Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1993, WHO telah menyatakan bahwa TB adalah kedaruratan


tingkat global. Meskipun dengan strategi DOTS yang efektif, beban di masyarakat
tetap masih tinggi. Sekitar 9,5 juta kasus baru TB ditemukan dan 0,5 juta orang
meninggal dunia akibat TB pada tahun 2009. Selain itu, adanya kasus ko-infeksi
seperti TB/HIV, TB resisten obat dan tantangan lain menyebabkan kasus ini sukar
untuk ditangani.

Indonesia berada pada posisi ketiga terbesar didunia dalam jumlah penderita
Tuberkulosis, setelah India dan China. Jumlah psien TB di Indonesia sekitar 10% dari
totao jumlah pasien TB didunia. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) pada tahun 2007 dalam Depkes RI (2009), menunjukan bahwa
pwnyakit TB merupakan penyebab kematian nomor dua seteah penyakit
kardiovaskular (stroke) pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari golongan
penyakit infeksi. Pada tahun 2008, angka temuan kasus baru (Case Detection Rate/
CDR) di Indonesia sebesar 72,8% atau didapati 166.376 penderita baru dengan BTA
positif. Angka kesembuhan (Success Rate/ SR) 89%. Hal ini melampaui target global,
yaitu CDR 70% dan SR 85% (Depkes RI, 2009).

1.2 Tujuan

Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk memenuhi tugas laporan kasus pada
stase paru.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi

Tuberculosis (TB) adalah penyakit menuar yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis. Umumnya TB menyerang paru- paru sehingga disebut
dengan TB paru. Tetapi kuman TB juga bisa menyebar ke organ lain, dan jenis TB ini
lebih berbahaya dari TB paru. Bila kuman TB menyerang otak dan sistem saraf pusat,
akan menyebabkan meningitis TB. Bila kuman hampir menginfeksi hampir seluruh
organ tubuh seperti ginja, jantung, saluran kemih, tuang, sendi, otot, usus, kulit,
disebut TB millier atau TB ekstrapulmoner.

TB ditularkan melalui udara (melalui percikan dahak penderita TB).


Seseorang dapat terpapar dengan TB hanya dengan menghirup sejumah keci kman
TB. Penderita TB dengan status TB BTA (Basal Tahan Asam) positif dapat
menularkan sekurang- kurangnya kepada 10- 15 orang lain setiap tahunnya.

2.2 Etiologi

Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis


yang berbentuk batang, tidak berspora, panjang 1-10 µm, lebar 0,2 - 0,6 µm.
Bakteri ini tahan terhadap suhu rendah sehingga mampu untuk bertahan hidup
dalam jangka waktu yang lama. Tetapi sangat peka terhadap panas, sinar
matahari sehingga saat terpapar sinar matahari, bakteri tersebut akan mati
dalam waktu beberapa menit.1

2.3 Epidemiologi

Hingga saat ini, penyakit TB masih menjadi permasalahan kesehatan


masyarakat di seluruh dunia meskipun dengan adanya upaya pengendalian dengan
strategi DOTS yang digunakan di banyak negara sejak tahun 1995.2

2
Menurut WHO (2013), sekitar 8,6 juta kasus TB ditemukan pada tahun 2012
dimana 1,1 juta pasien TB turut menderita HIV. Selain itu, turut ditemukan sekitar
450,000 kasus TB MDR pada tahun yang sama dan diperkirakan sekitar 170,000
orang telah meninggal dunia.3

Jumlah kasus kematian yang diakibatkan oleh TB lebih banyak ditemukan


pada pria, tetapi angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan TB pada wanita juga
tergolong sangat tinggi. Kira-kira 2,9 juta kasus TB tahun 2012 dengan jumlah
kematian mencapai 160,000 orang dan di Indonesia sendiri, pada kasus kematian
pada penderita HIV yang diakibatkan oleh TB, sebanyak 50% dari kasus tersebut
adalah wanita.2

