Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kegiatan pokok perusahaan manufaktur terdiri dari: desain dan pengembangan


produk pengolahan bahan baku menjadi produk jadi, dan penjualan produk jadi
kepada pembeli.

Untuk menangani kegiatan pokok perusahaan umumnya dirancang sistem akuntansi


yang terdiri dari :

1. Sistem akuntansi pokok


2. Sistem akuntansi piutang
3. Sistem akuntansi utang
4. Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan
5. Sistem akuntansi biaya
6. Sistem akuntansi kas
7. Sistem akuntansi persediaan
8. Sistem akuntansi aktiva tetap

Dokumen sumber dan pendukung yang dipakai sebagai dasar pencatatan dalam
pencatatan akuntansi merupakan keluaran berbagai sistem tersebut.

Masing-masing sistem tersebut terdiri dari jaringan-jaringan prosedur masing-


masing pada setiap sistemnya.

Informasi merupakan data yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga dapat
dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan. Informasi memegang peran yang
sangat penting dalam suatu perusahaan untuk mengetahui kegiatan apa yang telah
terjadi dengan perusahaannya, melakukan evaluasi apakah kegiatan yang dilakukan
telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjamin agar data tersebut
dapat diolah secara efisien menjadi informasi yang akurat, dapat dipercaya dan tepat
waktu maka dalam pengolahan data tersebut diperlukan suatu alat yang dinamakan
sistem informasi.

Tujuan penyusunan sistem informasi akuntansi adalah sama dengan tujuan


penyusunan sistem akuntansi antara lain :

a. Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan usaha baru.


b. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada, baik
mengenai mutu, Ketepatan penyajian maupun struktur informasi
c. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi & pengecekan intern, yaitu untuk
memperbaiki tingkat keandalan (realibility) informasi akuntansi dan untuk

Sistem Akuntansi Piutang|1


menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggung jawaban dan perlindungan
kekayaan perusahaan.
d. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi.

Perusahaan baru memulai usahanya sangat memerlukan penyusunan sistem


informasi akuntansi yang lengkap. Namun, adakalanya sistem informasi akuntansi
yang sudah ada tidak dapat memenuhi kebutuhan manajemen, baik dalam hal mutu,
ketepatan penyajian maupun struktur informasi yang terdapat dalam laporan.
Dengan memperbaiki pengawasan akuntansi dan pengendalian intern, maka
pertanggungjawaban terhadap penggunaan kekayaan organisasi dapat dilaksanakan
dengan baik serta informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut dapat dipercaya
kebenarannya.

Piutang merupakan suatu proses yang penting, yang dapat menunjukkan satu bagian
yang besar dari harta likuid perusahaan.

Piutang sering dikatakan sebagai tagihan atas segala sesuatu hak perusahaan baik
berupa uang, barang maupun jasa atas pihak ketiga setelah perusahaan
melaksanakan kewajibannya, sedangkan secara sempit piutang diartikan sebagai
tagihan yang hanya dapat diselesaikan dengan diterimanya uang di masa yang akan
datang.

1.2 TUJUAN

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui tentang tujuan dibuatnya Sistem Akuntansi Piutang


berikut sebab-sebabnya.
2. Untuk mengetahui apa saja dokumen-dokumen sumber sabagai dasar
pencatatan mutasi piutang, dan apa saja catatan akuntansi yang
digunakan dalam Sistem Akuntansi Piutang
3. Untuk mengetahui metode-metode apa saja yang digunakan dalam
proses pencatatan piutang ke dalam buku pembantu piutang
4. Untuk Mengetahui Bagaimana Prosedur dalam Pernyataan Piutang
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Pendistribusian Penjualan dengan
adanya Sistem Akuntansi Piutang

Sistem Akuntansi Piutang|2


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistem Akuntansi

2.1.1 Jenis-Jenis Sistem

Berdasarkan uraian dari Latar Belakang diatas, bahwa kegiatan pokok perusahaan
manufaktur terdiri dari: desain dan pengembangan produk pengolahan bahan baku
menjadi produk jadi, dan penjualan produk jadi kepada pembeli.

Untuk menangani kegiatan pokok perusahaan umumnya dirancang sistem akuntansi


yang terdiri dari :

1. Sistem akuntansi pokok


2. Sistem akuntansi piutang
3. Sistem akuntansi utang
4. Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan
5. Sistem akuntansi biaya
6. Sistem akuntansi kas
7. Sistem akuntansi persediaan
8. Sistem akuntansi aktiva tetap

Dokumen sumber adalah dokumen yang datanya dipakai sebagai sumber pencatatan
kedalam catatan akuntansi (jurnal dan buku pembantu).dokumen pendukung adalah
dokumen yang menguatkan data yang dicantumkan didalam dokumen sumber.
Dokumen sumber dan pendukung yang dipakai sebagai dasar pencatatan dalam
pencatatan akuntansi merupakan keluaran berbagai sistem berikut ini :

1. Sistem akuntansi pokok


2. Sistem akuntansi piutang
3. Sistem akuntansi utang
4. Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan
5. Sistem akuntansi biaya
6. Sistem akuntansi kas
7. Sistem akuntansi persediaan
8. Sistem akuntansi aktiva tetap

Masing-masing sistem tersebut terdiri dari jaringan prosedur seperti di uraikan


berikut ini.

1. Sistem akuntansi pokok

Sistem akuntansi di atas, sistem akuntansi pokok merupakan organisasi formulir,


catatan, dan laporan. Sistem akuntansi dalam perusahaan manufaktur terdiri atas

Sistem Akuntansi Piutang|3


formulir atau dokumen (Business papers), jurnal, buku besar, buku pembantu,
dan laporan.

Unsur-unsur sistem akuntansi ini dirancang oleh manajemen untuk menyajikan


nformasi keuangan bagi kepentingan pengeloloa perusahaan dan
pertanggungjawabannya kepada pihak luar perusahaan.

2. Sistem akuntansi piutang (Account receivable system)

Sistem akuntansi piutang dirancang untuk mencatat transaksi terjadinya piutang


dan berkurangnya piutang. Terjadinya piutang berasal dari transaksi penjualan
kredit dan berkurangnya piutang berasal dari transaksi retur penjualan dan
penerimaan kas dari piutang. Transaksi berkurangnya piutang yang timbul dari
transaksi penerimaan kas dari piutang dikelompokan dalam sistem akuntansi kas.
Kegiatan penjualan kredit dimulai dengan diterimanya order darin pelanggan,
kemudian dilanjutkan dengan permintaan persetujuan pemberian kredit,
pengiriman barang, penagihan, pencatatan piutang dan terjadi piutang terdiri
dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur order penjualan


b. Prosedur persetujuan kredit
c. Prosedur pengiriman barang
d. Prosedur penagihan
e. Prosedur pencatatan bertambahnya piutang
f. Prosedur distribusi penjualan

Kegiatan retur penjualan dimulai dengan diterimanya dengan pengambilan


barang dari pelanggan, kemudian dilanjutkan dengan permintaan persetujuan
retur penjualan, penerimaan barang, prncatatan berkurangnya piutang, dan
berahir dengan distribusi penjualan. Oleh karena itu sistem akuntansi untuk
mencatat berkurangnya piutang terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur penerimaan retur penjualan


b. Prosedur pembuatan memo kredit
c. Prosedur penerimaan barang
d. Prosedur pencatatan retur penjualan
e. Prosedur pencatatan berkurangnya piutang
f. Prosedur distribusi penjualan

3. Sistem akuntansi utang (Account payable system)

Sistem akuntansi utang dirancang untuk mencatat transaksi terjadinya utang dan
berkurangnya utang. Terjadinya utang berasal dari transaksi pembelian kredit
dan berkurangnya utang berasal dari transaksi retur pembelian dan pelunasan
utang. Transaksi pelunasan utang dikelompokan kedalam sistem akuntansi kas.

Sistem Akuntansi Piutang|4


Kegiatan pembelian kredit di mulai dengan diajukannya permintaan pembelian
barang ke fungsi pembelian, kemudian dilanjutkan dengan permintaan
penawaran harga dan pemilihan pemasok, pengiriman order pembelian kepada
pemasok ter[ilih, pencatatan utang yang timbul dari transaksi pembelian dan
berahir dengan distribusi pembelian. Oleh karena itu sistem akuntansi untuk
mencatat terjadinya utang dari transaksi pembelian terdiri dari jaringan prosedur
berikut ini :

a. Prosedur permintaan pembelian


b. Prosedur permintaan penawaran harga dan pemilihan pemasok
c. Prosedur order pembelian
d. Prosedur penerimaan barang
e. Prosedur pencatatan bertambahnya utang
f. Prosedur distribusi pembelian

Kegiatan retur pembelian dimulai dengan pembuatan memo debit oleh fungsi
pembelian, kemudian dilanjutkan dengan pengiriman barang kepada pemasok,
pencatatan berkurangnya utang karena transaksi retur pembelian dan berahir
dengan distribusi pembelian. Oleh karena itu sistem akuntansi untuk mencatat
berkurangnya utang karena retur pembelian terdiri dari jarigan prosedur berikut
ini :

a. Prosedur pembuatan memo debit


b. Prosedur pengiriman bararang
c. Prosedur pencatatan berkurangnya utang
d. Prosedur distribusi pembelian

