Anda di halaman 1dari 17

1

Publikasi Wahid Foundation 2017

Tim Penyusun Ringkasan Laporan

Alamsyah M Dja’far
Libasut Taqwa
Siti Kholishoh

Tim Peneliti dan Penyusun Laporan CSIS

Fitriani
Noory Okthariza
Alif Satria
Mayolisia Ekayanti
Ilmi Dwiastuti
Nicky Fahrizal
Pricilia Putri Nirmala Sari
Rebekha Adriana

Halaman: 17 halaman

Wahid Foundation
Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta – 10320
Indonesia
Telp: +62 21-3928233
+62 21-3145671
Faks: +62 213928250

info@wahidfoundation.org
www.wahidfoundation.org

2
Daftar Singkatan

BASOLIA Badan Sosial Lintas Agama


BNPT Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
CEDAW Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan
DI/TII Darul Islam/Tentara Islam Indonesia
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
FKUB Forum Kerukunan Umat Beragama
FORKAMI Forum Komunikasi Muslim Indonesia
FPI Front Pembela Islam
GP Anshor Gerakan Pemuda Anshor
HAM Hak Asasi Manusia
HTI Hizbut Tahrir Indonesia
JAD Jema’ah Atnsharud Daulah
JAI Jema’ah Ahmadiyah Indonesia
JAT Jema’ah Ansharut Tauhid
JI Jema’ah Islamiyah
KCD Koperasi Cinta Damai
KOPRAS Komunitas Perempuan Ekonomi Kreatif Solo
LUIS Laskar Umat Islam Solo
MHTI Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
MMI Majelis Mujahidin Indonesia
MUI Majelis Ulama Indonesia
NA Nasyiatul Aisyiyah
Napiter Narapidana Teroris
NGO Non-Governmental Organization
NII Negara Islam Indonesia
PB Peraturan Bersama
Perda Peraturan Daerah
Perppu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
TKI Tenaga Kerja Indonesia
TKW Tenaga Kerja Wanita
UUD Undang-Undang Dasar

3
Pengantar

Tulisan ini merupakan ringkasan laporan hasil “Riset Mendalam tentang Potensi Intoleransi dan Radikalisme
di Kalangan Perempuan di Lima Wilayah” yang dilaksanakan Wahid Foundation (WF) bekerja sama dengan
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) atas dukungan UN Women.

Riset yang diselenggarakan pada September-November 2017 ini bertujuan untuk menjawab empat pertanyaan
pokok: Sejauhmana kebijakan-kebijakan di tingkat nasional dan lokal mendukung atau tidak mendukung peran
perempuan dalam mencegah ekstremisme? Bagaimana peta umum jejaring aktor dan kelompok perempuan
intoleran dan radikal di masing-masing wilayah penelitian? Apa saja faktor-faktor kunci yang mendorong
keterlibatan perempuan dalam ekstremisme sekaligus upaya pencegahannya? Bagaimana inisiasi dan usaha-
usaha pencegahan yang dilakukan aktor-aktor dan komunitas-komunitas lokal, termasuk kegiatan ekonomi,
berikut dampaknya? Hasil dari riset ini diharapkan memperkaya hasil-hasil riset dan kajian dalam isu perempuan,
intoleransi dan radikalisme di Indonesia.

Wilayah riset yang dipilih adalah Kota Depok, Kota Bogor dan Kabupaten Bogor untuk Jawa Barat; Kota Solo,
Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sukoharjo (atau dikenal dengan sebutan Solo Raya) untuk Jawa Tengah; dan,
Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kabupaten Sumenep untuk Jawa Timur.

Selain alasan jumlah kasus intoleransi dan radikalisme yang meningkat, penelitian ini memilih area studi
tersebut karena juga merupakan daerah sasaran program WISE (Women Participation for Inclusive Society),
salah satu program Wahid Foundation yang bertujuan untuk mencegah intoleransi dan radikalisme di kalangan
perempuan dan kelompok rentan (Wahid Foundation-CSIS, 2018: 25).

Penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut: kajian literatur (literature review), wawancara mendalam
(in-depth interview), dan diskusi terfokus (focus group discussion). Jumlah responden penelitian ini sebanyak 358
orang yang terdiri dari mantan narapidana terorisme, pejabat pemerintah, aktivis organisasi masyarakat, serta
komunitas perempuan di lima daerah penelitian. Dari 358 responden, 186 di antaranya perempuan.

Jalur Terpapar Menuju Radikalisme

Riset ini mengeksplorasi definisi radikalisme yang dirumuskan Omar Ashour (2009: 4-6). Menurut dosen senior
Institute of Arab and Islamic Studies, Universitas Exeter Inggris ini, hal yang membedakan gerakan radikal dan
moderat terletak pada dukungan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi seperti misalnya legitimasi
pluralisme, kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, sistem pemilihan umum dan lainnya. Jika kelompok
moderat mendukung nilai dan prinsip itu, maka kelompok radikal cenderung menolaknya.

Ashour kemudian membagi gerakan radikalisme dalam dua tipologi: radikalisme ideologis (ideological
radicalism) dan radikalisme tingkah laku (behavioral radical). Kelompok pertama adalah mereka yang secara
ideologis menolak nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi, namun tidak setuju dengan penggunaan cara-cara
kekerasan. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dapat dimasukan dalam kelompok ini. Sedang kelompok kedua, selain
menolak nilai dan prinsip demokrasi, mereka juga mendukung atau berpartisipasi dalam aksi kekerasan untuk
menggantikannya. Jemaah Islamiyah masuk dalam kategori ini (Wahid Foundation-CSIS, 2018: 13-16).