2.4 Patogenesis

Penularan TB terjadi karena menghirup udara dengan partikel-partikel yang


mengandung M. tuberculosis dan mencapai alveolus. M. tuberculosis akan
difagositosis oleh makrofag alveolus dan dibunuh. Tetapi kalau M. tuberculosis yang
dihirup virulen dan makrofag alveoli lemah, maka M. tuberculosis akan berkembang
biak dan menghancurkan makrofag. Monosit dan makrofag dari darah akan ditarik
secara kemostaksis ke arah M. tuberculosis berada, kemudian memfagositosis basil
TB tetapi tidak membunuhnya. Makrofag dan basil TB membentuk tuberkel yang
juga mengandung sel–sel epiteloid, makrofag yang menyatu (sel datia Langhans) dan
limfosit T. 4

Tuberkel akan menjadi tuberkuloma dengan nekrosis dan fibrosis di dalamnya


dan mungkin juga terjadi kalsifikasi. M. Tuberculosis atau basil TB menyebar ke
kelenjar limfe hilus. Lesi pertama di alveolus , infeksi kelenjar limfe dan limfadenitis
yang bersangkutan membentuk kompleks primer. Basil TB setelah dari limfe dapat

3
menyebar melalui saluran limfe dan saluran darah ke organ-organ lain seperti hepar,
lien, ginjal, tulang, otak dan lain-lainnya.4
Basil TB dapat langsung menyebabkan penyakit di organ-organ atau hidup
dorman di dalam makrofag jaringan dan dapat menyebabkan TB aktif bertahun-tahun
kemudian. Tuberkel juga dapat hilang dengan resolusi, berkalsifikasi membentuk
kompleks Ghon, atau terjadi nekrosis dengan material kiju yang dibentuk dari
makrofag. Kalau masa kiju mencair maka basil dapat berkembang biak ekstraseluler
sehingga dapat meluas di jaringan paru dan dapat menyebar secara bertahap
menyebabkan lesi di organ-organ lainnya atau disebut sebagai TB milier.4
Limfadenitis biasanya merupakan komplikasi awal TB primer, umumnya
terjadi pada 6 bulan pertama setelah infeksi. Penyebaran infeksi pada kelenjar
superfisial tersering adalah melaui pembuluh limfe dan pembuluh darah. Masuknya
basil TB ke dalam aliran limfe selama fase awal TB primer paru dapat tertahan pada
satu atau lebih kelenjar superfisial. Dalam beberapa bulan, penyebaran secara
hematogen dapat diketahui jika ditemukan pembesaran seluruh kelenjar limfe yang
bersifat sementara.4
Pada sebagian besar kasus, infeksi pada kelenjar limfe ini regresi dan sembuh
sempurna, sedangkan pada sebagian kecil basil berkembang biak dalam kelenjar
limfe atau membentuk fokus TB yang tidak aktif, tetapi basil tetap hidup di
dalamnya. Fokus laten ini akan menjadi aktif beberapa bulan atau tahun kemudian
tergantung dari basil yang masuk, faktor imunitas bawaan maupun didapat, faktor
hipersensitivitas dan suseptibilitas kelenjar limfe yang terkena.4
Limfadenitis TB juga bisa disebabkan oleh penyebaran limfatik langsung dari
fokus primer TB di luar paru. Bila kelenjar limfe merupakan bagian dari kompleks
primer, pembesaran akan timbul pertama kali di dekat tempat masuk basil TB.
Limfadenitis TB inguinal atau femoral yang unilateral merupakan penyebaran dari
fokus primer di kulit atau subkutan paha. Limfadenitis TB dileher pada beberapa
kasus dapat disebabkan oleh infeksi primer di tonsil, akan tetapi kasus ini jarang

4
terjadi kecuali di beberapa negara yang mempunyai prevalensi TB oleh M.bovine
yang tinggi.4

2.5 Manajemen Kesehatan

Menurut Sulastomo (2007), dalam manajemen kesehatan, tersangkut 3


kelompok manusia yaitu, kelompok penyelenggara kesehatan (healthprovider,
misalnya dokter-dokter, perawat-perawat), kelompok penerima jasa pelayanan
kesehatan (para konsumen) serta kelompok ketiga yang secara tidak lansung terlibat,
misalnya para administrator (baik perusahaan maupun pemerintah dan lain-lain).5

Organisasi Manajemen Program TB 2

• Tingkat Pusat. Menteri Kesehatan Indonesia merupakan penanggungjawab


teknis upaya pengendalian TB.
• Tingkat Propinsi (Dinas Kesehatan Propinsi)
• Tingkat Kabupaten/Kota (Dinas Kesehatan Kabupaten Kota).

