Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Anemia.

Anemia adalah suatu kondisi tubuh yang terjadi ketika sel-sel darah merah (eritrosit) dan/atau
Hemoglobin (Hb) yang sehat dalam darah berada dibawah nilai normal (kurang darah).
Hemoglobin adalah bagian utama dari sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen. Jika
seseorang kekurangan sel darah merah, atau hemoglobin yang normal, maka sel-sel dalam tubuh
tidak akan mendapatkan oksigen yang cukup, akibatnya tumbullah gejala anemia.

Gejala anemia seperti lemah dan lesu terjadi karena organ-organ tidak mendapatkan apa yang
mereka butuhkan untuk berfungsi dengan baik, yaitu oksigen. Dalam masyarakat kita anemia
dikenal dengan istilah kurang darah. Kurang darah (anemia) ini berbeda dengan darah rendah.
Darah rendah merupakan rendahnya tekanan darah (baca : Tekanan Darah Rendah), sedangkan
anemia adalah kurangnya sel darah merah atau hemoglobin seperti telah disebutkan di atas. Hal
ini sengaja saya perjelas disini karena saya masih sering menemukan pasien yang salah dalam
meng arti kan Anemia (kurang darah).

Penyebab Anemia

Ada ber macam macam Penyebab Anemia sesuai dengan jenis anemianya dan terdapat lebih dari
400 jenis anemia, yang secara garis besar dibagi menjadi tiga kelompok: Anemia yang
disebabkan oleh kehilangan darah Anemia yang disebabkan oleh penurunan produksi sel darah
merah Anemia yang disebabkan oleh kerusakan sel darah merah … mari kita bahas satu persatu
:D

Penyebab Anemia Karena Kehilangan Darah

Sel darah merah dapat hilang ketika seseorang mengeluarkan darah atau berdarah oleh sebab
apapun seperti kecelakaan, terluka, dsb. Namun perdarahan dapat terjadi perlahan-lahan selama
jangka waktu yang panjang, dan adakalanya tidak terdeteksi. Ini disebut sebagai pendarahan
kronis yang biasanya disebabkan oleh : Penyakit pencernaan seperti maag, wasir, gastritis
(radang lambung), dan kanker (Baca: BAB Berdarah) Penggunaan obat anti-inflamasi (OAINS)
seperti aspirin atau ibuprofen, yang dapat menyebabkan gastritis dan perdarahan saluran cerna.
Menstruasi dan melahirkan pada wanita, terutama jika perdarahan menstruasi yang berlebihan

Penyebab Anemia karena Kurangnya Produksi Sel Darah Merah

Anemia bisa terjadi karena kurangnya kuantitas dan kualitas sel darah merah, yakni kurangnya
produksi sel darah merah atau terganggunya pembentukan hemoglobin. Selain itu dapat pula
terbentuk sel darah merah dan hemoglobin yang tidak bagus sehingga fungsinya tidak optimal.
Penyebab anemia jenis ini biasanya terkait dengan kekurangan mineral dan vitamin yang
dibutuhkan dalam memproduksi sel darah merah dan hemoglobin. Kondisi yang terkait dengan
penyebab anemia ini antara lain : Anemia sel sabit Anemia defisiensi besi Kekurangan vitamin
B12, Asam Folat Masalah Sumsum tulang dan stem cell Kondisi kesehatan lain

Penyebab Anemia Karena Rusaknya Sel Darah Merah

Ketika sel-sel darah merah rapuh dan tidak dapat menahan stres rutin dari sistem peredaran
darah, maka dapat pecah secara prematur, sehingga menyebabkan anemia hemolitik. Anemia
hemolitik dapat hadir pada saat lahir atau berkembang kemudian. Kadang-kadang tidak diketahui
penyebabnya. Penyebab anemia hemolitik yang telah diketahui antara lain: Kondisi yang
diwariskan (diturunkan), seperti anemia sel sabit dan talasemia Stres seperti infeksi, obat-obatan,
racun ular atau laba-laba, atau makanan tertentu Racun dari penyakit hati lanjut (liver kronis)
atau penyakit ginjal Serangan yang tidak tepat oleh sistem kekebalan tubuh (disebut penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir, ketika itu terjadi pada janin yang dikandung wanita hamil)
Cangkok vaskular, katup jantung prostetik, tumor, luka bakar parah, paparan bahan kimia,
hipertensi berat, dan gangguan pembekuan darah. Dalam kasus yang jarang terjadi, pembesaran
limpa dapat menjebak sel darah merah dan menghancurkan mereka sebelum waktunya beredar
habis.