4
Radikalisme dalam penelitian ini dimaknai sebagai sikap dan gerakan yang menginginkan perubahan tatanan
sosial-politik secara fundamental lewat cara-cara ekstrem yang revolusioner, yang didasarkan pada pemahaman
ajaran agama tertentu. Sementara itu, intoleransi diartikan sebagai sikap, tindakan, atau kepercayaan yang tidak
bisa menerima ajaran-ajaran atau perilaku-perilaku kelompok tertentu yang tidak sesuai dengan kelompoknya
sendiri (Wahid Foundation-CSIS, 2018: 13-16).

Dalam studi Ashour, proses radikalisasi umumnya berlangsung dari tahap intoleransi, radikalisasi ideologi, dan
kemudian radikalisasi perilaku (Ashour, 2009: 5). Harus dicatat di sini bahwa radikalisme bukanlah gejala khas
Islam. Ia terjadi pada agama dan kepercayaan lain, dan untuk tujuan yang beragam, dari politik hingga ekonomi.
Misalnya saja radikalisme di sebagian kalangan dalam agama Buddha di Myanmar atas isu etnis Rohingya.

Namun demikian, proses radikalisasi tidak selalu linear, malah cenderung kompleks. Orang seperti Peter
Neumann percaya bahwa tindakan kekerasan radikal sesungguhnya dibentuk, bukan natural. Maksudnya,
radikalisme dipengaruhi banyak faktor, dan bukan begitu saja lahir. Dia menyimpulkan pandangan tersebut
setelah meneliti gerakan radikalisme dan upaya penanganannya di 15 negara. Menurutnya lima tahapan berikut
bisa membuat seseorang terpengaruh radikalisme:

Diagram 2. Proses Terpapar Radikalisasi Dikembangkan dari Konsep Peter Neumann

Rasa Kebutuhan Pertemuan Individu yang Normalisasi


ketidakadilan emosional dengan berpengaruh kekerasan
(grievance) ideologi
intoleran
radikal

Kondisi Latar Proses


Belakang Titik Jenuh Terpapar Narasi Doktrin Narasi Doktrin

Dia mencontohkan kasus pengikut ISIS. Umumnya mereka dari latar belakang ‘biasa-biasa’ saja dalam
masyarakat. Mereka bukan orang yang religius, tidak merasa sukses, dan kurang bergaul. Mereka memiliki
kebutuhan emosional pada perasan memiliki (sense of belonging) atau terlibat dalam suatu hal yang lebih
besar dari dirinya (Wahid Foundation-CSIS, 2018: 19). Pada tahapan inilah mereka tiba pada titik jenuh berupa
situasi di mana seseorang tidak merasa kebutuhan emosional pada perasaan memiliki dan diterima oleh
masyarakat terpenuhi.

Meski demikian, titik jenuh tidak dapat dikatakan serta-merta langsung menyebabkan orang bertindak radikal.
Ketidakadilan dapat dirasakan siapa saja. Proses yang menentukan selanjutnya adalah faktor-faktor lain seperti
individu-individu yang berpengaruh untuk menguatkan narasi doktrin ideologi tertentu seperti tokoh agama.
Pengaruh lain bisa juga datang dari orang yang dianggap memiliki nasib yang sama, yang dapat menjadi panduan
sehingga tindakan dan aktivitas kekerasan seperti normal dengan sentuhan dalil-dalil keagamaan untuk

5
menjawab kebutuhan mereka. Ideologi radikal lantas ‘mampu’ menjelaskan rasa ketidakadilan yang mereka
alami dengan menjadikan ‘sistem yang salah’ sebagai kambing hitam. Tindakan kekerasan selanjutnya dapat
mereka lakukan karena dipengaruhi oleh “normalisasi kekerasan”, proses menjadikan kekerasan menjadi hal
biasa dan tidak salah.

Dalam psikologi, titik jenuh ini lebih dekat dengan situasi burnout atau sindrom kelelahan. Burnout yang
lebih banyak digunakan dan diteliti di tempat kerja merupakan masalah multidimensional. Saat seseorang
mengalaminya maka ia akan cenderung mengalami kelelahan fisik, emosional, dan mental yang diakibatkan karena
keterlibatan dalam situasi yang penuh emosional (dinamakan exhaustion). Ahli lain mengatakan bahwa burnout
menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan dehumanisasi, cenderung menarik diri dari lingkungannya
(dinamakan cynicism), dan merasa apa (tugas, aktivitas) yang dijalankan menjadi berat, tidak berdaya(dinamakan
ineffectiveness) (Maslach, 1993: 19-32).

Perempuan: Agen Perdamaian dan Tantangan Radikalisme

Banyak bukti untuk membangun argumen jika perempuan merupakan kelompok penting dalam membangun
toleransi dan perdamaian. Perempuan menjadi pihak yang terlibat dalam upaya-upaya rekonsiliasi konflik di
masa-masa awal republik berdiri. Bahkan kaum perempuan dari ormas-ormas keagamaan terlibat aktif bersama
kaum laki-laki dalam kemerdekaan republik Indonesia (Jamhari, 2003: 84).

Dibanding negara-negara di Timur Tengah, kaum perempuan Indonesia jauh lebih baik dalam mendapatkan
hak-haknya mereka secara adil. Organisasi perempuan keagamaan turut andil dalam membangun pemahaman
keagamaan yang lebih terbuka dan otonom. Indonesia kini juga memiliki banyak kebijakan yang berusaha
mendorong pengarusutamaan gender dan perlindungan mereka dari kekerasan. Misalnya ratifikasi Konvensi
tentang Hak Politik Perempuan melalui UU No. 68 Tahun 1958; Konvensi Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) melalui UU No. 7 Tahun 1984; Inpres No. 9/2000 Tentang
Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang dikeluarkan di masa Presiden Abdurrahman
Wahid dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 67 Tahun 2011 Tentang Pedoman
Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender. Begitupun Kebijakan kuota 30 persen perempuan untuk
anggota legislatif.