Dalam melaksanakan pengendalian TB Nasional terdapat beberapa permasalahan


internal yang masih dihadapi saat ini, antara lain 2:

1. Fasilitas Kesehatan. Masih ada Faskes yang belum terlibat seluruhnya dengan
program pengendalian TB. Hanya 38% RS (Pemerintah, TNI, Polri dan
swasta) menerapkan pelayanan mengguanakan strategi DOTS.
2. Ketenagaan. Saat ini lebih kurang 24% staf-staf TB yang terlatih telah
ditempatkan di rumah sakit namun adanya peningkatan kebutuhan staf terlatih
dalam mengendalikan kasus-kasus seperti TB resisten obat dan lain-lain.
3. Obat anti tuberkulosis. Sistem manajemen dari pemerintah masih belum
optimal baik dari perencanaan, pengadaan, distribusi, pengagihan dan
pencatatan laporan.
4. Pembiayaan. Rendahnya komitmen politis dalam pengendalian TB
menyebabkan kurangnya pembiayaan dalam sektor ini.

5
5. Kepatuhan penyedia pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta terhadap
Pedoman Nasional Pengendalian TB. Sebagian besar rumah sakit dan praktek
swasta belum mencapai standar mutu pelayanan yang telah ditetapkan
program.

Kebijakan Pembangunan Nasional

Pembangunan kesehatan merupakan misi pemerintah dalam membangunkan ekonomi


dan keejahteraan rakyat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2010-
2014 telah mencantumkan 4 sasaran pembangunan kesehatan yaitu 4:

1. Menurunnya disparitas status kesehatan dan gizi masyarakat antar wilayah


dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender.
2. Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka
mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk
terutama penduduk miskin.
3. Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah
tangga dari 50% menjadi 70%.
4. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di daerah terpencil,
tertinggal, perbatasan dan kepulauan.

Tabel 1: Target penurunan angka kesakitan dan jematian akibat TB 4


Kondisi Saat Target 2014
Ini
Jumlah Kasus TB per 100,000 penduduk 235 224
Persentase kasus baru TB paru (BTA positif yang 73 90
ditemukan)
Persentase kasus baru TB paru (BTA positif) yang 85 88
disembuhkan

6
Rencana strategis Kementerian Kesehatan 4:
1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani
dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global.
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan berkeadilan,
serta berbasis bukti dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif.
3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk
mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional.
4. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusi
(SDM) kesehatan yang merata dan bermutu.
5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat
kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan
farmasi, alat kesehatan dan makanan.
6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdaya
guna dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang
bertanggung jawab.
Kebijakan Global Dan Regional

Pada tingkat global, Stop TB Partenrship mendukung negara-negara untuk


meningkatkan upaya pemberantasan TB dan penyebaran TB diseluruh dunia. Stop TB
Partership telah menetapkan beberapa target dalam menangani TB yaitu 4:

1. Pada tahun 2015, beban global penyakit TB (prevalensi dan mortalitas) akan
relatif berkurang sebesar 50% dibandingkan tahun 1990, dan setidaknya 70%
orang yang terinfeksi TB dapat dideteksi dengan strategi DOTS dan 85%
diantaranya dinyatakan sembuh.
2. Pada tahun 2050 TB bukan lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat
global.

