Anda di halaman 1dari 11

Elektrodinamika 1

POTENSIAL DAN MEDAN

10.1 Perumusan Potensial


10.1.1 Potensial Scalar dan Vektor
Diketahui pada bab ini sangat bergantung pada persamaan
Maxwell sebagai berikut :
1
(i) ∇. 𝐸 = 𝜀 𝜌
0

(ii) ∇. 𝐵 = 0
𝜕𝐵
(iii) ∇ × 𝐸 = − 𝜕𝑡 ………………………. 10.1
𝜕𝐸
(iv) ∇ × 𝐵 = 𝜇0 𝐽 + 𝜇0 𝜀0 𝜕𝑡

Dalam elektrostatistik berlaku


∇ × 𝐸 = 0  𝐸 = −∇𝑉
Dalam elektrodinamika berlaku
∇×𝐸 ≠0
Ketidakberadaan medan magnet dituliskan secara matematis :
∇. 𝐵 = 0
𝐵 = ∇ × 𝐴 ……………………………………………………… 10.2

Jika diuraikan ke Hukum Faraday maka akan membentuk :


𝜕𝐵
∇×𝐸 =−
𝜕𝑡
𝜕
∇ × 𝐸 = − (∇ × 𝐴)
𝜕𝑡
Elektrodinamika 2

𝜕𝐵
∇ × (𝐸 + )=0
𝜕𝑡

Kuantitas dalam tanda kurung pada persamaan di atas dapat kita


nyatakan sebagai gradien dari suatu fungsi scalar.

𝜕𝐴
𝐸+ = −∇𝑉
𝜕𝑡
Sebagaimana yang didefinisikan pada kasus elektrostatik, atau kita
tuliskan dalam bentuk fungsi eksplisit dari 𝐸.
𝜕𝐴
𝐸 = −∇𝑉 − 𝜕𝑡 ……………………………………………………..10.3

𝜕𝐴
Dalam kasus static ( 𝜕𝑡 = 0)  𝐸 = −∇𝑉

Jika kita substitusikan persamaan (10.3) ke Hukum Gauss, kita akan


dapaatkan :
𝜌
∇. 𝐸 =
𝜀0

𝜕𝐴 𝜌
∇. (−∇𝑉 − )=
𝜕𝑡 𝜀0
∂(∇.A) 𝜌
∇2 V + = − 𝜀 ………………………………………………...10.4
∂t 0

yang menggantikan persamaan Poissin (kasus statik).

Dengan mensubstitusikan persamaan (10.2) dan (10.3) ke Hukum


Ampere dengan koreksi Maxwell, maka kita akan dapatkan :
𝜕𝐸
∇ × 𝐵 = 𝜇0 𝐽 + 𝜇0 𝜀0
𝜕𝑡
𝜕𝑉 𝜕 2𝐴
∇ × (∇ × 𝐴) = 𝜇0 𝐽 − 𝜇0 𝜀0 ∇ ( ) − 𝜇0 𝜀0
𝜕𝑡 𝜕𝑡 2
Elektrodinamika 3

Dengan bantuan vektor identitas :

∇ × (∇ × 𝐴) = ∇(∇. 𝐴) − ∇2 𝐴

Maka persamaan diatas menjadi :

2
𝜕𝑉 𝜕 2𝐴
∇(∇. 𝐴) − ∇ 𝐴 = 𝜇0 𝐽 − 𝜇0 𝜀0 ∇ ( ) − 𝜇0 𝜀0
𝜕𝑡 𝜕𝑡 2
𝜕2 𝐴 𝜕𝑉
(∇2 A − 𝜇0 𝜀0 ) − ∇ (∇. 𝐴 + 𝜇0 𝜀0 ( 𝜕𝑡 )) = −𝜇0 𝐽 ………….…10.5
𝜕𝑡 2