Hanya saja, Indonesia tidak sepi dari kasus-kasus keterlibatan perempuan dalam aksi intoleransi, radikalisme,
bahkan dalam bentuk terorisme. Dalam kasus terorisme pada tahun 2016, setidaknya enam perempuan telah
ditangkap atas tuduhan terlibat dalam aksi terorisme. Angka ini, walaupun terkesan kecil, namun jumlahnya
meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beberapa nama tersebut antara Dian Yulia Novi, Arinda Putri
Maharani dan Anggi alias Khanza mantan Tenaga Kerja Wanita di luar negeri (IPAC, 2017: 1).

Perubahan tren ini salah satunya disebabkan oleh perubahan strategi ISIS sejak 2013. Sejak posisi yang makin
terdesak di Suriah dan Irak, ISIS mengubah taktik perjuangan yakni kegiatan amaliyah yang dilakukan dengan

6
cara apa saja dan dimana saja. Perubahan strategi ini juga memberi ruang lebih terbuka bagi kalangan perempuan
untuk lebih aktif sebagai aktor, mulai dari menyebarkan informasi di dunia maya untuk menambah simpatisan,
merencanakan teror, membuat bahan peledak, hingga mengeksekusinya di lapangan.

Sejumlah studi menyebutkan posisi perempuan dalam radikalisme memiliki peran yang tidak selalu sama
dengan laki-laki. Misalnya menjadi ibu yang berperan krusial mendidik anak dan menciptakan generasi
muda pelaku teroris; pelindung (protectors yang berperan dalam menyembunyikan, menyelamatkan, serta
memberikan tempat aman terhadap teroris; dan, pejuang (combatants), yang berkontribusi secara aktif dalam
aksi-aksi kekerasan radikal, antara lain sebagai penggalang dana, fasilitator transaksi, dan pelaku pengeboman
(Cunningham, 2008: 87-95). Dalam budaya patriarki, perempuan dinilai memiliki kelebihan tersendiri (merit
advantage) (Zedalis, 2008: 50).Yakni, persepsi bahwa perempuan dipandang tidak berbahaya ketimbang laki-laki.

Namun yang penting dicatat adalah bahwa keterlibatan perempuan dalam proses intoleransi dan radikalisme
tidak bisa ditangani dengan cara serupa dengan laki-laki. Ini terkait dengan konteks pengalaman hidup dan
relasi gender yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam situasi patriarki, perempuan juga cenderung memiliki
sikap intoleran jika interaksinya dengan dunia di luar terbatas, atau dengan kata lain hanya berada di level
rumah tangga (Tessler, 2008: 348-349).

Temuan-temuan

Riset ini menghasilkan enam temuan utama:

Pertama, Indonesia memiliki peraturan perundang-undangan yang mendorong kehidupan yang toleran,
menjamin hak-hak kemerdekaan beragama, melarang siar kebencian (hate speech), dan memiliki undang-
undang untuk menangani terorisme. Namun begitu, masih ada peraturan perundang-undangan yang dinilai
turut mempengaruhi meningkatnya intoleransi, pelanggaran kebebasan beragama, dan dukungan atas aksi-
aksi terorisme. Misalnya, PNPS 1965 tentang Penodaan Agama atau Peraturan Bersama Dua Menteri tentang
pendirian rumah ibadah. Dua aturan ini sering digunakan kelompok intoleran dan radikal dalam aksi-aksi
penyesatan, penolakan pembangunan rumah ibadah, bahkan kekerasan terhadap minoritas.

Di beberapa daerah dalam penelitian ini, selain terdapat kebijakan yang mendukung upaya penguatan toleransi
dan perdamaian, ada pula aturan dan kebijakan yang dikhawatirkan menumbuhsuburkan intoleransi dan
radikalisme. Misalnya, pelarangan Ahmadiyah di Kota Depok yang didasarkan kepada Peraturan Walikota Depok
No. 9 tahun 2011 Tentang Pelarangan Ahmadiyyah yang merupakan turunan dari Peraturan Gubernur Jawa
Barat No. 12 tahun 2011 Tentang Pelarangan Aktivitas Ahmadiyyah dan SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyyah.

Kedua, saat ini, pemerintah dan DPR tengah merevisi UU Anti-Terorisme. Ada kebutuhan untuk menyiapkan
pasal-pasal yang menyasar isu-isu penting dalam perkembangan terorisme seperti mengatasi orang-orang
yang pergi ke luar negeri untuk bergabung sebagai kombatan. Sayangnya, rancangan Undang-Undang ini tidak
banyak membahas usaha-usaha pencegahan keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme atau yang
mengarah pada terorisme. Padahal kecenderungan terakhir keterlibatan perempuan dan anak dalam isu ini
harus menjadi perhatian serius. Keterlibatan perempuan seperti Dian Yulia Novi ataupun Ika Puspitasari dan
juga anak-anak seperti Brekele dalam aksi terorisme 2 tahun terakhir merupakan fakta yang tidak dapat
dikesampingkan.