7
Visi Stop TB Partnership adalah dunia bebas dari TB yang akan dicapai melalui 4
misi yaitu 4:
1. Menjamin akses terhadap diagnosis, pengobatan yang efektif dan kesembuhan
bagi setiap pasien TB.
2. Menghentikan penularan TB.
3. Mengurangi ketidakadilan dalam beban sosial dan ekonomi akibat TB.
4. Mengembangkan dan menerapkan berbagai strategi preventif, upaya diagnosis
dan pengobatan baru lainnya untuk menghentikan TB.
Rencana Global 2006-2015 4:
1. Meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi untuk menghentikan
penularan TB dengan cara meningkatkan akses terhadap diagnosis yang
akurat dan pengobatan yang efektif dengan akselerasi pelaksanaan DOTS
untuk mencapai target global dalam pengendalian TB, dan meningkatkan
ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB.
2. Menyusun strategi untuk menghadapi berbagai tantangan dengan cara
mengadaptasi DOTS untuk mencegah, menangani TB dengan resistensi OAT
(MDR-TB) dan menurunkan dampak TB/HIV
3. Mempercepat upaya eliminasi TB dengan cara meningkatkan penelitian dan
pengembangan untuk berbagai alat diagnostik, obat dan vaksin baru; serta
meningkatkan penerapan metode baru dan menjamin pemanfaatan, akses dan
keterjangkauannya.

Kebijakan Pengendalian TB paru di Indonesia 2:


1. Pengendalian TB paru di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas
desentralisasi dalam kerangka otonomi dengan Kabupaten/Kota sebagai titik
berat manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana,
tenaga, sarana dan prasarana)

8
2. Pengendalian TB paru dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS dan
memperhatikan strategi Global Stop TB partnership
3. Penguatan kebijakan ditujukan untuk meningkatkan komitmen daerah
terhadap program pengendalian TB paru
4. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap
peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan
pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinya MDR-TB
5. Penemuan dan pengobatan dalam rangka pengendalian TB dilaksanakan oleh
seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyenkes), meliputi Puskesmas,
Rumah Sakit Pemerintah Balai/Klinik Pengobatan, Dokter Praktek Swasta
(DPS) dan fasilitas kesehatan lainnya.
6. Pengendalian TB paru dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama dan
kemitraan di antara sektor pemerintah, non pemerintah, swasta, dan
masyarakat dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Pengendalian TB
(Gedurnas TB)
7. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan
untuk peningkatan mutu dan akses layanan
8. Pemberian Obat anti tuberkulosis (OAT) untuk pengendalian TB dikelola
dengan manajemen logistik yang efektif demi menjamin ketersediaannya.
9. Ketersediaan tenaga yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk
meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.
10. Pengendalian TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok
rentan lainnya terhadap TB.
11. Penderita TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya
12. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam MDGs.

Strategi nasional pengendalian TB paru di Indonesia 2010-2014 2


1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu

9
2. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan
masyarakat miskin serta rentan lainnya
3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat (sukarela),
perusahaan dan swasta melalui pendekatan Publik-Private Mix dan menjamin
kepatuhan terhadap International Standards for TB care
4. Memberdayakan masyarakat dan penderita TB
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan manajemen
program pengendalian TB
6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program TB
7. Mendorong penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan informasi strategis

2.6 Strategi Pengobatan

Pada sidang World Helath Assembly ke -67 (2014) telah ditetapkan resolusi
mengenai strategi pengendalian TB pasca 2015 dengan tujuan menghentikan epidemi
global TB pada tahun 2035 yang dipecahkan menjadi 3 pilar strategi utama yaitu 4:

1. Integrasi layanan TB berpusat pada pasien dan upaya pencegahan TB


a) Diagnosis TB sedini mungkin, termasuk uji kepekaan OAT bagi semua
dan penapisan TB secara sistematis bagi kontak dan kelompok populasi
beresiko tinggi.
b) Pengobatan untuk semua pasien TB, termasuk untuk penderita resistan
obat dengan disertai dukungan yang berpusat pada kebutuhan pasien
(patient-centred support)
c) Kegiatan kolaborasi TB/HIV dan tata laksana komorbid TB yang lain.

