Anda di halaman 1dari 15

Perencanaan Pemotretan Udara

D. POKOK BAHASAN III : PERENCANAAN PEMOTRETAN UDARA


SUB POKOK BAHASAN PERENCANAAN PEMOTRETAN UDARA

1.1. Pendahuluan
1.1.1. Deskripsi Singkat
Pemotretan udara merupakan salah satu tahap pemetaan fotogrametri
yang cukup penting. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pemotretan udara perlu
dilakukan perencanaan yang matang dan detail sedemikian rupa, sehingga
pelaksanaan pemotretan udara dapat berjalan lancar. Foto udara yang
digunakan untuk pemetaan fotogrametri adalah foto udara tegak dimana pada
saat pemotretan udara sumbu kamera udara tegak lurus permukaan bumi.
Untuk keperluan perencanaan pemotretan udara terlebih dahulu harus
ditentukan skala foto udara, spesifikasi teknik jenis film, kamera udara dan
pesawat terbang yang akan digunakan. Selain itu juga harus ditentukan besaran
overlap dan sidelap foto udara.

1.1.2. Relevansi
Materi pada bab ini akan memberikan keahlian bagi ahli geodesi
mengenai syarat-syarat dan spesifikasi teknik untuk pemotretan udara.
Disamping itu akan memberikan keahlian bagi mahasiswa dalam membuat
perencanaan pemotretan udara.

1.1.3.1. Standar Kompetensi


Pokok bahasan ini akan memberikan kontribusi kompetensi pada
mahasiswa lulusan program studi teknik geodesi agar mampu memahami
persyaratan dan spesifikasi teknis pekerjaan pemotretan udara serta metode
pembuatan perencanaan pemotretan udara.

1.1.3.2. Kompetensi Dasar


Setelah mengikuti materi sub pokok bahasan pemotretan udara, maka :
a. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan spesifikasi teknik kamera udara
yang akan digunakan untuk pemotretan udara.

Pemetaan Fotogrametri 45
Perencanaan Pemotretan Udara

b. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan spesifikasi teknik jenis pesawat


terbang yang digunakan untuk keperluan misi pemotretan udara.
c. Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan kriteria dan spesifikasi pada
peerjaan pemotretan udara.
d. Mahasiswa diharapkan mampu membuat perencanaan pekerjaan pemotretan
udara.

1.2. Penyajian
1.2.1. Uraian dan Contoh

PERENCANAAN PEMOTRETAN UDARA


Foto udara vertikal dapat berupa foto hasil pemotretan tunggal , dalam
pasangan atau dalam satu urutan sepanjang jalur terbang. Pemotretan dalam
satu urutan sepanjang jalur biasa disebut STRIP atau RUN jalur penerbangan.
Untuk keperluan pemetaan fotogrametri terlebih dahulu harus dilakukan
pemotretan udara. Tujuan dari pemotretan udara adalah untuk memperoleh foto
udara yang selanjutnya akan digunakan untuk keperluan proses pemetaan cara
fotogrametris atau untuk keperluan interpretasi foto udara.

Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam pemotretan udara terdiri dari :

1. Pesawat terbang
2. Kamera udara
3. Film
Kriteria dan spesifikasi teknik dari pesawat terbang, kamera udara dan film
untuk keperluan pemotretan udara telah dibahas pada sub pokok bahasan foto
udara. Oleh karena itu disini tidak akan dibahas lagi, selanjutnya yang akan
dibahas adalah tahap pekerjaan pemotretnan udara.
Tahap pekerjaan pemotretan udara dapat dibagi dalam :

1. Perencanaan
2. Persiapan
3. Pelaksanaan
4. Proses fotografi

Pemetaan Fotogrametri 46
Perencanaan Pemotretan Udara

1. Perencanaan Pemotretan

Sebelum melaksanakan pemotretan udara perlu dilakukan perencanaan


dengan membuat peta rencana terbang. Beberapa persyaratan yang akan
digunakan untuk pembuatan peta rencana terbang antara lain :