Faktor Risiko Anemia


Berbeda dengan penyebab anemia, fakor risiko berikut ini meningkatkan peluang seseorang
untuk terkena anemia. Kekurangan Vitamin. Kekurangan zat besi, vitamin B-12 dan asam folat
meningkatkan resiko anemia. Gangguan usus. Gangguan usus akan mengganggu penyerapan
nutrisi – seperti penyakit Crohn dan penyakit celiac – akibatnya dapat meningkatkan risiko
anemia. Menstruasi. Wanita yang masih memiliki menstruasi risiko anemia nya lebih besar
daripada laki-laki dan wanita pascamenopause. Karena menstruasi menyebabkan hilangnya sel
darah merah Kehamilan. Ibu hamil memiliki risiko anemia kekurangan zat besi karena zat besi
harus melayani peningkatan volume darah serta pembentukan hemoglobin janin. Lebih lanjut
baca: Anemia Pada Ibu Hamil Penyakit kronis. Penyakit kronis seperti kanker, gagal ginjal atau
hati, dll. Biasanya anemia defisiensi besi. Riwayat keluarga memiliki penyakit anemia seperti
anemia sel sabit. Faktor-faktor lain. Riwayat infeksi tertentu, penyakit darah dan gangguan
autoimun (baca: Penyakit Lupus), alkoholisme, paparan bahan kimia beracun, dan penggunaan
beberapa obat dapat mempengaruhi produksi sel darah merah dan menyebabkan anemia. Ciri-
ciri atau Gejala Anemia ( Kurang Darah ) Seseorang yang mengalami anemia bisanya memiliki
ciri-ciri sering terlihat sangat pucat dan mungkin juga mengalami gejala anemia yang lain,
seperti : Kelelahan Lemah dan cepat capek Mudah mengantuk Sakit Kepala Tangan dan kaki
dingin Pingsan Pusing, terutama ketika orang tersebut berdiri Sesak napas, terutama pada saat
beraktivitas Detak jantung cepat atau jantung berdebar, terutama pada saat beraktivitas. Nyeri
dada Penurunan konsentrasi dan daya ingat Namun, gejala anemia terkadang tidak jelas,
terutama pada orang muda atau secara fisik terlihat sehat, padahal tingkat hemoglobin bisa jatuh
secara signifikan tanpa menunjukkan gejala anemia sama sekali. Dalam kasus lain, gejala anemia
dapat berkembang perlahan-lahan selama beberapa bulan atau tahun. Kapan Harus Ke Dokter ?
Jika Kamu mengalami beberapa gejala anemia seperti diatas sebaiknya periksakan diri ke dokter,
agar diperiksa lebih lanjut apakah benar kamu mengalami anemia atau penyakit lain yang
memiliki gejala yang mirip. Atau ketika Kamu merasa sehat tanpa gejala anemia, namun saat
akan donor darah, biasanya kan diperiksa dulu kadar hemoglobin nya, eh ternyata Hb rendah
maka kamu tidak boleh donor dan dianjurkan berobat ke dokter. Untuk men diagnosis anemia,
dokter akan merekomendasikan:

Pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan Jantung (frekuensi detak jantung, irama jantung), paru-paru (pernafasan), hati dan
limpa. Pemeriksaan darah lengkap (CBC). Pemeriksaan darah lengkap (CBC = complete blood
count) digunakan untuk menghitung jumlah sel-sel darah merah, kekentalan darah (hemtokrit),
Hemoglobin (Hb). Nilai Normal (acuan) Dewasa Nilai normal hematokrit pria = 38,8 – 50
persen. Wanita = 34,9 – 44,5 persen. Nilai normal hemoglobin (Hb) Pria = 13,5-17,5 gram per
desiliter. Wanita = 12-15,5 gram per desiliter. Pemeriksaan ukuran dan bentuk sel-sel darah
merah. Beberapa sel darah merah juga dapat diperiksa ukurannya, bentuk dan warna.
Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan diagnosis. Sebagai contoh, pada anemia defisiensi
besi, sel darah merah lebih kecil dan lebih pucat warnanya dibanding normal (anemia hipokrom
mikrositer). Dalam kasus anemia defisiensi vitamin, sel darah merah berukuran besar dan
jumlahnya sedikit (anemia megaloblastik). Itulah beberapa hal yang terkait dengan anemia atau
kurang darah, mulai dari pengertian, penyebab, faktor risiko, dan gejala anemia. salam sehat :)
ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA BAYI DAN
ANAK
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah defisiensi nutrien tersering pada anak di
seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini
disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita.