4. Sistem Akuntasi Penggajian dan Pengupahan

Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan dirancang untuk menangani


transaksi perhitungan gaji dan upah karyawan dan pembayarannya. Sistem ini
terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur pencatatan waktu hadir dan kerja


b. Prosedur pembuatan dftar gaji dan upah
c. Prosedur pembayaran gaji dan upah
d. Prosedur distribusi biaya gaji dan upah

5. Sistem akuntansi biaya

Sistem akuntansi biaya dirancang untuk menangani pengendalian produk dan


biaya. Sistem ini terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur order produksi


b. Prosedur pengumpulan biaya produksi dan non produksi

Sistem Akuntansi Piutang|5


6. Sistem akuntansi kas

Sistem akuntasi kas dirancang untuk menangani transaksi penerimaan dan


pengeluaran kas. Sistem ini terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur penerimaan kas


b. Prosedur pengeluaran kas
c. Prosedur dana kas kecil

7. Sistem akuntansi persediaan

Sistem akuntansi persediaan dirancang untuk menangani transaksi yang


bersangkutan dengan mutasi persediaan yang disimpan di gudang. Sistem ini
terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :

a. Prosedur pencatatan harga pokok produk jadi


b. Prosedur pencatatan harga pokok produk yang dijual
c. Prosedur pencatatan harga pokok produk yang dikembalikan oleh pembeli
d. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan produk dalam proses
e. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli
f. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan kepemasok
g. Prosedur permintaan dan pengeluaran barang dagang
h. Prosedur pencatatan harga pokok persediaan yang dikembalikan ke gudang.
i. Prosedur penghitungan fisik persediaan.

8. Sistem Akuntansi Aktiva Tetap

Sistem akuntansi aktiva tetap dirancang untuk menangani transaksi yang


bersangkutan dengan mutasi aktiva tetap. Sistem ini terdiri dari jaringan
prosedur berikut ini :

a. Prosedur pengadaan aktiva tetap


b. Prosedur penghentian pemakaian aktiva tetap
c. Prosedur depresiasi aktiva tetap
d. Prosedur penempatan aktiva tetap.

2.1.2 Pengertian Sistem Akuntansi

Pada dasarnya informasi merupakan data yang telah diolah sedemikian rupa,
sehingga dapat dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan. Informasi memegang
peran yang sangat penting dalam suatu perusahaan untuk mengetahui kegiatan apa
yang telah terjadi dengan perusahaannya, melakukan evaluasi apakah kegiatan yang
dilakukan telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan menjamin agar data
tersebut dapat diolah secara efisien menjadi informasi yang akurat, dapat dipercaya

Sistem Akuntansi Piutang|6


dan tepat waktu maka dalam pengolahan data tersebut diperlukan suatu alat yang
dinamakan sistem informasi.

Ada beberapa perbedaan sistem informasi yang diterapkan perusahaan. Salah satu
sistem informasi yang sangat diperlukan bagi manajemen untuk mengolah data
administrasi dan keuangan adalah sistem informasi akuntansi. Perbedaan tersebut
sebenarnya hanya terletak pada penekanannya saja, namun pada dasarnya tetap
mengandung pengertian yang sama.

Davis, dan kawan-kawan, mengatakan bahwa Accoun-ting information system


encompass the process and procedures by which an organization’s financial
information is received, registered, recorded, handled, processed, stored, and
ultimately disfosed of.

Penjelasan di atas menekankan pada proses dan prosedur pengelolaan atas informasi
keuangan organisasi mulai dari penerimaan sampai dengan informasi tersebut tidak
berguna lagi bagi organisasi.

Sedangkan Robert G. Murdick menyatakan bahwa The accounting information


system can be defined as the set of activities of the organization responsible for
preparation of financial information and the information obtained from transaction
data for the purpose of :(1)internal reporting to managers for use in planning and
controlling current and future operations, and (2) external reporting to
stockholders, government and other outside parties.

Pengertian di atas jelas mengenai sistem informasi akuntansi dan dapat diambil
kesimpulan bahwa sistem informasi akuntansi mencakup proses dan prosedur
pengelolaan informasi keuangan organisasi dengan tujuan untuk pelaporan kepada
pihak intern maupun ekstern perusahaan.

2.1.3 Tujuan Umum Pengembangan Sistem Akuntansi

Tujuan penyusunan sistem informasi akuntansi adalah sama dengan tujuan


penyusunan sistem akuntansi antara lain :

a. Untuk menyediakan informasi bagi pengelola kegiatan usaha baru.


b. Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada, baik
mengenai mutu, ketepatan penyajian maupun struktur informasi.
c. Untuk memperbaiki pengendalian akuntansi & pengecekan intern, yaitu untuk
memperbaiki tingkat keandalan (realibility) informasi akuntansi dan untuk
menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggungjawaban dan perlindungan
kekayaan perusahaan.
d. Untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelenggaraan catatan akuntansi.

Sistem Akuntansi Piutang|7


Tujuan di atas dapat dijelaskan bahwa biasanya perusahaan baru memulai usahanya
sangat memerlukan penyusunan sistem informasi akuntansi yang lengkap. Namun,
adakalanya sistem informasi akuntansi yang sudah ada tidak dapat memenuhi
kebutuhan manajemen, baik dalam hal mutu, ketepatan penyajian maupun struktur
informasi yang terdapat dalam laporan. Dengan memperbaiki pengawasan akuntansi
dan pengendalian intern, maka pertanggungjawaban terhadap penggunaan kekayaan
organisasi dapat dilaksanakan dengan baik serta informasi yang dihasilkan oleh
sistem tersebut dapat dipercaya kebenarannya.

2.2 Piutang

2.2.1 Pengertian Piutang

Piutang merupakan suatu proses yang penting, yang dapat menunjukkan satu bagian
yang besar dari harta likuid perusahaan.

Kieso dan Weygandt mendefinisikan pengertian piutang sebagai berikut :


Receivables are claims held against customers and others for money, goods, or
services.

Sedangkan pengertian piutang menurut S.Hadibroto, Piutang merupakan klaim


terhadap pihak lain, apakah klaim tersebut berupa uang, barang atau jasa, untuk
maksud akuntansi istilah dipergunakan dalam arti yang lebih sempit yaitu
merupakan klaim yang diharapkan akan diselesaikan dengan uang.

Penjelasan definisi di atas diketahui bahwa piutang secara luas diartikan sebagai
tagihan atas segala sesuatu hak perusahaan baik berupa uang, barang maupun
jasa atas pihak ketiga setelah perusahaan melaksanakan kewajibannya,
sedangkan secara sempit piutang diartikan sebagai tagihan yang hanya dapat
diselesaikan dengan diterimanya uang di masa yang akan datang.

Pada umumnya piutang timbul ketika sebuah perusahaan menjual barang atau jasa
secara kredit dan berhak atas penerimaan kas di masa mendatang, yang prosesnya
dimulai dari pengambilan keputusan untuk memberikan kredit kepada langganan,
melakukan pengiriman barang, penagihan dan akhirnya menerima pembayaran,
dengan kata lain piutang dapat juga timbul ketika perusahaan memberikan pinjaman
uang kepada perusahaan lain dan menerima promes atau wesel, melakukan suatu
jasa atau transaksi lain yang menciptakan suatu hubungan dimana satu pihak
berutang kepada yang lain seperti pinjaman kepada pimpinan atau karyawan.

Piutang merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam modal kerja suatu
perusahaan. Sebagian piutang dapat dimasukkan dalam modal kerja yaitu bagian
piutang yang terdiri dari dana yang diinvestasikan dalam produk yang terjual dan
sebagian lain yang termasuk modal kerja potensial yaitu bagian yang merupakan
keuntungan.

Sistem Akuntansi Piutang|8


Piutang merupakan elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar secara
terus menerus dalam rantai perputaran modal kerja yaitu Kas  persediaan 
piutang  kas. Dalam keadaan normal dan dimana penjualan pada umumnya
dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi
dari pada persediaan, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu
langkah, yang penting kebijaksanaan kredit yang efektif dan prosedur-prosedur
penagihan untuk menjamin penagihan piutang yang tepat pada waktunya dan
mengurangi kerugian akibat piutang tak tertagih.

2.2.2 Klasifikasi Piutang

Pada umumnya piutang bersumber dari kegiatan operasi normal perusahaan yaitu
penjualan kredit atas barang dan jasa kepada pelanggan, tetapi selain itu masih
banyak sumber-sumber yang dapat menimbulkan piutang.

Smith and Skousen memberikan klasifikasi piutang terdiri atas “piutang dagang
(trade receivables) dan piutang bukan dagang”.

Piutang dagang

a. Wesel tagih atau notes receivables.

Wesel tagih ini didukung oleh suatu janji formal tertulis untuk membayar.

b. Piutang usaha atau accounts receivables

Piutang usaha merupakan piutang dagang yang tidak dijamin “rekening terbuka”.
Piutang dagang merupakan suatu perluasan kredit jangka pendek kepada
pelanggan. Pembayaran-pembayarannya biasanya jatuh tempo dalam tiga puluh
sampai sembilan puluh hari. Perjanjian kreditnya merupakan persetujuan
informal antara penjual dan pembeli yang didukung oleh dokumen-dokumen
perusahaan yaitu faktur dan kontrak-kontrak penyerahan. Biasanya piutang
dagang tidak mencakup bunga, meskipun bunga atau biaya jasa dapat saja
ditambahkan bilamana pembayaran tidak dilakukan dalam periode tertentu,
dengan kata lain piutang dagang merupakan tipe piutang paling besar.