7
Ketiga, Indonesia juga sudah memiliki aturan yang kuat untuk mendorong pengarusutamaan gender dan
pemberdayaan perempuan di tingkat nasional dan lokal. Namun begitu, pada praktiknya masih terdapat
berbagai kekangan sosial yang diskriminatif terhadap perempuan. Misalkan, walaupun sudah ada persyaratan
akan adanya 30% perwakilan perempuan di parlemen, hingga kini, karena adanya bias kompetensi dan
halangan-halangan domestik bagi perempuan, tingkat keterwakilan perempuan di parlemen hanya 17,32%
(Koalisi Perempuan Indonesia, 2017). Riset ini masih belum mendapatkan data yang lebih kuat untuk melihat
hubungan dan dampak dari kebijakan diskriminatif terhadap perempuan dalam meningkatkan intoleransi dan
radikalisme.

Keempat, di beberapa daerah penelitian, ditemukan sejumlah aktor perempuan yang terafiliasi dengan
organisasi-organisasi yang dapat dikategorikan radikal, baik tanpa atau dengan kekerasan. Misalnya, Muslimah
HTI di Bogor dan Mujahidah FPI serta Mujahidah MMI di Solo. Di Bogor, Solo dan Malang, riset ini juga
menemukan adanya perempuan-perempuan yang terhubung dengan ISIS dan pro-Jemaah Islamiyah (JI) serta
Al-Qaeda. Namun begitu, tidak setiap istri pelaku terorisme bisa digolongkan berpaham radikal dan bagian
dari jaringan ideologis kelompok ini. Misalnya kasus DC di Depok dan kasus BE di Bogor yang bahkan
tidak tahu bahwa suaminya aktif dalam kelompok teroris. Di beberapa daerah terdapat kelompok yang
selalu mengangkat isu-isu penegakan hukum berdasarkan syariat Islam seperti LUIS di Solo ataupun FPI di
Klaten. Perempuan yang menjadi deportan dan kelompok istri jaringan teroris pro-ISIS Abu Jandal ditemukan
di Malang, sementara kelompok perempuan yang terkait dengan kelompok radikal Jema’ah Islamiyah dan
kelompok pro-Al Qaeda terdapat di Depok, Bogor, Solo dan Malang.

Riset juga menemukan jika proses rekrutmen jejaring ini menyasar mahasiswi di kampus-kampus negeri di
Depok, Bogor dan Malang. Perekrutan dilakukan kepada mahasiswa-mahasiswi baru, terutama yang berasal
dari luar daerah dan mencari pertemanan atau komunitas Islami. Strateginya melalui mentoring di kampus,
talk show dan pengajian yang bermula dari hal-hal ringan seperti tutorial pemakaian hijab, lalu masuk ke isu-isu
kontemporer seperti masalah penodaan agama dan kondisi Muslim di Rohingya.

Kelima, “titik jenuh” merupakan faktor pendorong radikalisme yang umum ditemukan dalam riset, khususnya
di kalangan gerakan radikal. Titik jenuh muncul ketika mereka merasa gagal memaknai hidup mereka dan
kemudian beralih mendalami agama. Seseorang tidak berarti langsung radikal karena ingin mendalami agama,
tapi terjadi ketika memperoleh interpretasi ajaran-ajaran intoleran dan radikal dalam proses pencairannya.
Pada tahap ini titik jenuh yang sudah mengarah pada radikalisme mendapatkan dukungan normalisasi
kekerasan dari tokoh berpengaruh dalam organisasi radikal.

Misalnya terlihat dalam kasus SA di Solo, DA di Depok, BB di Bogor. Proses titik jenuh dialami saat SA
bekerja sebagai tenaga kerja wanita di Malaysia dan setelah itu berusaha memperdalam agama. DA juga
mulai jenuh dengan hidupnya dan suatu ketika mulai mempertanyakan mengapa hidupnya begitu-begitu saja
dan mula tertarik mendalami agama melalui pengajian yang sudah diikuti temannya yang lebih dulu aktif
dalam pengajian ini. Adapun BB merasa jenuh dengan pekerjaan dan karirnya sebagai manajer asuransi. Meski

8
memiliki kekayaan yang cukup untuk membiayai keenam anaknya untuk hidup dan liburan ke luar negeri, BB
memilih ingin ke Suriah untuk hidup di negara berdasarkan hukum Islam yang menjanjikan.

Selain faktor pendorong, terdapat beberapa faktor penarik. Salah satu yang paling kuat, faktor relasi sosial-
personal, melalui hubungan kekeluargaan maupun pertemanan yang menjadi alasan bagi perempuan untuk
mendukung kelompok intoleran dan radikal.

Relasi personal yang paling umum adalah melalui relasi suami-istri. Perempuan menjadi rentan dipengaruhi
pasangannya, khususnya karena kepercayaan di kelompok mereka yang menganggap suami adalah pemimpin
dan perempuan diposisikan sebagai pihak yang harus patuh terhadap apa yang suami katakan.Walaupun perlu
dicatat bahwa tidak semua kasus radikalisasi perempuan karena mengikuti suami. Misalnya seorang istri sudah
radikal tanpa pengaruh suami seperti dalam kasus BB maupun BC di Bogor, dan SA di Solo.

Relasi lain melalui pertemanan. Seperti terlihat di jaringan perempuan dalam jaringan pro-ISIS di Solo. Mereka
aktif berdiskusi melalui Whatsapp dan Facebook untuk memberikan bantuan dana jika salah satu anggota
mereka sedang membutuhkan.