10.1.2 Transformasi Gauge

Persamaan (10.2) 𝐵 = ∇ × 𝐴dan persamaan (10.3) 𝐸 = −∇𝑉 −


𝜕𝐴
tidak secara unik mendefinisikan potensial, kita masih bebas
𝜕𝑡

memasukkan kondisi tambahan pada V dan A, selama tidak


menyebabkan perubahan pada B dan E.
(𝑉 ∙ 𝐴) → (𝑉′ ∙ 𝐴′)
𝐴′ = 𝐴 + 𝛼 dan 𝑉′ = 𝑉 + 𝛽
Karena 𝐴′ dan 𝐴 harus menghasilkan 𝐵 yang sama, maka
∇ × 𝛼 = 0 → 𝛼 = ∇𝜆
Dimana 𝜆 adalah sembarang skalar. Kedua potensial juga harus
memberikan 𝐸 yang sama. Sehingga haruslah :
𝜕𝛼 𝜕𝛼
∇𝛽 + = 0 atau ∇ (𝛽 + )=0
𝜕𝑡 𝜕𝑡

Suku-suku dalam tanda kurung tidak bergantung pada posisi


(boleh bergantung waktu); sebut saja suku-suku tersebut dengan (𝑡),
sehingga :
𝜕𝜆 𝜕𝐴
𝛽 + 𝜕𝑡 = 𝑘(𝑡) 𝛽 = − 𝜕𝑡 + 𝑘(𝑡)
Elektrodinamika 4

Kita dapat menyerab (𝑡) ke dalam 𝜆 dengan mendefinisikan 𝜆 yang baru


0
𝑙

yaitu 𝜆 + ∫0 𝑘(𝑡 ) 𝑑𝑡′. Ini tidak akan berpengaaruh terhadap gradien
dari 𝜆, sehingga akhirnya kita dapatkan :

𝐴′ = 𝐴 + ∇𝜆
𝜕𝜆
𝑉 ′ = 𝑉 − 𝜕𝑡 … ..………...………………………10.7

Dimana 𝜆 adalah fungsi gauge. Jadi, untuk setiap fungsi skalar 𝜆


dapat menambahkan ∇𝜆 pada 𝐴, yang menghasilkan secara
𝜕𝜆
pengurangan dari 𝑉, yang tidak mempengaruhi kuantitas duafisis 𝐸
𝜕𝑡

dan 𝐵. Transformasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur ∇ ∙ 𝐴.


Dalam kasus magnetostatik pemilihan ∇ ∙ 𝐴 = 0 lebih baik. Dalam
elektrodinamika akan banyak gauge yang digunakan tapi disini hanya
akan ditunjukkan dua gauge yang paling populer yaitu gauge Coulomb
dan gauge Lorentz.

10.1.3 Gauge Coulomb dan Gauge Lorentz

 Gauge Coulomb
∇. 𝐴 = 0…………………………………..….………………..10.8

Dengan menerapkan kondisi ini pada persamaan (10.4) diperoleh:

1
∇2 𝑉 = − 𝜀 𝜌 ………………………………………………….10.9
0

Ini merupakan persamaan Poisson, yang memiliki solusi :


1 𝜌
𝑉 = 4𝜋𝜀 ∫ 𝑟 𝑑𝜏 ………………………………………………10.10
0
Elektrodinamika 5

(pada persamaan di atas kita telah gunakan syarat batas 𝑉 = 0 di ~).