Secara epidemiologi, prevalens tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi dan awal masa
kanak-kanak diantaranya karena terdapat defisiensi besi saat kehamilan dan percepatan
tumbuh masa kanak-kanak yang disertai rendahnya asupan besi dari makanan, atau
karena penggunaan susu formula dengan kadar besi kurang. Selain itu ADB juga banyak
ditemukan pada masa remaja akibat percepatan tumbuh, asupan besi yang tidak adekuat
dan diperberat oleh kehilangan darah akibat menstruasi pada remaja puteri. Data SKRT
tahun 2007 menunjukkan prevalens ADB. Angka kejadian anemia defisiensi besi (ADB)
pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%.[i] Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anak
balita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%.

Peran zat besi dalam tubuh


Fungsi zat besi yang paling penting adalah dalam perkembangan system saraf yaitu
diperlukan dalam proses mielinisasi, neurotransmitter, dendritogenesis dan metabolisme
saraf. Kekurangan zat besi sangat mempengaruhi fungsi kognitif, tingkah laku dan
pertumbuhan seorang bayi. Besi juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga
mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampuan bekerja terutama pada remaja. Bila
kekurangan zat besi terjadi pada masa kehamilan maka akan meningkatkan risiko perinatal
serta mortalitas bayi.

Gejala dan penyebab anemia defisiensi besi


Gejala yang paling sering ditemukan adalah pucat yang berlangsung lama (kronis) dan
dapat ditemukan gejala komplikasi, a.l. lemas, mudah lelah, mudah infeksi, gangguan
prestasi belajar, menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan gangguan perilaku.

Penyebab defisiensi besi menurut umur

Bayi kurang dari 1 tahun

1. Cadangan besi kurang, a.l. karena bayi berat lahir rendah, prematuritas, lahir
kembar, ASI ekslusif tanpa suplementasi besi, susu formula rendah besi,
pertumbuhan cepat dan anemia selama kehamilan.
2. Alergi protein susu sapi
Anak umur 1-2 tahun

1. Asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan tambahan atau minum susu
murni berlebih.
2. Obesitas
3. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis.
4. Malabsorbsi.

Anak umur 2-5 tahun

1. Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang mengandung Fe jenis heme atau
minum susu berlebihan.
2. Obesitas
3. Kebutuhan meningkat karena infeksi berulang / kronis baik bakteri, virus ataupun
parasit).
4. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan (divertikulum Meckel / poliposis dsb).

Anak umur 5 tahun-remaja

1. Kehilangan berlebihan akibat perdarahan(a.l infestasi cacing tambang) dan


2. Menstruasi berlebihan pada remaja puteri.

Menangani anemia defisiensi besi


Penanganan anak dengan anemia defisiensi besi yaitu :

1. Mengatasi faktor penyebab.


2. Pemberian preparat besi

Oral

1. Dapat diberikan secara oral berupa besi elemental dengan dosis 3 mg/kgBB
sebelum makan atau 5 mg/kgBB setelah makan dibagi dalam 2 dosis.
2. Diberikan sampai 2-3 bulan sejak Hb kembali normal
3. Pemberian vitamin C 2X50 mg/hari untuk meningkatkan absorbsi besi.
4. Pemberian asam folat 2X 5-10 mg/hari untuk meningkatkan aktifitas eritropoiesis
5. Hindari makanan yang menghambat absorpsi besi (teh, susu murni, kuning telur,
serat) dan obat seperti antasida dan kloramfenikol.
6. Banyak minum untuk mencegah terjadinya konstipasi (efek samping pemberian
preparat besi)

Parenteral
Indikasi:

1. Adanya malabsorbsi
2. Membutuhkan kenaikan kadar besi yang cepat (pada pasien yang menjalani dialisis
yang memerlukan eritropoetin)
3. Intoleransi terhadap pemberian preparat besi oral

Cara mencegah anemia defisiensi besi


Pendidikan

Meningkatkan pengetahuan masyarakat :

1. Tentang gizi dan jenis makanan yang mengandung kadar besi yang tinggi dan
absorpsi yang lebih baik misalnya ikan, hati dan daging.
2. Kandungan besi dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi tetapi
penyerapan/bioavailabilitasnya lebih tinggi (50%). Oleh karena itu pemberian ASI
ekslusif perlu digalakkan dengan pemberian suplementasi besi dan makanan
tambahan sesuai usia.
3. Penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya infeksi bakteri / infestasi parasit sebagai salah satu penyebab defisiensi
besi.
ANEMIA PADA REMAJA DAN CARA MENGATASINYA
Faktor utama penyebab anemia adalah asupan zat besi yang kurang. Sekitar dua per tiga zat besi
dalam tubuh terdapat dalam sel darah merah hemoglobin. Faktor lain yang berpengaruh terhadap
kejadian anemia antara lain gaya hidup seperti merokok, minum minuman keras, kebiasaan
sarapan pagi, sosial ekonomi dan demografi, pendidikan, jenis kelamin, umur dan wilayah.
Wilayah perkotaan atau pedesaan berpengaruh melalui mekanisme yang berhubungan dengan
ketersediaan sarana fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan yang pada gilirannya
berpengaruh pada pelayanan kesehatan dan asupan zat besi.