Piutang bukan dagang

Piutang bukan dagang ini meliputi seluruh tipe piutang lainnya dan mempunyai
beberapa transaksi-transaksi yaitu :

a. Penjualan surat berharga atau pemilik selain barang dan jasa.


b. Uang muka kepada pemegang saham, para direktur, pejabat, karyawan dan
perusahaan-perusahaan affiliasi.
c. Setoran-setoran kepada kreditur, perusahaan kebutuhan umum dan instansi-
instansi lainnya.

Sistem Akuntansi Piutang|9


d. Pembayaran dimuka pembelian-pembelian.
e. Setoran-setoran untuk menjamin pelaksanaan kontrak atau pembayaran biaya.
f. Tuntutan atas kerugian atau kerusakan.
g. Saham yang masih harus disetor.
h. Piutang deviden dan bunga.

Piutang bukan dagang umumnya didukung dengan persetujuan-persetujuan formal


dan secara tertulis. Piutang bukan dagang harus diikhtisarkan dalam perkiraan-
perkiraan yang berjudul sesuai dan dilaporkan secara terpisah dalam laporan
keuangan.

Piutang merupakan klaim atautagihan perusahaan terhadap pihak ketiga yang timbul
karena adanya suatu transaksi. Pada dasarnya piutang dapat dikelompokkan menjadi
3 jenis, yaitu :

1. Piutang Dagang

Piutang dagang adalah tagihan perusahaan kepada pelanggan sebagai akibat


adanya penjualan barang atau jasa secara kredit. Piutang dagang umumnya
berjangka waktu kurang dari satu tahun sehingga dilaporkan sebagai aktiva
lancar.

2. Piutang wesel

Piutang wesel adalah piutang berupa perjanjian tertulis debitur kepada kreditur
untuk membayar sejumlah uang yang tercantum dalam surat janji tersebut pada
waktu tertentu di masa yang akan datang. Umumnya piutang wesel berjangka
waktu lebih dari 60 hari, apabila piutang wesel berjangka waktu kurang dari satu
tahun dilaporkan dalam neraca sebagai aktiva lancar, sedangkan untuk piutang
wesel berjangka waktu lebih dari satu tahun diperlakukan sebagai piutang
jangka panjang.

3. Piutang lain-lain

Piutang lain-lain adalah tagihan perusahaan kepada pelanggan atau pihak lain
akibat dari transaksi yang secara tidak langsung berhubungan dengan kegiatan
normal usaha perusahaan. Beberapa contoh yang termasuk dalam piutang lain-
lain diantaranya :

 Uang muka pembelian


 Uang muka kepada pegawai
 Uang muka pembelian saham
 Uang muka menjamin kontrak
 Piutang dividen
 Tagihan terhadap langganan untuk pengembalian tempat barang

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 10
 Tuntutan kerugian kepada perusahaan asuransi
 Tuntutan atas pengurangan pajak

2.2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Piutang

Piutang merupakan aktiva yang penting dalam perusahaan dan dapat menjadi bagian
yang besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Volume Penjualan Kredit

Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan memperbesar


jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besarnya volume penjualan
kredit setiap tahunnya bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang
lebih besar lagi dalam piutang. Makin besarnya jumlah piutang berarti makin
besarnya resiko, tetapi bersamaan dengan itu juga memperbesar profitability.

b. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit

Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila
perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti bahwa perusahaan
lebih mengutamakan keselamatan kredit daripada pertimbangan profitabilitas.
Syarat yang ketat misalnmya dalam bentuk batas waktu pembayaran yang
pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.

c. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit

Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau


plafond bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi
plafond yang ditetapkan bagi masing-masing langganan berarti makin besar pula
dana yang diinvestasikan dalam piutang. Sebaliknya, jika batas maksimal
plafond lebih rendah, maka jumlah piutang pun akan lebih kecil.

d. Kebijaksanaan Dalam Mengumpulkan Piutang

Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piutang


secara aktif atau pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif,
maka perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membiayai
aktivitas pengumpulan piutang, tetapi dengan menggunakan cara ini, maka
piutang yang ada akan lebih cepat tertagih, sehingga akan lebih memperkecil
jumlah piutang perusahaan. Sebaliknya, jika perusahaan menggunakan
kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama,
sehingga jumlah piutang perusahaan akan lebih besar.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 11
e. Kebiasaan Membayar Dari Para Langganan

Kebiasaan para langganan untuk membayar dalam periode cash discount akan
mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan langganan membayar
periode setelah cash discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih besar
karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih lama untuk menjadi kas.

2.2.4 Pengakuan Piutang Dagang

Piutang dagang diakui atau dicatat pada saat :

a. Perusahaan memperoleh piutang dagang tersebut melalui adanya penjualan


kredit.
b. Terjadinya retur dan potongan penjualan.
c. Adanya pelunasan.

Misalnya:

PT. ABC pada tanggal 14 Januari 2013 menjual barang dagangan kepada PT.
Sentosa seharga Rp. 20.000.000 dengan termin 2/10, n/30. Pada tanggal 16 Januari
2013 ada beberapa barang yang cacat sehingga dikembalikan kepada PT. ABC. Bila
dihitung barang yang dikembalikan tersebut sebesar 1.000.000. Pada tanggal 24 PT.
ABC menerima pelunasan dari PT. Sentosa sebesar saldo tagihannya. Jurnal yang
dibutuhkan untuk mencatat transaksi-transaksi tersebut adalah sebagai berikut :

Januari 14 Piutang dagang 20.000.000

Penjualan 20.000.000

(Untuk mencatat adanya piutang karena penjualan kredit)

Januari 16 Retur penjualan 1.000.000

Piutang dagang 1.000.000

(Untuk mencatat adanya retur penjualan)

Januari 24 Kas 18.620.000

Potongan penjualan 380.000 (2 % x 19.000.000)

Piutang dagang 19.000.000

(Untuk mencatat adanya pelunasan piutang)

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 12
Catatan: Potongan biasanya diberikan oleh produsen kepada distributor atau
grosir atau dari grosir kepada pengecer dan jarang diberikan dari
pengecer ke konsumen.

2.2.5 Penilaian Piutang Dagang

Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia piutang dagang harus dicatat dan dilaporkan
dalam neraca sebesar nilai kas bersih (netto) yang bisa direalisasikan yaitu jumlah
piutang setelah dikurangi Cadangan Kerugian Piutang Tak Tertagih (CKP) .

Contoh penyajian di neraca :

Aktiva Lancar

Piutang dagang Rp. 10.000.000

(-) Cadangan kerugian piutang (CKP) Rp. 1.000.000 -

Nilai realisasi bersih Rp. 9.000.000

2.2.6 Retur dan Pengurangan Penjualan

Suatu saat Anda mendapati barang yang Anda beli dalam kondisi rusak, maka
apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda mengembalikan barang tersebut
atau Anda akan menerimanya saja. Dalam perusahaan, transaksi seperti ini
dicatat sebagai akun pengembalian barang atau sering disebut sebagai retur
pembelian. Akun retur pembelian dan pengurangan harga ini berfungsi untuk
mencatat transaksi pengem- balian barang yang sudah dibeli kepada pihak penjual
atau pengurangan harga yang disepakati penjual. Misalnya, barang yang dibeli
sebagian rusak.

Retur pembelian dan pengurangan harga, yaitu pengembalian kembali


sebagian atau seluruh barang yang dibeli.

Transaksi pembelian yang dibeli secara kredit dan tunai terdapat dalam contoh
berikut.

17 Februari 2006 Dibeli barang dagangan secara tunai sebesar


Rp25.000.000,00.

19 Februari 2006 Dibeli barang dagangan seharga Rp20.000.000,00


dengan syarat 2/10, n/30 No Faktur 1801.

21 Februari 2006 Dikembalikan barang dagangan yang dibeli tanggal 19


Februari s eharga Rp5.000.000,00 karena rusak.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 13
25 Februari 2006 Dikembalikan barang dagangan yang dibeli tanggal 17
Februari sebesar Rp2.500.000,00.

28 Februari 2006 Dibayar pelunasan utang untuk pembelian barang


dagangan tanggal 19 Februari 2006.

Transaksi tersebut di atas dicatat dalam jurnal berikut.

Tgl Keterangan Ref D K


2006 17 Pembelian (Purchases ) Rp 25.000.000,00 -
Feb Kas (Cash ) - Rp 25.000.000,00

(Pembelian barang dagangan secara tunai)

19 Pembelian (Purchases ) Rp 20.000.000,00 -


Utang dagang (Accountpayable ) - Rp 20.000.000,00

(Pembelian barang dagangan secara kredit)

21 Utang dagang Rp 5.000.000,00 -


Retur pembelian & pengurangan harga - Rp 5.000.000,00

(Pengembalian barang yang dibeli)

25 Kas Rp 2.500.000,00 -
Retur pembelian & pengurangan harga - Rp 2.500.000,00

(Pengembalian barang yang dibeli)

28 Utang dagang Rp 15.000.000,00 -


Kas - Rp 14.700.000,00
Potongan pembelian - Rp 300.000,00

(Pelunasan faktur No. 1801)

2.2.7 Resiko Kerugian Piutang

Setiap usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan akan mengandung resiko
yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini resiko hanya bisa dikendalikan agar
berada dalam batas yang wajar. Resiko yang timbul karena transaksi penjualan
secara kredit disebut resiko kerugian piutang.