Faktor penarik lain adalah ideologi yang mampu menarik perhatian seseorang yang sedang mengalami titik
jenuh dan melakukan pencarian. Narasi yang dikembangkan kelompok radikal seringkali mudah dipahami,
menjawab masalah sehari-hari dan memiliki detail interpretasi yang rinci, dan jelas mengenai Islam yang
‘benar’ versi mereka. Informasi itu juga mudah dicari melalui online maupun offline, termasuk mudahnya
menjangkau ustaz dan ustazahnya yang berada di sekitar mereka. Faktor pengaruh ideologi ini ditemukan
paling banyak di wilayah perkotaan seperti di Depok dan Bogor, jika dibandingkan di daerah pedesaan seperti
Sumenep.

Faktor penarik ketiga adalah tawaran ekonomi. Iming-iming bahwa khilafah Islam akan lebih memperbaiki
kondisi ekonomi diminati oleh perempuan yang berasal dari kelompok ekonomi lemah.

Kelompok-kelompok intoleran dan radikal juga aktif merekrut mereka yang kesulitan untuk diterima oleh
masyarakat, misalnya kalangan ibu-ibu yang kesulitan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah umum karena
masalah ekonomi maupun administratif. Mereka mendekati kelompok ibu-ibu itu agar menyekolahkan
anaknya ke sekolah yang ideologinya sejalan dengan mereka. Di daerah penelitian, ustaz dan ustazah kelompok
intoleran dan radikal sangat aktif mengajar agama, bahkan tidak meminta bayaran saat mereka berceramah,
berbeda dari tokoh moderat pada umumnya. Kelompok intoleran dan radikal juga memberi tawaran modal
usaha bagi perempuan yang ingin membuka usaha.

DA, istri dari seorang narapidana teroris berinisial KD. KD sendiri terlibat dalam camp pelatihan Aceh
tahun 2010 yang digerebek Densus 88. Usai lulus sekolah menengah atas, DA kemudian bekerja selama
tiga tahun di sebuah pabrik telepon seluler di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Ketika itu ia belum mengenakan

9
jilbab. Pengetahuan agama diakuinya sangat terbatas. Ia mulai belajar tertarik mendalami agama ketika sudah
beberapa kali bertemu dengan teman sekolah dasar. Temannya inilah yang kemudian mengajaknya mengikuti
pengajian-pengajian. Setelah itu ia mengenakan jilbab. DA rajin mengikuti pengajian sepanjang 2002-2009. Dari
sinilah cara pandang keagamaannya terbentuk.

Lewat komunitas pengajian ini ia mengenal KD yang saat itu bekerja di salah satu kantor sebuah partai.
Sebelumnya KD sudah terlibat dalam pengajian-pengajian yang dilakukan komunitas Jemaah Tabligh dan
Majelis Mujahidin. KD sudah banyak terlibat dalam pengajian-pengajian kelompok lain seperti Jemaah Tabligh,
Salafi, dan Majelis Mujahidin. Setelah beberapa lama bekerja sebagai petugas keamanan, ia memutuskan keluar.
Sebab partai tersebut dianggap kurang cocok dengan ide-ide keagamaannya yang harus lebih total dalam
berjihad. Setelah keluar, KD lebih intens dengan jaringan JI pimpinan Umar Patek dan ia menjadi salah satu
yang ditangkap dalam kasus camp pelatihan Aceh tahun 2010.

Sumber: Wawancara dengan DA, 16 September 2017, Depok.

BB, perempuan berusia 45 tahun, merupakan salah seorang deportan yang dikembalikan oleh pemerintah
Turki saat dia, suami, dan anak-anaknya mencoba menyeberang ke Suriah. Ia berusia sekitar 45 tahun. Belum
diperoleh data yang cukup untuk mengetahui proses radikalisasinya. Tapi ia mengaku belajar agama dari
banyak ulama yang dikenalnya. Salah satunya Arifin Ilham.

Bersama suami ia sepakat pergi ke Suriah. Pasangan suami-istri ini membawa serta keenam anaknya. Mereka
menjual rumah, mobil, dan barang-barangnya untuk berangkat ke Suriah melalui Turki. Pilihan tersebut diyakini
sejalan dengan hadis yang mengatakan “ketika tinggal di negara yang tidak diberlakukan hukum Islam, maka
umat muslim wajib hijrah”.

Hingga saat ini, BB masih memiliki pandangan yang negatif terhadap Barat. Menurutnya kekejaman yang
dilakukan ISIS seperti disaksikannya melalui media umum dan sosial merupakan rekayasa zionis yang ingin
menguasai dunia. Ia juga menilai jika non-muslim berkuasa, akan menindas muslim seperti yang dialami muslim
Rohingnya atau di Poso. BB tidak suka etnis Tionghoa sebab mereka dianggap suka berjudi, membenci kaum
muslim dan tengah menyusun kekuatan untuk menindas muslim. Ia tidak puas dengan kepemimpinan Presiden
Jokowi yang dianggapnya sama saja dengan presiden sebelumnya. Pemerintahan belum berhasil memberikan
kebutuhan dasar yang murah pada warga. Contohnya biaya listrik yang tetap mahal.

Sumber: Wawancara dengan BB, 19 September 2017, Bogor.

SA kini istri ketiga dari OS, mantan narapidana teroris yang dulu dipenjara karena membantu menyembunyikan
seorang teroris buronan polisi. SA berasal dari Dieng, Jawa Tengah. Orang tuanya tidak berasal dari organisasi
Islam tertentu. Proses radikalisasi SA tidak terjadi akibat bertemu dengan suaminya, namun terjadi secara
independen sebelum dia menikah dengan OS. Jalan terpapar radikalisasi SA bermula dari tahun 2003.

