suplai.

Contoh-Soal:

1. Suatu penyearah 1 fasa gelombang penuh disuplai dengan tegangan


200 V AC. Tahanan beban pada sisi dc adalah 10 , dan sudut
perlambatan penyalaan   600 . Tentukan tegangan dc rata-rata
pada beban dan besarnya daya yang diserap beban dc.
Penyelesaian:

Persamaan tegangan dc rata-rata pada sisi beban dihitung dengan


cara:

Vm
Vdc  1  cos  

200  2
Vdc 

1  cos 60 
0

Vdc  135 Volts

Teknik Elektronika Daya


27

Besarnya daya yang diserap beban adalah:

Vdc2 1352
Pout    1.823 kW
R 10

2. Seperti pada rangkaian pengisian baterai berikut, tentukan besarnya


arus pengisian baterai jika sudut perlambatan penyalaan   900 .

R = 10 

+
200 V
50 Hz ~

+
10V
 (VB)

Penyelesaian:

Dengan menggunakan persamaan berikut:

VB  Vm sin 

10  200 2 sin 

Sehingga

 10 
  sin 1    0.035 radians
 200  2 


  900  radians ;        3.10659
2

Besarnya tegangan dc rata-rata pada tahan beban dihitung


dengan cara:

2  
10    Vm sin  t  VB  .d  t  
2  

Teknik Elektronika Daya


28

1 
  V cos  t  VB  t  
 m

1
 V  cos   cos    VB      
 m

1      
  200  2  cos  cos 3.106   10  3.106   
  2   2 

 85 V

Perlu diperhatikan bahwa nilai  &  dinyatakan dalam radian.


Jadi:

Tegangan dc pada resistor


Arus Pengisian=
tahanan resistor

85
  8.5 Amps
10

3. Sebuah penyearah 1 fasa terkendali gelombang penuh digunakan


untuk menyuplai beban dc sebesar 10  dari sumber ac 230 V, 50

Hz, dengan sudut perlambatan penyalaan 900. Bagaimana dengan


tegangan pada beban jika ditambahkan sebuah induktor yang cukup
besar pada sisi beban, dan berapa besarnya tegangan beban akibat
penambahan induktor.?
Penyelesaian:

Besarnya tegangan dc rata-rata pada penyearah 1 fasa terkendali


gelombang penuh dihitung dengan:

Vm
Vdc  1  cos  

230  2  
Vdc  1  cos 
  2

Teknik Elektronika Daya


29

Vdc  103.5 Volts

Bila dilakukan penambahan beban dengan induktor secara seri


dengan beban, maka bentuk tegangan dc pada sisi beban dengan
sudut perlambatan penyalaan   900 adalah:

V0


0 t
 

2Vm
Vdc  cos 

  
karena   ; cos  cos    0
2 2

Dengan demikian Vdc  0

Hal ini juga dapat dibuktikan dengan mencermati bentuk gelombang


tegangan keluaran seperti gambar di atas.

C. Konverter ac-dc 3 Fasa Tak Terkendali


Secara umum pengertian konverter fasa banyak, umumnya 3 fasa
adalah sebuah peralatan elektronika daya yang bergungsi untuk mengubah
tegangan bolak balik 3 fasa menjadi tegangan searah dc pada sisi keluaran.
Tegangan keluaran (Vo) dapat merupakan tegangan keluaran tetap, khusus
untuk konverter ac-dc tidak terkendali, dan dapat berupa tegangan dc variabel
untuk keluaran konverter ac-dc terkendal. Dilihat dari jumlah fasa masukan,
maka konverter jenis ini mempunyai spesifikasi khusus, yaitu tegangan
keluaran konverter jenis ini lebih besar dibandingkan dengan tegangan
Teknik Elektronika Daya
30

keluaran konverter ac-dc fasa tunggal pada nilai tegangan fasa netral yang
sama. Selanjutnya konverter ini juga mempunyai kemampuan melayani beban
yang lebih besar dibanding dengan konverter fasa tunggal. Karena nilai arus
beban sesat dapat terbagi pada setiap fasa masukan konverter.

1. Konverter 3 Fasa Tidak Terkendali ½ Gelombang


Konverter ac dc 3 fasa ½ gelombang tidak terkendali disebut juga
dengan konverter ac dc 3 fasa ½ jembatan tidak terkendali. Disebut tidak
terkendali, karena besarnya tegangan keluaran konverter tidak dapat
dikendalikan pada sisi konverter. Ciri utama dari konverter ini adalah
menggunakan dioda sebagai komponen pensakelaran pada rangkaian daya.
Konfigurasi pemasangan komponen pensakelaran dari konverter jenis ini
diperlihatkan pada gambar 15. Karena ke tiga komponen pensakelaran
hanya menghasilkan arus positif beban. Konfigurasi konverter ini terdiri
dari tiga dioda D1, D2, da D3 yang dipasang secara seri dengan masing
masing tegangan 3 fasa sumber R, S, dan T. Beban dalam hal ini
terpasang seri dengan keluaran positif dari ketiga dioda.

Sumber tigas fasa R, S, dan T dinyatakan dalam bentuk persamaan


berikut:

𝑉𝑎𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin 𝑤𝑡 (14)

𝑉𝑏𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin(𝑤𝑡 − 2𝜋/3) (15)

𝑉𝑐𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin(𝑤𝑡 − 4𝜋/3) (16)

Mengacu kepada tegangan sumber di atas, bahwa sumber tegangan


tiga fasa merupakan sumber tegangan yang saling berbeda fasa sebesar
1200, dan dikaitkan dengan cara kerja komponen pensakelaran dioda,
maka dapat dipastikan bahwa dioda yang pertama mendapatkan tegangan
bias arah maju adalah dioda D1, kemudian disusul oleh dioda D2, dan

Teknik Elektronika Daya


31

dioda D3. Masing-masing dioda akan konduksi (ON) selama 1200 listrik,
dan konduksi secara berurutan.