- Skala foto udara yang diperlukan


- Batas dan luas daerah pemotretan
- Peta rencana terbang dibuat di atas peta topografi skala 1 : 50.000 atau
skala 1 : 100.000
- Arah jalur terbang Timur – Barat atau Utara – Selatan
- Format foto udara umumnya 9 ′ X 9 ′ ( 23 cm x 23 cm )
- Kamera foto udara yang akan digunakan
- Besarnya overlap umumnya 60 % atau 80 %
- Besarnya sidelap umumnya 25 %  5 %
Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan seperti yang
tersebut di atas, maka dapat direncanakan hal-hal sebagai berikut :

1. Besarnya overlap
2. Besarnya sidelap
3. Basis udara
4. Jarak antara dua jalur terbang yang berurutan ( strip )
5. Banyaknya foto tiap jalur
6. banyaknya jalur terbang
7. Luas model
8. Luas efektif
9. Jumlah total foto udara
Untuk keperluan pembuatan perencanaan pemotretan udara, maka dibuat
gambar geometri pemotretan udara. Selain itu juga dibuat notasi-notasi yang
akan dipergunakan untuk kelerluan perencanaan pemotretan udara.

Pemetaan Fotogrametri 47
Perencanaan Pemotretan Udara

Gambar geometri pemotretan udara dapat dilihat pada Gambar 3.1, dan
notasi-notasi untuk perencanaan pemotretan udara adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1. Geometri pemotretan udara

Fa = Luas daerah yang akan dipotret

Fn = Luas efektif

Pemetaan Fotogrametri 48
Perencanaan Pemotretan Udara

Fm = Luas model

Lp = Panjang daerah yang dipotret

Lq = Lebar daerah yang dipotret

p = overlap

q = sidelap

B = Basis udara

b = Basis foto udara

s = Ukuran sisi film ( biasanya 23 cm )

S = Ukuran lebar sisi film diatas permukaan tanah

A = Jarak antara 2 jalur terbang yang berurutan

np = Jumlah foto udara pada setiap jalur / STRIP / RUN

nq = Jumlah jalur / STRIP / RUN

n = Jumlah total foto udara

Selanjutnya dengan melihat gambar 3.1 dan notasi-notasi tersebut di atas,


maka besaran-besaran yang diperlukan dalam perencanaan pemotretan udara
dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

1. Besarnya overlap
S - B
P = x 100 %
S
2. Besarnya sidelap

S - A
q = x 100 %
S
3. Basis udara

B = S ( 1 - p )

4. Jarak antara dua jalur terbang yang berurutan

Pemetaan Fotogrametri 49
Perencanaan Pemotretan Udara

A = S ( 1 - q )

5. Banyaknya foto tiap jalur ( dihitung dengan rumus empiris )

Lp
np = +1
B

6. Banyaknya jalur terbang ( dihitung dengan rumus empiris )

Lq - S
nq = +1
A
7. Luas model

Fm = ( S - B ) S

8. Luas efektif ( Empiris )

Fn = A • B = S2 ( 1 - p ) ( 1 - q )

9. Jumlah total foto udara ( empiris )

Fa
n =
Fn

Contoh soal :
Dalam rangka pembuatan peta topografi Kota Semarang akan dilakukan
pemotretan udara skala 1 : 10.000. Kamera udara wide angle WILD RC 10
dengan fokus kamera 151,79 mm ndengan film ukuran 23 cm X 23 cm. Elevasi
rata-rata daerah yang dipotret 200 m diatas MSL. Overlap 60 % sidelap 25 %.
Ukuran wilayah yang akan dipotret 30 km X 20 km.
a. Hitung berapa besarnya basis udara !
b. Hitung berapa jarak antar 2 jalur pemotretan udara !
c. Hitung berapa jumlah foto setiap jalur terbang !
d. Hitung berapa jumlah jalur pemotretan !
e. Hitung berapa jumlah total foto udara yang diperlukan !
Penyelesaian :
a. Hitungan besarnya basis udara :
Besarnya S = 23 cm X 10.000 = 2.300 m