Keuntungan dari gauge Coulomb adalah bahwa potensial skalar
menjadi sederhana untuk dihitung. Dalam gauge Coulomb
persamaan ( 10.5) menjadi :

𝜕2 𝐴 𝜕𝑉
(∇2 A − 𝜇0 𝜀0 ) = 𝜇0 𝜀0 ∇ ( 𝜕𝑡 ) − 𝜇0 𝐽 ……………………10.11
𝜕𝑡 2

 Gauge Lorentz

𝜕𝑉
∇. 𝐴 = −𝜇0 𝜀0 𝜕𝑡 ………………………………………..……10.12

Identitas ini dimaksudkan untuk mengeliminasi suku tengah dalam


persamaan (10.5), sehingga:

𝜕2 𝐴
∇2 A − 𝜇0 𝜀0 = −𝜇0 𝐽……………………………..……..10.13
𝜕𝑡 2

Di bawah gauge Lorentz persamaan (10.4) menjadi:

𝜕2 𝑉 1
∇2 A − 𝜇0 𝜀0 = − 𝜀 𝜌………………………..…………..10.14
𝜕𝑡 2 0

Persamaan (10.13) dan (10.14) dapat ditulis menjadi:

⊡2 A = −𝜇0 𝐽
…………………………………..10.15
1
⊡2 V = − 𝜌
𝜀0
Dimana :
𝜕2
⊡2 = ∇2 − 𝜇0 𝜀0 adalah operator d’Alembertian.
𝜕𝑡 2
Elektrodinamika 6

10.2 Distribusi Kontinu


10.2.1 Potensial Mundur
Pada kondisi statis, persamaan berikut merupakan turunan dari
persamaan poisson:
1
∇2 𝑉 = − 𝜀 𝜌, ∇2 𝐴 = −𝜇0
0

Solusinya

Gambar 10.1.
1 𝜌(𝑟 ′ ) 𝜇 𝐽(𝑟 ′ )
𝑉(𝑟) = 4𝜋𝜖 ∫ 𝑑𝜏 ′ , 𝐴(𝑟) = 4𝜋0 ∫ 𝑑𝜏 ′ ………………10.17
0 𝓇 𝓇

di mana r, seperti biasa, adalah jarak dari sumber titik r’ ke r


medan titik. Sekarang, elektromagnetik berjalan dengan kecepatan
cahaya. Dalam kasus nonstatis, itu bukan status sumber sekarang yang
penting, melainkan kondisinya pada beberapa waktu tr sebelumnya
(disebut waktu mundur). karena harus menempuh jarak r, dengan
penghambat r / c:
𝓇
𝑡𝑟 ≡ 𝑡 − 𝑐 …………………………………………………….…10.18

Persamaan umum untuk sumber nonstatis adalah :


Elektrodinamika 7

1 𝜌(𝑟 ′ ,𝑡𝑟 ′ ) 𝜇 𝐽(𝑟 ′ ,𝑡𝑟 ′ )


𝑉(𝑟, 𝑡) = 4𝜋𝜖 ∫ 𝑑𝜏 ′ , 𝐴(𝑟, 𝑡) = 4𝜋0 ∫ 𝑑𝜏 ′ …….10.19
0 𝓇 𝓇

Disini 𝜌(r’ , tr) adalah rapat muatan yang umum di titik r’ pada
waktu mundur tr . Integran yang dievaluasi pada waktu lampau, ini
disebut potensial mundur. Kita harus menunjukkan bahwa ini
memenuhi persamaan gelombang homogen dan memenuhi kondisi
Lorentz. Peringatan bahwa jika Anda menggunakan alasan yang sama
pada medan, Anda akan mendapatkan jawaban yang sepenuhnya
salah.

1 𝜌(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 ′ ) ′ 𝜇0 𝐽(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 ′ ) ′
𝐸(𝑟, 𝑡) ≠ ∫ 𝑑𝜏 , 𝐵(𝑟, 𝑡) ≠ ∫ 𝑑𝜏
4𝜋𝜖0 𝓇 4𝜋 𝓇

Dalam menghitung Laplacian dari V (r, t), titik penting yang


diperhatikan adalah bahwa integran tergantung pada r dalam dua
tempat: eksplisit, dalam denominator (𝓇 = |𝑟 − 𝑟′|) dan secara imlisit
𝓇
melalui pembilang 𝑡𝑟 = 𝑡 − 𝑐 sehingga demikian :