Untuk π/6 ≤ wt ≤ 5π/6 tegangan fasa pertama Va lebih besar dari


tegangan fasa ke dua Vb maupun tegangan fasa ke tigas Vc, dan
menyebabkan dioda D1 mengalami tegangan arah maju dan konduksi,
sedangkan dioda D2 dan dioda D3 akan mengalami tegangan arah balik
(tidak konduksi). Tegangan fasa pertama Va akan menyuplai arus beban
melalui dioda D1 terus ke beban dan kembali ke titik netral. Berarti arus
yang menyebabkan tegangan beban adalah arus dioda D1. Selanjutnya
untuk 5π/6 ≤ wt ≤ 3π/2, tegangan fasa ke dua Vb akan lebih positif dari
tegangan fasa pertama Va dan tegangan fasa ke tiga Vc, sehingga
menyebabkan dioda D2 mengalami tegangan arah maju dan konduksi,
sedangkan dioda D1 dan dioda D3 akan mengalami tegangan arah balik dan
tidak konduksi. Jadi arus yang mengalir dan menyebabkan tegangan pada
beban adalah arus dioda D2. Kemudian untuk 3π/2 ≤ wt ≤ 13π/6, tegangan
fasa ke tiga Vc lebih positif dari tegangan fasa pertama Va dan tegangan
fasa ke dua Vb dan menyebabkan dioda D3 mengalami tegangan arah maju
dan konduksi, sedangkan dioda D1 dan dioda D3 tidak konduksi.
Selanjutnya 13π/6 ≤ wt ≤ 17π/6 siklus tegangan sumber akan kembali
berulang dan menyebabkan tegangan Va lebih positif dari tegangan fasa
ke dua Vb dan tegangan fasa ke tiga Vc dan menyebabkan dioda D1
kembali konduksi, sementara dioda D2 dan dioda D3 akan kembali padam.
Demikian seterusnya prinsip ini akan berulang terus menerus dan
merupakan kerja dari konverter ac dc 3 fasa tidak terkendali

Bentuk gelombang tegangan sumber 3 fasa, dan bentuk gelombang


tegangan dan arus beban resistif diperlihatkan pada gambar 15.

Teknik Elektronika Daya


32

Gambar 15. Rangkaian Daya Konverter ac dc 3 Fasa ½ Jembatan Tidak


Terkendali

Gambar 16. Bentuk Tegangan Sumber dan Tegangan dan Arus Beban
Konverter ac dc 3 fasa Tak Terkendali ½ Jembatan

Berdasarkan gambar di atas diperoleh bahwa selama satu siklus


masing-masing dioda akan konduksi satu kali, dan dalam satu siklus
terdapat tiga gelombang, sehingga konverter ini juga disebut dengan
konverter ac dc tiga pulsa karena dalam satu siklus terdapat tiga
gelombang atau tiga pulsa. Dengan menganggap beban R sebagai dasar
Teknik Elektronika Daya
33

dioda D akan konduksi dari π/6 sampai dengan 5π/6 diperoleh persamaan
tegangan

(17)

(18)

Sejalan dengan itu persamaan tegangan efektif dapat dinyatakan dengan;

(19)

(20)

Sejalan dengan itu, besarnya arus efektif yang mengalir pada setiap belitan
sekunder transformer dinyatakan dengan persamaan:

(21)

Nilai arus Im diperoleh dari Vm/R

Persamaan arus fasa di atas juga menunjukkan besarnya arus yang mengalir
pada setiap dioda, dan besarnya adalah sepertiga dari arus beban. Jadi berarti
juga bahwa dalam hal perencanaan konverter ini diperoleh bahwa besarnya
kapasitas dioda yang dipasang tidak mesti sama besar dengan arus beban.
Kapasitas dioda dapat diperkecil menjadi 1/3 dari besarnya arus maksimum
beban yang direncanakan.
Teknik Elektronika Daya
34

2. Konverter 3 Fasa Tidak Terkendali Gelombang Penuh


Diagram rangkaian dari sebuah penyearah 3 fasa gelombang
penuh tidak terkendali diperlihatkan pada gambar 15 (a). gambar 15 (b)
adalah bentuk gelombang 3 fasa masukan dan gelombang tegangan dan
arus searah pada sisi keluaran. Ke enam dioda akan konduksi dengan
urutan konduksi tertentu, misalnya D1D2, D2D3, D3D4, D4D5, D5D6,
D6D1. Dalam satu siklus setiap pasangan dioda akan konduksi selama 60°
dan setiap dioda akan konduksi selama 120° dalam satu siklus periode
tegangan 3 fasa masukan. Tiap pasangan dioda juga akan tersambung
dengan tegangan sesaat yang lebih tinggi (tegangan line to line). Oleh
karena terjadi 6 kali komutasi dalam 1 siklus, maka penyearah ini juga
disebut dengan konverter 6 pulsa.

Gambar 17. Penyearah 3 Fasa Sistem Jembatan


(a). Rangkaian Daya dengan beban Resistor
(b). Bentuk Gelombangan Tegangan Masukan dan
Keluaran

Dengan menggunakan asumsi bahwa tegangan masukan merupakan


tegangan 3 fasa berbentuk cosinus (fungsi cos), dan setiap pasangan dioda
Teknik Elektronika Daya
35

akan konduksi selama 60° yang mulai konduksi pada -30° dan akan berakhir
pada +30°. Jika Vm adalah tegangan maksimum per fasa dari tegangan
sekunder transformer dan dengan 6 pulsa dalam satu siklus, maka tegangan
rata keluaran pada sisi beban dapat diperoleh dengan cara:

(22)

(23)

Besarnya tegangan efektif (Vrms) pada sisi keluaran diperoleh


dari:

(24)

Arus maksimum yang mengalir pada setiap dioda Im ditentukan


dengan cara:

(25)

Sementara arus rms pada setiap dioda diperoleh dengan cara


menintegrasikan pada selang 60° dan mengalikan dengan faktor 2, karena
setiap dioda konduksi selama 60° dalam satu siklus. Besarnya arus rms
ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:

Teknik Elektronika Daya


36

(26)

Berdasarkan gelombang arus sudah jelas bahwa arus dalam setiap line
masukan line mengalir selama 60° dalam satu siklus, dan besarnya adalah
setengah dari nilai arus maksimum.