Menurut S.Munawir berpendapat bahwa : Semakin besar day’s receivable suatu


perusahaan semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Dan
kalau perusahaan tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugia yang
timbul karena tidak tertagihnya piutang (allowance for bad debt) berarti perusahaan
telah memperhitungkan labanya terlalu bear (overstated)

Resiko kerugian piutang terdiri dari beberapa macam yaitu :

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 14
a. Resiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (Piutang)

Resiko ini terjadi jika jumlah piutang tidak dapat direalisasikan sama sekali. Hal
ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya karena seleksi yang kurang
baik dalam memilih langganan sehingga perusahaan memberikan kredit kepada
langganan yang tidak potensial dalam membayar tagihan, juga dapat terjadi
adanya stabilitas ekonomi dan kondisi negara yang tidak menentu sehingga
piutang tidak dapat dikembalikan.

b. Resiko tidak dibayarnya sebagian piutang

Hal ini akan mengurangi pendapatan perusahaan, bahkan bisa menimbulkan


kerugian bila jumlah piutang yang diterima kurang dari harga pokok barang
yang dijual secara kredit.

c. Resiko keterlambatan pelunasan piutang

Hal ini akan menimbulkan adanya tambahan dana atau untuk biaya penagihan.
Tambahan dana ini akan menimbulkan biaya yang lebih besar apabila harus
dibelanjai oleh pinjaman.

d. Resiko tidak tertanamnya modal dalam piutang

Resiko ini terjadi karena adanya tingkat perputaran piutang yang rendah
sehingga akan mengakibatkan jumlah modal kerja yang tertanam dalam piutang
semkin besar dan hal ini bisa mengakibatkan adanya modal kerja yang tidak
produktif.

2.2.8 Penghapusan Piutang atau Kerugian Piutang

Piutang dagang yang dimiliki oleh perusahaan belum tentu seluruhnya dapat ditagih.
Hal ini disebabkan karena debitur tidak mau membayar utangnya, tidak mampu
membayar atau dinyatakan bangkrut, tidak diketahui keberadaannya dsb. Piutang
usaha yang tidak dapat ditagih biasanya dinamakan kerugian piutang dan dalam
akuntansi dicatat dalam akun kerugian piutang.

Terdapat dua metode yang digunakan untuk mencatat adanya kerugian piutang
yaitu :

a. Metode cadangan (Allowance method)

Adalah metode yang digunakan oleh suatu perusahaan yang menyisihkan


piutang dagangnya sebagai cadangan piutang ragu-ragu atau cadangan piutang
tak tertagih (Allowance for bad debts / provisions for doubtful accounts).

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 15
Metode ini digunakan apabila kerugian piutang cukup besar jumlahnya. Tiga hal
yang penting berkaitan dengan metode cadangan yaitu :

1. Piutang yang tidak tertagih ditaksir jumlahnya terlebih dahulu, dan diakui
sebagai biaya pada periode penjualan, bila piutang tak tertagih berasal dari
tahun 2012 maka kerugian piutang diakui pada tahun 2012 juga.
2. Taksiran kerugian piutang dicatat dengan mendebet kerugian piutang dan
mengkredit cadangan kerugian piutang melalui jurnal penyesuaian.
3. Piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih dicatat dengan mendebet
rekening cadangan kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang usaha
pada saat suatu piutang itu dihapus dari pembukuan.

Pendukung metode penghapusan tidak langsung (allowance method) merasa


yakin bahwa beban piutang tak tertagih harus dicatat pada periode yang sama
seperti penjualan untuk mendapatkan perbandingan yang tepat atas beban dan
pendapatan serta untuk mendapatkan nilai tercatat yang tepat atas nilai piutang.
Walaupun melibatkan estimasi namun persentase piutang yang tidak akan
tertagih dapat diramalkan dari pengalaman masa lalu, kondisi pasar berjalan dan
analisis dari saldo yang beredar. Banyak perusahaan membuat kebijakan
kreditnya dengan menciptakan piutang tak tertagih dalam persentase tertentu.

b. Metode Penghapusan Langsung (Direct write of method)

Adalah metode penghapusan piutang langsung dihapus dari saldo piutang


perusahaan jika piutang tersebut telah benar-benar tidak dapat ditagih setelah
dilakukan upaya-upaya penagihan. Dalam metode ini perusahaan tidak perlu
melakukan taksiran atas kerugian piutang sehingga rekening cadangan kerugian
piutang tidak digunakan.

Apabila suatu piutang diyakini tidak dapat ditagih lagi, maka kerugian atas
piutang tersebut langsung didebetkan ke dalam rekening kerugian piutang dan
mengkredit rekening piutang dagang.

Dalam metode ini, rekening kerugian piutang hanya akan menunjukkan jumlah
kerugian yang sesungguhnya diderita dan piutang dagang akan dilaporkan
dalam neraca sejumlahnya brutonya, selain itu kerugian seringkali dilaporkan
pada periode yang berbeda dari periode penjualannya sehingga tidak dapat
memberikan gambaran tentang nilai piutang bersih yang dapat direalisasi, oleh
karena itu metode ini tidak diakui untuk pelporan keuangan kecuali bila
kerugian piutangnya jumlahnya tidak material/kecil.

Contoh soal :

Pada Juli 2011 PT. Hokindo melakukan penjualan kredit kepada PT. Agung
sebesar Rp. 10.000.000. Hingga akhir tahun 2011 terdapat piutang sebesar Rp.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 16
500.000 yang belum dapat ditagih. Manajemen memperkirakan Rp. 100.000
tidak akan dapat ditagih. Pada bulan Juli 2012 bagian penagihan menyatakan
bahwa piutang sebesar Rp. 50.000 dihapus dari pembukuan karena tidak
mungkin dapat diterima pelunasannya dari PT. Agung. Secara tidak terduga
pada bulan Oktober 2012 PT. Agung melakukan pelunasan utangnya yang
belum terbayar.

Diminta :

Buatlah jurnal penyesuaian dan jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat transaksi
diatas baik dengan metode cadangan maupun dengan metode penghapusan
langsung!

Metode Cadangan Metode Penghapusan Langsung


Pencatatan Taksiran Kerugian Piutang : Pencatatan Taksiran Kerugian Piutang :

Kerugian Piutang 100.000


Dalam metode ini tidak dilakukan taksiran atas kerugian
piutang
CKP 100.000

Pencatatan Penghapusan Langsung : Pencatatan Penghapusan Langsung :

CKP 50.000 Kerugian Piutang 50.000

Piutang dagang 50.000 Piutang dagang 50.000

Penerimaan kembali piutang yang sudah dihapus : Penerimaan kembali piutang yang sudah dihapus :

Piutang dagang 50.000 Piutang dagang 50.000

CKP 50.000 Kerugian Piutang 50.000

(Untuk mencatat kembali piutang yang sudah dihapus) (Untuk mencatat kembali piutang yang sudah dihapus)

Kas 50.000 Kas 50.000

Piutang dagang 50.000 Piutang dagang 50.000

(Untuk mencatat penerimaan kas) (Untuk mencatat penerimaan kas)

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 17
2.2.9 Metode Penaksiran Piutang Tak Tertagih / Kerugian Piutang

Terdapat tiga metode untuk menaksir piutang yang tidak tertagih yaitu :

1. Persentase Penjualan

Dalam metode ini perusahaan menetapkan persentase dari jumlah penjualan


kredit untuk menaksir kerugian perusahaan akibat adanya piutang yang tidak
tertagih. Persentase didasarkan pada kebijakan kredit perusahaan dan
pengalaman pada waktu lalu.

Contoh :

PT. Hokindo menetapkan taksiran piutang yang tidak dapat ditagih adalah
sebesar 1% dari penjualan kredit bersih. Apabila jumlah penjualan kredit selama
tahun 2011 adalah sebesar Rp. 100.000.000 maka kerugian piutang ditaksir
sebesar (1 % x 100.000.000 = 1.000.000).

Jurnal untuk mencatat kerugian piutang tersebut adalah :

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 18
Des 31 Kerugian Piutang 1.000.000

CKP 1.000.000

(Untuk mencatat kerugian piutang tahun ini)

Apabila jumlah piutang yang dihapus (kerugian piutang sesungguhnya)


berbeda cukup besar bila dibandingkan dengan jumlah yang ditaksir, maka
persentase untuk tahun berikutnya harus dirubah.

Jika pada rekening CKP sampai akhir tahun bersaldo kredit sebesar Rp.
250.000 maka saldo CKP setelah penyesuaian adalah Rp. 1.250.000 (Rp.
1.000.000 + Rp. 250.000) begitu pula sebaliknya.

2. Persentase Saldo Piutang

Dalam metode ini saldo piutang pada akhir periode dapat digunakan sebagai
dasar untuk menaksir piutang usaha yang tidak dapat ditagih.