Pemetaan Fotogrametri 50
Perencanaan Pemotretan Udara

Basis udara = B = S ( 1 - p ) = 2.300 ( 1 - 60 % ) = 920 m

b. Hitungan jarak antar 2 jalur pemotretan udara:


Jarak antar 2 jalur = A = S ( 1 - q ) = 2.300 ( 1 – 25 % ) = 1.725 m

c. Hitungan jumlah foto setiap jalur terbang:


Lp 30.000 m
np = +1= + 1 = 34 lembar/jalur
B 920 m
d. Hitungan jumlah jalur pemotretan :
Lq - S 20.000 m – 2300 m
nq = +1= + 1 = 12 jalur
A 1.725 m

e. Hitungan jumlah total foto udara yang diperlukan :


Fa = 30 km X 20 km = 600 km2
Fn = A X B = 0,92 km2 X 1,725 km = 1,587 km2
Fa 600km2
n = = = 378 buah.
Fn 1,587 km2

2. Persiapan

Sebelum melakukan operasi pemotretan udara, maka terlebih dahulu


dipersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan
pekerjaan di lapangan. Yang terutama sekali harus diperhatikan yaitu
penyediaan peralatan dan bahan –bahan serta perlengkapan surat-surat.

Peralatan dan bahan-bahan yang harus disediakan antara lain meliputi :

a. Pesawat Terbang
b. Kamera udara
c. Film
d. Larutan pencuci dan bahan-bahan fotografis untuk pencetakan sementara

Pesawat Terbang

Pemetaan Fotogrametri 51
Perencanaan Pemotretan Udara

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesawat terbang untuk


pemotretan udara adalah :
a. Kemampuan ketinggian
b. Kecepatan ( maksimum / minimum )
c. Daya jelajah
d. Kestabilan
e. Beban
f. Kebutuhan take-off dan landing

Kamera Udara
Pemilihan jenis kamera udara untuk misi pemotretan udara tergantung
pada keadaan lapangan yang akan dipotret.
Kamera udara yang digunakan dalam pemotretan udara dapat dibagi dalam
tiga macam, yaitu :
1. Kamera udara bersudut normal ( Normal Angle )
2. Kamera udara bersudut lebar ( Wide Angle )
3. Kamera udara bersudut sangat lebar ( Super Wide Angle )

Film
Film yang digunakan untuk keperluan pemotretan udara harus yang
berkualitas tinggi. Yang biasa digunakan dalam pemotretan umumnya film hitam
putih pankhromatis.
Perlengkapan surat-surat yang diperlukan antara lain meliputi :
- Surat izin melakukan terbang pemotretan ( Security Clearance ) yang
dikeluarkan oleh instansi HANKAM
- Surat izin memasuki daerah proyek dari pejabat pemerintah di lingkungan
daerah proyek tersebut.
- Surat perintah kerja dari pihak pemilik pekerjaan
- Surat perintah kerja untuk tiap personil di lapangan.

3. Pelaksanaan

Pemetaan Fotogrametri 52
Perencanaan Pemotretan Udara

Setelah selesai tahap perencanaan dan tahap persiapan, tahap


selanjutnya adalah pelaksanaan pemotretan udara. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan di dalam pelaksanaan pemotretan udara di lapangan adalah :