D. Konverter ac-dc 3 Fasa Semi Terkendali

Konverter semi terkendali 3 fasa merupakan converter ac-dc 1


kuadran, dan hanya mempunyai 1 polaritas positif untuk tegangan dan arus
keluaran. Konverter 3 fasa terkendali penuh sistem jembatan merupakan
converter 2 kuadran, yang memungkinkan tegangan mempunyai polaritas
positif (+) atau negative (-), sementara arus keluaran hanya mempunyai
polritas positif (+). Konverter ganda (dual converter) merupakan converter 4
kuadran, yang memungkinkan tegangan dan arus keluaran mempunyai
polaritas positif, ataupun negative.

. Penyearah 3 fasa semi terkendali digunakan secara luas untuk


aplikasi pengendalian daya untuk keperluan industri sampai dengan 120 kW
dan beroperasi 1 kuadran. Faktor kerja penyearah jenis ini akan berkurang
pada saat sudut penyalaan meningkat. Namun demikian faktor kerjanya
masih lebih baik dibandingkan dengan penyearah 3 fasa setengah gelombang.
Konverter ac-dc 3 fasa semi terkendali merupakan penyearah 3 fasa
gelombang penuh setengah terkendali, dengan 3 buah thyristor dan 3 buah
dioda yang membentuk konverter jembatan gelombang penuh. Ketiga
thyristor berfungsi sebagai sakelar daya terkendali yang dinyalakan secara
bergantian dengan menerapkan sinyal triger yang sesuai. (gate triger pulses).
Sementara 3 dioda berfungsi sebagai sakelar daya yang tidak terkendali yang
dinyalakan bersamaan dengan thyristor yang aktif. Dengan kata lain proses
konduski setiap pasang thyristor dan dioda akan berlangsung selama ( 2 / 3)

Teknik Elektronika Daya


37

derajat listrik dan akan konduski selama (2 / 6) derjat listrik untuk setiap
pasang yang sesuai. ndalian

Rangkaian konverter 3 fasa semi terkendali (three phase half


controlled bridge converter) dengan jenis beban dominan induktif dan
sumber tegangan pada sisi beban diperlihatkan pada gambar 15. Dengan
induktansi beban yang cukup besar, arus beban akan merupakan arus beban
dc rata . Hal ini akan menyebabkan arus beban kontinue akan menghasilkan
arus dc konstan tanpa riak (operasi pada keadaan tanpa riak dan konstan.

Gambar. 18 Rangkaian Daya Penyearah 3 Fasa Semi Terkendali


dengan Beban Dominan Induktif.

Seperti pada gambar 18 di atas, thyristor T1 akan mengalam tegangn

arah maju (forward biased) bila tegangan suplai Vbn mempunyai polaritas

positif dan lebih besar tegangan fasa yang lain Vbn dan Vcn . Dioda D1 akan

mengalami tegangan arah maju bila tegangan suplai Vcn lebih negatif dari

tegangan suplai yang lain. Selanjutnya thyristor T2 akan mengalami tegangan

arah maju bila tegangan Vbn lebih positif dan lebih besar dibandingkan

tegangan fasa yang lainnya. Dioda D2 akan mengalami tegangan arah maju

bila tegangan suplai Van lebih negatif dari tegangan suplai yang lain. thyristor

Teknik Elektronika Daya


38

T3 akan mengalami tegangan arah maju bila tegangan Vcn lebih positif dan

lebih besar dibandingkan tegangan fasa yang lainnya. Dioda D3 akan

mengalami tegangan arah maju bila tegangan suplai Vbn lebih negatif dari
tegangan suplai yang lain

Gambar 17 berturut-turut menunjukkan bentuk gelombang tegangan


suplai 3 fasa, tegangan dc keluaran, gelombang arus pada thyristor dan dioda,
arus yang mengalir melalui dioda freewheeling Dm , dan arus sumber ia .
Frekuensi dari tegangan keluaran adalah sebesar 3fs, dengan fs adalah
frekuensi tegangan suplai. Sudut perlambatan penyalaan  dapat

divariasikan dari 0 0 sampai dengan 1800.

Gambar. 19. Bentuk Gelombang Tegangan Suplai 3 Fasa, Tegangan Dc Keluaran,


Arus pada Thyristor, Dioda, Dioda Freewheeling Dm Penyearah 3
Fasa Semi Terkendali Beban Dominan Induktif.
Selama perioda waktu (  / 6 )  t  ( 7 / 6 ) , atau 300  t  210 0
thyristor T1 mengalami tegangan arah maju. Jika thyristor T1 dinyalakan pada

Teknik Elektronika Daya


39

t  (  / 6   ) , thyristor T1 dan dioda D1 akan konduksi secara bersamaan,


dan menyebabkan tegangan suplai akan sampai pada beban. Pada saat
t  ( 7 / 6 ) , Vac akan mulai mempunyai nilai negatif dan menyebabkan

dioda freewheeling Dm akan konduksi, dan arus beban kontinue akan

mengalir melalui dioda freewheeling Dm dan thyristor T1 , sedangkan dioda

D1 akan padam.

Gambar. 20. Bentuk Gelombang Tegangan Suplai 3 Fasa, Tegangan Dc Keluaran,


Arus pada Thyristor dan Dioda Penyearah 3 Fasa Semi Terkendali
Beban Dominan Induktif pada (  / 6 )  t  ( 7 / 6 )

Jika dioda free wheeling Dm tidak dibhubungkan paralel dengan

beban, thyristor T1 akan tetap konduksi sampai thyristor T2 dinyalakan pada

Teknik Elektronika Daya


40

𝜔𝑡 = ((5𝜋)/6 + 𝛼) dan kerja dari dioda free wheeling akan mempengaruhi


kerja dari thyristor T1 and D2 , bila D2 dinyalakan segera sesaat tegangan

suplai van menjdi lebih negatif pada saat 𝜔𝑡 = (7𝜋)/6 . Jika sudut

perlambatan penyalaan 𝛼 ≤= 𝜋/3 , setiap thyristor akan konduksi selama

120  , dan dioda free wheeling D


0
m tidak akan pernah konduksi pada selang

tersebut.. Bentuk gelombang tegangan dengan sudut penyalaan 𝛼 ≤= 𝜋/3


diperlihatkan pada gambar di atas.