Contoh :

PT. Hokindo pada tanggal 31 Desember 2011 mempunyai saldo piutang usaha
sebesar Rp.50.000.000. Taksiran piutang usaha yang tak tertagih sebesar 5 %
dari saldo piutang usaha yaitu sejumlah (5 % x 50.000.000 = 2.500.000). Untuk
menghitung kerugian piutang harus memperhatikan saldo rekening CKP
sebelum penyesuaian. Jika salso CKP sebelum penyesuaian bersaldo nol maka
jumlah kerugian piutang sebesar Rp. 2.500.000 dan jurnal penyesuaiannya
adalah:

Des 31 Kerugian Piutang 2.500.000

CKP 2.500.000

Setelah dibuat jurnal penyesuaian saldo rekening CKP sebesar Rp.


2.500.000 (5 % dari saldo piutang)

Jika rekening CKP sebelum penyesuaian bersaldo kredit sebesar Rp. 1.250.000
maka kerugian piutang sebesar Rp. 1.250.000 (Rp. 2.500.000 - Rp. 1.250.000).
Jurnal penyesuaian yang dibuat sebagai berikut :

Des 31 Kerugian Piutang 1.250.000

CKP 1.250.000

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 19
Setelah dibuat jurnal penyesuaian saldo rekening CKP sebesar Rp.
2.500.000 (5 % dari saldo piutang)

Jika rekening CKP sebelum penyesuaian bersaldo debet sebesar Rp. 1.000.000
maka kerugian piutang sebesar Rp. 3.500.000 (Rp. 2.500.000 + Rp. 1.000.000).
Jurnal penyesuaian yang dibuat sebagai berikut

Des 31 Kerugian Piutang 3.500.000

CKP 3.500.000

Setelah dibuat jurnal penyesuaian saldo rekening CKP sebesar Rp.


2.500.000 (5 % dari saldo piutang)

2.2.10 Analisa Umur Piutang

Dalam metode ini, perusahaan membuat daftar umur piutang pelanggan dengan
membuat kelompok umur piutang berdasarkan masa lewat waktu dari jatuh tempo
piutang dan juga menetapkan persentase taksiran kerugian piutang yang didasarkan
pada kebijakan dan pengalaman masa lalu terhadap total masing-masing kelompok
umur piutang.

Biasanya suatu piutang dagang yang umur jatuh temponya semakin lama, maka
tingkat kemungkinan tak tertagihnya juga semakin besar.

Contoh analisa umur piutang adalah sebagai berikut :

Untuk piutang yang belum jatuh tempo, 2 % tak tertagih. Untuk piutang yang jatuh
tempo kurang dari 30 hari, 5 % tak tertagih. Yang jatuh tempo 31 hari sampai 60
hari, 10 % tak tertagih. Yang jatuh tempo 61 hari sampai 90 hari, 25 % tak tertagih.
Piutang yang jatuh tempo diatas 90 hari, 50 % tak tertagih.

Analisa Umur Piutang

PT. Hokindo

Per 31 Desember 2011

(dalam rupiah)

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 20
No Pelanggan Jumlah Belum Jumlah Hari Waktu Jatuh
Jatuh Lewat Tempo
Tempo
1-30 31-60 61-90 > 90
1 A 25.000 15.000 10.000
2 B 18.000 7.000 11.000
3 C 42.000 35.000 6.000 1.000
4 D 10.000 10.000
5 E 25.000 25.000
6 F 20.000 12.000 8.000
7 G 25.000 15.000 5.000 5.000
Total 165.000 104.000 50.000 6.000 5.000

Berdasarkan tabel analisa umur piutang, maka kita dapat menentukan besarnya
jumlah piutang tak tertagih sebagai berikut :

Status Piutang Saldo % tak tertagih Piutang tak tertagih

Belum JT Rp. 104.000.000 2% Rp. 2.080.000

Sudah JT

1-30 Rp. 50.000.000 5% Rp. 2.500.000

31-60 Rp. 6.000.000 10 % Rp. 600.000

61-90 Rp. 5.000.000 25 % Rp. 1.250.000 +

Total Rp. 6.430.000

Des 31 Kerugian Piutang 6.430.000

CKP 6.430.000

2.2.11 Pengalihan Piutang Dagang

Pengalihan piutang adalah perusahaan mengalihkan piutang usaha yang dimilikinya


kepada pihak lain (lembaga keuangan, bank dan pegadaian piutang) dengan tujuan
untuk mempercepat penerimaan kas dari piutangnya.

Alasan perusahaan menjual ataupun mengalihkan piutangnya karena :

a. Situasi dan kondisi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan dalam


memperoleh pinjaman dan tingginya tingkat bunga sehingga piutang yang
dimiliki perusahaan sedapat dan secepat mungkin harus dapat dirubah menjadi
kas.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 21
b. Penagihan piutang seringkali memakan waktu yang cukup lama dan terkadang
juga memerlukan biaya sehingga perusahaan bersedia menerima kas yang lebih
kecil jumlahnya dari jumlah yang seharusnya diterima dari piutang, asalkan kas
dapat diterima lebih cepat.

Adapun jenis pengalihan piutang antara lain :

1. Penjualan piutang

Piutang usaha dapat dijual kepada bank atau lembaga keuangan lainnya. Pada
saat menjual piutang perusahaan harus memberitahu perusahaan debitur (yang
berutang) agar membayar utangnya kepada pembeli piutang. Resiko tidak
tertagihnya piutang ditanggung oleh pihak pembeli piutang. Pembeli piutang
biasanya akan menahan sebagian dari harga beli piutang untuk menjaga
kemungkinan adanya retur penjualan, potongan penjualan dan lain-lain yang
akan mengurangi hasil penagihan piutang.

Misalnya :

Pada tanggal 10 Agustus 2011 PT. Hokindo menjual piutang usahanya yang
bernilai Rp. 2.500.000 kepada Bank BCA. Harga jual piutang usaha tersebut
adalah Rp. 2.250.000. CKP pada tanggal 10 Agustus 2011 sebesar Rp. 150.000.
Untuk berjaga-jaga Bank BCA menahan 10 % dari harga jual piutang usaha,
maka :

Piutang yang diperkirakan dapat ditagih adalah : Rp. 2.350.000 (Rp. 2.500.000 –
Rp. 150.000)

Rugi atas penjualan piutang usaha Rp. 100.000 (Rp. 2.350.000 – Rp. 2.250.000)

Pembayaran yang ditahan oleh Bank adalah Rp. 225.000 (10 % x Rp. 2.250.000)

Jurnal:

Kas Rp. 2.025.000

Kas ditahan Rp. 225.000

Piutang usaha yang dijual Rp. 2.250.000

2. Penggadaian atau Penjaminan Piutang

Piutang usaha dapat dijaminkan untuk memperoleh pinjaman uang dari bank
atau lembaga keuangan lainnya.Penagihan piutang usaha yang dijaminkan tetap
dilakukan oleh perusahaan peminjam. Hasil penagihan tersebut kemudian

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 22
digunakan untuk membayar pinjaman ke Bank. Jika pinjaman sudah lunas sisa
piutang usaha menjadi milik peminjam.

Misalnya :

Pada tanggal 1 Mei 2005 PT. Hokindo memperoleh pinjaman dari Bank BCA
dengan jaminan piutang usaha sebesar Rp. 2.000.000. Pinjaman yang diterima
90 % dari piutang yang dijaminkan dipotong biaya administrasi Rp. 25.000.
Bunga pinjaman 18 % setahun. Jumlah pinjaman Rp. 1.800.000 (90 % x Rp.
2.000.000). Pinjama yang diterima Rp. 1.775.000 (Rp. 1.800.000 – Rp. 25.000).
Jurnal yang dibuat :

Kas Rp. 1.775.000

Biaya administrasi Rp. 25.000

Utang Bank Rp. 1.800.000

(Untuk mencatat pinjaman ke Bank)

Piutang usaha yang dijaminkan Rp. 2.000.000

Piutang usaha Rp. 2.000.000

(Untuk mencatat piutang usaha yang dijaminkan ke Bank)

Pada saat menerima pembayaran piutang usaha yang dijaminkan tersebut, jurnal
yang dibuat adalah jurnal untuk mencatat penerimaan piutang yang dijaminkan
dan jurnal untuk mencatat pembayaran pinjaman.

Misalnya :

Pada tanggal 31 Mei 2005 PT. Hokindo menerima pembayaran piutang yang
dijaminkan sebesar Rp. 1.500.000. Bunga bulan Mei sebesar Rp. 30.000 (Rp.
2.000.000 x 18 % x 1/12) sehingga jumlah uang yang dibayar ke Bank sebesar
Rp. 1.530.000 (Rp. 1.530.000 + 30.000). Jurnal yang dibuat :

Kas Rp. 1.500.000

Piutang usaha yang dijaminkan Rp. 1.500.000

(Untuk mencatat penerimaan piutang yang dijaminkan)

Utang bunga Rp. 1.500.000

Biaya bunga Rp. 30.000

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 23
Kas Rp. 1.530.000

(Untuk mencatat pembayaran pinjaman)

Jika terdapat retur atau penghapusan piutang maka saldo piutang yang
dijaminkan harus dikurangi. Misal tanggal 5 Juni 2005 PT. Hokindo menerima
kembali barang dagangan yang telah dijual sebesar Rp. 50.000. Jurnal yang
dibuat :

Retur penjualan Rp. 50.000

Piutang usaha yang dijaminkan Rp. 50.000

3. Penjualan dengan kartu kredit.

Penjualan dengan kartu kredit terdapat tiga pihak yang terlibat, yaitu : Penjual,
Penerbit Kartu Kredit dan Pembeli.