Remaja laki-laki maupun perempuan dalam masa pertumbuhan membutuhkan energi, protein
dan zat-zat gizi lainnya yang lebih banyak dibanding dengan kelompok umur lain. Pematangan
seksual pada remaja menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat. Kebutuhan zat besi remaja
perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki, karena dibutuhkan untuk mengganti zat besi
yang hilang pada saat menstruasi.

Anemia dapat menyebabkan lekas lelah, konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi belajar
rendah dan dapat menurunkan produktivitas kerja. Di samping itu, anemia juga menurunkan
daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi. Keadaan ini berpengaruh terhadap konsentrasi
dan prestasi belajar serta memengaruhi produktifitas kerja di kalangan remaja. Mengingat
dampak yang terjadi sebagai akibat anemia sangat merugikan untuk masa mendatang, maka
usaha pencegahan perlu dilakukan.

Untuk melakukan upaya pencegahan dan perbaikan yang optimum diperlukan informasi yang
lengkap dan tepat tentang status gizi pada remaja, serta faktor yang memengaruhinya.

Studi morbiditas pada SKRT 2001 mengumpulkan data mengenai faktor-faktor risiko yang
mencakup kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kebiasaan sarapan pagi, penggunaan waktu
untuk aktivitas fisik, hasil pengukuran antropometri dan kadar hemoglobin. Artikel ini
menyajikan hasil analisis SKRT 2001 dengan tujuan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap anemia pada remaja.
Remaja memiliki risiko tinggi mengalami anemia karena defisiensi zat besi..

Ini disebabkan memasuki fase remaja, tubuh tumbuh semakin pesat yang disertai berbagai
perubahan hormonal menjelang fase kedewasaan. Oleh karena itu, tubuh membutuhkan sejumlah
besar nutrisi, termasuk zat besi, yang terutama digunakan oleh darah untuk mengangkut oksigen.

Mudah Mengantuk, Gejala Anemia

Zat besi yang tidak mencukupi akan memicu anemia. Remaja perempuan umumnya memiliki
risiko lebih tinggi terkena anemia dikarenakan remaja perempuan yang telah mulai mengalami
menstruasi bulanan sehingga asupan makanan yang rendah zat besi dapat memicu anemia.
Anemia juga berpotensi terjadi pada remaja vegetarian. Salah satu sumber utama zat besi adalah
daging merah. Berpantang memakan daging pada vegetarian akan mengurangi jumlah zat besi
yang masuk ke tubuh.

Gejala Anemia akibat Defisiensi Zat Besi

Gejala-gejala anemia tidak selalu bisa diamati. Bahkan ketika ada gejala yang terlihat, sering
gejala tersebut diabaikan. Gejala yang paling umum dari anemia adalah sebagai berikut:

1. Kelelahan atau kelemahan


2. Warna kulit pucat yang disebabkan oleh jumlah sel darah yang berkurang,
3. Kesulitan berkonsentrasi atau mengingat akibat kurangnya pasokan oksigen ke
otak.
4. Denyut nadi cepat yang disebabkan jantung berdetak lebih keras untuk memompa
lebih banyak oksigen ke dalam tubuh,
5. Napas pendek ketika berjalan atau naik tangga, dan
6. Sering mengalami sakit kepala.
Anemia ditandai pula dengan terjadinya mimisan mendadak yang kadang disertai sakit kepala.
Sayangnya, gejala-gejala ini juga dapat disebabkan oleh hal lain.
Perawatan Anemia Defisiensi Zat Besi
Saat seorang remaja didiagnosis anemia karena defisiensi zat besi, suplemen zat besi
kemungkinan besar akan diresepkan oleh dokter untuk jangka waktu tertentu. Dokter mungkin
juga akan merekomendasikan perubahan gaya hidup yang melibatkan diet dengan
memperbanyak konsumsi sayuran hijau tua, kacang-kacangan ,dan daging merah. Penderita
anemia juga harus berusaha mendapatkan setidaknya delapan jam tidur malam, yang merupakan
jumlah minimum yang disarankan untuk remaja yang sedang tumbuh

Anemia pada remaja yang tidak mendapat perhatian dan penanganan lebih lanjut dapat
mengakibatkan anemia berat. Berikut ini kita akan membahas lebih dalam lagi mengenai anemia
berat pada remaja:

Anemia Berat Pada Remaja

Masa remaja identik dengan masa ceria penuh canda, penuh semangat dan memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi dibanding masa sebelumnya. Segala sesuatu yang baru baginya menarik untuk
dipahami dan dipelajari. Itu semua bisa dijalani dengan catatan remaja tersebut tumbuh normal
tanpa gangguan kesehatan.