Tegangan suplai 3 fasa dinyatakan dalam bentuk persamaan berikut:

vRN  van  Vm sin t; (27)

Vm  Tegangan maksimum fasa netral

 2 
vYN  vbn  Vm sin   t   (28)
 3 

vYN  vbn  Vm sin  t  1200  (29)

 2 
vBN  vcn  Vm sin   t   (30)
 3 

vBN  vcn  Vm sin  t  1200  (31)

vBN  vcn  Vm sin  t  2400  (32)

Tegangan jaring (line-to-line voltages) dinyatakan dalam bentuk:

 
vRB  vac   van  vcn   3Vm sin   t   (33)
 6

 5 
vYR  vba   vbn  van   3Vm sin   t   (34)
 6 

 
vBY  vcb   vcn  vbn   3Vm sin   t   (35)
 2

Teknik Elektronika Daya


41

 
vRY  vab   van  vbn   3Vm sin   t   (36)
 6

Dengan Vm merupakan tegangan maksimum per fasa untuk sumber


yang terhubung secara bintang (Y) . Selanjutnya Persamaan Tegangan
Keluaran Rata-rata Penyearah 3 Fasa semi terkendali untuk dan 𝛼 > 𝜋/3.
Tegangan Keluaran dan tegangan beban diskontinu, tegangan keluaran rata-
rata diperoleh dengan cara sbb:

7
6
3
Vdc   vac .d  t  (37)
2 
6 

7
3 6
 
Vdc   3 Vm sin   t   d  t 
2   6
6 

3 3Vm
Vdc  1  cos  
2

3VmL
Vdc  1  cos   (38)
2

Berdasarkan persamaan (30) di atas diperoleh bahwa tegangan


keluaran rata-rata maksimum terjadi pada sudut perlambatan penyalaan   0
, yaitu:

3 3Vm
Vdm  (39)

Normalisasi nilai tegangan dc rata-rata adalah

Vdc
Vn   0.5 1  cos   (40)
Vdm

Besarnya tegangan dc efektif keluaran diperoleh dari persamaan:

Teknik Elektronika Daya


42

1
7
 3  2
2
6
  3Vm sin  t  6  d t 
2
VO RMS  (41)
 2 
 6  
1
 3  1  2
VO RMS   3Vm       sin 2   (42)
 4  2 


Untuk   , dan tegangan keluaran kontinue, maka:
3

     
vO  vab  3Vm sin   t   ; untuk  t      to   (43)
 6 6  2

Dan

     5 
vO  vac  3Vm sin   t   ; untuk  t    to    (44)
 6 2  6 

Selanjutnya besarnya tegangan dc keluaran rata-rata dihitung dengan


persamaan berikut:

 5
3  2 6  
   ac  
2  
Vdc  v .d  t  v .d  t (45)

ab

 6 2 

3 3Vm
Vdc  1  cos  
2

Vdc
Vn   0.5 1  cos   (46)
Vdm

Selanjutnya juga dengan besarnya tegangan dc keluaran efektif (rms)


dihitung dengan menggunakan persamaan:

1
 5
 3 2 6   2

VO RMS    
2
vab .d  t    vac2 .d  t   (47)
 2   
 6  2 
Teknik Elektronika Daya
43

1
 3  2  2
VO RMS   3Vm    3 cos 2    (48)
 4  3 

Persamaan (48) di atas juga menunjukkan bahwa besarnya tegangan


efektif keluaran merupakan fungsi dari sudut perlambatan penyalaan 

Contoh soal

Suatu penyearah 3 fasa semi terkendali dibebani dengan beban dominan


iduktif (RL). Jika tegangan suplai sebesar 400 sin314t dan thyristor

dinyalakan pada sudut perlambatan penyalaan   , tentukan:
4
a. besarnya tegangan rata-rata keluaran.
b. Jika salah satu tegangan sumber terputus, bagaimana dengan tegangan
keluaran rata-rata pada sisi beban.
Penyelesaian

 
Sudut perlambatan penyalaan   radian lebih kecil dari radian,
4 3
sehingga;

3Vm
Vdc  1  cos  
2

3  400
Vdc  1  cos 450 
2

Vdc  326.18 Volts

Jika salah satu fasa tegangan suplai terputus, rangkaian akan berprilaku
sebagai sebuah penyearah satu fasa semi terkendali dengan beban dominan
induktif (RL load.)

Vm
Vdc  1  cos  

Teknik Elektronika Daya


44

400
Vdc  1  cos 450 

Vdc  217.45 Volts

E. Konverter ac-dc 3 Fasa Terkendali

Konverter 3 fasa terkendali penuh sistem jembatan merupakan


converter 2 kuadran, yang memungkinkan tegangan mempunyai polaritas
positif (+) atau negative (-), sementara arus keluaran hanya mempunyai
polaritas positif (+). Konverter ganda (dual converter) merupakan converter 4
kuadran, yang memungkinkan tegangan dan arus keluaran mempunyai
polaritas positif, ataupun negative.

1. Konverter 3 Fasa Terkendali ½ Gelombang

Konverter ac dc 3 fasa ½ gelombang terkendali disebut juga


dengan konverter ac dc 3 fasa ½ jembatan terkendali. Disebut terkendali,
karena besarnya tegangan keluaran konverter dapat dikendalikan pada
sisi konverter. Ciri utama dari konverter ini adalah menggunakan
thyristor sebagai komponen pensakelaran pada rangkaian daya.
Konfigurasi pemasangan komponen pensakelaran dari konverter jenis ini
diperlihatkan pada gambar 21. Karena ke tiga komponen pensakelaran
hanya menghasilkan arus positif beban. Konfigurasi konverter ini terdiri
dari tiga thyristor T1, T2, da T3 yang dipasang secara seri dengan masing
masing tegangan 3 fasa sumber R, S, dan T. Beban dalam hal ini
terpasang seri dengan keluaran positif dari ketiga dioda.

Sumber tigas fasa R, S, dan T tetap dinyatakan dalam bentuk


persamaan berikut:

𝑉𝑎𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin 𝑤𝑡 (49)

Teknik Elektronika Daya


45

𝑉𝑏𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin(𝑤𝑡 − 2𝜋/3) (50)

𝑉𝑐𝑛 = √2 𝑉𝑠 sin(𝑤𝑡 − 4𝜋/3) (51)

Mengacu kepada tegangan sumber di atas, bahwa sumber


tegangan tiga fasa merupakan sumber tegangan yang saling berbeda fasa
sebesar 1200, dan dikaitkan dengan cara kerja komponen pensakelaran
dioda, maka dapat dipastikan bahwa thyristor yang pertama
mendapatkan tegangan bias arah maju adalah thyristor T1, kemudian
disusul oleh dioda T2, dan dioda 3. Masing-masing thristor akan konduksi
(ON) selama 1200 listrik, dan konduksi secara berurutan.