Penjualan dengan kartu kredit bagi penjual diperlakukan sebagai penjualan


kredit. Piutang yang timbul bukan kepada pembeli tetapi kepada penerbit kartu
kredit.

Misalnya :

Butik Syahmina menerima pembayaran dengan kartu kredit sebrsar Rp.


1.000.000 atas baju, kebaya, dan jilbab yang dibeli oleh seorang pembeli yang
menggunakan American Express. Biaya jasa yang diberikan kepada penerbit
kartu kredit sebesar 5 % (Rp. 1.000.000 x 5 % = Rp. 50.000) dari jumlah
transaksi sehingga jumlah yang dibayar oleh American Express sebesar Rp.
950.000 (Rp. 1.000.000 – Rp. 50.000). Jurnal untuk transaksi tersebut diatas
adalah :

Piutang dagang Rp. 1.000.000

Penjualan Rp. 1.000.000

(Untuk mencatat penjualan dengan kartu kredit)

Kas Rp. 950.000

Biaya jasa kartu kredit Rp. 50.000

Piutang dagang Rp. 1.000.000

(Untuk mencatat penerimaan pembayaran dari penerbit kartu kredit)

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 24
2.3 Sistem Akuntansi Piutang

2.3.1 Prosedur Pencatatan Piutang

Prosedur pencatatan piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang perusahaan


kepada setiap debitur. Mutasi piutang disebabkan oleh transaksi penjualan kredit,
penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dan penghapusan piutang. Informasi
yang diperlukan oleh Manajemen mengenai piutang yang dilaporkan kepada
manajemen adalah:

1. Saldo piutang pada saat tertentu kepada setiap debitur


2. Riwayat pelunasaan piutang yang dilakukan oleh setiap debitur
3. Umur piutang kepada setiap debitur pada saat tertentu

Dalam akuntansi piutang, secara periodik dihasilkan peernyataan piutang yang


dikirimkan kepada setiap debitur. Pernyataan piutang ini merupakan unsur
pengendalian intern yang baik dalam pencatatan piutang, dengan mengirimkan
secara periodik pernyataan piutang kepada setiap debitur, catatan piutang
perusahaan diuji ketelitiannya dengan menggunakan tangapan yang diterima dari
debitur dari pengiriman pernyataan tersebut dan dapat menimbulkan citra yang baik
dimatta para debitur mengenai keandalaan pertanggungjawaban keuangan
perusahaan. Untuk mengetahui status piutang dan kemungkinan tertagih dan
tidaknya piutang, secara periodik fungsi pencatatan piutang menyajikan informasi
umur piutang setiap debitur kepada manajer keungan. Daftar umur piutang ini
merupakan laporan yang dihasilkan dari kartu piutang.

2.3.2 Dokumen

Dokumen pokok yang digunakan sebagai dasar pencatatan kedalam kartu piutang
adalah:

1. Faktur Penjualan, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan timbulnya


piutang atas dasar transaksi penjualan kredit. Dokumen ini dilampiri dengan
surat muat (bill of loading) dan surat order pengiriman sebagai dokumen
pendukung untuk mencatat transaksi penjualan kredit.
2. Bukti Kas Masuk, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan
berkurangnya piutang dari transaksi pelunasan piutang dari transaksi pelunasan
piutang oleh debitur.
3. Memo Kredit, dokumen ini digunakan sebagai dasar pencatatan retur penjualan.
Dokumen ini dikeluarkan oleh bagian order penjualan.
4. Bukti Memorial (Journal Voucher), bukti memorial adalah dokumen sumber
untuk dasar pencatatan transaksi kedalam jurnal umum. Dokumen inidigunakan
sebagai dasar pencatatan penghapusan piutang. Dokumen ini dikeluarkan oleh
fungsi kredit yang memberikan otorisasi penghapusan piutang yang sudah tidak
dapat ditagih lagi.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 25
2.3.3 Catatan Akuntansi

Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi yang menyangkut


piutang adalah:

1. Jurnal Penjualan, catatan ini digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang


dari transaksi penjualan kredit.
2. Jurnal Retur Penjualan, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat
berkurangnya piutang dari transaksi retur penjualan.
3. Jurnal Penerimaan Kas, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat
berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan kas dari debitur.
4. Kartu Piutang, catatan akuntansi ini digunakan untu mencatat mutasi dan saldo
piutang kepada debitur.

2.3.4 Organisasi

Tugas fungsi akuntansi dalam hubungannya dengan pencatatan piutang adalah:

1. Menyelenggarakan catatan piutang kepada setiap debitur, yang dapat berupa


kartu piutang yang merupakan buku pembantu piutang, yang digunakan untuk
merinci rekening kontro piutang dalam buku besar, atau berupa arsip faktur
terbuka (open invoice file), yang berfungsi sebagai buku pembantu piutang.
2. Menghasilkan pernyataan piutang (account receivable statement) secara
periodik dengan mengirimkannya kesetiap debitur.
3. Menyelenggarakan catatan riwayat krredit setiap debitur untuk memudahkan
penyediaan data guna memutuskan pemberian kredit kepada pelanggan dan
guna mengikuti data penagihan dari setiap debitur.

2.3.5 Metode Pencatatan Piutang

Pencatatan piutang dapat dilakukan dengan salah satu dari metode berikut ini:

1. Metode Konvesional

Dalam metode ini posting kedalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang
dicatat dalam jurnal.berbagai transaksi yang mempengaruhi piutang adalah:

a. Transaksi Penjualan Kredit, transaksi ini di posting dalam kartu piutang


atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal penjualan tersebut.
b. Transaksi Retur Penjualan, posting transaksi berkurangnya piutang dari
transaksi retur penjulan di posting ke dalam kartu piutang atas dasar data
yang telah di catat dalam jurnal retur penjualan.
c. Transaksi Penerimaan Kas Dari Piutang, posting transaksi berkurangnya
piutang dari pelunasan piutang oleh debitur di posting ke dalam kartu
piutang atas dasar data yang telah dicatat dalam jurnal umum.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 26
d. Transaksi Penghapusan Piutang, transaksi berkurangnya piutang dari
transaksi penghapusan piutang di posting ke dalam kartu piutang atas
dasar data yang dicatat dalam jurnal umum.

Gb. Bagan Alir Pencatatan Piutang Metode Konvensional

2. Metode Posting Langsung, metode ini dibagi menjadi dua golongan berikut ini:
a. Metode Posting Harian

1. Posting langsung kedalam kartu piutang dengan tulisan tangan;


jurnal hanya menunjukkan jumlah total harian saja (tidak rinci).
Dalam metode ini, faktur penjualan yang merupakan dasar untuk
pencatatan timbulnya piutang di posting langsung setiap hari secara
rinci ke dalam kartu piutang. Jurnal penjualan diisi dengan jumlah
total penjualan harian yang merupakan julah faktur penjulaan selama
sehari. Faktur yang diterima dari bagian penagihan diterima oleh
bagian piutang dalam batch disertai dengan pita daftar total (pre-list
tape). Jumlah faktur penjualan yang tercantum dalam pita daftar total
tersebut dicatat dalam jurnal penjualan. Selanjutnya, setiap bulan,
jurnal penjualan tersebut di posting ke rekening kontrolpiutang
dalam buku besar. Setiapbulan pula, diadakan rekonsiliasi antara
rekening kontrol piutang dengan daftar saldo (trial balance) yang
disusun dari kartu piutang. Ada dua cara menangani media yang
akan diposting kedalam kartu piutang:

1) Media disortasi meurut abjad sebelum diposting, di posting satu


per satu kedalam kartu piutang, dan kemudian dibuat pita
pembuktian ketelitian posting dari kartu piutang kemudian
dicocokan dengan pita daftar total yang menyertai media pada

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 27
saat diterima dari bagian penagihan. Pencocokan ini
dimaksudkan untuk membuktikan ketelitian posting yang telah
dilakukan.
2) Media di posting kedalam kartu piutang sesuai dengan urutan
pada waktu diterima dari bagian penagihan.

2. Posting lansung kedalam kartu piutang dan pernyataan piutang.


Dalam metode ini, media di posting kedalam pernyataan piutang
dengan kartu piutang dengan kartu piutang sebagai tembusan lembar
kedua berfungsi sebagai kartu piutang.