Pada usia ini terjadinya pubertas yaitu fase peralihan dari dunia anak anak ke dewasa yang
ditandai perubahan yang fisik dan psikis yang cukup menonjol. Secara umum orang yang
mengalami fase ini kelihatan bahagia nyaris tidak ada yang menjalani dengan duka nestapa.
Tetapi perlu diingat anemia tidak mengenal usia siapa saja bisa terkena termasuk remaja terlebih
lagi yang punya riwayat keluarga mengidap talasemia. Remaja yang terkena anemia akan
murung, kelihatan cepat lelah, letih, lesu dan kurang bergairah dalam beraktivitas sehari-hari.
Baginya masa remaja tidak ada bedanya dengan masa lainnya bahkan terasa menjemukan.
Sebelum membahas cara mengatasinya kita perlu identifikasi dahulu penyebab anemia tersebut.

Penyebab Anemia Berat pada Remaja

Anemia adalah suatu keadaan kekurangan kadar oksigen dalam darah yang terutama disebabkan
oleh kekurangan asupan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan Hemoglobin. Sebenarnya
anemia tidak mencerminkan penyakit seseorang hanya saja indikator bahwa seseorang
kekurangan Hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke berbagai jaringan tubuh. Pada remaja
puteri lebih rentan dan beresiko terkena anemia karena kebutuhan zat besinya 3 kali lipat,
mereka banyak keluar darah saat menstruasi.

Setelah diiventarisir penyebab Anemia Berat pada remaja adalah sebagai berikut :

1. Sedikit sekali makan makanan yang mengandung zat besi. Biasanya mereka jajan
di sekolah seadanya tanpa memperhitungkan komposisi gizi di dalamnya yang penting
kenyang . Kadang pagi juga tidak sarapan dengan alasan tidak keburu.
2. Diet ingin langsing. Remaja yang pertumbuhan fisiknya begitu pesat kaget
dengan badannya dan ingin kembali langsing dengan ikut program diet. Makanan yang
mengandung zat besi yang seharusnya dimakan diabaikan karena ingin langsing.
3. Semua orang setiap harinya kehilangan zat besi 0,6 mg yang dibuang melalui
feses atau kotoran, mau tidak mau zat besi yang terbuang harus digantikan dengan makan
nutrisi yang mengandung zat besi seperti sayur dan buah. Jarang makan sayuran hijau
pasti akan anemia.
4. Khusus remaja putri saat menstruasi kehilangan zat besi sebanyak 1,3 mg setiap
harinya sehingga kalau tidak diimbangi makanan akan merasa lemas, lesu dan uring-
uringan saat tersinggung sedikit saja.
5. Pendarahan ; ini peristiwa yang jarang terjadi, mungkin kalau mengalami
kecelakaan dan darah banyak keluar maka akan mengalami anemia.
6. Faktor genetika atau keturunan; Seorang remaja yang orangtuanya pernah
mengalami anemia akan beresiko lebih besar terkena anemia juga.

Tips Cara Alami Mengatasi Anemia Berat pada Remaja

Menu Atasi Anemia


Untuk mengatasi masalah anemia pada remaja tidak semudah
membalikkan telapak tangan apalagi kalau sudah masuk kategori berat yang ditandai dengan
wajah dan mata pucat, lemas, lesu dan kurang gairah. Perlu waktu 1-2 minggu untuk
mendapatkan kondisi sel darah merah dan Hemoglobin yang cukup sesuai standar.
Berikut ini adalah Tips Cara Alami Mengatasi Anemia Berat pada Remaja berdasarkan
pengalaman medis maupun pengalaman pribadi penderita anemia:

1. Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan asam folat seperti
sayuran hijau, kacang-kacangan, buah-buahan dan daging segar terutama saat remaja
masa menstruasi agar pengeluaran zat besi diimbangi asupan zat besi kalau bisa asupan
zat besinya lebih banyak.
2. Hindari makan apel dan belimbing
3. Tidak usah tidur terlalu malam karena kurang tidur akan menyebabkan
menurunnya nafsu makan dan akhirnya kurang asupan makanan terutama zat besi.
4. Rubah kebiasaan hidup menjadi pola hidup teratur, makan teratur dan gizi
seimbang terutama mengandung zat besi untuk mengatasi anemia.
5. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak stress, apapun masalah yang dihadapi kalau
bisa selesaikan sendiri kalau tidak konsultasi sama orang tua atau guru, kalau tidak akan
berhubungan juga dengan menurunnya selera makan.
6. Tidak usah ingin diet andaikan mengalami kelebihan berat badan biarkan saja apa
adanya yang penting sehat . Kalau memaksakan diet akan menghambat masuknya nutrisi
yang diperlukan termasuk juga zat besi.
ANEMIA PADA LANSIA