a. Premark harus sudah selesai seluruhnya di lapangan sebelum


dilaksanakannya pemotretan, dan premark tersebut harus tampak pada foto
hasil pemotretan.
b. Pemotretan hanya dilaksanakan ketika tinggi matahari tidak lebih dari 25
°, atau pada pagi hari antara pukul 07.00 – 10.00 dan sore hari antara pukul
14.00 – 16.00 waktu setempat.
c. Jumlah awan dari setiap foto hasil pemotretan yang diperkenankan
umumnya tidak boleh lebih dari 5 %. Oleh karena itu pemotretan udara hanya
dilaksanakan apabila keadaan cuaca di daerah pemotretan benar-benar
bersih dan terang, tanpa awan di bawah ketinggian terbang pemotretan.
d. Pengaturan tinggi terbang untuk pemotretan dilakukan dengan cara
mengusahakan bacaan altimeter tetap kedudukan yang telah ditentukan.
Variasi tinggi terbang yang diperkenankan umumnya antara ( 95 – 105 ) %
dari tinggi terbang yang direncanakan.

4. Proses Fotografis
Yang dimaksud dengan proses fotografis hasil pemotretan yaitu
pencucian dan pencetakan. Setiap roll film yang baru selesai dilakukan
pemotretan, selekasnya dilakukan pencucian. Tujuannya ialah untuk
menghindari terjadinya perubahan kimiawi dari emulsi yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kualitas citra.

Dari negatip foto hasil pencucian kemudian dilakukan pencetakan


sementara yang akan digunakan untuk membentuk navigasi print. Tujuan dari
pembuatan navigasi print ini yaitu untuk mengetahui hasil pemotretan yang telah
didapat. Apabila hasil pekerjaan ternyata masih kurang memuaskan, maka
melalui navigasi print tersebut dapat diketahui pada bagian mana pekerjaan yang
perlu diulang.

Pemetaan Fotogrametri 53
Perencanaan Pemotretan Udara

Hal-hal yang dapat diketahui dari navigasi print antara lain meliputi :
besarnya overlap, besarnya sidelap, drift, crab, tilt, tinggi terbang, jumlah awan
dan kualitas citra.

Proses pencucian dan pencetakan navigasi print ini sepenuhnya


dikerjakan di base camp ( laboratorium sementara ). Setelah dari navigasi print
seluruhnya sudah tidak ada kekurangan, kamudian baru dilakukan pencetakan
diapositip, paper print, dan blow-up foto udara, serta pembuatan flight indeks.
Pelaksanaan pencetakan dan pembuatan flight indeks ini seluruhnya dapat
dilakukan di kantor.

1.2.2. Latihan
1. Jelaskan unsur-unsur utama pemotretan udara !
2. Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan jenis pesawat
terbang untuk pekerjaan pemotretan udara !
3. Jelaskan jenis kamera udara yang dapat digunakan untuk pemotretan udara !

1.3. Penutup
Foto udara yang diperoleh dari hasil pemotretan udara dengan
menggunakan kamera udara tertentu merupakan salah satu data yang sangat
penting dalam pekerjaan pemetaan metode fotogrametri. Foto udara yang
diperoleh dari pemotretan udara mempunyai berbagai kesalahan, sehingga
untuk keperluan pemetaan fotogrametri perlu dilakukan serangkaian proses
untuk membetulkan skala, agar dapat diperoleh peta yang memenuhi
speseifikasi teknik tertentu.

1.3.1. Tes Formatif


1. Jelaskan beberapa persyaratan yang diperlukan untuk pembuatan peta
rencana terbang !
2. Jelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesawat terbang
untuk pemotretan udara !
3. Jelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam pelaksanaan
pemotretan udara di lapangan !