Gmbar 21. Rangkaian Daya Konverter 3 Fasa


Terkendali ½ Gelombang

Untuk (π/6+α) ≤ wt ≤ (5π/6+α) tegangan fasa pertama Va lebih


besar dari tegangan fasa ke dua Vb maupun tegangan fasa ke tigas Vc, dan
menyebabkan thyristor T1 mengalami tegangan arah maju dan konduksi,
sedangkan thyristor T2 dan thyristor T 3 akan mengalami tegangan arah
balik (tidak konduksi). Tegangan fasa pertama Va akan menyuplai arus
beban melalui thyristor T1 terus ke beban dan kembali ke titik netral.
Berarti arus yang menyebabkan tegangan beban adalah arus thyristor T1.
Selanjutnya untuk (5π/6+α) ≤ wt ≤ (3π/2+α), tegangan fasa ke dua Vb
akan lebih positif dari tegangan fasa pertama Va dan tegangan fasa ke tiga
Vc, sehingga menyebabkan thyristor T2 mengalami tegangan arah maju

Teknik Elektronika Daya


46

dan konduksi, sedangkan thyristor T1 dan thyristor T3 akan mengalami


tegangan arah balik dan tidak konduksi. Jadi arus yang mengalir dan
menyebabkan tegangan pada beban adalah arus thyristor T2. Kemudian
untuk (3π/2+α) ≤ wt ≤ (13π/6+α), tegangan fasa ke tiga Vc lebih positif
dari tegangan fasa pertama Va dan tegangan fasa ke dua Vb dan
menyebabkan thyristor T3 mengalami tegangan arah maju dan konduksi,
sedangkan thyristor T1 dan thyristor T3 tidak konduksi. Selanjutnya 13π/6
≤ wt ≤ 17π/6 siklus tegangan sumber akan kembali berulang dan
menyebabkan tegangan Va lebih positif dari tegangan fasa ke dua Vb dan
tegangan fasa ke tiga Vc dan menyebabkan thyristor T1 kembali konduksi,
sementara thyristor T2 dan thyristor T3 akan kembali padam. Demikian
seterusnya prinsip ini akan berulang terus menerus dan merupakan kerja
dari konverter ac dc 3 fasa tidak terkendali

Gambar 22. Gelombang Tegangan Sumber dan Tegangan Beban


Konverter ac dc Terkendali ½ jembatan

Teknik Elektronika Daya


47

Bila thyristor T1 dinyalakan pada sudut nyala  , besarnya


tegangan dc keluaran untuk arus beban kontinue dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut:

 56  
3  
Vdc    vO .d  t   (52)
2 
 6  

Tegangan keluaran menjadi:

vO  van  Vm sin  t for  t   300    to 1500   

 5  
3 6 
Vdc    Vm sin  t.d t   (53)
2 
 6  

Karena tegangan keluaran mempunyai 3 pulsa selama satu siklus


tegangan masukan, maka:

 56  
3Vm  
Vdc    sin  t.d  t   (54)
2 
 6  

5
  
3Vm  6

Vdc    cos t 
2  

 6
 

3Vm   5   
Vdc 
2   cos  6     cos  6     (55)
    

Selesaian dari persamaan di atas akan menghasilkan:

 2 cos  300  cos   


3Vm
Vdc  (56)
2  

Teknik Elektronika Daya


48

3Vm  3 
Vdc  2  cos    (57)
2  2 

3Vm    3 3Vm cos  


Vdc  3 cos  
2   2

3VLm
Vdc  cos   (58)
2

Tegangan keluaran maksimum akan diperoleh jika besarnya sudut


perlambatan penyalaan  = 0 dan dinyatakan dalam bentuk persamaan:

3 3 Vm
Vdc max   Vdm  (59)
2

Vm adalah nlai tegangan maksimum per fasa., dan normalisasi


dari tegangan keluaran menghasilkan:

Vdc
Vdcn  Vn   cos  (60)
Vdm

2. Konverter 3 Fasa Terkendali Gelombang Penuh

Penyearah 3 fasa terkendali penuh adalah penyearah 3 fasa terkendali sistem


jembatan gelombang penuh yang menggunakan 6 buah thyristor dihubungkan
sedemikia rupa dan membentuk konfigurasi sistem jembatan. Seluruh thyristor
merupakan sakelar terkendali yang diaktifkan/ dan dinyalakan sesuai dengan
pengaturan waktu tertentu dengan memberikan sinyal pulsa pada kaki gate.
Penyearah jenis ini juga biasa disebut dengan penyearah 6 pulsa. Penyearah 3
fasa terkendali gelombang penuh juga digunakan secara luas untuk aplikasi
pengendalian daya untuk keperluan industri dengan daya lebih besar dengan
120 kW dan beroperasi pada 2 kuadran.

Rangkaian konverter 3 fasa terkendali penuh (three phase full bridge


controlled converter) dengan jenis beban dominan induktif dan sumber

Teknik Elektronika Daya


49

tegangan pada sisi beban diperlihatkan pada gambar 18. Tiga thyristor
kelompok atas T1 , T3 , dan T5 bekerja melayani arus positif dari beban,

sedangkan 3 thyristor kelompok bawah T2 , T4 , dan T6 6 bekerja melayani


arus beban negatif. Dengan induktansi beban yang cukup besar, arus beban
akan merupakan arus beban dc rata . Hal ini akan menyebabkan arus beban
kontinue akan menghasilkan arus dc konstan tanpa riak (operasi pada keadaan
tanpa riak dan konstan.

Gambar. 23. Rangkaian Daya Penyearah 3 Fasa Terkendali Penuh

dengan Beban Dominan Induktif.