Anemia pada orang tua sering kali terjadi dan sering multifactorial, kegagalan dalam
mengevaluasi anemia pada orang tua menyebabkan lambatnya penegakan diagnosis. Anemia
pada Geriatri yang tidak diobati berkaitan dengan resiko morbiditas dan mortalitas yang lebih
besar dan munculnya status gangguan fungsional, sehingga pada pengobatan anemia pada orang
tua dapat meningkatkan status kesehatan.
Anemia sebenarnya bukanlah merupakan diagnosa akhir dari sesuatu penyakit, akan tetapi
merupakan hasil dari berbagai gangguan dan hampir selalu membutuhkan evaluasi lanjutan atau
boleh juga dikatakan bahwa anemia merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit dasar.
Ada juga orang yang mengatakan bahwa anemia merupakan ekspresi kompleks gejala klinis
suatu penyakit yang mempengaruhi mekanisme patogenesis gangguan eritropoesis (produksi
eritrosit), perdarahan, atau penghancuran eritrosit.
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen
tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang
mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah. Anemia adalah istilah yang
menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di
bawah normal.
Insidensi anemia bervariasi tetapi diperkirakan sekitar 30% penduduk dunia menderita anemia,
dimana prevalensi tertinggi berada di negara–negara sedang berkembang.

DEFINISI
Seseorang dikatakan menderita anemia apabila konsentrasi hemoglobin pada orang tersebut lebih
rendah dari nilai normal hemoglobin yang sesuai dengan jenis kelamin dan umur dari orang
tersebut.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO: World Health Organization) telah ditetapkan batasan
anemia yaitu untuk wanita apabilah konsentrasi hemoglobinnya di bawah 12 gr/dL (7,5 mmol/L)
dan untuk pria apabila konsentrasi hemoglobinnya di bawah 13 gr / dL (8,1 mmol / L).
Klasifikasi Anemia
a. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi eritrosit
Anemia berdasarkan morfologi eritrosit dibagi atas: mikrositik–hipokromik (MCV < 80 fl,
MCHC < 30 g/l), normositik–normokromik (MCV 80–100 fl, MCHC 30 – 35 g/l) dan
makrositik–normokromik (MCV > 100 fl, MCHC > 35 g/l).
Keterangan:
MCV: Volume korpuskuler rata–rata
MCHC: Konsentrasi hemoglobin korpuskuler rata–rata
b. Klasifikasi anemia berdasarkan berat–ringan
Anemia berdasarkan berat ringannya dibagi atas 3 tingkatan yaitu ringan, sedang, dan berat.
c. Mekanisme terjadinya anemia
Ada beberapa mekanisme untuk terjadinya anemia, yaitu:
1. Kehilangan darah, misalnya perdarahan,
2. Menurunnya umur hidup sel darah merah (eritrosit), misalnya anemia hemolitik,
3. Kelainan pada pembentukan sel darah merah (eritrosit), misalnya kelainan sintesis
hemoglobin,
4. Berkumpul dan dihancurkannya eritrosit di dalam limpa yang membesar,
5. Meningkatnya volume plasma, misalnya kehamilan, splenomegali.
d. Tanda dan gejala anemia berdasarkan berat–ringannya anemia
e. Hubungan anemia dengan lansia
Anemia merupakan salah satu gejala sekunder dari sesuatu penyakit pada lansia. Anemia sering
dijumpai pada lansia dan meningkatnya insidensi anemia dihubungkan dengan bertambahnya
usia telah menimbulkan spekulasi bahwa penurunan hemoglobin kemungkinan merupakan
konsekuensi dari pertambahan usia. Tetapi ada 2 alasan untuk mempertimbangkan bahwa anemia
pada lansia merupakan tanda dari adanya penyakit, yaitu:
-Kebanyakan orang–orang lansia mempunyai jumlah sel darah merah normal, demikian juga
dengan hemoglobin dan hematokritnya
-Kebanyakan pasien – pasien lansia yang menderita anemia dengan hemoglobin < 12 gr / dL,
penyakit dasarnya telah diketahui.
Meningkatnya perasaan lemah, lelah dan adanya anemia ringan janganlah dianggap hanya
sebagai manifestasi dari pertambahan usia. Oleh karena keluhan-keluhan tersebut di atas
merupakan gejala telah terjadinya anemia pada lansia. Selain gejala–gejala tersebut di atas,
palpitasi, angina dan klaudikasio intermiten juga akan muncul oleh karena biasanya pada lansia
telah terjadi kelainan arterial degeneratif. Muka pucat dan konjungtiva pucat merupakan tanda
yang dapat dipercayai bahwa seorang lansia itu sebenarnya telah menderita anemia.
Pada lansia penderita anemia berbagai penyakit lebih mudah timbul dan penyembuhan penyakit
akan semakin lama. Yang mana ini nantinya akan membawa dampak yang buruk kepada orang–
orang lansia. Dari suatu hasil studi dilaporkan bahwa laki–laki lansia yang menderita anemia,
resiko kematiannya lebih besar dibandingkan wanita lansia yang menderita anemia. Juga
dilaporkan bahwa lansia yang menderita anemia oleh karena penyakit infeksi mempunyai resiko
kematian lebih tinggi.