Pemetaan Fotogrametri 54
Perencanaan Pemotretan Udara

4. Pada pekerjaan pembuatan peta garis di wilayah Kabupaten Semarang akan


dilakukan dengan pemetaan dengan metode fotogrametri. Daerah yang akan
dipetakan berukuran 40 km X 30 km. Foto udara skala 1 : 15.000 ukuran foto
udara 23 cm X 23 cm. Fokus kamera udara 151,79 mm. Overlap 60 %
sedangkan sidelap 25 %. Elevasi rata-rata daerah yang dipotret 300 m diatas
MSL. Kecepatan pesawat terbang pada waktu pemotretan udara 450 km/jam.
a. Hitung berapa rencana tinggi terbang pada pemotretan udara tersebut
diatas !
b. Hitung berapa basis udara pemotretan udara (B) !
c. Hitung berapa jarak jalur pemotretan udara (A) !
d. Hitung berapa jumlah total foto udara yang diperlukan pada pemotretan
udara tersebut !

1.3.2. Umpan Balik


Cocokan jawaban Saudara dengan kunci jawaban tes formatif. Kemudian
gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi belajar.
Jumlah jawaban yang benar
Rumus penguasaan = x 100 %
Jumlah soal
Hasilnya sebagai berikut :
90 % -100 % : baik sekali
80 % -- 89 % : baik
70 % - 79 % : sedang
Kurang dari 69 % : kurang

1.3.3. Tindak Lanjut


Jika Saudara mencapai penguasaan 80 % ketas, maka Sadara dapat
meneruskan kegiatan belajar berikutnya. Jika nilai Saudara dibawah 80 %, maka
Saudara harus mengulang terutama pada materi yang belum Saudara kuasai.

1.3.4. Rangkuman
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat rangkuman sebagai berikut :

Pemetaan Fotogrametri 55
Perencanaan Pemotretan Udara

1. Foto udara yang diperoleh dengan pemotretan udara mempunyai beberapa


kesalahan, sehingga untuk keperluan pemetaan fotogrametri harus dilakukan
pembetulan skala supaya diperoleh peta dengan skala yang benar.
2. Pemotretan udara pada obyek foto yang mempunyai perbedaan tinggi
ekstrim (misal menara tower), maka akan terjadi kesalahan yang dikenal
dengan nama pergeseran relief. Pergeseran relief terjadi karena sistem
proyeksi perspektif pada kamera udara dan obyek yang mempunyai
ketinggian ekstrim.
3. Foto udara mempunyai paralaks arah x dan arah y. Perbedaan paralaks x
antara dua titik di foto udara dapat digunakan untuk menghitung beda tinggi
antara dua titi di lapangan.
1.3.5. Kunci Jawaban Tes Formatif
1. Beberapa persyaratan yang akan digunakan untuk pembuatan peta rencana
terbang antara lain :

- Skala foto udara yang diperlukan


- Batas dan luas daerah pemotretan
- Peta rencana terbang dibuat di atas peta topografi skala 1 : 50.000 atau
skala 1 : 100.000
- Arah jalur terbang Timur – Barat atau Utara – Selatan
- Format foto udara umumnya 9 ′ X 9 ′ ( 23 cm x 23 cm )
- Kamera foto udara yang akan digunakan
- Besarnya overlap umumnya 60 % atau 80 %
- Besarnya sidelap umumnya 25 %  5 %

2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesawat terbang untuk


pemotretan udara adalah :
a. Kemampuan ketinggian
b. Kecepatan ( maksimum / minimum )
c. Daya jelajah
d. Kestabilan
e. Beban
f. Kebutuhan take-off dan landing

Pemetaan Fotogrametri 56
Perencanaan Pemotretan Udara

3. Beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam pelaksanaan pemotretan


udara di lapangan adalah :

a. Premark harus sudah selesai seluruhnya di lapangan sebelum


dilaksanakannya pemotretan, dan premark tersebut harus tampak pada
foto hasil pemotretan.
b. Pemotretan dilaksanakan ketika tinggi matahari tidak lebih dari 25 °, atau
pada pagi hari antara pukul 07.00 – 10.00 dan sore hari antara pukul
14.00 – 16.00 waktu setempat.
c. Jumlah awan dari setiap foto hasil pemotretan yang diperkenankan
umumnya tidak boleh lebih dari 5 %. Oleh karena itu pemotretan udara
hanya dilaksanakan apabila keadaan cuaca di daerah pemotretan benar-
benar bersih dan terang, tanpa awan di bawah ketinggian terbang
pemotretan.
d. Pengaturan tinggi terbang untuk pemotretan dilakukan dengan cara
mengusahakan bacaan altimeter tetap kedudukan yang telah ditentukan.
Variasi tinggi terbang yang diperkenankan umumnya antara ( 95 – 105 ) %
dari tinggi terbang yang direncanakan.