Mengacu pada gambar 19 di atas, setiap thyristor akan dinyalakan


pada interval 𝛼 = 𝜋/3 radian (berarti setiap interval adalah 600. Frekuensi
riak tegangan keluaran adalah 6 fs, sehingga filter yang dibutuhkan menjadi
lebih kecil dibandingkan penyearah 3 fasa semi terkendali, ataupun
penyearah 1 fasa terkendali gelombang penuh.

Pada saat t  (  / 6   ) , thyristor T6 sudah dinyalakan pada saat

thyristor T1 dinyalakan dengan memberikan sinyal pulsa pada gate dari

thyristor T1 . Selama periode waktu 𝑤𝑡 = ((𝜋/6) + α) sampai dengan 𝑤𝑡 =

Teknik Elektronika Daya


50

((𝜋/2) + α), thyristor T1 dan T6 akan konduski secara bersamaan, sehingga

tegangan jaring (line voltage) Vab sampai pada terminal beban. Kemudian

pada saat 𝑤𝑡 = ((𝜋/2) + α), thyristor T2 dinyalakan, dan pada saat yang

sama thyristor T6 mengalami tegangan arah balik dan akan segera padam
secara natural.. Selama periode waktu 𝑤𝑡 = ((𝜋/2) + α) sampai 𝑤𝑡 =
((5𝜋/6) + α) , thyristor T1 dan T2 akan konduksi secara bersamaan dan

menyebabkan tegangan jaring Vac sampai pada sisi terminal beban.

Demikian seterusnya, thyristor akan konduksi dengan urutan indeks


dalam rangkaian seperti pada gambar 18. Urutan penyalaan thyristor (firing
sequence) akan mengikuti pyola urutan indeksnya, yaitu 12, 23, 34, 45, 56,
61, 12, 23, dan seterusnya.. Bentuk sinyal gelombang tegangan suplai 3 fasa,
tegangan dc kelyuaran, arus thyristor yang melalui T1 dan T4 , serta arus
sumber pada fasa pertama ‘a’ diperlihatkan pada gambar 19. Pemahaman
tentang tegangan fasa netral pada sistem 3 fasa (tegangan 3 fasa) adalah:

VRN  Van  Vm sin t (61)

 2 
vYN  vbn  Vm sin   t    Vm sin  t  120 
0

 3 
 2 
vBN  vcn  Vm sin   t    Vm sin  t  120   Vm sin  t  240 
0 0

 3 

Besaran Vm adalah besarnya tegangan maksimum fasa netral tegangan


sumber dengan sistem hubungan bintang (Y). Hubungan antara tegangan
jaring terhadap tegangan fasa netral dinyatakan dengan persamaan berikut:

 
vRY  vab   van  vbn   3Vm sin   t  
 6
 
vYB  vbc   vbn  vcn   3Vm sin   t  
 2

Teknik Elektronika Daya


51

 
vBR  vca   vcn  van   3Vm sin   t   (62)
 2

Gambar 24. Bentuk Sinyal Gelombang Tegangan Suplai 3 Fasa,


Tegangan dc Keluaran, Arus thyristor

T6 T1 T2 T3 T4 T5 T6 T1 T2

iG1
t
(30 + )
0 0 0
(360 +30 +)
0
iG2 60

t
0
iG3 60
t

0
iG4 60
t

0
iG5 60
t

0
iG6 60
t

Gambar 25. Bentuk Sinyal Triger pada Penyearah 3 Fasa


Terkendali Gelombang Penuh.

Teknik Elektronika Daya


52

Persamaan tegangan dc keluaran dari penyearah 3 fasa terkendali


gelombang penuh ditentukan berdasarkan jumlah pulsa (terdiri dari 6) yang
terbentuk selama satu periode (2 radians), dan diperoleh dengan cara
berikut:



2
6
VO dc   Vdc 
2 
 vO .d t ; (63)

6

 
vO  vab  3Vm sin   t   (64)
 6



3 2
 
 
Vdc  3Vm sin   t   .d t (65)

 6
6

3 3Vm 3VmL
Vdc  cos   cos  (66)
 

Nilai VmL  3Vm merupakan tegangan maksimum antara fasa.

Besarnya tegangan dc keluaran maksimum diperoleh pada saat


besarnya sudut perlambatan penyalaan thyristor  = 0, yaitu:

3 3Vm 3VmL
Vdc max   Vdm   (67)
 

Tegangan dc keluaran ternormalisasi diperoleh dengan cara.

Vdc
Vdcn  Vn   cos  (68)
Vdm

Selanjutnya besarnya tegangan dc efektif (rms value) pada sisi


terminal beban diperoleh dari:

Teknik Elektronika Daya


53

1

  2
 6 
2
VO rms    vO .d  t  
2 (69)
2 
 6
 

1

  2
 6 
2
  vab .d t 
2
VO rms 
2 
 6
 

1

  2
 3
2
2  
VO rms    3Vm sin   t  .d  t  
2

2   6
 6
 

1
1 3 3 2
VO rms   3Vm   cos 2  (70)
 2 4 

Persamaan di atas menunjukkan bahwa besarnyay tegangan keluaran


konverter ac dc 3 fasa terkendali penuh juga merupakan fungsi dari sudut
perlambatan penyalaan thyristor (𝛼).

F. Konverter ac-dc 3 Fasa Ganda (Three Phase Dual Converters)


Dalam banyak penggunaan pada sistem pengendali kecepatan,
pengoperasian penyearah 3 fasa dengan sistem 4 kuadran merupakan suatu
pilihan yang tepat, baphkan digunakan secara luas untuk beban sampai
dengan 2000 kW. Gambar berikut menunjukkan rangkaian daya sebuah
konverter 3 fasa ganda, dimana 2 buah konverter 3 fasa digunakan dengan
sistem saling terhubung pada sisi beban (‘back to back’). Terlihat bahwa
kedua tegangan dc keluaran setiap konverter sama-sama terhubung pada
beban. Perbedaan tegangan keluaran diantara ke dua konverter akan
memungkinkan mengalirnya arus sirkulasi diantara ke dua sisi beban setiap
konverter. Besarnya arus sirkulasi dibatasi dengan penggunaan induktor L,
dan kedua konverter dikendali sedemikian rupa sehingga jika sudut

Teknik Elektronika Daya


54

perlambatan penyalaan konverter 1 sebesar 1 , maka sudut perlambatan

penyalaan konverter 2 adalah  2    1  .