Gb. Bagan Alir Pencatatan Piutang Metode Posting Langsung ke dalam


Kartu Piutang dengan Tulisan Tangan

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 28
b. Metode Posting Periodik

1. Posting Ditunda. Pada metode ini faktur penjualan yang diterima dari
bagian penaggihan, oleh bagian piutang disimpan sementara,
menunggu beberapa hari, untuk nantinya secara sekaligus di posting
kedalam kartu piutang bersama-sama dalam sekali periode posting
dengan menggunakan mesin pembukuan.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 29
2. Penagihan Bersiklus (Cycle Billing). Dalam metode ini pada akhir
bulan, dilakukan kegiatan posting yang meliputi (1) posting media
yang dikumpulkan selama sebulan tersebut kedalam pernyataan
piutang dan kartu piutang. (2) mencatat dan menghitung saldo kartu
piutang.. metode ini membagi pekerjaan posting kedalam kartu
piutang dan pernyataan piutang tersebut tersebar merata kedalam hari
kerja selama sebulan. Setiap pelanggan akan menerima pernyataan
piutang pada tanggal hari kerja yang sama setiap bulan.

c. Metode Pencatatan Tanpa Buku Pembantu (ledgerless bookeping)

Dalam metode ini Faktur penjualan beserta dokumen pendukungnya


yang diterima dari bagian penagihan, oleh bagian piutang diarsipkan
menurut nama pelanggan dalam arsip faktur yang belum bayar (unpaid
invoice file). Pada saat diterima pembayarannya ada dua cara yang
ditempuh:

1. Jika pelanggan pelanggan membayar penuh jumlah yang tercantum


dalam faktur penjualan, faktur yang bersangkutan di ambil dari arsip
faktur yang belum di bayar dan di cap “lunas”, kemudian
dipindahkan kedalam arsip faktur yang telah dibayar.
2. Jika pelanggan hanya membayar sebagian jumlah dalma faktur,
jumlah kas yang diterima dan sisa yang belum dibayar oleh
pelanggan dicatat pada faktur tersebut. Kemudian dibuat faktur
tiruan yang berisi informasi yang sama dengan faktur aslinya, dan
faktur tiruan tersebut kemudian disimpan dalam arsip faktur yang
telah dibayar, dan faktur asli disimpan kembali kedalam arsip faktur
yang belum dibayar.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 30
d. Metode Pencatatan Piutang Dengan Komputer.

Metode pencacatatan ini menggunakan batch system. Dalam sistem ini


dokumen sumber yang mengubah piutang dikumpulkan dan sekaligus di
posting setiap hari untuk memutakhirkan catatan piutang.dalam sistem
ini dibentuk dua macam arsip: arsip transaksi (transaction file) dan arsip
induk (master file) dan pancatatan piutangnya dilkukan secara hariain
dan setiap hari pula, arsip transaksi digunakan untuk memutakhirkan
arsip induk piutang.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 31
2.3.6 Prosedur Pernyataan Piutang

Pernyataan piutang adalah formulir piutang yang menyajikan jumlah kewajiban


debitur pad atanggal tertentu dan (dalam pernyataan piutang bentuk tertentu)
disertai dengan rinciannya. Pernyataan piutang dapat berbentuk berikut ini:

1. Pernyataan Saldo Akhir Bulan, pernyataan ini tidak memberikan informasi


apapun kepada debitur untuk dasar rekonsiliasi dengan catatanya, jika saldo
yang tercantum dalam pernyataan piutang berbeda dengan saldo yang tercantum
dalam catatannya
2. Pernyataan Satuan, pernyataan piutang ini berisi: (1) saldo kewajiban debitur
pada awal bulan, (2) mutasi debit dan kredit selama sebulan beserta penjelasan
rinci setiap transaksi, dan (3) saldo kewajiban debitur pada akhir bulan.
Prosedur pembuatan pernyataan piutang dilakukan sebagai berikut:

a. Pada awal bulan, diambil formulir pernyataan piutang 2 lembar. lembar


pertama akan berfungsi sebagai pernyataan piutang, sedangkan lembar
kedua akan berfungsi sebagai catatan piutang (pengganti kartu piutang)
b. Saldo piutang kepada debitur pada akhir bulan yang lalu (dari arsip
tembusan pernyataan piutang bulan sebelumnya) dicantumkan dalam
formulir pernyataan piutang tersebut.
c. Semua transaksi pendebitan dan pengkeditan ke rekening debitur
tersebut di catat dalam formulir pernyataan piutang (2 lembar) tersebut.
d. Pada akhir bulan, lembar pertama formulir pernyataan piutang tersebut
dipisahkan dari lembar kedua, dan kemudian dikirimkan kepada debitur

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 32
yang bersangkutan. Lembar pertama formulir tersebut berfungsi sebagai
pernyataan piutang. Lembar kedua kemudian disimpan dalam arsip
menurut nama debitur, dan berfungsi sebagai catatan piutang (buku
pembantu piutang)
e. Pada awal bulan berikutnya, satu set formulir pernyataan piutang yang
baru (2 lembar) diambil disisi dengan saldo piutang kepada debitur yang
bersangkutan pada akhir bulan yang sebelumnya (diambilkan dari arsip
tembusan pernyataan piutang)

3. Pernyataan Saldo Berjalan Dengan Rekening Konvensional (Running Balance


Statement With Conventional Account). Perbedaan diantara pernyataan satuan
dengan pernyataan saldo berjalan dengan rekening konvensional adalah terletak
pada cara posting dan isi catatan piutangnya. Prosedur pembuatan pernyataan
piutang saldo berjalan dengan rekening konvensional adalah sebagai berikut:

a. Pada Awal Bulan, diambil formulir pencatatan piutang 1 lembar.


b. Semua transaksi pendebitan dan pengkreditan ke rekening debitur
tersebut dicatat dalam formulir pernyataan piutang yang sebagai
tembusannya adalah kartu piutang.
c. Pada akhir bulan, pernyataan piutang dikirim kepada debitur yang
bersangkutan.
d. Pada awal blan berikutnya diambil formulir pernyataan piutang baru
sebanyak 1 lembar dan selama kartu piutang debitur yang bersangkutan
belum penuh, pendebitan dan pengkreditan kerekening debitur tersebut
kedalam pernyataan piutang yang dipakai dalam bulan sebelumnya
sebagai tembusannya. Dengan demikian kartu piutang dalam bentuk
pernyataan piutang ini dapat berisi informasi sekaligus. Hal ini tidak
akan terjadi dalam bentuk pernyataan piutang satuan, yang catat
piutangnya hanya berisi mutasi tiap bulannya.

4. Pernyataan Faktur Yang Belum Dillunasi (Open Item Statement). Pernyataan


piutang berisi daftar faktur-faktur yang belum dilunasi oleh debiturnya pada
tanggal tertentu disertai dengan tanggal faktur danjumlah rupiahnya. Pengunaan
bentuk pernyataan piutang ini dimungkinkan jika para pelanggan diharuskan
membayar jumlah yang tercantum dalam faktur.

2.3.7 Distribusi Penjualan

Distribusi Penjualan adalah prosedur peringkasan rincian yang tercantum dalam


faktur penjualan dan pengumpulan total ringkasan penjualan menurut daerah
pemasaran tersebut untuk keperluan pembuatan laporan hasil penjualan menurut
daerah pemasaran. Jika perusahaan menjual berbagai produk, diberbagai daerah
pemasaran pada berbagai jenis pelanggan dengan berbagai variasi order size melalui
berbagai pramuniaga, maka laporan penjualan yang biasanya dibutuhkan oleh
manajer pemasaran adalah sebagai berikut:

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 33
1. Hasil Penjualan Menurut Produk
2. Hasil Penjualan Menurut Pelanggan
3. Hasil Penjualan Menurut Besarnya Order
4. Hasil Penjualan Menurut Daerah Pemasaran
5. Hasil Penjualan Menurut Saluran Distribusi
6. Hasil Penjualan Menurut Pramuniaga

Metode Distribusi Penjulan

Ada 5 metode distribusi penjualan :

1. Metode Berkolom (Columnar Methods)

Dalam metode ini, distribusi data penjualan dilakukan dengan menyediakan satu
kolom untuk setiap unsur dalam klasifikasi, atau satu kolom untuk setiap
kelompok unsur dalam klasifikasi. Dengan demikian metode ini ditentukan oleh
dua faktor: (1) jumlah unsur dalam klasifikasi, dan (2) frekuensi kegiatan setiap
unsur dalam klasifikasi tersebut. Metode berkolom ini terdiri dari:

a. Metode Jurnal Berkolom

Dalam metode in jurnal penjualan dipakai sebagai alat distribusi. Dalam


junal disediakan kolom-kolom sesuai dengan unsur klasifikasi yang
diinginkan tercantum dalam laporan penjualan.

b. Metode worksheet.

Jumlah kolom yang disediakan oleh jurnal sangat terbatas, worksheet akan
mampu menampung tambahan unsur dalam klasifikasi, lebih banyak yang
dapat ditampung oleh jurnal berkolom. Namun jumlha unsur dalam
kasifikasi yang dapat ditampun oleh worksheet inipun terbatas. Faktur
penjuaan dicatat kedalam worksheet yang bersangkutan ssetiap hari dan
pada akhir bulan setiap kolom worksheet dijumlah, dan jumlah tersebut
disajikkan dalam laporan hasil penjualan menurut jenis produk.

c. Metode jurnal berkolom yang diselenggarakan dengan mesin pembukuan.

Dalam metode ini jurnal berkolom merupakan alat untuk menampung data
sesuai dengan klasifikasi yang diinginkan dan merupakan sumber informasi
untuk membuat laporan penjualan. Dalam metode ini jurnal penjualan
dihasilkan dari hasil posting transaksi penjualan kedalam kartu piutang.
Jurnal penjualan merupakan tembusan yang dihasilkan dari posting dengan
mesin pembukuan transaksi penjualan kedalam dartu piutang.