4. Penyelesaian :
a. Hitungan rencana tinggi terbang pada pemotretan udara :
Skala foto udara dinyatakan sebagai berikut :
f
Skala foto udara =
H – hrata
151,79 mm
1 : 10.000 =
H – 300 m
H – 300 m = 151,79 mm X 15.000
H = (2276,8 + 300 ) m = 2576,8 m
Tinggi terbang = H = 2576,8 m diatas MSL.

b. Hitungan basis udara pemotretan udara (B) :

Pemetaan Fotogrametri 57
Perencanaan Pemotretan Udara

Besarnya S = 23 cm X 15.000 = 3.450 m


Basis udara = B = S ( 1 - p ) = 3.450 ( 1 - 60 % ) = 1.380 m

c. Hitungan jarak jalur pemotretan udara (A) :


Jarak antar 2 jalur = A = S ( 1 - q ) =3.450 ( 1 – 25 % ) = 2.587,5 m

d. Hitungan jumlah total foto udara yang diperlukan pada pemotretan udara :
Fa = 40 km X 30 km = 1.200 km2
Fn = A X B = 1,38 km2 X 2,5875 km = 3,571 km2
Fa 1.200 km2
n = = = 337 buah.
Fn 3,571 km2
DAFTAR PUSTAKA
1. Avery, T. Eugene, 1990, ” Penafsiran Potret Udara”, Akademika Pressindo,
Jakarta.
2. Brinker, Russel C and Wolf, Paul R., 1997, ” Dasar-Dasar Pengukuran
Tanah ”, Erlangga, Jakarta.
3. Ligterink, G.H, ”Dasar-Dasar Fotogrametri – Interpretasi Foto Udara ”, UI
– Press, Jakarta, 1987.
4. Moffit, F.H., and Mikhail, E.M., 1980, ” Photogrammetry”, Third Edition,
Harper Co, USA.
5. Sosrodarsono, Suyono., dan Takasaki Matayoshi, 1981, ” Pengukuran
Topografi dan Teknik Pemetaan ”, Pradyana Paramita, Jakarta.
6. Wolf, Paul R., 1974, ” Element of Photogrametry ”, Mc. Graw Hill
Kagakusha Ltd, Tokyo, Japan.

SENARAI
1. Pada pekerjaan pemetaan fotogrametri diperlukan adanya pemotretan
udara dengan menggunakan pesawat terbang, film dan kamera udara
dengan fokus tertentu. Foto udara yang diperoleh dari pemotretan udara
selain untuk keperluan untuk pemetaan fotogrametri dapat juga digunakan
untuk interpretasi foto yang akan akan menghasilkan data kwalitatif.

Pemetaan Fotogrametri 58
Perencanaan Pemotretan Udara

2. Untuk keperluan perencanaan pemotretan udara, terlebih dahulu harus


ditentukan data skala foto udara, overlap dan sidelap foto udara. Besarnya
overlap berkisar 60 % sampai 80 %, sedangkan besarnya sidelap berkisar 25
% sampai 30 %.
3. Untuk keperluan perencanaan pemotretan udara, maka harus dihitung :
Basis udara ; jarak antara dua jalur pemotretan udara ; jumlah foto setiap
jalur pemotretan ; jumlah jalur pemotretan udara dan banyaknya foto untuk
seluruh areal pemotretan udara.

Pemetaan Fotogrametri 59