ETIOLOGI
Anemia pada lanjut usia dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain
genetik, defisiensi vitamin, defisiensi besi, dan penyakit lain. Penyebab anemia yang paling
umum pada lanjut usia adalah penyakit kronik, termasuk inflamasi kronikkeganasan,
dan infeksi kronik. Sedangkan Menurut hasil studi NHANES III (National Health and Nutrition
Examination Study), terdapat 3 penyebab utama anemia pada usia lanjut , yaitu :
1. Defisiensi nutrisi / kehilangan darah
2. Inflamasi / penyakit kronik
3. Anemia yang tidak dapat dijelaskan (unexplained)

Proses menua akan berjalan searah dengan menurunnya kapasitas fungsional, baik pada tingkat
seluler maupun tingkat organ. Menurunnya kapasitas untuk berespon terhadap lingkungan
internal yang berubah cenderung membuat orang usia lanjut sulit untuk memelihara kestabilan
status fisik. Lansia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan
makin banyaknya distorsi metabolik dan struktural yang disebut sebagai “penyakit
degeneratif“. Dengan banyaknya distorsi dan penurunan cadangan sistem fisiologis akan
terjadi pula gangguan terhadap sistem hematopoiesis.

EPIDEMIOLOGI
Salah satu masalah kesehatan yang sering diderita orang–orang lansia yaitu anemia,
dan ini merupakan kelainan hematologi yang paling sering dijumpai pada lansia. Anemia
bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri (disease entity), tetapi merupakan gejala berbagai
macam penyakit dasar (underlying disease). Prevalensi anemia pada pria lanjut usia adalah 6-
30% , sedangkan pada wanita lanjut usia adalah 10-22%12. Akan tetapi, prevalensi tersebut
meningkat secara signifikan pada usia di atas 75 tahun. Anemia pada lansia di atas 85
tahun juga diasosiasikan dengan meningkatnya mortalitas dan meningkatnya risiko
mortalitas tersebut bahkan meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan lanjut usia
dengan kadar hemoglobin yang normal.
Prevalensi anemia pada lansia adalah sekitar 8–44%, dengan prevalensi tertinggi pada laki–laki
usia 85 tahun atau lebih. Dari beberapa hasil studi lainnya dilaporkan bahwa prevalensi anemia
pada laki–laki lansia adalah 27–40% dan wanita lansia sekitar 16–21%.
Penyebab anemia yang paling sering pada lansia yaitu penyakit kronik. Manifestasi
penyakit kronik pada lansia seringkali berbeda dengan penyakit kronik pada usia muda.
Prevalensi dan akumulasi penyakit kronik yang meningkat pada lansia, sering memberikan gejala
yang mengaburkan atau menutupi gejala penyakit atau masalah akut yang baru dialami karena
adanya tumpang tindih antara tanda dan gejala penyakit kronik dan akut. Dengan besarnya
prevalensi anemia penyakit kronik pada lansia, dapat dikatakan bahwa anemia menjadi
gejala yang paling sering timbul pada lansia dengan penyakit kronik. Namun, karena
frekuensinya yang demikian sering, anemia seringkali tidak mendapat perhatian dan dilewati
oleh para dokter di praktek klinik.