1 1 1
∇𝑉 = 4𝜋𝜖 ∫ [(∇𝜌) 𝓇 + 𝜌∇ (𝓇)] 𝑑𝜏 ′ ………………...….………(10.20)
0

1
∇𝜌 = 𝜌̇ ∇̇ 𝑡𝑟 = − 𝑐 𝜌̇ ∇ 𝓇 ………….……………………….……..(10.21)

𝓇̂
Sekarang ∇𝓇 = 𝓇̂ dan ∇(1⁄𝓇 ) = − 𝓇 2 , jadi :

1 𝜌̇ 𝓇̂ 𝓇̂
∇𝑉 = 4𝜋𝜖 ∫ [− 𝑐 𝓇 + 𝜌 (𝓇 2 )] 𝑑𝜏 ′ ………………….…….….…(10.22)
0

Mengambil divergensi :
Elektrodinamika 8

1 1 𝓇̂ 𝓇̂ 𝓇̂
∇2 𝑉 = ∫ {− [ ] − [ 2 (∇𝜌) + 𝜌∇ 2 ]} 𝑑𝜏 ′
4𝜋𝜖0 𝑐 𝓇 𝓇 𝓇
Tetapi:
̇ 1 1
∇𝜌 = − 𝜌̈ ∇𝓇 = − 𝜌̈ ∇𝓇̂
𝑐 𝑐
Masukkan persamaan :
𝓇̂ 1
∇( ) = 2
𝓇 𝓇
Sedangkan:
𝓇̂
∇( ) = 4πδ3 (𝓇)
𝓇2
Jadi :

2
1 1 𝜌̈ 3 (𝓇)] ′
1 𝜕 2𝑉 1
∇ 𝑉= ∫ [ 2 − 4πδ 𝑑𝜏 = 2 2 − 𝜌(𝑟, 𝑡)
4𝜋𝜖0 𝑐 𝓇 𝑐 𝜕𝑡 ∈0
Kebetulan bukti ini berlaku dengan baik untuk potensi maju
1 𝜌(𝑟 ′ ,𝑡𝑎 ′ ) 𝜇 𝐽(𝑟 ′ ,𝑡𝑎 ′ )
𝑉𝑎 (𝑟, 𝑡) = 4𝜋𝜖 ∫ 𝑑𝜏 ′ , 𝐴𝑎 (𝑟, 𝑡) = 4𝜋0 ∫ 𝑑𝜏 ′ ……..(10.23)
0 𝓇 𝓇

Pada muatan dan rapat arus dievaluasi pada waktu maju

𝓇
𝑡𝑎 ≡ 𝑡 + …………………..………………………………….(10.24)
𝑐

Meskipun potensial maju konsisten dengan persamaan Maxwell,


namun melanggar prinsip paling penting dalam fisika yaitu prinsip
kausalitas. Hal ini menyarankan bahwa potensial tergantung pada
muatannya dan ditribusi saat berada di beberapa waktu di waktu yang
akan datang, dengan kata lain, mendahului penyebabnya.
Elektrodinamika 9

10.2.2 Persamaan Jefimenko


Persamaan potensial mundur sebagai berikut:

1 𝜌(𝑟 ′ ,𝑡𝑎 ′ ) 𝜇 𝐽(𝑟 ′ ,𝑡𝑟 )


𝑉(𝑟, 𝑡) = 4𝜋𝜖 ∫ 𝑑𝜏 ′ , 𝐴(𝑟, 𝑡) = 4𝜋0 ∫ 𝑑𝜏 ′ …….…..(10.26)
0 𝓇 𝓇

Dan prinsip untuk menentukan medan yaitu :


𝜕𝐴
𝐸 = −∇𝑉 − 𝜕𝑡 , 𝐵 = ∇ × 𝐴 …………………………...………(10.27)

Lalu menghitung gradient V dariturunan waktu A :