10
d) Upaya pemberian pengobatan pencegahan pada kelompok rentan dan
beresiko tinggi serta pemberian vaksinasi untuk mencegah TB.
2. Kebijakan dan sistem pendukung yang berani dan jelas.
a) Komitmen politis yang diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan layanan
dan pencegahan TB.
b) Keterlibatan aktif masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan dan
pemberi layanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.
c) Penerapan layanan kesehatan semesta (universal health coverage) dan
kerangka kebijakan lain yang mendukung pengendalian TB seperti wajib
lapor, registrasi vital, tata kelola dan penggunaan obat rasional serta
pengendalian infeksi.
d) Jaminan sosial, pengentasan kemiskinan dan kegiatan lain untuk
mengurangi dampak determinan sosial terhadap TB.
3. Intensifikasi riset dan inovasi
a) Penemuan, pengembangan dan penerapan secara cepat alat, metode
intervensi dan strategi baru pengendalian TB.
b) Pengembangan riset untuk optimalisasi pelaksanaan kegiatan dan
merangsang inovasiinovasi baru untuk mempercepat pengembangan
program pengendalian TB.
Pada awal tahun 1990-an WHO mengembangkan strategi pengendalian TB
yang dikenali sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course).
Strategi DOTS ini mempunya 4 komponen kunci yaitu 4 :

1. Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan.


2. Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin
mutunya.
3. Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan terhadap pasien.
4. Sistem pengelolaan dan ketersedian OAT yang efektif.

11
Pada tingkat nasional telah dibuat strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia
2010-2014 yang terdiri dari 7 strategi yaitu 4:

1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu.


2. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan
masyarakat miskin serta rentan lainnya.
3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat
(sukarela), perusahaan dan swasta melalui pendekatan Pelayanan TB
Terpadu Pemerintah dan Swasta (Public Private Mix) dan menjamin
kepatuhan terhadap Standar Internasional Penatalaksanaan TB
(International Standards for TB Care).
4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan
manajemen program pengendalian TB.
6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program TB
7. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi
strategis.

Aspek tatalaksana pasien TB dilakukan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat


Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Lanjut (FKRTL) dimana FKTP
adalah fasilitas tingkat pertama yang memberikan pelayanan mulai dari promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif. Contoh FKTP adalah puskesmas, Klinik Pratama,
RS Tipe D. Manakala FKRTL adalah fasilitas yang memberikan layanan promotif,
prebentif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif untuk kasus TB dengan penyulit dan kasus
TB yang tidak bisa ditegakkan diagnosanya. Contoh FKRTL adalah RS tipe C, B, dan
A, RS rujukan khusus tingkat regional dan nasional. 4

2.7 Strategi Penemuan Pasien TB 4

1. Penemuan pasien TB yang dilakukan secara intensif pada kelompok populasi


terdampak TB dan populasi rentan.

12
2. Perjaringan terduga pasien TB dilakukan di fasilitas kesehatan yang didukung
dengan promosi secara aktif oleh petugas kesehatan.
3. Pelibatan semua fasilitas kesehatan untuk mempercepat penemuan dan
menghindari dari keterlambatan pengobatan.
4. Penemuan secara aktif pada golongan yang berisiko seperti pasien HIV,
diabetes melitus, malnutrisi, anak dibawah umur 5 tahum yang terpajan
dengan pasien TB, kontak erat dengan pasien TB dan populasi yang berisiko
tinggi terjadi TB.
5. Menjaring pasien yang memiliki gejala TB
a. Gejala utama: batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih.
b. Gejala tambahan: Batuk berdarah, sesak nafas, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik.
6. Pemeriksaan dahak
a. Pemeriksaan Dahak Mikroskopis Langsung
Membantu menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan
dan potensi penularan. Dilakukan dengan mungumpulkan 3 contoh uji
dahak (sewaktu-pagi-sewaktu)
b. Pemeriksaan Biakana
Untuk mengidentifikasi Mycobacterium tuberculosis dan menegakkan
diagnosa pasti TB.
7. Pemeriksaan uji kepekaan obat.

13
2.8 Tahap Pengobatan TB 1

14
Tahap awal : Diberikan setiap hari. Diharapkan untuk menurunkan jumlah kuman
secara
efekftif dalam tubuh pasien. Diberikan selama 2 bulan.
Tahap Lanjutan: Membunuh sisa sisa kuman dalam tubuh.