PATOFISIOLOGI
Ada beberapa mekanisme yang mendasari terjadinya anemia pada usila, yaitu:
a. Penurunan kinerja sumsum tulang: sumsum tulang, meskipun sepanjang hidup selalu dinamis
dalam memproduksi sel darah merah dan mereplikasi diri (self-replication) untuk menunjang
fungsinya, sumsum tulang tetap saja melalui periode penurunan fungsi secara fisiologis ke tahap
yang drastis. Dimana periode ini disebut tahap inovulasi sumsum tulang. Pada tahap ini yang
mencolok ialah penurunan daya replikasi sumsum tulang sehingga baik stroma sumsum tulang
yang digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel-sel induk (pluripoten) maupun
kecepatan diferensiasi sel-sel progenitor untuk mencapai maturitas, akan menurun. Dampak
globalnya ialah terjadi penurunan sintesis sel darah merah. Hal inilah yang mendasari betapa
mudahnya seorang usila terkena onset anemia.
b. Penyakit kronis yang mendasari: adanya penyakit kronis pada seorang usila, mempercepat
dimulainya anemia. Di samping itu, dalam beberapa penelitian dikatakan bahwa faktor-faktor
pembekuan menurun seiring usia, juga sistem imunitas tubuh yang kian menurun, sehingga
mempersulit terjadinya suatu tahap penyembuhan. Penyakit kronis, yang notabenenya adalah
onset perdarahan, akan sulit disembuhkan pada kondisi usila dengan gangguan faktor pembekuan
dan imunitas. Perdarahan yang terjadi semakin lama, semakin kronis. Anemia yang terjadi
biasanya ialah anemia defisiensi besi akibat perdarahan kronis.
c. Penurunan sintesis eritropoietin: kemampuan ginjal dalam berbagai fungsinya akan terus
menurun seiring proses penuaan, termasuk kemampuannya dalam mensintesis eritropoietin.
Kompensasi tubuh hanya mampu menghasilkan 10 % eritropoietin apabila ginjal tidak
memproduksinya. Kekurangan eritropoietin yang merupakan faktor pertumbuhan sel darah
merah, mengakibatkan progenitor eritroid tidak berdiferensiasi menjadi sel darah merah.
Kekurangan sel darah merah mengakibatkan kekurangan hemoglobin, sehingga terjadi anemia.
d. Proses autoimun: kadangkala ada proses autoimun yang mendasari terjadinya anemia. Sel-sel
parietal lambung yang akibat proses autoimun mengalami atrofi, mengakibatkan lambung
menjadi tipis dengan infiltrasi sel plasma dan limfosit, sehingga berdampak pada penurunan
cadangan faktor intrinsik di parietal lambung. Dimana faktor intrinsik yang menurun di parietal
lambung ini mengakibatkan ileum sedikit menyerap vitamin B 12. Dampaknya terjadi anemia
megaloblastik (anemia pernisiosa).
e. Kurang intake: pada usila, penurunan nafsu makan secara fisiologis akan terjadi. Apabila
sampai ke periode tersebut, meskipun sedikit berpengaruh terhadap kurangnya intake atau
asupan, faktor ini masih dipertimbangkan karena faktor diet yang buruk tidak jarang
mengakibatkan anemia, terutama anemia defisiensi besi. Anemia yang disebabkan akibat kurang
nafsu makan sehingga kurang asupan, akan memperburuk percepatan tingginya nafsu makan lagi
karena anemia sendiri tidak hanya sebagai akibat dari kurang nafsu makan, tetapi juga sebagai
penyebab kurangnya nafsu makan. Hasilnya, keadaan ini menjadi suatu lingkaran setan.

MANIFESTASI KLINIS
Adapun gejala-gejala dari anemia adalah:
1. Lemah, lesu, pusing, mudah marah atau sulit konsentrasi.
2. Pucat terutama pada gusi dan kelopak mata atau bawah kuku.
3. Jantung berdebar nafas pendek.
4. Sariawan mulut atau lidah, bilur-bilur atau pendarahan tidak biasa.
5. Mati rasa atau kesemutan di daerah kaki.
6. Mual dan diare
DIAGNOSIS
Oleh sebab itu, dalam diagnosis anemia pada lansia tidaklah cukup hanya sampai kepada label
anemia saja, tetapi harus dipikirkan mengenai penyakit yang mendasarinya. Sehingga,
perlu dilakukan evaluasi lanjutan walaupun gejala klinis yang lain tidak ada.
PENATALAKSANAAN
Sebagian besar anemia disebabkan oleh karena kekurangan zat besi, penyebab lainnya
sangat kecil seperti kekurangan asam folat dan vitamin B12. Pada usia penyebab
kurangnya zat besi dapat beragam, tidak hanya karena kekurangan asupan zat besi tetapi
juga karena terganggunya proses penyerapan zat besi.
Komponen sel darah merah tidak boleh digunakan untuk mengobati anemia yang dapat
dikoreksi dengan obat-obatan spesifik seperti besi, vitamin B-12, asam folat, atau
erytropoetin.
Angka kejadian anemia pada usila dapat diturunkan melalui 3 langkah utama yaitu 1)
perubahan pola minum, 2) meningkatkan asupan lauk (protein hewani), dan 3)
meningkatkan asupan pauk (protein nabati).