Prinsip kerja konverter 3 fasa terkendali dua arah ini identik dengan
konverte 1 fasa terkendali dua arah. Perbedaan utama adalah bahwa konverter
3 fasa 2 arah mempunyai tegangan dc keluaran yang lebih tinggi dan daya
keluaran pada sisi beban menjadi lebih besar dibandingkan dengan konverter
1 fasa terkendali 2 arah. Namun demikian konverter 3 fasa terkendali 2 arah
dalam hal pembiayaan (cost) menjadi lebih besar.

Gambar 26. Konverter 3 Fasa Sistem Dua Arah

Gambar 27. Bentuk Gelombang Tegangan dc Keluaran Konverter


3 Fasa Sistem 2 Arah.

Teknik Elektronika Daya


55

Gambar 23 di atas memperlihatkan bentuk gelombang tegangan input,


tegangan kelaran konverter 1 dan konverter 2, dan tegangan jepit yang
terdapat pada induktor pembatas Lr .Prinsip kerja setiap penyearah 3 fasa
terkendali akan identik dengan kerja penyearah 3 fasa terkendali penuh.
   
Selama interval   1  sampai   1  , tegangan jaring vab akan sampai
6  2 
pada sisi keluaran konverter 1, dan vbc akan sampai pada sisi keluaran
konverter 2. Selanjutnya bila tegangan fasa netral dari sumber didefinisikan
sebagai:

vRN  van  Vm sin t ; Vm = tegangan maksimum fasa netral.

 2 
vYN  vbn  Vm sin   t    Vm sin  t  120 
0

 3 

 2 
vBN  vcn  Vm sin   t    Vm sin  t  120   Vm sin  t  240 
0 0

 3 

Diperoleh analogi untuk besarnya tegangan jaring (line to line


voltage) menjadi:

 
vRY  vab   van  vbn   3Vm sin   t  
 6

 
vYB  vbc   vbn  vcn   3Vm sin   t  
 2

 
vBR  vca   vcn  van   3Vm sin   t  
 2 (71)

Arus sirkulasi pada ke dua sisi konverter


Bila vO1 dan vO 2 adalah tegangan keluaran konverter 1 dan konverter
2 , maka tegangan sesaat pada induktor pembatas selama interval
   
  1    t    1  adalah:
6  2 

Teknik Elektronika Daya


56

vr   vO1  vO 2    vab  vbc 

     
vr  3Vm sin   t    sin   t   
  6  2 

 
vr  3Vm cos   t  
 6 (72)

Besarnya ars sirkulasi dapat dihitung dengan menggunakan


persamaan berikut:

t
1
ir  t    vr .d  t 
 Lr 
1
6

t
1  
ir  t    3Vm cos   t   .d  t 
 Lr   6
1
6

3Vm    
ir  t   sin  t  6   sin 1 
 Lr    

3Vm
ir  max   = nilai maksimum arus sirkulasi (73)
 Lr

Terdapat dua mode pengoperasian konverter 3 fasa sistem ganda,


yaitu:

1. Mode operasi tanpa arus sirkulasi (non circulating current).


2. Mode operasi dengan arus sirkulasi.

a. Mode Operasi Tanpa Arus Sirkulasi (Non Circulating Current)

Pada mode operasi ini hanya salah satu konverter yang diaktifkan
pada satu saat, bila konverter 1 yang di aktifkan, sinyal pulsa pada gate
konverter 1, dan besarnya tegangan dan arus keluaran rata-rata

Teknik Elektronika Daya


57

dikendalikan dengan cara mengatur sudut perlambatan penyalaan 1 ,


dan sinyal pada gate thyristor pada konverter 1.

Arus beban akan mengalir pada arah kebawah dan memberikan


arus beban positif bila konverter 1 di aktifkan. Untuk 1 < 900 , konverter

1 dioperasikan pada mode penyearah sehingga Vdc mempunyai nilai

positif. Arus beban I dc dan daya yang diserap beban Pdc juga akan
mempunyai nilai positif. Konverter 1 akan mengkonverskan tegangan ac
suplai menjadi tegangan dc pada sisi beban, dan daya akan mengalir dari
sumber ac suplai ke beban dc pada mode penyearan. Bila sudut
perlambatan penyalaan 1 dinaikkan melebih 900 , maka Vdc akan
mempunyai polaritas negatif (berlawanan dengan polaritas sebelumnya),
sementara arus beban I dc tetap positif, oleh karena thyristor pada
konverter 1 akan tetap konduksi hanya pada satu arah. Perubahan arah
arus beban pada konverter 1 tidak akan dimungkinkan.

Untuk 1  900 , konverter 1 bekerja pada mode inverter dan


energi pada beban mengalir kembali ke sumber tegangan masuk.
Thyristor akan berubah pada keadaan padam (off state), bila beban turun
menjadi nol, dan pada waktu yang sangat singkat +10 sampai 20 ms,
konverter 2 dapat diaktifkan (on state) dengan melepaskan sinyal kontrol
terhadap thyristor konverter 2.

b. Mode Operasi dengan Arus Sirkulasi (Circulating Current Mode Of


Operation)

Pada mode ini ke dua konverter diaktifkan pada saat yang


bersamaan, sehingga salah satu konverter akan bekerja sebagai penyearah
dan konverter yang lain bekerja sebegai inverter. Sudut perlambatan
penyalaan ke dua konverter 1 dan  2 diatur sedemikian rupa sehingga

Teknik Elektronika Daya


58

1  2   1800 . Bila 1  900 , koverter 1 bekerja sebagai konverter 3

fasa terkendali. Demikian juga bila  2 diatur pada nilai lebih besar dari

900 , konverter 2 akan bekerja sebagai inverter, sehingga menghasilkan


Vdc

Bila 1  900 , konverter 1 bekerja sebagai penyearah 3 fasa

terkendali penuh. Bila  2 di buat lebih besar dari 900 , konverter bekerja

sebagai inverter, dan Vdc , I dc , dan Pdc mempunyai polaritas positif.

Selanjutnya bila  2  900 , konverter 2 bekerja sebagai penyearah

terkendali gelombang penuh, dan bila 1 dibuat lebih besar dari 900 ,

konverter 1 bekerja sebagai inverter dan menghasilkan Vdc dan I dc

mempunyai polaritas negatif, sementara Pdc tetap mempunyai polaritas


positif.