Tabel 2: Obat Anti Tuberkulosis (OAT)

Panduan OAT yang digunakan di Indonesia

1. Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3
2. Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
3. Kategori Anak: 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10HR

Hasil Definisi
Pengobatan
Sembuh Pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif pada awal
pengobatan yang hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan
menjadi negatif dan pada salah satu pemeriksaan sebelumnya.
Pengobatan Pasien TB yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap dimana pada
Lengkap salah satu pemeriksaan sebelum akhir pengobatan hasilnya negatif namun
tanpa ada bukti hasil pemeriksaan bakteriologis pada akhir pengobatan.
Gagal Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan atau kapan saja
apabila selama dalam pengobatan diperoleh hasil laboratorium yang
menunjukkan adanya resistensi OAT.

15
Meninggal Pasien TB yang meninggal oleh sebab apapun sebelum memulai atau sedang
dalam pengobatan.
Putus Pasien TB yang tidak memulai pengobatannya atau yang pengobatannya
Berobat terputus selama 2 bulan terus menerus atau lebih.
(loss to
follow up)
Tidak Pasien TB yang tidak diketahui hasil akhir pengobatannya. Termasuk dalam
Dievaluasi kriteria ini adalah ”pasien pindah (transfer out)” ke kabupaten/kota lain
dimana hasil akhir pengobatannya tidak diketahui oleh kabupaten/kota yang
ditinggalkan.

2.9 Pengawasan Langsung Menelan Obat4

Untuk memastikan pedoman obat TB dengan sempurna, diperlukan PMO


(Pengawasan Menelan Obat) untuk mengelakkan terjadinya resistensi.

Persyaratan PMO:

1. dikenal, dipercaya dan disetujui, baik petugas kesehatan maupun pasien,


harus disegani dan dihormati oleh pasien.
2. Seseorang yang tinggal dekat pasien.
3. Bersedia membantu secara sukarela.
4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama pasien.

Tugas PMO:

1. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara terautr sampai selsai


pengobatan.
2. Memberi dorongan kepada pasien supaya berobat secara teratur
3. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.
4. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien bahwa TB mempunya
gejala yang mencurigakan agar segera memeriksakan diri ke Unit Pelayan
Kesehatan.

16
BAB 3

KESIMPULAN

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri


Mycobacterium tuberculosis yang biasanya menginfeksi organ paru dan bisa
bermetastase ke organ tubuh yang lain. Saat ini, jumlah penderita TB di Indonesia
sangat tinggi dimana Indonesia adalah negara ke-3 terbanyak penderita kasus TB
dimana sekitar 5,8% kasus TB dunia berada di Indonesia.

Bakteri ini bisa ditularkan lewat droplet yang terhirup diudara. Droplet ini
mengandungi M. tuberculosis dan bisa mencapai alveoli. Sistem imun tubuh bisa
menangani serangan bakteri ini namun pada orang dengan sistem imun yang
menurun, bakteri ini akan menginisiasi infeksi di daerah lokal (infeksi primer yang
disebut kompleks primek fokus Gohn).

17
Untuk menangani dan mencegah dari tertularnya TB, dibutuhkan manajemen
yang tepat baik dari pemerintah sehingga ke masyarakat. Upaya promosi
pengendalian TB juga harus ditingkatkan lagi dalam meningkatkan tahap kesadaran
rakyat Indonesia terhadap infeksi bakteri ini agar penderita infeksi TB segera
ditangani dengan cepat dan tepat. Dukungan dari pemerintah juga sangat signifikan
baik dari segi manajemen dan finansial agar angka pengendalian TB dapat
dilaksanakan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Antariksa. B, Djajalaksana. S, Pradjnaparamita, Riyadi. J, et all. 2011.


Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksanaan Di
Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Jakarta.
2. Subuh. M, Priohutomo. S, Widaningrum. C, Dinihari. T. N, et all. 2014.
Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Kementerian
Kesehatan RI. Jakarta.
3. World Health Organization, 2013. Tb HIV Facts 2012-2013. [Online]
Available from:

18
http://www.who.int/hiv/topics/tb/tbhiv_facts_2013/en/index.html.
[Access on] 11 February 2016.
4. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kemenkes RI, 2011. Strategi Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia 2010-2014.Jakarta.
5. Sulastomo. 2007. Manajemen Kesehatan. Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama Jakarta. Edisi ke-3. Jakarta.

19

Anda mungkin juga menyukai