10
Di tahun itu, SA bekerja sebagai TKW di Malaysia. Karena dia dekat dengan seorang laki-laki dan sempat
diketahui oleh polisi syari’ah bahwa dia sempat bermalam di rumah orang tersebut, mereka dipaksa menikah.
Beberapa bulan setelah itu SA mengandung. Namun tak lama setelah itu mengalami keguguran. Dikarenakan
kondisinya yang semakin parah, SA dipulangkan balik ke Indonesia. Beberapa bulan setelah menetap di
Indonesia, kondisi SA membaik dan diketahui bahwa dia masih mengandung.

Mengetahui informasi ini, suami SA menuduhnya selingkuh dan bercerai. Selama Sembilan bulan mengandung,
SA mengalami depresi yang, setelah anaknya lahir, berkembang menjadi penyakit bipolar yang dideritanya.
Sebagai cara menanggulangi penyakitnya ini, SA sering belajar melalui internet tentang depresi dan bipolar.
Setelah terus membaca, akhirnya SA informasi-informasi keagamaan dari jaringan kelompok Salafi-Wahabi di
Jawa Tengah.

Upaya tersebut berlanjut hingga tahun 2009. Ia kemudian mengikuti anti-kristenisasi dan sempat bergabung
dengan Saving Islam Team yang membawanya ke berbagai negara termasuk Filipina untuk menyebarkan Islam.
Selain itu ia juga intens mengikuti pengajian melalui media sosial dengan tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan
HTI. Melalui aktivitas itu ia mengenal OS. Menurut SA, aksi terorisme adalah sebuah aksi yang seharusnya
dibenarkan. Aksi tersebut merupakan pembelaan diri dari sebuah umat yang terzalimi dan tidak dilindungi
oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab (misalnya negara). Dia menjelaskan bahwa umat Islam
itu pada saat menjadi minoritas selalu ditindas, sedangkan jika nanti terdapat khilafah dan umat Islam berkuasa,
agama-agama lain tidak akan ditindas.

Sumber: Wawancara dengan SA, 11 Oktober 2017, di Surakarta.

Keenam, sudah terdapat inisiasi dan usaha dari kelompok “toleran” dalam merespons intoleransi dan
radikalisme di kalangan perempuan, langsung maupun tidak langsung, yang ditemukan di seluruh wilayah
penelitian. Umumnya mereka berasal dari organisasi keagamaan moderat seperti Nahdlatul Ulama dan
Muhammadiyah, termasuk organisasi sayap perempuannya seperti Fatayat Nahdlatul Ulama atau Aisyiyah
Muhammadiyah. Selain itu, usaha lain juga dilakukan organisasi masyarakat sipil lain yang berbasis lintas iman. Di
Depok, Fatayat NU, Basolia, GP Anshor Depok, menjalankan kegiatan beragam seperti bakti sosial, pengobatan
massal, dan pagelaran seni lintas agama hingga penanganan anak jalanan. Di Bogor, Aisyiyah dan Fatayat NU dan
tokoh-tokoh agama lokal juga mengembangkan usaha merespons radikalisme melalui dakwah dan bakti sosial.
Di Solo Raya, Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan Fatayat NU Kota Solo aktif mengambil inisiatif upaya pencegahan.
Anggota NA telah memiliki program pendampingan perempuan korban berbagai macam kekerasan, seperti
pelecehan seksual, KDRT, dan juga terorisme. Selain Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyiyah, di Malang terdapat
Sekolah Perempuan Kota Batu, dan Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan. Sekolah
Perempuan memberi pengajaran mengenai ekonomi, sosial budaya, politik, dan hukum juga memberi
pembekalan untuk mengenal isu-isu radikalisme. Sedang Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan
Keuskupan aktif melakukan kegiatan untuk membina hubungan baik antara agama dan kepercayaan serta
meningkatkan toleransi antar umat.

11
Di Sumenep, upaya pencegahan baru sampai pada tahap penolakan secara verbal (verbal rejection). Belum
ada program khusus yang dilakukan pemerintah daerah ataupun organisasi masyarakat untuk mengatasi
kehadiran kelompok organisasi intoleran atau radikal di Sumenep.

Program WISE (Women Participation for Inclusive Society) yang diinisiasi Wahid Foundation atas dukungan
UN Women di lima wilayah penelitian dapat dilihat sebagai program yang cukup menjanjikan. Program ini
menjadikan pendekatan ekonomi untuk memperkuat toleransi dan perdamaian. Misalnya melalui simpan
pinjam, pelatihan keuangan, dan penguatan nilai-nilai toleransi. Sebagai program yang baru berjalan kurang
dari satu tahun, program ini kemungkinan baru akan menyiapkan fondasi-fondasi awal untuk dikembangkan
di masa mendatang.

Secara umum, dapat dikatakan komunitas dan organisasi-organisasi moderat di lima wilayah tersebut
belum banyak menyasar kelompok-kelompok rentan khususnya yang memiliki kecenderungan radikal atau
sudah terlibat dalam tindakan radikal. Misalnya menyasar keluarga mantan pelaku teroris atau mahasiswi di
kampus-kampus negeri. Aktor-aktor ini umumnya menyasar anggota-anggota mereka atau kelompok yang
diidentifikasi sebagai moderat.

Jika dilihat dari level pemberdayaan, efektivitas dari inisiasi dan upaya-upaya yang dilakukan tersebut bervariasi.
Perbedaan ini tampaknya dipengaruhi oleh beberapa hal. Misalnya, kekuatan antar jaringan organisasi
masyarakat sipil di masing-masing wilayah, termasuk antara organisasi masyarakat dengan pemerintah.

Rekomendasi

Berdasarkan enam temuan utama tersebut, riset ini mengajukan tujuh rekomendasi.