Contoh Soal

1. Suatu penyearah 3 fasa terkendali penuh dioperasikan pada tegangan



suplai sebesar 400 V, 50 Hz. . Thyristor dinyalakan pada sudut   .
4
There is a FWD across the load. Tentukan besarnya tegangan dc
keluaran rata-rata untuk   450 dan   750 .

Penyelesaian

3Vm
Untuk   450 , Vdc  cos 

3  2  400
Vdc  cos 450  382 Volts

1  cos  600    
6Vm
Untuk   750 , Vdc 
2  

Teknik Elektronika Daya


59

6  2  400
Vdc  1  cos  600  750  
2  

Vdc  158.4 Volts

2. Suatu penyearah 6 pulsa dihubungkan pada tegangan sumber 3 fasa


415 volt untuk mengendalikan motor dc 440 volt. Tentukan besarnya
sudut perlambatan penyalaan  , pada kondisi mana penyearah harus
ditriger dengan memperhitungkan jatuh tegangan sebesar 10% dari
tegangan rating.

Penyelesaian
44V

A
+ Ra La
3 phase 484 +
B Full Wave V=V0 440 V
Rectifier 

C

Ra - Tahanan jangkar motor

La - Induktansi jangkar

Jika tegangan klem (tegangan jepit) harus sama dengan tegangan


rating yaitu 440 volt, maka besarnya tegangan terminal harus sama
dengan tegangan keluaran penyearah+tegangan jatuh pada jangkar
motor.

Jadi 440  01 440  484 Volts .

3Vm cos 
Sehingga VO   484 volt

3  2  415  cos 
Diperoleh  484 volt

Sehingga   30.270

Teknik Elektronika Daya


60

G. Evaluasi

1. Penyearah 1 Fasa ½ gelombang dengan beban resistor murni, jika


transformator 220/110 volt, dan resistor sebesar 100 ohm. Jelaskan
kembali cara kerja penyearah tersebut, gambarkan gelombang arus dan
tegangan keluaran, serta tentukan:
a. Efesiensi.
b. Factor riak (ripple factor)
c. Faktor utilisasi transformator.
d. Tegangan balik maksimum (PIV) dioda D1
e. Faktor bentuk
f. Crest factor dari arus masukan.

2. Penyearah 1 Fasa gelombang penuh (full wave)seperti gambar dengan


beban resistor murni, jika transformator 220/110 volt dengan tegangan
antar CT sebesar 55 volt, dan resistor sebesar 100 ohm, Jelaskan kembali
cara kerja penyearah tersebut, gambarkan gelombang arus dan tegangan
keluaran, serta tentukan:
a. Efesiensi.
b. Factor riak (ripple factor)
c. Faktor utilisasi transformator.
d. Tegangan balik maksimum (PIV) dioda D1
e. Faktor bentuk
f. Crest factor dari arus masukan.

3. Gambarkan kembali rangkaian daya penyearah 1 fasa terkendali penuh


dengan beban dominan induktif (tanpa beban sumber tegangan).
Berdasarkan gambar tersebut.
a. Jelaskan cara kerja rangkaian dan gambarkan bentuk gelombang
tegangan keluaran, arus keluaran serta arus masukan dengan sudut
perlambatan penyalaan  =0.
Teknik Elektronika Daya
61

b. Lakukan seperti soal 1 (a) di atas untuk sudut perlambatan penyalaan



 , serta tentukan besarnya tegangan Vdc(rata-rata), dan Vdc
6
(efektif), jika.tegangan suplai sebesar 220 volt.

c. Lakukan seperti soal 1 (a) dan (b) di atas untuk beban resistif murni.

4. Penyearah 1 fasa terkendali penuh dengan beban resistor murni sebesar


100 ohm. Gambarkan bentuk gelombang tegangan dan arus masukan dan

keluaran dengan sudut perlambatan penyalaan   , serta tentukan:
6
a. Gambarkan rangkaian daya dan jelaskan cara kerja penyearah tersebut.
b. Tegangan Vdc (rata2) dan tegangan Vdc (efektif)
c. Arus dan daya pada beban
5. Sebuah penyearah 1 fasa terkendali gelombang penuh digunakan untuk
menyuplai beban dc sebesar 100  dari sumber ac 2230 V, 50 Hz, dengan

sudut perlambatan penyalaan    / 4 0. Bagaimana dengan tegangan


pada beban jika ditambahkan sebuah induktor yang cukup besar pada sisi
beban, dan berapa besarnya tegangan beban akibat penambahan induktor
tersebut.?

6. Penyearah 3 fasa terkendali ½ gelombang dengan beban resistor murni


sebesar 100 ohm (gambar 5.4). Gambarkan bentuk gelombang tegangan
dan arus masukan dan keluaran dengan sudut perlambatan penyalaan

 , serta tentukan:
6
a. Gambarkan rangkaian daya dan jelaskan cara kerja penyearah
tersebut.
b. Tegangan Vdc (rata2) dan tegangan Vdc (efektif)
c. Arus dan daya pada beban

Teknik Elektronika Daya


62

7. Beban resistif dengan tegangan variabel disuplai dari konverter ac dc


terkendali jembatan penuh. Gambarkan diagram rangkaian dan dengan
menggunakan sket dari bentuk gelombang tegangan,hitung daya yang
disipasikan pada beban untuk beban resistif sebesar 110 Volt Ohm 50
Hertz dan sudut penyalaan 450, dan 1350. Asumsikan bahwa tidak ada rugi
tegangan pada komponen pensakelaran.

8. Konverter ac dc terkendali penuh menyuplai daya pada; (a) beban resistif


sebesar 250 Ohm., (b beban dominan induktif dengan resistansi juga 250
Ohm. Tegangan ac suplai sebesar 240 Volt 50 Herzt/ Tentukan besarnya
arus beban rata-rata dan efektif, daya yang disipasikan pada beban, dan
fakor kerja untuk α sebesar 300 dan α=600/ Asumsikan tidak terjadi rugi
tegangan dan daya pada konverter

Teknik Elektronika Daya


63

Teknik Elektronika Daya