2. Metode Rekening Tunggal Dan Rekening Berkolom (Unit Account And


Columnar Acount Methods)

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 34
Penggunaan rekening tunggal dan rekening berkolom merupakan jawaban untuk
menampung unsur klasifikasi yang banyak. Setiap unsur dalam klasifikasi
disediakan satu rekening, dengan demikian jumlah unsur berapapun dalam
klasifikasi dapat ditampung dengan penyediaan rekening ini.

3. Metode Summary Strip Dan Metode Tiket Tunggal (Summary Strip


And Unit Ticket Methods)

Dengan menggunakan metode summary strip faktur penjualan disortasi


menurut klasifikasi yang ditetapkan sebelumnya dan jumlah setiap unsur
klasifikasi dihitung dan dicatat dalam summary strip. Untuk membuat
laporan periodik, misalnya mingguan, summary strip harian dijajarkan,
dilakukan penjumlahan setiap baris dalam summary strip secara
mendatar, dan jumlahnya ditulis pada summary strip akhir minggu.
Sedangkan dalam metode tiket tunggal dilakukan dengan mengubah
media yang dipakai seebagai distribusi menjadi media tunggal. Media
tunggal adalah media yang berisi satu pendebitan atau satu pengkreditan
saja. Media campuran (mixed media) adalah media yang berisi lebuh
dari satu pendebitan atau lebih dari satu pengkreditan. Jika faktur
penjualan dibatasi hanya digunakan untuk merekam satu macam produk
yang dijual, maka faktur penjualan ini merupakan media tunggal. Jika
setiap faktur penjualan dapat digunakan dengan merekam beberapa
produk sekaligus, faktur ini merupakan media campuran. Dalam metode
ini faktur penjualan diubah menjasi media tingga; berupa tiket tunggal.
Tiket yang telah diisi data tersebut kemudian disortasi menurut
klasifikasi yang telah ditentuka, dihitung jumlahnya untuk kemudian
dicatat dalam summary strip atau rekening. Dari summary strip atau
rekening ini kemudian dibuat laporan penjualan. Media tunggal dapat
diperoleh dengan cara berikut ini:

1. Membuat media asli sebagai media tunggal.


2. Membuat tiket tunggal dari faktur penjualan melalui kegiatan tersendiri.
3. Membuat media tunggal sebagai produk sampingan dalam pembuatan faktur
penjualan.

4. Metode Register (Register Methods)

Metode register dalam distribusi penjualan dilakukan dengan alat register kas.
Register kas yang sederhana dilengkapi dengan dua register yang
memungkinkan setiap hari register kas ini menyajikan jumlah penjualan dengan
dua macam klasifikasi. Register kas yang lebih canggih dapat memilki register
sampai 16, sehingga memungkinkan dihasilkannya laporan penjualan harian
untuk 16 macamklasifikasi barang, jika register kas ini di hubungkan dengan
komputer, berbagai distribusi penjualan dapat dilkukan dengan komputer

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 35
tersebut, sehingga mmanajemen dapatmemperoleh laporan penjualan menurut
informasi yang dikehendakinya.

5. Metode Dengan Komputer

Metode ini menghasilkan informasi penjualan yang luar biasa, kita hanya perlu
memberikan kode yang benar terhadap transaksi penjualan yang terjadi, sperti
klasifikasi informasi yang dikehendaki tampak pada laporan dan dengan
menggunakan metode ini juga pekerjaan sortasi dan sortasi kembali dilakukan
dengan program komputer yang memerlukan waktu yang singkat, dengan
ketelitian yang tinggi.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan metode ditribusi.

Dalam memilih metode distribusi berbagai faktor berikut ini harus dipertimbangkan:

1. Informasi Yang Akan Dicantumkan Dalam Laporan.

Informasi yang dibtuhkan oleh manajemen sangat menentukan isi laporan


yang akan dihasilkan oleh kegiatan distribusi. Jika berbagai jenis klasifikasi
perlu disajikan dalam laporan, metode distribusi dengan menggunakan
jurnla berkolom tidak dapat menghasilkan informasi tersebut.

2. Jumlah Unsur Dalam Klasifikasi

Jumlah unsur dalam klasifikasi menentukan metode distribusi yang akan


digunakan. Apakah klasifikasi terdiri dari 5 unsur,100 unsur atau lebih dari
1000 unsur, hal ini akan menentukan jumlah kolom, rekening, atau register
yang harus disediakan dalam distribusi. Kegiatan setiap unsur dalam periode
tertentu juga menentukan metode distribusi yang dipilih. Jika dalam
klasifikasi terdapat 100 unsur, namun hanya 10 unsur yang aktif dalam
setiap harinya, hal ini memerlukan metode distribusi yang berbeda dengan
jika dari 100 unsur tersebut hanya 90%-nya yang aktif.

3. Media Yang Dipakai Sebagai Sumber Data

Jika media yang dipakai sebagai dasar berupa media campuran, hal ini
memerlukan pengubahan media tersebut menjadi media tunggal untuk
memudahkan sortasi bagi keperluan pembuatan laporan. Jika media berupa
media tunggal, hal ini akan mendorong orang untuk memilih metode
distribusi yang berisi didalamnya kegiatan sortasi penjualan.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 36
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Sistem akuntansi piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang
perusahaan kepada setiap debitur, yang terjadi karena transaksi
penjualan kredit, retur dan potongan penjualan kredit, penerimaan
kas dari piutang, dan penghapusan piutang.
2. Dokumen sumber untuk dasar pencatatan mutasi piutang adalah
faktur penjualan, memo kredit, bukti kas masuk, dan bukti
memorial. Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem
akuntansi piutang adalah jurnal penjualan, jurnal retur penjualan,
jurnal penerimaan kas, jurnal umum, dan kartu piutang.
3. Ada 4 metode pencatatan piutang kedalam buku pembantu piutang:
metode konvensional, metode posting langsung ke dalam kartu
piutang atau pernyataan piutang, metode pencatatn tanpa buku
pembantu (ledgerless bookkeeping). Dalam metode konvensional,
posting ke dalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang
dicatat dalam jurnal. Metode posting langsung ke dalam kartu
piutang dibagi menjadi dua golongan: metode posting langsung ke
dalam kartu piutang dengan tulisan tangan; jurnalhanya
menunjukkan total harian saja (tidak rinci) atau dilakukan langsung
kedalam kartu piutang dan pernyataan piutang. Dalam metode
posting periodic, posting dokumen sumber kedalam kartu piutang
dapat dilakukan dengan metode posting ditunda (delayed posting)
atau metode penagihan bersiklus (cycle billing). Dalam metode
pencatatan tanpa buku pembantu, tidak digunakan buku pembantu
piutang (ledgerless). Sebagai ganti buku pembantu piutang,
ledgerless bookkeeping menggunakan arsip faktup penjualan.
4. Dalam system akuntansi piutang, pernyataan piutang merupakan
salah satu keluaran yang digunakan untuk mengkomunikasikan
informasi piutang perusahaan kepada debitur. Pernyataan piutang
adalah formulir yang menyajikan jumlah kewajibandebitur pada
tanggal tertentu dan (dalam pernyataan piutang bentuk tertentu)
disertai dengan rinciannya. Pernyataan piutang dapat berbentuk : (1)
Pernyataan saldo akhir bulan (balance-end-od month), (2)
Pernyataan satuan (unit statement), (3) Pernyataan saldo berjalan
dengan rekening konvensional (running balance statement with
conventional account), (4) Pernyataan faktur yang belum di lunasi
(open item statement).
5. Distribusi adalah prosedur peringkasan rincian yang tercantum
dalam media dan pengumpulan total ringkasan tersebut untuk
kepentingan pembuatan laporan. Ada 5 metode distribusi : (1)
metode berkolom (columnar methods), (2) metode rekening tunggal

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 37
dan rekening berkolom (unit account and columnar account
methoids), (3) metode summary strip dan metode tiket tunggal
(summary strip and unit ticket methods), (4) metode register
(register method), (5) metode distribusi dengan computer.

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 38
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Mulyadi. Sistem Akuntansi/Mulyadi ; Cetakan Keempat. Jakarta : Salemba


Empat, 2008

Internet:

http://danukusumapraja.wordpress.com/2012/10/12/sistem-informasi-akuntansi-
piutang/

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad
=rja&uact=8&ved=0CDQQFjAD&url=https%3A%2F%2Fjosephtangon.files.w
ordpress.com%2F2013%2F07%2Fprosedur-pencatatan-
piutang.docx&ei=4xJzVIcnxrG4BNCvgLAL&usg=AFQjCNHl5Xs37wSKU10
1UWSvm0JxfL44vA&sig2=CVJpdLCayIIMWZfCMFfzdw&bvm=bv.8018599
7,d.c2E

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=
rja&uact=8&ved=0CFMQFjAI&url=http%3A%2F%2Felearning.gunadarma.ac
.id%2Fdocmodul%2Fsoal_jawab_sistem_akuntansi_1%2Fbagian8_prosedur_p
encatatan_piutang.pdf&ei=4xJzVIcnxrG4BNCvgLAL&usg=AFQjCNGP9S5H
MMmkrthZE2uhJ5SoZboW3Q&sig2=Mcr37XW-
5UW2MCw2hUDZEw&bvm=bv.80185997,d.c2E

S i s t e m A k u n t a n s i P i u t a n g | 39