Pertama, mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah terus meningkatkan pemenuhan hak-
hak sipil dan politik warga negara sebagaimana dijamin dalam peraturan perundang-undangan, termasuk di
dalamnya pemenuhan hak-hak tersangka dan terpidana, termasuk keluarga, pelaku aksi-aksi intoleran dan
radikal. Upaya ini diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan-ketidakpuasan yang pada akhirnya mendorong
lahirnya aksi intoleransi dan radikalisme. Kepala Daerah di lima wilayah penelitian sudah sepatutnya menghapus
atau merevisi kebijakan diskriminatif.

Kedua, mendorong Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Republik Indonesia
menghapus atau merevisi peraturan perundang-undangan di tingkat nasional dan tingkat lokal yang
diskriminatif seperti UU PNPS 1965 atau peraturan daerah yang membatasi hak-hak perempuan.

Ketiga, mendorong Pemerintah Pusat mewakili Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT),
memasukan pasal-pasal dalam revisi UU Anti-Terorisme yang mengatur pencegahan dan penanganan
keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme.

Keempat, mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP PA)
mengembangkan pengarusutamaan gender melalui kerjasama dengan organisasi keagamaan dan tokoh agama
perempuan.

12
Kelima, mendorong lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan di lingkungan pemerintah seperti
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian Pengembangan Kementerian Agama,
Kementerian Sosial, KPP PA untuk mengembangkan kajian dan riset yang menyediakan data dan analisis
mengenai keterlibatan perempuan dalam aksi intoleransi dan radikalisme, termasuk dampak kebijakan dan
peraturan diskriminatif terhadap perempuan dengan meningkatnya intoleransi dan radikalisme.

Keenam, mendorong organisasi perempuan ormas keagamaan moderat seperti Fatayat, Aisyiyah, dan
organisasi masyarakat sipil lain di tingkat nasional maupun lokal mengembangkan kegiatan-kegiatan yang
bertujuan mengatasi faktor-faktor pendorong dan penarik radikalisme di kalangan perempuan seperti
kegiatan konseling, pengajian keagamaan berisi materi-materi moderat, pendidikan pra-nikah, penguatan
keluarga, dan pendampingan ekonomi perempuan.

Ketujuh, mendorong kerjasama pemerintah pusat dan lima daerah dengan organisasi masyarakat sipil
mengembangkan program yang menyasar langsung kelompok-kelompok rentan dan wilayah-wilayah rentan
dengan pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi keluarga mantan
narapidana terorisme.

13
Daftar Pustaka

Amnesty International. (2014). Prosecuting Beliefs: Indonesia’s Blasphemy Laws. London: Amnesty
International Ltd.
Ashour, O. (2009). Votes and Violence: Islamists and the Processes of Transformation. London:
Developments in Radicalisation and Political Violence.
Ayubi, N. (1991). Political Islam: Religion and Politics in the Arab World. London, New York: Routledge.
Aziz, A., & D, H. A. (2016, Desember 10). “Para Perempuan yang Terlibat Kasus Terorisme”. Tirto.id. https://
tirto.id/para-perempuan-yang-terlibat-kasus-terorisme-b9me
Bari, F. (2014). Perempuan di Ranah Politik. Jakarta: ELSAM.
Berko, A., & Erez, E. (2008). “Martyrs or Murderers? Victims or Victimizers? The Voices of Would-be
Palestinian Female Suicide Bombers.” In C. D. Ness, Female Terrorism and Militancy:
Agency, Utility and Organization. New York: Routledge.
Bhakti, M. A. (2016). Perempuan dan Terorisme. Jakarta: PAKAR.
Colombijn, F., & Lindblad, J. T. (2002). Roots of Violence in Indonesia: Contemporary Violence in Historical
Perspective. Leiden: KITLV Press.
Cunningham, K. (2008). “The Evolving Participation of Muslim Women in Palestine, Chechnya, and the
Global Jihadi Movement.” In C. D. Ness, Female Terrorism and Militancy: Agency, Utility and
Organization. New York: Routledge.
Fararo, T. J., & Doreian, P. (1998). “The Theory of Solidarity: An Agenda of Problems.” In The Problem of
Solidarity:Theories and Models (pp. 1-33).
Goodin, R. (1975). “Cross-Cutting Cleavages and Social Conflict.” British Journal of Political Science, Vol. 5,
Issue 4, 516-519.
Hafez, M. (2004). Why Muslims Rebel? Repression and Resistance in the Islamic World. London: Lynne
Rienner Publishers.
Hamayotsu, K. (2011). “The End of Political Islam? A Comparative Analysis of Religious Parties in the
Muslim Democracy of Indonesia.” Journal of Current Southeast Asian Affairs, 30 (2), 133-159.
Hamdi, I. (2016, Desember 1). “Ikut Demo 212, 2.000 Warga Depok Berangkat Pukul 05.30 Besok.” Tempo.
co. https://nasional.tempo.co/read/824592/ikut-demo-212-2-000-warga-depok-berangkat-
pukul-05-30-besok
Hapsari, D. A. (2017, Januari 24). “Kepulangan Keluarga Terduga ISIS Tunggu Kesiapan Pemkab.” Malang Voice.
https://malangvoice.com/kepulangan-keluarga-terduga-isis-tunggu-kesiapan-pemkab/
Horgan, J., & Braddock, K. (2010). “Rehabilitating the Terrorists?: Challenges in Assessing the Effectiveness of
De-radicalization Programs.” Terrorism and Political Violence, Vol. 22, No. 2, 267-291.