𝜕𝐴 𝜇0 𝐽 ′
= ∫ 𝑑𝜏 … … … … … … … … … … . . … … … … … … … … … (10.28)
𝜕𝑡 4𝜋 𝓇

1
Gunakan 𝑐 2 = 𝜇 ,
0 𝜖0

1 𝜌(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 ) 𝜌̇ (𝑟 ′ , 𝑡𝑟 ) 𝐽(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 )
𝐸(𝑟, 𝑡) = ∫[ + ̂
𝓇 − ] 𝑑𝜏 ′ , … … (10.29)
4𝜋𝜖0 𝓇2 𝑐𝓇 𝑐2𝓇

Persamaan ini merupakan generalisasi tergantung waktu hukum


Coulomb, yang mengurangi dalam kasus statis. Adapun B, curl A berisi
dua istilah:
𝜇0 1 𝐽
∇×𝐴= ∫ [ (∇ × 𝐽) − 𝐽 × ∇ ( )] 𝑑𝜏 ′
4𝜋 𝓇 𝓇
Sekarang :
∂Jz ∂Jy
(∇ × 𝐽)x = − … … … … … … … … … … … … … … … … … . . (10.30)
∂y ∂z
Dan
∂Jz ∂t r 1 ∂r
= jz = − jz
∂J ∂y c ∂y
Jadi
Elektrodinamika 10

1 ∂𝓇 ∂𝓇 1
(∇ × 𝐴)𝑥 = − (jz − jy ) = [𝐽 × (∇𝓇)]𝑥 … … … … … . … 10.31
𝑐 ∂y ∂z 𝑐

Tetapi ∇𝓇 = 𝓇̂, sehingga


1
∇ × 𝐽 = 𝑗 × 𝓇̂
𝑐
1 𝓇̂
Sementara itu ∇ ( ) = − kita dapatkan persamaan yaitu :
𝓇 𝓇2

𝜇0 𝐽(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 ) 𝐽(𝑟 ′ , 𝑡𝑟 )
∫[ + 𝓇̂] × 𝓇̂𝑑𝜏 ′
4𝜋 𝓇2 𝑐𝓇

Ini adalah generalisasi tergantung waktu hukum Biot-Savart,


untuk yang mengurangi dalam kasus statis. Dalam praktek persamaan
jefimenko ini adalah utilitas yang terbatas, karena biasanya lebih mudah
untuk menghitung, potensi mundur dan membedakannya, daripada
langsung ke medan

10.3 Muatan Titik

1. Potensial ini menggambarkan elektromagnetik secara klasik


2. Merupakan akibat dari pergerakan titik
3. Dibentuk langsung oleh persamaan Maxwell
4. Proses pengembangan dilakukan tahun 1898 oleh Alfred-Marie
lienard dan pada tahun 1990 oleh emil wiechert
5. Analoginya menggunakan pendekatan relativistic
Untuk menghitung potensial mundur, V(r,t) dan A(r,t) dari
muatan q yang bergerak pada lintasan tertentu.

𝑤(𝑡) ≡ 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑠𝑖 𝑞 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡 … … … … … … … … … … . … … . . (10.32)

Waktu mundur ditentukan secara implicit oleh persamaan :


Elektrodinamika 11

|𝑟 − 𝑤(𝑡𝑟 )| = 𝑐(𝑡 − 𝑡𝑟 ) … … … … … … … … … … … … … … . . … . . . (10.33)

untuk sisi kiri adalah jarak “berita” yang melakukan perjalanan, dan (t-
tr) adalah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan (gambar
10.2)
𝑤(𝑡𝑟 ) adalah posisi mundur muatan ; 𝓇 adalah vector dari posisi
mundur ke titik medan r.
𝓇 = 𝑟 − 𝑤(𝑡𝑟 ) … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . (10.34)
Jika ada dua titik dengan waktu mundur (𝑡1 𝑑𝑎𝑛 𝑡2 ) maka :