14
Human Rights Watch. (2013). Atas Nama Agama: Pelanggaran terhadap Minoritas Agama di Indonesia.
Jakarta: Human Rights Watch.
Ibrahim, S. (2004). “Challenges for Islam and Democracy.” A lecture given at the Law Faculty, McGill
University, Montreal, Quebec, Canada. Quebec: McGill University.
Institute for Policy Analysis of Conflict. (2016). IPAC Report No. 30.The Failed Solo Suicide Bombing and
Bahrun Naim’s Network. Jakarta: Institute for Policy Analysis of Conflict.
Institute for Policy Analysis of Conflict. (2017). Mothers to Bombers: The Evolution of Indonesian Women
Extremists. Jakarta: Institute for Policy Analysis of Conflict.
Jamhari. (2003). Citra Perempuan dalam Islam: Pandangan Ormas Keagamaan. Jakarta: Gramedia, PPIM-UIN
Jakarta, Ford Foundation.
Jones, S. (2016, Januari 18). “Battling ISIS in Indonesia.” The New York Times. https://www.nytimes.
com/2016/01/19/opinion/battling-isis-in-indonesia.html?_r=0
Kendhammer, B. (2013). “The Sharia Controversy in Northern Nigeria and the Politics of Islamic Law in
New and Uncertain Democracies.” Comparative Politics, 45(3).
Kine, P. (2014). Indonesia’s growing religious intolerance. Jakarta: Human Rights Watch.
Koalisi Perempuan Indonesia. (2017, Maret). “Pernyataan Koalisi Perempuan Indonesia: Pengesahan RUU
KKG: Wujud Janji Negara Menghapus Ketimpangan Gender.” Koalisi Perempuan. http://
www.koalisiperempuan.or.id/2017/03/08/siaran-pers-hari-perempuan-internasional-2017/
Komnas Perempuan. (2014). Pengalaman dan Perjuangan Perempuan Minoritas Agama Menghadapi
Kekerasan dan Diskriminasi Atas Nama Agama. Laporan Pelapor Khusus Komnas Perempuan
Tentang Kekerasan dan Diskriminasi terhadap Perempuan dalam Konteks Pelanggaran Hak
Konstitusional Kebebasan. Jakarta: Komnas Perempuan.
Lawrence, J., & Tar, U. (2013). “The use of Grounded Theory Techniques and a Practical Tool of Qualitative
Data Collection and Analysis.” Electronic Journal of Business Research Methods, 11(1).
Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. (2014). Korban Intoleransi Tidak Terlindungi Hukum. Jakarta: Lembaga
Bantuan Hukum.
Machmudi,Y. (2006). Islamising Indonesia:The Rise of Jemaah Tarbiyah and The Prosperous Justice Party
(PKS). Canberra: ANU Press.
Marcus, G. (1995). With Malice toward Some: How People Make Civil Liberties Judgments. Cambridge:
Cambridge University Press.
Movanita, A. N. (2017, Oktober 31). “Polisi Sebut Teroris di Bima Ada Kaitan Kuat dengan Kelompok
Santoso.” Kompas. http://nasional.kompas.com/read/2017/10/31/12440461/polisi-
sebut-teroris-di-bima-ada-kaitan-kuat-dengan-kelompok-santoso
Murtono, M. (2014). Konsep Manquul dalam Perspektif Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Neumann, P. (2009). Old and New Terrorism. Cambridge: Polity Press.

15
Neumann, P. (2010). Prisons and Terrorism: Radicalisation and De-radicalisation in 15 Countries. London:
International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence (ICSR).
Neumann, P. (2013). “The Trouble with Radicalization.” International Affairs, 89, Issue 4 July 2013, 873–893.
Nurdin, E. (2017, Januari 19). “Toleransi di Sumenep: Masjid dengan tukang dari Cina dan ‘bicara tafsir di
kelompok Syiah.” BBC Indonesia. http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38662873
Olidort, J. (2015, November 24). “What Is Salafism? How a Nonpolitical Ideology Became a Political
Force?” Foreign Affairs. https://www.foreignaffairs.com/articles/syria/2015-11-24/
what-salafism.
Schaufeli, Wilmar, dkk. “Burnout: A multidimensional perspective”. In Professional Burnout: Recent
Developments in Theory and Research. New York: Taylor & Francis.hlm.19-32.
Smith, G. (2011, November 3). “Religious Toleration Vs. Religious Freedom.” Libertarianism.org. https://www.
libertarianism.org/publications/essays/excursions/religious-toleration-versus-religious-freedom
Soage, A. B. (2009). “Islamism and Modernity: The Political Thought of Sayyid Qutb.” Totalitarian Movements
and Political Religions, 10 (2), 189-203.
Solahudin. (2011). NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.
Speckhard, A., & Akhmedova, K. (2008). “Black Widows and Beyond: Understanding the Motivations and Life
Trajectories of Chechen Female Suicide Terrorists.” In C. D. Ness, Terrorism and Militancy: Agency,
Utility and Organization. New York: Routledge.
Tessler, M. (2002). “Islam and Democracy in the Middle East: The Impact of Religious Orientations on
Attitudes toward Democracy in Four Arab Countries.” Comparative Politics, 34(3).
Thalib, J. U. (2015). Jihad Fii Sabilillah: Puncak Amal Shalih yang Diabaikan Ummat Islam di Indonesia.
Yogyakarta: Ihya’ As-Sunnah.
Ward, K. (2009). “Non-violent extremists? Hizbut Tahrir Indonesia.” Australian Journal of International
Affairs, 63(2), 149-164.
Zedalis, D. (2008). “Beyond the Bombings: Analyzing Female Suicide Bombers.” In C. D. Ness, Female
Terrorism and Militancy: Agency, Utility and Organization. New York: Routledge.

16
17